MAKALAH BATUBARA
“Preparasi Batubara, Uji Proksimat dan Uji Kalori”
Disusun Oleh :
Nama : Bagus Budiarto NIM/TM : 22080018 Sesi : 202320800012 Jadwal Praktek : Selasa, 2 Juli 2024
DOSEN PENGAMPU : Dr. Ir. Rudy Anarta, S.T., M.T.
NIP : 19780912205011001
PROGRAM STUDI D3 TEKNIK PERTAMBANGAN DEPARTEMEN TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2024
i
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan rahmat-Nya, saya dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Proses Preparasi dan Karakterisasi Batubara di PT Bukit Asam (Persero) Tbk” ini dengan baik dan tepat waktu. Makalah ini disusun sebagai salah satu tugas untuk memenuhi persyaratan mata kuliah Batubara di Universitas Negeri Padang.
Dalam penyusunan makalah ini, saya telah berusaha memberikan yang terbaik dengan melakukan penelitian langsung dan mengumpulkan data yang relevan serta terkini. Saya berharap makalah ini dapat memberikan kontribusi yang bermanfaat bagi pembaca, khususnya dalam memahami proses preparasi dan karakterisasi batubara.
Saya menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, saya sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari berbagai pihak demi perbaikan di masa mendatang. Ucapan terima kasih saya sampaikan kepada:
1. Dr. Ir. Rudy Anarta, S.T., M.T, selaku dosen pembimbing yang telah memberikan bimbingan dan arahan dalam penyusunan makalah ini.
2. Asisten dosen yang telah memberikan bantuan dan dukungan selama proses penyusunan makalah ini.
3. Teman-teman dan semua pihak yang telah memberikan dukungan dan bantuan, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Akhir kata, saya berharap makalah ini dapat bermanfaat dan menambah wawasan bagi pembaca. Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua.
Padang, 12 Juli 2024 Penyusun
Bagus Budiarto 22080018
ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... ii
BAB I ... 1
PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 2
1.3 Tujuan ... 2
1.4 Manfaat... 2
BAB II ... 3
PEMBAHASAN ... 3
2.1 Profil PT Bukit Asam (Persero) Tbk ... 3
2.2 Balai Diklat PTBA di Sawahlunto ... 3
2.3 Proses Preparasi Batubara ... 4
2.4 Karakterisasi Batubara ... 5
BAB III ... 7
METODOLOGI PENELITIAN ... 7
3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 7
3.2 Metode Pengumpulan Data ... 7
BAB IV PELAKSANAAN PRAKTIKUM ... 8
4.1 Alat dan Bahan ... 8
Gambar 1. Jaw crusher ... 9
Gambar 2. Grinding mill ... 9
Gambar 3. sampel batubaranuh ... 9
Gambar 4. calorimeter analyzer ... 9
Gambar 5. Sulfur Analyzer ... 9
Gambar 6.Thermogravimetric Analyzer ... 9
Table 1. Gambar Alat ... 9
4.2 Langkah-Langkah Praktikum ... 9
4.3 Pengolahan Sampel ... 12
BAB V ... 13
HASIL PENGUJIAN ... 13
5.1 Pengujian Preparasi Batubara : ... 13
iii
Table 2. Hasil Preparasi Batubara ... 13
Gambar 7. Dokumentasi preparasi batubara ... 13
Table 3. Hasil Proksimat Batubara ... 13
Gambar 8. Dokumentasi proksimat batubara ... 14
Tabel 4. Hasil Pengujian thermogogravimetric analyzer ... 14
Table 5. Hasil Automatic Calorimeter ... 15
Gambar 9. Dokumentasi nilai Sulfur batubara ... 15
Table 6. Hasil Pengujian Automatic Calorimeter ... 15
Table 7. Hasil Sulfur Analyzer ... 16
Gambar 10. Dokumentasi nilai Sulfur batubara ... 16
Table 8. HasiL Pengujian Sulfur Analyzer ... 16
BAB VI ... 17
KESIMPULAN DAN SARAN ... 17
6.1 Kesimpulan... 17
6.2 Saran ... 17
DAFTAR PUSTAKA ... 18
LAMPIRAN... 19
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan salah satu negara pengekspor batubara terbesar di dunia, dengan peran penting dalam perekonomian sebagai sumber energi utama yang digunakan di berbagai sektor industri. Pada tahun 2023, produksi batubara Indonesia mencapai rekor tertinggi sebesar 775,2 juta ton, melebihi target awal yang ditetapkan sebesar 694 juta ton.
Peningkatan ini didorong oleh permintaan global yang kuat, terutama dari negara-negara seperti China, India, dan Filipina (The Coal Trader) (International Finance). Sebagai pengekspor batubara utama, Indonesia memiliki cadangan batubara yang signifikan. Pada tahun 2023, ekspor batubara Indonesia juga mencapai rekor tertinggi sebesar 508 juta ton, dengan China menjadi importir terbesar, diikuti oleh India dan negara-negara lain di Asia Tenggara (The Coal Trader).
Kualitas batubara merupakan faktor penting yang menentukan nilai komersialnya di pasar internasional. Oleh karena itu, analisis kualitas batubara sangat penting untuk memastikan bahwa produk yang diekspor memenuhi standar yang diinginkan oleh konsumen. Analisis ini mencakup penentuan parameter-parameter seperti nilai kalor, kandungan air, zat terbang, dan abu. Data dari analisis ini digunakan untuk memandu proses penjualan dan penggunaan batubara di industri (The Coal Trader). Salah satu metode analisis yang umum digunakan adalah uji proksimat dan uji kalori. Uji proksimat meliputi penentuan kadar air, kadar abu, zat terbang, dan karbon tertambat, sementara uji kalori bertujuan untuk menentukan nilai kalor batubara, yang menggambarkan jumlah energi yang dihasilkan dari pembakaran batubara. Dengan adanya analisis ini, pengguna batubara dapat menilai kualitas batubara yang akan digunakan dan menyesuaikannya dengan kebutuhan spesifik mereka.
Selain itu, pemerintah Indonesia juga berkomitmen untuk mengurangi emisi karbon dari pembangkit listrik berbahan bakar batubara. Pada tahun 2023, konsumsi batubara domestik Indonesia diperkirakan mencapai 177 juta ton, menurun dari 193 juta ton pada tahun 2022, sebagai bagian dari upaya peningkatan efisiensi dan pengurangan emisi (International Finance). Analisis kualitas batubara seperti uji proksimat dan uji kalori tidak hanya penting untuk tujuan komersial, tetapi juga untuk mendukung inisiatif pemerintah dalam mengelola dan memanfaatkan sumber daya batubara secara berkelanjutan. Dalam konteks ini, penelitian dan pengembangan dalam teknologi analisis batubara menjadi semakin penting untuk memastikan bahwa Indonesia dapat memanfaatkan potensi batubaranya secara optimal, sambil tetap menjaga lingkungan hidup.
Dengan demikian, laporan praktikum ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang proses preparasi batubara serta uji proksimat dan uji kalori, yang
2
merupakan langkah penting dalam memastikan kualitas dan efisiensi penggunaan batubara di berbagai sektor industri.
1.2 Rumusan Masalah
Dalam praktikum ini, rumusan masalah yang akan dibahas adalah:
1. Bagaimana cara melakukan preparasi sampel batubara untuk analisis?
2. Bagaimana metode dan prosedur untuk melakukan uji proksimat pada sampel batubara?
3. Bagaimana metode dan prosedur untuk melakukan uji kalori pada sampel batubara?
4. Bagaimana hasil dari uji proksimat dan uji kalori pada sampel batubara yang diuji?
1.3 Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah:
1. Mengetahui dan memahami cara melakukan preparasi sampel batubara yang baik dan benar.
2. Mengetahui metode dan prosedur yang digunakan dalam uji proksimat pada sampel batubara.
3. Mengetahui metode dan prosedur yang digunakan dalam uji kalori pada sampel batubara.
4. Menganalisis dan menginterpretasikan hasil uji proksimat dan uji kalori untuk menentukan kualitas batubara.
1.4 Manfaat
Manfaat dari praktikum ini adalah:
1. Mahasiswa dapat memahami proses preparasi sampel batubara sebelum dilakukan analisis.
2. Mahasiswa dapat memahami dan menguasai metode dan prosedur uji proksimat pada batubara.
3. Mahasiswa dapat memahami dan menguasai metode dan prosedur uji kalori pada batubara.
4. Mahasiswa dapat menganalisis dan menginterpretasikan hasil uji proksimat dan uji kalori untuk menentukan kualitas batubara.
5. Hasil praktikum ini dapat digunakan sebagai referensi dalam penelitian dan pengembangan teknologi pengolahan batubara di masa depan.
3
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Profil PT Bukit Asam (Persero) Tbk
PT Bukit Asam (Persero) Tbk, yang dikenal dengan singkatan PTBA, adalah perusahaan tambang batubara terkemuka di Indonesia. Didirikan pada tahun 1950, PTBA memiliki sejarah panjang dalam industri pertambangan batubara. Perusahaan ini beroperasi di berbagai wilayah di Indonesia, termasuk Tanjung Enim di Sumatera Selatan dan Ombilin di Sawahlunto, Sumatera Barat. Sebagai salah satu produsen batubara terbesar di Indonesia, PTBA berfokus pada kegiatan eksplorasi, penambangan, pengolahan, dan pemasaran batubara. Dengan kapasitas produksi yang besar, PTBA mampu memenuhi kebutuhan energi baik di dalam negeri maupun pasar ekspor. Perusahaan ini juga berkomitmen untuk menjalankan operasional yang berkelanjutan dan bertanggung jawab sosial, dengan memperhatikan aspek lingkungan dan kesejahteraan masyarakat sekitar area operasinya.PTBA memiliki visi untuk menjadi perusahaan energi kelas dunia yang peduli lingkungan dan memiliki misi untuk menyediakan energi melalui pengelolaan sumber daya batubara yang berkelanjutan. Untuk mencapai tujuan ini, PTBA terus melakukan inovasi dan penerapan teknologi terbaru dalam kegiatan operasionalnya.
2.2 Balai Diklat PTBA di Sawahlunto 1. Latar Belakang dan Tujuan
Balai Diklat PTBA yang berlokasi di Sawahlunto, Sumatera Barat, didirikan sebagai pusat pelatihan dan pendidikan bagi karyawan PTBA dan masyarakat setempat.
Sawahlunto, yang dikenal sebagai salah satu kota tambang tertua di Indonesia, memiliki sejarah panjang dalam industri batubara. Dengan latar belakang tersebut, Balai Diklat ini menjadi lokasi strategis untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan para pekerja di sektor pertambangan. Balai Diklat ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi sumber daya manusia dalam operasional pertambangan batubara dan sektor-sektor terkait. Selain itu, Balai Diklat juga memiliki peran penting dalam mendukung pengembangan masyarakat lokal melalui program-program pelatihan dan pendidikan.
2. Fasilitas dan Program Pelatihan
Balai Diklat PTBA di Sawahlunto dilengkapi dengan berbagai fasilitas modern yang mendukung kegiatan pelatihan dan pendidikan. Fasilitas ini mencakup ruang kelas, laboratorium, area praktek lapangan, serta peralatan pelatihan yang mutakhir.
4
Program pelatihan yang ditawarkan mencakup berbagai aspek teknis dan non-teknis dalam industri pertambangan, seperti:
• Teknologi Penambangan: Pelatihan mengenai teknik-teknik penambangan yang efisien dan aman, termasuk penggunaan peralatan berat dan metode penambangan terbaru.
• Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3): Program pelatihan yang fokus pada aspek keselamatan dan kesehatan kerja di lingkungan tambang, termasuk penanganan darurat dan pencegahan kecelakaan.
• Manajemen Lingkungan: Pelatihan mengenai pengelolaan lingkungan tambang yang berkelanjutan, termasuk teknik rehabilitasi lahan bekas tambang dan pengelolaan limbah.
• Pengembangan Sumber Daya Manusia: Program pelatihan yang bertujuan untuk meningkatkan keterampilan manajerial dan kepemimpinan, serta pengembangan soft skills seperti komunikasi dan kerja tim.
2.3 Proses Preparasi Batubara
Preparasi batubara adalah tahap penting sebelum batubara dapat digunakan atau dianalisis lebih lanjut. Tujuan dari preparasi adalah untuk menghasilkan sampel batubara yang representatif, homogen, dan sesuai untuk berbagai jenis pengujian. Preparasi batubara melibatkan beberapa langkah kritis, antara lain pengeringan udara, pengurangan ukuran butir, pencampuran, dan pembagian sampel.
1. Pengeringan Udara
Pengeringan udara merupakan tahap awal dalam preparasi batubara. Proses ini bertujuan untuk menghilangkan kadar air permukaan (surface moisture) pada batubara.
Batubara dibiarkan di udara terbuka pada suhu sekitar 30-40°C di atas suhu ruangan atau dengan menggunakan oven pengering untuk mempercepat proses pengeringan.
Pengeringan ini sangat penting untuk memastikan bahwa kadar air yang diukur nantinya hanya berasal dari air yang terikat dalam pori-pori batubara (inherent moisture).
2. Pengurangan Ukuran Butir
Setelah pengeringan, langkah berikutnya adalah pengurangan ukuran butir batubara. Proses ini dilakukan dengan menggunakan alat crushing seperti jaw crusher atau roll crusher. Tujuan dari pengurangan ukuran butir adalah untuk mendapatkan sampel batubara yang lebih kecil dan seragam, yang akan memudahkan dalam proses analisis dan pengujian lebih lanjut.
5 3. Pencampuran dan Pembagian Sampel
Pencampuran dilakukan untuk memastikan homogenitas sampel batubara. Hal ini penting agar hasil analisis yang diperoleh dapat merepresentasikan keseluruhan material. Metode manual seperti riffle atau metode mekanis seperti Rotary Sample Divider (RSD) sering digunakan dalam pencampuran dan pembagian sampel.
Pembagian sampel ini juga bertujuan untuk mendapatkan sub-sampel yang siap untuk pengujian laboratorium.
2.4 Karakterisasi Batubara
Karakterisasi batubara melibatkan serangkaian pengujian untuk menentukan sifat fisik dan kimia batubara. Pengujian ini penting untuk mengevaluasi kualitas batubara dan menentukan penggunaannya yang paling tepat. Beberapa pengujian utama dalam karakterisasi batubara meliputi pengujian inherent moisture, ash content, volatile matter, total moisture, calorific value, dan sulfur content.
1. Inherent Moisture
Inherent moisture adalah kadar air yang terdapat dalam pori-pori batubara.
Pengujian ini dilakukan dengan mengeringkan sampel batubara pada suhu 105-110°C hingga berat konstan tercapai. Rumus yang digunakan untuk menghitung inherent moisture adalah:
dimana 𝑚2 adalah berat awal sampel, 𝑚3 adalah berat sampel setelah pengeringan, dan 𝑚1 adalah berat wadah.
2. Ash Content
Ash content atau kandungan abu adalah jumlah sisa pembakaran batubara yang tidak terbakar. Kandungan abu menunjukkan jumlah mineral dan pengotor dalam batubara. Pengujian ini dilakukan dengan membakar sampel pada suhu tinggi hingga seluruh material organik terbakar habis. Rumus untuk menghitung ash content adalah:
dimana 𝑚3 adalah berat sampel setelah pembakaran, dan 𝑚4 adalah berat wadah setelah pembakaran.
6 3. Volatile Matter
Volatile matter adalah jumlah zat yang mudah menguap dalam batubara ketika dipanaskan tanpa adanya udara. Pengujian ini penting untuk menentukan potensi pembakaran batubara. Rumus yang digunakan adalah:
4. Total Moisture
Total moisture adalah jumlah total kadar air dalam batubara, termasuk free moisture dan inherent moisture. Pengujian ini dilakukan dengan metode pengeringan di oven pada suhu 105-110°C. Rumus yang digunakan adalah:
dimana FM adalah free moisture dan IM adalah inherent moisture.
5. Calorific Value
Nilai kalor (calorific value) merupakan indikator kualitas batubara. Semakin tinggi nilai kalor, semakin baik kualitas batubara. Nilai kalor diukur menggunakan alat calorimeter dan dibedakan menjadi gross calorific value (GCV) dan net calorific value (NCV). Rumus untuk GCV adalah:
6. Sulfur Content
Sulfur dalam batubara dapat berdampak negatif pada lingkungan saat pembakaran, karena dapat menghasilkan gas SO2 yang menyebabkan hujan asam. Pengujian sulfur dilakukan untuk mengetahui kandungan sulfur total dalam batubara. Bentuk sulfur dalam batubara meliputi sulfur piritik (FeS2), sulfur organik, dan sulfur sulfat. Dengan memahami proses preparasi dan karakterisasi batubara, kita dapat mengevaluasi kualitas batubara secara lebih komprehensif dan menentukan penggunaannya yang paling tepat dalam berbagai aplikasi industri.
7
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian
Bab ini membahas metodologi yang digunakan dalam penelitian ini, yang meliputi lokasi dan waktu penelitian, metode pengumpulan data, alat dan bahan, serta prosedur analisis data. Metodologi ini dirancang untuk memastikan bahwa penelitian ini dilakukan secara sistematis dan menghasilkan data yang akurat serta dapat diandalkan Penelitian ini dilakukan di Balai Diklat PTBA di Sawahlunto, Sumatera Barat, yang merupakan salah satu fasilitas pelatihan utama PT Bukit Asam (Persero) Tbk. Lokasi ini dipilih karena memiliki fasilitas yang lengkap untuk preparasi dan karakterisasi batubara. Penelitian dilaksanakan pada 25 Juni 2024.
3.2 Metode Pengumpulan Data
Data dalam penelitian ini dikumpulkan melalui observasi langsung, wawancara dengan teknisi dan ahli di Balai Diklat PTBA, serta pengujian laboratorium. Metode pengumpulan data ini dirancang untuk memperoleh informasi yang komprehensif tentang proses preparasi dan karakterisasi batubara.
1. Observasi Langsung
Observasi dilakukan untuk memahami secara mendalam proses preparasi batubara di Balai Diklat PTBA. Pengamatan dilakukan terhadap setiap tahapan proses, mulai dari pengeringan udara hingga pencampuran dan pembagian sampel.
2. Wawancara
Wawancara dilakukan dengan teknisi dan ahli yang terlibat dalam proses preparasi dan karakterisasi batubara. Wawancara ini bertujuan untuk memperoleh penjelasan yang lebih rinci mengenai teknik dan metode yang digunakan, serta untuk mengidentifikasi potensi masalah dan solusi yang diterapkan.
3. Pengujian Laboratorium
Pengujian laboratorium dilakukan untuk mengkarakterisasi batubara dengan mengukur inherent moisture, ash content, volatile matter, total moisture, calorific value, dan sulfur content. Pengujian ini dilakukan sesuai dengan standar yang berlaku untuk memastikan akurasi dan konsistensi data yang diperoleh.
8
BAB IV
PELAKSANAAN PRAKTIKUM
4.1 Alat dan Bahan a. Alat
1. Jaw crusher: Digunakan untuk menghancurkan batubara mentah menjadi ukuran yang lebih kecil.
2. Grinding mill: Alat untuk menggiling batubara yang telah dihancurkan agar menjadi lebih halus.
3. Ayakan: Digunakan untuk memisahkan partikel batubara berdasarkan ukuran.
4. Oven: Untuk mengeringkan sampel batubara.
5. Desikator: Untuk menyimpan sampel setelah dikeringkan agar tidak menyerap kelembapan udara.
6. Timbangan analitik: Untuk menimbang sampel dengan presisi tinggi.
7. Kadar air tester: Mengukur kandungan air dalam batubara.
8. Sulfur Analyzer: Untuk mengukur kandungan sulfur dalam batubara.
9. Thermogravimetric Analyzer: Digunakan untuk analisis proksimat batubara.
10. Automatic Kalorimeter: Untuk mengukur nilai kalor batubara.
11. Termometer: Untuk mengukur suhu selama proses pengujian.
12. Stopwatch: Untuk mencatat waktu selama proses pengujian.
b. Bahan
1. Batubara mentah: Sampel utama yang akan diuji.
2. Air: Digunakan dalam beberapa tahap pengujian.
3. Asam sulfat: Digunakan untuk analisis tertentu.
4. Aquades/aqua DM: Air bebas mineral yang digunakan dalam pengujian.
5. Fenolftalein: Indikator pH untuk titrasi.
6. Larutan natrium hidroksida (NaOH): Digunakan dalam beberapa tahap analisis kimia.
7. Kertas saring: Untuk menyaring partikel selama proses pengujian.
8. Oksigen: Gas yang digunakan dalam beberapa alat analisis seperti kalorimeter.
9 c. Gambar Alat
Table 1. Gambar Alat
4.2 Langkah-Langkah Praktikum 1. Pengoperasian Jaw Crusher
a. Menyiapkan Sampel:
• Ambil sampel batubara yang telah dikeringkan.
• Potong sampel menjadi bagian yang lebih kecil agar mudah dimasukkan ke jaw crusher.
b. Penghancuran:
• Nyalakan jaw crusher.
• Masukkan sampel batubara sedikit demi sedikit.
• Biarkan jaw crusher menghancurkan batubara hingga ukuran yang diinginkan tercapai.
c. Pengumpulan Sampel:
• Kumpulkan batubara yang telah dihancurkan ke dalam wadah.
• Matikan jaw crusher setelah semua sampel telah dihancurkan.
d. Pembersihan:
Gambar 1. Jaw crusher Gambar 2. Grinding mill Gambar 3. sampel batubaranuh
Gambar 4. calorimeter
analyzer Gambar 5. Sulfur Analyzer Gambar 6.Thermogravimetric Analyzer
10
• Bersihkan jaw crusher dari sisa-sisa batubara.
• Simpan sampel yang telah dihancurkan di tempat yang aman dan kering.
2. Pengoperasian Grinding Mill a. Menyiapkan Sampel:
• Ambil sampel batubara yang telah dihancurkan oleh jaw crusher.
• Pastikan sampel cukup kering untuk digiling.
b. Penggilingan:
• Nyalakan grinding mill.
• Masukkan sampel batubara sedikit demi sedikit.
• Biarkan grinding mill menggiling batubara hingga ukuran partikel yang diinginkan.
c. Pengumpulan Sampel:
• Kumpulkan batubara yang telah digiling ke dalam wadah.
• Matikan grinding mill setelah semua sampel telah digiling.
d. Pembersihan:
• Bersihkan grinding mill dari sisa-sisa batubara.
• Simpan sampel yang telah digiling di tempat yang aman dan kering.
3. Pengeringan Sampel a. Pengeringan di Udara:
• Sebarkan sampel batubara di nampan pengeringan.
• Biarkan sampel di udara terbuka pada suhu ruangan selama beberapa jam.
b. Pengeringan di Oven:
• Atur oven pada suhu 105°C.
• Masukkan nampan berisi sampel batubara ke dalam oven.
• Biarkan sampel mengering selama 2-3 jam atau hingga berat konstan tercapai.
c. Penyimpanan Sampel:
• Pindahkan sampel yang telah kering ke dalam desikator.
• Biarkan sampel di desikator hingga siap untuk pengujian selanjutnya.
4. Analisis Moisture
a. Pengukuran Air Dry Loss (ADL):
11
• Timbang tray kosong (M1).
• Timbang tray berisi sampel batubara sebelum pengeringan (M2).
• Timbang tray berisi sampel setelah pengeringan (M3).
• Hitung ADL menggunakan rumus:
b. Pengukuran Residual Moisture (RM):
• Timbang dish kosong (A).
• Timbang dish berisi sampel sebelum pengeringan (B).
• Timbang dish berisi sampel setelah pengeringan (C).
• Hitung RM menggunakan rumus:
5. Pengujian Nilai Kalor a. Menyiapkan Sampel:
• Timbang sampel batubara.
• Masukkan sampel ke dalam crucible calorimeter.
b. Pengujian :
• Nyalakan calorimeter.
• Masukkan crucible ke dalam calorimeter.
• Biarkan alat melakukan pengujian otomatis.
a. Pengumpulan Data:
• Catat nilai kalor yang ditampilkan oleh calorimeter.
• Simpan hasil pengujian untuk analisis lebih lanjut.
6. Pengujian Kandungan Sulfur a. Menyiapkan Sampel:
• Timbang sampel batubara.
• Masukkan sampel ke dalam sulfur analyzer.
b. Pengujian:
• Nyalakan sulfur analyzer.
• Masukkan sampel ke dalam alat.
• Biarkan alat melakukan pengujian otomatis.
c. Pengumpulan Data:
12
• Catat kandungan sulfur yang ditampilkan oleh alat.
• Simpan hasil pengujian untuk analisis lebih lanjut.
7. Analisis Termogravimetri a. Menyiapkan Sampel:
• Timbang sampel batubara.
• Masukkan sampel ke dalam crucible analyzer.
b. Pengujian:
• Nyalakan analyzer.
• Masukkan crucible ke dalam alat.
• Atur suhu dan program analisis sesuai prosedur.
c. Pengumpulan Data:
• Catat perubahan massa sampel selama perubahan suhu.
• Simpan hasil analisis untuk evaluasi lebih lanjut.
4.3 Pengolahan Sampel 1. ADL (air dry loss)
ADL = M2 – MQ / M2 – M3 x 100%
ADL = 1,516.64 – 1,162.14 / 1,516.64 – 409.67 X 100%
ADL = 354.5 / 1,107.04 X 100%
ADL = 32.02%
Keterangan:
M1 : Berat tray M2 : Berat tray +sampel
M3 : Berat try + sampel setelah pengovenan
2. RM (residual moisture) RM = A- C / B x 100%
RM = 1,205.30 – 1.162.14 / 810.25 x 100%
RM = 43.16 / 810.25 x 100%
RM = 5,32%
Keterangan :
A : Masa dish + sampel sebelum pengeringan B : Massa sample Batubara
C : Massa dish + sample sesudah peringanan
13
BAB V
HASIL PENGUJIAN
5.1 Pengujian Preparasi Batubara :
Table 2. Hasil Preparasi Batubara ALAT
PREPARASI
FEED PRODUK
Jaw Crusher 1512.30 Gram 1205.30 Gram Grinding Mill 1205.30 Gram 1162.14 Gram :
1,0074 Gr Uji Nilai Kalori 0,2500 Gr Uji Nilai Sulfur 1,0096 Gr Uji Proksimat Dokumentasi Hasil
preparasi
Gambar 7. Dokumentasi preparasi batubara
1. Pengujian Proksimat Batubara
Table 3. Hasil Proksimat Batubara
PARAMETER HASIL
Kadar Air (Moisture)
IM= 3.36% selama 3 jam Zat Terbang (Volatile Matter) VM= 43.72% selama 5 menit
Abu (Ash) ASH= 1.67% selama 2-3 jam
Karbon Tetap (Fixed Carbon) %FC= 100 – (%IM+%VM+%ASH)
%FC= 100 – (3.36%+43.72%+1,67%)
%FC= 100 – (48,75%)
%FC= 51.25 %
Hasil FC= 51.25 %
14 Dokumetasi Proksimat Batubara
Gambar 8. Dokumentasi proksimat batubara
Tabel 4. Hasil Pengujian thermogogravimetric analyzer
15 2. Pengujian Automatic Calorimeter
Table 5. Hasil Automatic Calorimeter
PARAMETER HASIL
Calorimeter Analyzer Cv )Cal/Gr) = 7398.44 Joule Dokumentasi Kalori Batubara
Gambar 9. Dokumentasi nilai Sulfur batubara
Table 6. Hasil Pengujian Automatic Calorimeter
16 3. Pengujian Sulfur Analyzer
Table 7. Hasil Sulfur Analyzer
PARAMETER HASIL
Sulfur Analyzer 0.711 %
Dokumentasi nilai sulfur Batubara
Gambar 10. Dokumentasi nilai Sulfur batubara
Table 8. HasiL Pengujian Sulfur Analyzer
17
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan di Balai Diklat PT Bukit Asam (Persero) Tbk di Sawahlunto mengenai proses preparasi dan karakterisasi batubara, dapat disimpulkan bahwa:
• Proses preparasi batubara yang melibatkan pengeringan udara, pengurangan ukuran butir, pencampuran, dan pembagian sampel telah berhasil menghasilkan sampel batubara yang representatif dan homogen.
• Pengeringan udara efektif dalam mengurangi kadar air permukaan batubara, sehingga analisis yang dilakukan hanya mengukur air yang terikat dalam pori-pori batubara.
• Pengujian inherent moisture menunjukkan bahwa kadar air dalam pori-pori batubara cukup rendah, menandakan kualitas batubara yang baik untuk proses pembakaran.
• Kandungan abu (ash content) yang diukur sesuai dengan standar industri, menunjukkan bahwa batubara memiliki jumlah mineral dan pengotor yang dapat diterima.
• Volatile matter menunjukkan potensi pembakaran batubara yang baik, sedangkan nilai kalor (calorific value) menunjukkan kualitas energi batubara yang tinggi.
• Kandungan sulfur yang diukur perlu diperhatikan lebih lanjut karena dapat berdampak negatif pada lingkungan jika tidak dikelola dengan baik.
• Pengelolaan sampel yang sistematis dan langkah-langkah praktikum yang rinci memastikan bahwa data yang diperoleh akurat dan dapat diandalkan.
• Analisis data yang dilakukan menunjukkan bahwa metode yang digunakan efektif dalam mengevaluasi kualitas batubara dan memberikan informasi yang komprehensif tentang sifat fisik dan kimia batubara.
6.2 Saran
Berdasarkan kesimpulan yang telah diperoleh, berikut adalah beberapa saran yang dapat diberikan:
• Optimalisasi alat pengurangan ukuran butir seperti jaw crusher dan roll crusher untuk mendapatkan hasil yang lebih konsisten dan seragam.
• Proses pengurangan sulfur perlu ditingkatkan untuk mengurangi dampak negatif pada lingkungan. Teknologi desulfurisasi dapat diimplementasikan sebagai langkah lanjutan.
• Penelitian lebih lanjut mengenai metode pencampuran dan pembagian sampel yang lebih efisien untuk memastikan homogenitas sampel yang lebih baik.
• Penelitian lebih lanjut perlu dilakukan untuk mengevaluasi dampak jangka panjang dari karakteristik batubara pada proses pembakaran dan emisi lingkungan.
• Studi tentang penggunaan batubara dengan kualitas yang berbeda dalam berbagai aplikasi industri untuk menemukan solusi yang paling efisien dan ramah lingkungan
18
DAFTAR PUSTAKA
Badan Pusat Statistik. (2020). Statistik Produksi Batubara Indonesia 2020. Diakses dari https://www.bps.go.id/statistik-produksi-batubara-indonesia .
Hustrulid, W. A., & Kuchta, M. (2006). Open Pit Mine Planning and Design. Leiden: CRC Press.
International Organization for Standardization. (2015). ISO 7404-2: Methods for the Petrographic Analysis of Coals. Geneva: ISO.
Rahmawati, R., & Sugiyanto, S. (2018). Analisis Kualitas Batubara Pada Berbagai Lokasi Tambang di Indonesia. Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara, 14(3), 157-168.
https://doi.org/10.30556/jtmb.v14i3.2018.374
Santoso, A. B. (2016). Pengaruh Proses Preparasi terhadap Kualitas Batubara. (Tesis tidak diterbitkan). Universitas Indonesia, Depok.
Suryani, T. (2017). Studi Preparasi Batubara di PT Bukit Asam (Persero) Tbk. Jakarta: Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat.
Tate, A. (2016). Coal Sampling and Analysis Standards. International Journal of Coal Geology, 154-155, 1-20. https://doi.org/10.1016/j.coal.2016.10.002
Yuningsih, E., & Purwanto, A. (2018). Teknologi Pengolahan Batubara. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
19