PENGUJIAN ANTIMIKROBA
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN UNIVERSITAS PADJADJARAN
Ellita Sevilla (240210220045)
Departemen Teknologi Industri Pangan Universitas Padjadjaran, Jatinangor Jalan Raya Bandung-Sumedang Km. 21. Jatinangor, Sumedang 40600 Telp. (022)
779884, 779570 Fax. (022) 7795780 Email: [email protected] ABSTRAK
Dalam industri pangan, sering ditemui berbagai macam mikroorganisme, baik patogen maupun nonpatogen. Mikroorganisme nonpatogen berperan penting dalam proses pengolahan pangan, seperti fermentasi makanan. Namun, mikroorganisme patogen sering kali menyebabkan kerusakan dan pembusukan pada makanan. Namun, penghambatan pertumbuhan mikroorganisme patogen dapat dilakukan dengan menambahkan suatu zat yang disebut antimikroba. Bahan antimikroba dapat didapatkan dari senyawa kimia sintesis atau dari tumbuhan alami. Oleh karena itu, tujuan dari praktikum ini adalah untuk menguji efektivitas senyawa antimikroba ekstrak jahe segar, bawang putih segar, lengkuas segar, lemon, jeruk nipis, bawang putih bubuk, lada bubuk, kunyit segar, kencur segar, ekstrak lemongrass, ekstrak jeruk purut, ekstrak basil terhadap Staphylococcus aureus dan Propionibacterium acnes dengan metode Kirby-Bauer (difusi cakram). Hasil dari praktikum ini yaitu, zona hambat ekstrak jeruk lemon yaitu sebesar 6,75 mm, yang dapat dikatakan bahwa ekstrak jeruk lemon merupakan zat antimikroba yang bersifat resisten. Sehingga dapat digunakan sebagai antimikroba, namun tingkat efektivitasnya masih cukup rendah.
Kata Kunci : Antimikroba, Kirby-Bauer, Staphylococcus Aureus PENDAHULUAN
Secara umum,
mikroorganisme dapat dibagi menjadi 2, yaitu mikroorganisme patogen dan non patogen.
Mikroorganisme patogen merupakan jenis yang dapat menyebabkan kerugian seperti penyakit. Sedangkan mikroorganisme non patogen adalah jenis mikroorganisme yang dapat
memberi manfaat serta tidak menimbulkan penyakit. Dalam proses pengolahan, penyimpanan maupun pengangkutan, akan dihindari jenis mikroorganisme patogen yang dapat menyebabkan kerusakan dan pembusukan pangan.
Beberapa bakteri patogen yang sering dijumpai antara lain Escherichia coli dan Staphylococcus
aureus yang dapat menyebabkan diare.
Pertumbuhan bakteri, terutama bakteri patogen dapat dihambat dengan menghambat laju pertumbuhannya. Cara yang dapat
dilakukan yaitu dengan
ditambahkannya suatu zat yang dikenal dengan zat antimikroba.
Antimikroba merupakan suatu zat atau komponen yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri /kapang (bakteristatik atau fungistatik) hingga membunuh bakteri atau kapang (bakterisidal atau fungisidal) (Zheng et al., 2013).
Antimikroba dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu antimikroba alami dan antimikroba buatan.
Antimikroba alami dapat berasal dari rempah-rempah seperti jahe, kunyit, lengkuas, jeruk nipis dan lain- lainnya. Sedangkan antimikroba buatan dapat dibedakan menjadi antimikroba buatan organik yaitu berupa asam asetat, asam sorbat dan epoksida. Sedangkan antimikroba buatan anorganik dapat berupa sulfit, nitrat dan nitrit.
Pengujian antimikroba perlu dilakukan untuk mengetahui
keefektifan suatu zat antimikroba untuk menghambat pertumbuhan mikroorganisme. Metode yang digunakan dalam uji efektivitas penghambatan bakteri adalah metode difusi cakram (Kirby-Bauer) (Ekawati et al., 2018). Metode difusi cakram merupakan pengukuran daerah zona bening yang terbentuk di sekitar kertas cakram yang digunakan untuk mengetahui aktivitas antimikroba.
Bakteri patogen penyebab penyakit yang sering ditemui pada
pangan adalah bakteri
Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Namun, pada praktikum ini akan diuji efektivitas senyawa antimikroba dari ekstrak terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Propionibacterium acnes.
Adapun tujuan dari praktikum ini yaitu untuk mengetahui efektivitas senyawa antimikroba dari bahan pengawet alami dengan metode Kirby-Bauer.
METODOLOGI Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah alu dan
mortar, cawan petri, inkubator, kuvet, mikropipet, ose, oven, pembakar bunsen, pinset, pipet, pisau, rak tabung, spektrofotometer, sumbat, tabung reaksi, dan talenan.
Bahan-bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah alkohol 70%, aquades, bawang putih, cling wrap, cotton swab, ekstrak lemongrass, ekstrak jeruk purut, ekstrak basil, jahe, jeruk nipis, lada bubuk, lemon, lengkuas, kencur, kunyit, larutan McFarland 0,5, larutan NaCl 0,85%, lengkuas, medium Mueller Hinton Agar (MHA), paper disc (diameter 6 mm), dan tisu. PROSEDUR
Persiapan Alat dan Bahan
Tahap pertama adalah membersihkan meja kerja dengan alkohol 70% ke meja kerja, dan dilap dengan tisu, setelah itu, dinyalakan bunsen pada meja kerja.
Pembuatan medium MHA
Awalnya dibersihkan botol medium cair MHA dengan tisu dan alcohol 70%. Kemudian dituangkan medium cair MHA secara aseptis dengan dilalukan di atas Bunsen terlebih dahulu. Setelah itu, cawan petri dilalukan di atas api dan
dituangkan medium MHA di dalam cawan petri dengan kedalaman 5 mm kemudian ditunggu sampai medium menjendal.
Pengujian antimikroba
Prosedur ini diawali dengan dilabelinya cawan petri bertuliskan kode SA dengan spidol permanen.
Selanjutnya, distreak masing-masing cawan petri dengan suspensi yang sudah diukur absorbansinya yang swab dengan steril. Kemudian dibuka sumbat tabung reaksi, dilalukan tabung dan swab cotton pada api bunsen. Selanjutnya di streak swab cotton secara zigzag pada cawan petri, diputar dan distreak secara zigzag, distreak melingkar di tepi cawan petri. Cotton swab dicelupkan ke dalam tabung reaksi, dipatahkan lidinya dan ditutup dengan sumbat jika sudah selesai. Kemudian, didestruksi tabung reaksi dan cotton swab di autoklaf. Kemudian cawan petri yang telah diswab didiamkan sekitar 5 menit.
Persiapan paper disk
Awalnya, mengambil paper disk dengan pinset dan dilabeli bagian bawah cawan petri dengan spidol
permanen. Paper disk akan direndam di cawan petri berisi ekstrak selama kurang 10 menit. Setelah itu diambil paper disk dengan pinset, letakkan di atas tutup cawan petri, ketuk agar ekstrak turun. Paper disk tersebut diletakkan ke cawan petri medium, ditekan perlahan agar paper disk menempel. Kemudian dibungkus cawan petri dengan plastic wrap dan diinkubasi selama 24 jam dengan suhu 37°C.
Pengukuran zona hambat
Pertama-tama diukur diameter zona bening hasil pengujian dengan rumus dalam satuan mm dan dibandingkan dengan tabel standar. Setelah itu ditentukan efektivitasnya antimikroba dari ekstrak.
HASIL DAN PEMBAHASAN Pada praktikum ini akan diuji efektivitas senyawa antimikroba dari ekstrak kencur terhadap bakteri Staphylococcus aureus dengan metode Kirby-Bauer. Metode Kirby- Bauer adalah pengukuran daerah zona bening yang terbentuk di sekitar kertas cakram yang digunakan untuk mengetahui aktivitas antimikroba.
Prinsip dari metode Kirby-Bauer adalah zat uji atau ekstrak
konsentrasi 2000 ppm yang diteteskan pada kertas cakram dapat berdifusi dengan baik pada permukaan media padat yang sebelumnya telah diinokulasi bakteri uji pada permukaannya.
Pada praktikum ini akan diuji efektivitas antimikroba sampel ekstrak terhadap Staphylococcus aureus dan Propionibacterium acnes. S.aureus merupakan bakteri patogen golongan gram positif, berbentuk bulat dengan diameter 0,5- 1μm dan bergerombol. Toksin atau racun yang dihasilkan oleh S.aureus adalah Enterotoksin yang bersifat tahan panas, tidak berubah meskipun dididihkan selama 30 menit. Selain itu, dapat menghasilkan Staphilotoksin, Staphylococcal enterotoxin, dan Exfoliatin yang memungkinkan S.aureus untuk menyelinap pada jaringan dan dapat tinggal dalam waktu yang lama pada daerah infeksi, menimbulkan infeksi kulit minor (Bowersox, 2007).
Infkesi
dari bakteri ini juga dapat menyebabkan keracunan makanan.
(Karimela dkk, 2017).
Propionibacterium acnes merupakan bakteri anaerob gram positif berbentuk batang, yang merupakan bakteri paling dominan pada lesi jerawat. P. Acnes berperan dalam patogenesis acne dengan cara memecah komponen sebum yaitu trigliserida menjadi asam lemak bebas yang merupakan mediator pemicu terjadinya inflamasi. Namun, selain P. acnes, S. aureus juga dapat memicu jerawat (Aydemir, 2017).
Jenis medium yang digunakan pada praktikum ini adalah medium Mueller Hinton Agar (MHA) dengan metode tuang. MHA merupakan medium pertumbuhan untuk bakteri aerob maupun anaerob, dan merupakan media terbaik untuk pemeriksaan sensitivitas tes khususnya pada metode difusi Kirby-Bauer (Atmojo, 2016).
KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA
Atmojo, A. T., (2016). Media Muller Hinton Agar. Indonesia
Medical Laboratory.
Aydemir, E. H. (2017). Acne Vulgaris. Türk Pediatri Arşivi, 49(1), 13–16.
Bowersox, J. (2007). Experimental Staph Vaccine Broadly Protective in Animal Studies.
Polish Journal of
Microbiology.
Dasopang. (2016). Formulasi Sediaan Gel Antiseptik Tangan Dan Uji Aktivitas Antibakteri Dari Ekstrak Etanol Daun Pandan Wangi (Pandanus Amaryllifolius Roxb.) Jurnal Biologi Lingkungan, Industri, Kesehatan. Vol.3
Ekawati, E. R., Husnul Y., S. N., &
Herawati, D. (2018).
Identifikasi Kuman Pada Pus Dari Luka Infeksi Kulit. Jurnal SainHealth, 2(1), 31.
https://doi.org/10.51804/jsh.v2i 1.174.31-35
Karimela, E.J., Frans, G.I. dan
Henny A.D. (2017)
Karakteristik Staphylococcus aureus Yang Di Isolasi Dari Ikan Asap Pinekuhe Hasil Olahan Tradisional Kabupaten
Sangihe. JPHPI. 20(1): 188- 198.
Zheng, L, Bae, Y, M, Jung, K, S, Heu, S, Lee, S, Y. (2013).
Antimicrobial activity of natural antimicrobial substances against spoilage bacteria isolated from fresh produce. Food Control. 32 (2) : 665-672