• Tidak ada hasil yang ditemukan

Latar Belakang Bayi Baru Lahir (BBL) adalah bayi yang lahir dengan umur kehamilan 37- 42 minggu, memiliki berat lahir 2500-4000 gram, meliputi umur 0-28 hari(Jumani, 2008)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Latar Belakang Bayi Baru Lahir (BBL) adalah bayi yang lahir dengan umur kehamilan 37- 42 minggu, memiliki berat lahir 2500-4000 gram, meliputi umur 0-28 hari(Jumani, 2008)"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Bayi Baru Lahir (BBL) adalah bayi yang lahir dengan umur kehamilan 37- 42 minggu, memiliki berat lahir 2500-4000 gram, meliputi umur 0-28 hari(Jumani, 2008). Bayi baru lahir dengan umur tersebut mempunyai risiko gangguan kesehatan paling tinggi dan berbagai masalah kesehatan yang bisa muncul, bila bayi baru lahir tidak mendapatkan penanganan yang tepat maka akan menyebabkan komplikasi (Depkes RI, 2016).Komplikasi BBL yang menjadi penyebab kematian terbanyak yaitu asfiksia, bayi berat lahir rendah dan infeksi (Kemenkes RI, 2015:129). Selain tiga komplikasi BBL yang banyak ditemukan, ternyata ada satu masalah yang sering terjadi pad BBL yaitu hiperbilirubinemia, sebanyak 25-50% terjadi pada bayi cukup bulan dan 80% pada bayi dengan berat badan lahir rendah (Ridha, 2014).

Komplikasi pada bayi baru lahir dapat menyebabkan kematian, sekitar 2,5 milyar sebelum satu bulan dikehidupannya yang pertama bayi baru lahir meninggal didunia dan sekitar 7000 kematian bayi baru lahir perhari, kebanyakan bayi baru lahir yang meninggal di minggu pertama setelah kelahiran (United Nations Inter-agency Group for Child Mortality Estimation, 2018).

Penyebab kematian BBL dengan usia 0-7 hari (early neonatal death) terbanyak adalah premature disertai berat badan lahir rendah, dan asfiksia ;ahir. Penyebab kematian bayi berusia 8-28 hari (late neonatal death) terbanyak adalah infeksi dan feeding problem (Djaja et. Al, 2001).

(2)

World Health Organization (WHO) tahun 2015 menjelaskan bahwa

sebanyak 4,5 juta (75%) Dario semua kematian bayi dan balita terjadi pada tahun pertama kehidupan. Data kematian bayi terbanyak dalam tahun pertama kehidupan ditemukan di wilayah Afrika, yaitu sebanyak 55/1000 kelahiran.

Hal ini menunjukkan bahwa di wilayah afrika merupakan kejadian tertinggi pada tahun 2015. (Prasitnok et al., 2017)

Angka kematian bayi di Indonesia dari Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) pada tahun 2007 sebesar 34 per 1000 kelahiran. Sebagian besar bayi baru lahir, terutama bayi yang kecil (bayi yang berat lahir <2.500 gr atau usia gestasi < 37 minggu) mengalami ikterus pada minggu awal kehidupannya. Angka kematian bayi di Indonesia dari SDKI tahun 2012 sebesar 32 per 1.000 kelahiran hidup. Kematian neonates terbanyak di Indonesia disebabkan oleh hipotermi (7%), ikterus neonatorum (6%).

(Depkes, 2014).

Angka Kematian Bayi (AKB) di daerah Jawa Barat tertinggi terjadi di Kota Banjar dengan proporsi kematian bayi sebanyak 13.07/1000 KH sedangkan AKB terendah terjadi di Kota Tasikmalaya yaitu 0.58/1000 KH dan untuk AKB di Kota Bandung 3.08/1000 KH. Penyebab kematian neonatal terbanyak adalah BBLR, Asfiksia dan kasus Ikterus neonatorum karena hiperbilirubin. (Profil Kesehatan Provinsi Jawa Barat, 2017)

Didapatkannya angka prevalensi baik secara nasional maupun di daerah seperti di Jawa Barat, menjadi perhatian khusus bagi tenaga kesehatan untuk lebih memahami mengenai hiperbilirubin. Hiperbilirubin pada BBL

(3)

merupakan tanda dari suatu penyakit yang disebabkan oleh penimbunan bilirubin dalam jaringan tubuh sehingga kulit, mukosa dan sklera berubah warna menjadi kuning (Nike, 2014). Hiperbilirubin adalah warna kuning yang dapat terlihat pada sklera, selaput lender, kulit atau organ lain akibat penumpukan bilirubin. Peningkatan kadar bilirubin terjadi pada hari kedua dan ketiga dan mencapai puncaknya pada hari kelima sampai hari ketujuh, kemudian menurun kembali pada hari kesepuluh sampai hari ke-14 (Dewi, 2014).

Sekitar 60% neonates yang sehat mengalami ikterus. Pada umumnya, peningkatan kadar bilirubin tidak berbahaya dan tidak memerlukan pengobatan. Namun beberapa kasus berhubungan dengan beberapa penmyakit, seperti penyakit hemolitik, kelainan metabolism dan endokrin, kelainan hati dan infeksi. Pada kadar lebih dari 20 mg/dl, bilirubin dapat menembus sawar otak sehingga bersifat toksik terhadap sel otak. Kondisi hiperbilirubinemia yang tak terkontrol dan kurang penanganan yang baik dapat menimbulkan komplikasi yang berat seperti kern ikterus akibat efek toksik bilirubin pada system saraf pusat (Kosim, 2012)

Terjadinya kuning pada bayi baru lahir merupakan keadaan yang relatif tidak berbahaya, namun hal ini berbeda pada kadar bilirubin yang tinggi karena dapat menjadi toksik dan berbahaya terhadap sistem saraf pusat bayi.

Hiperbilirubin dengan konsentrasi bilirubin yang tinggi,menjurus kearah terjadinya kern ikterus bila kadar bilirubin tidak dikendalikan. Kern ikterus adalah ensefalopati bilirubin yang biasanya ditemukan pada bayi cukup bulan

(4)

dengan hiperbilirubin berat (bilirubin indirek lebih dari 20 mg%), disertai penyakit hemolitik berat dan pada autopsy ditemukan bercak bilirubin pada otak (AlKhadar, 2010).

Kematian bayi dapat terjadi pada dua fase yaitu saat bayi masih di dalam kandungan dan bayi setelah lahir dari kandungan. Kematian bayi dalam kandungan adalah kematian bayi yang dibawa oleh bayi sejak lahir seperti asfiksia, sedangkan kematian bayi setelah melahirkan disebabkan oleh faktor- faktor yang berkaitan dengan pengaruh dari luar (Vivian, 2014).

Hiperbilirubin menjadi salah satu penyebab kematian bayi setelah bayi dilahirkan, hiperbilirubin merupakan salah satu fenomena klinis yang paling sering ditemukan pada bayi baru lahir dalam minggu pertama kehidupannya.

Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2015, menunjukkan angka hiperilirubin pada bayi baru lahir di Indonesia sebesar 51,47%.

Sedangkan Data di Jawa Barat didapatkan dari beberapa rumah sakit pendidikan dengan prevalensi ikterus 2,6% dan dari penelitian yang dilakukan di RSUD Kota Bandung diperoleh hasil kejadian hiperbilirubin mencapai 12,3% (Septiani N, Farid, Handayani S. 2013).

Hiperbilirubin terbagi menjadi dua, yakni fisiologis dan patologis.

Hiperbilirubin fisiologis adalah keadaan hiperbilirubin karena faktor fisiologis yang merupakan gejala normal dan sering dialami bayi baru lahir, sedangkan hiperbilirubin patologis adalah suatu keadaan dimana kadar konsentrasi bilirubin dalam darah mencapai nilai yang melebihi batas normal

(5)

(>5mg/dl) hiperbilirubin dan mempunyai potensi untuk menimbulkan kern ikterik (Manuaba, 2012).

Hiperbilirubinemia menjadi salah satu kompolikasi yang sering dialami oleh BBL, sebanyak 25-50% terjadi pada bayi cukup bulan dan 80% pada bayi dengan berat badan lahir rendah. Hiperbilirubinemia adalah suatu keadaan kadar bilirubin serum total yang lebih dari 10 mg/dl pada 24 jam pertama kehidupan yang ditandai dengan tampaknya ikterik pada kulit, sklera, dan organ lain (Ridha, 2014). Ikterik neonatus adalah warna kuning yang terlihat pada sklera, selaput lender, kulit atau organ lain akibat peningkatan dan penumpukan bilirubin (Marmi, 2015). Ikterik neonatus terjadi ketika bilirubin terbentuk lebih cepat daripada kemampuan hati neonatus untuk dapat memecahnya dan mengeluarkannya dari tubuh (Mendiri, 2017).Selain itu, ada juga yang disebut dengan Kern ikterus, yaitu kerusakan atau kelainan otak akibat perlengketan dan penumpukan bilirubin indirek pada otak, dan dapat menyebabkan kematian pada neonatus (Ridha, 2014).Untuk menurunkan resiko agar bayi baru lahir mendapatkan penanganan secara dini, maka perlu dilakukan pemeriksaan ikterik beberapa hari setelah lahir (Mendiri, 2017). Pemeriksaan kadar bilirubin dapat dilakukan pada hari ketiga dan ketujuh setelah bayi lahir, karena pada saat tersebut biasanya kadar bilirubin memuncak (Aby Rachman, 2019).

Normalnya, kadar bilirubin pada bayi adalah <5mg/dL. Sehingga apabila terdapat akumulasi bilirubin dalam darah, maka Ikteruspun akan terjadi yang mana ditandai dengan tampak kekuningannya kulit dan skera bayi. Pada

(6)

sebagian besar bayi, ikterus akan ditemukan dalam minggu pertama kehidupannya, karena bayi menghasilkan bilirubin yang relatif lebih tinggi dari pada orang dewasa yang terus menerus memproduksi bilirubin, dan biasanya bayi baru lahir yang cukup tinggi, 2 sampai 3 kali lipat dari orang dewasa (Stokowski, 2011).

Pada bayi dengan hiperbilirubinemia, harus dapat perhatian yang tepat.

Penatalaksanaan hiperbilirubinemia secara fisiologis dan patologis yaitu:

secara fisiologis bayi mengalami kuningf pada bagian wajah dan leher, atau pada derajat satu dan dua dengan kadar bilirubin (<12mg/dl), kondisi tersebut dapat diatasi dengan pemberian intake ASI (Air suSusu Ibu) yang adekuat dan dinar matahari pafgi sekitar jam 7:00-9:00 selama 15 menit, sedangkan secara patologis bay akan mengalami kuning diseluruh tubuh atau derajat tiga sampai lima dengan kadar bilirubin (>12 mg/dl maka bayi di indikasikan untuk diberikan transfuse tukar (Aviv. Atikah & Jaya, 2015). Dalam keadaan tersebut penatalaksanaan untuk mengendalikan agar kadar bilirubin serum tidak mencapai nilak yang dapat menimbulkan hiperbilirubinemia, dapat dilakukan dengan fototerapi, pemeriksaan bilirubin setiap 6-12 jam berikutnya, transfuse darah, pemberian ASI ekstra dan pemberian immunoglobulin (dr. Debby Deriyanthi, 2020). Penanganan sederhana yang dapat dilakukan untuk menurunkan kadar bilirubin pada bayi baru lahir yaitu menjemur bayi di pagi hari, selimuti bayi dengan biliblanket, perbanyak asupan ASI, beri asupan wheatgrass, konsumsi herbal untuk ibu dan berhenti menyusui sementara waktu. (dr. Ahmad Muhlisin)

(7)

Terdapat berbagai macam intervensi untuk menurnkan kadar bilirubin, membuat penulis ingin meneliti melalui studi literatur untuk memperdalam mengenai intervensi yang paling efektif dalam menunrunkan kadar bilirubin.

B. Rumusan Masalah

Bedasarkan data dan literatur yang telah ditemukan pada latar belakang, rumusan masalah yang dapat diangkat yaitu apa saja intervensi yang dapat dilakukan dalam menurunkan kadar bilirubin.

(8)

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui intervensi yang dapat dilakukan dalam menurunkan kadar bilirubin.

D. Manfaat Penelitian 1. Bagi tenaga kesehatan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat membuat tenaga kesehatan yang bertugas di ruangan BBLmemberikan penanganan yang tepat terhadap BBL dengan hiperbilirubinemia.

2. Bagi institusi pendidikan keperawatan

Diharapkan penelitian ini dapat memberikan sumbangan pengetahuan dan menambah jumlah penelitian dalam ilmu keperawatan, terutama ilmu keperawatan maternitas dan ilmu keperawatan anak.

3. Bagi peneliti selanjutnya

Dapat digunakan oleh pihak lain sebagai bahan perbandingan untuk penelitian selanjutnya.

E. Ruang Lingkup Penelitian 1. Keilmuan

Penelitian ini menggunakan satu keilmuan keperawatan yaitu Keperawatan Maternitas dan Keperawatan Anak.

2. Waktu

Waktu untuk penelitian ini dari bulan Mei-Agustus 2020.

Referensi

Dokumen terkait

In summary, the blended learning activities by using for the inquiry-based learning: Group Investigation GI to enhance computational thinking skill on computing science of Mathayomsuksa

This study aimed to characterize the oyster farmers and describe their farming practices in terms of the demographic profile, traditional knowledge systems in oyster farming gender