Latar Belakang Masalah
Perkembangan zaman yang semakin pesat, terutama di era digital dan globalisasi, membawa dampak besar pada berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam dunia kerja. Persaingan antar perusahaan yang semakin ketat mendorong organisasi untuk terus berinovasi, meningkatkan produktivitas, dan menjaga kualitas layanan. Dalam kondisi seperti ini, sumber daya manusia (SDM) menjadi faktor penentu utama dalam menjaga keberlangsungan dan keunggulan kompetitif suatu perusahaan. SDM yang berkualitas, produktif, dan berkomitmen tinggi sangat dibutuhkan untuk menghadapi tantangan bisnis yang semakin kompleks.
Namun, dalam upaya mencapai target dan produktivitas tinggi, seringkali perusahaan menuntut karyawan untuk mampu bekerja secara multitasking, fleksibel, dan siap menghadapi perubahan yang cepat. Tekanan kerja yang tinggi, beban kerja yang berlebihan, serta ekspektasi yang tidak realistis dari manajemen dapat menyebabkan berbagai permasalahan psikologis dan emosional bagi karyawan. Salah satu permasalahan yang sering muncul dalam lingkungan kerja modern adalah konflik peran (role conflict) dan beban kerja (workload) yang tinggi. Kedua faktor ini berpotensi besar menimbulkan emotional exhaustion atau kelelahan emosional, yang pada akhirnya dapat berdampak negatif terhadap kinerja karyawan.
Konflik peran terjadi ketika individu menghadapi tuntutan yang saling bertentangan dalam peran yang sama atau ketika peran yang diemban tidak sesuai dengan nilai atau harapan pribadi. Menurut Robbins dan Judge (2021), konflik peran merupakan kondisi ketika seorang karyawan menghadapi tekanan dari berbagai pihak yang memiliki ekspektasi berbeda terhadap peran yang dijalankannya.
Kondisi ini kerap kali terjadi dalam organisasi yang memiliki struktur kerja yang kompleks dan minim koordinasi antar bagian. Di sisi lain, beban kerja yang tinggi mengacu pada jumlah tugas
dan tanggung jawab yang harus diselesaikan oleh seorang karyawan dalam jangka waktu tertentu, yang melebihi kapasitas normal kerja individu tersebut. Beban kerja yang berlebihan dapat menyebabkan stres, kelelahan fisik, dan penurunan produktivitas.
Kedua kondisi tersebut, jika dibiarkan tanpa penanganan yang tepat, dapat memicu kelelahan emosional. Emotional exhaustion merupakan komponen utama dari burnout yang ditandai dengan rasa lelah yang ekstrem secara emosional, kehilangan semangat kerja, dan perasaan tidak mampu menghadapi tuntutan pekerjaan (Maslach & Leiter, 2021). Emotional exhaustion tidak hanya berdampak pada kesehatan mental dan fisik karyawan, tetapi juga secara signifikan menurunkan motivasi, keterlibatan, dan kinerja kerja. Karyawan yang mengalami kelelahan emosional cenderung menjadi apatis, tidak produktif, bahkan memiliki keinginan untuk meninggalkan pekerjaan.
Fenomena ini juga terjadi di berbagai perusahaan di Indonesia, termasuk perusahaan yang bergerak di bidang kreatif dan teknologi digital. Salah satu contohnya adalah PT. Proyekimagi Indonesia, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang jasa kreatif dan pengembangan digital. Perusahaan ini menuntut tingkat kreativitas dan ketepatan waktu yang tinggi dari setiap karyawannya.
Berdasarkan wawancara dan data internal yang dihimpun pada tahun 2023, ditemukan bahwa lebih dari 60% karyawan merasa mengalami beban kerja yang melebihi kapasitas normal, dan sekitar 55% di antaranya mengalami ketidakjelasan peran dalam tim kerja. Keluhan-keluhan tersebut mengarah pada munculnya tanda-tanda burnout, seperti kelelahan mental, penurunan semangat kerja, hingga absensi yang meningkat.
Situasi ini menunjukkan bahwa konflik peran dan beban kerja merupakan isu serius yang perlu mendapat perhatian manajemen perusahaan. Jika tidak ditangani dengan baik, masalah ini akan
terus berkembang dan berpotensi menurunkan produktivitas perusahaan secara keseluruhan. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian yang mendalam untuk mengidentifikasi sejauh mana konflik peran dan beban kerja memengaruhi kinerja karyawan melalui kelelahan emosional sebagai variabel mediasi. Penelitian ini diharapkan mampu memberikan gambaran yang jelas mengenai hubungan antara variabel-variabel tersebut, sehingga dapat menjadi dasar pengambilan kebijakan manajemen sumber daya manusia di perusahaan.
Selain memberikan kontribusi teoritis dalam pengembangan ilmu manajemen sumber daya manusia, penelitian ini juga memiliki kontribusi praktis, terutama dalam memberikan rekomendasi kepada manajemen perusahaan terkait strategi pengelolaan beban kerja dan peran karyawan secara lebih efektif. Dengan pemahaman yang lebih baik mengenai hubungan antara konflik peran, beban kerja, kelelahan emosional, dan kinerja karyawan, perusahaan dapat merancang intervensi yang tepat untuk menciptakan lingkungan kerja yang sehat, produktif, dan berkelanjutan.
Urgensi penelitian ini semakin kuat dengan adanya tren peningkatan isu kesehatan mental di tempat kerja selama beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data dari World Health Organization (2021), stres kerja dan burnout telah menjadi salah satu penyebab utama penurunan produktivitas kerja di berbagai negara, termasuk Indonesia. Survei yang dilakukan oleh Korn Ferry pada tahun 2022 juga menunjukkan bahwa lebih dari 70% pekerja di Indonesia mengalami tingkat stres yang tinggi akibat beban kerja dan tekanan peran yang tidak seimbang. Hal ini mengindikasikan perlunya upaya yang lebih serius dari dunia akademik dan praktisi untuk mencari solusi terhadap masalah ini.
Dengan latar belakang tersebut, maka penelitian ini menjadi sangat relevan untuk dilakukan.
Penelitian ini tidak hanya akan memperkaya khazanah akademik dalam bidang manajemen dan
psikologi kerja, tetapi juga memberikan dampak positif secara langsung terhadap peningkatan kesejahteraan dan kinerja karyawan di perusahaan. Oleh karena itu, topik ini diangkat sebagai fokus dalam penulisan skripsi dengan judul "Pengaruh Konflik Peran dan Beban Kerja terhadap Kinerja Karyawan dengan Emotional Exhaustion sebagai Variabel Mediasi di PT. Proyekimagi Indonesia."
Referensi:
Maslach, C., & Leiter, M. P. (2021). Understanding the burnout experience: Recent research and its implications for psychiatry. World Psychiatry, 20(1), 103–111.
Robbins, S. P., & Judge, T. A. (2021). Organizational Behavior (18th ed.). Pearson.
World Health Organization. (2021). Mental health and work: Impact, issues and good practices.
Korn Ferry. (2022). Future of Work Trends 2022: A New Era of Humanity.