• Tidak ada hasil yang ditemukan

Lembar Balik Perencanaan Kehamilan Bagi Pasangan ODHA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "Lembar Balik Perencanaan Kehamilan Bagi Pasangan ODHA"

Copied!
78
0
0

Teks penuh

Lembar balik ini merupakan alat bantu untuk konseling perencanaan kehamilan bagi pasangan Orang Dengan HIV- AIDS (ODHA), yaitu pasangan yang salah satu atau keduanya telah terkonfirmasi mengidap HIV AIDS. Bagian pertama, Perencanaan Kehamilan Bagi Pasangan ODHA, yang berisi syarat kelayakan hamil, risiko kehamilan bagi ibu dan bayi, persiapan kehamilan, dan pelayanan kontrasepsi. Bagian kedua, Edukasi Kehamilan Bagi Pasangan ODHA, yang berisi menjalani kehamilan bagi ODHA, persalinan aman, edukasi perawatan ibu nifas, rencana pemberian makan pada bayi dari ibu dengan HIV, KB Pasca Persalinan, profilaksis bayi yang lahir dari ibu HIV, pemberian imunisasi, EID (early infant diagnosis), bicarakan dengan pasangan, dan pesan penutup sesi konseling.

Lembar balik ini dapat digunakan bersama pelayanan konseling lain misalnya konseling calon pengantin, VCT, dan KB. Jika Anda sudah terbiasa dengan lembar balik ini, Anda akan mengingat informasi kunci dan langkah-langkah berikutnya. Pada kesempatan ini, kita akan mendiskusikan tentang perencanaan kehamilan dan edukasi kehamilan bagi pasangan ODHA, sehingga Anda dan pasangan dapat menentukan pilihan yang tepat dalam merencanakan kehamilan.

Selain HIV, apakah Anda/pasangan mengidap penyakit lain, seperti hepatitis B, hepatitis C, sifilis,TB dan penyakit lainnya. Bila perlu, mintalah dukungan konselor atau pendukung sebaya untuk mendampingi Anda dalam menginformasikan status HIV kepada pasangan.

INFORMASI DASAR HIV-AIDS

KAMI MENGERTI KEBUTUHAN ANDA

Pasangan ODHA berhak untuk merencanakan kehamilanApakah Anda/pasangan mempunyai

PENAPISAN KEBUTUHAN KLIEN

Jika Tidak Apakah

Jika tidak tahu status

ANDA TIDAK HAMIL JIKA…

PENAPISAN KEMUNGKINAN KEHAMILAN

Jika klien tidak tahu status kehamilannya  lakukan pemeriksaan tes kehamilan

Perencanaan Kehamilan Bagi Pasangan ODHA (hal. 8)

Mendapat haid dalam 7 hari terakhir 2. Melahirkan dalam 4 minggu terakhir

Melahirkan kurang dari 6 bulan dan menyusui eksklusif dan belum mendapat haid 4. Mengalami keguguran dalam 7 hari terakhir

Tidak berhubungan seksual sejak haid terakhir 6. Menggunakan kontrasepsi secara benar

PERENCANAAN KEHAMILAN BAGI PASANGAN ODHA

SYARAT KELAYAKAN HAMIL PADA PASANGAN ODHA

Kesehatan secara umum baik

Sudah dinyatakan layak hamil oleh dokter 3. Telah minum ARV secara teratur minimal 6

Kehamilan direncanakan oleh kedua belah pihak

Berkomitmen menghindari faktor risiko HIV- AIDS

Dukungan dari anggota keluarga lainnya 4. Dukungan pembiayaan kesehatan

SYARAT KELAYAKAN HAMIL PADA PASANGAN ODHA

ASPEK MEDIS

CD4 >350, dan

Kehamilan direncanakan oleh kedua belah pihak, Bapak dan Ibu harus benar-benar memahami risiko dan

Komitmen menghindari faktor risiko HIV AIDS melalui ABCDE**

Persetujuan dan dukungan dari anggota keluarga lainnya untuk mengasuh anak tersebut di kemudian

PERSIAPAN KEHAMILAN

Patuh minum ARV seumur hidup dan selalu gunakan kondom saat berhubungan seksual

Minum ARV teratur, seumur hidup

Obati penyakit penyerta

Jika ingin hamil, kondom dapat dilepas pada masa subur

ODHA patuh minum ARV teratur seumur hidup, serta memantau kadar CD4 dan viral load secara berkala.

10Patuh minum ARV seumur hidup dan selalu gunakan kondom

RISIKO KEHAMILAN PADA IBU DENGAN HIV

Kehamilan yang tidak direncanakan pada pasangan ODHA dapat membawa risiko bagi ibu maupun bayi

RISIKO KEHAMILAN PADA IBU DENGAN HIV

11Kehamilan yang tidak direncanakan pada pasangan ODHA

RISIKO UNTUK BAYI

Tanpa pengobatan dan perawatan selama kehamilan, persalinan, dan

Bayi dapat tertular HIV dari ibunya selama masa kehamilan, persalinan, atau menyusui

Bayi dapat tertular HIV dari ibunya selama masa kehamilan, persalinan, dan menyusui

RISIKO UNTUK IBU

HIV dapat meningkatkan risiko komplikasi kehamilan, persalinan, dan nifas

Kondisi kesehatan Ibu dengan HIV akan mempengaruhi pilihan metode persalinan (penjelasan Perencanaan Persalinan bagi ODHA dapat dilihat pada hal.26).

METODE KONTRASEPSI

Hindari Kehamilan Yang Tidak Direncanakan

Dengan Kontrasepsi Yang Tepat dan Gunakan Kondom Saat Berhubungan Seksual

Bila Anda sudah tidak ingin hamil lagi, disarankan untuk menggunakan kontrasepsi mantap (MOW/MOP)

Dengan Kontrasepsi Yang Tepat Dan Gunakan Kondom Saat Berhubungan Seksual

METODE KONTRASEPSI HORMONAL (1)

METODE KONTRASEPSI HORMONAL (2)

METODE KONTRASEPSI NON HORMONAL (1)

Hindari Kehamilan Tidak Diinginkan

KONDOM

AKDR

Metode Kontrasepsi

METODE KONTRASEPSI NON HORMONAL (2)

Prosedur klinik untuk menghentikan kapasitas reproduksi pria dengan cara mengoklusi vas deferens sehingga alur trasnportasi sperma terhambat dan proses fertilisasi tidak terjadi.

METODE KONTRASEPSI YANG DAPAT DIGUNAKAN ODHA

PILIHAN METODE KONTRASEPSI YANG DAPAT DIGUNAKAN ODHA

IMPLAN Pil/Suntik Progestin

AKDR-Cu

PENGGUNAAN KONDOM PADA PASANGAN ODHA

Selalu gunakan kondom setiap berhubungan seksual

Kondom Melindungi Anda Dari Infeksi Menular Seksual Dan Kehamilan Yang Tidak Direncanakan

Kondom Melindungi Anda Dari Infeksi Menular Seksual Dan Kehamilan Yang Tidak Direncanakan

Kondom melindungi Anda dari infeksi menular seksual dan kehamilan yang tidak direncanakan

CARA MEMAKAI, MELEPAS DAN MEMBUANG KONDOM

Ikat dan masukkan kondom ke kantong plastik kemudian buanglah kondom di tempat sampah yang jauh dari jangkauan anak-anak dan tidak membuang kondom di kloset atau saluran air.

PENTING DIPERHATIKAN

Jika setelah ejakulasi, diketahui kondom robek atau tertinggal di dalam vagina, segera ke fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendapatkan kontrasepsi darurat. Jangan buang kondom sembarangan, Ikat dan masukkan kondom ke kantong plastik kemudian buanglah kondom di tempat sampah yang jauh dari jangkauan anak-anak.

KONTRASEPSI DARURAT

Kontrasepsi darurat efektif dalam waktu kurang dari 3 hari (72 jam) pasca senggama

Efektif bila diberikan dalam waktu < 3 hari (72 jam) pasca senggama

EDUKASI KEHAMILAN BAGI PASANGAN ODHA

EDUKASI KEHAMILAN BAGI ODHA

MENJALANI KEHAMILAN BAGI PASANGAN ODHA

Ibu dengan HIV berpotensi menularkan HIV ke janin

Minum ARV teratur seumur hidup mengurangi risiko penularan pada bayi

Oleh karena itu, pasangan ODHA perlu mendapatkan informasi mengenai kontrasepsi yang aman dan efektif untuk mencegah kehamilan yang tidak direncanakan. Konseling yang berkualitas, penggunaan alat kontrasepsi yang aman dan efektif serta penggunaan kondom secara konsisten akan membantu pasangan ODHA agar melakukan hubungan seksual yang aman, serta menghindari terjadinya kehamilan yang tidak direncanakan. Jika sudah mendapatkan terapi ARV, jumlah virus HIV di tubuh Ibu menjadi rendah (tidak terdeteksi) dan risiko penularan HIV dari ibu ke anak menjadi kecil, sehingga Bapak dan Ibu mempunyai peluang untuk memiliki anak HIV negatif.

Untuk perempuan yang status HIV-nya diketahui sebelum hamil, dan pasien sudah mendapatkan ARV, maka saat hamil ARV tetap diteruskan. Untuk ibu hamil yang status HIV-nya diketahui pada saat hamil, segera diberikan ARV berapapun nilai CD4 dan usia kehamilannya. Ibu hamil ODHA tetap mendapatkan pelayanan ANC sesuai standar serta sejak trimester kedua diberikan konseling KB dan konseling pemberian makanan bayi.

Walau pasangan ODHA sudah minum obat ARV, penggunaan kondom harus tetap dilakukan setiap berhubungan seksual.

PERENCANAAN PERSALINAN

Persalinan aman dan minum ARV teratur seumur hidup mengurangi risiko penularan pada bayi

Perencanaan persalinan bagi pasangan ODHA bertujuan untuk menurunkan risiko penularan HIV dari ibu ke bayi. Telah minum ARV teratur minimal 6 bulan atau VL 1000 kopi/ml (atau VL tidak terdeteksi) pada minggu ke-32 kehamilan Jika persyaratan lahir pervaginam tidak terpenuhi, maka dilakukan seksio sesarea.

EDUKASI PERAWATAN IBU NIFAS DENGAN HIV AIDS

Perawatan nifas yang aman dapat menurunkan risiko penularan HIV Ibu nifas tetap minum ARV

EDUKASI PERAWATAN IBU NIFAS DENGAN HIV-AIDS

Pakaian dan linen yang terkena cairan tubuh direndam terlebih dahulu dengan cairan klorin 0,5%.*

Perawatan nifas yang aman dapat menurunkan risiko penularan HIV Ibu nifas tetap minum ARV

RENCANA PEMBERIAN MAKAN BAGI BAYI DARI IBU DENGAN HIV

ATAU

Pilih salah satu, ASI atau PASI

Tidak dianjurkan untuk mencampur keduanya (mixed feeding)

Konseling pemilihan makanan bayi yang terkait risiko penularan HIV diberikan sejak sebelum persalinan, sebaiknya sejak masa kehamilan trimester kedua. Pilihan yang diambil haruslah antara ASI saja atau PASI saja (jangan mixed feeding, karena PASI dapat menyebabkan luka pada usus bayi yang dapat meningkatkan risiko penularan HIV ke bayi). Ibu dengan HIV boleh memberikan PASI bagi bayinya yang HIV negatif atau tidak diketahui status HIV nya, jika SELURUH syarat AFASS dapat dipenuhi.

RENCANA PEMBERIAN MAKAN BAGI BAYI DARI IBU DENGAN HIV

PEMBERIAN ASI PADA BAYI DARI IBU DENGAN HIV

Pada bayi

Baik bayi yang mendapat ASI maupun PASI harus mendapat profilaksis

PEMBERIAN PASI PADA BAYI DARI IBU DENGAN HIV

JIKA PASANGAN ODHA MEMILIH MEMBERIKAN ASI

Hindari lecet payudara

Ibu lanjut minum ARV

ARV Profilaksis

Ibu dengan HIV yang memberikan ASI eksklusif pada bayinya harus minum ARV teratur, kontrol teratur dan menghindari perilaku berisiko serta bayi minum ARV profilaksis. Ibu juga harus memperhatikan perawatan payudara dan teknik menyusui yang benar untuk mencegah lecet pada payudara.

PENCEGAHAN DAN PENANGANAN LECET PADA PAYUDARA

Hindari lecet payudara untuk mengurangi risiko bayi tertular HIV

Pada ibu dengan HIV luka lecet pada payudara dapat menjadi sumber penularan HIV ke bayi. Pada ibu dengan HIV penanganan lecet pada payudara dilakukan sesuai standar, dengan catatan: ASI Perah harus dipasteurisasi terlebih dahulu sebelum diberikan kepada bayi. Untuk melakukan pasteurisasi, ASI perah ditempatkan dalam wadah tahan panas dan direndam dalam air mendidih selama 15 detik sambil diaduk merata.

JIKA PASANGAN ODHA

MEMILIH MEMBERIKAN PASI

Bayi minum

Profilaksis ARV dan Kotrimoksasol

AFASS

Pasangan ODHA dapat memberikan PASI jika syarat AFASS seluruhnya terpenuhi

Tanda-tanda AFASS terpenuhi

JIKA PASANGAN ODHA MEMILIH MEMBERIKAN PASI

KB PASCAPERSALINAN

Setelah melahirkan setiap pasangan ODHA dianjurkan menggunakan KB Pascapersalinan

Apapun metode kontrasepsi yang digunakan, secara bersamaan kondom juga tetap harus dipakai saat bersenggama karena kondom dapat mencegah kehamilan sekaligus mencegah penularan HIV dan IMS.

Setelah melahirkan setiap pasangan ODHA dianjurkan menggunakan KB PascaPersalinan

PEMBERIAN PROFILAKSIS BAGI BAYI DARI IBU DENGAN HIV

Pemeliharaan kesehatan bayi yang benar dapat mengurangi risiko bayi tertular HIV

Segera setelah lahir, bayi harus mendapatkan ARV profilaksis dalam 12 jam pertama pasca lahir, diberikan setiap hari selama 6 minggu. Pada minggu ke-6, dilakukan pemeriksaan EID (Early Infant Diagnosis) untuk menegakkan diagnosis HIV pada bayi. Bila pada minggu ke-6, diagnosis HIV belum dapat disingkirkan maka diperlukan pemberian kotrimoksasol profilaksis sampai usia 12 bulan atau sampai bayi dinyatakan HIV negatif (non reaktif) pada pemeriksaan EID kedua.

Teknis pemberian profilaksis bagi bayi yang lahir dari ibu dengan HIV, dilaksanakan di faskes penyedia layanan PDP (Perawatan Dukungan Pengobatan).

DIAGNOSIS DINI INFEKSI HIV PADA BAYI

EARLY INFANT DIAGNOSIS, EID)

Bayi yang lahir dari ibu HIV harus dilakukan pemeriksaan EID pada bayi setelah usia 6 minggu

DIAGNOSIS DINI INFEKSI HIV PADA BAYI ( EARLY INFANT DIAGNOSIS, EID)

Bayi yang lahir dari ibu HIV harus dilakukan pemeriksaan EID pada bayi setelah usia 6 minggu

PEMBERIAN IMUNISASI

Bila secara klinis bayi sehat imunisasi dapat diberikan

Bayi dari ibu HIV tetap dapat diberikan imunisasi dasar lengkap jika bayi sehat secara klinis. Imunisasi polio pada bayi dari ibu dengan HIV-AIDS hanya dapat menggunakan vaksin polio suntik (IPV).

PESAN PENUTUP SESI KONSELING

Semua anak berhak dilahirkan dalam kondisi yang terbaik agar dapat tumbuh dan berkembang secara optimal

Bayi dari pasangan ODHA dapat tertular HIV dan infeksi oportunistik dari orangtuanya yang positif HIV. Semua anak berhak dilahirkan dalam kondisi yang terbaik agar dapat tumbuh dan berkembang secara optimal agar dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.

Tim Penyusun Lembar Balik Perencanaan Kehamilan Pada Pasangan ODHA

Kontributor

Referensi

Dokumen terkait

Sedangkan bila defisiensi besi dan atau anemia terjadi bada wanita yang sedang hamil kemungkinan kondisi tersebut tidak berubah hingga akhir kehamilan sehu- bungan

Berdasarkan pemaparan di atas disimpulkan bahwa tingginya angka kematian ibu yang mengalami kehamilan tidak diharapkan yang berakhir dengan kematian karena aborsi

Faktor usia merupakan faktor penting dalam menentukan jarak kehamilan, terutama bagi wanita bila berusia 38 tahun dan masih menginginkan 2 orang anak maka tidak bisa hamil

Unmet Need merupakan wanita kawin usia subur dan tidak hamil, menyatakn tidak ingin punya anak lagi dan tidak memakai alat kontrasepsi seperti IUD, PIL, suntik, implant, obat vaginal,