• Tidak ada hasil yang ditemukan

LEMBAR PERSETUJUAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "LEMBAR PERSETUJUAN"

Copied!
122
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa komunikasi terapeutik yang dilakukan perawat mempunyai pengaruh yang kuat terhadap tingkat kecemasan pasien suspek Covid-19. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk mengetahui hubungan komunikasi terapeutik perawat dengan tingkat kecemasan pasien suspek Covid-19 karena belum ada penelitian sebelumnya yang meneliti hal tersebut.

Rumusan Masalah

Sejauh ini belum ada penelitian terkait komunikasi terapeutik pada pasien terduga Covid-19 dengan tingkat kecemasan di Indonesia. Pertanyaan penelitian yang ingin dicari jawabannya adalah: Apakah ada hubungan antara komunikasi terapeutik perawat dengan tingkat kecemasan pada pasien suspek Covid-19 di ruang suspek Covid-19 RS Cibitung Medika.

Tujuan Penelitian

Identifikasi komunikasi terapeutik yang dilakukan perawat dengan pasien suspek Covid-19 di Ruang suspek Covid-19 RS Cibitung Medika. Menganalisis hubungan komunikasi terapeutik perawat dengan tingkat kecemasan pada pasien suspek Covid-19 di ruang suspek Covid-19 RS Cibitung Medika.

Manfaat Penelitian

Untuk menambah literatur sehingga dapat memberikan masukan bagi peneliti selanjutnya mengenai penurunan tingkat kecemasan pasien mengenai komunikasi terapeutik yang dilakukan oleh perawat di RS Cibitung Medika. Penelitian ini dapat dijadikan sarana untuk meningkatkan kemampuan kognitif pasien mengenai komunikasi terapeutik perawat dan mengidentifikasi kecemasan yang dirasakan sehingga pasien dapat mengendalikan kecemasannya.

Keaslian Penelitian

Judul : Hubungan Komunikasi Terapi Perawat Dengan Tingkat Kecemasan Pada Pasien Suspek Covid-19 Di RS Cibitung Medika Tahun 2021. Judul : Hubungan Komunikasi Terapi Perawat Dengan Tingkat Kecemasan Pada Pasien Suspek Covid-19 19 Di Cibitung RS Medika.

TINJAUAN PUSTAKA

Kecemasan

Menurut Rachmad (2009), kecemasan muncul karena ada sesuatu yang tidak jelas atau tidak diketahui, sehingga menimbulkan perasaan tidak nyaman, khawatir atau takut. Sejak usia muda, mereka merasa khawatir, takut, dan tidak yakin terhadap hal-hal sehari-hari. Situasi yang ditandai dengan sesuatu yang baru, ketidakpastian perubahan lingkungan, biasanya menimbulkan peningkatan sekresi adrenalin (epinefrin) terkait dengan intensitas reaksi subjektif, yang disebabkan oleh kondisi yang merangsangnya.

Teori ini menyatakan bahwa kecemasan dapat dipandang sebagai sesuatu yang dikondisikan oleh rasa takut terhadap rangsangan. Kecemasan sedang memungkinkan seseorang fokus pada persoalan penting dan mengabaikan yang lain, sehingga seseorang mengalami perhatian selektif namun tetap dapat melakukan sesuatu dengan fokus. Seseorang dengan kecemasan berat cenderung fokus pada sesuatu yang detail dan spesifik serta tidak dapat berpikir.

Untuk mengetahui sejauh mana tingkat kecemasan seseorang ringan, sedang, berat atau sangat berat, digunakan alat ukur Hamilton Rating Scale for Anxiety (HRS – A): Alat ukur ini terdiri dari 14 kelompok, dengan gejala masing-masing kelompok. kelompok lagi dirinci dengan gejala – gejala yang lebih spesifik.

Tabel 2.1 Tingkat Respon Kecemasan (Anita, 2018)
Tabel 2.1 Tingkat Respon Kecemasan (Anita, 2018)

Coronavirus disease 2019 (Covid-19)

Kebanyakan pasien yang terinfeksi SARS-CoV-2 menunjukkan gejala pernafasan seperti demam, batuk, bersin dan sesak nafas. Selain itu, SARS-CoV-2 telah diamati dapat bertahan dalam aerosol (diproduksi melalui nebulizer) setidaknya selama 3 jam. Eksperimen yang dilakukan menunjukkan bahwa SARS-CoV-2 lebih stabil pada plastik dan baja tahan karat (>72 jam) dibandingkan pada tembaga (4 jam) dan karton (24 jam).

Penularan SARS-CoV-2 melalui udara dapat terjadi selama prosedur medis yang menghasilkan aerosol (“prosedur yang menghasilkan aerosol”). Glikoprotein yang terdapat pada selubung ujung virus akan berikatan dengan reseptor seluler berupa ACE2 pada SARS-CoV-2. Selain fusi membran, terdapat juga endositosis yang bergantung pada clathrin dan tidak bergantung pada clathrin yang memediasi masuknya SARS-CoV ke dalam sel inang.

Induksi dahak juga dapat meningkatkan deteksi virus pada pasien negatif SARS-CoV-2 melalui spesimen usap nasofaring/orofaring.

Kerangka Teori

Kerangka Konsep

Hipotesis

Hipotesis dalam penelitian terdiri dari hipotesis nol dan hipotesis alternatif. Hipotesis H0 diartikan tidak adanya hubungan atau perbedaan antar variabel yang diteliti sedangkan Ha diartikan sebagai adanya hubungan atau perbedaan antar variabel yang diteliti. Hipotesis nol (Ho): Tidak terdapat hubungan komunikasi terapeutik perawat dengan tingkat kecemasan pasien suspek Covid-19 di RS Cibitung Medika tahun 2021. Hipotesis alternatif (Ha): Terdapat hubungan komunikasi terapeutik perawat dengan tingkat kecemasan pasien suspek Covid-19 di RS Cibitung Medika tahun 2021.

METODE PENELITIAN

  • Jenis dan rancangan penelitian
  • Populasi, Sampel dan Sampling
  • Tempat dan Waktu Penelitian
  • Variabel Penelitian
  • Definisi Oprasional
  • Metode Pengumpulan data
  • Instumen Penelitian
  • Pengolahan Data
    • Analisis Data
  • Etika Penelitian

Belum ada penelitian keperawatan yang berfokus pada dampak komunikasi terapeutik terhadap tingkat kecemasan pasien suspek Covid-19. Data sekunder dalam penelitian ini adalah data jumlah pasien suspek Covid-19 di RS Cibitung Medika. Dalam IV. Pada bab ini akan diuraikan hasil penelitian hubungan komunikasi terapeutik perawat dengan tingkat kecemasan pada pasien suspek Covid-19 di RS Cibitung Medika tahun 2021.

Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa komunikasi terapeutik perawat memberikan dampak terhadap tingkat kecemasan pasien suspek Covid-19 di ruang suspek Covid-19 RS Cibitung Medika pada bulan Agustus 2021. Tujuan yang ingin dicapai adalah melakukan hal tersebut. Penelitian tentang “Hubungan Komunikasi Terapi Perawat Dengan Tingkat Kecemasan Pada Pasien Suspek Covid-19 Di RS Cibitung Medika.” Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan komunikasi terapeutik perawat dengan tingkat kecemasan pada pasien suspek Covid-19.

Judul Penelitian : “Hubungan Komunikasi Terapi Perawat Dengan Tingkat Kecemasan Pada Pasien Suspek Covid-19 Di RS Cibitung Medika Tahun 2021.”

Tabel 3.1 Kriteria inklusi dan eklusi
Tabel 3.1 Kriteria inklusi dan eklusi

HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambaran Umum Lokasi Penelitian

RS Cibitung Medika Bekasi merupakan unit pelayanan kesehatan yang mempunyai kepedulian sosial terhadap seluruh lapisan masyarakat dengan tujuan memberikan pelayanan kesehatan melalui tenaga yang berkualitas disertai sarana dan prasarana yang memadai berdasarkan empati untuk kemaslahatan masyarakat pada umumnya dengan tingkat akreditasi “C”. Menjadi rumah sakit terbaik di wilayah Bekasi dengan memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas dan aman. Tersedia 212 tempat tidur, terdiri dari VVIP (Suite) 1 tempat tidur, VIP (Eksekutif) 24 tempat tidur, Kelas 1 (Deluxe) 46 tempat tidur, Kelas 2 (Superior) 36 tempat tidur, Kelas 3 (Standar) 42 tempat tidur, Isolasi TBC Paru 4 tempat tidur tempat tidur, RS 6 tempat tidur, ICU 4 tempat tidur, HCU 5 tempat tidur, layanan Covid 44 tempat tidur.

Poliklinik Umum, Poliklinik Gigi, Poliklinik Spesialis Anak, Poliklinik Spesialis Bedah, Poliklinik Spesialis Bedah Syaraf, Poliklinik Spesialis Kulit dan Kelamin, Poliklinik Spesialis Jantung, Poliklinik Spesialis Radiologi, Poliklinik Spesialis Radiologi, Spesialis Orginekologi/Spesialis Ginekologi/Spesialis Ginekologi Poliklinik Spesialis Penyakit Dalam, Neurologi Poliklinik Spesialis, Poliklinik Spesialis THT, Poliklinik Spesialis Paru, Poliklinik Spesialis Mata, Poliklinik Spesialis Urologi, Poliklinik Rehabilitasi Medis, Poliklinik Gizi dan Poliklinik Spesialis Psikiatri. Fisioterapi, CT Scan, Ekokardiografi, EKG, Laboratorium, Instalasi Farmasi, Instalasi Radiologi, Instalasi Gizi, Ruang Operasi, Endoskopi Panoramik, C-Arm dan THT.

Pelaksanaan Penelitian

Cibitung Medika karena penelitian ini mengambil subjek suspek Covid-19 dimana berdasarkan kriteria inklusi yang ditetapkan peneliti, sampel penelitian adalah pasien suspek Covid-19 yang berusia >17 tahun dengan jumlah sampel sebanyak 27 responden. Data yang telah terkumpul kemudian diolah secara bertahap mulai dari pengeditan, pengkodean, pemasukan dan pembersihan data.

Hasil Penelitian

Berdasarkan tabel di atas distribusi frekuensi komunikasi terapeutik perawat RS Cibitung Medika tahun 2021 di ruang suspek Covid-19 pada pasien suspek Covid-19 menunjukkan bahwa dari 27 responden (100%) terdapat 12 pasien yang mengalami komunikasi kurang (44.4 % ) Sedangkan pasien yang mengalami komunikasi baik sebanyak 15 orang (55,6%), sehingga pasien yang mengalami komunikasi baik lebih banyak dibandingkan pasien yang mengalami komunikasi buruk. Hasil uji statistik Chi-Squared memperoleh nilai P = 0,000 (P < 0,05), sehingga H0 ditolak sehingga dapat disimpulkan terdapat pengaruh yang signifikan antara komunikasi terapeutik perawat terhadap tingkat kecemasan suspek Covid-19. 19- pasien di ruang suspek Covid-19 RSUD Cibitung.Medika pada bulan Agustus 2021 yang berarti semakin baik perawat memberikan komunikasi terapeutik maka tingkat kecemasan pasien tergolong ringan-sedang sehingga lebih banyak pasien yang mengalami komunikasi yang baik dibandingkan pasien. yang mengalami komunikasi yang buruk. Kriteria sampel yang digunakan dibatasi pada pasien suspek Covid-19 yang tidak termasuk dalam kategori inklusi.

Frekuensi pasien suspek Covid-19 yang mengalami kecemasan ringan hingga sedang sebanyak 14 orang (51,9%), sedangkan jumlah pasien suspek Covid-19 yang mengalami kecemasan berat hingga sangat berat sebanyak 13 orang (48,1%) dari total populasi. berjumlah 27 responden (100%). Frekuensi pasien suspek Covid-19 dengan komunikasi buruk sebanyak 12 (44,4%), sedangkan pasien dengan komunikasi baik sebanyak 15 (55,6%) dari total 27 responden (100%). Berdasarkan hasil uji statistik chi-square nilai P = 0,000 (P < 0,05) maka dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara komunikasi terapeutik perawat dengan tingkat kecemasan pada pasien suspek Covid-19. 19 di tahun ini. ruang untuk suspek Covid-19.

Kami berharap hasil penelitian ini dapat digunakan terutama sebagai bahan ajar dan data untuk penelitian lebih lanjut dengan topik praktik berbasis bukti mengenai komunikasi terapeutik atau kecemasan perawat pada pasien suspek Covid-19.

Tabel 4.3 Distribusi frekuensi hubungan komunikasi terapeutik perawat dengan tingkat kecemasan pada pasien suspek Covid-19 RS Cibitung Medika Tahun 2021
Tabel 4.3 Distribusi frekuensi hubungan komunikasi terapeutik perawat dengan tingkat kecemasan pada pasien suspek Covid-19 RS Cibitung Medika Tahun 2021

Pembahasan Penelitian

Keterbatasan Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah informasi dan wawasan bagi pasien suspek Covid-19 dan keluarganya mengenai berbagai cara untuk mengurangi kecemasan pada pasien suspek Covid-19, khususnya melalui komunikasi terapeutik yang dilakukan perawat melalui berbagai informasi yang ada. diberikan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan rujukan atau rujukan, dan hasil penelitian ini dapat dijadikan data untuk penelitian selanjutnya terkait komunikasi terapeutik perawat dengan tingkat kecemasan pasien suspek Covid-19. adapun perawat dalam meningkatkan mutu pelayanan keperawatan khususnya keterampilan komunikasi terapeutik untuk memberikan pelayanan yang optimal guna meningkatkan keberhasilan pengobatan dan mutu kesehatan pasien. Sebab dalam pelaksanaannya masih berbagai komponen komunikasi terapeutik keperawatan yang sering terlupakan seperti memperkenalkan diri dan membuat kontrak waktu, menanyakan penyebab kecemasan pasien, menyimpulkan informasi yang telah disampaikan dan menanyakan perasaan pasien. untuk menerima informasi tersebut.

Keunggulan penelitian ini adalah memberikan cara untuk meningkatkan pengetahuan pasien tentang komunikasi terapeutik perawat dan mengetahui tingkat kecemasan yang terjadi, sehingga pelaksanaan keperawatan dapat terlaksana dengan baik dan lancar. Kuesioner yang akan diberikan adalah lembar Kuesioner Komunikasi Terapeutik Perawat dengan menggunakan Kuesioner Komunikasi Terapi Perawat, dan lembar Kuesioner Tingkat Kecemasan dengan menggunakan Skala Kecemasan. Lengkapi tabel dibawah ini dengan memberi tanda silang (X) berdasarkan penilaian anda terhadap perilaku perawat dalam komunikasi terapeutik dengan anda.

Berilah tanda silang (X) pada jawaban yang paling tepat sesuai dengan keadaan Anda atau apa yang Anda rasakan selama dirawat di ruangan suspek Covid-19.

KESIMPULAN DAN SARAN

Saran

Implementasi kebijakan pelaksanaan komunikasi terapeutik sesuai SOP di seluruh ruangan rumah sakit dan sebagai baseline, tahap awal implementasi. Tingkat Kecemasan Keluarga Pasien Di Unit Perawatan Intensif Hubungan Komunikasi Terapi Dengan Kecemasan Keluarga Pasien Di Unit Perawatan Intensif Kun Ika Nur Rahayu Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Kadiri Jl. 2018) Pendekatan Penelitian Kuantitatif (Edisi ke-1st). Diawal pertemuan dengan Bapak/Ibu, perawat menjelaskan kepada Bapak/Ibu.

Pada awal pertemuan, perawat membuat kontrak forward dengan Bapak/Ibu untuk pelaksanaan kegiatan yang akan dilakukannya bersamanya. Apakah perawat menjelaskan tujuan kampanye kepada Anda di awal pertemuan? Apakah perawat memberi saran kepada Anda tentang langkah selanjutnya yang harus diambil berdasarkan kondisi medis Anda?

z.

tabel DO
tabel DO

Gambar

Tabel 1.1 Keaslian Penelitian
Tabel 2.1 Tingkat Respon Kecemasan (Anita, 2018)
Gambar 2.1 Rentang Respon Kecemasan a. Respon adaptif
Tabel 2.2 Cara penilaian kecemasan
+6

Referensi

Dokumen terkait

Hasil uji Chi Square menunjukkan p &gt; α, yaitu 0,466, sehingga H 0 diterima dan hasil uji Asosiasi Asimetri Lambda Statistik L B menunjukkan 0 yang

Berdasarkan analisa Bivariat hasil uji statistik Chi-square diperoleh p.value 0,182 hal ini menunjukan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara kejadian diare

Hasil uji statistik Chi-square, diperoleh nilai p = 0,332 yang berarti p &gt; 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan signifikan antara keberadaan

Berdasarkan analisa Bivariat hasil uji statistik Chi-square diperoleh p.value 0,143 hal ini menunjukan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna gannguan pola tidur

Dari analisa statistik uji Bivariat di dapatkan bahwa hasil P value 0, 561 &gt; 0,05 yang artinya tidak ada hubungan antara riwayat bayi lahir rendah dengan tumbuh kembang anak di TK

Berdasarkan analisa Bivariat hasil uji statistik Chi-square diperoleh p.value 0,143 hal ini menunjukan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna gannguan pola tidur dengan

Berdasarkan hasil analisa bivariat Chi Square diperoleh hasil bahwa nilai p-value Phi Cramer’s V sebesar 1,000 sehingga dikatakan tidak ada hubungan yang bermakna secara

Pengaruh Komunikasi Perawat dengan Pasien terhadap Risiko Insiden Keselamatan Pasien Sumber : Analisa Data Primer, 2019 Dari analisis bivariat menggunakan uji chi square diperoleh