• Tidak ada hasil yang ditemukan

Lensa Iseikonik sebagai Alternatif Lensa Kontak

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "Lensa Iseikonik sebagai Alternatif Lensa Kontak"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

BANDUNG

Sari Kepustakaan : Lensa Iseikonik sebagai Alternatif Lensa Kontak Penyaji : Dian Paramitasari

Pembimbing :DR. Karmelita Satari, dr., SpM(K)

Telah Diperiksa dan Disetujui oleh

Pembimbing Unit Refraksi, Lensa Kontak, dan Low Vision

DR. Karmelita Satari, dr., SpM(K)

Kamis, 13 Oktober 2016 Pukul 07.00 WIB

(2)

Lensa Iseikonik sebagai Alternatif Lensa Kontak

I. Pendahuluan

Keadaan perbedaan kelainan refraksi antara kedua mata disebut dengan anisometropia. Anisometropia yang tidak terkoreksi dapat menyebabkan timbulnya bayangan yang tidak seragam pada retina, sehingga timbul kesulitan untuk melakukan fusi atau menggabungkan kedua bayangan tersebut. Pada anisometropia dengan perbedaan lebih dari 2.50 dioptri pada kedua mata akan terdapat disparitas magnifikasi bayangan sebesar 5%, sehingga mengganggu proses terjadinya fusi.

Perbedaan ukuran dari objek yang diterima kedua mata dikenal dengan istilah aniseikonia. Dua puluh hingga tiga puluh persen pemakai kacamata memiliki aniseikonia, sehingga diperlukan adanya suatu tatalaksana khusus untuk mengatasi anisometropia yang menginduksi terjadinya aniseikonia, salah satunya dengan lensa iseikonik.1–4

II. Anisometropia dan Aniseikonia 2.1 Anisometropia

Anisometropia merupakan suatu kondisi dimana kedua mata memiliki perbedaan kekuatan refraksi dengan nilai 1.00 dioptri atau lebih. Anisometropia dapat dikelompokkan menjadi beberapa jenis, yaitu astigmatisma kompositus, hiperopia kompositus, miopia kompositus, mixed atau antimetropik, astigmatisma sederhana, hiperopia sederhana, dan miopia sederhana. Pada tipe kompositus, kedua mata mengalami kelainan refraktif serupa, baik astigmatisma, hiperopia, maupun miopia, namun dengan ukuran satu mata lebih besar 1.00 dioptri dibandingkan mata lainnya. Mixed atau antimetropik terjadi pada saat satu mata mengalami hiperopia sementara mata lainnya mengalami miopia. Pada kasus tipe sederhana, hanya terdapat kelainan refraksi berupa astigmatisma, hiperopia, maupun miopia pada salah satu mata saja.1,5

Prevalensi anisometropia bervariasi menurut literatur. Angka kejadian anisometropia diketahui meningkat sesuai dengan pertambahan usia.

Anisometropia diketahui merupakan faktor resiko utama timbulnya ambliopia.

(3)

Nilai anisometropia yang dapat menyebabkan ambliopia adalah lebih dari 1.50 dioptri pada hiperopia, 2.00 dioptri pada astigmatisma, serta 3.00 dioptri pada miopia.1,3

2.2. Aniseikonia

Aniseikonia merupakan suatu kondisi binokular dimana ukuran bayangan yang diterima oleh kedua mata tidak sama besar. Kondisi ini signifikan secara klinis karena sistem visual manusia mengalami kesulitan untuk menggabungkan kedua gambaran yang berbeda tersebut menjadi suatu persepsi tunggal. Anisekonia pada umumnya ditemukan pada kondisi anisometropia, meskipun tidak semua kondisi aniseikonia disebabkan oleh anisometropia. Aniseikonia yang disebabkan oleh anisometropia disebut sebagai aniseikonia refraktif.1,6,7

Gambar 2.1 Besar bayangan di retina dipengaruhi panjang aksial bola mata Sumber : Benjamin1

Aniseikonia dapat mengganggu terjadinya fusi dan orientasi spasial. Fusi dari dua bayangan di retina dapat terjadi jika terjadi kesesuaian bentuk serta ukuran. Jika aneisekonia yang terjadi hanya kecil, maka mata cenderung dapat mengabaikan perbedaan tersebut. Jika perbedaan ukuran bayangan yang terjadi kurang dari 5%, maka mata akan cenderung untuk mensupresi salah satu bayangan sebagai kompensasi.7,8

Gejala-gejala yang timbul pada aniseikonia tergantung dari toleransi masing- masing individu, sehingga terdapat perbedaan pendapat dalam menentukan aniseikonia yang masih dapat ditoleransi oleh mata. Gejala yang terjadi pada

(4)

anisekonia umumnya tidak spesifik. Gejala yang umum terjadi adalah gejala astenopia, seperti lelah, rasa terbakar, dan berair pada mata, serta sakit kepala, kesulitan membaca, mual, serta perubahan persepsi ruang.1,7

2.3 Tatalaksana pada Anisometropia

Anisometropia sebaiknya harus segera dikoreksi agar pasien bisa mendapatkan penglihatan binokular tunggal yang jernih. Anak-anak dengan anisometropia harus segera diberikan koreksi dengan nilai penuh untuk mencegah terjadinya ambliopia.1,6

Salah satu modalitas yang dapat diberikan sebagai tatalaksana pada anisometropia adalah pemberan lensa kontak. Lensa kontak memiliki keunggulan berupa meminimalisir perbedaan magnifikasi bayangan, hal ini disebabkan karena jarak verteksnya lebih kecil dibandingkan dengan kacamata. Lensa kontak tidak dapat digunakan oleh semua orang, contohnya pada orang yang memiliki kontraindikasi terhadap pemakaian lensa kontak serta pada anak-anak yang sulit untuk patuh. Kontraindikasi pemakaian lensa kontak contohnya adalah pasien dengan penyakit pada permukaan okular, mata kering, alergi, tidak dapat menjaga kebersihan lensa kontak, serta sulit untuk patuh pada aturan penggunaan lensa kontak. Penggunaan lensa kontak juga sebaiknya dihindari pada orang-orang dengan imunosupresi, serta faktor lingkungan yang tidak mendukung, seperti banyak terekspos pada debu dan bahan kimia. Apabila seseorang dengan anisometropia akhirnya diputuskan untuk menggunakan lensa kontak, resep kacamata sebaiknya tetap diberikan untuk digunakan pada saat lensa kontak tidak digunakan.1,6

Pada kasus-kasus dimana pemberian lensa kontak tidak dapat dilakukan, atau tidak digunakan atas keputusan pribadi pasien, maka dapat diberikan koreksi dengan menggunakan kacamata, meskipun disparitas ukuran bayangan dapat terjadi. Sebagian orang yang menggunakan kacamata tidak merasakan adanya keluhan, namun sebagian merasakan gejala-gejala yang timbul akibat aniseikonia.

Pada kasus demikian maka dapat dipikirkan untuk memberikan kacamata dengan desain lensa iseikonik.1,4

(5)

III. Lensa Iseikonik

Salah satu tatalaksana bagi anisometropia adalah penggunaan lensa iseikonik.

Desain lensa iseikonik memiliki prinsip meminimalisir perbedaan magnifikasi atau perbesaran yang ditimbulkan oleh kedua lensa kacamata pada anisometropia, dengan melibatkan penerapan prinsip optik geometris. Keuntungan dari lensa ini adalah lebih nyaman digunakan bagi orang dewasa, serta anak-anak dengan anisometropia yang dikoreksi menggunakan kacamata dengan lensa iseikonik diketahui memiliki tajam penglihatan dan penglihatan binokular yang lebih baik jika dibandingkan dengan anak-anak yang dikoreksi dengan menggunakan lensa standar.1,9,10

Gambar 3.1 Lensa Iseikonik Sumber : Brandon7

3.1 Lensa Iseikonik dan Magnifikasi Lensa

Lensa iseikonik tidak digunakan untuk menghilangkan magnifikasi atau membuat perbesaran bayangan yang ditimbulkan dari kedua lensa menjadi persis sama, namun untuk memperkecil perbedaan magnifikasi sehingga tercapai penglihatan binokular. Sebuah cara sederhana menyatakan bahwa perbedaan 1.00 dioptri diantara kedua lensa menyebabkan perbedaan magnifikasi sebesar 1%.

Namun untuk lebih tepatnya dapat dilakukan penghitungan spectacle magnification. Spectacle Magnification adalah rasio dari ukuran bayangan pada retina yang sudah terkoreksi dengan yang belum terkoreksi. Pendekatan nilai dari spectacle magnification dapat membantu mengurangi kesenjangan ukuran banyangan pada retina. Pada lensa, terdapat dua kelompok faktor yang mempengaruhi efek perbesaran yang ditimbulkannya. Kelompok pertama adalah elemen faktor bentuk, yang terdiri dari ketebalan sentral, indeks bias, dan base

(6)

curve. Kelompok kedua adalah elemen-elemen yang mempengaruhi faktor kekuatan lensa, diantaranya jarak verteks dan kekuatan lensa itu sendiri.1,7

Gambar 3.2 Hubungan antara faktor-faktor yang mempengaruhi spectacle magnification (SM)

Sumber : Benjamin1

Hubungan antara faktor-faktor yang mempengaruhi spectacle magnification dapat dilihat pada Gambar 3.1. T merupakan ketebalan sentral lensa. n’

melambangkan indeks bias dari lensa. F1 merupakan kekuatan lensa bagian depan atau base curve. h merupakan jarak henti atau jarak verteks posterior ke bukaan pupil, atau jarak verteks ditambah 3 milimeter. Fbvp melambangkan kekuatan verteks posterior lensa.1,7

Indeks bias merupakan perbandingan antara kecepatan cahaya diruang hampa dengan kecepatan cahaya pada media tertentu. Apabila cahaya datang melalui dua media yang berbeda indeks biasnya, maka akan terjadinya pembiasan dan sebagian kecil akan dipantulkan. Perbedaan indeks bias yang semakin besar antara dua media, akan menimbulkan sudut refleksi yang semakin besar dan persentasi cahaya yang dipantulkan semakin besar. Semakin tinggi indeks bias, maka lensa akan cenderung lebih tipis.1,4

Bentuk fisik aktual dari sebuah lensa ditentukan oleh base curve yang dimilikinya. Base curve adalah suatu refrensi kelengkungan atau kekuatan permukaan yang menjadi basis dari semua perhitungan kekuatan permukaan lensa.

Ketebalan sentral lensa dipengaruhi oleh kedalaman sagital dan kelengkungan permukaan dari suatu lensa.1,5

(7)

Gambar 3.3 Ketebalan sentral (CT) dan kedalaman sagital (S1, S2) lensa Sumber : Brown11

Lensa sferis dengan sebuah ukuran tertentu akan memiliki jarak titik fokus yang konstan. Perubahan posisi lensa kacamata terhadap mata akan mempengaruhi pembentukan bayangan oleh lensa tersebut, terutama jika lensa yang digunakan memiliki kekuatan yang besar. Distometer, atau verteksometer, adalah sebuah alat yang dapat digunakan untuk mengukur jarak verteks. Jarak verteks merupakan hal yang sangat penting untuk diperhatikan pada koreksi kelainan refraktif, termasuk pada anisometropia. Distomer mengukur jarak antara bagian posterior lensa kacamata dengan dengan kornea melalui mata terpejam. Mendekatkan lensa kearah mata akan menyebabkan bayangan yang terbentuk akan bergerak ke arah posterior, sementara menjauhkan lensa dari mata akan menyebabkan bayangan yang terbentuk bergerak ke arah anterior.5,6

3.2 Pembuatan Lensa Iseikonik

Lensa iseikonik dapat diciptakan dengan memodifikasi faktor-faktor yang diketahui memiliki pengaruh terhadap magnifikasi lensa. Tahap awal dari pembuatan lensa iseikonik adalah mendapatkan ukuran koreksi terbaik untuk kacamata biasa, atau dengan menggunakan kacamata lama pasien. Selanjutnya dibuat penyesuaian dimensi dari properti lensa tersebut, seperti jarak verteks, base curve, dan ketebalan sentral, sehingga sesuai dengan kebutuhan.1,8

(8)

Gambar 3.4 Magnifikasi dan hubungannya dengan ketebalan lensa serta base curve

Sumber : Benjamin1

Jarak verteks dapat diubah, umumnya diperkecil untuk meminimalisir perbesaran yang ditimbulkan oleh lensa berkekuatan positif dan meminimalisir pengecilan bayangan yang ditimbulkan oleh lensa berkekuatan negatif. Pengecilan jarak verteks dapat dilakukan hingga minimal 9-10 milimeter. Pengurangan jarak verteks pada umumnya dipilih karena merupakan salah satu intervensi mudah dan dapat diterima dengan baik dari segi kosmetik.1,5,9

Meningkatkan base curve pada lensa yang berkekuatan lebih kecil dapat dilakukan untuk meningkatkan perbesaran yang dihasilkan oleh lensa berkekuatan positif dan lensa negatif dengan kekuatan rendah atau kurang dari 2.00 dioptri.

Meningkatkan base curve jauh lebih menguntungkan pada koreksi hiperopia dibandingkan dengan miopia. Hal ini disebabkan karena semakin besar perubahan base curve yang dilakukan pada lensa dengan kekuatan negatif tinggi, maka jarak verteks akan semakin besar, sehingga dapat terjadi minfikasi dari bayangan.

Perubahan base curve harus mempertimbangkan bahwa dengan perubahan ekstrim, yaitu base curve yang terlalu steep, pada umumnya lebih dari 12.50 dioptri, atau terlalu mendatar, atau kurang dari 1.00 dioptri, tidak indah secara kosmetik.1,5,9,11

Ketebalan sentral dapat diubah sesuai dengan kebutuhan. Menurunkan ketebalan sentral dari lensa berkekuatan lebih positif dapat menurunkan perbesaran bayangan

(9)

yang dihasilkan. Penggunaan bahan lensa dengan indeks bias yang tinggi dapat membuat lensa memiliki ketebalan sentral yang menurun, dan base curve yang lebih datar, sehingga menurunkan ukuran bayangan yang dihasilkan.1,11,12

Gambar 3.5 Contoh perubahan dimensi lensa : (A) Suatu lensa kekuatan negatif degan ketebalan sentral (CT), jarak verteks (VD0) dan base curve tertentu, (B) Lensa dengan CT yang sama namun base curve lebih curam, membuat jarak verteks awal bertambah, (C) Lensa dengan base curve yang sama dengan (B) dan disertai dengan penebalan CT, menghasilkan resultan jarak verteks seperti awal (VD0)

Dikutip dari : Brown11

Hal lain yang perlu diperhatikan dalam pembuatan lensa iseikonik adalah pemilihan bingkai kacamata. Bingkai kacamata dengan berat yang tidak terlalu ringan sehingga tidak mudah bergeser saat dipakai merupakan pilihan yang paling

(10)

baik, karena pada kacamata iseikonik perubahan jarak verteks sesedikit apapun dapat memiliki pengaruh besar terhadap bayangan yang dihasilkan. Bingkai kacamata yang dipilih juga sebaiknya memiliki ukuran diameter bagian mata sekecil mungkin untuk menjaga ketebalan lensa.1,5,9

IV. Simpulan

Lensa iseikonik merupakan salah satu tatalaksana yang dapat digunakan untuk mengatasi aniseikonia yang disebabkan oleh anisometropia. Prinsip lensa iseikonik adalah meminimalisir perbedaan magnifikasi yang ditimbulkan oleh kedua lensa kacamata pada anisometropia, dengan melibatkan penerapan prinsip optik geometris.

Pada lensa, terdapat dua kelompok faktor yang mempengaruhi efek perbesaran yang ditimbulkan. Kelompok pertama adalah elemen faktor bentuk, yang terdiri dari ketebalan sentral, indeks bias, dan base curve. Kelompok kedua adalah elemen- elemen yang mempengaruhi faktor kekuatan lensa, diantaranya jarak verteks dan kekuatan lensa itu sendiri. Pada lensa iseikonik, dilakukan modifikasi pada faktor- faktor yang mempengaruhi perbesaran tersebut, sehingga didapatkan rasio perbesaran bayangan yang hampir sama di kedua mata.

(11)

DAFTAR PUSTAKA

1. Benjamin WJ, editor. Borish’s clinical refraction. China: Butterworth Heinemann, Elsevier; 2006.

2. Khurana A. Comprehensive ophtalmology. New Delhi: New Age International; 2007.

Hlm 32-9.

3. American Academy of Ophtalmology. Pediatric ophtalmology and strabismus.

Dalam San Francisco: American Academy of Ophtalmology; 2014.

4. Stein HA, Stein RM, Freeman MI. The ophtalmic assistant. Edisi ke-9. China:

Elsevier, Saunders; 2013.

5. Strauss L, Azar DT. Prescription of Spectacles. Dalam: Albert DM, Miller JW, editor.

Albert & jakobiec’s principles and practice of ophthalmology. Edisi ke-3. USA:

Elsevier, Saunders; 2008. Hlm. 5269–75.

6. American Academy of Ophtalmology. Clinical optics. Dalam: Basic and clinical science course. San Francisco: American Academy of Ophtalmology; 2014.

7. Reed B. Aniseikonia : a case series and literature. Coll Optom. 2011;

8. Bannon R, Walsh R, Burian H. Note on the incidence of clinically significant aniseikonia. Am J Ophtalmol.

9. Aniseikonia : awaya aniseikonia test booklet [Internet]. USA; Diunduh dari:

http://www.richmondproducts.com/files/1313/1549/9369/1378R_Aniseikonia_Diag nosis_062305.pdf

10. Nordlow W. Anisometropia, amblyopia, induced aniseikonia and etimated correction with iseikonic lens in 4 years-old. Acta Ophtalmol. 48(5):959–70.

11. Brown W. The importance of base curve in the design of minus iseikonic lenses.

Optom Vis Sci. 2006;850–6.

12. Achiron LR, Witkin N, Primo S, Broocker G. Contemporary management of aniseikonia. Surv Ophtalmol. 41(4):321–30.

Referensi

Dokumen terkait

Terjadinya keratitis bakteri pada pengguna lensa kontak tergantung dari beberapa faktor, antara lain : material lensa kontak, modalitas pemakaian, kebersihan lensa

1. Sumber cahaya dan perlengkapannya 1 set digunakan sebagai sumber pencahayaan yang nantinya dapat menembus lensa dan terbentuk bayangan. Lensa cembung dan lensa

Untuk lensa negatif, semua benda yang ada didepannya selalu membentuk bayangan semu (virtual) yang berada didepannya juga, sehingga bayangan tersebut tidak

Peralatan dilandasan optis yang telah disediakan disusun, bayangan yang jelas didapatkan pada layar, dicatat jarak antara lensa cembung dan layar (V 1 ).

Untuk lensa positif, jika jarak obyek (di depan lensa) lebih besar daripada jarak fokus lensa, maka bayangan yang dihasilkan bersifat nyata (dapat terbentuk pada layar yang berada

Indikasi penggunaan lensa kontak pada pasien ini adalah anisometropia tinggi akibat myopic surprise dimana terdapat kelainan refraksi pascaoperasi lebih besar dari -2.00

Pemakaian harian perlu dipertimbangkan untuk mengurangi risiko infeksi dan juga transmisi oksigen dapat berkurang pada lensa yang berkekuatan tinggi seperti pada lensa kontak yang

Walaupun mengakibatkan berbagai komplikasi, desain awal lensa kontak hybrid memberikan alternatif yang menjanjikan untuk pasien dengan intoleansi penggunaan lensa kontak RGP dan lensa