Widi Hartono, Sipil UNS
Struktur Beton Dasar
Lentur Pada Balok Persegi
Widi Hartono, Sipil UNS
ELEMEN LENTUR
Widi Hartono, Sipil UNS
POTONGAN MELINTANG
+
-
Serat Tertarik
Serat Tertekan Garis
Netral
Serat Tertarik
Serat Tertekan
+ -
Tumpuan Lapangan
Struktur Beton Dasar
Diagram regangan
Sumbu netral c
b d
As
’cu= 0,003
td - c
Jenis penampang pada balok dibedakan menurut kondisi regangan yang terjadi Regangan maksimum pada serat beton tekan
Regangan pada tulangan baja.
Tulangan dikatakan luluh/leleh apabila
t =y = fy/Es
ZONA TEKAN
ZONA TARIK
Widi Hartono, Sipil UNS
STRUKTUR BETON DASAR
Dalam proses disain suatu balok beton bertulang dengan metode kekuatan (Strength Design Method) atau yang dikenal pula dengan metode ultimit, mengambil beberapa asumsi sebagai berikut :
• Regangan yang terjadi pada beton dan tulangan baja adalah sama
• Regangan pada beton berbanding lurus terhadap jaraknya ke sumbu
netral penampang
• Modulus Elastistisitas baja, E
s= 200.000 MPa, dan tegangan yang timbul pada tulangan baja dalam daerah elastis sama dengan nilai regangan dikalikan dengan E
s( = .Es)
• Penampang datar akan tetap datar setelah terjadi lentur
• Kuat tarik dari beton diabaikan
• Pada kondisi keruntuhan regangan maksimum yang terjadi pada serat tekan beton terluar, besarnya adalah sama dengan
cu= 0,003
Widi Hartono, Sipil UNS
Struktur Beton Dasar
Distribusi Tegangan Tekan Ekuivalen
•
Hubungan antara tegangan dan regangan tekan beton dapat dihitung berdasarkan kurva pengujian tegangan-regangan, atau dapat diasumsikan berbentuk persegi empat, trapesium, parabola atau bentuk lain yang dapat merepresentasikan kuat lentur dari penampang.
•
Guna penyederhanaan dalam analisis maupun disain penampang beton, maka dalam SNI 2847:2013 pasal 10.2.7, diijinkan untuk menggunakan distribusi blok tegangan ekuivalen berbentuk
empat persegi panjanguntuk perhitungan kuat lentur nominal.
•
Model blok tegangan tersebut sering juga dikenal sebagai
Blok Tegangan Whitney, yang pertama kali diperkenalkan dalam jurnalACI di tahun 1937.
Widi Hartono, Sipil UNS
DISTRIBUSI REGANGAN DAN TEGANGAN
Notasi:
c: regangan beton
s : regangan baja fc’ : mutu beton Fy : mutu baja Cc : gaya tekan beton
Ts : gaya Tarik baja
c : jarak garis netral dengan sisi yang tertekan d : jarak dari sisi tertekan dengan titik berat tulangan Sisi
Tertekan
As
b
h d
c
c = 0.003
s
Ts = As.fy Cc
Ts = As.fy ab = b1.c
0.85f’’
Cc Garis
netral
Penampang Regangan Blok Tegangan Riil Blok Tegangan Ekuivalen
BLOK TEGANGAN EKUIVALEN
Widi Hartono, Sipil UNS
PRINSIP KESETIMBANGAN
C = TS, maka
0.85.f’c.a.b = As.fy
= .
. . . (1)
Momen tahanan penampang:
Mn = As.fy. (d-a/2), atau (2) Mn = 0.85.f’c.a.b (d-a/2) (3)
Widi Hartono, Sipil UNS
BESARNYA KOEFISIEN
1
1= 0.85 f’c 28 Mpa
1= 0.85-0.05 ( )
1= 0.65 f’c 56 MPa Ts = As.fy
a
b= b1.c
0.85f’c
Cc
Blok Tegangan Ekuivalen
Widi Hartono, Sipil UNS
Struktur Beton Dasar
Ketentuan mengenai perencanaan beton bertulang biasa maupun beton prategang dalam SNI 2847:2013 pasal 10.3, didasarkan pada konsep regangan yang terjadi pada penampang beton dan tulangan baja. Secara umum ada 3 (tiga) macam jenis penampang yang dapat didefinisikan :
• Kondisi regangan seimbang (balanced strain condition)
• Penampang dominasi tekan (compression controlled section)
• Penampang dominan tarik (tension controlled section)
Penampang lain yang berada di antara penampang dominan tekan dan dominan tarik, dinamakan berada pada daerah transisi. Di samping itu ditambahkan pula bahwaregangan tarik,t, pada kuat nominal di daerah transisi, tidak boleh kurang dari 0,004 untuk setiap komponen struktur lentur tanpa beban aksial, ataupun bila ada beban aksial tidak melebihi 0,10∙f 'c ∙Ag. Dengan Agadalah luas gross
penampang beton.
Struktur Beton Dasar
• Kondisi regangan seimbang (balanced strain condition), terjadi pada suatu penampang ketika tulangan baja tarik mencapai regangan luluh,y, sedangkan beton yang tertekan mencapai regangan ultimitnya sebesar 0,003. Penampang demikian dinamakan sebagai penampang seimbang
• Penampang dominasi tekan (compression controlled section), terjadi apabila regangan tulangan tarik terluar sama atau kurang dari batasan regangan yang diijinkan, sedangkan beton mencapai regangan ultimit sebesar 0,003. Untuk tulangan baja dengan fy= 400 MPa, maka batasan regangan tekan tersebut adalah sama dengan 0,002. Kasus ini pada umumnya terjadi pada komponen struktur kolom yang menerima gaya aksial dan momen lentur
• Penampang dominan tarik (tension controlled section), terjadi ketika regangan baja mencapai 0,005 atau lebih, yang terjadi ketika beton mencapai regangan ultimitnya sebesar 0,003
Widi Hartono, Sipil UNS
Struktur Beton Dasar
Widi Hartono, Sipil UNS
Penampang Persegi Bertulangan Tunggal (Kondisi Balanced)
Parameter disebut sebagai rasio tulangan tarik yang besarnya sama dengan Luas Tulangan dibagi luas penampang beton efektif c
d =
+ = 0.003 0.003 +f
Es c
d = 600 600 + f
= . C =0.85.f’c. a . b = 0.85. f c.b . c .b
= . = .b.d.
C = T
0.85. f c.b . c .b = .b.d.f
= 0.85. f c.b . b. c b. d. f
= . . b .( )
Widi Hartono, Sipil UNS
KAPASITAS MOMEN NOMINAL PENAMPANG BALOK
M
n= C.z = T.z
Dalam desain balok beton harus dipenuhi
M
u< M
nSumbu netral
T = As x fy c
z = d-a/2
C = 0,85 x f’c x a x b a =b1xc
b d
As
Diagram tegangan 0,85f’c
PENAMPANG PERSEGI BERTULANGAN TUNGGAL
Momen nominal dari suatu balok persegi bertulangan tunggal dihitung dengan mengalikan nilaiCatauT pada Gambar dengan jarak antara kedua gaya
Saatmaks, maka Ruakan maks, nilai Rumaks dapat ditabelkan MnCzTz
= 0.85. ′ . . . −
2 = . −
2
f =f . . − .
1.7. ′ . =f.. . . 1 − .
1.7. ′
f = . .
=f.. 1 − . . .
= .
=0.85. ′
Widi Hartono, Sipil UNS
Struktur Beton Dasar
Faktor Reduksi Kekuatan
Kuat nominal dari suatu komponen struktur (baik yang memikul lentur, beban aksial, geser maupun puntir), yang dihitung berdasarkan kaidah – kaidah yang berlaku, harus dikalikan dengan suatu faktor reduksi yang besarnya kurang dari satu.
Dalam SNI 2847:2013, pasal 9.3 digunakan beberapa nilai faktor reduksi kekuatan,, sebagai berikut :
• untuk penampang dominan tarik
• untuk penampang dominan tekan dengan tulangan spiral tulangan non-spiral
• untuk geser dan puntir
• untuk tumpu pada beton
= 0,90
= 0,75
= 0,65
= 0,75
= 0,65
Widi Hartono, Sipil UNS
Struktur Beton Dasar
Faktor Reduksi Kekuatan
Untuk komponen struktur lentur beton bertulang, nilai t harus sama atau lebih besar daripada 0,004 !
Widi Hartono, Sipil UNS
PENAMPANG PERSEGI BERTULANGAN TUNGGAL
SNI 2847:2013 pasal 10.3.5 mensyaratkan bahwa nilai tpada kondisi kuat lentur nominal harus lebih besar atau sama dengan 0,004.
1 1
1
b 0,85f/cb0,85f/c Asbfy bfyd c ab
1 /
fyd 0,85fc c
cb b
c
y s
b
d b d
c cb 0,003
0,003f /E
0,003fy/Es
b 0,003t
PENAMPANG PERSEGI BERTULANGAN TUNGGAL
Dalam hal desain balok atau komponen struktur lentur lainnya, batas maksimum rasio tulangan dapat diambil dengan menggunakan nilai t= 0,005, sehingga :
Jika tulangan baja mempunyai fy= 400 MPa dan Es= 200.000 MPa, makamaks= 0,625b
= . . .
Widi Hartono, Sipil UNS
PENAMPANG PERSEGI BERTULANGAN TUNGGAL
• Apabila momen terfaktor yang bekerja pada balok cukup kecil, sehingga luas tulangan baja yang dibutuhkan juga sedikit, maka dalam peraturan (SNI 2847:2013 pasal 10.5.1) disyaratkan perlunya memberikan tulangan minimum, yang besarnya dapat dihitung sebagai berikut :
• Atau dapat dinyatakan dalam bentuk rasio tulangan :
Asmin w f w
y y
fc
b d1,4 b d 4f
y fy
4f fc
1,4
min
Widi Hartono, Sipil UNS
ANALISIS TULANGAN TUNGGAL
Start
Data: b, d, As, f’c, fy
=
=
≥min As terlalu kecil
( )
≤ maks Penampang
Diperbesar
Mn = As.fy (d-a/2) Yes No
= .
Yes No
c = a/b1
c/dt > 0.600
f=0.65
0.375 ≤ c/dt 0.600
f=0.65+( t–0.002)(250/3)
c/dt < 0.375
f=0.90
fMn > Mu
Stop
fMn = 0,90 * 26.1293
= 23.5163 Tonm
M = A f − A f d − +A f(d-d ) M =261.293.004 Nmm
M =26.1293 Tonm
Widi Hartono, Sipil UNS
Struktur Beton Dasar
CONTOH
Analisislah penampang balok bertulangan tunggal, seperti terlihat pada gambar di bawah ini
As
b
h d
Data-data:
b = 300 mm h = 500 mm d = 440 mm f’c = 25 MPa fy = 400 Mpa
Tulangan jumlah 4 diameter 19 mm
Berapakah besarnya momen nominal (Mn) dari penampang balok tersebut?
Widi Hartono, Sipil UNS
PENYELESAIAN
As = 4.D19 = 1133.5 mm2
= . = . . = 0.0086
= . = . = 0.0035
→
= . . b .( )
b = 0.85 → < 28
= . . 0.85.( ) = 0.027
Widi Hartono, Sipil UNS
PENYELESAIAN
= . . .
= 0.625. = 0.625.0.027 = 0,016875
< Ok
=0.85. ′
= .
. =71.1216 mm
Mn = As.fy (d-a/2)
= 1133.5 400 (440-71.1216/2)
= 183372740.391 Nmm
= 18.3373 Tonm
Widi Hartono, Sipil UNS
Struktur Beton Dasar
Penampang Persegi Bertulangan Tunggal
Tentukan besarnya kuat momen rencana,Mn
f’c =20MPa fy = 400MPa
PENYELESAIAN
As = 3.D29 = 1980,555 mm2
= . = 0.012
= . = 0.0035
→
= . . b .( )
b = 0.85 → 28
=0.0217
Widi Hartono, Sipil UNS
PENYELESAIAN
= . . .
= 0.625. =0,0135
< Ok
=0.85. ′
=155.3376 mm
Mn = As.fy (d-a/2)
= 374.191.149 Nmm
= 37.4191 Tonm fMn = 0.90 37.4191
= 33.6772 Tonm
/ =0.3323 mm < 0.375daerah dominasi tarik f= 0.90
= a
b1=182,7502
Widi Hartono, Sipil UNS
PENAMPANG PERSEGI BERTULANGAN TUNGGAL
dengan menggunakan data pada Contoh sebelumnya, namun tulangan baja dirubah menjadi 3D32 (As= 2.412,74 mm2)
As = 3.D32 = 2411.52 mm2
= . = 0,0146
= . = 0.0035
→
= . . b .( )
=0.0217
b = 0.85 → < 28
Widi Hartono, Sipil UNS
PENYELESAIAN
= . . .
= 0.625. =0,0135
< Ok
=0.85. ′
=189.3388 mm
Mn = As.fy (d-a/2)
= 439.311.989 Nmm
= 43.9312 Tonm fMn = 0,8513 * 43.9312
= 37.3971 Tonm / =0,4046 mm > 0.375 dan < 0.600daerah transisis
f= 0.65+(t–0.002)(250/3)=
= a
b1=222,5163
= 0.003 = 0,0044 d = d= 550
f= 0.65+(0.0044–0.002)(250/3)=0,8513
Penampang Persegi Bertulangan Tunggal
Contoh
Sebuah balok kantilever beton bertulang sepanjang 2,5m memiliki penampang persegi dengan penulangannya seperti ditunjukkan pada Gambar. Balok memikul beban mati (termasuk berat sendiri balok) sebesar 20 kN/m, dan beban hidup sebesar 13 kN/m.
Periksalah apakah balok cukup untuk memikul beban yang bekerja.
f/c= 25 MPa danfy= 400 MPa
Widi Hartono, Sipil UNS