• Tidak ada hasil yang ditemukan

Linda Romawati 13103241061

N/A
N/A
tinna utami

Academic year: 2023

Membagikan "Linda Romawati 13103241061"

Copied!
187
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Identifikasi Masalah

Salah satu anak tunarungu di TKLB SLB Islam Qothrrunnada mengalami kecenderungan perilaku hiperaktif, yaitu anak tidak bisa duduk diam, mengabaikan petunjuk guru dan melanggar peraturan. Permainan pensil dalam botol belum digunakan untuk mencoba mengurangi kecenderungan perilaku hiperaktif pada anak tunarungu.

Batasan Masalah

Rumusan Masalah

Tujuan Penelitian

Upaya menurunkan perilaku hiperaktif melalui permainan menaruh pensil dalam botol pada anak tunarungu di kelas TKLB SLB Qothrunnada Islame. Pengurangan perilaku hiperaktif melalui permainan menaruh pensil dalam botol pada anak tuna rungu di TKLB SLB Islam Qotrunnada.

Manfaat Hasil Penelitian

KAJIAN PUSTAKA

Permainan Memasukkan Pensil Ke Dalam Botol

Teknik Penurunan Perilaku Hiperaktif

Kerangka Berpikir

Hipotesis Penelitian

METODE PENELITIAN

  • Tempat dan Waktu Penelitian
  • Definisi Operasional
  • Langkah-langkah Penelitian
  • Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data
  • Validitas Instrumen
  • Teknik Analisis Data
  • Indikator Keberhasilan

Hal inilah yang mendasari dilakukannya permainan pensil dalam botol untuk mengurangi perilaku hiperaktif pada subjek IM. Teknik untuk mengurangi perilaku hiperaktif melalui permainan pensil dalam botol, salah satu aspek pengendalian perilaku. Mengamati pengurangan perilaku hiperaktif dengan permainan pensil dalam botol dari perspektif pengendalian perilaku.

Berdasarkan kinerja tersebut, upaya untuk mengurangi perilaku hiperaktif subjek IM melalui permainan memasukkan pensil ke dalam botol mencapai keberhasilan yang ditentukan. Oleh karena itu, tindakan penurunan perilaku hiperaktif tidak perlu dilanjutkan melalui permainan memasukkan pensil ke dalam botol. Aspek pengurangan perilaku yang dilakukan melalui permainan memasukkan pensil ke dalam botol merupakan aspek pengendalian perilaku.

Berdasarkan teknik yang digunakan untuk mengurangi perilaku hiperaktif, subjek IM menunjukkan peningkatan dalam mengurangi perilaku hiperaktif dengan memasukkan pensil ke dalam botol. Implementasi pengurangan perilaku hiperaktif pada anak tunarungu melalui permainan menaruh pensil pada botol pada kelas TKLB SLB Islam Qothrunnada dilaksanakan dalam dua siklus. Melalui permainan memasukkan pensil ke dalam botol dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif tindakan untuk mengurangi perilaku hiperaktif pada anak tunarungu.

Gambar 1. Teori Proses Tindakan Kelas (Kemis and Taggrat)
Gambar 1. Teori Proses Tindakan Kelas (Kemis and Taggrat)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Pra Tindakan

Kegiatan pertama yang dilakukan peneliti sebelum melakukan penelitian adalah mengetahui kemampuan awal anak sebelum melakukan tindakan untuk mengurangi perilaku hiperaktif. Hasil observasi pertama menunjukkan bahwa perilaku hiperaktif IM berupa tidak bisa duduk tenang, keluar masuk kelas, naik turun tangga, dan tidak mampu menaati peraturan. Hal ini ditunjukkan, subjek mengabaikan perintah guru, melanggar peraturan, mudah teralihkan perhatiannya dan dipukuli.

Tingkat penurunan perilaku hiperaktif rendah Kemampuan pengendalian diri sebelum tindakan dilakukan subjek IM, seperti dijelaskan pada tabel diatas, dapat digambarkan bahwa dari segi pengendalian perilaku, indikator frekuensi yang mencapai skor 1 adalah 4 indikator. (0,75%). Berdasarkan total skor yang diperoleh sebelum tindakan adalah 4, maka tingkat penurunan perilaku hiperaktif IM berada pada kategori rendah. Berikut ini akan disajikan hasil penelitian pra tindakan untuk menurunkan perilaku hiperaktif pada mata pelajaran IM di kelas TKLB SLB Qothrunnada Islame.

Berdasarkan hasil yang dicapai pada kegiatan pra tindakan tingkat penurunan perilaku hiperaktif subjek IM dapat dibuktikan masih menunjukkan terjadinya perilaku hiperaktif dengan frekuensi yang besar.

Tabel 5. Skor Rata-rata Penurunan Perilaku Hiperaktif subjek IM sebelum    Tindakan
Tabel 5. Skor Rata-rata Penurunan Perilaku Hiperaktif subjek IM sebelum Tindakan

Deskripsi Pelaksanaan Tindakan Siklus I

Hal inilah yang mendasari dilakukannya permainan pensil dalam botol untuk mengurangi perilaku hiperaktif pada subjek IM. aspek pengendalian perilaku. Untuk mengurangi frekuensi mata pelajaran IM mengabaikan perintah guru, melanggar peraturan, mengalihkan perhatian dan mengalihkan aktivitas. Observasi penurunan perilaku hiperaktif dengan permainan pensil dalam botol ditinjau dari pengendalian perilaku (behavioral control) Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan pada siklus I, subjek bersedia memasang sepatu pada prediksinya, tempat yang diminta. untuk meletakkan tasnya, padahal saat berjabat tangan subjek tidak berkata apa-apa.

Subjek mampu duduk diam saat berpartisipasi di kelas. Perilaku memukul subjek IM mengalami penurunan frekuensi, namun frekuensinya masih cukup tinggi. Kemampuan mereduksi perilaku orang IM pada tindakan siklus I sebagaimana diuraikan pada tabel diatas dapat digambarkan bahwa pada aspek pengendalian perilaku frekuensi yang mencapai skor 2 sebanyak 2 indikator (0,75%) dan skor 1 sebanyak 2 indikator (0 ,33%). Pada permainan pensil dalam botol, subjek diminta membuang tali yang digunakan dalam permainan tersebut ke tempat sampah.

Penerapan dalam permainan memasukkan pensil ke dalam botol adalah subjek harus bersabar dalam memasukkan pensil ke dalam botol tanpa memegang pensil. Berdasarkan hasil refleksi yang dilakukan pada tindakan siklus I, penurunan perilaku hiperaktif melalui permainan memasukkan pensil ke dalam botol belum mencapai keberhasilan yang diharapkan. Oleh karena itu, pengurangan perilaku hiperaktif melalui permainan pensil dalam botol sebaiknya dilanjutkan pada Siklus II, dan perbaikan terhadap hambatan-hambatan yang ada pada Siklus I.

Tabel 6. Skor Rata-rata Penurunan Perilaku Hiperaktif subjek IM          Tindakan Siklus I
Tabel 6. Skor Rata-rata Penurunan Perilaku Hiperaktif subjek IM Tindakan Siklus I

Deskripsi Pelaksanaan Tindakan Siklus II

Berdasarkan hasil observasi pada II. siklus menunjukkan penurunan yang signifikan dalam frekuensi perilaku hiperaktif. Berikut ini akan disajikan hasil penelitian tindakan kelas pada siklus II untuk menurunkan perilaku hiperaktif pada mata pelajaran IM kelas TKLB SLB Islam Qothrunnada. Hasil rata-rata penurunan perilaku hiperaktif subjek IM melalui permainan pensil dalam botol pada tindakan siklus II Tidak ada perilaku yang teramati Hasil rata-rata.

Kemampuan mereduksi perilaku subjek IM pada tindakan siklus II sebagaimana diuraikan pada tabel diatas dapat digambarkan sebagai berikut: pada aspek kontrol perilaku frekuensi pencapaian skor 3 sebanyak 3 indikator (0,75%) dan skor 2 adalah 1 indikator (0,33%). Total skor yang dicapai IM pada tindakan siklus II adalah 11 sehingga kemampuan menurunkan perilaku hiperaktif melalui permainan menaruh pensil pada botol IM berada pada kategori tinggi. Berdasarkan hasil observasi dan diskusi yang dilakukan peneliti dan kolaborator pada akhir siklus, penurunan perilaku hiperaktif pada subjek IM menunjukkan adanya peningkatan pada aspek kontrol perilaku.

Berikut ini akan disajikan hasil penelitian pra tindakan dan pasca tindakan mengenai upaya penurunan perilaku hiperaktif pada mata pelajaran IM di kelas TKLB SLB Islam Qotrunnada. Upaya penurunan perilaku hiperaktif yang dicapai subjek IM sebagaimana digambarkan pada grafik di atas dapat digambarkan dengan skor 6 pada aspek kontrol perilaku pada tindakan siklus I, dan 6 pada tindakan siklus II. dan siklus 11. Berdasarkan hasil yang dicapai pada kegiatan penurunan perilaku hiperaktif, indikator mengabaikan instruksi guru, melanggar peraturan, dan berpindah aktivitas meningkat pada mata pelajaran IM.

Tabel 7. Perubahan perilaku subjek IM
Tabel 7. Perubahan perilaku subjek IM

Pembahasan

Mengurangi perilaku hiperaktif tidak hanya menggunakan teknik modifikasi perilaku Skinner (Edi Purwanta), tetapi juga menggunakan permainan pensil dalam botol. Upaya untuk mengurangi perilaku tersebut dilakukan melalui strategi khusus yaitu permainan pensil dalam botol. disertai dengan berbagai tindakan efektif yang disesuaikan dengan karakteristik IM. Perbaikan tersebut dapat disimpulkan sebagai implementasi tindakan untuk mengurangi perilaku hiperaktif melalui permainan memasukkan pensil ke dalam botol yang diuraikan sebagai berikut: (1) pemberian reward, seperti peningkatan perilaku . diharapkan muncul, (2) hukuman sebagai penundaan kepuasan, (3) mengabaikan anak sebagai tindakan pemusnahan, (5) melakukan tindakan keteladanan, (6) bermain sesuai aturan.

Permainan memasukkan pensil ke dalam botol dipadukan dengan teknik menurunkan perilaku hiperaktif sehingga subjek IM mengalami penurunan perilaku hiperaktif pada tindakan siklus II. Berdasarkan hasil yang diperoleh di atas maka dapat dipastikan bahwa upaya untuk mengurangi perilaku hiperaktif pada mata pelajaran IM di kelas TKLB SLB Islam Qothrunnada dapat dicapai melalui permainan memasukkan pensil ke dalam botol. Pada akhir tindakan pengurangan perilaku hiperaktif dengan memasukkan pensil ke dalam botol, terdapat perilaku IM yang belum mencapai aspek pengendalian perilaku secara optimal yaitu mengubah perilaku atensi.

Teknik mengurangi perilaku hiperaktif melalui permainan memasukkan pensil ke dalam botol pada penelitian ini mencapai hasil yang baik atau mencapai nilai yang tinggi, namun perubahan perilaku tersebut tidak bersifat permanen. Oleh karena itu, diperlukan upaya tindak lanjut untuk mengurangi perilaku hiperaktif agar perubahan perilaku tersebut dapat bersifat permanen. Kedua, teknik pengurangan perilaku hiperaktif bertujuan untuk menekan atau menghilangkan munculnya perilaku non-adaptif pada anak.

Keterbatasan Penelitian

Proses upaya penurunan perilaku hiperaktif melalui permainan memasukkan pensil ke dalam botol pada anak tunarungu di TKLB SLB. Detil pelaksanaan tindakan tersebut diuraikan sebagai berikut :. Hasil dari upaya penurunan perilaku hiperaktif melalui permainan memasukkan pensil ke dalam botol pada anak tunarungu di kelas TKLB SLB Islam Qotrunnada adalah frekuensi hiperaktif dapat diturunkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam proses penurunan perilaku hiperaktif melalui permainan memasukkan pensil ke dalam botol, kinerja guru sesuai dengan rencana program pembelajaran yang telah disusun.

Hasil penelitian ini membuktikan bahwa pada proses permainan memasukkan pensil ke dalam botol dan rentang konsentrasi siswa dalam kegiatan belajar meningkat. Hal ini wajar karena permainan memasukkan pensil ke dalam botol bertujuan untuk melatih motorik kasar, mentaati peraturan dan melatih kesabaran. Selain itu, kegiatan memasukkan pensil ke dalam botol mencakup tindakan yang dilakukan dalam penelitian ini, antara lain: (1) memberikan imbalan, (2) menunda kesenangan sebagai hukuman, (3) mengabaikan anak sebagai tindakan pemusnahan, dan (4) melakukan tindakan teladan.

Panduan tahapan permainan memasukkan pensil ke dalam botol sesuai dengan pandangan Lilis Madyawati mengenai tata cara permainan: (1) guru mempersiapkan dan menyerahkan peralatan yang digunakan untuk bermain. Pada tahap perencanaan, seluruh bagian termasuk pembahasan penggunaan permainan memasukkan pensil ke dalam botol bersama guru, menyusun RPP, menyusun lembar observasi, menyiapkan media pembelajaran, dan menyusun instrumen penilaian hasil pembelajaran berjalan dengan lancar. Kegiatan dilaksanakan di ruang kelas Taman Kanak-Kanak, namun ruangan ini digunakan bersamaan dengan ruang kelas Taman Kanak-Kanak yang berisi siswa dengan kecerdasan sedang dan disabilitas, sehingga sesuai kesepakatan antara peneliti dan guru sebagai kolaborator, dilakukan permainan memasukkan pensil ke dalam botol. dieksekusi. setelah kegiatan pembelajaran.

SIMPULAN DAN SARAN

Implikasi

Berdasarkan hasil observasi pra tindakan subjek IM memperoleh hasil bahwa dari segi pengendalian perilaku terdapat 4 indikator frekuensi yang mencapai skor 1. Pada siklus I terjadi peningkatan yaitu dari segi pengendalian perilaku frekuensinya mencapai mencapai hasil 1 mempunyai 2 indikator dan skor 2 mempunyai 2 indikator sehingga total skornya adalah 6. Pada tindakan siklus II, Skor subjek IM meningkat, sebagai berikut: aspek pengendalian perilaku frekuensi Yang memperoleh skor 2 mempunyai 1 indikator, frekuensi mencapai titik 3 sebanyak 3 indikator.

Hal ini sesuai dengan pernyataan Skinner (dalam Chery, 2009) berupa upaya untuk mengurangi perilaku hiperaktif melalui proses penguatan. Pada siklus I terjadi peningkatan, yaitu pada aspek kontrol perilaku frekuensi yang mencapai skor 1 sebanyak 2 indikator dan skor 2 sebanyak 2 indikator sehingga total skornya adalah 6 (sedang). Pada tindakan siklus II skor subjek IM mengalami peningkatan penurunan perilaku pada aspek kontrol perilaku, frekuensi pencapaian skor 2 sebanyak 1 indikator, frekuensi pencapaian skor 3 sebanyak 3 indikator, dan total skornya 11 (tinggi).

Hasil penelitian ini dapat digunakan oleh guru sebagai bahan pertimbangan dan evaluasi mengenai proses pembelajaran yang digunakan sebelumnya. Berbagai kendala dalam penelitian ini dijadikan bahan pertimbangan dalam pengembangan strategi pembelajaran lainnya. Hasil penelitian ini dapat digunakan oleh pihak lain sebagai literatur untuk mengurangi frekuensi perilaku hiperaktif pada siswa tunarungu.

Saran

Guru memberi contoh dan membimbing siswa melepas sepatunya dan meletakkannya dengan benar di rak sepatu dan tidak membuangnya. Guru memberi contoh dan membimbing siswa untuk meletakkan tas pada tempatnya dan tidak membuang atau membuangnya sembarangan. Guru memberikan contoh dan membimbing siswa untuk meletakkan tas pada tempatnya dan tidak membuang atau membuang sembarangan, selalu dilanjutkan dengan pujian lisan dan isyarat.

Gambar 1. Subyek IM dibantu oleh  guru untuk memasukkan pensil ke  dalam botol
Gambar 1. Subyek IM dibantu oleh guru untuk memasukkan pensil ke dalam botol

Gambar

Gambar 1. Teori Proses Tindakan Kelas (Kemis and Taggrat)
Tabel 2. Kisi-kisi Instrumen Pedoman Observasi Upaya Penurunan Perilaku    Hiperaktif
Tabel 4. Rentang Skor
Tabel 5. Skor Rata-rata Penurunan Perilaku Hiperaktif subjek IM sebelum    Tindakan
+7

Referensi

Dokumen terkait

• Bagaimana tahapan-tahapan yang dilakukan orangtua dalam mengembangkan komunikasi anak tunarungu. mengembangkan komunikasi

PENGEMBANGAN PROGRAM PELATIHAN ORANGTUA DALAM MENGEMBANGKAN KETERAMPILAN KOMUNIKASI ANAK TUNARUNGU KELAS DASAR.. Universitas Pendidikan Indonesia | \.upi.edu perpustakaan.upi.edu

dilakukan guru dan orangtua anak tunarungu dalam mengembangkan.

Bila digabung menjadi satu maka pola asuh adalah cara atau metode mendidik anak yang dipilih oleh pendidik (dalam hal ini bisa orangtua kandung atau wali).Ahli lain mengatakan

Bila digabung menjadi satu maka pola asuh adalah cara atau metode mendidik anak yang dipilih oleh pendidik (dalam hal ini bisa orangtua kandung atau wali).Ahli lain mengatakan

(3) Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh orangtua, wali, orang- orang yang mempunyai hubungan keluarga, pengasuh anak,

• Bagaimana tahapan-tahapan yang dilakukan orangtua dalam mengembangkan komunikasi anak tunarungu. mengembangkan komunikasi

"PERANAN ORANGTUA SEBAGAI WALI, PEMBIMBING, DAN PENDIDIK PADA PERKEMBANGAN ANAK DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN AGAMA ISLAM", Premiere Educandum : Jurnal Pendidikan Dasar dan Pembelajaran,