MAKALAH
ASPEK EKONOMI, SOSIAL, DAN POLITIK
Makalah ini disusun dalam rangka memenuhi Tugas Mata Kuliah Studi Kelayakan Bisnis Semester V
Disusun oleh:
1. Eka Nurhidayati (90500121015) 2. Sri Wulandari (90500121081)
3. Sayyed Akil Munawwar (90500121047)
Kelas : Perbankan Syariah-C
Dosen Pengampu:
Supriadi Hamid, S. E. I,. M. E. I
JURUSAN PERBANKAN SYARIAH FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan kepada Allah Yang Maha Esa atas Rahmat dan karunia Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul “Aspek Ekonomi, Sosial, dan Politik” tepat pada waktunya. Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas dosen pada mata kuliah Studi Kelayakan Bisnis. Selain itu, makalah ini juga bertujuan untuk memberikan pengetahuan atau menambah wawasan yang luas terkait judul makalah bagi para pembaca maupun bagi penyusun.
Penulis berterima kasih kepada Bapak Supriadi Hamid, S. E. I., M. E. I Selaku dosen mata kuliah Studi Kelayakan Bisnis yang telah memberikan tugas ini sehingga dapat menambah wawasan sesuai dengan mata kuliah yang sedang kami tekuni.
Penulis menyadari akan segala kekurangan dan ketidak sempurnaan, baik dari segi penulisan maupun dari cara penyajian. Oleh karena itu penulis menerima saran dan kritik dari pembaca.
Samata, 25 Oktober 2023
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... 1
DAFTAR ISI ... 2
BAB I PENDAHULUAN ... 3
A. Latar Belakang... 3
B. Rumusan Masalah ... 5
C. Tujuan ... 5
BAB II PEMBAHASAN ... 6
A. Aspek Ekonomi ... 6
B. Aspek Sosial ... 7
C. Aspek Politik ... 7
D. Implikasi pada Studi Kelayakan Bisnis ... 8
E. Definisi Prinsip Perbankan Syariah ... 9
F. Prinsip Dasar dalam Perbankan Syariah ... 10
G. Sistem Pengendalian Inflasi dalam Sistem Ekonomi Islam ... 13
BAB III PENUTUP ... 17
A. Kesimpulan ... 17
B. Saran... 18
DAFTAR PUSTAKA ... 19
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Bisnis yang baik adalah bisnis yang dapat memberikan pengembalian investasi dan pendapatan yang sustain dalam jangka panjang. Setiap pembisnis pasti memiiki keinginan agar bisnis yang dibangun menjadi bisnis yang menguntungkan bahkan dapat berkembang menjadi lebih besar dan mampu mendatankan investor yang berhasrat untuk bergabung dengan perusahaan karena mereka merasa ada jaminan atas investasi yang ditanamkannya.
Setiap usaha yang dijalankan akan memberikan dampak positif dan negatif. Untuk itu menjadi sangat penting bagi siapa saja yang akan mengembangkan bisnis baik yang baru akan memulai atau bagi bisnis yang sudah berjalan untuk manganalisis berbagai faktor yang akan mendukung usaha menjadi sustain ke depan sekaligus juga menganalisa factor- faktor yang mungkin akan menjadi hambatan serta tantangan bagi bisnis yang dikembangkan, dengan analisis yang baik detil dan mendalam diharapkan bisnis yang dikelola akan menjadi bisnis yang berhasil karena telah mematuhi rambu-rambu sehingga bisnis dapat dikendalikan pada jalur yang benar.
Pada memulai usaha perlu adanya perencanaan usaha yang baik, atau tak jarang pula disebut dengan “Business Plan karena dengan perencanaan bisnis, sebuah usaha akan berjalan sinkron dengan tujuan awal pada dirikannya persahaan tadi. Selain perencanaan usaha, kita juga mengenal Studi Kelayakan Usaha. Studi kelayakan bisnis ini lebih penekanan di perusahaan yang telah ada, dengan kata lain penekanan di proses pengembangan usaha yang memberi masa manfaat yg using. Dalam Studi Kelayakan bisnis ada beberapa aspek krusial yang menunjang keberhasilan bisnis tersebut. Mulai berasal dari Aspek Pasar, Aspek Pemasaran, Aspek Teknik Produksi, Aspek Manajemen dan sumber Daya manusia hingga Aspek Ekonomi, Sosial, dan Politik (Oktaviani et al., 2022). Pada kesempatan ini, penulis tertarik buat membahas lebih lanjut tentang Aspek Ekonomi, Sosial,Politik.
Aspek Ekonomi artinya aspek geografi social yg berkaitan menggunakan hal-hal irit. Aspek Ekonomi itu sendiri membahas perihal bagaimana perusahaan berkembang yang tentunya impactnya positif terhadap pendapatan yg diperoleh. Bukan hanya itu sumber daya manusia (SDM) pula wajib sinkron menggunakan keadaaan tempat kita memulai
sebuah perjuangan karena peningkatan ekonomi berpengaruh terhadap hal tersebut (Setiawan et al., 2021).
Dari perspektif yang lebih luas, usaha yang layak haruslah membawa dampak positif kepada banyak pihak tanpa terkecuali kepada masyarakat khususnya dan pemerintah secara umumnya. Dari sudut pemerintah dan masyarakat dampak positif sebuah usaha atau investasi yang dominan adalah aspek ekonomi dan social budaya. Dalam memulai bisnis perlu adanya perencanaan bisnis yang baik, atau sering juga disebut dengan “Business plan”. Karena dengan perencanaan bisnis, sebuah usaha akan berjalan sesuai dengan tujuan awal di dirikannya persahaan tersebut. Selain perencanaan bisnis, kita juga mengenal Studi Kelayakan Bisnis. Studi kelayakan bisnis ini lebih fokus pada perusahaan yang sudah ada, dengan kata lain fokus pada proses pengembangan usaha yang memberi masa manfaat yang lama. Dalam Studi Kelayakan Bisnis terdapat beberapa asepek penting yang menunjang keberhasilan bisnis tersebut. Mulai dari Aspek Pasar, Aspek Pemasaran, Aspek Teknik Produksi, Aspek Manajemen dan Sumber Daya Manusia hingga Aspek Ekonomi, Sosial, Politik. Pada kesempatan ini, penulis tertarik untuk membahas lebih lanjut mengenai Aspek Ekonomi, Sosial, dan Politik.
Studi kelayakan bisnis ialah penelitian yang menyangkut berbagai aspek baik itu berasal aspek hukum, sosial ekonomi dan budaya, aspek pasar serta pemasaran, aspek teknis dan teknologi hingga dengan aspek manajemen dan keuangannya, dimana hal itu dipergunakan untuk dasar penelitian studi kelayakan dan hasilnya dipergunakan buat mengambil sebuah keputusan. Studi kelayakan umumnya digolongkan menjadi dua bagian yg berdasarkan pada orientasi yg dibutuhkan sang suatu perusahaan (Alita et al., 2021), yaitu sesuai orientasi laba, yang dimaksud adalah studi yg menitik beratkan di keuntungan yang secara ekonomis, dan berdasarkan orientasi tidak pada laba (social), yang dimaksud merupakan studi yang menitik beratkan suatu proyek tadi mampu dijalankan serta dilaksanakan tanpa memikirkan nilai atau keuntungan ekonomis.
B. Rumusan Masalah
1. Apa saja Dampak Positif dan Negatif dari Aspek Ekonomi?
2. Apa saja Dampak Positif dan Negatif dari Aspek Sosial?
3. Apa yang di maksud dengan Aspek Politik?
4. Bagaimana Implikasi pada Studi Kelayakan Bisnis?
5. Definis Prinsip Perbankan Syariah?
6. Apa saja Prinsip Dasar dalam Perbankan Syariah?
7. Bagaiaman Sistem Pengendalian Inflasi dalam Sistem Ekonomi Islam?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui Dampak Positif dan Negatif dari Aspek Ekonomi.
2. Untuk mengetahui Dampak Positif dan Negatif dari Aspek Sosial.
3. Untuk menetahui definisi dari Aspek Politik.
4. Untuk mengetahui Implikasi pada Studi Kelayakan Bisnis.
5. Untuk mengetahui Definis Prinsip Perbankan Syariah.
6. Untuk mengetahui Prinsip Dasar dalam Perbankan Syariah.
7. Untuk mengetahui Sistem Pengendalian Inflasi dalam Sistem Ekonomi Islam.
BAB II PEMBAHASAN A. Aspek Ekonomi
1. Pengertian Aspek Ekonomi
Aspek Ekonomi merupakan aspek geografi social yang berkaitan menggunakan hal-hal ekonomis. Aspek Ekonomi itu sendiri membahas tentang bagaimana perusahaan berkembang yang tentunya impactnya positif terhadap pendapatan yang diperoleh. Bukan hanya itu sumber daya manusia (SDM) pula harus sesuai dengan keadaaan kawasan kita memulai sebuah usaha karena peningkatan ekonomi berpengaruh terhadap hal tersebut (Lina & Nani, 2020).
2. Manfaat aspek ekonomi
Adapun manfaat aspek sekunder yang sulit diukur dengan satuan moneter antara lain:
a. Naiknya tingkat konsumsi,
b. Membantu pemerataan masyarakat, dan c. Meningkatkan pertumbuhan ekonomi 3. Dampak positif dan negatif dari aspek ekonomi
Adapun dampak positif dari aspek ekonomi antara lain, sebagai berikut:
a. peluang untuk meningkatkan pendapatan bagi masyarakat, b. memberikan pemasukan berupa pendapatan bagi pemerintah, dan c. pengaturan dan pengelolaan SDA yang belum terjamah
Adapun dampak negatif dari aspek ekonomi antara lain, sebagai berikut:
a. Eksplorasi SDA yang berlebihan,
b. masuknya pekerja dari luar daerah sehingga mengurangi peluang bagi masyarakat sekitarnya.
4. Komponen-komponen dalam aspek ekonomi
Adapun komponen-komponen dalam aspek ekonomi antara lain:
a. Ekonomi rumah tangga (tingkat pendapatan, pola nafkah dan pola nafkah ganda).
b. Ekonomi sumber daya alam (pola pemilikan dan penguasaan sumber daya alam, pola penggunaan lahan, nilai tanah sumber daya alam dan sumber daya alam lainnya).
c. Perekonomian local dan regional (kesempatan kerja dan berusaha, memberikan nilai tambah dan proses manufaktur, jenis dan jumlah aktivasi ekonomi
nonformal, distribusi pendapatan, efek ganda ekonomi, Produk Domestik
Regional Bruti (PDRB), Pendapatan Asli Daerah (PAD), pusat-pusat pertumbuhan ekonomi, fasilitas sosial, aksesibilitas wilayah). (Ahmad)
B. Aspek Sosial
1. Pengertian aspek sosial
Aspek Sosial adalah akibat daripada kegiatan manusia menggunakan alam sekitar/lingkungannyanyang dimana salah satu bentuknya itu mencakup penindasan.
Mengenai penindasan tersebut ialah suatu kekerasan, ancaman dan paksaan yg dilakukan seseorang pada orang lain yg melibatkan ketidakseimbangan kekuasaan sosial atau orang lain (Suaidah, 2021). Tujuan utama perusahaan artinya mencari laba yang sebesar-besarnya. Tetapi, perusahaan tidak bisa hidup sendirian, perusahaan hidup bersama-sama menggunakan komponen lain, salah satu komponen lain yang di maksud ialah lembaga sosial sehingga pada rangka keseimbangan tadi, hendak nya perusahaan memiliki tanggung jawab sosial.
2. Dampak positif dan negatif dari aspek sosial
Adapun dampak positif dari aspek ekonomi antara lain, sebagai berikut:
a. Tersedia sarana dan prasarana yang dibutuhkan seperti pembangunan jalan, jembatan, listrik, dan sarana lainnya bagi masyarakat,
b. Pemerataan tenaga kerja,
c. Terjadinya kerja sama antar bisnis, dan
d. Terjadinya pertumbuhan penduduk dan lain sebagainya.
Adapun dampak negatif dari aspek ekonomi salah satunya yaitu sebagai perubahan demografi di suatu wilayah menimbulkan terjadinya perubahan struktur penduduk menurut kelompok umur, jenis kelamin, mata pencaharian, pendidikan dan agama.
C. Aspek Politik
Aspek Politik artinya suatu syarat yang terjadi akibat adanya berita, spekulasi,dan rumor karena syarat politik asal pemerintah yg mampu mempengaruhi permintaan dan penawaran konsumen (Anggarini et al., 2021). Adanya berita, rumor, spekulasi yang ada akibat kondisi politik yang pada ciptakan pemerintah akan mempengaruhi permintaan dan
penawaran suatu produk, baik itu barang maupun jasa. pada menganalisis kelayakan usaha hendak nya aspek politik perlu pula dikaji untuk memperkirakan bahwa situasi politk ketika bisnis di bangun serta diimplementasikan tidak akan sangat mengganggu sebagai akibatnya kajian sebagai layak,situasi politik bisa di ketahui melalui info-info dan media masa.
Sementara itu rumor yang timbul akibat kondisi politik yang diciptakan pemerintah akan mempengaruhi permintaan dan penawaran suatu produk, baik itu produk barang barang maupun jasa. Situasi politik dapat diketahui melalui berita-berita dimedia masa.
Berita - berita tersebut dapat terbagi atas dua bagian , yaitu : 1. Good News
Di dalam good news dimaknai sebagai berita-berita yang dapat diterima pelaku pasar tentang berbagai faktor atau kondisi suatu Negara yang berhubungan dengan dunia investasi, yang dinilai mendukung dan memiliki potensi mendatangkan keuntungan bagi dunia investasi.
2. Bad news
Dimaknai debagai berita yang diterima pelaku pasar tentang berbagai factor atau kondisi suatu Negara yang berhubungan dengan dunia investasi yang dinilai tidak mendukung dan memiliki potensi mendatangkan kerugian bagi dunia investasi.
Aspek politik pemerintah secara lansung ataupun tidak lansung berpengaruh kepada dunia bisnis. Makin kacau kondisi politik suatu daerah atau Negara akan berdampak makin kacau pula dunia bisnis di daerah atau Negara tersebut, begitu pula sebaliknya.
D. Implikasi Pada Studi Kelayakan Bisnis
Berkenaan menggunakan permasalahan permintaan konsumen dan penawaran produsen, serta bentuk-bentuk pasar, maka tugas analisis dalam melakukan studi kelayakan bisnis (SKB) berasal aspek pasar hendaknya (Sejati, 2016).
1. Mampu menentukan produk atau jasa yg akan dijadikan benchmark bagi rancangan atau jasa yang akan dijual. Jika belum terdapat produk yang tersebar di pasar, maka rancangan produk atau jasa dari studi ini akan menjadi pelopor dipasar.
2. Mampu memilih jenis pasar yg akan dipilih, baik berasal sisi produsen maupun berasal sisi konsumen. menggunakan penentuan ini, maka manajemen selanjutnya akan mempersiapkan strategi dan kebijakannya.
3. Bisa melakukan analisis buat bisa menentukan pergerakan permintaan konsumen akan produk yang akan dijual dan konvoi kemampuan para pembuat pada penawarannya pada pasar, baik untuk masa sekarang maupun buat masa ke depan.
4. Selain PLC nya analisis hendaknya bisa menyampaikan berita tentang pangsa pasar produk-produk sejenis yang dianggap sebagai pesaing baik buat ketika ini maupun prakiraan ke depan menggunakan demikian, analisis bisa memprediksi peluang- peluang, ancaman-ancaman, sekaligus kekuatan-kekuatan yang terdapat pada rangka meningkatkan pangsa pasar atau paling tidak mempertahankannya.
E. Definisi Prinsip Perbankan Syariah
Prinsip dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai dasar atau kebenaran yang menjadi pokok dasar berpikir, bertindak, dan sebagainya (Pusat Bahasa Kemdikbud, 2016). Prinsip juga disamakan dengan asas, fundamental, pangkal, dasar, dan pondasi. Menurut UU No. 21 Tahun 2008 pasal 1 ayat 12 tentang perbankan syariah bahwa prinsip syariah adalah prinsip hukum Islam dalam kegiatan perbankan berdasarkan fatwa yang dikeluarkan oleh lembaga yang memiliki kewenangan dalam penetapan fatwa di bidang syariah (UU No.21, 2008). Prinsip syariah ini dilandasi oleh nilai keadilan, kemanfaatan, keseimbangan, dan keuniversalan.
Adapun kata bank berasal dari bahasa Italia yakni banco yang artinya bangku (F. &
Thomson, 1912). Bangku yang dimaksud ialah yang dipergunakan oleh bankir dalam melayani kegiatan operasionalnya kepada para nasabah. Jika dikaitkan dengan syariah, maka bank syariah adalah lembaga keuangan yang menjalankan fungsi perantara dalam penghimpunan dana masyarakat serta menyalurkan pembiayaan kepada masyarakat sesuai dengan prinsip-prinsip syariah (M. Nur Rianto Al Arif, 2015). Jadi, perbankan syariah adalah segala sesuatu yang terkait tentang bank syariah dan segala unit usaha syariah, yang didalamnya mencakup kelembagaan, kegiatan usaha, serta cara dan proses dalam melaksanakan kegiatan usahanya (UU No.21, 2008). Kesimpulannya bahwa prinsip dasar perbankan syariah adalah asas yang dijadikan pokok dasar berpikir terkait pondasi muamalah perbankan syariah.
Secara umum prinsip dasar muamalah merupakan landasan pokok yang menjadikan kerangka pedoman dasar bagi setiap muslim yang menyakininya dalam perilaku bermuamalah. Pedoman ini berlandaskan Al-Qur’an dan hadis sebagai kerangka bangun ekonomi Islam yang memiliki nilai etik (ethics value) dan nilai norma (norm value). Hal ini dikarenakan dalam pandangan Islam, kegiatan ekonomi selalu dikaitkan dengan prinsip hidup – yang bersumber pada Al-Qur’an dan hadis – setiap individu muslim, baik menyangkut produksi, distribusi, dan konsumsi.
F. Prinsip Dasar dalam Perbankan Syariah
Di dalam mengoperasionalkan perbankan syariah dikenal beberapa prinsip-prinsip dasar dalam pengelolaan kegiatan usaha perbankan syariah. Adapun prinsip-prinsip dasar tersebut pada garis besarnya dapat disebutkan sebagai berikut:
1. Bebas maghrib
a) Maysir (spekulasi);
Dalam bahasa Arab maysir identik dengan kata qimar (Muhammad Ayub, 2009). Maysir mengacu pada perolehan kekayaan secara mudah atau perolehan harta berdasarkan peluang, entah dengan mengambil hak orang lain, atau tidak.
Undang-Undang nomor 21 tahun 2008 tentang perbankan syariah mendefinisikan maiysir sebagai transaksi yang digantungkan kepada suatu keadaan yang tidak pasti atau bersifat untung-untungan (UU No.21, 2008). Dapat disimpulkan bahwa maysir merupakan transaksi yang digantungkan kepada sesuatu yang tidak pasti dan mengandung unsur judi, taruhan atau permainan yang beresiko yang jelas telah jelas dalam hukum Islam bahwa hal tersebut dilarang (haram).
b) Gharar;
Secara harfiah berarti akibat, bencana, bahaya, risiko, dan sebagainya. Dalam Islam, yang termasuk gharar adalah semua transaksi ekonomi yang melibatkan unsur ketidakjelasan, penipuan atau kejahatan (Ascarya & Yumanita, 2005). Dalam Al-Qur'an kata gharar dan derivasinya disebutkan sebanyak 27 kali dalam QS Ali- Imran/3: 185 dan Al-Anfal/8: 49 (Soemitra, 2009). Dapat disimpulkan bahwa gharar adalah transaksi yang mengandung ketidakjelasan dan keraguan.
c) Haram;
Secara bahasa yang berarti larangan dan penegasan yang kata haram ini sendiri
An-Nahl/16: 115, dan QS Al-Maidah/5: 3 (Soemitra, 2009). Dalam Aktivitas ekonomi setiap orang diharapkan untuk menghindari semua yang diharamkan, baik zat, maupun caranya baik dalam bidang produksi, distribusi ataupun konsumsi.
d) Riba;
Secara etimologi, kata riba bermakna tambahan, kelebihan (Munawwir, 1984).
Dalam Lisanul ‘Arab dijelaskan kata ابر ,اوبر , ءابر mengandung arti yang sama, yaitu
ةدايز bertambah dan tumbuh (berkembang) (Ibn Manzur, n.d.). Abdullah Saeed
sebagaimana yang dinukil oleh Latifa M. Algaoud dan Mervyn K. Lewis mengatakan bahwa riba yang akar katanya riba dalam Al-Qur’an mempunyai pengertian tumbuh, bertambah, naik, bengkak, meningkat, dan menjadi besar dan tinggi. Juga digunakan dalam pengertian bukit kecil. Semua penggunaan ini nampak mempunyai satu makna yang sama yaitu pertambahan, baik secara kualitas ataupun kuantitas (Lewis & Algaoud, 2013). Sementara itu menurut terminologi, riba dirumuskan oleh ilmu fikih sebagai tambahan khusus yang dimiliki salah satu pihak dari dua pihak yang terlibat tanpa ada imbalan tertentu (Ash-Shawi &
Abdullah al-Mushlih, 2013). Sayyid Sabiq mengartikan riba sebagai tambahan atas modal, baik penambahan itu sedikit ataupun banyak (Sayyid Sabiq, n.d.). Jadi riba adalah penambahan pendapatan secara batil dan tidak sah di dalam melakukan transaksi baik secara kualitas ataupun kualitas. Tegasnya, hakikat pelarangan riba dalam Islam merupakan suatu penolakan resiko finansial tambahan yang ditetapkan dalam transaksi uang maupun jual beli yang dibebankan pada satu pihak saja, sedangkan pihak lain dijamin keuntungannya. Inilah kezaliman (zulm) yang terdapat pada riba yang oleh Islam tegas dilarang.
e) Batil;
Secara bahasa artinya batal dan tidak sah (Soemitra, 2009). Aktivitas ekonomi yang terkait dengan pelarangan batil seperti mengurangi timbangan, mencampurkan barang jualan yang baik dan yang tidak baik untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar (Soemitra, 2009).
2. Prinsip kepercayaan dan kehati-hatian dalam pengelolaan kegiatan perbankan syariah Salah satu misi perbankan adalah menerima simpanan baik berupa giro, tabungan, dan deposito.Dana ini dibutuhkan bank di dalam menjalankan usahanya, yang tidak mungkin hanya diandalkan melalui modal bank saja. Untuk itu, dalam rangka menarik dana dari masyarakat, bank pun berupaya melakukan pembaharuan
dalam menawarkan jasa perbankan. Selain itu, bank sebagai salah satu komponen yang berfungsi dalam menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional sehinggadalam menjalankan usahanya memerlukan kepercayaan masyarakat yang dalam hal ini nasabah (Abdul Ghofur Anshori, 2008).
Dengan kepercayaan masyarakat/nasabah terhadap industri perbankan, maka hal ini merupakan usaha untuk memelihara stabilitas industri perbankan. Kepercayaan ini dapat diperoleh dengan adanya kepastian hukum di dalam pengaturan dan pengawasan bank serta penjaminan simpanan nasabah oleh bank. Oleh sebab itu, baik pemilik dan pengelola bank maupun otoritas yang terlibat dalam pengaturan pengawasan bank harus dapat mewujudkan kepercayaan masyarakat dengan penjaminan seluruh kewajiban bank.
Prinsip pengelolaan sebuah lembaga keuangan khususnya perbankan yang utama adalah prinsip kepercayaan (fiduciary relation). Dikatakan sebagai prinsip yang utama karena kegiatan usaha perbankan mendasarkan pada adanya kepercayaan dari masyarakat (Yusman Alim, 2017). Adapun prinsip kehati-hatian merupakan konsekuensi yuridis sebagai lembaga yang menarik dana dari masyarakat, maka sebuah lembaga keuangan ataupun lembaga pembiayaan hendaknya mampu mengelola kegiatan usahanya berdasarkan prinsip kehati-hatian. Untuk itu, lembaga keuangan khususnya perbankan melakukan studi kelayakan sebelum memberikan pelayanan kepada nasabahnya.
Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tidak menyebut secara tegas mengenai pengertian prinsip kehati-hatian ini. Secara normatif Pasal 2 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 hanya menyebutkan bahwa “Perbankan Indonesia dalam melakukan usahanya berasaskan demokrasi ekonomi dengan menggunakan prinsip kehati-hatian (Undang-undang RI No. 10, 1998). Wujud dari Prinsip ini juga dapat diterapkan di dalam perbankan syariah melalui penyaluran pembiayaan dengan ketidakmampuan nasabah melaksanakan kewajibannya.
3. Prinsip Akad
Semua transaksi harus didasarkan pada akad yang diakui oleh syariah yang merupakan perjanjian tertulis yang memuat ijab (penawaran) dan qabul (penerimaan) antara bank dengan pihak lain yang berisi hak dan kewajiban masing-masing berdasarkan syariat Islam. Akad dinyatakan sah apabila terpenuhi rukunnya. Rukun
akad (Ash-Shawi & Abdullah al-Mushlih, 2013). Akad pada perbankan syariah tentunya mengacu pada konsep bagi hasil yang menghendaki keuntungan bersama baik pada pihak pengelola yang dalam hal ini perbankan dan pihak nasabah.
Dengan adanya akad, maka hal ini bermanfaat di dalam menjamin hak-hak dari setiap yang bertransaksi. Akad dapat menghindarkan seseorang dari kerugian karena dilaksanakan secara terbuka dan transparansi. Prinsip akad dapat diterapkan dalam kegiatan usaha atau operasional perbankan syariah meliputi:
a) Kegiatan penghimpunan dana; kegiatan ini dapat ditempuh oleh perbankan melalui mekanisme tabungan, giru, dan deposito. Khusus bank syariah tabungan dan giro dibedakan menjadi 2 macam yaitu tabungan dan giro didasarkan pada akad wadiah, serta tabungan dan giro yang didasarkan pada akad mudharabah.
b) Kegiatan penyaluran dana; kegiatan ini dapat ditempuh oleh bank syariah dalam bentuk murabahah, mudharabah, musyarakah, ataupun qard.
c) Jasa bank: kegiatan usaha bank dibidang jasa dapat berupa penyediaan bank garansi (kafalah), hiwalah, wakalah dan jual beli valuta asing (Yusman Alim, 2017).
G. Sistem Pengendalian Infalsi Dalam Ekonomi Ekonomi Islam
Ekonom Islam maupun konvensional banyak yang menyetujui bahwa upaya untuk mengendalikan inflasi agar tetap dalam tingkat moderat, kebijakan pemerintah (kebijakan fiskal) maupun otoritas moneter (kebiajakan moneter) merupakan bagian dan upaya menekan inflasi. Apabila inflasi di defenisikan dengan kecenderungan kenaikan harga- harga secara umum, maka akan kita dapati bahwa dalam setiap perekonomian (apakah itu menggunakan sistem ekonomi kapitalis ataupun Islam) akan senantiasa ditemui permasalahan inflasi. Hanya saja, perbedaan yang cukup signifikan baik secara kuantitatif maupun kualitatif antara permasalahan inflasi yang ada didalam perkonomian Islam dengan yang ada di dalam perekonomian kapitalis.
Kebijakan fiskal menjadi perangkat penting bagi negara sejahtera, kebijakan ini mencakup pengeluaran untuk kepentingan umum, pajak progresif dan pinjaman untuk merealisasikan tujuan yang di cita-citakan. Pengeluaran umum bukan hanya untuk fungsi tradisional sebagaimana yang telah diakui, tetapi juga untuk fungsi negara sejahtera dalam meningkatkan pertumbuhan, stabilitas ekonomi dan persamaan pendapatan yang lebih besar.
Menurut Umer Chapra strategi untuk menekan inflasi yaitu: Pertama, perbaikan moral (yang dikejar bukan hanya dimensi material tapi juga dimensi spritual). Kedua, distribusi pendapatan dan kekayaan yang merata. Ketiga, penghapusan riba.
1. Perbaikan moral
Elemen paling penting dari strategi Islam dalam merealisasikan tujuan-tujuan Islam adalah bersatunya semua hal yang dianggap sebagai aspek kehidupan biasa dengan spirit untuk meningkatkan moral manusia dan masyarakat tempat dia hidup.
Tanpa peningkatan spirit semacam itu tidak akan ada satu tujuan pun yang dapat direalisasikan dalam kesejahteraan manusia yang sesungguhnya jadi sulit diwujudkan.
Hal ini membawa pada inti konsep kesejahteraan dalam Islam. Kesejahteraan manusia hanya dapat diwujudkan melalui pemenuhan kebutuhan material dan spritual manusia dan tidak satupun yang dapat diabaikan. Jika Islam mendorong manusia agar menguasai alam dan memanfaatkan sumber daya yang diberikan oleh Allah untuk kebaikan manusia, Islam juga mengingatkan agar mereka tidak hanya terpaku pada satu hal, menganggap pemenuhan materi sebagai tolok ukur tertinggi dari prestasi manusia, karena hal ini justru menjuruskan mereka untuk melupakan nilai spritual manusia itu sendiri. Islam menganggap kehidupan material dan kehidupan spritual sebagai satu kesatuan yang dapat saling mengiatkan dan secara bersama-sama sebagai landasan bagi kesejahteraan dan kebahagiaan manusia yang sesungguhnya.
2. Distribusi pendapatan dan kekayaan yang merata
Islam telah memberikan satu cetak biru untuk pengorganisasian seluruh aspek kehidupan, ekonomi, sosial atau politik, yang memperkuat keberanian masyarakat untuk mengatakan yang benar dan mengaktualisasikan tujuan-tujuan yang sangat dekat dengan Islam. Misalnya, distribusi pendapatan dan kekayaan yang merata, tujuan-tujuan yang ingin dicapai oleh semua sistem ekonomi, tidak akan bisa dicapai tanpa: kayakinan mengenai persaudaraan manusia yang hanya bermakna bagi mereka yang percaya akan Tuhan yang Esa yang menciptakan semua umat manusia, yang dihadapanNya semua manusia sama dan akan dimintai pertanggungjawaban. Sistem sosioekonomi yang tidak menciptakan sikap sosial berdasarkan hukum survival Darwin, melainkan mengorganisasikan masyarakat atas landasan moral untuk mendorong interaksi sosioekonomi atas dasar keadilan dan kerja sama. Sistem
berbagai cara, termasuk mencegah riba, dan memberikan dukungan material bagi yang lemah.
3. Penghapusan riba
Strategi dalam perekonomian Islam amat diperlukan permintaan terhadap uang akan lahir terutama dari motif transaksi dan tindakan berjaga-jaga yang ditentukan pada umumnya oleh tingkatan pendapatan uang dan distribusinya. Permintaan uang pada dasarnya didorong oleh fluktuasi suku bunga pada perekonomian kapitalis.
Penghapusan bunga dan kewajiban membayar zakat dalam ekonomi Islam tidak saja meminimalkan permintaan spekulatif terhadap uang dan mengurangi efek suku bunga tetapi dapat memberikan stabilitas yang lebih besar bagi permintaan total terhadap uang, hal ini akan lebih jauh diperkuat karena aset pembawa bunga tidak akan tersedia dalam sebuah perekonomian Islam sehingga orang yang hanya memegang dana likuid akan menghadapi pilihan apakah tidak mau terlibat dengan resiko dan tetap memegang uangnya dalam bentuk cash tanpa memperoleh keuntungan atau turut berbagi resiko dan menginvestasikan uangnya pada aset bagi hasil sehingga mendapatkan keuntungan. Dalam ekonomi Islam laju keuntungan berbeda-beda dan laju suku bunga tidak akan di temukan di depan. Satu-satunya yang akan ditemukan didepan adalah rasio bagi hasil. Rasio bagihasil tidak akan mengalami fluktuasi seperti halnya suku bunga karena ia akan didasarkan pada konversi ekonomi dan sosial dan setiap ada perubahan didalamnya akan terjadi lewat tekanan kekuatan-kekuatan pasar sesudah terjadi negosiasi yang cukup lama. Jika prospek ekonomi cerah keuntungan secara otomatis akan meningkat.
Diantara elemen utama dari strategi bagi pembaharuan sistem keuangan dan perbankan (misalnya, penghapusan riba dan berbagi untung dan rugi) telah dituturkan dalam Al-Quran dan Sunnah. Bagian-bagian strategi yang disarankan Al-Quran dan Sunnah tidak dapat ditawar-tawar lagi. Meskipun demikian, pengujian atas elemen- elemen lain akan berupa dukungan yang mereka berikan terhadap keseluruhan strategi syariah dan sumbangan yang mereka berikan untuk merealisasikan tujuan.
Semakin kuat dukungan yang diberikan dan semakin besar sumbangan yang diberikan untuk mencapai tujuan akhir, semakin dikehendaki pula elemen-elemen strategi yang diberikan oleh manusia dengan catatan bahwa hal itu semua tidak bertentangan dengan syariah. Elemen-elemen yang terakhir ini, sudah barang tentu,
tidak dapat sekali jadi melainkan perlu diperbaiki dan disempurnakan secara berkelanjutan melalui peroses evolusi.
Seluruh fuqaha sepakat bahwa hukum riba adalah haram berdasarkan keterangan yang sangat jelas dalam Al-Quran dan Hadis. Pernyataan Al-Quran tentang larangan riba terdapat dalam Al-Quran surah al-Baqarah ayat 275. Ayat tersebut mengecam keras pemungutan riba dan mereka disamakan dengan orang yang kerasukan syetan. Selanjutnya ayat ini membantah kesamaan antara riba dan jual-beli dengan menegaskan Allah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba.
Larangan riba dipertegas kembali pada Al-Quran surah Al-Baqarah ayat 278, pada surat yang sama, dengan perintah meninggalkan seluruh sisa-sisa riba, dan dipertegas kembali pada Al-Quran surah al-Baqarah ayat 278. Pelarangan riba dalam ayat 276 Q.S. Al-Baqarah memberikan jawaban yang merupakan kalimat kunci hikmah pengharaman riba, yakni Allah bermaksud menghapuskan tradisi riba dan menumbuhkan tradisi shadaqah, karena riba itu lebih banyak mudaratnya dari pada manfaatnya. Selain itu maksud dari penghentian riba adalah untuk tidak berbuat dhalim kepada orang lain sehingga tidak ada seorang pun yang terdhalimi (eksploitasi, menindas, memeras dan menganiaya). Selain yang disebutkan diatas, rangkaian empat ayat tentang kecaman dan pengharaman riba di akhiri dengan ayat 280. Ayat ini berisi seruan moral agar berbuat kabajikan kepada orang yang dalam kesulitan membayar hutang dengan menunda tempo pembayaran atau bahkan dengan membebaskannya dari kewajiban melunasi hutang. Larangan memakan harta riba dalam surat Ali Imran ini berada dalam konteks antara ayat 129 sampai dengan ayat 136.
BAB III PENUTUP A. Kesimpulan
Aspek Ekonomi merupakan aspek geografi social yang berkaitan menggunakan hal-hal ekonomis. Aspek Ekonomi itu sendiri membahas tentang bagaimana perusahaan berkembang yang tentunya impactnya positif terhadap pendapatan yang diperoleh). Bukan hanya itu sumber daya manusia (SDM) pula harus sesuai dengan keadaaan kawasan kita memulai sebuah usaha karena peningkatan ekonomi berpengaruh terhadap hal tersebut (Lina & Nani, 2020).
Aspek Sosial adalah akibat daripada kegiatan manusia menggunakan alam sekitar/lingkungannyanyang dimana salah satu bentuknya itu mencakup penindasan.
Mengenai penindasan tersebut ialah suatu kekerasan,ancaman dan paksaan yg dilakukan seseorang pada orang lain yg melibatkan ketidakseimbangan kekuasaan sosial atau orang lain (Suaidah, 2021).
Aspek Politik artinya suatu syarat yang terjadi akibat adanya berita, spekulasi,dan rumor karena syarat politik asal pemerintah yg mampu mempengaruhi permintaan dan penawaran konsumen (Anggarini et al., 2021).
Implikasi pada studi kelayakan bisnis yaitu mampu menentukan produk atau jasa yg akan dijadikan benchmark bagi rancangan atau jasa yang akan dijual. Jika belum terdapat produk yang tersebar di pasar, maka rancangan produk atau jasa dari studi ini akan menjadi pelopor dipasar, mampu memilih jenis pasar yg akan dipilih, baik berasal sisi produsen maupun berasal sisa konsumen. menggunakan penentuan ini, maka manajemen selanjutnya akan mempersiapkan strategi dan kebijakannya, dan Bisa melakukan analisis buat bisa menentukan pergerakan permintaan konsumen akan produk yang akan dijual dan konvoi kemampuan para pembuat pada penawarannya pada pasar, baik untuk masa sekarang maupun buat masa ke depan.
Berkembangnya bank syariah tidak dapat terlepas dari berbagai keunggulan yang dimilikinya, dan salah satu keunggulannya ialah dengan diterapkannya prinsip syariah.
Prinsip tersebut menjadi dasar acuan di dalam setiap pelaksanaan kegiatan operasionalnya, diantaranya ialah prinsip terbebasnya dari maghrib yakni maysir (mengandung unsur judi), gharar (ketidakpastian), haram (pelarangan), riba (transaksi berdasarkan sistem bunga),
selanjutnya ialah prinsip kepercayaan dan kehati-hatian dalam pengelolaan kegiatan perbankan syariah, dan yang terakhir ialah prinsip akad yakni segala transaksi yang dilakukan didasarkan pada akad yang diakui oleh syariah.
Ekonomi Islam sebagai sistem perekonomian mempunyai cara dan strategi tersendiri dalam menekan inflasi yang jauh berbeda dengan sistem ekonomi lainnya. Ekonomi Islam menyetujui kebijakan moneter dan fiskal sebagai bagian dan upaya menekan inflasi. Akan tetapi untuk mencapai norma keadilan sosioekonomi perlu ada upaya untuk menjaga stabilitas harga, melalui strategi perbaikan moral, distribusi pendapatan dan kekayaan yang merata, serta penghapusan riba.
B. Saran
Demikianlah makalah ini saya persembahkan yang tentunya dalam penyajian makalah ini pasti banyak sekali kekurangannya untuk itu saran dan kritik sangat kami harapkan demi sempurnanya makalah ini. Semoga makalah ini bermanfaat.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, Rahmayani. Aspek Ekonomi Dan Budaya Dalam Study Kelayakan Bisnis. 2021, p.
14.
Ahluwalia, L., Permatasari, B., Husna, N., & Novita, D. (2021). Penguatan Sumber Daya Manusia Melalui Peningkatan Keterampilan Pada Komunitas ODAPUS Lampung. 2(1), 73–80. https://doi.org/10.23960/jpkmt.v2i1.32
Alita, D., Putra, A. D., & Darwis, D. (2021). Analysis of classic assumption test and multiple linear regression coefficient test for employee structural office recommendation. IJCCS (Indonesian Journal of Computing and Cybernetics Systems), 15(3), 1–5.
Anggarini, D. R., Nani, D. A., & Aprianto, W. (2021). Penguatan Kelembagaan dalam Rangka Peningkatan Produktivitas Petani Kopi pada GAPOKTAN Sumber Murni Lampung (SML). Sricommerce: Journal of Sriwijaya Community Services, 2(1), 59– 66.
https://doi.org/10.29259/jscs.v2i1.59
Ichsan, R. N., SE, M., Lukman Nasution, S. E. I., & Sarman Sinaga, S. E. (2019). Studi kelayakan bisnis= Business feasibility study. CV. Sentosa Deli Mandiri.
Lina, L. F., & Nani, D. A. (2020). Kekhawatiran Privasi Pada Kesuksesan Adopsi FLina, L.
F., & Nani, D. A. (2020). Kekhawatiran Privasi Pada KesukLina, L. F., & Nani, D. A.
(2020). Kekhawatiran Privasi Pada Kesuksesan Adopsi FLina, L. F., & Nani, D. A.
(2020). Kekhawatiran Privasi Pada Kes. Performance, 27(1), 60–69.
Samsul, S., Hamid, N. M., & Nasution, H. G. (2019). Sistem Pengendalian Inflasi dalam Sistem Ekonomi Islam. Al-Azhar Journal of Islamic Economics, 1(1), 16-28.
Sejati, B. S. A. (2016). Pengaruh Kualitas Produk, Kualitas Pelayanan, Dan Harga Terhadap Keputusan Pembelian Pada Starbucks. Jurnal Ilmu Dan Riset Manajemen ISSN : 2461-
0593, 5(3), 1–19.
http://jurnalmahasiswa.stiesia.ac.id/index.php/jirm/article/download/567/576
Supriadi, S., & Ismawati, I. (2020). Implementasi Prinsip-Prinsip Perbankan Syariah untuk Mempertahankan Loyalitas Nasabah. Jurnal Hukum Ekonomi Syariah, 3(1), 41-50.