MAKALAH BIMBINGAN DAN KONSELING Jenis – Jenis Kegiatan Pendukung Bimbingan dan Konseling
Dosen Pengampu : Dra. Zikra., M.Pd., Kons.
Disusun Oleh Kelompok 7:
1. Dian Pratiwi (19022008)
2. Ilham (19067053)
3. Ibnu Fadhil Azzikri (20045093) 4. Yona Safitri (20052085)
5. Sindy (20329155)
6. Amani Raudatussyifa (21053001) 7. Aulia Wulan Aprila (21053004) 8. Dinda Ayu Valepi (21053008)
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2024
ii
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur kelompok haturkan kepada Allah SWT, tuhan semesta alam dengan kekuasaan yang meliputi langit beserta isinya dan bumi beserta isinya pula. Dengan rahmat dan kasih sayang-Nya, maka penulis dapat menyelesaikan makalah ini yang tentunya masih jauh dari kata sempurna ini.
Shalawat serta salam penulis sanjungkan kepada rasul agung, Rasulullah SAW.
Semoga syafaat beliau senantiasa tercurah kepada para umatnya yang setia mengikuti jejaknya sampai akhir hayat nanti. Serta shalawat untuk keluarga beliau dan shahabat-shahabat beliau.
Penulis juga ucapkan terima kasih kepada dosen pengampu Bimbingan dan Konseling yang telah sabar membimbing penulis dalam memperoleh materi serta penulis juga harapkan agar kiranya Ibu Dosen dapat memberikan masukan - masukan bagi kurangnya kelengkapan dalam makalah yang penulis buat ini.
Penulis juga berharap bahwa apa yang sudah kami tulis dapat bermanfaat bagi teman- teman pembaca dalam memperoleh pengetahuan tentang materi. Dan jika ada masukan, sekiranya tak segan untuk menambahkan supaya kami dapat memperbaiki kesalahan dan kekurang dalam makalah ini
Padang, 03 April 2024
Kelompok 7
iii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... ii
DAFTAR ISI... iii
BAB I PENDAHULUAN ... 4
A. Latar Belakang ... 4
B. Rumusan Masalah ... 5
C. Tujuan Penulis... 5
BAB II PEMBAHASAN ... 6
A.
Konsep Kegiatan Pendukung BK ... 6B.
Tujuan Kegiatan Pendukung BK ... 7C.
Fungsi Kegiatan Pendukung BK ... 7D.
Ragam Kegiatan Pendukung BK ... 8BAB III PENUTUP ... 16
A. Kesimpulan ... 16
B. Saran... 16
DAFTAR PUSTAKA ... 17
4
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Pelayanan bimbingan dan konseling merupakan bagian integral dari program pendidikan yang tidak dapat dipisahkan. Tujuan dari program bimbingan adalah untuk mendukung perkembangan individu secara maksimal sesuai dengan tujuan pendidikan.
Oleh karena itu, kegiatan bimbingan dan konseling perlu diselenggarakan melalui kerjasama berbagai pihak untuk mencapai tujuan tersebut. Kegiatan ini harus dilakukan secara teratur, sistematis, dan terarah, sehingga efektif dan berhasil dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan siswa.
Menurut Bimo Walgito (2004: 6), Bimbingan adalah upaya membantu individu mengatasi berbagai masalah yang mungkin timbul dalam kehidupannya. Pemberian bimbingan di lingkungan sekolah sangatlah tepat agar setiap siswa dapat berkembang secara maksimal.Dalam mendukung kegiatan bimbingan dan konseling, terdapat beberapa aktivitas yang dilakukan, seperti penggunaan instrumen bimbingan dan konseling, pengumpulan data, dan kegiatan khusus lainnya. Ketiga aktivitas ini dilakukan untuk memastikan bahwa setiap masalah yang dihadapi siswa dapat diselesaikan tanpa mengganggu proses pembelajaran. Dengan demikian, siswa dapat mencapai prestasi belajar secara optimal tanpa hambatan yang signifikan.
Berdasarkan latar belakang tersebut, makalah ini akan membahas tentang pentingnya dan macam – macam kegiatan pendukung dalam bimbingan dan konseling di lingkungan pendidikan.
5
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa yang dimaksud dengan kegiatan pendukung bimbingan dan konseling?
2. Apakah tujuan dari adanya kegiatan pendukung bimbingan dan konseling?
3. Apa saja fungsi diadakannya kegiatan pendukung bimbingan dan konseling?
4. Seperti apa ragam kegiatan pendukung bimbingan dan konseling?
C. TUJUAN PENULIS
1. Untuk mengetahui secara mendalam tentang konsep kegiatan pendukung bimbingan dan konseling
2. Untuk memahami tujuan dari adanya kegiatan pendukung bimbingan dan konseling
3. Untuk memahami fungsi diadakannya kegiatan pendukung bimbingan dan konseling
4. Untuk mengetahui dan mempelajari beberapa ragam kegiatan pendukung bimbingan dan konseling?
6
BAB II PEMBAHASAN
A. Konsep Kegiatan Pendukung BK
Kegiatan pendukung adalah suatu kegiatan dalam pelayanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan diperolehnya berbagai data, keterangan dan kemudahan bagi terlaksananya jenis-jenis layanan, serta terwujudnya fungsi-fungsi BK. Kegiatan pendukung bimbingan dan konseling adalah usaha untuk mengumpulkan data dan keterangan tentang diri peserta didik (klien) dan keterangan tentang lingkungannya, baik itu di lingkungan keluarga, sekolah, ataupun dilingkungan sekitarnya.
Kegiatan ini dimaksudkan agar para pembimbing dan guru lebih mudah memahami potensi dan kekuatan, serta masalah yang dihadapi klien. dengan kegiatan pendukung ini diharapkan akan terkumpul data-data yang akurat yang dihadapi oleh seorang klien.Kegiatan pendukung pada umumnya tidak ditujukan secara langsung untuk memecahkan atau mengentaskan masalah klien melainkan untuk memungkinkan di perolehnya data dan keterangan lain serta kemudahan-kemudahan atau komitmen yang akan membantu kelancaran dan keberhasilan kegiatan layanan terhadap klien.
Kegiatan pendukung ini umumnya dilaksanakan tanpa kontak langsung dengan sasaran layanan (Hallen, 2000:89 ). Kegiatan pendukung BK meliputi kegiatan pokok aplikasi instrumentasi dan bimbingan konseling, himpunan data, konferensi kasus, kunjungan rumah, dan alih tangan kasus. Semua jenis kegiatan pendukung dilaksanakan secara langsung, dikaitkan pada keempat bidang bimbingan, serta disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan klien. Hasil kegiatan pendukung dipakai untuk memperkuat satu atau beberapa jenis layanan bimbingan dan konseling ( Prayitno,1997:95 ).
Jadi, dapat disimpulkan bahwa kegiatan pendukung BK adalah usaha untuk mengumpulkan data dan keterangan tentang diri peserta didik dan keterangan tentang lingkungan baik itu di lingkungan keluarga, sekolah ataupun lingkungan sekitar, kegiatan ini tidak langsung memecahkan masalah klien melainkan dengan cara mengumpulkan data dan keterangan yang akan membantu kelancarandan keberhasilan kegiatan layanan, umumnya tanpa kontak langsung degan sasaran.
7 B. Tujuan Kegiatan Pendukung BK
Tujuan kegiatan pendukung BK adalah agar tercapainya perkembangan yang optimal pada individu yang berkembang sesuai dengan potensi atau kapasitasnya dan agar individu berkembang sesuai lingkungannya. Optimalisasi pencapaian tujuan ini padasetiap individu berbeda sesuai tingkatan perkembangannya. Selain itu, kegiatan pendukung BK juga bertujuan agar individu yang dibimbing memiliki kemampuan atau kecakapan melihat dan menemukan masalahnya dan mampu memecahkan sendiri masalah yang dihadapinya serta beradabtasi dengan lingkungannya. Tujuan kegiatan adalah agar individu dapat menyesuaikan diri kepada lingkungannya sesuai potensi yang ada dalam dirinya. Terutama keluarga, sekolah dan masyarakat. Sebagai anggota masyarakat yang berguna dan produktif.
C. Fungsi Kegiatan Pendukung BK
Secara keseluruhan fungsi utama dari kegiatan pendukung bimbingan dan konseling yaitu fungsi pemahaman. Fungsi kegiatan pendukung bimbingan dan konseling secara umum adalah sebagai fasilitator dan motivator dalam upaya mengatasi dan mencegah problema kehidupandengan kemampuan yang ada pada diri sendiri.
Sesuai dengan tujuan bimbingan konseling agar peserta didik dapat menemukan dirinya, mengenal dirinya dan mampu merencanakan masa depannya. Dalam hubungan ini kegiatan pendukung bimbingan dan konseling berfungsi sebagai pemberi layanan kepada peserta didik agar masing-masing peserta didik dapat berkembang secara optimal sehingga menjadi pribadi yang utuh dan mandiri. Olehk arena itu, pelayanan bimbingan dan konseling mengembangkan sejumlah fungsiyang hendak dipenuhi melalui kegiatan bimbingan dan konseling. Salah satunya adalah fungsi pemahaman.
Fungsi Pemahaman yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang membantu konseling agar memiliki pemahaman terhadap dirinya (potensinya) dan lingkungannya (pendidikan, pekerjaan, dan norma agama). Berdasarkan pemahaman ini, konseling diharapkan mampu mengembangkan potensi dirinya secara optimal, dan menyesuaikan dirinya dengan lingkungan secara dinamis dan konstruktif. Fungsi pemahaman yang dimaksud yaitu bimbingan dan konseling yang akan menghasilkan pemahaman tentang sesuatu oleh pihak-pihak tertentu sesuai dengan keperluan pengembangan siswa.
Pemahaman ini mencakup:
1. Pemahaman tentang diri siswa, terutama oleh siswa sendiri, orang tua, gurudan guru pembimbing
2. Pemahaman tentang lingkungan siswa (termasuk di dalamnya lingkungankeluarga dan sekolah), terutama oleh siswa sendiri, orang tua, guru, danguru pembimbing.
3. Pemahaman tentang lingkungan yang lebih luas (termasuk di dalamnya informasi pendidikan, jabatan, pekerjaan, dan atau karir, dan informasi budaya/nilai-nilai), terutama oleh siswa.
8 D. Ragam Kegiatan Pendukung BK
1. Aplikasi Instrumentasi
Aplikasi instrumentasi Yaitu kegiatan pendukung bimbingan dan konseling untuk mengumpulkan data dan keterangan tentang diri peserta didik atau klien, keterangan tentang lingkungan peserta didik dan lingkungan yang lebih luas.
Pengumpulan data ini dapat dilakukan dengan berbagai cara melalui instrumen baik tes maupun nontes. Yang termasuk instrumen tes yaitu, tes kecerdasan, tes bakat, tes kepribadian, dan tes prestasi. Ketika ada seorang siswa yang kesulitan dalam berinteraksi dengan lingkungan barunya termasuk dengan teman sekelasnya, disini guru BK bisa melakukan tes kecerdasan yang digunakan untuk mengetahui berapa IQ yang dimiliki siswa tersebut, karena salah satu penyebab seorang selit untuk berinteraksi yaitu memiliki IQ dibawah rata-rata (Henni Syafriana Nasution dan Abdillah, 2019).
Ada beberapa pertimbangan yang perlu mendapat perhatian para konselor dalam penerapan aplikasi instrumentasi bimbingan dan konseling, antara lain : a. Instrumentasi yang dipakai harus shahih dan terandalkan.
b. Konselor bertanggungjabaw atas pemilihan instrument yang akan dipakai(tes atau non tes), monitoring pengadministrasiannya dan scoring, penginterpretasian skor dan penggunaan sebagai sumber informasi bagi pengambilan keputusan tertentu.
c. Pemakaian instrument harus disiapkan secara matang, bukan hanya persiapan instrument saja, tetapi persiapan instrument yang akan mengambil tes d. Tes atau instrument apapun hanya salah satu sumber dalam rangka
memahami individu (peserta didik) secara lebih luas dan mendalam.
e. Ada dan dipergunakannya instrument lainnya bukanlah syarat mutlak bagi pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling.
Adapun komponen dalam aplikasi instrumen ini meliputi : a. Instrumen
1) Materi yang diungkapkan, merupakan hal-hal yang menyangkut peserta didik yang akan diungkapkan melalui instrumen tertentu. Hal- hal yang menyangkut tentang peserta didik, yang akan diungkapkan melalui instrumen tertentu pada garis besarnya :
a) Kondisi fisik : keadaan jasmani dan kesehatan
b) Kondisi dasar psikologis : potensi dasar, minat, bakat, sikap c) Kondisi kegiatan dan hasil belajar
d) Kondisi hubungan sosial
e) Kondisi keluarga dan lingkungan
f) Kondisi arah pengembangan dan kenyataan karir g) Permasalahan potensial dan/atau sedang dialami
9 2) Bentuk Instrumen
a) Instrumen Tes
Instrumen disebut tes apabila jawaban responden atas soal- soal yang ada diperiksa berdasarkan benar salahnya jawaban tersebut, jawaban benar diberi skor positif dan jawaban yang salah diberi skor negatif, penyelenggaraan terstandar dari segi waktu, intruksi/pengadministrasian, ada persyaratan validitas, realibilitas dan objektifitas dari alat yang digunakan, dan apat diselenggarakan secara tertulis atau lisan maupun secara individu maupun kelompok. Bisa dalam bentuk tes psikologis seperti tes intelegensi, bakat-minat, dan tes hasil belajar.
b) Instrumen Non Tes
Instrumen Non Tes adalah alat pengumpulan data dalam bimbingan konseling yang mengungkap kondisi responden apa adanya tanpa adanya standar benar-salah terhadap jawaban yang diberikan. Intrumentasi nontes meliputi observasi, wawancara, angket, catatan anekdot, autobigrafi, sosiometri, analisis documenter
b. Responden
Responden Merupakan individu-individu yang mengerjakan instrumen baik tes aupun nontes melalui pengadministrasian yang dilakukan oleh konselor (guru bimbingan konseling). Di lingkungan sekolah respondennya adalah peserta didik. Tidak semua instrumen cocok untuk semua responden.
Oleh sebab itu, guru pembimbing harus secara cermat memilih instrumen mana yang akan digunakan sesuai dengan kondisi responden
c. Penggunaan
Pengguna instrumen adalah pihak-pihak yang dapat menggunakan instrumen tertentu sesuai dengan kewenangannya Misalnya instrumen tes psikologis untuk mengungkapkan kondisi kepribadian individu (peserta didik) yang cukup pelik hanya di selenggarakan dan hasil-hasilnya hanya digunakan oleh para psikolog yang memiliki kewenangan khusus berdasarkan kaidah profesional. Konelor (guru bimbingan konseling) bisa menyelenggarakan tes psikologis yang lebih sederhana seperti tes intelegensi dan tes bakat setelah mengikuti pelatihan khusus dan memperoleh sertifikat kewenangan untuk menyelenggarakan tes dimaksud
10 2. Himpunan Data
Himpunan data yaitu kegiatan pendukung bimbingan dan konseling untuk menghimpun seluruh data dan keterangan yang relevan dengan keperluan pengembangan peserta didik atau klien. Himpunan data perlu dielenggarakan secara berkelanjutan, sistematik, komprehensif, terpadu, dan sifatnya tertutup.
Pada permasalahan seorang siswa yang sulit untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya, setelah melakukan tes kecerdasan guru BK bisa membantunya dengan mengumpulkan data pribadi siswa berupa kondisi siswa saat didalam kelas, teman yang dekat dengan siswa tesebut, kondisi dan status keluarga, penyebab siswa tersebut ulit berinteraksi, dan kondisi kehidupan sehari-hari siswa (Henni Syafriana Nasution dan Abdillah, 2019). Fungsi utama bimbingan yang didukung oleh penyelenggaraan himpunan data adalah fungsi pemahaman.
Keseluruhan data yang dikumpulkan itu dapat dikelompokkan menjadi : a. Data pribadi (Cumulative Record)
Data pribadi (Cumulative Record) yaitu data yang menyangkut diri masing – masing peserta didik secara perorangan. Himpunan data pribadi dilakukan terpisah untuk setiap peserta didik, karena himpunan data pribadi bersifat berkelanjutan, maka harus ada kerja sama antar guru kelas.
Himpunan data pribadi peserta didik harus lengkap dan menyeluruh, tetapi harus tetap sederhana, ringkas, dan bersifat sepenuhnya.
b. Data kelompok
Data kelompok yaitu data yang menyangkut aspek tertentu dari sekelompok peserta didik, seperti gambaran menyeluruh hasil belajar peserta didik satu kelas, hasil sosiometri, laporan penyelenggaraan dan hasil diskusi atau belajar kelompok, penyelenggaraan dan isi bimbingan, dan konseling kelompok.
c. Data umum
Data umum yaitu data yang tidak secara langsung menyangkut diri peserta didik baik secara pribadi maupun kelompok. Data ini berasal dari luar diri peserta didik, seperti informasi pendidikan serta informasi lingkungan fisik, sosial dan budaya. Data ini biasanya dihimpun dalam bentuk tersendiri, contohnya bentuk buku, kumpulan tentang informasi pendidikan, dan informasi sosial budaya.
11 3. Kunjungan Rumah
Kunjungan Rumah yaitu kegiatan pendukung bimbingan dan konseling untuk memperoleh data, keterangan, kemudahan dan komitmen bagi terselesaikannya permasalahan peserta didik atau klien melalui kunjungan ke rumahnya. Kunjungan rumah dilakukan untuk mengetahui pendapat orang tua dan kondisi kehidupan keluarga. Kegiatan ini memerlukan kerjasama yang penuh dari orang tua dan anggota keluarga klien yang lainnya. Masih dengan permasalahan yang sama, yakni kesulitan seorang siswa dalam berinteraksi dengan lingkungan barunya, guru BK juga perlu melakukan kunjungan rumah untuk mengetahui pendapat orang tua dan anggota keluarga yang lain tentang pribadi siswa dan apa saja kegiatan yang dilakukan siswa sehari-hari dirumah (Henni Syafriana Nasution dan Abdillah, 2019).
a. Tujuan Kunjungan Rumah
Menurut Winkel, kunjungan rumah bertujuan untuk mengenal lebih dekat lingkungan hidup siswa sehari-hari. Jadi, dilihat dari pendapat Winkel kunjungan rumah bertujuan untuk memperoleh informasi dengan lebih mengenal sosial lingkungan keluarga siswa yang bisa digunakan sebagai sumber data pendukung. Secara khusus tujuan kunjungan rumah (home visit) berkenaan dengan fungsi-fungsi bimbingan.
Kunjungan rumah bertujuan untuk :
1) Lebih memahami kondisi siswa, kondisi rumah dan keluarga.
2) Memperoleh berbagai keteranagan (data) yang diperlukan dalam pemahaman lingkungan dan permasalahan siswa (konseli)
3) Pembahasan dan pengentasan permasalahan siswa.
4) Mendapatkan data tambahan tentang siswa, khususnya yang berkaitan dengan keadaan rumah,
5) Menyampaikan permasalahan anak pada orang tua
6) Membangun komitmen orang tua untuk ikut serta bertanggung jawab dan bekerja sama menangani masalah pada anak.
12 b. Komponen Kunjungan Rumah
Terdapat tiga komponen pokok berkenaan dengan kunjungan rumah, yaitu:
1) Kasus
Home visit atau kunjungan rumah difokuskan pada penanganan kasus yang dialami oleh klien (siswa) yang terkait dengan faktor-faktor keluarga.
2) Keluarga
Keluarga yang menjadi fokus home visit atau kunjungan rumah meliputi kondisi-kondisi yang menyangkut orangtua atau wali siswa, anggota keluarga lain, orang-orang yang tinggal dalam lingkungan kelurga yang bersangkutan, kondisi ekonomi dan sosial emosional yang terjadi dalam keluarga
3) Konselor (pembimbing)
Konselor bertindak sebagai perencana, pelaksana dan sekaligus pengguna hasil-hasil kunjungan rumah.
Berdasarkan komponen diatas dapat diketahui bahwa komponen home visit atau kunjungan kerumah merupakan salah satu program dari sekolah dalam rangka menjalin komunikasi yang baik antara pihak orang tua siswa dengan sekolah. Terjalinnya komunikasi yang baik dapat meningkatkan pengembangan maupun mutu sekolah baik dari segi perspektif peningkatan mutu peserta didiknya maupun dari proses kependidikannya.
c. Contoh Pelaksanaan Kunjungan Rumah 1) Persiapan Sebelum Kunjungan :
a) Konselor atau tim BK mengumpulkan informasi tentang latar belakang siswa, kondisi keluarga, dan masalah yang dihadapi.
b) Mempersiapkan alat evaluasi yang diperlukan, seperti daftar pertanyaan atau instrumen penilaian.
2) Penjadwalan Kunjungan :
a) Menghubungi keluarga siswa untuk menentukan waktu yang tepat untuk kunjungan.
b) Memastikan keluarga siap menerima kunjungan dan menyediakan waktu yang cukup.
13 3) Pelaksanaan Kunjungan :
a) Memperkenalkan diri dan tujuan kunjungan kepada keluarga.
b) Mendengarkan dengan empati terhadap masalah yang dihadapi oleh siswa dan keluarganya.
c) Menggunakan keterampilan komunikasi yang efektif, seperti pertanyaan terbuka dan refleksi, untuk memahami situasi secara lebih mendalam.
d) Memberikan informasi dan saran yang relevan berdasarkan evaluasi situasi.
4) Pembuatan Rencana Tindak Lanjut :
a) Bersama keluarga, menyusun rencana tindak lanjut yang realistis dan sesuai dengan kebutuhan siswa.
b) Membantu keluarga untuk menetapkan tujuan yang jelas dan langkah-langkah konkret untuk mencapainya.
5) Evaluasi dan Pemantauan :
a) Melakukan evaluasi berkala terhadap progres yang dicapai dalam mencapai tujuan.
b) Memberikan dukungan dan bimbingan tambahan sesuai dengan kebutuhan yang muncul selama proses.
6) Pelaporan dan Dokumentasi:
a) Membuat catatan kunjungan yang mencatat informasi penting dan langkah-langkah yang disepakati.
b) Melaporkan hasil kunjungan kepada pihak yang berkepentingan, seperti sekolah atau orang tua siswa.
Dalam melakukan kunjungan rumah, penting untuk menjaga kerahasiaan informasi yang diperoleh dan memperlakukan keluarga dengan hormat. Tujuan utama kunjungan adalah untuk memberikan dukungan dan bimbingan yang dibutuhkan untuk meningkatkan kesejahteraan siswa.
14 4. Konferensi Kasus
Konferensi Kasus yaitu kegiatan pendukung bimbingan dan konseling untuk membahas permasalahan yang dialami oleh peserta didik atau klien dalam suatu forum pertemuan yang dihadiri oleh berbagai pihak yang diharapkan dapat memberikan bahan, keterangan, emudahan dan komitmen bagi terselesaikannya permasalahan tersebut. Pertemuan ini dalam rangka konferensi kasus bersifat terbatas dan tertutup.
Konferensi kasus dihadiri oleh kepala sekolah dan wakilnya, pembimbing, guru, wali kelas, orang tua, tokoh masyarakat dan pihak-pihak lain yang terkait.
Langkah selanjutnya yang dilakukan oleh guru BK dalam menangani siswa yang sulit berinteraksi yaitu dengan mengadakan konferensi kasus atau pertemuan yang dihadiri oleh pihak-pihak yang bersangkutan yakni kepala sekolah beserta wakilnya, guru pembimbing, wali kelas, orang tua, dan lain-lain (Henni Syafriana Nasution dan Abdillah, 2019).
5. Tampilan Kepustakaan
Tampilan kepustakaan yaitu kegiatan menyediakan berbagai bahan pustaka yang dapat digunakan peserta didik dalam pengembangan pribadi, kemampuan sosial, kegiatan belajar, dan karir atau jabatan. Kegiatan pendukung tampilan kepustakaan membantu peserta didik dalam memperkaya dan memperkuat diri berkenaan dengan permasalahan yang dialami dan dibahas bersama konselor pada khususnya, dan dalam pengembangan diri pada umumnya. Pemanfaatan tampilan kepustakaan diarahkan oleh konselor dalam rangka pelaksanaan pelayanan dan atau peserta didik secara mandiri mengunjungi perpustakaan untuk mencari dan memanfaatkan sendiri bahan – bahan yang ada di perpustakaan sesuai dengan keperluan. Tampilan kepustakaan merupakan kondisi sangat memungkinkan peserta didik memperkuat dan memperkaya diri dengan atau tanpa bantuan konselor.
Tampilan kepustakaan membantu klien dalam memperkaya dan memperkuat diri berkenaan dengan permasalahan yang dialami dan dibahas Bersama konselor pada khususnya. Pemanfaatan tampilan kepustakaan dapat diarahkan oleh konselor dalam rangka pelaksanaa pelayanan, atau klien secara mandiri mengunjungi perpustakaan untuk mencari dan memanfaatkan sendiri bahan- bahan yang ada di perpustakaan sesuai dengan keperluan.
15 6. Alih Tangan Kasus
Alih Tangan Kasus Yaitu kegiatan pendukung bimbingan dan konseling untuk mendapatkan penanganan yang lebih tepat dan tuntas atas masalah yang dialami peserta didik atau klien dengan memindahkan penanganan kasus dari satu pihak ke pihak lainnya. Kegiatan ini memerlukan kerjasama yang erat antara berbagi pihak yang dapat memberikan bantuan dan atas penanganan masalah tersebut terutama kerjasama dari ahli lain tempat kasus itu dialihtangankan.Apabila dalam permasalahan siswa yang sulit berinteraksi ini guru BK belum berhasil membantu menyelesaikanpermasalahan siswa, maka permasalahan ini bisa dialihtangankan Ke kepala sekolah untuk ditindaklanjuti (Henni Syafriana Nasution dan Abdillah, 2019).
Tujuan alih tangan kasus adalah tercegahnya siswa dari masalah-masalah lainyang lebih para. Tujuan umum alihtangan kasus atau layanan rujukan bertujuanuntuk memperoleh layanan yang optimal dan pemecahan secara lebih tuntas
16
BAB III PENUTUP
A. KESIMPULAN
Kegiatan pendukung bimbingan dan konseling adalah usaha untuk mengumpulkan data dan keterangan tentang peserta didik (klien) dan keterangan tentang lingkungannya, baik itu di lingkungan keluarga, sekolah, ataupun dilingkungan sekitarnya. Kegiatan ini dimaksudkan agar para pembimbing dan dosen lebih mudah memahami potensi dan kekuatan, serta masalah yang dihadapi klien.
Dalam hal ini terdapat enam jenis kegiatan pendukung bimbngan dan konseling, yaitu : Aplikasi Instrumentasi (mengumpulkan data dan keterangan tentang diri peserta didik atau klien tentang lingkungan peserta didik dan lingkungan yang lebih luas), Himpunan data (menghimpun seluruh data dan keterangan yang relevan dengan keperluan pengembangan peserta didik atau klien), Konferensi kasus (membahas permasalahan yang dialami oleh peserta didik atau klien dalam suatu forum pertemuan yang dihadiri oleh berbagai pihak), Kunjungan rumah (mengetahui pendapat orang tua dan kondisi kehidupan keluarga), Alih tangan kasus (memindahkan penanganan kasus dari satu pihak ke pihak lainnya), Tampilan Pustaka (menyediakan berbagai bahan pustaka yang dapat digunakan peserta didik dalam pengembangan pribadi, kemampuan sosial, kegiatan belajar, dan karir atau jabatan).
B. SARAN
Semoga makalah ini bisa membuat pembaca lebih banyak mengerti tentang pembuatan alat permainan dari barang bekas yang nantinya dapat menstimulasi aspek- aspek perkembangan anak usia dini. Semoga pembaca seklian dapat memberikan kritik dan sarannya kepada penulias agar nantinya dapat memperbaiki makalah yang seperti ini di masa yang akan datang, sehingga bagi calon pendidik ataupun mahasiswa dapat memudahkan dalam proses pembelajaran baik menampilkan dalam bentuk diskusi maupun sebagai bahan ajar
17
DAFTAR PUSTAKA
Abin, Syamsuddin Makmum. 2003. Psikologi Pendidikan. Bandung : PT Rosda Karya Remaja.
Hallen. 2002. Bimbingan dan Konseling. Jakarta : Ciputat Press.
Hawari, R., Damanik, N. A., Linda, L., & Lesmana, G. (2023). Peran Bimbingan Konseling Terhadap Self Managemen Peserta didik dalam Belajar. JURNAL EDUKASI NONFORMAL, 4(1), 494-502.
Iriastuti, M. E. (2021). Meningkatkan Kepedulian Orang Tua Terhadap Masalah Siswa, Melalui Kegiatan Kunjungan Rumah Oleh Guru BK. CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan, 1(1), 17-25.
Nasution, Henni Syafriana dan Abdillah. 2019. Bimbingan Konseling “Konsep, Teori dan Aplikasinya”. Medan : Lembaga Peduli Pengembangan Pendidikan Indonesia (LPPPI).
Prayitno, Amti Erman. 2004. Dasar – Dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta : PT Rineka Cipta.
Prayitno, dkk. 2004. Pedoman Khusus Bimbingan dan Konseling. Jakarta : Depdiknas.
Prayitno. 2012. Jenis Layanan dan Kegiatan Pendukung Bimbingan dan Konseling. Padang : FIP UNP
Solihatun, S., Stevani, H., & Folastri, S. (2021). Kontribusi Kunjungan Rumah terhadap Kesulitan Belajar Siswa. ENLIGHTEN: Jurnal Bimbingan Konseling Islam, 4(2), 127- 141.