MAKALAH EJAKULASI DINI
(Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Kesehatan Reproduksi)
Dosen Pengampu:
Wan Sulastri Emin, S.Kep., Ns., M.Kes
Disusun Oleh:
NURAULIAH RAMADHANI GAFUR 14220220061
Kelas B2
PROGRAM ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2024
KATA PENGANTAR
Assalamu'alakum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Segala puji bagı Allah SWT yang telah memberikan segala nikmat dan kesehatan, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah yang telah diberikan dengan judul “Ejakulasi Dini”
tanpa rahmat dan ridho-Nya kami tidak akan mampu menyelesaikan tugas ini dengan baik.
Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Kesehatan Reproduksi.
Dalam pembuatan makalah ini, kami mengucapkaan terima kasih kepada dosen pengampun yaitu Ibu Wan Sulastri Emin, S.Kep., Ns., M.Kes yang sudah memberikan tugas ini sehingga menambah pengetahuan dan wawasan dalam mata kuliah ini. Dan saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membagi pengetahuannya dalam penyusunan makalah im sehingga dapat terselesaikan dengan baik dan lancar
Dalam penulisan makalah ini, kami juga menyadari bahwa makalah ini banyak kekurangan baik pada segi penulisan maupun materi. Maka dari itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang berupa membangun dan semua pihak agar saya bisa memperbaiki dikedepannya.
Demikian yang dapat saya sampaikan, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis maupun pembaca.
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Makassar, 7 April 2024
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...
DAFTAR ISI...
BAB I PENDAHULUAN...
A. Latar Belakang ...
B. Rumusan Masalah...
C. Tujuan ...
BAB II TINJAUAN TEORI………...
A. Konsep Medis ...
1. Definisi...
2. Etiologi...
3. Manifestasi Klinis ...
4. Patofisiologi ...
5. Pemeriksaan Penunjang ...
6. Pathway ...
7. Komplikasi...
B. Konsep Asuhan Keperawatan ………
1. Pengkajian Fisik...
2. Diagnose Keperawatan...
3. Rencana Keperawatan...
BAB III PENUTUP...
A. Kesimpulan ...
B. Saran ...
DAFTAR PUSTAKA ...
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG
Kebutuhan biologis manusia tidak terlepas dari aktivitas seksual yaitu untuk mendapatkan keturunan. Aktivitas seksual yang baik menjadi salah satu parameter dalam menentukan kualitas hidup yang baik tanpa adanya gangguan secara fisik maupun psikologis (Avasthi et al, 2017). Disfungsi seksual merupakan suatu keadaan dimana seseorang mengalami kesulitan dalam melakukan aktivitas seksual. Berdasarkan data dari sexual dysfunction Association (2009) yang dilansir oleh (Philip & Khan 2010), masalah seksual dapat terjadi pada wanita sekitar 50% dan pada pria > 50%. Gangguan yang dialami oleh penderita disfungsi seksual meliputi gangguan gairah (libido), disfungsi ereksi, impotensi dan ejakulasi dini
Sebagian dari orang yang menyandang ejakulasi dini adalah orang yang sering menyalurkan hawa nafsunya dan sering merangsang birahinya sebelum sel kelaminnya sempurna. Penyakit ini juga berdampak pada pencemaran tubuh dan akan menimbulkan penyakit syaraf dan psikologi dan secara psikologi dapat menimbulkan stress dan depresi.
Ejakulasi adalah peristiwa penyemburan air mani keluar secara mendadak yang menandai klimaks bagi pria (Suryo, 2010). Ditemukan 41% laki-laki yang menyatakan mempunyai disfungsi ereksi juga melaporkan mempunyai ejakulasi dini, dan sekitar 30%
laki-laki yang menyatakan mempunyai ejakulasi dini juga menyatakan mempunyai disfungsi ereksi (Payne & Sadovsky, 2007).
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa yang maksud dengan ejakulasi dini?
2. Apa saja etiologi dan manifestasi klinis dari ejakulasi dini?
3. Apa saja patofisiologi, pemeriksaan penunjang dan komplikasi pada ejakulasi dini?
4. Apa saja asuhan keperawatan yang sering muncul pada pasien yang mengalami ejakulasi dini?
C. TUJUAN
1.
Mengetahui pengertian dari ejakulasi dini
2.
Mengetahui etiologi dan menifestasi klinis pada ejakulasi dini
3.
Mengetahui patofisiologi dan pemeriksaan penunjang pada ejakulasi dini
4.Mengetahui komplikasi yang terjadi pada ejakulasi dini
5.
Mengetahui asuhan keperawatan dari ejakulasi dini
BAB II TUJUAN TEORI A. KONSEP MEDIS
1. Definisi
Disfungsi seksual merupakan suatu keadaan dimana seseorang mengalami kesulitan dalam melakukan aktivitas seksual yang dapat disebabkan oleh faktor fisik dan faktor psikis.
Ejakulasi merupakan hasil dari orgasme yang terjadi pada saat mencapai klimaks, yaitu ketika gesekan pada glans penis dan rangsangan lainnya mengirimkan sinyal ke otak dan korda spinalis. Saraf merangsang kontraksi otot di sepanjang saluran epididimis, vas deferens, vesikula seminalis dan prostat. Ikhlas, M. (2023).
Ejakulasi didefinisikan sebagai ekspulsi cairan seminal melalui meatus uretra. Ejakulasi terjadi saat klimaks seksual, biasanya dengan orgasme (Kondoh, 2011). Ejakulasi terdiri atas dua fase : emisi carian seminalis ke dalam uretra posterior yang dimediasi secara simpatis, diikuti dengan true ejaculation dan ekspulsi dari ejakulat yang dimediasi secara somatis (Ralph et al, 2005). Selama fase emisi, ejakulat dikeluarkan ke dalam uretra posterior melalui sekresi epithelial dan kontraksi peristaltik dari otot polos dari traktus seminalis.
Ekspulsi terjadi jika cairan semen bergerak secara cepat melalui uretra dan keluar di meatus penis; hal ini melibatkan kontraksi pulsatil dari otot bulbokavernosum dan otot dasar panggul (Kondoh, 2011).(Margareth, 2017)
2. Etiologi
a) Anejakulasi
Anejakulasi merupakan ketiadaan total dari ejakulasi antegrade ataupun retrograde, dan disebabkan oleh kegagalan emisi semen dari vesikula seminalis, prostat dan saluran ejakulat ke dalam uretra. Anejakulasi sejati biasanya dikaitkan dengan sensasi orgasme normal dan berhubungan dengan gangguan sistem saraf pusat, perifer atau obat-obatan.
b) Anorgasmia
Anorgasmia adalah ketidakmampuan mencapai orgasme dan dapat menimbulkan anejakulasi. Anorgasmia sering merupakan kondisi primer dan umumnya disebabkan faktor psikologis.
c) Ejakulasi tertunda
Pada ejakulasi tertunda, diperlukan stimulasi abnormal pada penis yang ereksi untuk mencapai orgasme dengan ejakulasi. Ejakulasi tertunda dapat dianggap sebagai bentuk ringan dari anorgasmia. Keadaan ini dapat disebabkan oleh faktor psikologis, organik (misalnya lesi parsial sumsum tulang belakang, kerusakan saraf penis iatrogenik), atau farmakologis (misalnya SSRI, antihipertensi, antipsikotik).
d) Ejakulasi retrograde
Ejakulasi retrograd adalah ketiadaan total, atau kadang-kadang parsial dari ejakulasi antegrade sebagai akibat dari semen yang berbalik arah melalui leher kandung kemih menuju kandung kemih. Sensasi orgasme bisa normal atau berkurang.
e) Ejakulasi astenik
Ejakulasi astenik memiliki karakteristik perubahan fase pendorong, dengan fase emisi normal. Sensasi orgasme berkurang dan biasanya kontraksi ritmik yang terkait dengan ejakulasi menghilang. Ejakulasi Astenik biasanya tidak mengubah kualitas semen.
f) Ejakulasi premature
Disfungsi seksual pria yang ditandai dengan ejakulasi yang selalu atau hampir selalu muncul sebelum atau sekitar 1 menit setelah penetrasi vagina dan/atau ketidakmampuan untuk menunda pada semua atau hampir semua penetrasi vagina tanpa ada penyebab personal seperti tekanan, frustasi, gangguan, dan atau menghindari hubungan intim.
(Penanganan & Prostat, n.d.) 3. Manifestasi Klinik
Penyebab ejakulasi dini belum dapat diketahui dengan pasti. Namun, kondisi ini diduga terkait dengan faktor psikologis, seperti stres dan depresi; faktor fisik, seperti gangguan hormon dan kebiasaan merokok; serta faktor keturunan.Gejala utama ejakulasi dini adalah keluarnya sperma kurang dari 1 menit setelah dimulainya aktivitas seksual. Kondisi ini dapat dialami saat berhubungan seksual dengan pasangan atau ketika melakukan masturbasi.(Zhang et al., 2022) 4. Patofisiologi
Beberapa studi telah melaporkan adanya hubungan yang kuat antara ED dan BPH/LUTS.
Diperkirakan, sebanyak 70% pasien BPH/LUTS menderita DE.10 Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada 111.834 pria berusia rata-rata 56,1 tahun di USA, UK, dan Sweden, menyebutkan bahwa pria dengan LUTS/BPH juga mengalami disfungsi ereksi, disfungsi ejakulasi, dan ejakulasi dini. Sebanyak 67- 100% di antara pria yang sedang melakukan pengobatan tersebut mengalami gejala LUTS sedang hingga berat dan 43-59% menderita DE sedang hingga berat.
PDE5 merupakan enzim yang spesifik memetabolisme cyclic guanosine monophosphate (cGMP). Isoenzim PDE5 secara aktif ditemukan di saluran urogenital pria yang meliputi korpus kavernosum penis, prostat, kandung kemih, serta pembuluh darah.13 PDE-5 Inhibitor bekerja dengan menghambat enzim PDE5, sehingga terjadi peningkatan konsentrasi cGMP.
Selanjutnya, peningkatan konsentrasi cGMP menyebabkan relaksasi otot polos pada penis yang membuat aliran darah masuk ke dalam jaringan penis. Hal inilah yang kemudian memfasilitasi terjadinya ereksi. Selain itu, Relaksasi otot polos pembuluh darah yang disebabkan oleh PDE-5 inhibitor ini akan meningkatkan aliran darah menuju Lower Urinary Tract (LUT). PDE-5 inhibitor juga dapat menurunkan tonus otot polos pada prostat.(Kamalia, 2021)
5. Pemeriksaan Penunjang
a) Pemeriksaan darah lengkap mencakup Hb, leukosit, eritrosit, hitung jenis leukosit, CT (clotting time), BT (bleeding time), golongan darah, hematokrit, trombosit, ureum, kreatinin serum (Sjamsuhidajat, R & Jong, 2016).
b) Urinalisis: untuk mendeteksi adanya protein atau darah dalam air kemih, berat jenis dan osmolalitas, serta pemeriksaan nikroskopik air kemih.
c) Pemeriksaan radiologis antara lain : CT-Scan abdomen digunakan untuk mengevaluasi rongga abdomen dan organ intra abdomen apabila dicurigai, perdarahan intra abdomen, ataupun infeksi.(Alapján-, 2023)
6. Pathway
7. Komplikasi
Keluhan disfungsi ereksi ini menjadi masalah yang paling banyak muncul pada gambaran disfungsi yang dialami oleh partisipan. Banyak faktor resiko yang menyebabkan disfungsi ereksi ini, diantaranya beberapa partisipan mengalami hipertensi (B2, B4), dan dari partisipan kebanyakan mempunyai kebiasaan merokok. Sesuai dengan penelitian Dodie, Tendean, &
Wantouw (2013), komplikasi kronis ini biasanya terjadi pada penderita DM yang tidak terkontrol. DM disebutkan juga dapat menyebabkan terjadinya disfungsi ereksi. Jika penyakit ini terus berlanjut hingga bersifat kronis maka dapat menimbulkan komplikasi seperti gangguan psikologis dan disfungsi seksual khususnya pada pria (Dodie, Tendean, & Wantouw, 2013).
Prevalensi disfungsi ereksi pada pria diabetes sebesar 45,8% lebih tinggi daripada pada penderita non diabetes 24,1% (Tridiantari, 2017).(Maulida et al., 2020)
B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN 1. Pengkajian
a. Aktivitas atau Istirahat
Gejala : mudah Lelah, sulit berkonsentrasi, saat memiliki waktu luang lebih banyak digunakan untuk melihat gambar, film ataupun berimajinasi tentang hal-hal yang membangkitkan libido.
b. Sirkulasi
Hipertensi dan aterosklerosis.
c. Integritas Ego
Kecemasan, malas, takut ketidakmampuan dalam hubungan seksual terutama kepada pasangan, pasangan tidak mampu menerima keadaan suaminya karena tidak mendapatkan kepuasaan saat berhubungan seksual.
d. Eliminasi Normal
e. Makanan/Cairan
Penurunan nafsu makan, anoreksia.
f. Nyeri/Kenyamanan
Tidak nyaman dalam berhubungan seksual g. Seksualitas
Ketidakmampuan dalam mempertahankan ejakulasi, penurunan libido.
2. Diagnosa Keperawatan
a) Pola seksual tidak efektif b.d biopsiko seksualitas (cemas) b) Gangguan harga diri rendah b.d perubahan fungsi seksual c) Resiko disfungsi seksual b.d penurunan libido
3. Rencana Keperawatan
No Diagnosa
Keperawatan Luaran Keperawatan Intervensi Keperawatan
1.
Pola Seksual
Tidak Efektif b.d Biopsiko
Seksualitas (cemas)
Setelah dilakukan intervensi keperawatan 3x24 jam, maka identitas seksual membaik, dengan kriteria hasil :
1. Menunjukkan pendirian seksual
Jelaskan pengaruh tekanan kelompok dan sosial terhadap aktivitas seksual
Jelaskan konsekuensi negatif mengasuh anak pada usia dini (mis:
kemiskinan, kehilangan
yang jelas meningkat
2. Integritas orientasi seksual
ke dalam
kehidupan sehari- hari meningkat 3. Menyusun
batasan- batasan sesuai jenis kelamin
karir dan pendidikan)
Jelaskan risiko tertular penyakit menular seksual dan AIDS akibat seks bebas
Anjurkan orang tua menjadi educator seksualitas bagi anak- anaknya
Anjurkan anak/remaja tidak melakukan asertif untuk menolak tekanan teman sebaya dan sosial
dalam aktivitas seksual
2.Gangguan Harga
Diri Rendah b.d Perubahan Fungsi Seksual
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3x24 jam, maka harga diri meningkat, dengan kriteria hasil :
1. Penilaian diri positif meningkat 2. Perasaan malu
menurun
3. Perasaan tidak mampu
melakukan apapun menurun 4. Perasaan
memiliki
kelebihan atau
Manajemen Perilaku
Observasi
Identifikasi harapan untuk mengendalikan perilaku
Terapeutik
Diskusikan tanggung jawab terhadap perilaku
Jadwalkan kegiatan terstruktur
Ciptakan
dan pertahankan lingkungan dan kegiatan perawatan konsisten setiap dinas
Tingkatkan aktivitas
fisik sesuai kemampuan
kemampuan positif meningkat 5. penerimaan
penilaian positif terhadap diri sendiri
meningkat
6. minat mencoba
hal baru
meningkat 7. berjalan
menampakkan wajah meningkat 8. postur tubuh
menampakkan wajah meningkat
Batasi
jumlah pengunjung
Bicara dengan nada rendah dan tenang
Cegah perilaku pasif dan agresif
Beri penguatan positif terhadap keberhasilan mengendalikan perilaku
Lakukan pengekangan fisik sesuai indikasi
Hindari bersikap menyudutkan dan menghentikan
pembicaraan
Hindari sikap
mengancam atau berdebat
Hindari berdebat atau menawar batas perilaku yang telah ditetapkan
Edukasi
Informasikan keluarga bahwa keluarga sebagai dasar pembentukkan kognitif
Resiko Disfungsi Seksualb.d
Penurunan Libido
Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan tidak terjadi disfungsi seksual, dengan
a. Mendengarkan pernyataan
pasien/orang terdekat b. Dorong pasien untuk
berbagi pikiran/masalah
kriteria hasil : 1. Menyatakan
pemahaman perubahan anatomi/fungsi seksual
2. Mendiskusikan masalah tentang gambaran diri, peran seksual, hasrat seksual pasangan
dengan orang terdekat
3. Mengidentifikasi kepuasaan/praktik seksual yang diterima dan beberapa
alternative cara mengekspresikan seksual
dengan teman
c. Solusi pemecahan terhadap masalah
potensial, contoh menunda koitus seksual saat kelelahan, melanjutkannya dengan ekspresi alternative d. Anjurkan pasangan
untuk memperlihatkan
penerimaan/perhatiannya
BAB III PENUTUP A. Kesimpulan
Ejakulasi terdiri atas dua fase : emisi carian seminalis ke dalam uretra posterior yang dimediasi secara simpatis, diikuti dengan true ejaculation dan ekspulsi dari ejakulat yang dimediasi secara somatis (Ralph et al, 2005). Selama fase emisi, ejakulat dikeluarkan ke dalam uretra posterior melalui sekresi epithelial dan kontraksi peristaltik dari otot polos dari traktus seminalis.
B. Saran
Berikan informasi tentang perubahan gaya hidup yang dapat membantu mengurangi risiko terjadinya ejakulasi dini, serta terapi pikiran yang dapat digunakan untuk mengatasi ejakulasi dini, yang meliputi teknik untuk mengusir pola pikir negatif dan mengendalikan diri, seperti ketika muncul rasa cemas atau gugup saat berhubungan intim.
DAFTAR PUSTAKA
Alapján-, V. (2023). ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN POST OP TRANSURETHRAL RESECTION PROSTATE DENGAN INTERVENSI MOBILISASI DINI DI RSUD JENDRAL AHMAD YANI KOTA METRO TAHUN 2023. 1–23.
Kamalia, A. M. (2021). Efektifitas Tadalafil Sebagai Medikasi Untuk Penderita Benign Prostate Hiperplasia Dan Disfungsi Ereks. Jurnal
Medika Hutama, 03(01), 402–406.Margareth, H. (2017). BIOLOGI REPRODUKSI PRIA. In Airlangga
University Press. Maulida, H., Rahman, H. F., Nugroho, S. A., Andayani, S. A., & Wahid,A. H. (2020).
Pengalaman Disfungsi Seksual pada Klien Pria dengan Ulkus Diabetikum.
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI), 4(3), 138.
https://doi.org/10.32419/jppni.v4i3.187
Penanganan, P., & Prostat, K. (n.d.). Ikatan Ahli Urologi Indonesia.
Zhang, W., Zhang, Y., Gao, J., Peng, D., Zhang, Y., Wu, X., Liu, G., Dai, Y., Jiang, H., & Zhang, X. (2022). Poor Sleep Quality is an Independent Risk Factor for Acquired Premature Ejaculation. Nature and
Science of Sleep, 14, 255–263.