FIKIH MAWARIS
Makalah disusun sebagai salah satu tugas Mata Kuliah Fikih Mawaris Dosen Pengampu : Siti Shopiyah, M.A.
Disusun Oleh : Kelompok 1 Amanda Sahla Febriani : 20312274
Anisa Noviananda : 20312275
Annisa : 20312276
FAKULTAS TARBIYAH
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM INSTITUT ILMU Al-QUR`AN (IIQ) JAKARTA
TAHUN AKADEMIK 2020/2021
i
KATA PENGANTAR
ِمْي ِحَّرلا ِنَمْحَّرلا ِالله ِمــــــــــــــــــْسِب
Alhamdulillah, Puji syukur kepada Allah Swt., kami panjatkan atas limpahan Rahmat, Hidayah serta Inayah-Nya, kami bisa menyelesaikan karya Ilmiyah berupa makalah yang singkat dan sederhana ini. Shalawat serta salam mudah-mudahan tetap tercurah kepada junjungan kita Nabi akhir zaman, penolong umat, yaitu Baginda Muhammad Saw. yang telah menunjukkan kita kepada jalan hidup lurus yang di ridhoi oleh Allah Swt.
dengan ajarannya agama Islam.
Makalah ini dibuat dalam rangka untuk memenuhi tugas dari Ibu Dosen Mata Kuliah Fikih Mawaris dengan judul Fiqih Mawaris, Fakultas Tarbiyah Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Institut Ilmu Al- Qur‟an (IIQ) Jakarta. Dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Dosen Pengampu Ibu Siti Shopiyah, M.A. yang selalu kami harapkan keberkahannya dan semua pihak yang telah membantu kami dalam menyelesaikan makalah ini.
Makalah ini masih belum sempurna, untuk itu perlu masukan dari semua pihak terutama Ibu Siti Shopiyah, M.A. dan teman-teman Mahasiswi lainnya. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua, khususnya bagi penyusun sendiri umumnya para pembaca makalah ini, apabila ada kekurangan dalam penulisan makalah ini Penulis mohon maaf yang sebesar- besarnya. Terima kasih.
Tangerang, 14 September , 2021
ii DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... ii
BAB I ... 1
PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 1
C. Tujuan Masalah ... 1
BAB II ... 2
PEMBAHASAN ... 2
A. Pengertian Al-Irst, Al-Faraidh, Tirkah ... 2
1. Al-Irst... 2
2. Al-Faraidh ... 2
3. Tirkah... 3
B. Dalil-dalil Hukum Waris ... 4
C. Hukum Membagi Harta Waris Menurut Ketentuan Hukum Syara’ ... 7
1. Hukum waris dalam Islam. ... 7
D. Hukum Belajar dan Mengajarkan Ilmu Mawaris ... 9
1. Hukum Belajar dan Mengajarkannya. ... 9
2. Tujuan Mempelajari Ilmu Faraidh ... 10
E. Hubungan Hukum Waris Islam dengan Hukum Waris Nasional. ... 10
F. Urgensi Belajar Fiqh Mawaris ... 12
BAB III ... 14
PENUTUP ... 14
A. Kesimpulan ... 14
DAFTAR PUSTAKA ... 15
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Salah satu bentuk hukum yang diterapkan di Indonesia dalam rangka mengatur hubungan hukum i antara masyarakat Indonesia adalah Hukum Islam Hukum Islam merupakan hukum yang bersumber dari al- Qur'an dan as-Sunnah yang mengatur segala perbuatan hukum bagi masyarakat yang menganut agama Islam, salah satunya adalah mengenai kewarisan, Hukum Kewarisan Islam adalah hukum yang mengatur segala sesuatu yang berkenaan dengan peralihan hak dan atau kewajiban atas harta kekayaan seseorang setelah ia meninggal dunia kepada ahli warisnya. Dengan demikian, dalam hukum kewarisan ada tiga unsur pokok yang saling terkait yaitu pewaris, harta peninggalan, dan ahli waris.
B. Rumusan Masalah
1. Apa definisi dan penjelasan al-irst, al-faraidh, dan tirkah?
2. Apa saja dalil-dalil hukum waris?
3. Apa hukum membagi harta waris menurut ketentuan hukum syara’?
4. Apa hukum belajar dan mengajarkan ilmu waris?
5. Apa saja azaz dan prinsip kewarisan? Jelaskan!
C. Tujuan Masalah
1. Mahasiswa dapat mengetahui arti dari al-irs, al-faraidh dan tirkah.
2. Mahasiswa dapat mengetahui dalil-dalil hukum waris.
3. Mahasiswa dapat mengetahui hukum waris menurut agama islam.
4. Mahasiswa dapat mengetahui hukum belajar dan mengajarkan ilmu mawaris.
5. Mahasiswa dapat mengetahui azaz-azaz dan prinsip kewarisan.
2 BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Al-Irst, Al-Faraidh, Tirkah
1. Al-Irst
Al-irts dalam bahasa arab bentuk mashdar dari kata waritsa- yaritsu-irtsan. Bentuk masdahar-nya bukan hanya irtsan melainkan juga wirtsan-turatsan-wiratsatan. Kata itu berasal dari dari kata asli waratsa, yang memiliki arti perpindahan harta atau perpindahan pusaka.
Al-Irts, ialah harta warisan yang siap dibagi kepada ahli waris sesudah diambil untuk keperluan pemeliharaan zenazah (tajhiz al- janazah), pelunasan utang, serta pelaksanaan wasiat.
2. Al-Faraidh
Faraid adalah jamak dari faridah yang di ambil dari kata fard yang artinya takdir (ketentuan). Allah SWT. Berfirman artinya “Separuh dari apa yang kamu tentukan”. Dari segi istilah, faraid adalah ilmu tentang bagaimana membagi harta peninggalan seseorang setelah ia meninggal dunia. Dalam kaitannya dengan bagian adalah sebagaimana membagi dan berapa bagian masing-masing ahli waris, menurut ketentuan syara.
Ilmu Faraid / Faroid / Fara'id / Faro'id adalah ilmu yang diketahui dengannya siapa yang berhak mendapat waris, siapa yang tidak berhak, dan juga berapa ukuran untuk setiap ahli waris.
3
Menurut Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan, definisi ilmu al-faraidh yang paling tepat adalah apa yang disebutkan Ad- Dardir dalam Asy-Syarhul Kabir (juz 4, hal. 406), bahwa ilmu al- faraidh adalah: “Ilmu yang dengannya dapat diketahui siapa yang berhak mewarisi dengan (rincian) jatah warisnya masing-masing dan diketahui pula siapa yang tidak berhak mewarisi.” 1
Pokok bahasan ilmu al-faraidh adalah pembagian harta waris yang ditinggalkan si mayit kepada ahli warisnya, sesuai bimbingan Allah dan Rasul-Nya.Demikian pula mendudukkan siapa yang berhak mendapatkan harta waris dan siapa yang tidak berhak mendapatkannya dari keluarga si mayit, serta memproses penghitungannya agar dapat diketahui jatah atau bagian dari masing- masing ahli waris tersebut. Dasar pijakannya adalah Al- Qur’an, Sunnah Rasulullah Saw dan ijma’.
3. Tirkah
Tirkah (tirkah) adalah bahasa Arab yang artinya harta peninggalan. Harta peninggalan (tirkah) dapat menimbulkan permasalahan hukum sebab harta kekayaan yaitu sesuatu yang karena didalamnya menimbulkan hak dan kewajiban bagi ahli waris dan wajib di bagi pada yang berhak atas harta peninggalan tersebut yang setelah dilakukan pemotongan yang wajib dilakukan ahli waris karena telah diatur baik dalam Hukum Islam yaitu Al-qur'an, Kompilasi Hukum Islam, Hukum Adat dan Hukum Perdata yang merupakan peraturan yang berlaku di Indonesia. 2
1 “ Mengenal Ilmu Faraidh”. Asy-Syariah Online. 2011-11-19.
2 Elviana Sagala,Jurnal Advokasi Vol. 05 2017, h. 34
4
Secara istilah hukum kewarisan Islam juga disebut fiqh mawaris yang merupakan hukum yang mengatur pemindahan hak pemilikan harta peninggalan (tirkah) pewaris, menentukan siapa yang berhak menjadi ahli waris dan berapa bagiannya.
B. Dalil-dalil Hukum Waris
Dasar hukum bagi kewarisan adalah nash atau apa yang ada didalam al-Qur’an dan as-Sunnah. Ayat-ayat al-Qur’an yang mengatur secara langsung tentang waris diantaranya adalah:
Dari dalil-dalil yang bersumber dari Al-Qur’an Surat An-Nisa :7
Artinya: ”Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya, dan bagi wanita ada hak dan bagian (pula) dari harta peninggalan ibu- bapak dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bahagian yang telah ditetapkan.”3
Garis hukum kewarisan pada ayat diatas (Q.S An-Nisa : 7) adalah sebagai berikut:
1) Bagi anak laki-laki ada bagian warisan dari harta peninggalan ibu bapaknya
2) Bagi aqrabun (keluarga dekat) laki-laki ada bagian warisan dari harta peninggalan aqrabun keluarga dekat yang laki-laki atau perempuannya).
3 Yayasan Penyelenggara Penerjemah/PenafsirAl-Qur’an, al-qur’an dan Terjemahannya, (Depag RI, 1986), 78.
5
3) Bagi anak perempuan ada bagian warisan dari harta peninggalan ibu bapaknya.
4) Bagi aqrabun (keluarga dekat) perempuan ada bagian warisan dari harta peninggalan aqrabun (keluarga dekat yang laki-laki atau perempuannya).
5) Ahli waris itu ada yang menerima warisan sedikit, dan ada pula yang banyak. Pembagian-pembagian itu ditentukan oleh Allah SWT.
Selanjutnya perlu dijelaskan bahwa ayat ke-7 surat al-Nisa ini masih bersifat Universal, walaupun ini ayat pertama yang menyebut-nyebut adanya harta peninggalan. Harta peninggalan disebut dalam ayat ini.
Sesuai dengan sistem ilmu hukum pada umumnya, dimana ditemui perincian nantinya maka perincian yang khusus itulah yang mudah memperlakukannya dan yang akan diperlakukan dalam kasus-kasus yang akan diselesaikan.
Kemudian dalam ayat selanjutnya Surat An-nisa ayat 8 :
Artinya: ”dan apabila sewaktu pembagian itu hadir kerabat, anak yatim dan orang miskin, maka berilah mereka dari harta itu (sekedarnya) dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik.” (QS.An-nisa:8) 4
4 Yayasan Penyelenggara Penerjemah/PenafsirAl-Qur’an, al-qur’an dan Terjemahannya, (Depag RI, 1986), 79.
6
Dasar Hukum Waris juga terdapat dalam Hadist, dari banyaknya Hadist Rasulullah yang menjadi landasan serta pedoman, kami hanya mencantumkan beberapa hadist untuk memperjelas.
Hadist Nabi yang diriwayatkan dari Imron bin Hussein menurut riwayat Imam Abu Daud:
Artinya: "Dari Umar bin Husain bahwa seorang laki-laki datang kepada Nabi lalu berkata bahwasanya anak dari anak meninggalkan harta, Nabi menjawab:
untukmu seperenam.
نع ةماسأ نب ديزي نع بينلا يلص الله هيلع ملسو لاق لا ثري ملسلما
رفاكلا لاو ثري رفاكلا
Artinya: "Dari Usamah bin Zaid dari Nabi SAW: Orang Islam itu tidak mewarisi orang kafir dan orang kafir tidak mewarisi orang Islam."
لاق لوسر الله يلص الله هيلع ملسو نم لتق ليتق هناف لا هثري نإو ل نكي هل
ثراو هيرغ نإو ناك
هل
هدلاو
وأ
دلاو
سيلف
لئاقل
ثيرم
7
Artinya: "Rasulullah SAW bersabda: "Barang siapa membunuh scorang korban, maka ia tidak dapat mewarisinya, walaupun korban tidak mempunyai ahli waris lain selain dirinya sendiri, begitu juga walaupun korban itu adalah orang tuanya atau anaknya sendiri. Maka bagi pembunuh tidak berhak menerima warisan".5
C. Hukum Membagi Harta Waris Menurut Ketentuan Hukum Syara’
Di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia berlaku bermacam-macam sistem hukum waris, yakni hukum waris adat, hukum waris islam dan hukum perdata. Keaneka ragaman hukum ini semakin terlihat karna hukum waris adat yang berlaku pada kenyataannya tidak bersifat tunggal tetapi bermacam-macam mengikuti bentuk masyarakat dan sistem kekeluargaan masyarakat Indonesia.6 Waris menurut hukum islam adalah hukum yang mengatur tentang peralihan harta kekayaan yang ditinggalkan seseorang yang meninggal serta akibatnya bagi para ahli warisnya.7
1. Hukum waris dalam Islam.
Hukum kewarisan islam adalah hukum yang mengatur segala sesuatu yang berkenaan dengan peralihan hak atau kewajiabn atas harta kekayaan seseorang setelah ia meninggal dunia kepada ahli warisnya. Dengan demikian, dalam hukum kewarisan ada tiga unsur pokok yang saling terkait yaitu pewaris, harta peninggalan, dan ahli waris. Kewarisan pada dasarnya merupakan bagian yang tidak
5 Al-imam Abu Abdillah Muhammad ibn Ismail al-Mugirah ibn Bardzibahal-Bukhari Sahih al-
Bukhari, Juz 4, (Beirut Lebanon: Dar al-Fikr, 1410/1990 M), 194,. Sayid al-Imam Muhammad ibn
Ismail ash-San’ani, Subul as-Salam Sarh Bulugh-al-Maram Min Jami Adillat al-Ahkam, Juz 3, (Mesir
: Musthafa al-Babi al-Halabi Wa Auladuh, 1379 H/1960M), 98.
6 Wirjono Prodjodikoro. Hukum Warisan Di Indonesia. Vorkink van Hoeve. Bandung. Hal 8-10
7 Effendi Perangin, Hukum Waris, (Jakarta: Rajawali Pers, 2008) h.3
8
terpisahkan dari hukum, sedangkan hukum adalah bagian dari aspek ajaran islam yang pokok.8
a. Dasar Hukum Dari Al-Qur’an
Hal-hal yang berkaitan dengan warisan Sebagian besarnya diatur dalam surat An-Nisa ayat 7,11, dan 12.9
Artinya: Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan kedua orang tua dan kerabatnya, dan bagi perempuan ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan kedua orang tua dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bagian yang telah ditetapkan.
Ayat kewarisan yang mulia ini diambil dari kitabullah, Al- Qur’an. Pada ayat-ayat tersebut Allah SWT menjelaskan, dalam ayat ini merupakan salah satu dari rukun agama islam, pondasi hukum islam dan termasuk salah satu ayat yang utama, siapa- siapa yang menjadi ahli waris serta berapa bagian masing- masing. Demikian pula hikmah orang yang mendapat warisan dan tidak mendapat warisan.
b. Dasar Hukum dari Hadist
Meskipun Al-Qur’an telah menerangkan secara jelas dan rinci tentang pembagian waris dan ahli waris, kewarisan juga didasarkan kepada hadist Rasulullah SAW. Adapun Hadist yang berhubungan dengan hukum waris diantaranya adalah:
8 Anshary MK, “Hukum Kewarisan Islam dalam teori dan Praktik”, Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2017, hlm 2
9 Al-Qur’an dan terjemahnya, Jakarta: Departemen Agama Republi Indonesia, hlm 78.
9
Hadist yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim10:
Artinya: “Nabi Muhammad SAW. Bersabda: berikanlah harta pusaka kepada orang-orang yang berhak, sesudah itu, sisanya untuk orang laki-laki yang lebih utama (dekat kekerabatannya)” (HR. AL-Bukhari Muslim).
D. Hukum Belajar dan Mengajarkan Ilmu Mawaris 1. Hukum Belajar dan Mengajarkannya.
Rasulullah S.A.W. memerintahkan dan mengajarkan hukum kewarisan islam. Agar tidak terjadi perselisihan dalam membagi harta warisan, lantaran ketidakadaan ulama yang menguasaiilmu hukum waris. Sebagaimana sabdanya:
“Pelajarilah Al-Qur’an dan ajarkanlah kepada orang lain sertta pelajarilah ilmu faraidh dan ajarkanlah kepada orang lain. Sesungguhnya aku seorang yang bakal meninggal, dan ilmu inipun akan sirna hingga muncul fitnah. Bahkan akan terjaid dua orang yang akan berselisih dalam bidang pembagian (hak yang mesti ia terima), namun keduanya tidak mendapati orang yang dapat menyelesaikan perselisihan tersebut”. (HR. Ahmad, An-nasa’I dan Daruquthni). 11
10 Mardani, Hukum Kewarisan Islam di Indonesia, Jakarta : Rajagrafindo Persada, 2014, hlm 11
11 Muhammad Ali Ash-Shabuni, Pembagian Waris dslsm Islam, (Jakarta, Rajawali Pers, 2014) hlm 24
10
Perintah tersebut berisi perintah wajib. Hanya saja kewajiban belajar dan mengajarkannya itu gugur bila ada Sebagian orang yang telah melaksanakannya. Tetapi, jika tidak ada seorang pun yang mau melaksanakannya semua orang islam menanggung dosa lantaran melakukan suatu kewajiban ini. Ini berarti hukumnya menjadi fardhu kifayah. 12
2. Tujuan Mempelajari Ilmu Faraidh
Adapun tujuan mempelajari Ilmu Faraidh atau hukum waris ialah agar kita dapat menyelesaikan masalah harta peninggalan sesuai dengan ketentuan agama, jangan sampai ada yang dirugikan dan termakan bagiannya oleh ahli waris yang lain.13 Karena tidak jarang terjadi problem keluarga karena persoalan membagi waris, karena salah satu diantara keluarga itu tidak mengerti tentang pembagian waris dalama agama, sehingga kadangkala sampai terangkat kesidang pengadilan. Oleh karena itu jika diantara anggota keluarga ada yang memahami tentang hukum waris, kasus-kasus tersebut kiranya tidak sampai terangkat ke pengadilan
E. Hubungan Hukum Waris Islam dengan Hukum Waris Nasional.
Seperti yang telah diuraikan sebelumnya, hukum waris di Indonesia masih beraneka warna coraknya, dimana tiap-tiap golongan penduduk tunduk kepada hukumnya masing-masing. Hal ini mengakibatkan terjadinya perbedaan tentang arti dan makna hukum waris. Namun demikian, apabila berbicara mengenai hukum waris, maka pusat perhatian tidak terlepas dari 3 (tiga) unsur pokok yakni: adanya harta peninggalan (kekayaan) pewaris yang disebut warisan; adanya pewaris
12 Mardani, Hukum Kewarisan Islam Indonesia, (Jakarta : Rajawali Pers, 2014) hlm 24
13 Moh Muhibbin, Abdul Wahid, Hukum Kewarisan Islam Sebagai Pembaharuan Hukum Positif di Indonesia (Jakarta : Sinar Grafika 2009 hlm 10
11
yaitu orang menguasai atau memiliki harta warisan dan mengalihkan atau meneruskannya; dan adanya ahli waris, orang yang menerima pengalihan (penerusan) atau pembagian harta warisan itu.
Berikut beberapa pengertian hukum waris:
1) Menurut H Abdullah Syah dalam hukum kewarisan Islam (hukum Faraidh) pengertian hukum waris menurut istilah Bahasa ialah takdir (qadar/ketentuan, dan pada syara’ adalah bagian- bagian yang diqadarkanditentukan bagi waris. Dengan demikian faraidh adalah khusus mengenai bagian ahli waris yang telah ditentukan besar kecilnya oleh syara’14
2) Sebagaimana diketahui bersama bahwa hukum kewarisan yang berlaku adalah hukum faraidh. Hukum Faraidh menurut istilah bahasa ialah takdir/qadar/ ketentuan dan pada syara adalah bagian yang diqadarkan/ditentukan bagi ahli waris.
Ahli waris dalam hukum Islam secara garis besar dibagi menjadi tiga golongan besar, yaitu:
1) Ahli waris menurut Al-Qur’an atau yang sudah ditentukan di dalam Al-Qur’an disebut dzul faraa’idh sehingga bagian mereka selamanya tetap tertentu dan tidak berubah-ubah.
2) Ahli waris yang ditarik dari garis ayah, disebut ashabah yaitu golongan ahli waris yang mendapat bagian terbuka atau sisa.
Jadi, bagian ahli waris yang terlebih dahulu dikeluakan adalah dzul faraaidh, setelah itu sisanya diberikan kepada ashabah.
14 Abdullah Syah. 1994. Hukum Waris Ditinjau Dari Segi Hukum Islam (Fiqh), Kertas Kerja Simposium Hukum Waris Indonesia Dewasa Ini, Program Pendidikan Spesialis Notariat Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara,Medan.
12
3) Ahli waris menurut garis ibu, disebut dzul arhaam. Golongan ini baru akan mewaris jika sudah tidak ada dzul faraaidh idak ada pula ashabah.
F. Urgensi Belajar Fiqh Mawaris
Ilmu mawaris merupakan suatu cabang bagian dari ilmu fiqh yang wajib dipelajari dalam Islam, karena dengan ilmu mawaris harta peninggalan seseorang dapat disalurkan kepada yang berhak, sekaligus perselisihan karena memperebutkan bagian dari harta peninggalan tersebut, dengan ilmu mawaris ini benar-benar harus dipahami, agar dapat dilaksanakan sebagaimana mestinya.
Sebagaimana Rasulallah SAW secara khusus telah memberikan perintah khusus untuk mempelajarinya dan sekalian juga beliau mewajibkan kita untuk mengajarkannya. Karena mengajarkan itu tidak mungkin dilakukan kecuali setelah kita mengerti, maka hukum mempelajarinya harus dildahulukan. Dalilnya sebagai berikut:
اعَالاا ِنَع اَهاوُمَّلَعَو ُضِياَرَفلاا ُمَلاعَ ت َةَرا يَرُه َبََا َيَ ِالله ُلاوُسَر َلاَق ِجَر
)ِمِكاَلحاا ُهاَوَر( اسَنُا انِم ُعَزا نُ ي اَم ُلَّوَا َوُهَو ىَسانُ ي ُهَّنِاَو َمالِعالا ُفاصِن ُهَّنِاَف
Artinya: Dari A’raj radhiyallahu‘anhu bahwa Rasulallah SAW bersabda,
“Wahai Abu Hurairah, pelajarilah ilmu faraidh dan ajarkanlah. Karena dia setengah dari ilmu dan dilupakan orang. Dan dia adalah yang pertama kali akan dicabut dari umatku”. (H.R/ Al-Hakim).
Dari hadits tersebut dapat memberi jawaban salah satu alasan kenapa kita wajib mempelajari dan kemudian mengajarkan ilmu mawaris ini, karena Rasulallah SAW menyebutkan bahwa diantara
13
ajaran agama Islam yang akan dicabut pertama kali adalah ilu tentang mawaris ini. Sehingga umatnya, meski mengaku beragam Islam, namun ketika orang tuanya wafat, tidak menggunakan hukum yang telah Allah SWT tetapkan dalam pembagian waris.
14 BAB III PENUTUP A. Kesimpulan
Apabila seseorang tidak menjalankan perintah Allah, maka ia telah berbuat dosa, sebagaimana firman Allah SWT Q.S An-Nisa : 13
“(Hukum-Hukum Waris Tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barang siapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya niscahya Allah memasukannya kedalam syurga yang mengalir didalamya, dan itulah kemenangan yang besar.
1. Hukum waris dalam Islam
Hukum membagi harta waris menurut ketentuan hukum syara’
adalah wajib, namun harta warisan itu hak, dan hak itu harus diminta dan boleh untuk tidak diminta atau tidak diambil.
2. Hukum belajar dan mengajarkan Ilmu Mawaris
a. Hukum beljar dan mengajarkannya adalah fardhu kifayah.
b. Perintah tersebut berisi perintah wajib. Hanya saja kewajiban belajar dan mengajarkannya itu gugur bila ada sebagian orang yang telah melaksanakannya.
3. Tujuan mempelajari Ilmu Faraidh
Adapun tujuan mempelajari Ilmu Faraidh atau huku waris ialahagar kita dapat menyelesaikan masalah harta peninggalan sesuai dengan ketentuan agama, jangan sampai ada yang dirugikan dan termakan bagiannya oleh ahli waris lain.
15
DAFTAR PUSTAKA
Perangin, Effendi. Hukum Waris. Jakarta: Rajawali Pers, 2008.
MK, Anshary. Hukum Kewarisan Islam dalam teori dan Praktik, Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2017.
Prodjodikoro, Wirjono. Hukum Warisan Di Indonesia. Vorkink van Hoeve.
Bandung.
Ash-Shabuni, Muhammad Ali. Pembagian Waris dalam Islam. Jakarta:
Rajawali Pers, 2014.
Mardani. Hukum Kewarisan Islam Indonesia. Jakarta : Rajawali Pers, 2014.
Muhibbin, Moh. Dan Abdul Wahid. Hukum Kewarisan Islam Sebagai Pembaharuan Hukum Positif di Indonesia Jakarta : Sinar Grafika 2009.
Abdullah, Syah. “Hukum Waris Ditinjau Dari Segi Hukum Islam (Fiqh), Kertas Kerja Simposium Hukum Waris Indonesia Dewasa Ini, Program Pendidikan Spesialis Notariat Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.” Medan. 1994.