• Tidak ada hasil yang ditemukan

Makalah Instrumentasi dan Kalibrasi Vestibulometri

N/A
N/A
Wawan Setiyawan

Academic year: 2024

Membagikan "Makalah Instrumentasi dan Kalibrasi Vestibulometri "

Copied!
38
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH

INSTRUMENTASI DAN KALIBRASI VESTIBULOMETRI

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Kuliah

Mata Kuliah: Instrumentasi dan Kalibrasi Vestibulometri

Dosen Pembimbing:

dr. Brastho Bramantyo,Sp. THT-KL(K)

Disusun Oleh : WAWAN SETIYAWAN

(23005)

PRODI D3 AUDIOLOGI

AKADEMI AUDIOLOGI INDONESIA 2023

KATA PENGANTAR

(2)

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmatnya, sehingga saya dapat menyelesaikan tugas makalah ini dengan judul “instrumentasi kalibrasi

dan vestibulometri

Makalah ini disusun sebagai tugas mata kuliah instrumentasi kalibrasi dan vestibulometri.

Tidak lupa kami ucapkan terimakasih kepada dr. Brastho Bramantyo Sp. THT-KL(K).

Sebagai dosen mata kuliah pembimbing yang telah memberikan pengajaran kepada kami selama ini dan memberikan kami dorongan serta semangat kuliah pada kami serta semangat

kuliah pada kami semua.

Saya sebagai penulis menyadari bahwa penyusunan makalah ini masih jauh dari sempurna oleh karena itu saya mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua

pihak guna perbaikan dan kelengkapan penyusunan makalah ini. Harapan saya semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Jakarta, 16 Februari 2024

Penulis

DAFTAR ISI

(3)

KATA PENGANTAR...2

BAB I...4

PENDAHULUAN...4

Latar Belakang...4

Rumusan Masalah...4

Tujuan Penulis...5

Manfaat Penulisan...5

BAB II...6

ISI...6

Anatomi dan Fisiologi Keseimbangan...6

Sistem Keseimbangan...6

Anatomi Keseimbangan...8

Sistem Vestibular...8

Sistem Visual...10

SISTEM PROPRIOSEPTIF DAN SOMATOSENSORI...11

Fisiologi Sistem Keseimbangan...13

Jenis-Jenis Gangguan Keseimbangan...14

Gangguan pada Sistem Vestibular Sentral...14

Gangguan pada Sistem Vestibular Perifer...14

Gangguan pada Sistem Visual...15

Gangguan pada Sistem Proprioseptif...16

Anamnesis dan Pemeriksaan Gangguan Keseimbangan...17

Pemeriksaan Gangguan Keseimbangan...20

Kalibrasi Vestibulometri...22

Elektronistagmografi (ENG)...24

BAB III...32

PENUTUP...32

Simpulan...32

DAFTAR PUSTAKA...33

(4)

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

Instrumentasi adalah alat-alat yang dipaki untuk pengukuran dan pengendalian dalam suatu system yang lebih besar dan lebih kompleks . Instrumentasi juga dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang pengukuran dan sistem kontrol yang diprogram untuk dapat memenuhi kebutuhan tertentu dan dapat memmberikan hasil yang presisi atau

akurat.instrumentasi bisa berarti alat untuk menghasilkan efek suara, tetapi secara umum instrumentasi mempunyai beberapa fungsi utama

 Sebagai alat pengukuran

 Sebagaisebagai alat analisis

 Sebagai alat kendali

 Sebagai alat perekam/recorder terhadap suatu peralatan (dalam hal ini disebut juga sebagai data trend).

Kalibrasi merupakan proses verifikasi bahwa suatu akurasi alat ukur sesuai dengan rancangannya. Kalibrasi biasa dilakukan dengan membandingkan suatu standar yang terhubunng dengan standar nasional maupun internasional dan bahan-bahan acuan tersertikasi.tujuan kalibrasi adalah untuk mencapai ketertelusuran pengukuran. Manfaat kalibrasi adalah sebagai berikut :

 Untuk mendukung system mutu yang diterapkan diberbagai industry pada eralatan laboratorium dan produksi yang dimiliki

 Dengan melakukan kalibrasi, dapat diketahui seberapa jauh perbedaan

(penyimpangan) antara harga enar dengan harga yang ditunjukkan oleh alat ukur.

Vestibulometri adalah pemeriksaan gangguan keseimbangan yang dapat menentukan jenis gangguan keseimbangan,apakah pada alat vestibuler di telinga bagian dalam (PERIFER) ataukah pada susunan saraf pusat (SENTRAL).

Keseimbangan adalah keadaan suatu objek Ketika besar gaya atau momentum yang diterima benda tersebut adalah nol. Menurut Mukholid keseimbangan adalah kemampuan

mempertahankan sikap tubuh yang tepat pada saat melakukan Gerakan. Keseimbanngan meruapakan hasil koordinasi yang kompleks dari system somatosensorik (visual, vestibuler, proprioseptif) dan motorik (musculoskeletal) yang kemudian diolah oleh otak untuk

menentukan reson atau pengaruh internal dan eksternal tubuh.

gangguan keseimbangan adalah suatu kondisi yang tidak stabil saat berdiri atau berjalan . Gangguan keseimbangan merupakan salah satu gangguan yang serimg kita jumpai dan dapat mengenai segalaa usia.gangguan keseimbangan dapat menyebabkan menurunnya kualitas hidup akibat ketidakmampuan diri untuk melakukan kegiatan sehari-hari dengan baik.

(5)

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas dapat dirumuskan masalah sebagai berikut : 1. Bagaimana anatomi dan fisiologi sistem keseimbangan?

2. Apa saja jenis-jenis gangguan keseimbangan 3. Apa yang dimaksud dengan kalibrasi

Tujuan Penulis

Berdasarkan rumusan masalah di atas didapatkan tujuan penulisan sebagai berikut:

1. Mengetahui anatomi dan fisiologi sitem keseimbangan 2. Mengetahui jenis-jenis gangguan keseimbangan 3. Mengetahui tentang kalibrasi

Manfaat Penulisan

Adapun manfaat dari penulisan makalah ini adalah sebagi berikut:

1. Bagi penulis agar dapat menambah wawasan dan mampu memahami serta memberikan penjelasan mengenai instrumentasi dan kalibrasi vestibulometri, sehingga dapat menyelesaikan tugas pembuatan makalah dengan baik.

2. Bagi pembaca agar dapat menambah wawasan mengenai instrumentasi dan kalibrasi vestibulometri. Dan juga diharapkan dapat memberikan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk lebih menyempurnakan makalah ini.

(6)

BAB II ISI Anatomi dan Fisiologi Keseimbangan Sistem Keseimbangan

Keseimbangan adalah sebuah konsep. Dari sudut pandang mekanis, keseimbangan berarti mempertahankan pusat massa tubuh terhadap bidang tumpu (area yang menutupi kaki). Dari sudut pandang neurofisiologis, keseimbangan adalah interaksi informasi sensorik antara sistem vestibular, somatosensori, dan visual yang menunjukkan seberapa jauh seseorang dari keseimbangan dan sistem saraf pusat yang memberi perintah gerakan untuk menjaga kestabilan. Secara garis besar keseimbangan dapat diartikan sebagai kemampuan untuk mengontrol pusat massa tubuh atau pusat gravitasi terhadap titik atau bidang tumpu dan dapat diasumsikan sebagai sekelompok refleks yang memicu pusat keseimbangan yang terdapat pada visual, vestibular, dan somatosensori.

Ada dua macam keseimbangan, yaitu keseimbangan statis dan keseimbangan dinamis : 1. Keseimbangan statis adalah kemampuan untuk mempertahankan posisi tubuh dimana

center of Gravity (COG) tidak berubah. Contoh keseimbangan statis saat berdiri dengan satu kaki, menggunakan papan keseimbangan. Organ statis adalah utriculus dan sakulus yang direseptori oleh Makula. Utriculus dan saulus berfungsi memberikan respons terhadap perubahan kedudukan kepala ( miring, tegak atau terjungkir). Pada dasar utriculus terdapat macula atau organ otolith, yaitu suatu organ yang mengandung sel rambut dan sel penyangga ditutupi oleh suatu membran yang pada permukaannya tertanam kristal-kristal kalsium karbonat atau otolith. Pada sakulus, macula terdapat pada dinding sakulus pada kemiringan 30 derajat dari bidang vertikal.

2. Keseimbangan dinamis adalah kemampuan untuk mempertahankan posisi tubuh dimana (COG) selalu berubah, contoh saat berjalan. Organ dinamis adalah kanalis semisirkularis (saluran setengah lingkaran) yang direseptori oleh kupula. Kanalis semiskularis terletak pada telinga bagian dalam, saluran setengah lingkaran adalah tiga tabung sangat kecil yang tugasnya terutama mengukur keseimbangan dan merasakan posisi kepala. terdiri dari 3 buah saluran setengah lingkaran yang tersusun menjadi satu kesatuan dengan posisi yang berlainan,yaitu:

 Kanalis semisirkularis horizontal (Lateral)

(7)

Mempunyai sudut sekitar 30 derajat terhadap bidang horizontal, itula sebabnya kadang-kadang disebut kanal “horizontal”.kanalis semisirkularis horizontal adalah yang terpendek dari ketiganya.

 Kanalis semisirkularis vertikal (Interior – Posterior)

Kanalis semisirkularis vertikal terfokus pada bidang frontal, yanag membagi sisi depan dan belakang tubuh secara vertikal.

 Kanalis semisirkularis vertikal (Anterior – superior)

Kanalis semisirkularis vertikal di posisikan secara vertikal sedemikian rupa sehingga memisahkan bagian petrous dari tulang temporal (tulang berbentuk piramida anata tulang sphenoid dan oksipital dibagian belakang tengkorak) Masing-masing kanalis semisirkularis berisi cairan endolimfe dan pada salah satu ujungnya yang membesar disebut ampula. Ampula adalah area yang melebar diujung setiap kanalis semisirkularis, dan masing masing berisi crista ampularis dan cupola, suatu struktur yang berhubungan dengan sensi keseimbangan. Ampula berisi reseptor keseimbangan yang disebut krista. Masing masing krista terdiri dari sel-sel bersilia dan sel-sel penyangga yang keseluruhannya ditutupi oleh suatu selaput yang disebut kupula. Karena kelembamnnya, maka endolimfe yang terdapat di dalam kanalis semisirkularis akan bergerak kearah yang berlawanan Dengan arah putaran. Aliran endolimfe akan mendorong cupula melengkung silia-silia dari sel-sel rambut, dengan demikian maka sel bersilia tersebut terangsang dan mengubahnya menjadi implus sensori yang untuk selanjutnya ditransmisikan ke pusat keseimbangan di otak. Kanalis semisirkularis merupakan organ keseimbangan dinamis yaitu memberikan respons terhadap pemutaran tubuh.

Ada beberapa faktor yang memengaruhi keseimbangan:

1. Pusat gravitasi (center of gravity/cog)

Pusat gravitasi terdapat pada semua objek, pada benda pusat gravitasi terletak tepat di tengah benda tersebut. Pusat gravitasi adalah titik utama pada tubuh yang akan mendistribusikan massa tubuh secara merata. Bila tubuh selalu ditopang oleh titik ini, maka tubuh dalam keadaan seimbang. Pada manusia, pusat gravitasi berpindah sesuai dengan arah atau perubahan berat. Pusat gravitasi manusia ketika berdiri tegak adalah tepat di atas pinggang di antara depan dan belakang vertebra sakrum ke dua. Derajat stabilitas tubuh dipengaruhi oleh empat faktor, yaitu ketinggian dari titik pusat gravitasi dengan bidang tumpu, ukuran bidang tumpu, lokasi garis gravitasi dengan bidang tumpu, serta berat badan.

(8)

2. Garis gravitasi (line of gravity/log)

Garis gravitasi merupakan garis imajiner yang berada vertikal melalui pusat gravitasi dengan pusat bumi. Hubungan antara garis gravitasi dan pusat gravitasi dengan bidang tumpu adalah menentukan derajat stabilitas tubuh.

3. Bidang tumpu (base of support/bos)

Bidang tumpu merupakan bagian dari tubuh yang berhubungan dengan permukaan tumpuan. Ketika garis gravitasi tepat berada di bidang tumpu, tubuh dalam keadaan seimbang. Stabilitas yang baik terbentuk dari luasnya area bidang tumpu. Semakin besar bidang tumpu, semakin tinggi stabilitas. Misalnya, berdiri dengan kedua kaki akan lebih stabil dibanding berdiri dengan satu kaki. Semakin dekat bidang tumpu dengan pusat gravitasi, maka stabilitas tubuh makin tinggi.

Anatomi Keseimbangan Sistem Vestibular

Gambar : anatomi vestibular

Sistem vestibular adalah

organi- sensorik yang

kompleks.

(9)

zation yang melibatkan komunikasi antara

aparatus vestibular perifer, sistem okular, pos-

otot tural, batang otak, otak kecil dan korteks.

Struktur kecil di telinga bagian dalam membentuk vestibu-

peralatan lar dan mendeteksi gerakan kepala dan gravitasi

n, JFK Johnson Institute

Rehabilitasi, 65 James Street, Edison, NJ 08818, AS. Telepon.: +1

732 321 7000; Surel:

[email protected].

kekuatan pada tubuh.

Informasi ini diproses oleh

pusat vestibular di otak untuk

memungkinkan tubuh untuk:

(10)

menjaga keseimbangan dan orientasi spasial yang tepat selama

gerakan, serta pemrosesan visual yang b

Sistem vestibular terlibat dalam menjaga keseimbangan dan orientasi dalam ruang dengan merasakan gerakan kepala dan mengoordinasikan gerakan mata dan postural.

Reseptor pada sistem vestibular meliputi kanalis semisirkularis (kss), utrikulus, serta sakulus.

Reseptor dari sistem sensoris ini disebut dengan sistem labyrinthine. Sistem labyrinthine mendeteksi perubahan posisi kepala dan percepatan perubahan sudut. Melalui refleks vestibulo-occular, mereka mengontrol gerak mata, terutama ketika melihat objek yang bergerak. Mereka meneruskan pesan melalui saraf kranialis VIII ke nukleus vestibular yang berlokasi di batang otak. Beberapa stimulus tidak menuju nukleus vestibular tetapi ke serebelum, formatio retikularis, thalamus, dan korteks serebri. Berdasarkan [ CITATION Fir19 \l 1057 ] dijelaskan bahwa “Sistem vestibular secara anatomi dibagi menjadi sistem vestibular sentral dan perifer. Sistem vestibular sentral terdiri dari nukleus vestibularis di batang otak, serebelum/otak kecil, talamus, dan korteks serebri. Sedangkan sistem vestibular perifer terdiri dari organ vestibular, ganglion vestibularis, dan nervus vestibularis.”

Sistem vestibular perifer terdiri dari labirin tulang dan labirin membran yang terletak di os petrosus (bagian dari os temporal). Labirin membran terdiri dari labirin statis dan labirin kinetik. Labirin statis mendeteksi pergerakan linier dan labirin kinetik mendeteksi pergerakan anguler.

1. Labirin statis

Yang termasuk labirin statis adalah utrikulus dan sakulus yang merupakan pelebaran labirin membran yang terdapat dalam vestibulum labirin tulang. Sel-sel reseptor pada utrikulus dan sakulus disebut makula, pada permukaan makula terdapat membran gelatinosa yang yang ditembus oleh silia dan pada lapisan ini terdapat pula otolit yang mengandung kalsium dan dengan berat jenis yang lebih besar daripada endolimfa.

(11)

Karena pengaruh gravitasi, maka gaya dari otolit akan membengkokkan silia sel-sel rambut dan menimbulkan rangsangan pada reseptor.

2. Labirin kinetik

Yang termasuk labirin kinetik adalah kanalis semisirkularis (kss). Dalam setiap aparatus vestibularis terdapat tiga buah kanalis semisirkularis, yaitu kss vertikal-anterior, vertikal- posterior, dan lateral (horizontal), di mana pada tiap ujung kanalis terdapat pelebaran yang berhubungan dengan utrikulus, disebut ampula. Di dalamnya terdapat krista ampularis yang terdiri dari sel-sel reseptor keseimbangan dan ditutupi substansi gelatin (kupula). Pada kss, orientasi dari sel rambut bervariasi. Kss horizontal merespons pergerakan kepala secara horizontal dan kss vertikal merespons pergerakan kepala secara vertikal. Contohnya bila kepala menengok ke kanan maka endolimfa di kanal horizontal bagian kanan akan bergerak ke arah ampula, sedangkan endolimfa di kanal kiri akan bergerak menjauhi ampula. Hal ini menyebabkan posisi stereosilia kanal kanan mendekati kinosilia sehingga timbul respons eksitasi, sedangkan posisi stereosilia kanal kiri akan menjauhi kinosilianya sehingga timbul respons inhibisi. Pada kanal anterior dan posterior, endolimfa yang mengalir ke ampula menyebabkan stereosilia menjauhi kinosilia dan menghasilkan respons inhibisi. Ketiga kss tersusun tegak lurus satu dengan yang lain, sehingga terdapat dalam tiga bidang. Bila kepala menunduk sekitar 30 derajat ke depan, kss lateral akan berada pada bidang horizontal sesuai permukaan bumi.

Kanalis anterior ada pada bidang vertikal yang arah proyeksinya ke depan dan 45 derajat ke arah luar, dan kanalis posterior akan berada pada bidang vertikal yang berproyeksi ke belakang dan 45 derajat ke luar. Fungsi kerja kss akan paling maksimal bila terletak pada sudut 0 derajat pada bidang horizontal dan vertikal.

Sistem Visual

Sistem visual memiliki fungsi dan peranan yang sangat penting dalam mendukung kemampuan penglihatan seseorang. Sistem visual memiliki tangguang jawab untuk

menjalankan serangkaian fungsi penglihatan yang kompleks. Berikut ini fungsi penglihatan yang penting yang dimiliki oleh sistem visual seperti :

 Penerima Cahaya

 Penglihatan warna

 Menganalisis jarak ke objek dan antara dua target

 Mengidentifikasi objek tertentu yang menarik

 Persepsi gerak

(12)

 Penilaian dan pengumpulan informasi visual

 Mengenali pola

 Koordinasi motoric yang akurat dibawah panduan visual yang tepat.

Sistem visual merasakan arah dan kecepatan gerakan kepala dalam kaitannya dengan dunia sekitar. Ini juga menjaga gambar tetap stabil saat kepala bergerak.

Gambar : sistem visual

Vestibulo-Ocular Reflex (VOR) merupakan salah satu refleks keseimbangan vestibular perifer yang berfungsi menjaga stabilitas visual saat bergerak sehingga VOR dapat menggambarkan keadaan vestibular perifer pada seseorang. Tanpa VOR, saat berjalan di jalan, tidak mungkin membaca tanda atau bahkan mengenali wajah. Bahkan VOR yang tidak akurat dapat menyebabkan gambar visual tergelincir sehubungan dengan fotoreseptor, mengaburkan gambar. Kepala yang digerakkan secara tiba-tiba maka secara refleks bola mata akan bergerak ke arah yang berlawanan dan bayangan objeknya akan stabil di retina. Refleks vestibulo-okular memerlukan tiga bagian reseptor sensorik, mekanisme proses pada daerah sentral, dan motoric output. Otolit merupakan bagian dari telinga dalam yang sensitif terhadap gerakan linier sehingga dapat mendeteksi gravitasi ketika terjadi gerakan translasi.

VOR memberikan keseimbangan ketika terjadi gerakan pada mata dan kepala dengan cara tetap menstabilkan bayangan pada retina. Kss mendeteksi gerakan rotasi karena sensitif dengan akselerasi anguler. Pergerakan kepala menyebabkan pergerakan endolimfa yang dideteksi oleh silia. Perubahan dari gerakan menjadi impuls saraf diawali dari sepasang kanal

(13)

semisirkular. Horizontal kanal berpasangan dan kanal anterior berpasangan dengan kanal posterior pada sisi kontralateral. Saraf ini terstimulasi karena pergerakan kepala dan sisi kontralateral akan terinhibisi.

SISTEM PROPRIOSEPTIF DAN SOMATOSENSORI

Gambar 3 Sistem Proprioseptif

Sistem somatosensorik adalah suatu sistem indra yang mendeteksi pengalaman yang disebut sentuhan atau tekanan, suhu (hangat/dingin), sakit (gatal dan geli) termasuk juga propriosepsi (sensasi pergerakan otot) serta posisi persendian seperti postur, pergerakan, visera, dan ekspresi wajah. Sistem somatosensoris terdiri dari taktil serta persepsi-kognitif.

Tujuannya adalah untuk memberikan informasi pada susunan saraf pusat tentang keadaan di sekitar tubuh (licin, berair, dsb). Cara kerja somatosensori atau proses perabaan dimulai dari masuknya stimulus mengenai kulit, kemudian diterima oleh reseptor-reseptor dan berproses menjadi sinyal-sinyal neuron melalaui serabut-serabut saraf yang akan membawa informasi

(14)

dari reseptor-reseptor kulit dan reseptor somatosensori lainnya berkumpul di saraf dan akan diteruskan ke sumsum tulang belakang melalui dorsal roots (akar dorsal) [ CITATION Fac22 \l 1057 ].

Sedangkan, sistem proprioseptif adalah sistem yang memproses informasi dari otot dan sendi tubuh manusia sehingga individu paham di mana letak tubuh dan gerak tubuhnya, seperti ketika berjalan. Fungsi utama proprioseptif sebagai mekanoreseptor, memberi informasi tentang posisi tubuh terhadap sekitar dan titik tumpu beban sepanjang waktu.

Sistem proprioseptif terdapat pada serabut otot, tendon, dan ligamen yang memungkinkan seseorang secara benar mengetahui posisi dan gerakan tubuh.

Pada sistem somatosensori, khususnya sistem proprioseptif terdapat dua refleks yaitu refkleks vestibulo-spinal dan vestibulocollic reflex. Fungsi utama dari sistem vestibulo-spinal dan sistem sensorimotor adalah mencegah supaya tubuh tidak jatuh. Dalam mengatur posisi tubuh, harus dipertahankan pusat gaya berat tubuh yang berada di pelvis yang disokong oleh kedua kaki. Refleks vestibulospinal menghasilkan mekanisme mendorong dan menarik antara otot-otot ekstensor di satu sisi dan otot-otot fleksor di sisi yang lain dengan mekanisme yang serupa dengan kontraksi otot-otot ekstra-okuli dalam refleks vestibulo-okular. Organ efektor dalam refleks vestibulospinalis adalah otot-otot anti gravitas yaitu seperti otot-otot di leher, trunkus, dan ekstremitas inferior. Sedangkan, vestibulcollic reflex berfungsi untuk mempertahankan atau menstabilkan kepala melalui propioseptor di leher. Otot-otot leher yang kaku dapat merangsang utrikulus dan sakulus.

Fisiologi Sistem Keseimbangan

(15)

Gambar Fisiologi Keseimbangan

Dalam mekanisme fisiologi, mulai terjadinya keseimbangan yaitu saat reseptor visual memberikan masukan tentang posisi kepala dan orientasi mata pada hubungan tubuh dengan lingkungan sekitar. Sistem saraf pusat menerima informasi dari organ vestibular tetang gerakan dan posisi kepala hingga pandangan mata melalui reseptor makula dan krista yang ada di dalam telinga. Reseptor yang ada di otot, ligamentum, sendi, tendon, dan kulit dapat menerima rangsang propioseptif dengan posisi tubuh terhadap kondisi tubuh di sekitarnya dan posisi di antara segmen-segmen tubuh.

Semua input sensoris dan rangsangan yang diterima dan akan disalurkan ke nukleus vestibularis yang berada di batang otak, sehingga dapat terjadi pemrosesan pada koordinasi di serebelum, dan dari serebelum informasi yang didapat disalurkan kembali pada nukleus vestibularis. Karena hal tersebut terjadilah output ke badan dan neuron motorik otot ekstremitas yang dapat memelihara keseimbangan dan postur yang diinginkan, output ke motorik otot mata eksternal adalah gerakan pada mata dan output ke sistem saraf pusat yang merupakan persepsi gerakan dan orientasi. Dengan terjadinya mekanisme tersebut jika dapat berlangsung dengan optimal dapat menghasilkan keseimbangan yang normal.

Secara singkat, keseimbangan dan orientasi tubuh seseorang terhadap lingkungannya di sekitar tergantung pada input sensori dari sistem vestibular, sistem visual, sistem proprioseptif, dan sistem somatosensore. Keempat sistem itu saling bekerja sama memberikan informasi, sebelum menuju ke otak, informasi terlebih dahulu dikoordinasi di korteks serebri kemudian diadaptasi sehingga dikoreksi dan diterjemahkan oleh serebelum menuju sistem saraf pusat dan timbullah refleks-refleks yaitu Vestibulo-Ocular Reflex (VOR), Vestibulo-Spinal Reflex (VSR), dan vestibulocollic reflex (VCR).

Jenis-Jenis Gangguan Keseimbangan

Penyakit yang menyebabkan gangguan keseimbangan dapat dibagi menurut lokasi anatominya. Dari semua gangguan keseimbangan yang terjadi, sebagian besar (80%) kasus terjadi pada daerah perifer yaitu organ vestibular dan 20% pada daerah sentral (pusat/otak):

Gangguan pada Sistem Vestibular Sentral

1. Pada nukleus vestibularis sampai batang otak dapat terjadi TIA (Transient Ischemic Attack) atau stroke vestibrobasilaris, tumor, trauma, migren basilaris, multipel sklerosis (degeneratif).

(16)

2. Pada serebelum dapat terjadi stroke, tumor, kelainan degeneratif.

3. Pada otak (korteks serebri) dapat terjadi epilepsi, kelainan degeneratif Gangguan pada Sistem Vestibular Perifer

1. BPPV (Benign Paroxysmal Positional Vertigo)/vertigo posisi paroksismal jinak

Benigne Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV) merupakan gangguan keseimbangan yang tersering dijumpai di tengah masyarakat. BPPV didefinisikan sebagai vertigo yang ditimbulkan/diprovokasi oleh gerakan kepala yang mendadak (biasanya dalam keadaan menggantung), disertai adanya nistagmus vestibular ke arah telinga yang sakit. Istilah

positional” menunjukkan adanya hubungan antara keluhan pusing berputar (vertigo) dengan gerakan kepala dengan gravitasi. Istilah “paroxysmal” menggambarkan terjadinya gangguan tersebut yang berlangsung episodik. Istilah “benigne” digunakan untuk membedakan gangguan ini dengan vertigo yang yang disebabkan oleh keganasan pada daerah intrakranial. Penyakit ini disebabkan oleh otolit (debris kalsium karbonat) yang terdapat di utrikulus organ vestibular jatuh ke kanalis semisirkularis organ vestibular (di telinga dalam), sehingga kalau penderita menggerakan kepala akan merasa vertigo (pusing berputar). Pada dasarnya terdapat dua subtipe dari BPPV yang dibedakan oleh kanalis semisirkularis yang terlibat yaitu otokonia terpisah dan mengambang bebas dalam kanal (canalithiasis) atau yang melekat pada kupula (cupulolithiasis) [ CITATION Thr16

\l 1057 ]. Pada cupulolithiasis, selama kepala berada pada posisi yang dipengaruhi oleh gaya gravitasi, maka vertigo akan terus menetap. BPPV dapat terjadi pada orang dewasa, yang tersering pada usia menengah dan akan meningkat risikonya sesuai dengan meningkatnya usia. Jarang terjadi pada anak-anak, usia yang termuda yang dijumpai pada usia 11 tahun.

Gejala klinis berupa keluhan pusing berputar yang terjadi bila penderita menggerakan posisi kepala. Sering disertai gejala otonom seperti mual, muntah, berdebar-debar, berkeringat dingin,dan rasa cemas. Kadang-kadang terjadi keluhan telinga berbunyai (tinitus). Diagnosis BPPV dapat dilakukan dengan melakukan tindakan provokasi dan menilai timbulnya nistagmus pada posisi tersebut. Dikenal tiga perasat untuk memprovokasi timbulnya nistagmus yaitu perasat dix-hallpike, perasat side lying, dan perasat roll. Dix-hallpike adalah perasat yang paling sering digunakan karena pada perasat ini posisi kepala sangat sempurna untuk canalith repositioning treatment. Side lying digunakan untuk menilai BPPV pada kanal posterior dan anterior. Perasat roll untuk menilai vertigo yang melibatkan kanal horizontal.

(17)

2. Meniere disease

Penyakit Meniere adalah gangguan pada telinga bagian dalam yang dapat menyebabkan pusing (vertigo) dan gangguan pendengaran. Dalam kebanyakan kasus, penyakit Meniere hanya mempengaruhi satu telinga. Penyakit Meniere dapat terjadi pada semua usia, tetapi biasanya dimulai antara usia dewasa muda dan paruh baya. Ini dianggap sebagai kondisi kronis, tetapi berbagai perawatan dapat membantu meringankan gejala dan meminimalkan dampak jangka panjang. Penyebabnya karena adanya hidrops endolimfatik. Gejalanya dapat berupa vertigo, tinitus, telinga terasa penuh, dan gangguan pendengaran fluktuatif dapat diketahui dengan gliserol.

3. Infeksi (seperti neuritis vestibular, OMSK/Otitis Media Supuratif Kronis) 4. Ototoksik: riwayat konsumsi obat yang meracuni telinga dalam

5. Oklusi a. labirin (penyumbatan vaskuler/pembuluh darah) 6. Trauma.

7. Tumor (neuroma akustik)

8. Kelainan degeneratif (misalnya presbiastasia)

Gangguan pada Sistem Visual

a. Miopi: Penderita tidak dapat melihat objek yang jauh dari mata dengan jelas.

Keluhan yang dirasakan adalah mata kabur untuk melihat jauh (rabun jauh), pusing, mata cepat lelah, berair.

b. Hipermetropi: Penderita kesulitan melihat objek dari dekat. Penderita rabun dekat memiliki kornea datar ataupun bola mata yang terlalu pendek. Keluhan yang sering adalah sakit kepala, cepat lelah bila membaca, dan berair.

c. Astigmatisma: Pada penderita penyakit mata astigmatisme, lensa mata atau kornea memiliki lekukan yang tidak beraturan. Hal ini memengaruhi cahaya yang masuk ke retina mata sehingga pandangan menjadi kabur atau terdistorsi.

Keluhan yang biasa dirasakan yaitu cepat lelah, jika melihat dekat atau jauh pandangan kabur, berbayang, pusing.

d. Presbiopi : masalah fokus mata yang terjadi pada orang lanjut usia. Lensa mata sudah tidak lagi lentur sehingga tidak lagi mampu untuk cepat fokus pada objek yang dekat. Akhirnya, penglihatan pun menjadi tidak jelas (rabun).

(18)

Gangguan pada Sistem Proprioseptif

a. Gangguan motorik sensorik, penderita Parkinson, strok, asam urat, rematik, lemah tungkai, spastisitas, rigiditas, ataksia, artritis sendi.

b. Gangguan muskulokeletal: gangguan berjalan (gait), faktor murni terjadinya jatuh pada lansia.

c. Katapleksi: kesadaran baik, hilangnya tonus otot ekstremitas secara tiba tiba, tidak dapat berdiri sama sekali, dan mendadak jatuh

d. Kriptigenik: cenderung mudah jatuh ke depan, kesadaran baik, tidak ada rasa pusing, tiba-tiba tungkai lemas.

e. Penurunan kekuatan otot karena penurunan massa otot (atrofi) terutama otot-otot ekstremitas bawah menjadikan kelambanan bergerak, langkah pendek-pendek, penurunan irama, kaki tidak kuat menapak dan cenderung goyang, sulit mengantisipasi saat tersandung atau terpeleset.

f. Neuropati perifer: kelemahan motorik, terlambatnya reaksi koreksi postural g. Mielopati: gangguan pada medulla spinalis dan gangguan vestibulospinal lambat

koreksi postural.

Anamnesis dan Pemeriksaan Gangguan Keseimbangan

Sebelum pasien menjalani prosedur anamnesis dengan pemeriksa, pasien menjalani pemeriksaan fisik umum terlebih dahulu. Kondisi pasien saat diperiksa menunjukkan hasil sebagai berikut; tinggi dan berat badan pasien adalah 160 cm dan 80 kg, frekuensi nadi 100 kali/menit, pernafasan 18 kali/menit, suhu tubuh pasien 36.6ºC.terdapat juga persiapan- persiapan sebelum melakukan pemeriksaan keseimbangan seperti:

1. Persiapan alat dan ruangan:

- Ruang pemeriksaan cukup luas, sejuk, bersih dan terdapat piting/stop kontak.

- Kursi yang nyaman untuk pasien.

- Kasur untuk pemeriksaan posisi.

- AC ruang pemeriksaan harus dipastikan tidak langsung mengarah pada pasien, hal ini untuk menghindari agar mata pasien tidak cepat kering/lelah karena terkena angin dari AC - Kacamata frenzel dan TV monitor untuk melihat nistagmus pada pemeriksaan posisi - Ada telepon seluler yang berfungsi dengan baik. Hal ini sangat dipelukan untuk meminta bantuan jika dalam kondisi darurat, misalnya pasien mual muntah sampai pingsan.

(19)

- Siapkan oksigen bila pasien pingsan.

- Siapkan tempat muntahan untuk pasien jika tiba-tiba mual.

2. Persiapan pasien:

- Pasien cukup istirahat

- Pasien tidak mengonsumsi obat pereda vertigo

- Pasien tidak memiliki riwayat cedera leher dan punggung - Pasien mampu mengikuti instruksi dengan baik

- Pasien diharapkan berpuasa 2 jam sebelum pemeriksaan - Pasien tidak dalam pengaruh alkohol

Sebagai langkah awal dalam melakukan pemeriksaan, perlu dilakukan anamnesis secara cermat dan detail. Tidak jarang kata-kata atau keluhan yang disampaikan oleh pasien untuk menyatakan vertigo atau gangguan keseimbangan lainnya itu bermacam-macam. Ada dua hal yang perlu kita ketahui, yaitu vertigo dan nistagmus.

a. Vertigo adalah rasa gerakan (sirkular atau linier) atau gerakan sebenarnya (unsteadiness, attaxia) dari tubuh atau lingkungan sekitarnya diikuti atau tanpa diikuti dengan gejala dari organ yang berada dibawah pengaruh saraf otonom dan mata (nistagmus). Vertigo dapat menunjukan gejala mandiri tanpa gejala lain yang menunjukan keluhan subjektif dalam bentuk rasa berputar dari tubuh, kepala, serta lingkungan sekitarnya. Sindroma vertigo biasanya terdiri dari gejala vertigo, mual, muntah, nistagmus, dan unsteadiness.

b. Dalam KBBI, nistagmus berarti 1) gerakan bola mata yang cepat tanpa disengaja (di luar kemampuan), 2) gerak taksadar ritmis bola mata, dapat bersifat horizontal, rotator, atau vertikal. Jadi, dapat disimpulkan nistagmus adalah gerak bola mata kian kemari yang terdiri dari dua fase, yaitu fase lambat dan fase cepat. Fase lambat merupakan reaksi sistem vestibular terhadap rangsangan, sedangkan fase cepat adalah reaksi kompensasinya.

Nistagmus merupakan parameter akurat menentukan aktivitas sistem vestibular.

Nistagmus dan vertigo adalah gejala yang berasal dari satu sumber, namun nistagmus dan vertigo tidak selalu timbul bersamaan. Dalam keadaan terlatih baik, vertigo bisa tidak dirasakan, meskipun nistagmus ada. Pada kelainan vestibular perifer, gejala vertigo dapat dihilangkan dengan latihan yang baik. Nistagmus terdiri dari nistagmus horizontal, vertikal, dan rotator.

Pada saat anamnesis pemeriksa harus dapat menentukan letak gangguan yang dialami oleh pasien apakah itu gangguan vestibular atau non-vestibular, jika pasien mengalami gangguan vestibular pemeriksa harus dapat membedakan pasien mengalami gangguan vestibular sentral atau gangguan vestibular perifer dan jika pasien mengalami gangguan

(20)

vestibular perifer pemeriksa harus dapat membedakan pasien mengalami gangguan vestibular perifer posisional atau non-posisional.

Hal-hal yang dapat kita tanyakan kepada pasien:

1. Identitas lengkap pasien: nama, alamat, usia, dan pekerjaan 2. Apa yang menjadi keluhannya, seperti:

a. pusing berputar tujuh keliling/vertigo, mumet/nyut-nyutan, sempoyongan, rasa melayang/ringan

b. mudah jatuh, jalan harus berpegangan/perlu bantuan, saat jalan kaki lemas c. penglihatan buram, pusing melihat keramaian

d. sejak kapan dan berapa lama (onset)

e. riwayat penyakit lain yang menyertai (hipertensi, hipotensi, diabetes, asam urat, reumatik, dan osteoporosis)

f. gejala otonom: berdebar, keringat dingin, mual, muntah, cemas sampai takut

Berikut adalah tabel mengenai gejala klinis untuk menentukan gangguan pada sistem vestibular atau non vestibular. Ketika gangguan terjadi pada sistem vestibular, perlu diketahui juga terjadi pada sistem vestibular sentral atau sistem vestibular perifer.

Gejala Vestibular Non Vestibular

sifat vertigo rasa berputar (true vertigo) melayang, goyang, kepala enteng

sifat serangan Episodik menetap

gejala otonom Ada tidak ada

gangguan pendengaran ada / tidak ada tidak ada

gerakan pencetus gerakan kepala gerakan objek visual

situasi pencetus tidak ada situasi ramai

Tabel 1 Perbedaan Klinis Vertigo Vestibular dengan Vertigo Non Vestibular

Gejala Perifer Sentral

sifat serangan Mendadak lebih

bertahap/perlahan

intensitas vertigo Berat Ringan

pengaruh gerakan kepala (+) (-)

gejala otonom (++) (+-)

(21)

Gangguan pendengaran,

tinitus (+) (-)

gejela fokal otak (defisit

neurologis) (-) (+)

Pemeriksaan Perasat Dix-Hallpike, Side lying, Supine roll

Tes Koordinasi, HSN, HIT, DVA

Tabel 2 Perbedaan klinis vertigo perifer dengan vertigo sentral

Setelah pemeriksa selesai melakukan anamnesis, pasien diminta untuk mengisi kuisioner Dizziness Handicap Inventory (sebagai pemeriksaan subjektif). DHI memiliki 25 item dengan 3 tingkat respon, yang dikelompokkan menjadi tiga domain: fungsional (9 pertanyaan), emosional (9 respons), dan fisik (7 pertanyaan). Kuisioner ini hanya membutuhkan waktu 5-10 menit untuk diselesaikan dan dinilai, dan tidak memerlukan pelatihan khusus untuk mengelolanya.

(22)

Gambar Dizziness Handicap Inventory

Pemeriksaan Gangguan Keseimbangan

Gans Sensory Organization Performance (SOP) Test/Tes SOP Gans adalah alat klinis sederhana, yang memberi pemeriksa metode penilaian fungsi keseimbangan yang mudah diberikan dan hemat biaya, yang sensitif terhadap gangguan vestibular. Tes gans SOP dapat digunakan untuk tujuan skrining, sebagai bagian dari pemeriksaan diagnostik, atau sebagai ukuran hasil pasca perawatan.

(23)

1. Uji Romberg Mata Terbuka

Pasien diminta berdiri tanpa alas kaki, kedua kaki dirapatkan, tangan dilipat di depan dada, mata terbuka dan pandangan lurus ke depan selama 20-30 detik.

2. Uji Romberg Mata Tertutup

Tes gans yang ke-2 ini mempunyai prosedur tes yang sama dengan tes gans ke-1 namun dengan mata terbuka. Pasien diminta berdiri tanpa alas kaki, kedua kaki dirapatkan, tangan dilipat di depan dada, mata dalam kondisi tertutup selama 20-30 detik.

3. Uji Sharp Romberg/Tandem Mata Terbuka

Pasien diminta berdiri tanpa alas kaki dengan posisi kaki tandem, yaitu tumit kaki kiri/kanan menyentuh ujung jari kaki/kanan. Posisi tangan menyilang di depan dada, mata terbuka dan pandangan fokus pada satu titik selama 30 detik.

4. Uji Sharp Romberg/Tandem Mata Tertutup

Tes gans selanjutnya ini menggunakan prosedur tes yang sama dengan tes gans ke-3 hanya saja dengan mata tertutup. Pasien berdiri tanpa alas kaki dengan posisi kaki tandem, tangan menyilang di depan dada, mata ditutup selama 30 detik.

5. Uji Romberg di Atas Busa Mata Terbuka

Pasien diminta berdiri di atas busa dengan posisi kedua kaki dirapatkan, kedua tangan dilipat di depan dada, mata terbuka, dan pandangan fokus pada satu titik selama 30 detik.

Dalam keadaan ini input proprioseptif terganggu.

6. Tes Romberg di Atas Busa Mata Tertutup

Sama halnya dengan prosedur yang dilakukan pada tes gans ke-5 tetapi untuk tes gans ini kondisi mata penderita dalam keadaan tertutup. Dengan kedua tangan dilipat di depan dada, berdiri dengan posisi kaki dirapatkan, serta pandangan fokus pada satu titik selama 30 detik. Dalam keadaan ini input visual dan proprioseptifnya terganggu, jadi hanya organ vestibular saja yang bekerja, bila terdapat pemanjangan ayun tubuh berarti terjadi gangguan keseimbangan.

7. Fukuda Stepping Test/Tes berjalan

Pasien diminta berjalan di tempat tanpa alas kaki,dengan mata tertutup sebanyak 50 langkah dengan kecepatan biasa seperti berjalan dan berit tahu kepada pasien agar tetap di tempat atau tidak beranjak dari tempat semula. Kedudukan akhir dianggap abnormal, bila pasien beranjak lebih dari 1 meter atau berputar lebih dari 30° yang mengindikasikan adanya gangguan keseimbangan.

Interpretasi untuk tes ini diamati dengan:

(24)

- Normal: Pasien berdiri dengan tenang atau dengan sedikit goyangan tanpa perlu dukungan atau bantuan apapun.

- Sway: Pasien mampu mempertahankan keseimbangannya tanpa bantuan tetapi derajat goyangannya lebih besar dari biasanya.

- Fall: Pasien tidak mampu menyelesaikan/melakukan tes tanpa dukungan atau bantuan.

- Right (Kanan): Pasien berbelok, melayang, dan/atau berputar ke kanan.

- Left (Kiri): Pasien berbelok, melayang, dan/atau berputar ke kiri.

Kondisi satu sampai empat (Romberg dan Sharp Romberg), lima dan enam akan dinilai sebagai Normal, Sway atau Fall. Kondisi 7 (Fukuda Stepping Test) akan dinilai sebagai Normal, Sway, Fall, Right (kanan) atau Left (kiri).

Headshake Nystagmus (HSN)

Tes HSN bertujuan untuk mengidentifikasi disfungsi vestibular perifer dengan menilai adanya nistagmus atau tidak. Pertama pasien diminta untuk menundukkan kepala 30 derajat. Kemudian pemeriksa akan menggoyangkan kepala pasien ke kanan dan ke kiri dengan cepat selama 30 detik dengan mata terbuka.

Head Thrust (Head Impulse) Test (HIT)

Head impulse adalah pemeriksaan dengan melakukan gerakan tiba-tiba dan menghentak posisi kepala. Pasien diposisikan duduk tegak, mata terfiksasi pada hidung pemeriksa, kemudian pemeriksa secara tiba-tiba menggeleng kepala pasien ke kanan, kemudian balik ke posisi asal, ke kiri dan kemudian balik ke posisi asal. Hasil yang positif, dimana mata gagal terfiksasi pada pandangan lurus ke depan, memberikan hasil yang sugestif vertigo perifer. Sebaliknya, bila mata terfiksasi (refleks vestibulo-koklear) maka memberikan hasil yang sugestif vertigo sentral

Kalibrasi Vestibulometri

Kalibrasi merupakan proses verifikasi bahwa suatu akurasi alat ukur sesuai dengan rancangannya. Kalibrasi biasa dilakukan dengan membandingkan suatu standar yang terhubung dengan standar nasional maupun internasional serta bahan-bahan acuan tersertifikasi. Sistem manajemen kualitas memerlukan sistem pengukuran yang efektif, termasuk di dalamnya kalibrasi formal, periodik, dan terdokumentasi untuk semua perangkat pengukuran. ISO 9001; 2008 klausal 7.6 memerlukan sistem kalibrasi yang efektif.

Identifikasi untuk dilakukan kalibrasi yaitu pada saat:

1. Terdapat perangkat baru

2. Suatu perangkat setiap waktu tertentu (kalibrasi rutin)

(25)

3. Suatu perangkat setiap waktu penggunaan tertentu (jam operasional)

4. Perangkat mengalami tumbukan atau getaran yang berpotensi mengubah kalibrasi 5. Hasil pengamatan dipertanyakan (tidak sesuai dengan kondisi pasien yang sebenarnya) 6. Peralatan yang sudah berumur banyak menimbulkan ketidak optimuman, dikarenakan

komponen yang sudah aus, korosi dan sebagainya.

7. Jumlah pemaikaian yang berlebihan.

8. Adanya keadaan pindah–pindah peralatan periksa, jadi kemungkinan komponen yang tidak pas ( kerusakan)

9. Penyimpanan dan perawatan peralatan juga bisa mempengaruhi untuk dilakukannya kalibrasi.

Adapun tujuan kalibrasi adalah:

1. Menjamin hasil-hasil pengukuran sesuai dengan standar nasional ataupun internasional.

2. Menetapkan penyimpangan dari alat ukur tersebut terhadap kebenaran konvensional.

3. Dalam upaya pemenuhan persyaratan terhadap sistem manajemen ISO 9001:2008 klausul 7.6 tentang pengendalian alat, pemantauan, dan pengukuran. Jadi untuk suatu perusahaan yang menetapkan sistem manajemen ISO 9001:2008, kegiatan kalibrasi terhadap alat-alat yang mempengaruhi hasil produk mereka adalah mutlak untuk dilakukan.

Kalibrasi, pada umumnya, merupakan proses untuk menyesuaikan keluaran atau indikasi dari suatu perangkat pengukuran agar sesuai dengan besaran dari standar yang digunakan dalam akurasi tertentu. Contohnya audiometer dapat dikalibrasi sehingga kesalahan indikasi atau koreksi dapat ditentukan dan disesuaikan, sehingga audiometer tersebut menunjukan hasil audiogram yang sebenarnya sesuai dengan apa yang terjadi pada pendengaran pasien.

Di beberapa negara, termasuk Indonesia, terdapat standar pengukuran (dalam SI dan satuan-satuan turunannya) yang akan digunakan sebagai acuan bagi perangkat yang dikalibrasi. Hasil kalibrasi harus disertai pernyataan "traceable uncertainity" untuk menentukan tingkat kepercayaan yang di evaluasi dengan seksama dengan analisis ketidakpastian.

Dalam tes ENG kalibrasi yang digunakan dalam tes adalah kalibrasi dengan sistem berbasis komputer menggunakan Windows dengan aplikasi stripcart. Untuk mengalibrasi saluran horizontal, pemeriksa menempatkan bar cahaya dalam posisi horizontal jarak 1,2 – 1,5 meter dari bangku pasien dan meminta pasien untuk mengikuti target visual seperti pada

(26)

tes sakadik. Pasien tidak boleh mengedip dan menggerakkan kepala. Pasien mengikuti target visual di bar cahaya, hasil pergerakan mata pasien harus mengikuti 2 gunung berurutan yang ditampilkan di komputer. Kalibrasi saluran vertikal dilakukan dengan cara yang sama dengan bar cahaya diputar ke posisi vertikal.

Elektronistagmografi (ENG)

Electronistagmografi (ENG) adalah prosedur uji yang dirancang untuk mengukur pergerakan mata. Tujuan ENG adalah untuk mendeteksi dan secara kuantitatif mengukur pergerakan mata yang terkait dengan stimulus vestibuler dan refleks oculovestibular.

Seorang dokter dapat memanfaatkan informasi yang diperoleh melalui pengamatan gerakan mata untuk menentukan lokasi anatomi gangguan pasien. Prekam ENG adalah representasi grafis gerakan mata. Pengujian elektrinistagmografi digunakan untuk menggambarkan lesi perifer dari sistem vestibular dari lesi yang terletak lebih terpusat (Barber & stockwell, 1980; Hart, 1973)

Prinsipnya sederhana, yaitu bahwa kornea mata itu bermuatan positif. Muatan positif ini sifatnya sama dengan dengan muatan positif listrik atau magnet yang selalu mengimbas daerah disekitarnya. Begitu pula muatan positif kornea ini mengimbas kulit disekitar bola mata. Dengan meletakkan elektroda pada kulit kantus lateral mata kanan dan kiri, maka kekuatan muatan kornea kanan dan kiri bisa direkam. Rekaman muatan ini disalurkan pada sebuah galvanometer. Jarum galvanometer akan bergerak sesuai dengan gerak bola mata. Dengan demikian nistagmus yang terjadi bisa dipantau dengan baik. Bila gerak jarum galvanometer diperkuat, maka akan mampu menggerakkan sebuah tuas, dan gerakan tuas ini akan membentuk grafik pada kertas, yang disebut elektronistagmografi (ENG).

Dalam grafik ENG dapatdengan mudah dikenal gerakan nistagmus fase lambat dan fase cepat, arah nistagmus serta frekuensi dan bentuk grafiknya. Nistagmus dapat didefinisikan sebagai gerakan bola mata tanpa disengaja, baik horizontal, vertikal atau rotasi yang terdiri dari gerakan lambat ke satu sisi dan gerakan kembalinya cepat ke arah garis tengah. Arah nistagmus ditentukan oleh arah komponen cepat atau fase cepatnya. Ukuran pengukuran berdasarkan potensi korneoretinal (kornea positif dan retina negatif). Yang menjadi pegangan utama adalah fase lambat dari nistagmus yang dapat dihitung dalam derajat perdetik.

Syarat-syarat pemeriksaan ENG:

1. Pasien

(27)

a. Pasien dianjurkan 2 jam untuk tidak makan atau minum terlebih dahulu atau kekenyangan karena jika lambung terisi penuh akan mengakibatkan mual hingga muntah.

b. Tidak meminum minuman beralkohol selama 2 hari (48 jam).

c. Tidak boleh mengonsumsi obat-obat tranquilizer, sedatif, vestibular supressants selama 48 jam sebelum pemeriksaan atau obat yang dapat mendepresi otak karena akan menyebabkan menekan sistem nistagmus vestibular dan pergerakan mata yang abnormal.

d. Tidak menggunakan make up yang tebal disekitar mata karena akan susah untuk dibersihkan sehingga akan menimbulkan artefak.

e. Tidak boleh ada perforasi karena terdapat tes kalori yang sistemnya dilakukan dengan mengaliri suatu medium air.

f. Tidak boleh memakai alat pemicu jantung (presmaker) atau alat pemicu jantung harus dilepas karena terdapat tekanan atau daya magnet dari alat elektroda. Pasien yang memakai alat elektroda tidak boleh memegang karena ada daya listrik yang dipancarkan oleh elektroda sehingga kita akan tersetrum.

g. Tidak boleh memakai atribut kepala seperti kacamata, bando, soflen, topi, jilbab pun harus dibuka karena menggangu penglihatan titik fokus pasien.

h. Tidak boleh memakai jam tangan karena terdapat daya listrik dari alatnya.

i. Pasien harus dalam keadaan sehat, artinya pada saat dites dengan menggunakan tes sederhana pasien tidak mengalami keluhan apapun

j. Jangan hentikan pengobatan diabetes, penyakit jantung, masalah tiroid, tekanan darah tinggi epilepsi atau kejang, antibiotik atau pil KB

k. Instruksikan pasien untuk mendapat istirahat malam yang baik sebelum tes

l. Sebaiknya peringatkan pada pasien agar memakai busana yang nyaman dan sopan m. Terkadang pasien lama-kelamaan akan merasa kehilangan keseimbangan akibat

mengikuti tes, sehingga pasien diharap membawa seorang teman atau anggota keluarga untuk mengantar pasien pulang.

2. Alat

a. Alat ENJ terkalibrasi dan dalam kondisi siap pakai, jarak anatara meja pasien dengan pedular 2 meter, pedular menyala dengan baik

b. Terdapat softwarenya dikomputer

c. Pemasangan elektroda harus tepat. Sesuai protokal dari alat pemeriksaan yang tersedia (otometricis). Pemasangan elektroda mata pasien harus dalam

(28)

keadaan terbuka agar dapat dengan mudah melihat pupil, elektroda sejajar dengan pupil.

d. Alat beroprasi dengan baik. Baik alat pemeriksaan dan lampu pada lightbar atau lampu toolbar baik.

e. Pastikan Nuprep atau krim, alcohol swab berkadar 70% tisu basah tersedia untuk membersihkan permukaan kulit pasien. Pastikan benar benar bersih saat membersihkan, karena jika tidak bersih akan mempengaruhi potensial aksi dari elektroda. Indikasi bersih biasnya akan terlihat dari tisu atau alcohol swab yang digunakan untuk membersihkan berwarna coklat.pastikan saat membersihkan area sekitar mata, posisi mata tertutup agar alcohol tidak menetas ke mata.

f. Dudukan yang nyaman untuk mengantisipasi terjadinya muncul artefak.

Sandaran kepala harus tepat karena akan berpengaruh dengan pernafansanya.

g. Potensial elektroda tidak boleh dari 5mV (millivolt), jika lebih dari 5mV akan timbul artefak pada hasilnya

h. Masker

i. Kantong plastik 3. Operator

a. Pemeriksa harus mengetahui cara penggunaa alat ENG dan berpengetahuan untuk menghindari trjadinya kesalahan.

b. Pemeriksa mampu berkomunikasi dan mmpu memberi intruksi dengan baik pada pasien.

c. Posisi pemeriksa berada di tengah-tengah atau disamping pasien (di anatar pasien dengan computer) agar mudah mengoperasikan computer serta agar tidak menghalangi untuk mengoreksi pasien jika pasien bergerak dan akan mengubah jarak panndangan dari lightbar.

d. Bersikap ramah agar pasien nyaman dan mengerti akan instruksi yang diberikan

e. Sabra dalam menghadapi pasien.

4. Ruangan

a. Ruangan cukup luas dan nayaman (kira-kira)

b. Lampu atau pencayahan terang agar pupil terlihat jelas c. Toolbar dan pasien berjarak 1 sampai 1,2 meter

(29)

d. Ada telepon di dalam ruangan untuk berjaga jika terjadi situasi darurat sehingga membutuhkan bantuan orang lain dengan cepat.

e. AC harus dipastikan tidak langsung mengarah kepada pasien, hal ini untuk menghindari agar mata pasien tidak cepat kering atau capek karena terkena angina dari AC.

5. Kondisi pasien yang harus diperhatikan

a. Terdapat kejang, maka tes tidak bias dilakukan dan jika menderita vertigo akan lebih baik menunggu sampai pasien pulih terlebih dahulu atau tingkat verigo pasien berkurang.

b. Lakukan otoskopi, apakah membran timpani utuh atau perforasi

o Jika membrane timpani utuh, maka saat kalori bias menggunakan air

o Jika membrane timpani perforasi, maka saat irigasi tes kalori harus dengan udara

o Jika saat otoskopi tampak adanya serumen maka harus dibersihkan terlebih dahulu

o Jika pasien didiagnosis mendrita OME (Otitis Media Efusi) dan OMA (Otitis Media Akut) yang akan tampak saat meakukan tes timpanometri sebaiknya disembuhkan terlebih dahulu

c. Pasien menderita gangguan pendengaran berat, kita harus memberikan instruksi dengan jelas (bisa berbicara lebih keras atau berbicara di dekat telinga pasien) agar pasien memahami prosedur tes

d. Gangguan mata berat (silinder/katarak) jika pasien menderita gangguan mata berat (silinder/katarak), maka akan ada koreksi nilai yang didapat dari hasil pemeriksaan.

e. Memiliki masalah pada leher dan tulang belakang karena akan berpengaruh pada tes posisi yang menggunakan bagian leher dan tulang belakang dan akan manuver ke leher.

f. Menderita gangguan sirkular (pembuluh darah), target yang akan dituju untuk manuver bagian leher dan kepala sehingga pembuluh darah harus bekerja dengan baik.

(30)

g. Perhatikan jika pasien pernah operasi telinga, kemungkinan telah terjadi perubahan anatomi liang telinga atau telinga tengah yang akan mengubah kekuatan stimulasi kalori.

h. Perhatikan jika pasien pernah operasi telinga, kemungkinan telah terjadi perubahan anatomi liang telinga atau telinga tengah yang akan mengubah kekuatan stimulasi kalori.

i. Perhatikan jika liang telinga sempit, irigasi pada tes kalori akan cukup sulit dilakukan dan respons yang timbul akan lemah.

6. Ketika ingin memulai pemeriksaan harus melakukan beberapa hal antara lain:

a. Pasien diminta untuk duduk di kursi yang telah disediakan dengan pandangan ke arah lightbar.

b. Operator atau pemeriksa membersihkan wajah pasien menggunakan Nuprep agar wajah pasien tidak berminyak dan mudah untuk ditempelkan elektroda.

c. Menempelkan elektroda dengan sesuai:

1) Oranye : atas mata kanan sejajar pupil 2) Putih : bawah mata kanan sejajar pupil 3) Merah : samping mata kanan sejajar pupil 4) Hijau : atas mata kiri sejajar pupil

5) Cokelat: bawah mata kiri sejajar pupil 6) Biru: samping mata kiri sejajar pupil

7) Hitam : ground/antara atas mata kanan dan kiri

(31)

Gambar Pemasangan Elektroda

d. Langkah terakhir nyalakan lightbar dengan posisi horizontal 7. Prosedur pemeriksaan:

Mulai dengan memberikan instruksi saat akan memulai setiap pemeriksaan.

ENG sebenarnya adalah tes yang mungkin mencakup satu atau lebih dari pengukuran berikut:

a) Tes Sakadik (Saccade Test)

Sebelum pemeriksaan awal ini dilakukan, perlu tahap kalibrasi terlebih dahulu dengan cara yang sama sehingga mendapatkan minimal 2 gelombang yang sama berurutan dengan tujuan pasien mengetahui instruksi dengan baik dan mampu melakukannya dengan benar

Prosedur tes sakadik, yaitu pasien diminta mengikuti pergerakan titik atau lampu indikator pada lightbar pada bidang horizontal sebesar 20° selama 20-30 detik.

Gambar Hasil Tes Sakadik

b) Gaze Test

(32)

Prosedur pemeriksaan gaze test, yaitu pasien duduk pada kursi pemeriksaan, tidak boleh menggerakan kepala, jarak mata dengan titik di lightbar kira-kira 1,5 meter, lalu pasien diminta melirik 30° ke kanan, 30° ke kiri, 30° ke atas, dan 30° ke bawah mengikuti lampu indikator pada lightbar, masing-masing selama 20-30 detik untuk menilai ada tidaknya nistagmus vestibular.

Gambar Hasil Gaze

c) Pendular Eyes Tracking Test (PETT)

Pasien diminta mengikuti pergerakan titik/lampu indikator pada lightbar pada bidang horizontal dari ujung lightbar sisi sebelah sampai ujung lightbar sisi berikutnya selama 20-30 detik.

Gambar Hasil PETT

d) Tes Optokinetik

Pergerakan mata direkam saat pasien mengamati serangkaian target visual yang bergerak terlebih dahulu ke kanan dan kemudian ke kiri pada suhu 40 derajat/detik. Tes optokinetik mengikuti satu titik dari banyak titik yang berurutan untuk dijadikan titik fokus. Pada lightbar (bidang horizontal) akan muncul beberapa titik/lampu indikator, pasien diminta memilih salah satu lalu mengikuti pergerakan

(33)

titik/lampu indikator tersebut dari salah satu ujung sisi lightbar sampai ujung sisi lightbar berikutnya. Pilih satu titik/lampu indikator lagi dan ikuti pergerakannya dari ujung lightbar sampai ujung lightbar sisi berikutnya. Tes ini dilakukan selama 20-30 detik. Dilakukan dengan dua kecepatan yang berbeda pada masing-masing mata, yaitu 20 deg/sec dan 40 deg/sec.

Gambar deg/sec

e) Tes Posisi

Tes posisi statis dilakukan dengan merekam gerakan mata pada leats 30 detik dengan mata terbuka dan paling tidak 30 detik dengan mata tertutup dengan pasien di masing-masing dari empat posisi yaitu duduk, telentang, telentang kanan, dan telentang kiri.

f) Tes kalori

dilakukan dengan mengairi masing-masing telinga dua kali, sekali dengan suhu yang hangat (baik air maupun udara) dan sekali dengan respons nistagmus suhu yang dingin.

Tes ini dilakukan dengan cara memberikan udara/air pada masing-masing telinga dengan tujuan memprovokasi kerja sistem vestibular di telinga tengah.

Perlu diingat, selama proses provokasi pemberian udara/air, mata pasien dalam keadaan terbuka. Biasanya saat provokasi berlangsung disertai juga pusing, mual, dan muntah. Itu hal yang wajar, maka harus diberitahukan terlebih dahulu kepada pasien

Prosedur tes kalori yaitu, berikan provokasi pada salah satu sisi telinga dengan air/udara hangat selama 30 detik/60 detik. Jeda ± 4 menit kemudian berikan air/udara dingin selama 30 detik/60 detik. Jeda ± 8 menit sebelum pindah ke sisi sebelahnya.

Medium Air Udara

Volume 250 ml 800 ml

(34)

Lama Irigasi 30 detik 60 detik

Suhu Panas 44 derajat (37°+7°) 50 derajat (37°+13°) Suhu Dingin 30 derajat (37°-7°) 24 derajat (37°-13°)

Tabel ketentuan irigasi pada Tes Kalori

Gambar Tes Kalori

(35)

BAB III PENUTUP Simpulan

Keseimbangan dan orientasi tubuh seseorang terhadap lingkungannya di sekitar tergantung pada input sensori dari sistem vestibular, sistem visual, sistem proprioseptif, dan sistem somatosensore. Keempat sistem itu saling bekerja sama memberikan informasi, sebelum menuju ke otak, informasi terlebih dahulu dikoordinasi di korteks serebri kemudian diadaptasi sehingga dikoreksi dan diterjemahkan oleh serebelum menuju sistem saraf pusat dan timbullah refleks-refleks seperti Vestibulo-Ocular Reflex (VOR), Vestibulo-Spinal Reflex (VSR), dan vestibulocollic reflex (VCR). Penyakit yang menyebabkan gangguan keseimbangan dapat dibagi menurut lokasi anatominya, yaitu: 1) pada sistem vestibular sentral (TIA, kelainan generatif, epilepsi), 2) pada sistem vestibular perifer (BPPV, penyakit Meniere, oklusi a.labirin), pada sistem visual (miopi, hipermetropi, astigmatisme), pada sistem proprioseptif (strok, katapleksi, kriptigenik).

Sebelum pasien menjalani prosedur anamnesis dengan pemeriksa, pasien menjalani pemeriksaan fisik umum terlebih dahulu. Kondisi pasien saat diperiksa menunjukkan hasil sebagai berikut; tinggi dan berat badan pasien adalah 160 cm dan 80 kg, frekuensi nadi 100 kali/menit, pernafasan 18 kali/menit, suhu tubuh pasien 36.6ºC. Setelah itu terdapat persiapan-persiapan sebelum melakukan pemeriksaan keseimbangan seperti persiapan alat dan ruangan, persiapan pasien. Adapun dua hal yang perlu kita ketahui sebelum anamnesis, yaitu mengenai vertigo dan nistagmus.

Pada saat anamnesis pemeriksa harus dapat menentukan letak gangguan yang dialami oleh pasien apakah itu gangguan vestibular atau non-vestibular, jika pasien mengalami gangguan vestibular pemeriksa harus dapat membedakan pasien mengalami gangguan vestibular sentral atau gangguan vestibular perifer dan jika pasien mengalami gangguan vestibular perifer pemeriksa harus dapat membedakan pasien mengalami gangguan vestibular perifer posisional atau non-posisional. Setelah pemeriksa selesai melakukan anamnesis, pasien diminta untuk mengisi kuisioner Dizziness Handicap Inventory (sebagai pemeriksaan subjektif).

Gans Sensory Organization Performance (SOP) Test/Tes SOP Gans adalah alat klinis sederhana, yang memberi pemeriksa metode penilaian fungsi keseimbangan yang mudah diberikan dan hemat biaya, yang sensitif terhadap gangguan vestibular.

(36)

DAFTAR PUSTAKA

Balance System - Balance & Dizziness Canada. (2022). diakses dari Sistem Keseimbangan - Keseimbangan &; Pusing Kanada (balanceanddizziness.org)

Firmansyah. (2019). Instrumentasi dan Kalibrasi Vestibulometry. Makalah, Akademi Audiologi Indonesia, Jakarta Pusat. Dipetik Januari 27, 2022, dari

https://pdfcoffee.com/0makalah-vestibulerdoc-pdf-free.html

Saraf Kranial. (2021, Agustus 5). Dipetik Maret 30, 2022, dari Wikipedia:

https://id.wikipedia.org/wiki/Saraf_kranial#:~:text=Saraf%20kranial%20(Latin%3A

%20nervii%20craniales,mencuat%20dari%20sumsum%20tulang%20belakang Sudarwin, S. A. (2017). Gambaran Pemeriksaan Video Head Impulse Test pada Orang

Dewasa Tanpa Gangguan Keseimbangan di Departemen THT-KL RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo. Universitas Indonesia, Ilmu Kesehatan THT-KL. Jakarta Pusat:

Universitas Indonesia Library. Dipetik Februari 2, 2022, dari https://lib.ui.ac.id/detail?

id=20460766&lokasi=lokal

Vestibular System. (n.d.). diakses dari https://neuroscientificallychallenged.com/posts/know- your-brain-vestibular-system

projects, C. to W. (2024). Vestibulo–ocular reflex. diakses dari https://en-m-wikipedia- org.translate.goog/wiki/Vestibulo%E2%80%93ocular_reflex?

_x_tr_sl=en&_x_tr_tl=id&_x_tr_hl=id&_x_tr_pto

15.4 Equilibrum. (t.thn.). Dipetik Februari 8, 2022, dari Oregon State University:

https://open.oregonstate.education/aandp/chapter/15-4-equilibrium/

lviandi, W. (t.thn.). Tentir Ketiga Modul Penginderaan. Scribd. Dipetik Januari 27, 2022, dari https://id.scribd.com/doc/257774580/TENTIR-KETIGA-MODUL-

PENGINDERAAN

Raharjo, R. S. (2017). BALANCE SYSTEM. di akases dari https://www.academia.edu/31502493/BALANCE_

Therapy, A. P. (2020). 3 Balance Systems. diakses dari https://www.ascendpt.net/post/3- balance-systems

[email protected]. (2023). Vertigo Perifer adalah: Pengertian, Gejala, dan Penyebabnya.

diakes dari https://enesis.com/id/artikel/vertigo-perifer-adalah/

Elektronistagmografi: Fungsi, Prosedur dan Hasilnya - IDN Medis di akases dari

Elektronistagmografi: Fungsi, Prosedur dan Hasilnya - IDN Medis

(37)

Vestibular Disorders, 4 Agustus 2009.di akases dari

http://ningrumwahyuni.wordpress.com/2009/08/04/vestibular-disorders/,

Rehabilitasi, 65 James Street, Edison, NJ 08818, AS. Telepon.: +1

732 321 7000; Surel:

[email protected].

kekuatan pada tubuh.

Informasi ini diproses oleh

pusat vestibular di otak untuk

memungkinkan tubuh untuk:

(38)

menjaga keseimbangan dan orientasi spasial yang tepat selama

gerakan, serta pemrosesan visual yang benar

gambar selama gerakan

Referensi

Dokumen terkait

Pada teknik pengukuran dilakukan dengan cara mengumpulkan data dengan memberikan nilai dari hasil tes awal ( pre-test ) sebelum diberikan perlakuan dan tes akhir

 Pemeriksaan dan Pengukuran Busi  Busi merupakan salah satu bagian dari system pengapian yang berfungsi untuk memercikan bunga api pada awal proses pembakaran campuran

4.4.1 Perbedaan Pemahaman Konsep Peserta Didik Kelas Eksperimen yang menggunakan Model Collaborative Learning MURDER pada Pengukuran Awal (Pre-Test) dan Pengukuran

1 Tahap pre test Tahap ini adalah tes awal yang dilakukan sebelum pembimbing atau narasumber memulai bimbingan, dengan tujuan untuk mengetahui kemampuan awal peserta bimbingan pranikah

Setelah proses produksi dilaksanakan maka produk awal multimedia pembelajaran siap untuk dilakukan alpha test, untuk melaksanakan tes tersebut perlu dipersiapkan instrumen

Pelaksanaan pelatihan ini mencakup beberapa hal berikut. a) Persiapan Tahap persiapan merupakan tahap awal sebelum pelaksanaan PPM. Dalam tahap ini ada beberapa hal yang

Pemeriksaan juga akan mencakup audit pengendalian internal atas keuangan pelaporan, termasuk tes seperti desain dan operasi kontrol ini seperti yang kita anggap perlu

Tahap awal kegiatan pengabdian masyarakat dilakukan pemeriksaan gula darah sewaktu GDS untuk mengetahui kadar gula darah sewaktu pasien serta melakukan pengukuran TD, kemudian