SEMIOTIKA CHARLES SANDERS PEIRCE
Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Semiotika Dosen Pengampu: Dr.Wildan Taufiq ,M.Hum.
Disusun Oleh:
Indah Rimaelina 1205020083
Khoirunnisa Aulia Mujahidah 1205020096
Muhammad Farhan Fathurrahman Nurhakim 1205020121
JURUSAN BAHASA DAN SASTRA ARAB FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG
2022
KATA PENGANTAR
Bismillahirahmanirrahim, Assalamualaikum Wr. Wb.
Alhamdulillah puji dan syukur kehadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala atas limpahan rahmat dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya.
Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah Muhammad Shallallahu
‘alaihi wa Sallam beserta keluarganya, para sahabatnya, para tabi’in, tabi’ut tabi’in dan kepada kita semua sebagai umatnya. Adapun tujuan penyusunan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Semiotika. Dalam makalah ini membahas tentang
“Semiotika Charles Sanders Peirce”
Dalam penyelesaian penyusunan makalah ini tentunya kami mendapat bantuan dan bimbingan dari beberapa pihak. Oleh karena itu kami mengucapkan terima kasih kepada bapak Dr.Wildan Taufiq, M.Hum. selaku dosen pengampu mata kuliah Semiotika. Kepada orang tua kami yang selalu mendukung kami secara moril dan materil, dan kepada teman-teman yang telah membantu kami.
Kami juga menyadari bahwa makalah ini jauh dari kata sempurna, maka kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar ke depannya menjadi lebih baik.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua, Aamiin.
Bandung, 6 November 2022
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...i
DAFTAR ISI...ii
BAB I...iii
PENDAHULUAN...iii
Latar Belakang...iii
BAB II PEMBAHASAN...1
A. Biografi Charles Sanders Peirce...1
B. Teori Semiotika Peirce...2
1. Asal-usul Teori...2
2. Asumsi Dasar Teori...3
3. Teori Tanda Peirce²...4
C. Aplikasi Teori Semiotika Peirce...11
DAFTAR PUSTAKA...26
BAB I
PENDAHULUAN Latar Belakang
Dalam proses komunikasi secara primer, lambang atau simbol digunakan sebagai media dalam penyampaian gagasan atau perasaan seseorang kepada orang lain.
Lambang di dalam proses komunikasi meliputi bahasa, gestur, isyarat, gambar, warna, dan tanda-tanda lainnya yang dapat menerjemahkan suatu gagasan atau perasaan seeorang (komunikator) kepada orang lain (komunikasi) secara langsung. Dari berbagai lambang yang dapat digunakan di dalam proses komunikasi, bahasa merupakan media yang paling banyak dipakai karena paling memungkinkan untuk menjelaskan pemikiran seseorang, dan dengan bahasa pula segala kejadian masa lalu, masa kini, maupun ramalan masa depan dapat dijelaskan.
Fungsi bahasa yang sedemikian rupa menyebabkan ilmu pengetahuan dapat berkembang dan hanya dengan kemampuan berbahasa, manusia dapat mempelajari ilmu pengetahuan. Kegagalan dalam proses komunikasi banyak disebabkan oleh kesalahan berbahasa atau ketidakmampuan memahami bahasa.
Semiotik merupakan ilmu atau metode ilmiah untuk melakukan analisis terhadap tanda dan segala hal yang berhubungan dengan tanda. Tanda merupakan bagian yang penting dari bahasa, karena bahasa itu sendiri terdiri dari kumpulan lambang-lambang , dimana dalam lambang-lambang itu terdapat tanda-tanda. Oleh karenanya tentu ada kaitan yang erat antara semiotika dengan proses komunikasi, mengingat semiotika merupakan unsur pembangun bahasa dan bahasa merupakan media dalam proses komunikasi. Pentingnya semiotika dalam komunikasi mendorong para ahli dan ilmuan semiotik untuk merumuskan berbagai macam teori semiotika. Teori-teori tersebut teruss berkembang dan saling melengkapi.
Menurut Barthes, bahasa berpengaruh dalam semua aspek kehidupan dan ia boleh ditinjau melalui karya-karya yang terhasil. Karya merupakan cerminan realiti sebenar yang diungkap dala bentuk tulisan.Menurut Mana Sikana (1985: 175), pendekatan semiotik melihat karya sastra sebagai satu sistem yang mempunyai hubungan dengan teknik dan mekanisme penciptaan sebuah karya. Ia juga memberi tumpuan kepada penelitian dari sudut ekspresi dan komunikasi
BAB II PEMBAHASAN
A. Biografi Charles Sanders Peirce
Charles Sanders Peirce lahir dalam sebuah keluarga intelektual pada tahun 1839.
Ayahnya, Benjamin, adalah seorang profesor matematika di Harvard. Pada tahun 1859, 1862, dan 1863 secara berturut-turut, ia menerima gelar B.A., M.A., dan B.Sc. dari Universitas Harvard. Selama lebih dari tiga puluh tahun, yaitu antara 1858-1860 dan tahun 1861-1891, Peirce banyak melakukan tugas astronomi dan geodesi untuk Survei Pantai Amerika Serikat (United States Coast Survey). Dari tahun 1879 sampai tahun 1884, ia menjadi dosen paruh waktu dalam bidang logika di Universitas Johns Hopkins (Lechte. 2001: 222)¹.
Peirce adalah seorang filsuf Amerika yang paling orisinal dan multidimensional.
Namun, sikapnya yang temperamental karena penyakit syaraf yang diidapnya membuatnya dijauhi oleh para koleganya. Puncaknya, ia dikeluarkan sebagai dosen dari Universitas Johns Hopkins.
Meskipun Peirce menerbitkan tulisan lebih dari sepuluh ribu halaman cetak, namun ia tidak pernah menerbitkan buku yang berisikan telaah tentang masalah yang menjadi bidangnya. Oleh karena itu, dalam kaitan dengan karyanya tentang tanda, pemikiran Peirce harus dianggap selalu berada dalam proses dan terus mengalami modifikasi dan penajaman lebih lanjut. Selain itu, Peirce sering memberikan kesan bahwa ia selalu merasa perlu untuk memulai perenungannya dengan satu pertanyaan, seolah setiap kali ia bertemu dengan hadirin yang baru (maka perlu ada pengulangan). Seolah-olah perumusan yang sudah dilakukan sebelumnya dianggap kurang mantap (maka perlu ada perubahan dan penajaman).
Singkatnya, di sini tidak ada dokumen Peircean yang sistematis dan definitif mengenai sifat tanda: yang ada hanyalah peninjauan ulang secara terus menerus dan inovatif sekaligus berulang. Jika demikian, apa aspek pokok dari pemikiran tentang tanda itu?
B. Teori Semiotika Peirce
1. Asal-usul Teori
Sebagaimana diulas di atas, teori semiotika Peirce didasarkan pada filsafat dan logika.
Hal ini tidak mengherankan karena Peirce adalah seorang filsuf Amerika terkemuka. Ia dianggap sebagai pendiri filsafat pragmatisme, di samping William James, John Dewey, dan George Herbert Mead. Dengan demikian, teori semiotika Peirce didasarkan pada filsafat pragmatismenya.
Pragmatisme merupakan gerakan filsafat Amerika yang mencerminkan dengan kuat sifat-sifat kehidupan Amerika. Pragmatisme berusaha menengahi antara tradisi empiris dan tradisi idealis dan menggabungkan hal-hal sangat penting dari keduanya.
Pragmatisme adalah suatu sikap, metode dan filsafat yang memakai akibat-akibat praktis dari pikiran dan kepercayaan sebagai ukuran untuk menetapkan nilai dan kebenaran (Titus dkk, 1984: 340).
Penganut pragmatisme menaruh perhatian pada "praktik". Mereka memandang hidup manusia sebagai suatu perjuangan yang berlangsung terus menerus. Hal terpenting di dalamnya adalah konsekuensi-konsekuensi yang bersifat praktis.
Konsekuensikonsekuensi tersebut erat kaitannya dengan "makna" dan "kebenaran".
Karena sedemikian eratnya, seorang penganut pragmatisme mengatakan bahwa kedua hal tersebut (makna dan kebenaran) merupakan kesatuan yang tak terpisahkan.
Mengenai hal ini, Peirce berkata: "Untuk memastikan makna suatu konsepsi, maka kita harus memperhatikan konsekuensi-konsekuensi praktis, apa yang harus muncul dari kebenaran konsepsi tersebut." Dengan kata lain, jika tidak menimbulkan konsekuensi- konsekuensi yang praktis, maka konsepsi tersebut tidak memiliki makna. Contohnya konsep "bobot". Dalam pandangan pragmatisme, "bobot" adalah suatu benda jika tidak ditopang maka akan jatuh (Kattsoff, 1995: 130).
Menurut Peirce, "ide" tentang segala sesuatu merupakan ide tentang efek-efek yang dapat ditangkap indra, sebagai hasil perwujudan ide tersebut. Istilah "efek-efek"
(konsekuensikonsekuensi praktis) merupakan istilah sentral dalam pemikiran Peirce.
Istilah ini menunjukkan sifat objek yang dimaksudkan, dimana objek tersebut akan bertalian bila dihubungkan dengan hal-hal lain -khususnya bila objek itu direkayasa dalam cara-cara tertentu yang ditentukan sebelumnya- dan dirancang untuk menguji
Peirce tidak menganggap sifat-sifat segala sesuatu sebagai kualitas kaku yang dimiliki dalam situasi yang sungguh abadi, tetapi ia bermaksud menafsirkan sifat-sifat tersebut sebagai efek dari interaksi-interaksi. Dalam hal ini, ia memasukkan "makna" suatu ide semua kegiatan dan rekayasa yang terjadi ke dalam proses penyelidikan dan pengujian.
Hubungan ini kemudian menjelaskan antara teori pragmatis tentang makna dan teori operasional yang mengatakan bahwa "makna" suatu konsep identik dengan seperangkat kegiatan laboratorium. Hal ini didasarkan pada fakta bahwa keduanya menggabungkan makna dengan rekayasa segala sesuatu dalam pengukuran aktual maupun dalam pengujian (Smith, 1995: 7).
Doktrin Peirce tentang makna yang telah menjadi bahan diskusi hangat bertahun-tahun adalah sebagai berikut.
Dengan memerhatikan efek-efek apa yang mungkin dapat ditangkap dan mempunyai kandungan praktis, maka kita dapat mengangkat objek dari konsepsi yang kita miliki.
Kemudian. konsepsi kita atas efek-efek ini adalah keseluruhan dari konsepsi kita atas objek-objek tersebut.
2. Asumsi Dasar Teori
Asumsi-asumsi dasar teori semiotika peirce adalah sebagai berikut.
1). Tanda adalah sesuatu yang mewakili sesuatu yang lain bagi seseorang. perumusan yang terlalu sederhana ini menyalahi kenyataan tentang adanya suatu fungsi tanda : tanda a menunjukkan suatu fakta atau objek B. kepada penafsirannya sesuatu yang lain yaitu C. Oleh sebab itu, suatu tanda itu tidak pernah berupa suatu entitas yang sendirian, yang memiliki ketiga aspek tersebut . Pierce mengatakan bahwa Tanda itu sendiri merupakan contoh dari "kepertamaan" (Firstness), objeknya adalah "kekeduaan"
(secondness) dan penafsirannya-unsur pengantar- adalah contoh dari "ketigaan"
(thirdness). Peirce memang berusaha untuk menemukan suatu struktur terner bisa terjadi di manapun. Keketigaan yang ada dalam konteks pembentukan tanda membangkitkan semiotika yang tak terbatas selama suatu penafsir (gagasan) yang membaca tanda sebagai tanda bagi yang lain (yaitu sebagai wakil dari suatu makna atau penanda) bisa ditangkap oleh penafsir lainnya. Penafsir ini adalah unsur yang harus ada untuk mengaitkan tanda dengan objeknya (Induksi, deduksi dan penangkapan (hipotesis) membentuk tiga jenis penafsir yang penting) agar bisa ada sebagai suatu tanda, maka tanda tersebut harus ditafsirkan (dan berarti harus memiliki penafsir) .Kata
"STOP" dengan latar belakang cahaya merah di sebuah persimpangan jalan mengisyaratkan bahwa setiap mobil harus berhenti bila bertemu dengannya tandanya adalah /stop/; objeknya adalah "berhenti" dan penafsirannya adalah gagasan yang menggabungkan tanda itu dengan objek yang dimaksud. Tanda juga bisa menunjukkan adanya Jalan utama, atau wilayah sangat padat penduduknya melalui fungsi dari penafsir muncul sebuah proses semiotika yang tak terbatas seperti yang dikatakan Eco, penafsir ini memberikan penafsiran yang lain (Lechte: 2001:222).
2). Tanda selalu memiliki tiga dimensi yang paling terkait Representamen (R) yaitu sesuatu yang dapat dipersepsi (perceptible), Objek (O) yaitu sesuatu yang mengacu kepada yang hal lain (referential) ,dan Interpretan (I) yaitu sesuatu yang dapat diinterpretasi (Christomy,2004 :117) , ketiga dimensi tanda tersebut jika dihubungkan satu sama lain menjadi hubungan segitiga atau disebut sebagai hubungan segitiga tanda (triadic).
Interpretan (I)
Objek (O)
3. Teori Tanda Peirce²
Telah dikemukakan sebelumnya bahwa Peirce sangat senang mengklasifikasi sesuatu menjadi tiga. Maka teori tanda yang ia susun terbagi tiga. Teori-teori tanda tersebut lahir dari hubungan triadik tiga dimensi tanda, antara representamen (R), objek (O) dan Interpretan (I).
Representamen (R)
1. Representamen-Ground (latar)
Representamen adalah bentuk fisik sebuah tanda' (Marcel Danesi 1999). Dalam pandangan Peirce, sesuatu menjelma menjadi sebuah representamen melalui berbagai latar (ground). Menurutnya ada tiga kemungkinan hubungan representamen dan latar.
Representamen
Ground
(yang menjadi dasar/latar bagi sesuatu menjadi tanda)
Pertama, sebuah fenomena dapat dianggap sebagai representasi karena sifat potensialnya untuk menjadi tanda (Zoest 1993:19). Preposisi "ke" dan "di" berpotensi menjadi tanda yang utuh setelah terkait dengan bentuk yang lain. Contohnya kata asap.
Ia merupakan representasi sebagai kombinasi fonetis tanpa keterkaitannya dengan konsep asap. Demikian juga warna merah bunga mawar pada awalnya merupakan tanda yang potensial (Zoest 1993:19). Representamen yang potensial ini dalam jargon Peircean sering disebut qualisign. Qualisign adalah 'tipe' tanda yang menggunakan representamen berbentuk kualitas. Warna merah yang dimaksud van Zoest hanyalah sebuah warna yang secara potensial mampu menjadi tanda tanpa harus dikaitkan dengan hal di luar dirinya. Setelah itu, sebuah tanda potensial tersebut mungkin mengambil sebuah "bentuk" tertentu dari luar dirinya. Dalam hal ini, ia sudah menjadi sinsign.
Sinsign adalah tipe tanda yang memanfaatkan sebuah peristiwa atau objek sebagai wahana tanda (sign vehicle). Keterkaitan terbentuk karena konfrontasi dengan faktor eksternal. Kata asap yang terdiri dari empat huruf dapat merujuk pada konsep. Hal ini terjadi karena ada konfrontasi antara token a-s-a-p dengan pengalaman. Pengalaman
atau faktor eksternal menentukan status a-s-a-p sebagai tanda bahasa. Contoh lain terlihat sangat jelas dalam perangkat alarm. Bunyi alarm kebakaran di gedung bertingkat tinggi berdering karena mendeteksi suhu panas. Alarm merupakan suatu tanda karena dipantik oleh kehadiran adanya asap atau suhu panas yang tinggi di gedung itu. Bunyi alarm menjadi representasi atas adanya panas. Representasi seperti ini disebut Peirce sebagai sinsign.
Akan tetapi, sesuatu menjadi wahana tanda/representamen tidak selalu dipicu oleh suatu fenomena aktual atau eksternal seperti bunyi alarm kebakaran. Pada kesempatan lain, kehadiran asap yang semula "bersebelahan" dengan api, ditransformasikan sedemikian rupa sehingga asap itu tidak lagi menjadi tanda untuk api, tetapi sebuah tanda yang menunjukkan kehadiran pendemo di sebuah perempatan jalan.
"Asap" "Pendemo"
Contoh hubungan antara tanda dengan latarnya
Orang Indian membuat asap dari api untuk "menandai" kehadiran pasukan kolonial.
Hanya orang Indian saja yang mengetahui bahwa asap itu adalah sebuah peringatan untuk menyongsong musuh. Si Indian sama sekali tidak bermaksud memberitahu adanya kebakaran hutan. Sesuatu yang menjadi tanda karena aturan, tradisi, dan konvensi seperti itu disebut Peirce sebagai legisigns.
Dengan demikian, Peirce mengajukan tiga latar (ground) yang memungkinkan suatu fenomena disebut tanda: qualisign, fenomena yang potensial untuk menjadi tanda lebih lanjut tetapi masih terisolasi dari faktor-faktor eksternal. Sinsign, suatu fenomena yang terkait dengan faktor eksternal atau "kenyataan" aktual, misalnya ketukan di pintu.
Legisign, sebuah bentuk berfungsi sebagai tanda karena aturan atau konvensi.
Perhatikan gambar berikut.
Latar/Ground (qualisign, sinsign, legisign)
2. Representamen-Objek
Sebuah tanda (representamen) mengacu kepada objeknya (denotatum) melalui tiga cara utama. Hubungan antara tanda dan objek dilihat Peirce berdasarkan ketercerapan - Pertama, melalui keserupaan yang disebut sebagai tanda ikonis. Sebeok menyebutkan bahwa kategori Peirce tentang tanda ikonis (iconic signs) sama tuanya dengan konsep Plato tentang imitasi (the sign imitates the signified) (Sebeok, 1994:81). Sebagai contoh, sebuah foto diri memiliki "kesamaan" dengan diri yang dipotretnya. Sebuah iklan rumah dalam beberapa hal dapat memiliki tanda-tanda ikonis kalau dilihat dari sisi visual. Tanda ikonis dapat ditemukan pula dalam ungkapan-ungkapan verbal (Kridalaksana, '002:364). Perlu dipahami di sini, tanda ikonis masih harus diterapkan dalam konteks karena kalau dijadikan suatu tanda ikonis yang berdiri sendiri, kategorisasi yang telah dilakukan menjadi membingungkan. Bukankah sebuah foto sangat kental dengan dimensi simbolisnya? Perhatikan gambar.
Representament Object
Iconic Indexical Symbolic
Hubungan representamen-objek
Kedua, sebuah tanda mengacu kepada denotatumnya melalui cara penunjukan atau dengan memanfaatkan wahana tanda yang bersifat menunjuk pada sesuatu (indexical) Indexical signs adalah wahana tanda (representamen) yang mirip busur panah atau gambar telunjuk tangan yang mengarah pada sesuatu. Indeks secara fisik terkait dengan objeknya. Kehadiran wahana tanda seperti ini sangat bergantung pada eksistensi objek eksternal yang diacu (denotatum) (Zoest, 1993:361). Sebuah mobil ringsek yang dipajang di pinggir jurang adalah sebuah indexical sign yang menunjuk pada kecelakaan yang sering terjadi di daerah itu. Kehadiran mobil ringsek tersebut terkait erat dengan kejadian sebelumnya yang merupakan denotatum dari mobil ringsek tersebut. Indeks harga saham memberi ilustrasi mengenai hubungan wahana tanda dan objeknya. Sebagaimana penunjuk jalan. "indeks saham" pertanian menunjukkan arah harga saham selama bulan Juli 2001.
Ketiga, sebuah wahana tanda mengacu kepada objeknya melalui kesepakatan.
Hubungan seperti ini disebut hubungan simbolis, sehingga tandanya pun disebut tanda simbolis (symbolical signs). Simbol adalah suatu istilah yang sering digunakan dalam konteks yang berbeda-beda. De Saussure menyatakan bahwa suatu simbol adalah suatu tanda yang menunjukkan hubungan antara penanda (signifier) dan yang ditandai (signified) dalam beberapa hal bersifat nonarbitrary.
Dalam pandangan Peirce justru sebaliknya. Peirce mendefinisikan simbol sebagai bagian dari trikotomi. Suatu wahana tanda yang dihubungkan dengan cara penunjukan atau kesejajaran bentuk (by virtue of physical connection) disebut indeks. Akan tetapi, jika keterhubungan tersebut dilandasi oleh kebiasaan (by virtue of habit), suatu tanda disebut tanda simbolis.
3. Interpretan
Setelah keterhubungan antara wahana tanda (representamen) dan acuannya (objek).
Peirce kemudian membahas tanda dalam dimensinya yang lain ketika sebuah interpretan terkait dengan objek dan menghasilkan tanda baru. Dengan demikian, interpretan adalah sebuah tanda baru yang dihasilkan oleh relasi tanda-tanda lainnya.
Menurut Pietro (1993:123).
A fire indicating the presence of the survivors of an airplane crash might set a forest ablaze. The forest fire would be an incidental result and thus not an interpretant of the sign calling for help (or indicating the whereabouts of the survivors). Contoh lain yang lebih mudah barangkali didapat dari Eco ketika mencoba menafsir ulang konsep interpretannya Peirce. Eco melihat interpretan sebagai penjelasan lebih lanjut mengenai sesuatu atau sebuah interpretasi. Ia menyebutkan bahwa di dalam kamus umum, kata baterai dijelaskan lebih singkat daripada yang ditemukan dalam ensiklopedi kimia.
Yang terakhir ini menurut Eco adalah contoh (sekumpulan) interpretan. Peirce menulis bahwa jika Anda melihat ke dalam sebuah buku teks kimia mengenai definisi lithium, Anda mungkin diberi penjelasan bahwa lithium adalah sebuah elemen atom dengan berat hampir mendekati 7. Akan tetapi, bila pengarang menambahkan pemikiran logis lainnya atau jika Anda mengidentifikasikan lithium di antara kelompok mineral, maka akan ditemukan karakteristik lebih lanjut, seperti tembus pandang, mengkilat, abu-abu atau putih, sangat keras, atau rapuh, dan sukar dipecahkan. Dengan cara yang sama, definisi rakyat dalam kamus umum akan sangat berbeda dengan definisi rakyat dalam buku politik. Selain itu, sebuah interpretan dapat diterima menjadi public interpretant atau tetap sebagai private interpretant. Menurut Eco (1999), sebuah proses semiosis dapat dimulai dengan persepsi tentang sesuatu yang sifatnya individual atau personal.
Setelah itu, ia berubah menjadi intepretasi kolektif (collective intepretant/ CI) jika persepsi dan atau pengalaman pribadi itu, dituliskan atau diceritakan, serta dialami juga oleh beberapa orang lainnya. Interpretan personal pada akhirnya mengental dan menjadi sebuah proposisi, bahkan argumen. Jika proses itu dicapai dengan baik, orang akan sampai pada suatu pengetahuan yang "penuh". Eco menjelaskan hal ini dengan mengambil contoh kamus dan ensiklopedi. Lema (entri) dalam kamus memiliki interpretan kolektif dalam ensiklopedi. Ketika untuk pertama kalinya pendiri Indonesia
mengatakan Indonesia "ada" sebagai sebuah bangsa, mungkin masih ada pertentangan dari beberapa kalangan. Akan tetapi, seiring waktu, interpretan itu menjadi kolektif dan publik hingga menjadi bagian kesadaran banyak suku (Christomy 2002).
Menurut Peirce, interpretan adalah "efek mental" atau pemikiran yang digeneralisasi melalui hubungan dua term lain (Silverman, 1993:...). Yang dimaksud dengan dua term lain adalah representamen dan acuannya (objek). Dengan demikian, interpretan adalah kategori tanda (sign vehicle) yang memediasi dua titik menjadi satu garis lurus.
Tanpa mediasi tersebut tidak ada pemaknaan, dan dua titik (R dan O) hanyalah suatu noktah tercecer tanpa arti.
Secara teoretis, jalinan interpretan dapat membentuk interpretasi yang tanpa batas, sehingga Art van Zoest menyebutnya sesuatu yang "menakutkan”.
Bila suatu interpretan merupakan tanda, maka berpotensi untuk berkembang lagi menjadi sebuah interpretan baru, dan seterusnya tanpa batas. Gambaran ini agak mengerikan, karenal bila ujung rangkaian interpretasi tidak tampak, bagaimana kita harus melukiskannya? Kekhawatiran ini hanya dapat direda sekadarnya dengan menunjuk pada kemungkinan untuk seakan-akan memotong rangkaian interpretasi dan membatasi penelitian pada segmen tertentu...(Zoest, 1993: Verpotens 28). kemungkinan Peirce membedakan tiga macam interpretan (interpretasi), yaitu rheme, dicisign, dan argument. Tanda merupakan theme jika dapat diinterpretasikan sebagai representasi dari suatu kemungkinan denotatum. Contohnya unsur "x" pada kalimat "Piet adalah x".
Di sini "x" adalah tanda, tapi masih suatu kemungkinan (berpotensi menjadi tanda).
Jika tanda "x" diisi dengan 'baik' atau 'cerdas', maka tanda "x" telah diberikan denotatumnya dan dapat diinterpretasikan. Contoh lain adalah kata "meja". "Meja"
adalah tanda bahasa. Namun, jika tanpa konteks, kata meja hanya memiliki kemungkinan-kemungkinan denotatumnya, dan kemungkinan-kemungkinan interpretannya. Dengan demikian, rheme merupakan firstness (Zoest, 1993: 29).
Suatu tanda merupakan sebuah dicisign, jika bagi interpretannya menawarkan hubungan yang benar ada antara tanda denotatumnya. Contohnya kalimat "Piet manis".
Kalimat tersebut adalah sebuah dicisign, karena terlepas dari cara eksistensi apa pun yang mungkin masuk atau belum masuk ke wilayah yang berlaku secara umum.
Dengan demikian, dicisign merupakan secondness. Dari sudut logika, dicisign
merupakan proposisi logis. Hal ini bisa dipahami karena Peirce adalah ahli logika (ibid).
Adapun suatu tanda menjadi sebuah argument, jika tanda tersebut berlaku umum bagi interpretannya. Dalam pandangan Peirce, silogisme tradisional merupakan argument.
Contoh silogisme adalah: "Semua manusia tidak hidup kekal". "Sokrates adalah manusia". "Sokrates tidak hidup kekal". Dengan demikian argument merupakan thirdness (Ibid: 29-30)³.
C. Aplikasi Teori Semiotika Peirce
Kerudung atau tudung kepala pada wanita muslim merupakan suatu kewajiban bagi para wanita muslim. Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur'an surat Al-Ahzab ayat 59 dan An-Nur ayat 33. Oleh karena itu, kerudung merupakan tanda ketaatan kepada agama (syari'at) atau kesalehan si pemakainya. Namun, dalam perjalanannya, kerudung menjadi tradisi umat Islam, dan karena sudah menjadi tradisi, kerudung (yang kadang disebut jilbab) dipandang busana kuno atau kolot. Sekitar tahun 80-90-an, ada sejumlah perkantoran dan perusahaan melarang karyawatinya berkerudung dan tidak menerima pelamar berkerudung. Namun, pada tahun 2000-an pandangan tersebut bergeser.
Sekarang ini, kerudung atau jilbab telah menjadi salah satu tren busana dunia yang lebih populer dengan istilah hijab.
Dari uraian di atas, jika dianalisis dengan semiotika Peirce, kata /kerudung/ menjadi R (1) yang objeknya (O (1)) adalah penutup kepala wanita muslim, yang menjadi tanda ketaatan terhadap agama (kesalehan) (1(1)). Kerudung kemudian menjadi R (2) ketika dianggap sebagai busana kolot atau kuno (I-(2)). Kerudung menjadi R (3), ketika menjadi salah satu tren busana dunia (I-(3)). Objek Kedua (O(2)) dan objek ketiga (O(3)) adalah sama dengan objek pertama O (4).
O (1) :
Penutup kepala Wanita muslim
O (2) :
Penutup kepala Wanita muslim
O (3) :
Penutup kepala Wanita muslim
R (1) :/kerudung/ I-(1) :ketaatan terhadap agama (kesalehan)/R (2)
I-(2) :Busana kolot atau kuno/R (3)
I-(3) :Tren busana dunia/R (4)
Contoh lain adalah Al-Qur'an sebagai tanda perdamaian demi mengelabui pihak lawan dalam sebuah peperangan yang merupakan bagian dari sejarah Islam. Hal itu terjadi pada perang "Shiffin" antara kelompok Ali R.a., khalifah keempat, dan kelompok Mu'awiyyah bin Abi Sufyan yang menolak kekhalifahan Ali. Ketika pertempuran hampir dimenangkan oleh pasukan Ali, kelompok Mu'awiyyah yang waktu itu dipimpin oleh Amr bin 'Ash mengacungkan mushaf AlQur'an sebagai tanda damai.
Kemudian, kedua kelompok melakukan gencatan senjata dan arbitrase (tahkim).
Ternyata dalam arbitrase tersebut, kelompok Mu'awiyyah melakukan kecurangan dengan memberhentikan Ali sebagai Khalifah dan mengangkat Mu'awiyyah sebagai Khalifah (Syalaby, Jilid 1, 1970: 213217).
Dari penggalan sejarah tersebut, kita bisa melihat bagaimana AlQur'an dijadikan tanda untuk mengelabui (berbohong), sebagaimana yang dilakukan oleh kelompok Mu'awiyyah terhadap kelompok Ali. Jika dilihat dari semiotika Peirce, dapat disimpulkan bahwa kelompok Ali hanya menginterpretasi mushaf Al-Qur'an (R (1)) sebagai tanda persatuan (QS. 3: 103) dan perdamaian (QS. 4: 128) (O (1)), yang berarti ajakan gencatan senjata dan damai (I (1)). Padahal, pihak lawan menggunakan mushaf Al-Qur'an (R (2)) sebagai alat untuk mengetahui musuhnya (I (2)).
O (1):
Persatuan (QS.3:103) dan perdamaian (QS.4:128)
O (2) :
Persatuan (QS.3:103) dan perdamaian (QS.4:128)
R (1) : Mushaf Al-Qur’an
I-(1) :
Ajakan genjatan senjata dan berdamai/R (2)
I-(2) :
Mengetahui kelompok musuh
Contoh Analisis Teori Charles Pierce Tiap Individu Analisis Khoirunnisa Aulia Mujahidah
Novel Assalamu’alaikum Beijing “Karya Asma Nadia”
No REPRESENTAMEN1 INTERPRETAN2 OBJEK3
1. “Ditambah, setelah
menikah, Sekar yang suaminya alim, sering memforward hadis, ayat Al-Qur’an, dan tausiyah.
Lebih baik seorang laki- laki memegang bara panas berapi ketimbang perempuan yang bukan mahromnya”.
Lelaki berkulit kuning itu makin rajin ke perpustakaan.
Menyibukkan diri dengan membaca buku- buku kajian tentang islam, bahkan membeli Al-Qur’an dengan terjemahan bahasa China. Semata-mata ingin memahami apa yang berabad-abad lalu, Tuhan sepertinya dia
mulai percaya
keberadaan-Nya-katakan kepada utusan-Nya.
Nilai Akidah (Iman Kepada
Kitab Allah)
Al-Qur’an Surat Al- Maidah Ayat 48
َبٰتِكْلا َكْيَلِا اَنْلَزْنَاَو
َنْيَب اَمِل اًقِدَصُم ِقَحْلاِب اًنِمْيَهُمَو ِبٰتِكْلا َنِم ِهْيَدَي اَمِب ْمُهَنْيَب ْمُكْحاَف ِهْيَلَع
ْعِبّتَت َلَو ُ ٰاا َلَزْنَا
َنِم َكَءۤاَج اّمَع ْمُهَءۤاَوْهَا
ْمُكْنِم اَنْلَعَج ّلُكِل ِۗقَحْلا
َءۤاَش ْوَلَوۗ اًجاَهْنِمّو ًةَع ْرِش
ًةَدِحاّو ًةّمُا ْمُكَلَعَجَل ُ ٰاا
ْمُكىٰتٰا اَم ْيِف ْمُكَوُلْبَيِل ْنِكٰلّو
ِ ٰاا ىَلِا ِۗت ٰرْيَخْلا اوُقِبَتْساَف
ْمُكُئِبَنُيَف اًعْيِمَج ْمُكُعِج ْرَم
َۙنْوُفِلَتْخَت ِهْيِف ْمُتْنُك اَمِب
Artinya : Dan Kami telah menurunkan Kitab (Al-Qur'an) kepadamu
(Muhammad) dengan membawa kebenaran, yang membenarkan kitab-kitab yang diturunkan
sebelumnya dan
menjaganya, maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang diturunkan Allah dan janganlah engkau mengikuti keinginan mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.
Untuk setiap umat di antara kamu, Kami
berikan aturan dan jalan yang terang.
Kalau Allah
menghendaki,
niscaya kamu
dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi
Allah hendak
menguji kamu
terhadap karunia yang telah diberikan- Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan.
Hanya kepada Allah kamu semua kembali, lalu diberitahukan-
Nya kepadamu
terhadap apa yang
dahulu kamu
perselisihkan,
DATA 1 (Nilai Akidah)
“Apa yang dilakukan Zhongwen dalam mengenal islam sebelum akhirnya memutuskan untuk berpindah keyakinan ialah dengan cara mempelajari kitab- kitab Allah”
Kutipan diatas terdapat unsur keimanan yaitu iman kepada kitab Allah SWT. Salah satu kewajiban seorang mukmin adalah beriman kepada kitab-kitab Allah. Hal ini dapat dilakukan dengan cara mempelajari kitab- kitab Allah seperti dalam kutipan novel di atas, apa yang dilakukan Zhongwen dalam mengenal islam sebelum akhirnya memutuskan untuk berpindah keyakinan. Setiap mukmin juga berkewajiban menjadikan Al- Qur’an sebagai kitab suci yang paling mulia dan terakhir yang menguji kebenaran kitab-kitab sebelumnya. Dan wajib bagi kita untuk mengamalkan apa yang terdapat dalam Al-Qur’an dan menjadikannya sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan di dunia dan di akhirat kelak.
Hal ini sebagaimana terdapat dalam Al Quran Surat Al-Maidah Ayat 48
ْمُهَءۤاَوْهَا ْعِبّتَت َلَو ُ ٰاا َلَزْنَا اَمِب ْمُهَنْيَب ْمُكْحاَف ِهْيَلَع اًنِمْيَهُمَو ِبٰتِكْلا َنِم ِهْيَدَي َنْيَب اَمِل اًقِدَصُم ِقَحْلاِب َبٰتِكْلا َكْيَلِا اَنْلَزْنَاَو
ِقَحْلا َنِم َكَءۤاَج اّمَع ...
Dan dalam Hadist Dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
َجَرَح َلَو َليِئاَرْسِإ يِنَب ْنَع اوُثِدَحَو ًةَيآ ْوَلَو يِنَع اوُغِلَب Dalam perspektif semiotik Pierce, kutipan di atas merupakan representament (R), mempelajari kitab-kitab Allah (Iman kepada kitab Allah) sebagai interpretant (I), QS
Al-Maidah Ayat 48 sebagai objek 1 (O 1), dan Hadits Dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai (O 2).
DATA 2 (Nilai Akhlak)
“Rutinitas berulang yang membosankan dan melelahkan, tetapi diikuti lelaki tampan itu dengan kesabaran dan kesetiaan seorang prajurit.”
Dari kutipan diatas menggambarkan tentang sosok Zhongwen yang selalu berada di samping Asma, walaupun pada saat itu Asma sedang mengalami hilang ingatan akibat penyakit yang di deritanya. Setiap hari Zhongwen selalu melibatkan diri sepenuhnya, mulai dari mengenali huruf dan membaca dari awal seperti anak taman kanak-kanak sampai membantu Asma mengenali wajah Mama, Sekar, mas Ridwan, dan Zhongwen Iman kepada kitab Allah SWT (I) Iman kepada kitab Allah SWT (I)
Mempelajari kitab-kitab Allah (R)
QS Al Maidah: 48 (O 1)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (O 2)
2. “Rutinitas berulang yang membosankan dan melelahkan, tetapi diikuti lelaki tampan itu dengan kesabaran dan kesetiaan seorang prajurit”.
Nilai Akhlak (Sabar)
Al-Qur’an Surat Az- Zumar Ayat 10
ْمُكّبَر ا ْوُقّتا اوُنَمٰا َنْيِذّلا ِداَبِعٰي ْلُق اَيْنّدلا ِهِذٰه ْيِف ا ْوُنَس ْحَا َنْيِذّلِلۗ
اَمّنِاۗ ٌةَعِساَو ِ ٰاا ُضْرَاَوۗ ٌةَنَسَح
ِرْيَغِب ْمُهَر ْجَا َن ْوُرِب ٰاصلا ىّفَوُي
ٍباَسِح
Artinya : Katakanlah
(Muhammad), “Wahai
hamba-hamba-Ku yang beriman! Bertakwalah kepada Tuhanmu.” Bagi orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu luas. Hanya
orang-orang yang
bersabarlah yang
disempurnakan pahalanya tanpa batas.
sendiri. Dari kutipan teks diatas dapat disimpulkan bahwa apapun persoalan yang sedang di hadapi kita harus selalu bersabar. Jika seseorang tidak memiliki sikap sabar pasti dalam menghadapi masalah akan mengikuti hawa nafsunya untuk bersikap keras membalas apa yang dilakukannya dan menimbulkan konflik. Tapi dari seorang Zhongwen dia menghadapi itu semua dengan penuh keikhlasan dan kesetiaan. Apabila kita mempunyai niat baik untuk menjalankan sebuah kegiatan pasti Allah akan memberi kemudahan dalam menggapai.
Hal ini sebagaimana terdapat dalam Al Quran Surat Al Zumar Ayat 10 :
ْمُهَر ْجَا َن ْوُرِب ٰاصلا ىّفَوُي اَمّنِاۗ ٌةَعِساَو ِ ٰاا ُضْرَاَوۗ ٌةَنَسَح اَيْنّدلا ِهِذٰه ْيِف اْوُنَسْحَا َنْيِذّلِلۗ ْمُكّبَر اْوُقّتا اوُنَمٰا َنْيِذّلا ِداَبِعٰي ْلُق
ٍباَسِح ِرْيَغِب Dan dalam Hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
اًمْيِرَك ًلُجَر َناَكَل ًلُجَر ُرْبّصلا َناَك ْوَل} :ُم َلّسلاَو ُة َلّصلا ِهْيَلَع َلاَقَو Dalam perspektif semiotik Pierce, kutipan di atas merupakan representament (R), Kesabaran sebagai interpretant (I), QS Az-Zumar Ayat 10 sebagai objek 1 (O 1), dan Hadits dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai (O 2).
Kesabaran (I) Kesabaran (I)
Diikuti lelaki tampan itu dengan kesabaran dan kesetiaan seorang prajurit (R)
QS Az-Zumar:1 0 (O 1)
Nabi SAW (O 2)
3. “Semula kubayangkan aku akan menjadi alien di Negeri Tirai Bambu ini.Perempuan berkerudung di tengah-tengah orang berkulit kuning .Ternyata bayanganku salah.
Islam bukanlah sesuatu yang asing disini.”
Mereka menyebut islam sebagai agama yang murni. Sementara mereka menyebut mekkah sebagai tempat kelahiran Mahyaw alias Nabi
Nilai Syariah (Menutup Aurat)
Al-Qur’an surat Al-Ahzab Ayat 59
َكِجاَو ْزَ ِل ْلُق ّيِبّنلا اَهّيَآٰي
َنْيِنْدُي َنْيِنِم ْؤُمْلا ِءۤاَسِنَو َكِتٰنَبَو
َكِل ٰذ ّۗنِهِبْيِب َلَج ْنِم ّنِهْيَلَع
َۗنْيَذْؤُي َلَف َنْفَرْعّي ْنَا ٓىٰنْدَا اًمْيِحّر اًر ْوُفَغ ُ ٰاا َناَكَو
Artinya : Wahai Nabi!
Muhammad SAW.
Gadis berkerudung pun bukan Cuma kami,aku dan sekar sahabatku.tapi banyak pula muslimah lainnya.
Katakanlah kepada istri-
istrimu, anak-anak
perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, “Hendaklah
mereka menutupkan
jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.
DATA 3 (Nilai Syariah)
“Semula kubayangkan aku akan menjadi alien di Negeri Tirai Bambu ini.Perempuan berkerudung di tengah-tengah orang berkulit kuning .Ternyata bayanganku salah.
Islam bukanlah sesuatu yang asing disini.”
Mereka menyebut islam sebagai agama yang murni. Sementara mereka menyebut mekkah sebagai tempat kelahiran Mahyaw alias Nabi Muhammad SAW.
Gadis berkerudung pun bukan Cuma kami,aku dan sekar sahabatku.tapi banyak pula muslimah lainnya.
Dari kutipan teks diatas menggambarkan bahwa menutup aurat adalah sesuatu yang bukan asing jika kita berada ditempat asing atau negeri orang bahkan negeri orang juga masyarakatnya sangat menghormati dan menerima keadaan seorang asma dan kawan- kawannya yang menggunakan jilbab bahkan di negeri itu pun terdapat banyak masyarakat muslim lainnya.
Hal ini sebagaimana terdapat dalam Al Quran Surat Al-Ahzab Ayat 59 :
ُٓٓ ٰاا َناَكَو َۗنْيَذْؤُي َلَف َنْفَرْعّي ْنَا ٓىٰنْدَا َكِل ٰذ ّۗنِهِبْيِب َلَج ْنِم ّنِهْيَلَع َنْيِنْدُي َنْيِنِمْؤُمْلا ِءۤاَسِنَو َكِتٰنَبَو َكِجاَوْزَ ِل ْلُق ّيِبّنلا اَهّيَا اًمْيِحّر اًر ْوُفَغ
Dan dalam Hadist Dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda
َكُنيِمَي ْتَكَلَم اَم ْوَأ َكِتَج ْوَز ْنِم ّلِإ َكَتَر ْوَع ْظَف ْحا Dalam perspektif semiotik Pierce, kutipan di atas merupakan representament (R), Gadis berkerudung sebagai interpretant (I), QS Al-Ahzab Ayat 59 sebagai objek 1 (O 1), dan Hadist Dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam beliau bersabda sebagai (O 2).
Gadis berkerudung (I) Gadis berkerudung (I)
Gadis berkerudung pun bukan Cuma kami,aku dan sekar sahabatku.tapi banyak pula muslimah lainnya (R)
QS Al-Ahzab :59 (O 1)
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam (O 2)
Analisis Indah Rimaelina
Novel Puteri Kejawen “Karya Novia Syahidah”
1. Tiba-tiba aku teringat ucapan Bu Zainab dulu, Rasulullah melarang pengobatan sihir dengan menggunakan sihir pula sebab itu merupakan perbuatan syetan (hal 149).
Nilai akidah (iman kepada nabi
dan rosulullah)
Al-Qur’an Surat At-thur Ayat 29
ٍۗنْوُنْجَم َلّو ٍنِهاَكِب َكِبَر ِتَمْعِنِب َتْنَا اَمَف ْرِكَذَف Artinya : Maka peringatkanlah, karena dengan nikmat Tuhanmu engkau (Muhammad) bukanlah seorang tukang tenung dan bukan
pula orang gila ..
DATA 1 (Nilai Akidah)
Tiba-tiba aku teringat ucapan Bu Zainab dulu, Rasulullah melarang pengobatan sihir dengan menggunakan sihir pula sebab itu merupakan perbuatan syetan
Kutipan diatas menunjukkan sifat beriman kepada nabi dan rosul seperti ucapan ibu zainab dulu bahwa rosul melarang pengobatan sihir bahwa sebagai umatnya kita harus menuruti akan larangan itu yang diberikan kepada kita semua. Kita tidak dapat mengelak perkataan rosul yang sudah keluar dari mulutnya. Sebagai hamba harus menerima dan berserah diri kepada Allah atas keputusan-Nya. Dan memang perbuatan itu adalah perbuatan setan yang terkutuk.
Hal ini sebagaimana terdapat dalam Al-Qur’an Surat At-thur Ayat 29 :
ٍنوُن ْجَم َلَو ٍنِهاَكِب َكِبَر ِتَمْعِنِب َتنَأ اَمَف ْرِكَذَف
“Maka tetaplah memberi peringatan, dan kamu disebabkan nikmat Tuhanmu bukanlah seorang dukun dan bukan pula seorang gila” (QS. At-Thur: 29).
Dan dalam Hadist Dari Syaikh Ibnu ’Utsaimin rahimahullah merinci :
bahwa orang yang mempraktekkan sihir, bisa jadi orang tersebut kafir, keluar dari Islam, dan bisa jadi orang tersebut tidak kafir meskipun dengan perbuatannya tersebut dia telah melakukan dosa besar.
Dalam perspektif semiotik Pierce, kutipan di atas merupakan representament (R), rosulullah melarang pengobatan sihir (Iman kepada nabi dan rosulullah) sebagai interpretant (I), QS At-thur ayat 29 sebagai objek 1 (O 1), dan Hadits Dari syaikh ibnu utsaimin rahimahullah sebagai (O 2).
Rosulullah melarang pengobatan sihir(I) Rosulullah melarang pengobatan sihir
(I)
Kutipan yang di atas (R) QS At-Thur ayat 29 (O 1)
Syaikh ibnu utsaimin rahimahullah (O 2)
2. Ah, Bapak! Masa anaknya mau berbuat baik nggak dikasih.
Menunda-nunda niat baik itu nggak boleh, Pak.(hal13)
Nilai akhlak (berbuat baik)
Al-Qur’an Surah Al-Isra’ ayat 7
ِٓ
ْ ا ن ْ ا ََ
َ ح ْنس تَُ ْ م ْ ا ََ
َ ح ْنس تَُ ْ ِ م لا َ فُ ْن سِ
ُك ْ
ّ َمۗ
و ْ ِا ن َ ا ََ
س
َُ ْأَْت َ م ل َف َ ّۗاه ف ِ َ ا ا َذَ
ۤاج ء َ
َو ْ ع دَُ
ْ ٰ ا لا ِ َخ ر ِ ة َيِ ل ˚ۤ
َُٔ ْسَ
ا و وُ ُ ْج و َ
هلُوخ ُ د ْ َي ِلو َ م ْ ُك
ا ِليُوّ ةٍ ر ّمَ ل َ واََ ّهُ ولُ ْخ د َ َ ام َكَ دَج ِس ْ م ل َا ْ تو ْ َلعَ ا مَ ا و ْ ُر بِ ’
ا ِتَتْ
ب ً يْ
ار
“ Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri. Apabila datang saat hukuman (kejahatan) yang kedua, (Kami bangkitkan musuhmu) untuk menyuramkan wajahmu lalu mereka masuk ke dalam masjid (Masjidil Aqsa), sebagaimana ketika mereka memasukinya pertama kali dan mereka membinasakan apa saja yang mereka kuasai”.
Data 2 ( Nilai akhlak )
Ah, Bapak! Masa anaknya mau berbuat baik nggak dikasih. Menunda-nunda niat baik itu nggak boleh, Pak.
Kutipan ini terdapat nilai akhlak yaitu berbuat baik, tetapi untuk berbuat baik kita harus ikhlas dan mengajakan kita tidak boleh menunda-nundanya dan harus langsung menyalurkan kebaikannya kepada yang ingin kita tolong atau bantu. Itu salah satu sifat terpuji dan di sukai oleh Allah SWT
Dalam Al-Qur’an surat Al-Araf ayat 26 :
َن ۡوُرّكّذَي ۡمُهّلَعَل ِ ٰاا ِتٰيٰا ۡنِم َكِل ٰذ ؕ ٌرۡيَخ َكِل ٰذ ۙ ى ٰوۡقّتلا ُساَبِلَو ؕ اًشۡيِرَو ۡمُكِتٰا ۡوَس ۡىِراَوّي اًساَبِل ۡمُكۡيَلَع اَنۡلَزۡنَا ۡدَق َمَدٰا ۤۡىِنَبٰي Dan dalam hadist riwayat muslim :
Rasulullah SAW bersabda yang artinya: "Dua golongan ahli neraka yang belum pernah aku lihat ialah, satu golongan memegang cemeti seperti ekor lembu yang digunakan bagi memukul manusia dan satu golongan lagi wanita yang memakai pakaian tetapi telanjang dan meliuk-liukkan badan juga kepalanya seperti bonggol unta yang tunduk.Mereka tidak masuk syurga dan tidak dapat mencium baunya walaupun bau syurga itu dapat dicium daripada jarak yang jauh."
Dalam perspektif semiotik Pierce, kutipan di atas merupakan representament (R), berbuat baik (nilai akhlak) sebagai interpretant (I), QS Al-araf ayat 26 sebagai objek 1 (O 1), dan Hadits dari HR. Muslim sebagai (O 2).
Berbuat baik
(I)Berbuat baik
(I)Kutipan di atas
(R)QS Al-araf ayat 26
(O 1)
HR.Muslim
(O 2)3. Bapak sangat melindungi aku sebagaimana Abu Thalib melindungi Rasulullah.(hal 129)
Nilai akhlak (saling
Al-Qur’an surah Al- anfal ayat 73
ٍۗضْعَب ُءۤاَيِلْوَا ْمُهُضْعَب اْوُرَفَك َنْيِذّلاَو
ِض ْرَ ْلا ىِف ٌةَنْتِف ْنُكَت ُه ْوُلَعْفَت ّلِا
ٌۗرْيِبَك ٌداَسَفَو Adapun orang-orang yang kafir, sebagian
pelindung bagi sebagian yang lain.
Jika kamu (wahai umat Islam) tidak
menjalankan (dasar bantu-membantu dan melindungi sesama umat Islam sendiri yang diperintahkan oleh Allah) itu, niscaya akan berlakulah fitnah (kekacauan) di muka bumi dan
kerusakan yang besar”.
(QS Al-Anfal ayat 73)
Data 3 (Nilai akhlak)
Bapak sangat melindungi aku sebagaimana Abu Thalib melindungi Rasulullah nilai akhlak)
Kutipan yang diatas terdapat nilai akhlak yang mana bapak sangat melindungi anaknya, karena seorang ayah yang sangat menyayangi anaknya dan sangat ingin menjaga nya dari marabahaya. Dan islam menagajarkan kita saling peduli dan melindungi sesama umat muslim maupun agama lain,dan perbuatan itu sangat wajar dilakukan oleh seorang bapak kepada anaknya.
Dalam Al-Qur’an surah Al-anfal ayat 73
ٌۗرْيِبَك ٌداَسَفَو ِضْرَ ْلا ىِف ٌةَنْتِف ْنُكَت ُهْوُلَعْفَت ّلِا ٍۗضْعَب ُءۤاَيِلْوَا ْمُهُضْعَب اْوُرَفَك َنْيِذّلاَو Dan hadist riwayat dikabarkan oleh abu hurairah :
ًةَمْحَر ُتْثِعُب امّنإو ،اًنااعَل ْثَعْبُأ ْمَل يِنإ» :َلاق َنيِكِرْشُملا ىلَع ُعْدا ِا َلوُسَر اي :َليِق
sangat melindungi
(I)Sangat melindungi
(I)Kutipan di atas
(R)QS Al-anfal ayat 73
(O 1)
Abu hurairah
(O 2)DAFTAR PUSTAKA
Buku :
Semiotika untuk Kajian Sastra dan Al-Quran, Wildan Taufiq, M.Hum