MAKALAH
LOMPAT JANGKIT DAN LOMPAT TINGGI
Kelompok 2 JULKIFLI SALUHUDIN USWATUN KHASANAH
ZIANA AYUNI
M ARIS MUNANDAR PUTRA
PENDIDIKAN JASMANI KESEHATAN DAN REKREASI SEMESTER V
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN YAYASAN PENDIDIKAN ISLAM DOMPU
TAHUN AKADEMIK 2023-2024
DAFTAR ISI
COVER...………1 DAFTAR ISI...2 KATA PENGANTAR...3 BAB 1 PENDAHULUAN
A.Latar Belakang...4 B. Rumusan Masalah...4 C. Tujuan...5 BAB II PEMBAHASAN
A. Sejarah Lompat Jangkit dan Lompat Tinggi.……….6 B. Pengertian Lompat Jangkit dan Lompat Tinggi………8 C. Teknik-teknik dalam Lompat jangkit dan lompat Tinggi……….12 D. Sarana dan Prasarana dalam Lompat Jangkit dan Lompat Tinggi …………...20 E. Peraturan dalam Lompat Jangkit Dan Lompat Tinggi………..22 BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan...23 B. Saran...23 DAFTAR PUSTAKA...24
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmaanirrahim,
Segala puji bagi Allah SWT., Tuhan yang selalu melimpahkan rahmat taufiq dan hidayah. Yang Maha Tahu dan Maha Bijaksana. Yang selalu memberikan petunjuk dan pertolongan kepada hamba-hamba-Nya yang mau mendekatkan diri. Ia Maha Pengasih dan Maha Penyayang.
Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad saw., para keluarga, sahabat, pengikutnya dan siapa saja yang mencintainya.
makalah ini sangat penting untuk dikembangkan terutama untuk proses dalam pembelajaran dan digunakan untuk panduan memudahkan belajar.
Selain itu, ini merupakan salah satu bagian penting dari upaya-upaya dalam melakukan peningkatan pengetahuan tentang Lompat jangkit dan lompat tinggi. Diharapkan juga bisa mempermudah pemahaman tentang materi serta informasi. Oleh karena itu, dengan ini diharapkan dapat memberikan penjelasan secukupnya.
Akhirnya, mudah-mudahan makalah ini bermanfaat bagi pembelajaran. Semoga Allah SWT, senantiasa menunjukkan jalan yang lurus dan melimpahkan berkah serta ridha-Nya. Aamiin
Dompu, 18 Oktober 2023 Penyususun,
Kelompok 2
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan jasmani adalah satu fase dari proses pendidikan keseluruhannya yang peduli terhadap perkembangan dan penggunaan kemampuan gerak individu yang sifatnya sukarela serta bermakna dan terhadap reaksi yang langsung berhubungan dengan mental, emosional, dan sosial Nixon and Jewtt dalam Harsuki (2003 : 27).
Lompat jangkit adalah salah satu event yang dilombakan dari nomor lompat yang terdapat pada cabang olahraga Atletik. Menurut Tamsir Riadi (1985:107) lompat jangkit sering disebut lompat tiga atau bisa juga disebut triple jump. Di katakan lompat tiga dikarenakan pada saat melaksanakan lompatan pelompat harus malakukan gerakan hop, step, dan jump.
Gerakan lompat jangkit sebenarnya hampir tidak jauh berbeda dengan gerakan pada lompat jauh, yang membedakan adalah gerakan lompat jangkit ada gerakan hop, step, dan jump, di mana sebelum mendarat di bak pasir pelompat harus melakukan rangkaian gerak jingkat, langkah, dan lompat.
Lompat tinggi merupakan salah satu bagian dari cabang olahraga atletik. Lompat tinggi adalah salah satu keterampilan untuk melewati mistar yang dipasang di kedua tiang. Tujuan dari lompat tinggi adalah mendapatkan lompatan yang setinggi mungkin. Ketinggian lompatan yang dicapai oleh pelompat ditentukan oleh kemampuan dan persiapan bertanding dari masing-masing pelompat. Hingga saat ini, ada empat gaya yang dikenal dalam lompat tinggi, diantaranya adalah gaya guling (Straddle) yang merupakan gaya dimana ketika badan melewati mistar dengan cepat diputar dan dibalikkan, sehingga sikap badan di atas mistar telungkup.
B. Rumusan Masalah
Adapun beberapa permasalahan berdasarkan latar belakang di atas yang akan dibahas adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana Sejarah Lompat Jangkit Dan Lompat Tinggi ?
2. Apa Yang Dimaksud Dengan Lompat Jangkit Dan Lompat Tinggi?
3. Apa Saja Teknik-Teknik Dalam Permainan Lompat Jangkit Dan Lompat Tinggi ? 4. Apa Saja Sarana Dan Prasarana Dalam Lompat Jangkit Dan Lompat Tinggi ? 5. Apa Saja Peraturan Dan Perwasitan Lompat Jangkit Dan Lompat Tinggi?
C. Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut : 1. Untuk Mengetahui Sejarah Lompat Jangkit Dan Lompat Tinggi 2. Untuk Mengetahui Apa Itu Lompat Jangkit Dan Lompat Tinggi
3. Untuk Mengetahui Teknik-Teknik Dalam Permainan Lompat Jangkit Dan Lompat Tinggi 4. Untuk Mengetahui Sarana Dan Prasarana Dalam Lompat Jangkit Dan Lompat Tinggi 5. Untuk Mengetahui Peraturan dalam Lompat Jangkit Dan Lompat Tinggi
D.
BAB II PEMBAHASAN
A. Sejarah Lompat jangkit dan Lompat Tinggi 1) Lompat Jangkit
Sejarah lompat jangkit dapat ditarik sejak zaman Olimpiade kuno. Namun, lompat jangkit baru menjadi bagian dari Olimpiade modern untuk pertama kalinya pada 1896 di Athena, Yunani. Pada saat itu, lompat jangkit terdiri dari dua lompatan dengan kaki yang sama dan kemudian satu lompatan. Tapi format baru hop, skip dan jump distandarisasi pada 1908.
Juara Olimpiade modern pertama adalah James Connolly di nomor lompat jangkit. Kemudian pada tahun 1996, lompat jangkit putri diperkenalkan ke Olimpiade Atlanta. Francoise Mbango memenangkan emas dan menjadi atlet wanita pertama dari Kamerun yang memenangkan medali Olimpiade di Athena 2004, Yunani.
Viktor Saneyev dari Uni Soviet memenangkan hattrick gelar lompat jangkit putra Olimpiade dari tahun 1968 hingga 1976 dan Christian Taylor dari AS memenangkan gelar Olimpiade pada tahun 2012 dan 2016.
Istilah “Atletik” berasal dari kata Yunani “Atlon” yang berarti “Berlomba” atau
“Bertanding”. Arti selengkapnya adalah pancalomba atau perlombaan yang terdiri dari lima nomor. Di abad XIX merupakan masa menggeloranya kembali semangat berolahraga di kalangan masyarakat luas termasuk berkembangnya olahraga Atletik.
Perkumpulan-perkumpulan Atletik mulai terbentuk. Adapun perlombaan-perlombaan Atletik mulai banyak diperlombakan dan diselenggarakan.
Pada tahun 1960 perkumpulan Atletik yang pertama di selenggarakan di Amerika tepatnya di Sanfransisco dengan nama Olimpiade Club. Kejuaraan atletik di Amerika
di selenggaraka pada tahun 1960 oleh: New York Atletik Club. Setelah itu sering kali diadakan perlombaan di amerika serikat dengan Negara-negara eropa. Pada tahun 1880 di Inggris berdiri istilah Amateur Atletik Board. Tahun 1887 di New Salan berdiri New Zealand Atletik Amateur Assosation. Tahun 1899 di Belgia berdiri Lique royale belge’d Atletisme, dan di Canada berdiri Canadian Track and Field Asosiation.tahun 1895 Africa Selatan berdiri South Africant Amateur Atletic Union.
Dan di Swedia berdiri SouthAfricant Amateur Atletic Union. Dan di Swedia berdiri Swenska Fri Idrotta Forbunder. Perlombaan-perlombaan kejuaraan atletik telah saring di selenggarakan. Demikian perlombaan atas Negara belum ada peraturan perlombaan menentukan pemenang.
Baru pada tanggal 17 Juli yaitu setelah selesainya perlombaan atletik pada olympiade modern V di Stockholm. Tokoh-tokoh atletik dari 17 negara yang mengikuti olypiade dari Amerika Serikat ,Australia ,Inggris ,Inggris, Jerman ,Swedia ,Yunani berdiskusi untuk membentuk suatu badan internasional yang kan membuat peraturan perlombaan atletik yang lengkap. Badan tersebut didirikan dengan nama Internasional Amateur Atletik Federation (IAAF) terpilih sebagai ketua adalah Kristina Helestrom kedua-duanya dari Swedia. Peraturan-peraturan tehnis untuk perlombaan Internasional yang pertama di sahkan pada congress yang ke tahun 1914 di Lyon Ferancis. Sejak terbentuknya IAAF ini ppenyelenggaraan perlombaan atletik makin baik terutama dalam segi pengorganisasian.
2) Lompat Tinggi
Lompat tinggi bermula dari olimpiade pada abad ke-19 di Skotlandia. Pada kala itu, para peserta lompat tinggi menggunakan gaya gunting dan tercatat lompatan tertinggi yang dilakukan oleh peserta adalah 1,68 meter. Pada saat itu juga, lompat tinggi tidak dilakukan secara sembarangan. Ada gaya-gaya tertentu yang harus dikuasai agar peserta terhindar dari kecelakaan. Pada abad ke-19, peserta lompat tinggi mendarat dan jatuh di atas tanah yang berumput dengan gaya gunting (dengan cara membelakangi) yang ternyata banyak meng-akibatkan cedera bagi para peserta.
Kemudian pada sekitar abad ke 20, gaya lompat tinggi telah dimodernisasi oleh seorang warga Irlandia-Amerika bernama Michael Sweeney. Pada tahun 1895,
Michael Sweeney berhasil melakukan lompatan setinggi 1,97 meter gaya eastern cut-off, dimana mengambil off seperti gunting, tapi memperpanjang punggungnya dan mendatar di atas bar.
Warga Amerika lainnya bernama George Horine mengembangkan teknik lompat yang lebih efisien bernama Western Roll. Melalui teknik ini, Horine bisa mencapai lompatan setinggi 2,01 meter pada tahun 1912. Kemudian pada Olimpiade Berlin tahun 1936, teknik lompatan ini menjadi dominan dilakukan sehingga Cornelius Johnson berhasil menang dengan mencapai ketinggian 2.03 m.
Kemudian pada empat dekade berikutnya, pelompat Amerika dan Soviet telah merintis evolusi teknik straddle. Charles Dumas adalah orang pertama yang menggunakan teknik ini mencapai ketinggian 2,13 m pada tahun 1956. Kemudian warga Amerika, John Thomas meningkatkan rekor dunia dengan ketinggian lompatan 2.23 m pada tahun 1960. Dan akhirnya Valeriy Brumel mengambil alih pencapaian dalam empat tahun ke depan. Pelompat Soviet ini mencatat ketinggian lompatan hingga 2,28 m dan berhasil memenangkan medali emas pada olimpiade tahun 1964, sebelum kecelakaan sepeda motor mengakhiri karirnya.
Dari Brumel inilah para atlet lompat tinggi mencoba belajar dan mengembangkan olahraga lompat tinggi hingga saat ini terdapat berbagai gaya dalam olahraga lompat tinggi di dunia, antara lain gaya gunting (Scissors), gaya guling sisi (Western Roll), gaya guling (Straddle) dan gaya fosbury flop. Sementara kini, lompat tinggi dilakukan dengan mendarat di atas matras sehingga kecelakaan dapat diminimalisir.
Atlet lompat tinggi sekarang banyak menggunakan gaya fosbury flop.
B. Pengertian Lompat Jangkit dan Lompat Tinggi 1) Lompat Jangkit
Lompat jangkit sering disebut sebagai lompat tiga dikatakan lompat tiga karenakan pada saat melaksanakan pelompat harus malakukan gerakan hop, step, dan jump Tamsir Riadi (1985:107). Lompat jangkit adalah sebuah nomor dalam caban atletik, atau track and field, perlombaannya hampir sama dengan perlombaan lompat jauh, akan tetapi melibatkan gerakan jingkat (hop), langkah (step) dan melompat (jump), dimana pelompat berlari menyusuri jalur awalan dan melakukan satu jingkatan
(hop), satu langkah (step) dan kemudian melompat (jump) ke dalam kotak pasir. Di dalam lompat jangkit sebenarnya terjadi tiga kali tolakan, tiga kali melayang di udara, dan tiga kali pendaratan, Jarak hasil lompatan di ukur dari kumulatif ketiga gerakan lompat jangkit yang terdiri dari hop, step, jump. Gerakan lompat jangkit memproyeksikan pusat gaya berat tubuh si pelompat di udara ke arah depan dengan melalui tiga tahapan lompatan atau tumpuan yaitu Hop, Step, Jump. Menurut Tamsir Riadi (1985:107)ketentuan pelompat harus melakukan tiga kali menumpu, menumpu dua kali dengan kaki yang sama yang disebut hop dilanjutkan gerakan langkah atau step dan diakhiri dengan gerakan jump atau lompat. Hasil dari suatu lompatan sangat tegantung dari kecepatan horizontal dan kekuatan pada ketiga tahapan tumpuan tesebut. Jarak antara hop, step, jump bervariasi tergantung dari kecepatan, kekuatan, dan kelentukan otot. Sudut tumpuan yang tepat sangat membantu menjaga kecepatan horizontal pelompat agar tidak turun secara signifikan. Lompat jangkit dibagi dalam beberapa tahap gerakan yang pertama ancan- ancang, jingkat, langkah, lompat dan mendarat. Jarak yang ditempuh atlet dalam lompat jangkit dapat diuraikan menjadi rangkaian gerak yang sama seperti pada lompat jauh. Dalam lompat jangkit, take off dan landing untuk tiap dua fase pertama hop dan step harus diatur untuk memudahkan fase berikutnya yaitu gerakan lompat atau jump. Misalnya, seorang pelompat jangkit yang memperoleh jarak maksimum take off, flight, landing dari fase hop-nya tidak akan mencapai usaha terbaiknya, karena jarak yang diperoleh untuk dua fase berikutnya akan berkurang. Dengan kata lain, jarak yang diperoleh dengan maksimum pada fase hop akan hilang pada fase step dan jump. Penyaluran yang optimum dari ketiga fase gerakan telah menjadi pokok persoalan yang perlu diperhatikan. Pokok persoalannya terfokus pada seberapa besar jarak hop diukur dari papan sampai ujung kaki atau pada pendaratan hop, jarak step diukur dari ujung kaki pada saat take off atau menumpu sampai ujung kaki landing atau mendarat, dan jarak jump diukur dari ujung kaki menumpu sampai tanda terdekat pada saat mendarat di dalam bak pasir, uraian di atas sebagai persentase jarak lompatan yang harus dibandingkan. Teknik lompat jangkit dimana jarak fase hop paling dominan atau lebih besar dari pada jarak fase berikutnya yang terpanjang disebut hop dominated,
sedangkan jika jarak pada fase jump paling dominan atau lebih besar dari pada fase terpanjang berikutnya disebut jump dominated, dan bila pada saat melakukan lompat jangkit tidak ada satu fase pun yang lebih dominan pada ketiga fase tersebut dapat diartikan bahwa jump balanced. Jarak dan dari rasio ketiga fase yang dicatat untuk para pelompat dunia memperlihatkan bahwa terdapat perubahan besar dalam teknik yang digunakan selama bertahun-tahun. Data juga menunjukkan bahwa kontribusi step terhadap prestasi lompatan meningkat dengan rasio antara 28-30%
(http://www.brianmac.co.uk/triplejump/index.htm). Lompat jangkit memerlukan speed, power, rhytm, balance, fleksibility, dan body awareness. Lompat jangkit disebut sebagai powerballet. Kaki take off harus merupakan bagian dari tungkai yang terkuat, karena digunakan untuk fase hop dan step. Pelompat harus berkonsentrasi pada setiap fase lompatan. Posisi kaki mengenai tanah harus dalam posisi datar atau full footed pada fase hop dan step, dengan lutut pada tungkai landing sedikit ditekuk untuk persiapan take off. Lari awalan untuk lompat jangkit sama dengan lari awalan untuk lompat jauh, tujuannya adalah untuk memperoleh kecepatan yang lebih besar yang dapat dikontrol selama fase jump. Kurangnya kemampuan teknik yang baik dan kekuatan otot tungkai akan menurunkan jarak dan jumlah kecepatan yang harus digunakan untuk lompatan. Perbedaan yang utama adalah transisi menuju jump. Penurunan titik berat badan dalam persiapan lompatan lebih sedikit dalam lompat jauh. Pelompat lari menginjakkan kakinya di papan dalam usahanya untuk mempertahankan kecepatan horisontal dan meminimalkan komponen vertical pada fase hop. Ketinggian hop yang berlebihan akan mengganggu lompatan karena waktu absorpsi yang meningkat selama landing menurunkan kecepatan horisontal. Oleh sebab itu pada gerakan hop pelompat harus dapat mengkontrol gerakan sehingga sudut lompat tidak vertical, dan menghasikan sudut lompatan yang horizontal.
2) Lompat Tinggi
Lompat tinggi adalah suatu bentuk gerakan melompat keatas dengan mengangkat kaki kedepan atas dalam upaya membawa titik berat badan setinggi dan secepat mungkin jatuh (mendarat). Lompat tinggi dilakukan dengan tolakan pada salah satu
kaki untuk mencapai ketinggian tertentu. (Muhajir, 2006 : 131). Sesuai dengan nama lompatannya, lompat tinggi bertujuan untuk melewati mistar yang setinggi-tingginya.
Untuk memperoleh lompatan yang lebih tinggi ini banyak dipengaruhi oleh kekuatan dan kecepatan tungkai tolak, posisi tubuh ketika melewati mistar, dan kemampuan melakukan lari awalan yang menunjang terhadap tolakan yang efektip. Dalam lompat tinggi terdapat bermacam-macam gaya atau cara melompat, berdasarkan pada sikap tubuh pelompat melewati mistar yang dipasang pada suatu ketinggian.
digunakannya salah satu cara melompat oleh seorang pelompat, tiada lain dimaksudkan agar dapat melewati ketinggian mistar yang setinggi-tingginya. Sikap tubuh waktu melewati mistar dalam lompat tinggi sangat penting diperhatikan oleh setiap pelompat, yaitu agar dapat membawa atau mengangkat titik berat badannya setinggi-tingginya.
Lompat tinggi merupakan salah satu nomor lompat pada cabang olahraga atletik.
Dalam perlombaan lompat tinggi atlet yang akan mengambil tiga langkah atau lima langkah sebagai ancang-ancang yang dipergunakan. Sedangkan langkah yang terakhir panjang, dan berat badan berada dibelakang dengan kekuatan yang maksimal dapat melakukan tolakan untuk melewati mistar. Setelah mistar di lewati maka bersiap-siap untuk berkonsentrasi dengan baik dalam melakukan persiapan mendarat. Teknik Lompat Tinggi Dalam lompat tinggi terdapat bermacam-macam gaya atau cara melompat, yaitu bila kita lihat dari pada sikap tubuhnya si pelompat pada waktu melewati mistar yang dipasang pada suatu ketinggian. Dipilihnya atau digunakannya salah satu cara melompat oleh seorang pelompat, tiada lain dimaksudkan agar dapat melewati ketinggian mistar yang setinggi- tingginya. Sikap tubuh waktu melewati mistar dalam lompat tinggi penting sekali diperhatikan oleh setiap pelompat, yaitu agar dapat membawa atau mengangkat titik berat badadan yang setinggi-tingginya.
Menurut jerver (1982) mengemukakan :”berdasarkan adanya sikap tubuh diatas mistar tersebut maka pelaksanaan dalam lompat tinggi dapat dibagi menjadi dua golongan besar, yaitu lompatan menggunakan tolakan dengan kaki yang tejauh dari mistar, sedangkan pada lompatan secara guling pelompat melakukkan tplakan dengan kaki yang terdekat dengan mistar. Namun demikian perlu kita ketahui
meskipun cara melakukan lompatan ini bermacam-macam, tetapi didalamnya terdapat unsur pokok yang sama yakni dalam hal :
Awalan atau ancang-ancang
Tolakan (take off)
Sikap badan diatas mistar (clearance of the bar)
Sikap mendarat atau sikap jatuh (lending)
Setiap unsur saling berkaitan dalam satu rangkaian urutan gerak yang harus dilakukan dengan cepat,tepat,luwes, dan lancer untuk membentuk mekanisme lompat tingi. Menurut ken Doherty (1971) “gerakan awalan akan menghimpun kekuatan tolakan merupakan unsur gerak yang penting pada waktu melakukan lompat tinggi yang berpengaruh terhadap sikap tubuh pada waktu diatas mistar”.
Prestasi lompat tinggi sangat erat kaitannya dengan kempauan menolak pada otot tungkai, juga erat kaitannya dengan penguasaan unsur-unsur teknik lompat tinggi antara lain : gaya gunting (eastern cut off ), gaya guling (wstern ), gaya putar (straddle), dan gaya terlentang ( flop ). Untuk menjawab pertanyaan teknik mana yang secara biomekanika lebih menguntungkan. Apabila dilihat dari kenyataan sekarang, maka gaya straddle dan gaya flop adalah gaya pada nomor cabang lompat tinggi yang sering digunakan oleh pelompat tinggi. Sebagaimana (jerver, 1982:155) mengemukakan “ada dua teknik yang sering digunakan oleh atlet juara yaitu teknik straddle dan teknik flop kedua gaya tersebut,straddle dan flop sama efesiennya untuk melompat melewati mistar”.
C. Teknik-Teknik Dalam Lompat Jangkit Dan Lompat Tinggi
1) Seluruh teknik lompat jangkit diurutkan menjadi tahap–tahap sebagai berikut ini :
a. Lari awalan (approach)
Awalan dalam lompat jang sangat penting karena sangat berpengaruh terhadap tahap- tahap selanjutnya. Menurut IAAF (2001:2) tujuan awalan lompat jangkit sebagai berikut:
Tujuan dari lari awalan adalah untuk mencapai kecepatan maximum dan sebagai persiapan untuk menumpu pada saat jingkat (hop). Panjang lari awalan yang digunakan oleh pelompat tergantung pada kemampuan tiap individu pelompat untuk melakukan lari awalan sebagai tahap akselerasi. Pelompat yang mencapai puncak kecepatan larinya akan membutuhkan suatu lari awalan yang lebih pendek dari pada mereka yang memiliki kecepatan lari awalan yang akselerasinya lebih lambat. Para pelompat yang memiiki kemampuan yang baik biasanya akan menggunakan awalan dengan jarak 35-40m atau 18-23 langkah lari, sedangkan pelompat yang memiliki kemampuan yang kurang begitu baik biasanya akan menggunakan lari awalan yang lebih pendek.
Tahap lari awalan menunjang kecepatan horisontal yang dibutuhkan bagi suatu lompatan yang baik, ini terdiri dari dua tahap yaitu akselerasi dan persiapan untuk menolak. Kecepatan horisontal maksimum akan dicapai dalam tahap akselerasi dan ini harus sama dengan kecepatan yang sipelompat akan mencapai antara jarak 25- 50m dalam suatu perlombaan lari sprint. Kecepatan lari dapat ditambah dengan memperpanjang langkah atau dengan meningkatkan frekuensi langkah lari. Persiapan untuk bertolak biasanya akan terjadi dalam enam langkah terakhir. Tujuanya adalah untuk menjamin bahwa kecepatan horisontal dapat dipelihara sedangkan pada saat menumpu dapat tepat di balok tumpuan. Hal ini diakukan dengan menambah kecepatan langkah sambil memelihara panjang langkah serta mempertahankan lutut
tetep tinggi. Pada saat ini pelompat tidak perlu menambah implus vertikal dengan memperpanjang jalur lari akselerasi dari titik pusat massa seperti pada lompat jauh.
b. Jingkat (Hop)
Tahap hop merupakan gerakan awalan dari tahapan lompatn jangkit menurut IAAF (2001:3) hop lompat jangkit sebagai berikut :
Gerakan hop adalah gerakan dua kali menumpu kaki yang sama dengan tidak menghambat kecepatan lari atau awalan. Supaya lebih jelasnya perhatikan penjelasan berikut: Perubahan kecepatan yaitu tekanan kaki ke arah depan dan ke atas yang digerakkan oleh kaki tumpu.
1. Perubahan gerakan cenderung ke arah depan tidak ke atas.
2. Setelah menumpu kaki menekan mengkais dengan tenaga penuh sehingga kaki hampir sejajar dengan tanah.
3. Sebelum mendarat kaki tumpu harus digerakkan ke depan, sedangkan kaki yang satu tergantung bebas di belakang titik pusat berat badan.
4. Saat kaki menumpu tumit lebih dahulu menyentuh tanah, tumit berada di depan titik pusat berat badan. saat melayang punggung diusahakan tegak tidak condong.
Kaki tumpuan harus lurus penuh (full extended) untuk menyelesaikan dorongan pada tanah dan paha tungkai pendorong harus paralel dengan tanah pada saat take off, dengan sudut lutut mendekati 45 derajat dan kaki rileks. Kaki dari tungkai take off harus ditarik mendekati pantat. Tungkai pendorong akan memutarnya dari depan titik beratnya sampai ke belakangnya, sedangkan tungkai take off menarik ke depan.
Ketika paha tungkai take off mencapai posisi paralel, bagian bawah dari tungkai lurus melewati lutut dengan posisi kaki dorsi fleksi. Setelah tungkai diluruskan, pelompat melakukan dorongan kuat ke bawah, sebagai persiapan untuk melakukan active landing. fleksibilitas sangat penting, semakin besar sudut ekstensi selama flight, maka waktu melayang semakin besar dan semakin besar jarak hop-nya. Pada fase ini juga tiap lompatan, jalur melayang dari titik pusat massa pelompat ditentuken oleh tingginya tolakan ,kecepatan tolakan, dan sudut tolakan. Tingginya titik pusat massa banyak ditentukan oleh sifat–sifat phikis dari tiap pelompat. Oleh karena itu kunci variasi disini adalah sudut tolakan, sudut ideal untuk mencapai lompatan datar yang diperlukan untuk gerakan jingkat antara 12 sampai 15 derajat. Penempatan kaki tolak pada seluruh telapak kaki dan dibawah titik pusat massa, membantu suatu efek pengereman dan dapat menghilangkan kecepatan horisontal. Lama waktu kontak menopang banyak tergangtung pada kecepatan horisontal selama menumpu dan pada jarak dari seluruh tahapan. Pertukaran kaki selama melayang dan mendarat dengan mengkais aktif dari kaki tolak memutar badan mengitari poros samping dalam suatu arah kebelakang, dan posisi badan tegak lurus untuk menjaga keseimbangan.
Gerakan lengan harus menunjang irama langkah lari. Lutut kaki penolak harus diangkat ke depan kemudian diluruskan tepat sesaat sebelum mendarat, pada saat mendarat harus ada gerakan mengkais dari kaki dengan tungkai hampir lurus penuh.
Gerakan kaki adalah gerakan aktif, dorongan kaki tumpuan sampai ke belakang bawah dari sendi panggul terhadap balok tumpuan dengan seluruh telapak kaki dengan tekanan pada telapak kaki.
c. Langkah (Step)
Menurut IAAF (2001:3) gerakan langkah step dalam lompat jangkit sebagai berikut:
Gerakan tumpuan yang ketiga yang dilakukan setelah gerakan tumpuan kaki yang sama, gerakan ini bertujuan mengubah kecepatan ke arah gerakan step, untuk menjaga gerak mendatar sebanyak mungkin untuk dapat mengangkat bobot badannya ke arah lompat atau jump. Fase kedua dalam lompat jangkit dimulai ketika kaki take off menyentuh tanah. Tungkai take off harus dalam keadaan lurus dengan paha tungkai pendorong tepat berada di bawah garis paralel dengan tanah. Ketika pelompat lepas dari tanah, tungkai take off tetap lurus dibelakang titik berat badannya, dengan betis tetap hampir paralel dengan tanah. Pada waktu yang bersamaan, tungkai yang berlawanan mendorong sampai setinggi panggul dimana tetap dipertahankan sampai mid flight selama fase step, sudut lutut tidak lebih dari 90 derajat. Ketika pelompat mulai turun, tungkai pendorong lurus dengan ankle fleksi atau memperpanjang tuas dan kaki bebas melakukakan gerakan mengkais ke bawah untuk melakukan transisi dengan cepat ke fase tiga. Selama fase step, pelompat konsentrasi pada langkah step sejauh mungkin. Hal ini biasanya merupakan fase terlemah, karena menuntut pelompat memiliki koordinasi yang baik dan memerlukan latihan yang khusus.
Tujuan gerakan lengan dalam bertolak pada tahap gerakan langkah (step) adalah untuk menunjang tolakan, pilihannya apakah gerakan satu lengan atau menggunakan dua lengan tergantung dari lamanya tahap melayang itu sendiri. Serta menuntut koordinasi yang tinggi dari pelompat, pelompat unggulan mampu melakukan gerakan dengan dua lengan, karena mereka dapat memelihara gerakan ayunan lengan dan gerakan kaki
mereka tetap terkoordinasi dengan baik. Tolakan untuk gerakan langkah adalah yang paling kuat dari ketiga tolakan dalam urutan lompat jangkit. Sudut tolakan harus sama seperti untuk gerakan jingkat. Posisi badan agak condong kedepan saat menumpu untuk memelihara momentum ke depan. Dorongan lutut dari kaki yang bebas mengarahkan lebih banyak kekuatan kebawah dan membantu untuk mendorong pelompat kedepan.
Suatu gerakan mengkais sama aktif seperti pada pendaratan tahap gerakan jingkat. Kaki pendaratan harus mendahului dari pada pinggang pada saat kontak dengan tanah, menghindari putaran yang berlebihan (over rotation). Kaki harus menapak tanah dengan datar dengan kaki kuat dan kemudian mendorong kedepan pada telapak kaki, badan harus tetap tegak lurus. Sudut tolakan harus datar sama seperti gerakan jingkat (hop), dan lutut dari kaki bebas harus diatas titik pusat massa dibengkokkan siku-siku 90 derajat pada saat menunpu.
d. Lompat (Jump)
Fase ketiga dan terakhir dalam lompat jangkit, yaitu lompatan panjang yang diawali dengan lompatan dan bukan lari. Tungkai take off diluruskan dengan kuat selama kontak dengan tanah. Dengan paha kaki dari tungkai bebas berada pada ketinggian pinggang. Lengan mendorong ke depan dan atas, dan melakukan blok selama beberapa saat ketika tangan berada pada ketinggian muka. Togok harus dipertahankan tegak dan dagu ke atas dengan mata diarahkan ke pit. Ketika berada di udara, tungkai bergerak ke posisi menggantung dengan kedua paha berada di bawah togok, lutut bengkok mendekati 90 derajat. Kedua lengan diluruskan ke atas untuk memperlambat rotasi dengan kedua
tangan mengarah ke langit atau ke atas. Posisi ini dipertahankan sampai pada titik puncak ketinggian. Kedua lengan kemudian mendorong ke depan, bawah, dan ke belakang pada saat tungkai diayun serentak ke depan dan paha diangkat sejajar dengan tanah. Lutut tetap bengkok untuk memperoleh keuntungan tuas yang lebih pendek. Ketika paha berada pada posisi paralel,tungkai diluruskan cepat dan ankle fleksi dan posisi jari kaki menghadap ke atas. Pelompat mempertahankan posisi ini sampai tumitnya menyentuh pasir. Ketika lutut benar-benar berada dalam posisi akan menyentuh pasir, maka panggul naik. Tujuan gerakan ini dari tahap gerakan lompat atau jump adalah sama seperti pada lompat jauh, yaitu memperoleh jarak horisontal yang terbaik. Gerakan melompat kedepan dilakukan dengan cepat dengan kehilangan kecepatan seminim mungkin. Sudut tolakan harus sedikit lebih tajam dari pada dalam tahap jingkat dan tahap langkah. Kedua lengan harus dibawa kedepan dan lutut kaki bebas didorong sampai kesudut minimal 90 derajat.
Dalam melayang pada tahap gerakan lompat dimungkinkan menggunakan teknik-teknik seperti lompat jauh misalnya melayang (sail), menggantung (hang) atau berjaan di udara (hitch-kick). Akan tetapi teknik yang sering digunakan para pelompat jangkit adalah gerakan melayang, karena memerlukan waktu yang singkat. Sedangkan teknik hitc-kick memerlukan kecepatan dan waktu bertolak yang relatif tinggi. Tujuan dari pendaratan dalam tahap gerakan lompat untuk memperkecil hilangnya jarak lompatan. Segera setelah menyentuh tanah pelompat harus mengerakan lutut dan menarik pinggang kedepan dengan lengan mengayun serta mengerakan badan kearah satu sisi untuk mencegah pelompat jatuh kebelakang.
2) Lompat Tinggi
Dalam permainan lompat tinggi, dibutuhkan penguasaan akan teknik-teknik yang ada guna mencapai hasil yang maksimal atau hasil yang diharapkan. Ada empat jenis gaya lompat tinggi yang umumnya digunakan oleh peserta lompat tinggi, antara lain sebagai berikut.
1. Teknik Gaya Guling (Straddle)
Gaya guling (Straddle) merupakan gaya dimana badan kita melewati tiang dengan cara diputar dan dibalikkan lagi sehingga sikap badan kita saat di atas mistar tertelungkup. Cara untuk melakukan gaya guling adalah pelompat harus mengambil
awalan terlebih dahulu dari samping antara 3, 5, 7, atau 9 langkah. Tumpuan terletak pada kaki yang paling kuat, kemudian ayunkan ke depan. Setelah kaki diayunkan, dengan cepat badan kita balikkan untuk bisa melewati mistar sehingga sikap badan kita di atas mistar telungkup. Pantat kita usahakan lebih tinggi dari kepala kita, jadi kepala agak menunduk. Pada waktu mendarat gunakan kaki kanan dan tangan kanan jika tumpuan menggunakan kaki kiri, begitu pula sebaliknya.
Cara lainnya adalah dengan mengambil jarak awalan dari samping antara 4, 6, 8, atau 10 langkah tergantung pada ketinggian target yang ingin dilewati. Jika meng- gunakan kaki kiri sebagai tumpuan, ayunkan kaki kanan ke belakang menuju depan.
Setelah kaki ayunan melewati mistar, kemudian posisi badan saat di udara atau di atas mistar dalam keadaan tengkurap. Posisi pinggang usahakan lebih tinggi dibandingkan dengan posisi kepala. Ketika posisi terjatuh, tumpuan berada di kedua tangan dan kaki ayunan yang pertama mendarat, lalu dilanjutkan dengan meng- gulingkan badan yang pertama (bagian punggung tangan) dan berakhir pada bahu.
Teknik awalan yang digunakan untuk teknik Straddle adalah mengambil posisi ancang-ancang yang tidak terlalu jauh, berlari dengan kecepatan sedang, posisi awalan dari samping sekitar 30º atau 40º dengan posisi tiang lompatan, dan berlari agak serong dari mistar; sedangkan teknik tolakan Straddle adalah menggunakan tumpuan kaki yang tersekat dengan mistar, posisi badan agak merebah atau sedikit condong ke belakang ketika akan melakukan tolakan, posisi kaki tumpuan menolak ke atas hingga kedua lutut kaki lurus dan kedua tangan dan kaki diayunkan dengan tenaga penuh ke depan. Teknik Straddle saat di atas mistar adalah posisi badan tengkurap dan posisi kaki harus segera diluruskan ke belakang ketika badan sudah mulai turun; sedangkan teknik mendarat Straddle adalah jika menggunakan tumpuan kaki yang kiri, maka posisi pendaratan memakai kaki kanan terlebih dahulu yang kemudian dilanjutkan dengan gerakan posisi berguling.
2. Gaya Fosbury Flop
Gaya ini diciptakan oleh Dick Ricarod Fosbury yang merupakan seorang pelompat tinggi dari Amerika Serikat. Keunikan dari gerakan Fosbury adalah tubuh berada di atas mistar dengan posisi terlentang dan jatuh menggunakan punggung
yang masih dalam kondisi terlentang. Teknik ini merupakan kebalikan dari teknik Straddle, yakni punggung yang menghadap ke bagian bawah arah agak serong ke kiri, tidak lagi tegak lurus pada mistar.
Teknik awalan untuk gaya Flop adalah arahan dari depan, tegak lurus menghadap mistar. Jika menggunakan kaki kiri sebagai tumpuan, dari depan menuju tiang sandaran mistar sebelah kanan. Teknik tolakan untuk gaya Flop adalah menggunakan kaki terkuat pada tumpuan. Bila menggunakan kaki kiri, diangkat dengan lutut kaki ditekuk bersamaan dengan memutar badan ke arah awalan. Badan harus membelakangi mistar dan punggung berada di bagian bawah yang dekat dengan mistar dengan posisi punggung melengkung saat melewati mistar.
Teknik Flop saat di atas mistar adalah bagian kepala harus lebih dahulu melewati mistar dengan posisi badan yang terlentang dan punggung menghadap ke bawah arah mistar. Saat mencapai ketinggian yang maksimal dan pinggang melewati mistar, posisi kedua kaki digerakan atau diayun ke atas agar bisa melewati mistar dengan sempurna. Untuk pendaratan, bagian tubuh yang mendarat terlebih dahulu adalah punggung karena sikap tubuh yang terlentang saat melakukan pendaratan dan hanya boleh dilakukan dengan pendaratan pada bahan berbahan busa.
3. Gaya Gunting (Scissors)
Gaya ini ditemukan oleh Sweney, oleh karena itu juga sering disebut dengan Gaya Sweney. Sebelumnya di tahun 1880, Sweney menggunakan gaya jongkok, namun ia merasa gaya tersebut kurang tepat hingga akhirnya beliau mengubah gaya tersebut menjadi gaya gunting pada tahun 1896. Cara melakukan gaya gunting adalah mula-mula pelompat mengambil awalan dari tengah. Bila pelompat pada saat akan melompat menggunakan kaki kiri sebagai tumpuan lalu memakai kaki kanan sebagai ayunan, maka ia mendarat (jatuh) dengan kaki kanan juga.
4. Gaya Guling Sisi (Western Roll)
Gaya ini diciptakan oleh G. Horin yang berasal dari Amerika pada tahun 1912, namun gaya ini tidak dapat berkembang karena ada benturan dengan peraturan yang berlaku, dimana lompat tinggi menggunakan gaya guling sisi membuat posisi kepala cenderung lebih rendah dari pinggul kita saat kita melewati mistar, sehingga hal ini tidak sah. Oleh karena itu, gaya ini tidak pernah digunakan dalam lompat tinggi.
D. Sarana dan Prasarana dalam Lompat Jangkitdan Lompat Tinggi 1) Lompat Jangkit
Lintasan Lari
Lintasan ini dibuat untuk awalan para atlit lompat jauh maupun lompat jangkit yang panjangnya minimal 40 meter dan lebarnya 1,22 meter.
Bak Lompatan
Bak lompatan atau pendaratan mempunyai lebar 2,75 meter dan panjangnya bila memungkinkan 10 meter.
Balok Tumpuan
Balok timpuan untuk lompat jauh dan lmpat jangkit ini terbuat dari kayu yang kuat yang berbentuk segi empat dengan ukuran sebagai berikut :
Panjang = 1,21-1,22 meter
Lebar = 20 cm
Tebal balok tumpuan = 10 cm
Balok tumpuan ini harus di cat putih
Pada lompat jangkit balok tumpuan ini di letakkan dengan jarak 11 meter, 13 meter dan 15 meter dari bak pendaratan.
Papan Plastisin
Papan ini berguna untuk mengetahui sah tidaknya lompatan. Papan ini terbuat dari kayu yang mempunyai ukuran panjang 1,21-1,22 meter, lebar 10 cm dan tebalnya 0,7 cm.
Benderan Merah, Kuning, dan Putih
Penunjuk waktu
Penunjuk waktu ini digunakan ketika atlit mulai di panggil dan memberi kesempatan bagi si atlit untuk memulai lompatan.
Rool Meter dari Baja
Digunakan untuk mengukur jarak lompatan. Bisa juga menggunakan alat yang disebut TEODOLIT.
2) Lompatan Tinggi
Tiang dan Mistar Lompat
Tiang dan mistar yang digunakan dalam permainan lompat tinggi harus memenuhi beberapa ketentuan. Semua bentuk dan model tiang lompat dapat digunakan asalkan kaku dan kekar. Tiang memiliki penopang yang kaku dan kokoh untuk mistar, serta haruslah cukup tinggi untuk melebihi tiang sebenarnya terhadap mana mistar lompat dinaikkan dengan minimum 10cm. Jarak antara tiang lompat harus tidak kurang dari 4 m juga tidak melebihi dari 4,04 m. Tiang lompat/tiang harus tidak dipindah selama perlombaan berlangsung kecuali bila wasit memikirkan bahwa apakah tempat bertumpu atau pendaratan menjadi tidak sesuailagi.
Mistar dapat dibuat dari metal atau kayu, berbentuk bulat atau segitiga dengan diameter minimum 2,5 cm dan maksimum 3 cm, dengan permukaan yang datar atau rata pada kedua ujung yang berguna untuk meletakkan pada papan penopang. Panjang mistar minimal 3,64 m dan maksimal 4 m, berat maksimal 2 kg. Mistar lompat harus terbuat dari fiberglass atau materi atau bahan lain yang cocok namu bukan dari metal, bagian tengahnya/potongan melintangnya bulat silindris kecuali pada kedua ujung mistar. Garis tengah/diameter pada bagian mistar yang bulat silindris haruslah 30mm. Ujung mistar lompat harus terletak di atas sedemikian rupa sehingga bila mistar disentuh oleh pelompat akan dengan mudah jatuh ke tanah, baik di depan maupun di belakang.
Matras (Tempat Pendaratan)
Tempat pendaratan lompat tinggi harus memenuhi ketentuan, yakni tidak boleh kurang dari 3 x 5 m yang terbuat dari busa dengan ketinggian 60 cm dan di atasnya ditutupi oleh matras yang tebalnya 10 – 20 cm dengan warna terserah.
Lapangan Lompat Tinggi
Lapangan lompat tinggi terdiri atas tiga bagian, yakni jalur ancang- ancang, tempat/area bertolak, dan tempat pendaratan. Daerah awalan (jalur ancang-ancang) panjangnya tidak terbatas dengan minimum 15 m, daerah tumpuan (tempat bertolak) harus datar dan tingkat kemiringanya 1 : 100, sedangkan tempat pendaratan harus dilengkapi dengan matras agar pelompat tidak cedera.
E. Peraturan dalam Lompat Jangkit Dan Lompat Tinggi 1) Lompat Jangkit
Seperti olahraga lainnya, lompat jangkit memiliki berbagai peraturan, yakni:
Pemain memiliki waktu 1,5 hingga 2 menit untuk melakukan lompatan
Jika pemain melompat sebelum balok lompat, lompatan tersebut dianggap sah
Jika telah melakukan tolakan pertama, pemain harus mendarat menggunakan kaki yang lain
Begitu pula jika pemain telah melakukan tolakan kedua, ia harus melakukan pendaratan menggunakan kakinya yang lain.
Pemain dianggap melakukan pelanggaran jika sedang melompat tetapi kakinya menyentuh tanah.
2) Lompat Tinggi
Syarat bagi seorang atlet agar lompatannya tercatat adalah mampu melompat melampaui mistar yang sudah diatur ketinggiannya tanpa menjatuhkamnnya.
Berikut adalah peraturan olahraga lompat tinggi :
Saat akan melompat atau melakukan take off, hanya diperbolehkan menggunakan salah satu kaki.
Ketinggian lompatan ditentukan oleh ketua jari. Pelompat bisa menerima atau menolaknya.
Peserta lompat tinggi dinyatakan guugr apabila telah gagal melompat sebnyak 3 kali.
Jikka atlet gagal melompat sesuai ketinggian yang ditentukan selama 3 kali berturut-turut, maka dia akan di diskualifikasi.
Saat pertandikan final, pemenang akan ditentukan berdasarkan atlet yang berhasil melakukan lompatan paling tinggi.
Jika hasil ketinggian yang diraih sama atau seri, maka pemenang akan ditentukan berdasarkan jumlah pelanggaranatau kesalahan yang lebih sedikit.
Para pelompat harus melakukan jump off jika ada hasil seri.
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
Pengertian lompat jangkit adalah lompat yang menggunakan lompatan tiga kali yaitu jingkat (hop), langkah (step), lompat (jump) atau jingkat-lompat-lompat. Yang memiliki tiga ciri-ciri diantaranya adalah ciri-ciri pelompat datar, ciri-ciri pelompat terjal, ciri-ciri pelompat alamiah. Serta teknik yang dasar yang perlu dipelajari adalah ancang-ancang, jingkat, langkah, lompat dan mendarat.
Dari uraian di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa lompat tinggi merupakan olahraga melompat setinggi mungkin dengan melewati mistar lompat. Permainan lompat tinggi membutuhkan tempat yang tidak terlalu luas untuk memainkannya dan dapat dilakukan oleh pria maupun wanita. Dalam permainan lompat tinggi, diperlukan penguasaan berbagai teknik/gaya melompat guna tercapainya hasil yang maksimal dan sesuai harapan, yakni meraih lompatan tertinggi. Selain itu, juga terdapat beberapa ketentuan yang harus dipatuhi dan hal-hal yang perlu diperhatikan agar tidak terdiskualifikasi.
B. Saran
Olahraga lompat tinggi dan lompat jangkit harus mulai diperkenalkan pada anak didik untuk menghasilkan bibit atlet yang berpotensi. Saat ini, pengenalan akan olahraga lompat tinggi dan lompat jangkit kepada peserta didik di sekolah masih minim dikarenakan fasilitas yang kurang memadai. Oleh karena itu, pemerintah dan pihak sekolah perlu menambah fasilitas perolahragaan agar peserta didik dapat mengenal sekaligus berlatih olahraga lompat tinggi dan lompat jangkit. Diharapkan akan muncul kader-kader baru dalam olahraga lompat tinggi dan lompat jangkit yang dapat menorehkan hasil yang bagus di dunia olahraga dan membuat olahraga lompat tinggi terusberkembang.
DAFTAR PUSTAKA
Bompa, Tudor O. 1994. Theory and Methodologi of Training, 4th Edition. USA: Human Kinetics.
DjokoPekikIrianto. 2002. Dasarkepelatihan, IKIP Yogyakarta.
Matori.2008.Analisis TeknikSprint PadaSprinter 100 MeterdiKabupaten Bantul.Skripsi.
Yogyakarta :FIK UNY.
RDC.2001. IAAF Level I / IIEventlompat. Suharsimi Arikunto. (1992). Prosedur Penelitian Suatu Pengantar Penelitian Jakarta: PT. RinekaCipta
Hay, James G. (1993). The Biomechanics of Sport Techniques. New Jersey: Prentice – Hall, Inc.
IAAF. (2000). Level I. Lari, Lompat, Lempar. Jakarta: IAAF-RDC.
IAAF. (2001). Pendidikan Pelatih dan Sertifikasi level II Lompat : RDC JAKARTA.
IAAF. (2006-2007). Peraturan Lomba Atletik Jakarta: PB PASI.
Carr A, Gerry, (1991 : 133), Atletik Untuk Sekolah, PT. Raja Grapindo Persada, Jakarta Gutrie, Mark, (2008 :123), Sukses Melatih Atletik, Pusataka Insan Madani : yogyakarta
Harsono (1992), Coaching dan Aspek-aspek Psykologis Dalam Coaching, Depdikbud P2 LPTK : Jakarta
Hendrayana, Yudha (2001) Pendekatan Pembelajran Atletik Untuk SLTA, Dinas Pendidikan Irianto, Agus, (1988), Statistik Pendidikan, Jilid I Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Dikti P2 LPTK : Jakarta
Jerver, J (1975 : 75), Belajar dan Berlatih Atletik untuk coach, Atlet, Guru Olahraga dan Umum, Pioner jaya : Bandung
Jerver (1982 : 155), Aletik, Pendekatan permainan dan kompetisi untuk siswa SMA, Direktorat Jenderal Olahraga, Depdiknas 2011
Anonim (2017). Lompat Tinggi, Sejarah dan Gaya Teknik Lompat Tinggi, History of High Jump. Dari http://www.berbagaireviews.com/2017/04/lompat-tinggi-sejarah-dan-gaya- teknik.html, 30 Juli 2017
Anonim (2015). Perbedaan Lompat Jauh dan Lompat Tinggi.
Dari http://areaperbedaan.blogspot.co.id/2015/09/perbedaan-lompat-jauh-dan-lompat tinggi.html, 30 Juli 2017
Ayu, Sarah (2014). Lompat Jauh dan Lompat Tinggi. Dari http://tugas-anak
sekolah.blogspot.co.id /2014/05/lompat-jauh-dan-lompat-tinggi.html, 30 Juli 2017
Jayus, Zuliaden (2014). Makalah Lompat Tinggi. Dari http://zuliaden jayus.blogspot.co.id/2014/08 /makalah-lompat-tinggi.html, 30 Juli 2017 http://amore87.wordpress.com/tag/sejarah-lompat-jangkit/