1 MODUL 7
PEMBELAJARAN KETERAMPILAN BERBAHASA DENGAN FOKUS BERBICARA
TUTOR: MUHAMMAD ANGGIE JANUARSYAH, S.S, M. Hum
DISUSUN OLEH KELOMPOK 4
NAMA NIM
1. ALVINA TRI ATMI 855863301
2. SRI ARISKA 855863358
3. FADILLAH AHMAD BATUBARA 855858521
4. EMILIA FATWA SARI 855863405
5. JUNI AYU SARTIKA 855855271
6. TARISAH NOVITASARI 856049206
UPBJJ UT-MEDAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN PDGK4101/KETERAMPILAN BERBAHASA INDONESIA SD
2
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan rahmat- Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Adapun judul makalah ini
“Pembelajaran Keterampilan Berbahasa dengan Fokus Berbicara”.
Pada kesempatan ini kami mengucapkan terimakasih kepada teman-teman kelompok 4 yang sudah membantu dalam menyelesaikan pembuatan makalah ini, karena tanpa bantuan kalian makalah ini tidak akan selesai tepat pada waktunya.
Kami berharap semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan serta wawasan bagi pembaca. Dan kami juga berharap makalah ini bisa dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.
Penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari kata sempurna untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari para pembaca.
Mei, 2023
Penulis
3 DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... 2
DAFTAR ISI... 3
BAB 1 PENDAHULUAN ... 4
A. Latar Belakang ... 4
B. Rumusan Masalah ... 4
C. Tujuan Pembahasan ... 4
D. Manfaat Pembahasan ... 5
BAB 2 PEMBAHASAN ... 6
A. Pembelajaran Keterampilan Berbahasa dengan Fokus Berbicara Di Kelas Rendah ... 6
1. Karakteristik Pembelajaran Kelas Rendah... 6
2. SKKD Berbicara Kelas Rendah ... 9
3. Perencanaan, Pelaksanaan, Dan Penilaian Berbicara Kelas Rendah ... 11
B. Pembelajaran Keterampilan Berbahasa dengan Fokus Berbicara Di Kelas Tinggi ... 24
1. Menyimak dan Berbicara ... 24
2. Menyimak dan Menulis ... 24
3. Membaca dan Menyimak ... 25
4. Membaca dan Menulis... 25
5. Menulis dan Bercerita ... 26
BAB III PENUTUP ... 33
A. Kesimpulan ... 33
B. Saran ... 33
DAFTAR PUSTAKA ... 34
4
BAB 1 PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pembelajaran keterampilan berbahasa dengan fokus berbicara merupakan suatu proses belajar cara mengungkapkan bahasa secara lisan. Kebermaknaan pembelajaran ini sesuai dengan pengalaman yang dialami peserta didik dalam proses menguasai kompetensi berbicara.
Pembelajaran berbicara tergantung dari jenis keterampilan berbicara yang akan dikembangkan dalam diri peserta didik. Kegiatan pembelajaran yang terdiri dari menyapa, memperkenalkan diri, bertanya, menjawab pertanyaan, bercerita (menceritakan pengalaman, buku/cerita yang pernah didengarkan atau dibaca), berpendapat dalam diskusi kelompok, memberi petunjuk, bermain peran, dan mewawancarai tokoh.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana merencanakan pembelajaran berbicara di kelas rendah?
2. Bagaimana mempraktekkan pembelajaran berbicara di kelas rendah?
3. Bagaimana menyusun alat penilaian kemampuan berbicara untuk peserta didik SD di kelas rendah?
4. Bagaimana merencanakan pembelajaran berbicara di kelas tinggi?
5. Bagaimana mempraktekkan pembelajaran berbicara di kelas tinggi?
6. Bagaimana menyusun alat penilaian kemampuan berbicara untuk peserta didik SD di kelas tinggi?
C. Tujuan Pembahasan
1. Mampu merencanakan pembelajaran berbicara di kelas rendah.
2. Dapat mempraktekkan pembelajaran berbicara di kelas rendah.
3. Mampu menyusun alat penilaian kemampuan berbicara untuk peserta didik SD di kelas rendah.
4. Mampu merencanakan pembelajaran berbicara di kelas tinggi.
5. Dapat mempraktekkan pembelajaran berbicara di kelas tinggi.
5
6. Mampu menyusun alat penilaian kemampuan berbicara untuk peserta didik SD di kelas tinggi.
D. Manfaat Pembahasan
1. Dapat mengetahui cara merencanakan pembelajaran berbicara di kelas rendah.
2. Dapat mengetahui bagaimana mempraktekkan pembelajaran berbicara di kelas rendah.
3. Dapat mengetahui cara menyusun alat penilaian kemampuan berbicara untuk peserta didik SD di kelas rendah.
4. Dapat mengetahui cara merencanakan pembelajaran berbicara di kelas tinggi.
5. Dapat mengetahui bagaimana mempraktekkan pembelajaran berbicara di kelas tinggi.
6. Dapat mengetahui cara menyusun alat penilaian kemampuan berbicara untuk peserta didik SD di kelas tinggi.
6
BAB 2 PEMBAHASAN
A. Pembelajaran Keterampilan Berbahasa dengan Fokus Berbicara Di Kelas Rendah
1. Karakteristik Pembelajaran Kelas Rendah
Pembelajaran bahasa Indonesia di kelas rendah biasanya menggunakan pembelajaran tematik.
Supratiningsih (2010: 8-16) memaparkan bahwa pembelajaran tematik merupakan suatu strategi pembelajaran yang melibatkan beberapa mata pembelajaran untuk memberikan pengalaman yang bermakna kepada peserta didik. Keterpaduan dalam pembelajaran ini dapat dilihat melalui aspek proses atau waktu, aspek kurikulum, dan aspek belajar mengajar.
Pembelajaran tematik yang diajarkan kepada peserta didik sekolah dasar kelas rendah (1-3) karena pada umumnya mereka melihat segala sesuatu sebagai satu keutuhan (holistik), perkembangan fisiknya tidak pernah dipisahkan dengan perkembangan mental, sosial, dan emosional.
Ciri-ciri dari pembelajaran tematik, antara lain:
1. Pengalaman dan kegiatan belajar sangat relevan dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan peserta didik usia sekolah dasar.
2. Kegiatan-kegiatan yang dipilih dalam pelaksanaan pembelajaran tematik bertolak dari minat dan kebutuhan peserta didik.
3. Kegiatan belajar akan lebih bermakna dan berkesan bagi peserta didik sehingga hasil belajar dapat bertahan lebih lama.
4. Membantu mengembangkan keterampilan berpikir peserta didik.
5. Menyajikan kegiatan belajar yang bersifat pragmatis sesuai dengan permasalahan yang sering ditemui peserta didik dalam lingkungannya.
6. Mengembangkan keterampilan sosial peserta didik, seperti kerja sama, toleransi, komunikasi, dan tanggap terhadap gagasan orang lain.
7. Menanamkan konsep-konsep pembelajaran yang tepat.
7 1. Strategi Pembelajaran Tematik
Strategi pembelajaran tematik lebih mengutamakan pengalaman belajar peserta didik, misalnya:
a. Bersahabat, menyenangkan, tetapi tetap bermakna bagi peserta didik.
b. Dalam menanamkan konsep atau pengetahuan dan keterampilan, peseta didik tidak harus di-drii, tetapi ia belajar melalui pengalaman langsung dan menghubungkannya dengan konsep lain yang sudah dipahami. Bentuk pembelajaran ini dikenal dengan pembelajaran terpadu dan pembelajarannya sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan peserta didik.
2. Ciri-ciri Pembelajaran Tematik
Sesuai dengan perkembangan fisik dan mental peserta didik sekolah dasar, pembelajaran pada tahap ini harus mempunyai ciri-ciri:
a. Berpusat pada peserta didik.
b. Memberikan pengalaman langsung pada peserta didik.
c. Pemisahan mata pelajaran tidak begitu jelas.
d. Menyajikan konsep dari berbagai mata pelajaran dalam suatu proses pembelajaran.
e. Bersifat fleksibel.
f. Hasil pembelajaran dapat berkembang sesuai dengan minat dan kebutuhan peserta didik.
3. Keunggulan Pembelajaran Tematik
Pembelajaran tematik memiliki kekuatan/keunggulan, di antaranya:
a. Pengalaman dan kegiatan belajar relevan dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan peserta didik.
b. Menyenangkan karena bertolak dari minat dan kebutuhan peserta didik.
c. Hasil belajar akan bertahan lebih lama karena lebih berkesan dan bermakna.
d. Mengembangkan keterampilan berpikir peserta didik dengan permasalahan yang dihadapi.
e. Menumbuhkan keterampilan sosial dalam bekerja sama, toleransi, komunikasi, dan tanggap terhadap gagasan orang lain.
8 4. Peran Tema
a. Peserta didik mudah memusatkan perhatian pada satu tema atau topik tertentu.
b. Peserta didik dapat mempelajari pengetahuan dan mengembangkan berbagai kompetensi mata pelajaran dalam tema yang sama.
c. Pemahaman terhadap materi pelajaran lebih mendalam dan berkesan.
d. Kompetensi berbahasa dapat dikembangkan lebih baik dengan mengaitkan mata pelajaran lain dan pengalaman pribadi peserta didik.
e. Peserta didik lebih merasakan manfaat dan makna belajar karena materi disajikan dalam konteks tema yang jelas.
f. Peserta didik lebih bergairah belajar karena mereka dapat berkomunikasi dalam situasi yang nyata, misalnya, bertanya, bercerita, menulis deskripsi, menulis surat, dan sebagainya untuk mengembangkan keterampilan berbahasa, sekaligus untuk mempelajari mata pelajaran lain.
g. Guru dapat menghemat waktu karena mata pelajaran yang disajikan secara terpadu dapat dipersiapkan sekaligus dan diberikan dalam 2 atau 3 kali pertemuan. Waktu selebihnya dapat digunakan untuk kegiatan remedial, pemantapan, atau pengayaan.
5. Hal-hal yang Perlu Diperhatikan dalam Pembelajaran Tematik
a. Pembelajaran tematik dimaksudkan agar pelaksanaan kegiatan belajar mengajar menjadi lebih bermakna dan utuh.
b. Dalam pelaksanaan pembelajaran tematik perlu dipertimbangkan antara lain alokasi waktu setiap tema, memperhitungkan banyak dan sedikitnya bahan yang ada di lingkungan.
c. Pilih tema yang terdekat dengan peserta didik.
d. Lebih mengutamakan kompetensi dasar yang akan dicapai daripada tema.
6. Langkah-langkah menyusun Pembelajaran Tematik
a. Pelajari kompetensi dasar pada kelas dan semester yang sama dari setiap mata pelajaran.
b. Pilihlah tema yang dapat mempersatukan kompetensi-kompetensi tersebut untuk setiap kelas dan semester.
9
c. Pilahlah tema: diri sendiri, keluarga, lingkungan, tempat umum, pengalaman, budi pekerti, kegemaran, tumbuhan, hiburan, binatang, transportasi, kesehatan, K3, makanan, pendidikan, pekerjaan, peristiwa, pariwisata, kejadian sehari-hari, pertanian, negara, komunikasi, dsb.
d. Buatlah “Matriks Hubungan Kompetensi Dasar dengan Tema”. Dalam langkah ini penyusun memperkirakan dan menentukan kompetensi-kompetensi dasar pada sebuah mata pelajaran yang cocok dikembangkan dengan sebuah tema. Langkah ini dilakukan untuk semua mata pelajaran.
2. SKKD Berbicara Kelas Rendah
1. Kelas 1, Semester 1
a. Memperkenalkan diri sendiri dengan kalimat sederhana dan bahasa yang santun.
b. Menyapa orang lain dengan menggunakan kalimat sapaan yang tepat dan bahasa yang santun.
c. Mendeskripsikan benda-benda di sekitar dan fungsi anggota tubuh dengan kalimat sederhana.
d. Mendeklamasikan puisi peserta didik dengan lafal dan intonasi yang sesuai.
2. Kelas 1, Semester 2
a. Menjelaskan gambar tunggal atau gambar seri sederhana dengan bahasa yang mudah dimengerti.
b. Melakukan percakapan sederhana dengan menggunakan kalimat dan kosakata yang sudah dikuasai.
c. Menyampaikan rasa suka atau tidak suka tentang suatu hal atau kegiatan dengan alasan sederhana.
d. Memerankan tokoh dengan atau cerita rakyat yang dikuasai dengan ekspresi yang sesuai.
3. Kelas 2, Semester 1
a. Bertanya kepada orang lain dengan menggunakan pilihan kata yang tepat dan santun berbahasa.
b. Menceritakan kegiatan sehari-hari dengan bahasa yang mudah dipahami orang lain.
c. Mendeklamasikan puisi dengan ekspresi yang tepat.
10 4. Kelas 2, Semester 2
a. Mendeskripsikan tumbuhan atau binatang di sekitar sesuai ciri-cirinya dengan menggunakan kalimat yang mudah dipahami orang lain.
b. Menceritakan kembali cerita peserta didik yang didengarkan dengan menggunakan kata-kata sendiri.
5. Kelas 3, Semester 1
a. Menceritakan pengalaman yang mengesankan dengan menggunakan kalimat yang runtut dan mudah dipahami.
b. Menjelaskan urutan membuat atau melakukan sesuatu dengan kalimat yang runtut dan mudah dipahami.
c. Memberikan tanggapan dan saran sederhana terhadap suatu masalah dengan menggunakan kalimat yang runtut dan pilihan kata yang tepat.
6. Kelas 3, Semester 2
a. Melakukan percakapan melalui telepon/alat komunikasi sederhana dengan menggunakan kalimat ringkas.
b. Menceritakan peristiwa yang pernah dialami, dilihat atau didengar.
Materi pembelajaran berdasarkan SKKD di antaranya:
a. Memperkenalakan diri b. Menyapa orang lain c. Mendeskripsikan d. Membaca puisi e. Menjelaskan gambar f. Percakapan
g. Menyampaikan rasa suka h. Memerankan
i. Bertanya j. Menceritakan k. Mendeklamasikan
l. Menceritakan pengalaman m. Menjelaskan urutan n. Memberikan tanggapan o. Bertelepon, dan
p. menceritakan peristiwa
11
3. Perencanaan, Pelaksanaan, Dan Penilaian Berbicara Kelas Rendah
1. Perencanaan
Langkah-langkah dalam penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dimulai dari mencantumkan Identitas RPP, Tujuan Pembelajaran, Materi Pembelajaran, Metode Pembelajaran, Langkah-langkah Kegiatan pembelajaran, Sumber Belajar, dan Penilaian.
a. Mencantumkan identitas
Terdiri dari nama sekolah, mata pelajaran, kelas, semester, standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, dan alokasi waktu.
Hal-hal yang perlu diperhatikan:
1) RPP boleh disusun untuk satu Kompetensi Dasar.
2) Standar kompetensi, Kompetensi dasar, dan Indikator dikutip dari silabus. (Standar Kompetensi – Kompetensi Dasar – Indikator adalah suatu alur pikir yang saling terkait tidak dapat dipisahkan).
3) Alokasi waktu diperhitungkan untuk pencapaian satu kompetensi dasar, dinyatakan dalam jam pelajaran dan banyaknya pertemuan (contoh: 3 x 45 menit). Karena itu waktu mencapai suatu kompetensi dasar dapat diperhitungkan dalam satu atau beberapa kali pertemuan bergantung pada kompetensi dasarnya.
b. Merumuskan tujuan pembelajaran
Tujuan ini merupakan otput (hasil langsung) dari satu paket kegiatan pembelajaran.
Misalnya pada kegiatan pembelajaran: Mendapatkan informasi tentang hubungan antara sifat bahan dengan kegunaanya.
c. Menentukan materi pembelajaran
Untuk memudahkan dalam menetapkan materi pembelajaran, dapat diacu dari indikator. Indikator: peserta didik dapat mengidentifikasi benda-benda dalam kehidupan sehari-hari yang memiliki sifat-sifat tertentu maka materi pembelajaran adalah benda-benda dalam kehidupan sehari-hari, dan sifat-sifat benda.
d. Menentukan metode pembelajaran
Metode merupakan cara untuk mencapai tujuan, tetapi dapat pula diartikan sebagai model atau pendekatan pembelajaran, bergantung pada karakteristik pendekatan dan/atau strategi yang dipilih.
12
Pendekatan pembelajaran dan metode yang diintegrasikan dalam satu kegiatan pembelajaran peserta didik antara lain:
1) Pendekatan pembelajaran yang digunakan, misalnya: pendekatan keterampilan proses, kontekstual, keterampilan proses, pemecahan masalah, dan sebagainya.
2) Metode-metode yang digunakan, misalnya: ceramah, inkuiri, observasi, tanya jawab, e-learning, dan sebagainya.
e. Menentukan kegiatan pembelajaran.
f. Menentukan penilaian.
2. Pelaksanaan
Langkah-langkah yang harus dilakukan pada setiap unsur kegiatan pembelajaran, antara lain yaitu:
a. Kegiatan pendahuluan
1) Orientasi: memusatkan perhatian peserta didik pada materi yang akan dibelajarkan, dengan cara menunjukkan benda yang menarik, memberikan ilustrasi, membaca berita di surat kabar, menampilkan slide animasi, dan sebagainya.
2) Apersepsi: memberikan persepsi awal kepada peserta didik tentang materi yang akan diajarkan.
3) Motivasi: guru memberikan gambaran manfaat mempelajari gempa bumi, bidang-bidang pekerjaan berkaitan dengan gempa bumi, dan sebagainya.
4) Pemberian Acuan: biasanya berkaitan dengan kajian ilmu yang akan dipelajari.
Acuan dapat berupa penjelasan materi pokok dan uraian materi pelajaran secara garis besar.
5) Pembagian kelompok belajar dan penjelasan mekanisme pelaksanaan pengalaman belajar (sesuai dengan rencana langkah-langkah pembelajaran).
b. Kegiatan inti
Kegiatan inti berisi langkah-langkah sistematis yang dilalui peserta didik untuk dapat mengonstruksi ilmu sesuai dengan skemata (frame work) masing-masing.
Langkah-langkah ini disusun sedemikian rupa agar peserta didik dapat menunjukkan perubahan perilaku sebagaimana dituangkan pada tujuan pembelajaran dan indikator.
13
Dalam mempermudah melakukan langkah-langkah tersebut, biasanya kegiatan inti dilengkapi dengan Lembaran Kerja Peserta didik (LKS), baik yang berjenis cetak atau noncetak. Khusus untuk pembelajaran berbasis ICT yang online dengan koneksi internet, langkah-langkah kerja peserta didik harus dirumuskan detil mengenai waktu akses dan alamat website yang jelas. Termasuk alternatif yang harus ditempuh jika koneksi mengalami kegagalan.
Pada Standar Proses (Permendiknas No. 41) Kegiatan inti menggunakan metode yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan mata pelajaran, yang dapat meliputi proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi. Maka pada RPP ketiga proses ini sebaiknya diungkapkan dalam tulisan. Contoh kegiatan eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi yang dilakukan guru adalah:
1) Eksplorasi
a. Melibatkan peserta didik mencari informasi yang luas dan dalam tentang topik/tema materi yang akan dipelajari dengan menerapkan prinsip alam takambang jadi guru dan belajar dari aneka sumber.
b. Menggunakan beragam pendekatan pembelajaran, media pembelajaran, dan sumber belajar lain.
c. Memfasilitasi terjadinya interaksi antarpeserta didik serta antara peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya.
d. Melibatkan peserta didik secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran.
e. Memfasilitasi peserta didik melakukan percobaan di laboratorium, studio, atau lapangan.
2) Elaborasi
a. Membiasakan peserta didik membaca dan menulis yang beragam melalui tugas-tugas tertentu yang bermakna.
b. Memfasilitasi peserta didik melalui pemberian tugas, diskusi, dan lain-lain untuk memunculkan gagasan baru baik secara lisan maupun tertulis.
c. Memberi kesempatan untuk berpikir, menganalisis, menyelesaikan masalah, dan bertindak tanpa rasa takut.
d. Memfasilitasi peserta didik dalam pembelajaran kooperatif dan kolaboratif.
e. Memfasilitasi peserta didik berkompetisi secara sehat untuk meningkatkan prestasi belajar.
14
f. Memfasilitasi peserta didik membuat laporan eksplorasi yang dilakukan baik lisan maupun tertulis, secara individual maupun kelompok.
g. Memfasilitasi peserta didik untuk menyajikan kerja individual maupun kelompok.
h. Memfasilitasi peserta didik melakukan pameran, turnamen, festival, serta produk yang dihasilkan.
i. Memfasilitas peserta didik melakukan kegiatan yang menumbuhkan kebanggaan dan rasa percaya diri peserta didik.
3) Konfirmasi
a. Memberikan umpan balik positif dan penguatan dalam bentuk lisan, tulisan, isyarat, maupun hadiah terhadap keberhasilan peserta didik.
b. Memberikan konfirmasi terhadap hasil eksplorasi dan elaborasi peserta didik melalui berbagai sumber.
c. Memfasilitasi peserta didik melakukan refleksi untuk memperoleh pengalaman belajar yang telah dilakukan.
d. Memfasilitasi peserta didik untuk memperoleh pengalaman yang bermakna dalam mencapai kompetensi dasar.
e. Berfungsi sebagai narasumber dan fasilitator dalam menjawab pertanyan peserta didik yang menghadapi kesulitan, dengan menggunakan bahasa yang baku dan benar.
f. Membantu menyelesaikan masalah.
g. Memberi acuan agar peserta didik dapat melakukan pengecekan hasil eksplorasi.
h. Memberi informasi untuk bereksplorasi lebih jauh.
i. Memberikan motivasi kepada peserta didik yang kuang atau belum berpartisipasi aktif.
4) Kegiatan penutup
a. Guru mengarahkan peserta didik untuk membuat rangkuman/ simpulan.
b. Guru memeriksa hasil belajar peserta didik. Dapat memberikan tes tertulis atau tes lisan atau meminta peserta didik untuk mengulang kembali
15
simpulan yang telah disusun atau dalam bentuk tanya jawab dengan mnegambil ± 25% peserta didik sebagai simpelnya.
c. Memberikan arahan tindak lanjut pembelajaran, dapat berupa kegiatan di luar kelas, di rumah atau tugas sebagai bagian remedial/pengayaan.
Langkah-langkah pembelajaran dimungkinkan disusun dalam bentuk seluruh rangkaian kegiatan, sesuai dengan karakteristik model pembelajaran yang dipilih, menggunakan urutan sintaks sesuai dengan modelnya. Oleh karena itu, kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup tidak harus ada dalam setiap pertemuan.
3. Penilaian
Merupakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis, dan menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar peserta didik yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputasan. Penilaian pencapaian kompetensi dasar peserta didik dilakukan berdasarkan persentase pemenuhan indikator.
Penilaian dapat berupa tes berbentuk tertulis, lisan, dan perbuatan (praktek). Dan juga penilaian dengan bentuk nontes berupa pengamatan, pengukuran sikap, penilaian hasil karya berupa tugas, proyek dan/atau produk. Dalam rangka mendukung pelaksanaan penilaian yang bermakna dapat dilengkapi portofolio untuk masing-masing peserta didik. Bentuk instrumen penilaian dipilih sesuai dengan teknik/jenis penilaiannya.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penilaian antara lain:
a. Penilaian diarahkan untuk mengukur pencapaian kompetensi.
b. Penilaian menggunakan acuan kriteria, yaitu berdasarkan apa yang bisa dilakukan peserta didik setelah mengikuti kegiatan pembelajaran, dan bukan untuk menentukan posisi seseorang terhadap kelompoknya.
c. Sistem yang direncanakan peserta didik adalah sistem penilaian yang berkelanjutan.
Berkelanjutan dalam arti semua indikator ditagih. Kemudian hasilnya dianalisis untuk menentukan kompetensi dasar yang telah dikuasaidan yang belum, serta untuk mengetahui kesulitan peserta didik.
d. Hasil penilaian dianalisis untuk menentukan tindak lanjut. Berupa perbaikan kegiatan pembelajaran berikutnya, program remedial bagi peserta didik yang pencapaian kompetensinya di bawah kriteria ketuntasan minimal, dan program pengayaan bagi peserta didik yang telah memenuhi kriteria ketuntasan.
16
e. Sistem penilaian harus disesuaikan dengan pengalaman belajar yang diperoleh dalam kegiatan pembelajaran. Misalnya, jika pembelajaran menggunakan pendekatan tugas observasi lapangan maka penilaian harus diberikan baik pada proses (keterampilan proses) misalnya teknik wawancara, maupun produk/hasil observasi lapangan yang berupa informasi yang dibutuhkan.
f. Penilaian dapat dilakukan secara: tes tertulis, lisan, perbuatan, penugasan, produk, serta pengamatan dan unjuk kerja.
Ada dua jenis penilaian yang digunakan dalam pembelajaran berbicara, yaitu penilaian proses dan penilaian hasil. Penilaian proses dilakukan selama kegiatan pembelajaran berlangsung untuk menilai sikap peserta didik dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.
Penilaian hasil dilakukan berdasarkan unjuk kerja yang dilakukan peserta didik ketika menyajikan kompetensi berbicara yang dituntut kurikulum atau mempresentasikan secara individual.
Dalam penilaian proses digunakan lembar penilaian sikap (afektif) yang terdiri atas aspek: (1) kedisiplinakan, (2) minat, (3) kerja sama, (4) keaktifan, dan (5) tanggung jawab. Dalam penilaian hasil digunakan rubrik penilaian untuk mengetahui kompetensi peserta didik dalam berbicara, misalnya menanggapi pembacaan puisi. Ada beberapa aspek yang dinilai, yaitu (1) kelancaran menyampaikan pendapat/tanggapan. (2) kejelasan vokal, (3) ketetapan intonasi, (4) ketetapan pilihan kata (diksi), (5) struktur kalimat (tuturan), (6) kontak mata dengan pendengar, (7) ketetapan mengungkapkan gagasan disertai data tekstual.
Contoh model penilaian berbicara:
a. Pembicaraan berdasarkan gambar 1) Pemberian pertanyaan.
2) Bercerita (menceritakan gambar).
b. Wawancara c. Bercerita d. Berpidato e. Diskusi
f. Bermain peran
17
Berbicara sebenarnya merupakan kegiatan kompleks yang melibatkan beberapa faktor, yaitu kesiapan belajar, kegiatan berpikir, kesiapan mempraktekkan, motivasi, dan bimbingan. Apabila salah satu faktor tidak dikuasai dengan baik, akan terjadi kelambatan pada penguasaan bahan pembicaraan dan mutu bicara akan menurun (Mackey dalam Hastuti, dkk., 1985:6). Semakin tinggi seseorang menguasai kelima unsur itu, semakin baik pula penampilan dan penguasaan bicaranya.
Salah satu model yang digunakan dalam penilaian berbicara (khusunya dalam berpidato dan bercerita) adalah skala penilaian yang digunakan 0-10, menurut Nurgiantoro (1980:265), ada enam aspek yang dapat digunakan dalam penilaian berbicara, yaitu:
a. Keakuratan informasi b. Hubungan antarinformasi c. Ketepatan struktur dan kosakata d. Kelancaran
e. Kewajaran
f. Gaya pengucapan
Untuk masing-masing butir penilaian tidak harus selalu sama bobotnya, bergantung pada apa yang menjadi fokus penilaian pada saat itu. Yang penting, jumlah semua bobot penilaian 10 atau 100 sehingga mempermudah mendapatkan nilai akhir, yaitu (jumlah nilai x bobot): 10 atau 100.
Misalnya:
Butir 1, keakuratan informasi berbobot 20 Butir 2, hubungan antarinformasi berbobot 15 Butir 3, ketepatan struktur berbobot 20
Butir 4, kelancaran berbobot 15
Butir 5, kewajaran urutan wacana berbobot 15 Butir 6, gaya pengucapan berbobot 15
Alat penilaian dalam berbicara (khususnya wawancara) dapat berwujud penilaian yang terdiri dari komponen tekanan, tata bahasa, kosakata, kefasihan, dan pemahaman.
18
Penilaian ini disusun dengan skala: 1 – 6 (1 berarti sangat kurang dan 6 berarti sangat baik).
a. Tekanan
1) Ucapan sering tidak dapat dipahami
2) Sering terjadi kesalahan besar dan aksen kuat yang menyulitkan pemahaman, menghendaki untuk selalu diulang
3) Pengaruh ucapan asing (daerah) yang mengganggu dan menimbulkan salah ucap yang dapat menyebabkan kesalahpahaman
4) Pengaruh ucapan asing (daerah) dan kesalahan ucapan yang tidak menyebabkan kesalahpahaman
5) Tidak ada salah ucapan yang mencolok, mendekati ucapan standar, 6) ucapan sudah standar
b. Tata bahasa
1) Penggunaan bahasa hampir selalu tidak tepat
2) Ada kesalahan dalam penggunaan pola-pola secara tetap yang selalu mengganggu komunikasi
3) Sering terjadi dalam pola tertentu karena kurang cermat yang dapat mengganggu komunikasi
4) Kadang-kadang terjadi kesalahan dalam penggunaan pola tertentu, tetapi tidak mengganggu komunikasi
5) Sering terjadi kesalahan, tetapi bukan pada penggunaan pola
6) Tidak lebih dari dua kesalahan selama berlangsungnya kegiatan berwawancara
c. Kosa kata
1) Penggunaan kosakata tidak tepat dalam percakapan yang sederhana sekalipun 2) Penguasaan kosakata sangat terbatas pada keperluan dasar personal
3) Pemilihan kosakata sering tidak tepat dan keterbatasan penggunaannya menghambat kelancaran komunikasi dalam sosial dan profesional
4) Penggunaan kosakata teknis tepat dalam pembicaraan tentang tertentu, tetapi penggunaan kosakata umum secara berlebihan
5) Penggunaan kosakata teknis lebih luas dan cermat, kosakata umum tepat digunakan sesuai dengan situasi sosial
19
6) Menggunaan kosakata teknis dan umum luas dan tepat.
d. Kefasihan/kelancaran
1) Pembicaraan selalu berhenti dan terputus-putus
2) Pembicaraan sangat lambat dan tidak ajek kecuali untuk kalimat pendek 3) Pembicaraan sering ragu, kalimat tidak lengkap
4) Pembicaraan lancar dan luas tetapi sekali-sekali kurang 5) Pembicaraan dalam segala hal lancar
e. Pemahaman
1) Memahami sedikit isi percakapan yang paling sederhana
2) Memahami dengan lambat percakapan sederhana, perlu penjelasan dan pengulangan
3) Memahami percakapan sederhana dengan baik, kadang-kadang masih perlu penjelasan ulang. Memahami percakapan normal dengan baik, kadang-kadang masih perlu
4) Penjelasan dan pengulangan
5) Memahami segala sesuatu dalam percakapan normal kecuali bersifat kolokial 6) Memahami segala sesuatu dalam percakapan normal
20
CONTOH RPP BERBICARA KELAS RENDAH
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Kelas/Semester : II/1
Waktu : 2 x 35 menit
A. Standar Kompetensi
Mampu mengungkapkan pikiran, pendapat, gagasan, dan perasaan secara lisan melalui kemampuan bertanya/menyapa, menceritakan kegiatan sehari-hari, melakukan percakapan, menceritakan pengalaman, melaporkan dan mendeskripsikan sesuatu serta mendeklamasikan pantan, menceritakan kembali cerita, dan bermain peran.
B. Kompetensi Dasar
Menceritakan Pengalaman Pribadi
C. Indikator
Menceritakan pengalaman pribadi merayakan pesta ulang tahun
D. Tujuan Pembelajaran
1. Peserta didik dapat dapat menceritakan isi teks bacaan yang berjudul “Pesta Ulang Tahun”
2. Peserta didik dapat menceritakan kembali pengalaman pribadinya berdasarkan isi teks bacaan yang disediakan.
E. Materi Pembelajaran
Menceritakan Pengalaman Pribadi 1. Contoh teks pengalaman pribadi 2. Keterampilan yang dilatihkan
a. Kemampuan mengungkapkan isi cerita bacaan b. Kemampuan menceritakan peristiwa yang dialami
21 F. Kegiatan Pembelajaran
1. Kegiatan Awal/Pembukaan
a. Apersepsi, diupayakan peserta didik belajar dalam situasi menyenangkan. Salah satu caranya dengan menyanyikan lagu “Ulang Tahun” secara bersama-sama.
Peserta didik ditanya apakah ada di antara mereka yang pernah merayakan ulang tahun. Selanjutnya, tanya jawab tentang isi lagu.
b. Motivasi, (sudah termasuk pada apersepsi) ditambah dengan menjelaskan manfaat, kalau peserta didik-peserta didik pandai bercerita/berbicara.
2. Kegiatan Inti Eksplorasi
a. Dua atau tiga peserta didik memerankan cara mengucapkan selamat kepada teman yang berprestasi dengan mimik yang ceria.
b. Guru mengajukan pertanyaan tentang pengalaman yang dialami peserta didik, misalnya:
Kapan Ami menerima hadiah?
Di mana Ami menerima hadiah?
Bagaimana perasaan Ami?
Hadiah Juara Mendongeng Hari ini Ami gembira sekali.
Ia akan menerima hadiah dari kepala sekolah.
Ami menjadi juara pertama mendongeng.
Penyerahan hadiah dilaksanakan pada hari Senin.
Ibu dan Bapak guru memberi ucapan selamat serta memberikan hadiah berupa buku cerita.
Ami sangat senang menerimanya.
Ia mengucapkan terima kasih kepada Ibu dan Bapak guru sebagai tanda terima kasih.
Teman-temannya kemudian mengucapkan selamat kepada Ami.
Selesai penerimaan hadiah, dilanjutkan dengan belajar seperti biasa.
22 Elaborasi
a. Setelah peserta didik menjawab pertanyaan, peserta didik memperhatikan cerita pendek tentang peristiwa yang berkesan, yaitu “Hadiah Juara Mendongeng” yang ditulis (lihat contoh teks pada materi).
b. Selanjutnya, peserta didik disuruh mengingat-ingat pengalaaman dirinya, lalu secara berpasangan saling menceritakan pengalaman pribadi dengan teman pasangannya. Pada saat kegiatan mereka berlangsung, guru perlu mengamati setiap pasangan untuk memperhatikan jalannya tukar pengalaman.
Ajukan pertanyaan, jika peserta didik menemui kesulitan bercerita tentang pengalamannya.
c. Setelah saling tukar pengalaman, peserta didik diminta menuliskan pengalamannya dengan bahasa sendiri.
Konfirmasi
Guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengapresiasi cerita temannya. Peserta didik memberikan penilaian terhadap cerita temannya. Guru menambahkan ekspresi bercerita.
3. Kegiatan Akhir/Penutup
a. Refleksi, peserta didik diajak merenung, menilai, dan menanggapi kegiatan pembelajaran yang baru berlangsung.
b. Penegasan dilakukan dengan cara guru memberikan penjelasan kepada peserta didik cara mengungkapkan pengalaman pribadi dengan memperhatikan:
1) Peristiwa yang dialami dan sangat berkesan.
2) Waktu kejadian 3) Urutan kejadian
G. Sumber dan Media
1. Sumber: cerita pengalaman karya guru
2. Media: teks yang memuat pengalaman peserta didik.
23 H. Penilaian
1. Penilaian proses
Pada saat kegiatan berlangsung hendaknya guru menilai.
a. Keruntutan kalimat.
b. Ketepatan penggunaan kata c. Kelengkapan isi cerita 2. Penilaian Hasil
Ceritakanlah pengalaman yang berkesan tentang perjalanan dari rumah ke sekolah atau pengalaman lain dengan memperhatikan:
a. Apa pengalaman yang berkesan?
b. Kapan waktu kejadian?
c. Bagimana urutan kejadiannya?
24
B. Pembelajaran Keterampilan Berbahasa dengan Fokus Berbicara Di Kelas Tinggi
1. Menyimak dan Berbicara
Contohnya:
Guru menceritakan sebuah peristiwa, peserta didik menyimak cerita tersebut. Setelah selesai, peserta didik diberi waktu sejenak, kemudian guru meminta salah seorang peserta didik menceritakan kembali isi cerita itu dengan bahasa (kalimat- kalimat) peserta didik sendiri secara ringkas.
Contoh yang lain, guru telah mempersiapkan dua atau tiga orang peserta didik untuk mengadakan dialog, dengan rambu-rambu yang diberikan oleh guru. Pada jam yang telah ditentukan, peserta didik yang mendapat tugas melakukan dialog di depan kelas; peserta didik yang lain menyimak. Setelah selesai, peserta didik diberi waktu untuk berpikir, kemudian salah seorang atau dua tiga orang peserta didik diminta mengemukakan isi atau kesimpulan dari dialog tersebut secara bergilir, atau dapat juga peserta didik diminta memberikan pendapatnya, tanggapannya tentang isi dialog tersebut.
Untuk peserta didik kelas 5 dan 6 kemungkinan yang lain masih banyak. Dalam hal ini yang diutamakan ialah kemampuan peserta didik memahami apa yang mereka simak dan kemampuan mengemukakan pikirannya. Yang mendapat kesempatan berbicara hanya beberapa peserta didik, yang lain diberi kesempatan untuk menyatakan pendapatnya mengenai dialog yang dilakukan oleh teman-temannya yang mendapat kesempatan di depan kelas.
Dengan cara-cara tersebut guru memadukan menyimak dan berbicara.
2. Menyimak dan Menulis
Guru membacakan atau memperdengarkan rekaman sebuah drama atau sebuah cerpen. Peserta didik menyimak berapa kali drama/cerpen itu dibaca/diperdengarkan, bergantung pada tingkat kesukaran drama/cerpen tersebut. Setelah selesai, peserta didik diberi waktu untuk menanyakan hal-hal yang tidak mereka mengerti. Sesudah itu, mereka diminta menjawab pertanyaan-pertanyaan guru tentang drama/cerpen itu, atau peserta didik diminta menuliskan isi drama/cerpen secara ringkas dengan kalimat mereka sendiri.
25
Dapat juga peserta didik diminta mendengarkan radio atau televisi pada acara tertentu, dan diminta membuat laporan hasil simakannya secara tertulis. Dalam hal ini, guru harus jeli memiliki cara-cara yang memungkinkan dilaksanakannya tugas tersebut oleh peserta didik.
Dengan cara-cara di atas, guru memadukan pembelajaran menyimak dan menulis. Cara yang lain masih cukup banyak.
3. Membaca dan Menyimak
Memadukan pembelajaran membaca dan menyimak tidak sukar.
Contoh:
Peserta didik diberi tugas membacakan suatu wacana. Dalam hal ini ketentuan- ketentuan membaca untuk orang lain harus dipahami oleh peserta didik. Peserta didik yang lain menyimak. Setelah itu, peserta didik diberikan waktu untuk berpikir, kemudian tugas selanjutnya, mungkin peserta didik diminta untuk menceritakan isi yang disimak secara lisan atau mungkin tertulis. Dalam hal ini, agar yang mendapat giliran membaca tidak sedikit, naskah yang dibaca sebaiknya naskah-naskah yang pendek, seperti: informasi singkat, pengumuman, perintah, dan sebagainya. Dengan cara-cara tersebut, guru memadukan membaca dan menyimak.
4. Membaca dan Menulis
Contoh:
Guru memberikan tugas kepada peserta didik untuk membaca cerita atau tulisan- tulisan yang lain di luar kelas, dan meminta kepada mereka untuk menuliskan ringkasan hasil bacaan masing-masing. Setelah mereka menuliskan ringkasan tersebut, guru dapat meminta kepada peserta didik untuk mengumpulkan hasil pekerjaan mereka, atau dapat juga sebelum mereka mengumpulkan, beberapa peserta didik diberi giliran untuk membacakan atau mengemukakan hasil pekerjaan masing-masing. Dengan cara-cara itu, terjadi pemaduan antara membaca, menulis, dan bercerita.
26 5. Menulis dan Bercerita
Contoh:
Guru memberikan tugas kepada peserta didik untuk membuat karangan di luar kelas. Pada jam yang telah ditentukan, peserta didik menceritakan isi karangannya, sebelum karangan itu dikumpulkan.
Peserta didik dibagi dalam kelompok-kelompok kecil, masing-masing beranggotakan tiga atau empat orang. Tiap kelompok diberi tugas merencanakan dan menuliskan sebuah adegan yang diperankan. Pada jam yang telah disepakati bersama, sebelum naskah diserahkan kepada guru, tiap kelompok diminta memperagakan apa yang telah mereka rencanakan dan mereka tulis.
Cara lain masih banyak.
Pembelajaran kosakata selalu dipadukan dengan keterampilan berbahasa. Untuk mengajarkan makna kata (kata-kata baru), digunakan sebuah wacana yang memuat kata-kata yang akan diajarkan. Peserta didik diminta membaca wacana itu di dalam hati, kemudian diberi kesempatan untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan.
Setelah itu, kata-kata yang disiapkan untuk diajarkan, dibicarakan atau didiskusikan maknanya, sinonimnya (kalau ada), dan sebagainya. Kemudian peserta didik diminta menggunakan kata- kata tersebut dalam kalimat secara tertulis. Dapat juga guru menggunakan kata-kata baru di dalam wacana untuk dikte.
Pembelajaran struktur juga dipadukan dengan semua keterampilan. Dengan cara- cara seperti contoh di atas, dapat dilakukan pemaduan antara pembelajaran struktur dengan membaca, menulis, berbicara, dan menyimak. Cara yang lain dapat juga dengan teknik klos.
Pemaduan bahasa dengan bidang studi yang lain seperti IPA, IPS, dapat dilakukan dengan jalan menggunakan naskah atau tulisan tentang bidang studi yang dimaksud sebagai bahan bacaan. Atau dapat juga peserta didik ditugasi mengarang tentang sesuatu yang berkaitan dengan bidang studi dimaksud.
Kaitan pembelajaran bahasa dengan bidang studi yang lain dapat dilakukan dalam hal:
kosakata, struktur, menulis, membaca, berbicara, dan menyimak. Dengan kata lain, semua aspek bahasa dapat dipadukan dengan bidang studi yang lain.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran bahasa.
27
a. Pembelajaran kosakata dan struktur harus selalu di dalam konteks. Artinya, kata- kata atau struktur yang diajarkan tidak lepas dari konteks kalimat atau wacana.
b. Setiap aspek dalam bahasa diajarkan dengan memperhatikan tema yang telah digariskan dalam silabus. Dengan mengacu pada tema, sebenarnya telah terjadi pemaduan dengan bidang studi yang lain atau terjadi lintas bidang studi.
c. Setiap kali pembelajaran selalu diawali dengan pengarahan yang jelas.
d. Pembelajaran yang direncanakan dengan baik akan memberikan hasil yang lebih baik.
1. Perencanaan
a. Kelas 4, Semester 1
1) Mendeskripsikan tempat sesuai dengan denah atau gambar dengan kalimat yang runtut.
2) Menjelaskan petunjuk penggunaan suatu alat dengan bahasa yang baik dan benar.
b. Kelas 4, Semester 2
1) Berbalas pantun dengan lafal dan intonasi yang tepat.
2) Menyampaikan pesan yang diterima melalui telepon sesuai dengan isi pesan
c. Kelas 5, Semester 1
1) Menanggapi suatu persoalan atau peristiwa dan memberikan saran
pemecahannya dengan memperhatikan pilihan kata dan santun berbahasa 2) Menceritakan hasil pengamatan/kunjungan dengan bahasa yang runtut, baik,
dan benar.
3) Berwawancara sederhana dengan narasumber (petani, pedagang, nelayan, karyawan, dll.) dengan memperhatikan kata dan santun berbahasa.
d. Kelas 5, Semester 2
1) Mengomentari persoalan faktual disertai alasan yang mendukung dengan memperhatikan pilihan kata dan santun berbahasa.
2) Memerankan tokoh drama dengan lafal, intonasi, dan ekspresi yang tepat.
e. Kelas 6, Semester 1
28
1) Menyampaikan pesan/informasi yang diperoleh dari berbagai media dengan bahasa yang runtut, baik, dan benar.
2) Menanggapi (mengkritik/memuji) suatu hal disertai alasan dengan menggunakan bahasa yang santun.
f. Kelas 6, Semester 2
1) Berpidato atau presentasi untuk berbagai keperluan (acara perpisahan, perayaan ulang tahun, dll.) dengan lafal, intonasi, dan sikap yang tepat.
2) Melaporkan isi buku yang dibaca (judul, pengarang, jumlah halaman, dan isi) dengan kalimat yang runtut.
3) Membacakan puisi karya sendiri dengan ekspresi yang tepat.
29
RENCANA PEMBELAJARAN Sekolah : SD Negeri 230 Palembang
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia Kelas/Semester : V/1
Aspek : Berbicara
Waktu : 2 x 35 menit
Standar Kompetensi : Siswa mampu memerankan tokoh drama dengan lafal, intonasi, dan ekspresi yang tepat.
Kompetensi Dasar : Siswa mampu memerankan tokoh drama dengan lafal, intonasi, dan ekspresi yang tepat.
Hasil Belajar : dapat memainkan peran
Indikator : 1. Menceritakan watak tokoh.
2. Mendiskusikan dan melatih peran dengan ekspresi yang tepat.
3. Memerankan tokoh drama dengan lafal, intonasi, dan ekspresi yang tepat.
Meteri Pokok : Bermain peran
Metode : Pemodelan, learning community (belajar kelompok), dan inkuiri.
Media : Teks cerita drama
Sumber : Buku bahasa dan Sastra Indonesia Kelas 5.
Skenario Pembelajaran:
Pendahuluan Apersepsi Motivasi Inti
Eksplorasi
− Guru mengajukan pertanyaan kepada peserta didik tentang pokok-pokok cerita yang didengar.
− -Peserta didik lain diberi kesempatan untuk mengomentari jawaban-jawaban temannya.
− -Secara kelompok, peserta didik membuat dugaan mengenai watak tokoh.
30 Elaborasi
− Peserta didik berdiskusi antarkelompok untuk menelaah teks cerita drama.
− Peserta didik mencari kebenaran tentang watak dan karakter tokoh.
− Peserta didik berlatih memainkan peran dalam bentuk dialog.
Konfirmasi
− Peserta didik mementaskan peran berdasarkan cerita drama.
− Peserta didik memberikan penilaian kepada tampilan kelompok.
− Peserta didik menyimpulkan hasil pembelajaran.
Penutup
− Guru memberikan penguatan tentang materi yang baru selesai dibahas.
− Peserta didik mendapat tugas menganalisis karakter tokoh dalam sinetron ditontonnya di TV dan mencatat 4 karakter.
Evaluasi
− Penilaian proses
Pengamatan aktivitas peserta didik dalam kelompok dan selama proses pembelajaran dengan menggunakan tabel observasi aktivitas; bekerja sama dalam kelompok;
memberikan sumbang saran/ide dalam kelompok, menerima saran dan kritik untuk perbaikan; dan cepat melaksanakan/menyelesaikan tugas
2. Pelaksanaan
Pembelajaran dilaksanakan sesuai dengan RPP. Beberapa keterampilan yang harus dimiliki dalam pembelajaran di antaranya:
a. Membuka pelajaran b. Mengajukan pertanyaan c. Memberikan penguatan
d. Menampilkan model pembelajaran yang bervariasi
31 e. Menerapkan media
f. Mengevaluasi pembelajaran g. Menguasai materi
h. Menutup pelajaran
3. Penilaian
Pada setiap pembelajaran diperlukan penilaian sebagai tolok ukur keberhasilan pembelajaran tersebut. Begitu pula dengan pembelajaran berbicara, Harris dalam Tarigan (2008: 3) menyatakan komponen-komponen yang perlu mendapat perhatian pada tes keterampilan berbicara yang meliputi fonologi, struktur, kosakata, dan kecepatan kelancaran umum.
Selain itu, cara penilaian yang lebih rinci dipaparkan oleh Arsjad dan U.S. dalam Syahara (2009: 28-30) yang mengklasifikasikannya menjadi dua faktor, yaitu faktor kebahasaan dan faktor nonkebahasaan, berikut ini paparan kedua faktor tersebut.
a. Faktor kebahasaan
Faktor kebahasaan yang dinilai meliputi hal-hal yang bersangkutan dengan penggunaan bahasa seseorang dalam berbicara, yaitu sebagai berikut:
1) Ketepatan ucapan
Seorang pembicara harus membiasakan diri mengucapkan kalimat secara tepat dan jelas. Pengucapan yang kurang tepat dapat mempengaruhi perhatian dari pembicara. Seorang pembicara memiliki gaya bicaranya tersendiri yang dapat berubah sesuai dengan pokok pembicaraan dan situasi pembicaraan.
2) Penempatan tekanan (intonasi, nada, dan durasi yang sesuai)
Kesesuaian intonasi, nada, dan durasi merupakan daya tarik tersendiri dalam berbicara serta sebagai faktor penentu keefektifan berkomunikasi. Jika dalam penyampaian masalah yang dibicarakan datar-datar saja hampir dapat dipastikan akan menimbulkan kejenuhan, kurang menarik sehingga keefektifan berbicara menjadi terganggu.
3) Pilihan kata (diksi)
Pilihan kata saat menyampaikan sebuah informasi hendaknya tepat, jelas, dan bervariasi sehingga mudah dipahami oleh pendengar. (Arsjad dan U.S. dalam Syahara, 2009: 28-30).
32 b. Faktor nonkebahasaan
Lain halnya dengan faktor kebahasaan, faktor nonkebahasaan lebih bersifat eksternal.
Faktor ini meliputi psikologis seseorang ketika berbicara. Oleh karena itu, Arsjad dan U.S. dalam Syahara (2009: 28-30) menganjurkan pembicara untuk memperhatikan faktor nonkebahasaan sebagai berikut:
1) Sikap yang tenang dan wajar serta tidak kaku akan memberikan kesan yang menarik. Sikap demikian cenderung ditentukan oleh situasi, tempat, dan penguasaan materi.
2) Pandangan mengarah pada lawan bicara sebagai bentuk kekomunikatifan seseorang ketika berbicara di depan umum.
3) Tingkat kenyaringan suara seorang pembicara disesuaikan dengan jarak percakapan agar terdengar jelas oleh pendengar.
4) Kelancaran berbicara seseorang dalam melontarkan maksud pembicaraannya dapat memiliki kesan tersendiri bagi pendengarnya.
5) Gerak badan (gesture) dan mimik tepat.
6) Gesture yang dimiliki seorang pembicara serta mimik yang dapat mewakili maksud pembicaraan merupakan bagian dari kekomunikatifan pembicara dalam berkomunikasi.
7) Penalaran suatu gagasan harus berkesinambungan. Hal ini berarti hubungan dalam kalimat harus logis dan berhubungan dengan pokok pembicaraan.
8) Penguasaan topik yang baik akan menumbuhkan keberanian dan kelancaran pembicaraan.
33
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
Pembelajaran berbicara ialah proses belajar cara mengungkapkan bahasa secara lisan.
Kebermaknaan pembelajaran ini sesuai dengan pengalaman yang dialami peserta didik dalam proses menguasai kompetensi berbicara. Pembelajaran berbicara bergantung pada jenis keterampilan berbicara yang akan dikembangkan dalam diri peserta didik. Kegiatan pembelajaran berbicara meliputi: menyapa, memperkenalkan diri, bertanya, menjawab pertanyaan, bercerita (menceritakan pengalaman, buku/cerita yang pernah didengarkan/dibaca), berpendapat dalam diskusi kelompok, memberi petunjuk, bermain peran, dan mewawancarai tokoh.
Pembelajaran keterampilan berbicara untuk kelas SD kelas rendah (1,2, dan 3) secara umum meliputi materi tentang cara memperkenalkan diri dan orang lain, menjelaskan suatu hal secara umum, bercerita pengalaman, dan menceritakan kembali wacana.
Pembelajaran keterampilan berbicara untuk SD kelas tinggi (4,5, dan 6) secara umum meliputi materi tentang menceritakan isi pokok wacana, mendeskripsikan suatu hal dengan rinci, berpidato, berwawancara, ceramah, dan hal lain yang memerlukan keterampilan berbicara menengah.
B. Saran
Penulis menyarankan ketika membaca makalah ini, para pembaca dapat mengaitkannya dengan pengalamam sehari-hari dalam menalar dan membaca kritis. Bacalah makalah ini dengan cermat, bila perlu buatlah catatan kecil untuk menuliskan hal-hal yang dianggap penting. Semoga dengan adanya makalah ini dapat menambahkan wawasan kita mengenai keterampilan berbicara.
34
DAFTAR PUSTAKA
PDGK4101 – Keterampilan Berbahasa Indonesia SD (Edisi 3) – Perpustakaan UT. (n.d.).
Retrieved May 23, 2023, from https://pustaka.ut.ac.id/lib/pdgk4101-keterampilan- berbahasa-indonesia-sd-edisi-3/