HUBUNGAN PENGETAHUAN DENGAN KEPATUHAN TERAPI DIET PADA PASIEN DIABETES MELLITUS TIPE II
DI RUANG ELISABETH RSU GMIM BETHESDA TOMOHON
OLEH:
SWETLY.G.C.TOLY NIM:14061162
FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS SARIPUTRA INDONESIA TOMOHON TAHUN 2017
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kemajuan zaman seperti sekarang ini ditandai dengan kemajuan teknologi, ternyata selain membawa dampak positif juga membawa dampak negatif. Perubahan teknologi mengubah gaya hidup dan sosial ekonomi masyarakat negara maju maupun negara berkembang. Hal tersebut menyebabkan meningkatnya jumlah masyarakat yang terkena penyakit tidak menular, salah satunya adalah Diabetes Mellitus (DM).
Diabetes Mellitus (DM) merupakan penyakit menahun yang akan diderita seumur hidup oleh penderitanya (Perkeni, 2011 dalam Trilestari Dan Suprayitno 2016). Pola makan kebarat-baratan yang tidak sehat, disertai intensitas makan yang tinggi dan stres yang menekan sepanjang hari, membuat kadar glukosa darah sangat sulit dikendalikan. Hal ini menyebabkan terjadi peningkatan kadar glukosa darah (hiperglikemia) pada penderita DM karena glukosa yang diserap dari makanan oleh usus yang kemudian masuk ke dalam darah tidak dapat dipindahkan ke dalam sel otot, ginjal, adiposit, dan tidak dapat diubah menjadi glikogen dan lemak (Santoso, 2001 dalam Trilestari Dan Suprayitno 2016).
Diabetes Melitus (DM) merupakan penyakit kronis yang ditandai dengan hiperglikemia dan intoleransi glukosa yang terjadi karena kelenjar pankreas tidak dapat memproduksi insulin secara adekuat atau karena tubuh tidak dapat menggunakan insulin yang diproduksi secara efektif atau keduauanya. Diabetes Melitus diklasifikasikan menjadi DM tipe 1, yang dikenal sebagai insulin-dependent atau childhood onset diabetes, ditandai dengan kurangnya produksi insulin dan DM tipe 2, yang dikenal dengan non-insulin-dependent atau adult-onset diabetes, disebabkan ketidakmampuan tubuh menggunakan insulin secara efektif yang kemudian
mengakibatkan kelebihan berat badan dan kurang aktivitas fisik. Sedangkan diabetes gestasional adalah hiperglikemia yang diketahui pertama kali saat kehamilan.
Tingginya prevalensi DM yang sebagian besar tergolong dalam DM tipe 2 disebabkan oleh interaksi antara faktor-faktor rentanan genetis dan paparan terhadap lingkungan.
Diantaranya adalah kebiasaan makan yang tidak seimbang akan menyebabkan obesitas. Kondisi obesitas tersebut akan memicu timbulnya DM tipe 2. Pada orang dewasa, obesitas akan memiliki risiko timbulnya DM tipe 2 empat kali lebih besar dibandingkan dengan orang dengan status gizi normal. (Yunita Dan Kurniawaty, 2016).
Internasional Diabetes Federation (IDF) menyebutkan bahwa prevalensi Diabetes Mellitus di dunia pada tahun 2012 adalah sebanyak 37,1% = 371 penderita dari 1000 penderita dimana proporsi kejadian DM tipe 2 adalah 95%= 950 penderita dari 1000 penderita dari populasi dunia yang menderita Diabetes Mellitus hal ini telah menjadikan DM sebagai penyebap kematian urutan ke tujuh di dunia. (Fatimah, 2015).
Berdasarkan Badan Statistik Indonesia, saat ini Indonesia cukup tinggi yaitu mencapai angka 2 juta jiwa pasien Diabetes Mellitus yang akan meningkat pada tahun 2030 menjadi 194 juta (Perkeni, 2007, dalam Susanti dan sulistyarini, 2013). Prevelensi tertinggi terdapat di Sulawesi Utara tepatnya di kota Manado yaitu 6,1%. (Shandine, 2010). Berdasarkan survey awal yang dilakukan di Ruang RSU GMIM Bethesda Tomohon ditemukan sebanyak 92 kasus Diabetes Mellitus selama tiga bulan terakhir yaitu Agustus 2017 sampai Oktober 2017. Klasifikasi Diabetes Mellitus yang paling banyak adalah DM tipe II yaitu sebanyak 60 orang.
Penyakit Diabetes Mellitus dapat menyerang siapa saja tua, muda, tanpa memandang status sosial dan ekonomi.Penyakit ini tidak dapat disembuhkan namun dapat dicegah atau di kontrol dengan berbagai cara yaitu latihan fisik, terapi obat, terapi diet dan pendidikan kesehatan (Marliani, 2007, dalam Susanti, 2013)
Salah satu penatalaksanaan untuk mencegah terjadinya komplikasi bagi pasien Diabetes Mellitus adalah terapi diet atau pengelolaan pola makan (Price, 2008) Tujuan utama dari terapi diet pada penderita Diabetes Mellitus adalah untuk mempertahankan kadar gula darah agar mendekati normal. Pada penderita Diabetes Mellitus tipe II pengaturan makan merupakan hal yang sangat penting bila hasil pengaturan makan tidak sesuai maka dibutuhkan obat-obatan hipoglikemia OAD (oral anti diabetic) atau insulin. Pemberian diet diusahakan untuk memenuhi kebutuhan pasien Diabetes Melitus, sehingga pelaksanaan diet Diabetes Melitus hendaknya diikuti pedoman 3J (Jumlah, Jadwal, dan Jenis), yaitu tepat jadwal yang artinya makan harus diikuti interval tiga jam (tiga kali makanan utama dan tiga kali snack), tepat jenis yaitu ada beberapa jenis makanan yang dianjurkan dan ada yang harus dibatasi dan tepat jumlah yang artinya jumlah kalori yang diberikan harus dihabiskan. (Marliani, 2007, dalam Susanti dan Sulistyarini, 2013). Pengetahuan pasien Diabetes Mellitus mengenai terapi diet dapat diperoleh melalui konsultasi maupun edukasi di pelayanan kesehatan (Deamater, 2006). Pengetahuan merupakan hasil dari tahu yang terjadi setelah seseorang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu (Notoadmotjo, 2007)
Pasien dengan Diabetes Mellitus yang patuh dalam menjalani terapi diet secara rutin kadar gula darannya akan terkendali, hal ini dapat mengurangi resiko komplikasi jangka pendek maupun jangka panjang. Pengetahuan yang cukup akan faktor pencetus dan resiko yang akan ditimbulkan dari penyakit Diabetes Mellitus tipe 2 dapat meningkatkan kepatuhan dalam menjalankan terapi diet (Notoadmotjo, 2007).
Kepatuhan itu sendiri merupakan suatu hal penting untuk dapat mengembangkan rutinitas (Kebiasaan) yang dapat membantu penderita dalam mengikuti jadwal diet penderita. Kendala utama pada penanganan Diabetes Melitus adalah kejenuhan pasien dalam mengikuti terapi diet yang sangat diperlukan untuk mencapai
keberhasilan Pelaksanaan Diet Diabetes Melitus sangat dipengaruhi oleh adanya kepatuhan pasien. untuk itu pasien yang patuh dalam menjalankan terapi dapat memiliki harapan hidup yang lebih baik dibandingkan dengan pasien yang tidak terkendali kadar gulanya (Almatzeir, 2005)
Berdasarkan masalah dari uraian diatas maka penulis tertarik untuk mengetahui Hubungan Pengetahuan Dengan Kepatuhan Terapi Diet Diabetes Melitus Tipe II Di Ruang Elisabeth RSU GMIM Bethesda Tomohon
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1. Peryataan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, dapat dilihat bahwa penyakit Diabetes Mellitus erat kaitannya dengan pengetahuan dalam menjalankan kepatuhan terapi diet. Penulis merumuskan masalah pada penelitian ini, yaitu :’’ Apakah Ada Hubungan Pengetahuan Dengan Kepatuhan Terapi Diet pada pasien Diabetes Mellitus Tipe II Di Ruang Elisabeth RSU GMIM Bethesda Tomohon
1.2.2. Pertanyaan Masalah
1.Bagaimana Pengetahuan pada pasien Diabetes Mellitus tipe II di Ruang Elisabeth RSU GMIM Bethesda Tomohon?
2.Bagaimana Kepatuhan Terapi Diet pada pasien Diabetes Mellitus tipe II di Ruang Elisabeth RSU GMIM Bethesda Tomohon?
3.Apakah ada hubungan Pengetahuan dengan Kepatuhan Terapi Diet pada pasien Diabetes Mellitus Tipe II di Ruang Elisabeth RSU GMIM Bethesda Tomohon?
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1. Tujuan Umum
1.Mengetahui hubungan pengetahuan dengan kepatuhan terapi diet pada pasien Diabetes Mellitus Tipe II di Ruang Elisabeth RSU Gmim Bethesda Tomohon?
1.3.2 Tujuan Khusus
1.Mengidentifikasi pengetahuan pada pasien Diabetes Mellitus Tipe II di Ruang Elisabeth RSU GMIM Bethesda Tomohon.
2.Mengidentifikasi Kepatuhan Terapi Diet pada pasien Diabetes Melitus tipe II di Ruang Elisabeth RSU GMIM Bethesda Tomohon
3.Menganalisis hubungan Pengetahuan dengan Kepatuhan Terapi Diet pada pasien Diabetes Mellitus Tipe II di Ruang Elisabeth RSU GMIM Bethesda Tomohon
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1. Manfaat Teoritis
Memberikan pemahaman yang mendalam kepada penulis tentang hubungan pengetahuan dengan kepatuhan terapi diet pada pasien Diabetes Mellitus, dan memberikan sumbangsi pemikiran kepada rekan sejawat dalam memahami aspek hubungan pengetahuan dengan kepatuhan diet pada pasien Diabetes Mellitus.
1.4.2. Manfaat Praktis
1. Bagi Instansi Terkait
Dapat dijadikan masukan masukan bagi pihak Rumah Sakit dalam hal memberikan program terapi diet dan sebagai bahan evaluasi dengan melihat kepatuhan pasien dalam menjalankan terapi diet.
2. Bagi Peneliti
Dapat dijadikan informasi dalam menambah wawasan ilmiah serta untuk mengaplikasikan ilmu yang telah diperoleh
3. Masyarakat
hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan masukan dan informasi yang berguna bagi masyarakan khususnya klien dengan diabetes mellitus
KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS PENELITIAN
3.1 Kerangka Konsep
Kerangka konseptual merupakan gambaran dan arahan asumsi mengenai variable-variabel yang akan diteiti atau memiliki arti sebuah sintesis (Hidayat, 2010).
Keterangan: Variaebel yang diteliti Variabel yang tidak diteliti
Gambar 3.1 kerangka konsep penelitian tentang hubungan pengetahuan dengan kepatuhan terapi diet pada pasien diabetes mellitus tipe II di Ruang Bethesda RSU GMIM Bethesda Tomohon
2.5 Hipotesis Penelitian Komplikasi 1.Akut
2.Kronis DM tipe II
DM tipe I Diabetes
Mellitus
Penatalaksanaan
Latihan Fisik Terapi Obat Terapi diet Pendidikan Kesehatan
Pembatasan makanan sesuai 3J(jumlah,jadwal,jenis)
Kepatuhan
Diabetes tipe spesifik DM
Gestasional
Patuh Tidak Patuh
Pengetahuan Genetik
Obesitas Hipertensi Umur Alkohol Rokok
Tahu Memahami Aplikasi
Baik Cukup Kurang
Hipotesis penelitian adalah jawaban sementara dari rumusan masalah atau pertanyaan penelitian (Nursalam, 2008)
Hipotesis dalam penelitian ini adalah :
Ha : Ada hubungan antara pengetahuan dengan kepatuhan terapi diet pada pasien DM tipe II di Ruang Elisabeth RSU GMIM Bethesda Tomohon
Ho: Tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan kepatuhan terapi diet pada pasien DM tipe II di Ruang Elisabeth RSU GMIM Bethesda Tomohon
DAFTAR PUSTAKA
Konsensus Pengolahan dan pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia.
Jakarta; PB PERKENI
Nursalam, (2013). Konsep dan Penerapan Metodelogi Penelitian Ilmu Keperawatan, Pedoman Skripsi, Testis dan Instrument Penelitian, Salemba Medika 2008
Notoadmodjo, (2007). Pendidikan Dan Prilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta Perkeni, (2007) dalam Fatimah, (2015).
Pusat data dan informasi kementrian kesehatan Republik Indonesia, (2014). Infodatin:
Situasi dan analisis Diabetes Melitus
Perkeni, (2007) dalam Fatimah, (2015). Konsensus Pengolahan dan pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia. Jakarta; PB PERKENI
Restyana Noor Fatimah, (2015). Jurnal: Diabetes Militus Tipe 2
Susanti Dan Suistyarini, (2013). Jurnal: Dukungan Keluarga Meningkatkan Kepatuhan Diet Diabetes Militus Di Ruang Rawat Inap RS Baptis Kediri
Trilestari Dan Suprayitno, (2016). Jurnal: Hubungan Prilaku Diet Dengan Tingkat Kadar Gula Darah Sewaktu Pada Penderita Diabetes Mellitus Tipe 2 Di Ambarketawang Yogyakarta
Xinhua, (2007) dalam Susanti(2013). Indonesia Ranks 4 th in Terms of Diabetes Sufferers. English
Yunita Dan Kurniawaty, (2016). Jurnal: Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Diabetes Miitus Tipe 2