1 MAKALAH
PRODUCTIVITY IMPROVEMENT AND SUSTAINING
Ditujukan Untuk Memenuhi Tugas kelompok Mata Kuliah Manajemen Produktivitas Dosen Pengampu : Herli Noviansyah, M.M.
Disusun oleh :
1. Eki Sudrajat (223475) 2. Muhammad Suhri (220194) 3. Novitasari (223561) 4. Salsabilah Firdausyia (223307)
PROGRAM STUDI MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS PRIMAGRAHA TAHUN 2025
2
KATA PENGANTAR
Puja
dan puji syukur penyusun panjatkan atas ke hadirat Allah SWT atas berkat, rahmat, dan karunia-Nya sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Productivity
improvement and sustaining”.Maksud dari penyusunan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas kelompok pada mata kuliah Manajemen Produktivitas di Program Studi Manajemen Universitas Primagraha. Dalam penyusunan makalah ini, penyusun menyampaikan ucapan terimakasih yang tak terhingga kepada Bapak Herli Noviansyah M.M. selaku dosen pengampu Mata Kuliah Manajemen Produktivitas, rekan-rekan semua, serta semua pihak yang membantu penyusunan makalah ini yang tidak dapat penyusun sebutkan satu-persatu.
Penyusun menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan dan penyusun telah berusaha semaksimal mungkin dalam penyusun tugas makalah ini. Oleh sebab itu, penyusun sangat mengharapkan kritik, saran dan nasehat yang baik demi perbaikan tugas makalah ini kedepannya. Demikianlah yang dapat penyusun sampaikan, semoga makalah ini dapat berguna dan bemanfaat untuk kami semua.
Serang, 20 Maret 2025
Kelompok 6
3 DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ...
DAFTAR ISI ...
BAB I PENDAHULUAN ...
1.1 Latar Belakang ...
1.2 Rumusan Masalah ...
1.3 Tujuan Penulisan ...
BAB II PEMBAHASAN ...
2.1 Pengertian Produktivitas (Productivity) ...
2.2 Peningkatan Produktivitas (Productivity Improvement) ...
2.3 Faktor Yang Mempengaruhi Peningkatan Produktivitas ...
2.4 Cara Meningkatkan Produktivitas ...
2.5 Mempertahankan Produktivitas (Sustaining Productivity) ...
BAB III PENUTUP ...
3.1 Kesimpulan ...
DAFTAR PUSTAKA ...
4 BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Produktifitas adalah bagaimana menghasilkan atau meningkatkan hasil barang dan jasa setinggi mungkin dengan memanfaatkan sumber daya secara efisien. Banyak faktor yang mempengaruhi produktifitas kerja, baik yang berhubungan dengan tenaga kerja mapun yang berhubungan dengan lingkungan perusahaan dan kebijaksasnaan pemerintah secara keseluruha. Peningkatan produktifitas dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain sikap kerja seperti : kesediaan untuk bekerja secara bergilir (shift work), tingkat ketrampilan yang ditentukan oleh pendidikan latihan dalam manajemen, hubungan antara tenaga kerja, kewiraswastaan.
Secara konseptual, produktivitas bukan hanya sebatas rasio matematis antara output terhadap input, tetapi juga merupakan indikator penting untuk mengukur kinerja dan daya saing suatu organisasi atau negara. Dalam konteks ekonomi makro, produktivitas tenaga kerja sering dijadikan ukuran untuk menilai efisiensi dan pertumbuhan ekonomi. Produktivitas yang tinggi menandakan bahwa suatu entitas mampu menghasilkan lebih banyak barang atau jasa dengan sumber daya yang terbatas, mencerminkan keunggulan manajerial, teknologi, dan kualitas tenaga kerja yang tersedia.
Sedarmayanti, (2001:71). Faktor tersebut harus memperhatikan adanya kecenderungan perubahan dunia kerja dan permintaan pasar yang dilayani dengan tepat, memuaskan dan cepat. Hal tersebut melandasi pentingnya pengembangan kemampuan dan kualitas sumber daya manusia, tidak hanya dari sudut fisik, mental dan moral, akan tetapi juga dari sudut produktifitas kerja. Suatu perusahaan yang ingin tumbuh dan berkembang selalu berupaya meningkatkan produktivitas kerja sebagai sistme organisasi tersebut, termasuk sistme manajemen, sistem fungsional dan sistem operasional. Dapat dikatakn produktif apabila masukan yang diproses semakin sedikit untuk menghasilkan pengeluaran yang semakin besar.
Sumber daya manusia merupakan faktor penting dalam menentukan kelangsungan hidup suatu perusahaan, karena karyawan meerupakan salah satu faktor produksi yang memegang peranan penting dibanding faktor produksi lainnya. Meski suatu perusahaan memiliki sarana dan prasarana yang lengkap, tanpa didukung sumber daya manusia yang bermoral bai, dinamis, disiplin, dan bersatu, maka kelangsungan hidup perusahaan itu akan berjalan lambat bahkan tidak dapat berlangsung lama. Sutrisno (2008:14).
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari produktivitas dan bagaimana pemahaman mendalam terhadap konsep tersebut?
2. Faktor-faktor apa saja yang memengaruhi tingkat produktivitas dalam suatu organisasi atau individu?
3. Apa saja jenis-jenis produktivitas yang dapat dikaji dalam konteks organisasi dan tenaga kerja?
4. Bagaimana cara-cara yang efektif untuk meningkatkan produktivitas?
5. Hambatan apa saja yang umum dihadapi dalam upaya meningkatkan produktivitas, dan bagaimana cara mengatasinya?
1.3 Tujuan Penulisan
5
1. Untuk memberikan pemahaman menyeluruh mengenai konsep dan definisi produktivitas dari berbagai sudut pandang.
2. Untuk mengidentifikasi dan menjelaskan faktor-faktor utama yang memengaruhi produktivitas baik secara internal maupun eksternal.
3. Untuk mengklasifikasikan berbagai jenis produktivitas serta penerapannya dalam konteks organisasi.
4. Untuk menjelaskan berbagai strategi, metode, dan pendekatan yang dapat diterapkan dalam rangka meningkatkan produktivitas secara berkelanjutan.
5. Untuk mengungkap hambatan-hambatan yang umum dalam peningkatan produktivitas serta menawarkan solusi dalam menghadapinya secara efektif.
6 BAB II PEMBAHASAN 2.1 Pengertian Produktivitas (Productivity)
Dalam pengertiannya produktivitas secara umum dapat diartikan sebagai perbandingan antara output (barang dan jasa) dibagi dengan satu atau dua lebih input (tenaga kerja, modal, bahan baku, energi) (Jay dan Barry, 2004). Pemulihan harga dapat diartikan sebagai biaya input yang didapatkan dari perubahan harga jual produk-produk perusahaan (Suharmadi, 2008).
Sumanth (1985) mendefinisikan produktivitas sebagai rasio dari output dari sebuah sistem dengan input yang digunakan untuk menghasilkan output tersebut. Dengan lingkungan input adalah tenaga kerja, material, energi, dan modal. Output adalah produk atau jasa yang diperoleh dari gabungan berbagai macam sumber daya secara bersama-sama. Sebagai suatu ukuran gabungan, produktivitas tidak dapat langsung memberikan indikasi dimana dalam suatu sistem kesalahan telah terjadi, tapi ukuran ini secara jelas menunjukkan berapa besar nilai tambah yang telah berhasil dicapai oleh sistem yang bersangkutan.
Rumusan produktivitas sebagai berikut : Produktivitas =𝑂𝑢𝑡𝑝𝑢
𝐼𝑛𝑝𝑢𝑡 ……… (2.1)
Dengan mengetahui nilai produktivitas, maka akan diketahui pula seberapa efektif proses produksi telah digayuhkan untuk meningkatkan output dan seberapa efisien pula sumber-sumber input telah berhasil dihemat. Apabila keberhasilan produksi hanya
dipandang dari sisi output, maka produktivitas dipandang dari dua sisi sekaligus, yaitu: sisi input dan output titik. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa produktivitas berkaitan dengan efisiensi penggunaan input dalam memproduksi output ( barang atau jasa).
Mali (1978) dalam Gaspersz (2000) menyatakan bahwa produktivitas tidak sama dengan produksi, tetapi produksi performansi kualitas, hasil-hasil merupakan komponen dari usaha produktivitas. Dengan demikian, produktivitas merupakan kombinasi dari efektivitas dan efisiensi.
Produktivitas juga dapat diartikan sebagai hasil pengukuran suatu hasil kinerja dengan memperhitungkan sumber daya yang digunakan, termasuk sumber daya manusia.
Produktivitas dapat diukur pada Tingkat individual, kelompok maupun organisasi.
Produktivitas juga mencerminkan keberhasilan atau kegagalan dalam mencapai efektivitas dan efisiensi kinerja dalam kaitannya dengan penggunaan sumber daya. Orang sebagai sumber daya manusia di tempat kerja termasuk sumber daya yang sangat penting dan perlu diperhitungkan.
Secara konseptual, produktivitas bukan hanya sebatas rasio matematis antara output terhadap input, tetapi juga merupakan indikator penting untuk mengukur kinerja dan daya saing suatu organisasi atau negara. Dalam konteks ekonomi makro, produktivitas tenaga kerja sering dijadikan ukuran untuk menilai efisiensi dan pertumbuhan ekonomi. Produktivitas yang tinggi menandakan bahwa suatu entitas mampu menghasilkan lebih banyak barang atau jasa dengan sumber daya yang terbatas, mencerminkan keunggulan manajerial, teknologi, dan kualitas tenaga kerja yang tersedia.
Dalam ranah manajemen operasional, produktivitas menjadi ukuran kinerja yang krusial untuk evaluasi keberhasilan strategi produksi. Misalnya, perusahaan manufaktur perlu mengukur produktivitas mesin dan pekerja agar bisa meminimalkan biaya dan memaksimalkan laba. Oleh karena itu, pendekatan sistematis terhadap produktivitas
7
mencakup pemantauan efisiensi seluruh proses bisnis, termasuk logistik, rantai pasokan, dan hubungan dengan pemasok.
Lebih lanjut, produktivitas juga memiliki dimensi sosial dan psikologis. Di tingkat individual, produktivitas mencerminkan tingkat motivasi, kemampuan manajemen waktu, dan keseimbangan hidup kerja. Seseorang yang produktif biasanya mampu mengelola tugasnya secara efektif, bekerja secara cerdas (smart work), dan bukan hanya keras (hard work). Dalam organisasi, menciptakan budaya produktivitas berarti menciptakan lingkungan yang mendukung kerja sama tim, komunikasi yang terbuka, dan pemberdayaan karyawan.
Terdapat juga jenis-jenis produktivitas, antara lain:
1. Produktivitas Parsial, yaitu perbandingan antara output dengan salah satu input, seperti tenaga kerja atau modal. Contohnya adalah produktivitas tenaga kerja yang mengukur output per jam kerja.
2. Produktivitas Total (Total Productivity), mencakup semua input dalam perhitungan produktivitas, baik tenaga kerja, modal, bahan baku, maupun energi.
3. Produktivitas Multifactor (Multifactor Productivity - MFP), yang mempertimbangkan gabungan beberapa faktor input utama.
Dengan memahami jenis-jenis ini, manajer dapat menentukan pendekatan terbaik untuk mengidentifikasi masalah dalam proses produksi dan mencari solusi perbaikannya.
Produktivitas juga menjadi alat ukur strategis dalam pengambilan keputusan bisnis.
Dengan adanya indikator produktivitas, organisasi dapat menilai efektivitas dari strategi seperti lean manufacturing, Six Sigma, atau total quality management (TQM). Peningkatan produktivitas bukan sekadar tujuan, tetapi juga menjadi jalan untuk mencapai keunggulan kompetitif di tengah persaingan pasar yang ketat.
Sebagai tambahan, dalam era digital seperti sekarang ini, pengaruh teknologi terhadap produktivitas menjadi sangat besar. Teknologi digital memungkinkan otomatisasi proses, pengambilan keputusan berbasis data (data-driven decision making), dan penghematan waktu dalam skala besar. Namun, di sisi lain, ketergantungan terhadap teknologi juga menuntut peningkatan kapasitas sumber daya manusia agar mampu memanfaatkannya secara optimal.
Dengan semua penjelasan ini, dapat disimpulkan bahwa produktivitas merupakan indikator yang kompleks, multidimensi, dan sangat penting dalam mengukur dan mengelola kinerja baik di tingkat individu, organisasi, maupun nasional. Produktivitas yang tinggi merupakan cerminan dari sistem kerja yang efektif, penggunaan sumber daya yang efisien, serta lingkungan kerja yang sehat dan inovatif.
2.2 Peningkatan Produktivitas (Productivity Improvement)
Peningkatan produktivitas menjadi salah satu isu yang penting untuk mempertahankan dan meningkatkan daya saing perusahaan, oleh karena itu setiap unit ekonomi atau badan usaha sangat berkepentingan dengan analisis produktivitas. Peningkatan produktivitas dapat dilakukan dengan memperbaiki input dan output yang digunakan titik peningkatan produktivitas tidak lepas dari upaya untuk mencapai efektif dan efisien. Output yang dihasilkan harus efektif terlebih dahulu, setelah output ini efektif maka hal selanjutnya adalah mengefisienkan sumber daya yang digunakan sebagai output titik output yang dihasilkan harus sesuai dengan keinginan konsumen.
8
Peningkatan produktivitas adalah proses berkelanjutan untuk meningkatkan output dengan menggunakan input yang sama atau lebih sedikit. Dalam praktiknya, peningkatan produktivitas tidak hanya sekadar menuntut karyawan untuk bekerja lebih keras, tetapi lebih pada strategi untuk bekerja lebih cerdas (work smarter). Hal ini mencakup pendekatan sistematis untuk memperbaiki metode kerja, memperkuat kompetensi SDM, serta mengadopsi teknologi baru dan praktik manajerial yang lebih baik.
Salah satu metode yang umum digunakan dalam peningkatan produktivitas adalah pendekatan lean management. Konsep ini menekankan pada pengurangan pemborosan (waste) dalam semua aspek proses produksi, seperti kelebihan produksi, waktu tunggu, transportasi yang tidak efisien, dan cacat produk. Dengan mengidentifikasi dan menghilangkan pemborosan tersebut, organisasi dapat meningkatkan efisiensi tanpa menambah biaya atau tenaga kerja.
Penerapan teknologi informasi juga menjadi faktor penting dalam peningkatan produktivitas. Sistem Enterprise Resource Planning (ERP), misalnya, memungkinkan integrasi data dan proses bisnis antar departemen sehingga mempercepat pengambilan keputusan dan meningkatkan koordinasi. Otomatisasi melalui mesin atau robot di sektor manufaktur juga telah terbukti mampu meningkatkan output secara signifikan sambil mengurangi kesalahan manusia.
Peningkatan produktivitas juga berkaitan erat dengan pengembangan sumber daya manusia. Investasi dalam pelatihan dan pengembangan keterampilan tidak hanya meningkatkan kompetensi teknis, tetapi juga mendorong inovasi, kolaborasi, dan motivasi kerja yang lebih tinggi. Program-program pelatihan yang terstruktur, coaching, dan mentoring telah menjadi bagian dari strategi produktivitas di banyak organisasi. Faktor lain yang tidak kalah penting adalah budaya organisasi yang mendukung produktivitas. Budaya kerja yang terbuka terhadap perubahan, berorientasi pada hasil, serta menghargai kontribusi individu akan menciptakan lingkungan kerja yang produktif. Kepemimpinan yang efektif juga memainkan peranan sentral dalam membentuk budaya semacam ini.
Secara eksternal, pemerintah dan lembaga terkait dapat mendorong peningkatan produktivitas melalui kebijakan insentif, infrastruktur pendukung, serta regulasi yang mendukung inovasi dan efisiensi. Misalnya, subsidi untuk penelitian dan pengembangan (R&D) atau kemudahan dalam proses perizinan usaha bisa mendorong perusahaan untuk le produktif. Dengan kata lain, peningkatan produktivitas adalah hasil dari sinergi antara manajemen strategis, pengembangan teknologi, pemberdayaan SDM, dan lingkungan eksternal yang kondusif. Ini adalah perjalanan berkelanjutan yang membutuhkan komitmen dari seluruh pihak dalam organisasi.
Peningkatan produksi belum tentu peningkatan produktivitas karena produktivitas berkaitan dengan efisiensi penggunaan sumber daya untuk menghasilkan barang atau jasa.
Hal tersebut dapat dijelaskan dalam contoh sebagai berikut :
Pada bulan pertama PT X memproduksi 200.000 unit produk dengan jumlah tenaga kerja 200 orang. Lama kerja yang tersedia adalah 8 jam kerja per hari dan 25 hari per bulan.
Dengan demikian produktivitas (tenaga kerja) dapat ditentukan sebagai berikut : Produktivitas (Tenaga Kerja)= 200.000 𝑢𝑛𝑖𝑡
200 𝑥 8 𝑥 25 𝑗𝑎𝑚 = 5 unit/jam
Pada bulan selanjutnya, PT x memproduksi 250.000 unit produk dengan tambahan tenaga kerja sebanyak 100 orang. Lama kerja yang tersedia adalah 8 jam kerja per hari dan 25 hari perbulan.
9
Produktivitas (tenagakerja)= 250.000 𝑢𝑛𝑖𝑡
300 𝑥 8 𝑥 25 𝑗𝑎𝑚 = 5 unit/jam
Dari contoh di atas, dapat dilihat bahwa terdapat peningkatan hasil produksi sebesar 25% namun produktivitas tenaga kerja tidak mengalami peningkatan. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa peningkatan produksi tidak selalu diikuti dengan peningkatan produktivitas.
2.3 Faktor Yang Mempengaruhi Peningkatan Produktivitas
Dewi dan Aeni (2012 :89) menyatakan bahwa produktivitas tenaga kerja yang dipengaruhi oleh berbagai factor yang berhubungan dengan tenaga kerja itu sendirimaupun yang berhubungan dengan lingkungan Perusahaan dan kebijjaksanaan pemerintah secara keseluruhan, seperti Pendidikan, ketrampilan, disiplin, sikap dan etika kerja, motivasi, gizi dan Kesehatan, Tingkat penghasilan, jaminan sosial, lingkungan daan iklim kerja, hubungan industrial dan kebijaksanaan pemerintah tentang produksi, investasi, perizinan, teknologi, fiscal, harga, distribusi dan lain-lain.
Produktivitas tidak berdiri sendiri, melainkan dipengaruhi oleh berbagai faktor internal maupun eksternal. Faktor-faktor tersebut bisa saling mendukung atau justru menghambat produktivitas, tergantung pada bagaimana organisasi mampu mengelolanya.
1. Sumber Daya Manusia (SDM) SDM merupakan faktor utama dalam produktivitas.
Tingkat pendidikan, keterampilan, motivasi, dan kesehatan karyawan sangat memengaruhi seberapa baik mereka menjalankan tugasnya. Karyawan yang sehat secara fisik dan mental cenderung memiliki energi dan semangat kerja yang lebih tinggi, yang berdampak langsung pada peningkatan produktivitas.
2. Teknologi Perkembangan teknologi dapat menjadi pengungkit produktivitas yang sangat besar. Perusahaan yang cepat mengadopsi teknologi modern dalam proses bisnisnya mampu mempercepat waktu produksi, mengurangi kesalahan, serta mengefisienkan penggunaan sumber daya. Teknologi informasi dan komunikasi (TIK) juga memainkan peran penting dalam mempercepat proses administrasi dan pengambilan keputusan.
3. Manajemen dan Kepemimpinan Gaya manajemen yang partisipatif dan kepemimpinan yang inspiratif dapat meningkatkan keterlibatan karyawan dalam proses kerja. Manajer yang mampu membangun komunikasi terbuka, memberi umpan balik konstruktif, dan menetapkan tujuan yang jelas akan mendorong produktivitas tim secara keseluruhan.
4. Lingkungan Kerja Fasilitas fisik yang memadai, suasana kerja yang nyaman, serta hubungan sosial yang harmonis antar karyawan turut memengaruhi produktivitas.
Lingkungan kerja yang mendukung dapat meningkatkan kenyamanan dan fokus kerja, sehingga kinerja meningkat.
5. Kebijakan dan Regulasi Regulasi yang dikeluarkan oleh pemerintah juga berpengaruh terhadap produktivitas. Kebijakan ketenagakerjaan, perpajakan, dan insentif investasi dapat menciptakan iklim usaha yang kondusif atau sebaliknya.
Misalnya, kebijakan insentif untuk UMKM dapat meningkatkan produktivitas sektor tersebut.
6. Inovasi dan Kreativitas Organisasi yang mendorong inovasi dan kreativitas akan lebih cepat beradaptasi dengan perubahan pasar dan kebutuhan konsumen. Inovasi
10
tidak hanya dalam bentuk produk baru, tetapi juga dalam cara kerja, model bisnis, atau pendekatan pemasaran.
Dengan memahami dan mengelola faktor-faktor tersebut secara efektif, organisasi dapat menciptakan lingkungan yang mendukung peningkatan produktivitas secara berkelanjutan.
Dalam analisis manajemen SDM produktivitas karyawan merupakan variable tergantung atau dipengaruhi banyka yang ditentukan oleh banyak faktor (Sedermayanti, 2001:57). Bahwa produktivitas sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut :
1) Sikap Kerja
Sikap kerja merupakan keseddiaan untuk bekerja bergiliran, dapat menerima tambahan tugas, bekerja dalam suatu tim (Sedarmayanti, 2001 : 71). Sedngakan Robbins (1991:20) mendefiniskan sikap kerja adalah respon evaluative yang ditunjukkan oleh seseorang terhadap objek dengan tingkatan sikap yang positif, negative atau netral. Jadi, sebuah Perusahaan sebaiknya menyesuaikan produknya deengan sikap kerja yang telah ada dari pada Perusahaan untuk sikap orang, tentu saja terdapat beberapa pengecualian Dimana biaya besar yang digunakan untuk mengubah sikap orang -orang akan memberikan hasil.
2) Tingkat Ketrampilan
Tingkat ketrampila ditentukan oleh Pendidikan formal atau nonformal, adanya pelatihan dalam manajemen dan suoervise dan ketrampilan dalam Teknik industry.karyana yang mempunyai Pendidikan dan mempunyai pelatihan tentu akan berpotensi untuk meningkatkan produktivitas kerja kerja (Sedarmayanti 2001:71).
3) Hubungan Antara Tenaga Kerja dan Pimpinan Organisasi
Hubungan natara tenaga kerja dan pimpinan organisasi yang tercermin dalam usaha Bersama antara pimpinan organisasi dan tenaga kerja untuk meningkatkan produktivitas melalui lingkungan pengawasan mutu dan penilaian mengenai kerja unggul, (Sedermayanti, 2001:71)
Hubungan antara atasan dan bawahan akan mempengaruhi kegiatan yang dilakukan sehari-hari. Bagaimana pandangan atasan terhadap bawahan, sejauhmana bawahan diikutsertakan dalam penentuan tujuan. Hubungan antara atasan dan bawahan selalu melibatkan Upaya seseorang (pemimpin) untuk mempengaruhi perilaku seseorang pengikut dalam suatu situasi dalam suatu Perusahaan guna meningkatkan produktifitas kerja (Manullang, 2001:141).
4) Efisiensi Tenaga Kerja
Efisiensi tenaga kerja yaitu perencanaan tenaga kerja dan tambaha tugas (Sedarmayanti, 2001:71) keseluruhan hasil suatu kerja juga ditentukan oleh manusianya sebagai pelaksanaan kerja dan lingkungan Dimana manusia itu bekerja dan tenaga kerja sangat penting bagi Perusahaan dalam mengelola, mengatur, dan memanfaatkan pegawai sehingga dapat berfungsi secara produktif untuk mencapai tujuan Perusahaan yaitu tercapainya produktivitas kerja.
5) Kewiraswastaan
Kewiraswastaan tercermin dalam pengambilan resiko, kreatifitas dalam berusaha dan berada djalur yang benar dalam berusaha (Sedarmayanti, 2001:71). Pada dasarnya
11
seorang karyawan yang kreatif dalam dunia kerja tentu akan mendorong peningkatan proses produksi sehingga tercapainya produktivitas kerja yang diinginkan oleh Perusahaan.
6) Manajemen Produktifitas
Manajemen produktivitas adalah manajemen yang efisien mengenai sumber dan sistem kerja untuk mencapai sumber dan sistem kerja untuk mencapai produktifitas (Sedramayanti 2001 :71). Produktifitas karyawan diantaranya dipengaruhi oleh adanya pemberian motivasi dengan memberikan kompensasi (gaji), tunjangan kesejahteraan, dan peningkatan kualitas dan kemampuan karyawan dengan memberikan Pendidikan dan pelatihan kepada karyawan (Moekijat 2001:23).
2.4 Cara Meningkatkan Produktivitas
Produktifitas kerja mengacu pada kemampuan untuk bekerja secara efisien, sehingga dapat menghasilakn hasil yang maksimal. Meningkatkan produktivitas merupakan prioritas utama bagi organisasi maupun individu yang ingin mencapai hasil maksimal dengan sumber daya yang tersedia. Terdapat berbagai pendekatan yang dapat diterapkan untuk meningkatkan produktivitas, baik dari aspek manajerial, teknologi, maupun pengembangan sumber daya manusia.
Pertama, peningkatan produktivitas dapat dilakukan melalui perbaikan sistem kerja.
Sistem kerja yang efisien mencakup pengaturan alur kerja yang logis, pembagian tugas yang sesuai dengan kompetensi, serta penggunaan teknologi informasi untuk otomatisasi proses- proses rutin. Misalnya, dalam industri manufaktur, penerapan lean manufacturing dapat mengurangi waktu henti produksi dan memaksimalkan output.
Kedua, pengembangan kompetensi sumber daya manusia sangat krusial. Pelatihan dan pendidikan berkelanjutan membantu karyawan menguasai keterampilan baru dan meningkatkan kemampuan mereka dalam menyelesaikan tugas. Program pelatihan juga dapat meningkatkan motivasi, rasa tanggung jawab, dan loyalitas terhadap organisasi.
Ketiga, penciptaan lingkungan kerja yang kondusif dan mendukung. Lingkungan kerja yang nyaman, bersih, dan bebas dari gangguan dapat meningkatkan fokus dan konsentrasi. Selain itu, penerapan budaya kerja positif, komunikasi yang efektif, serta penghargaan atas kinerja juga berkontribusi terhadap peningkatan produktivitas.
Keempat, pemanfaatan teknologi modern. Inovasi digital seperti penggunaan software manajemen proyek, sistem ERP (Enterprise Resource Planning), dan teknologi berbasis cloud mempermudah koordinasi antar bagian dan mempercepat pengambilan keputusan. Teknologi memungkinkan pengawasan kinerja secara real-time dan pengelolaan sumber daya yang lebih efisien.
Kelima, evaluasi dan monitoring berkala. Proses monitoring membantu manajemen untuk mendeteksi masalah sedini mungkin dan melakukan perbaikan secara cepat. Evaluasi berkala juga memberikan gambaran apakah target produktivitas telah tercapai dan apakah strategi yang diterapkan sudah efektif atau perlu disesuaikan.
Keenam, manajemen waktu yang baik. Karyawan dan manajer yang mampu mengatur waktu dengan efektif cenderung memiliki produktivitas tinggi. Penggunaan alat bantu seperti to-do list, kalender digital, dan teknik manajemen waktu seperti metode Pomodoro dapat membantu meningkatkan fokus dan menyelesaikan pekerjaan secara efisien.
12
Ketujuh, pengelolaan stres dan keseimbangan kerja-hidup (work-life balance). Stres berkepanjangan dapat menurunkan semangat dan produktivitas. Oleh karena itu, organisasi perlu memberikan dukungan psikologis dan fleksibilitas kerja agar karyawan dapat menjalankan tugas tanpa mengorbankan kesehatan mental dan kehidupan pribadi mereka.
Melalui kombinasi strategi-strategi di atas, organisasi tidak hanya meningkatkan kuantitas hasil kerja, tetapi juga menciptakan kualitas kerja yang lebih baik, suasana kerja yang positif, dan daya saing yang lebih tinggi di pasar.
Menurut Nasution, 2001 : 209 terdapat lima cara untuk meningkatkan produktivitas yaitu sebagai berikut :
a) Menerapkan program reduksi biaya. Reduksi biaya berarti dalam menghasilkan outputbdengan kuantitas yang sama kita menggunakan input dalam jumlah yang lebih sedikit. Jadi peningkatan produktivitas melalui program reduksi biaya berarti output yang tetap dibagi dengan input yang lebih sedikit.
b) Bekerja lebih tangkas akan dapat meningkatkan produktivitas. Jadi produktivitas meningkat tetapi jumlah input tetap sehingga akan diperoleh biaya produksi per unit output yang rendah.
c) Mengurangi aktivitas melalui pengurangan sedikit output dan mengurangi banyak input yang tidak perlu akan meningkatkan produktivitas.
d) Bekerja lebih efektif peningkatan produktivitas melalui cara ini adalah dengan cara meningkatkan output, tapi tidak mengurangi pemnggunaan input.
2.5 Mempertahankan Produktivitas (Sustaining Productivity)
Menjaga produktifitas kerta agartetap bagus sangat penyting bagi Perusahaan maupun bagi individu. Jika dilihat dari perspektif bisnis Perusahaan secara signifikan, sehingga lini bisnis dapat ekspansi, menambah pelayanan atau produkbaru, hingga dapat menabmah kuanititas produksi. Sementara itu, nilai positif produktifitas kerja jika dilihat daari sisi individu pekerja adalah dapat menggali potensi yang dimiliki, menambah pemasukan, belajar manajemen waktu, hingga dapat menyeimbangkan antara kehidupan pribadi dengan pekerjaan.
Dalam mempertahankan produktifitas, Perusahaan atau organisasi perlu terus berinovasi dan memperhatikan perkembangan pasar atau kebutuhan pelanggan. Innovasi bukan hanya sekedar menghasilkan produk baru, melainkan juga dapat berkaitan dengan cara Perusahaan beroperassi dan berinteraksi dengan pelanggan mereka. Inovasi merupakan cara untuk bersaing , Perusahaan dituntut untuk menghasilkan proses dan produk lebih baik.
Inovasi juga bukan sekedar menghasilkan proses dan produk yang berbeda dalam kerangka kreativitas saja. Indikator inovasi merupakan dampak (Outcome)yang signifikan dalam menciptakan nilai tambah. Secara sederhana, inovasi adalah invention yang mempunyai impact. Dalam organisasi bisnis, inovasi berdampak pad kapitalisasi kinerja Perusahaan.
Dalam membangun keunggulan inovasi, Perusahaan tetap perlu mempertahankan produktifitas dan kualitasnya. Bahkan dengan inovasi, produktivitas dan kualitas dapat terus ditingkatkan atau minimal sama denga napa yang disediakan oleh industri. Ada beberapa alasan pentingnya Perusahaan mempertahankan produktivitas, yaitu Produktivita yang tinggi akan membantu Perusahaan mengurangi biaya produksi, meningkatkan efisiensi, dan meningaktkan profitabilitas. Dalam lingkungan bisnis yang makin kompetitif, Perusahaan harus mencari cara untuk mengoptimalkan proses produksi mereka untuk meningkatkan produktifitas.
13
Meskipun upaya untuk meningkatkan produktivitas menjadi fokus utama di banyak organisasi, masih terdapat sejumlah hambatan yang menghalangi tercapainya tujuan tersebut.
Hambatan ini bisa bersifat internal maupun eksternal, dan masing-masing membutuhkan strategi khusus untuk diatasi.
Salah satu hambatan utama adalah kurangnya motivasi dan keterlibatan karyawan.
Ketika karyawan tidak merasa dihargai atau tidak memiliki pemahaman yang jelas mengenai tujuan organisasi, maka semangat kerja cenderung menurun. Hal ini berdampak langsung pada rendahnya produktivitas, karena karyawan tidak memberikan usaha terbaiknya.
Hambatan lainnya adalah keterbatasan teknologi dan infrastruktur. Organisasi yang masih menggunakan metode kerja manual atau sistem yang ketinggalan zaman akan kesulitan untuk bersaing dan meningkatkan efisiensi. Kurangnya investasi dalam teknologi terbaru seringkali menyebabkan proses kerja menjadi lambat dan tidak efisien.
Masalah komunikasi juga menjadi penghambat produktivitas. Komunikasi yang tidak efektif antara manajemen dan staf, atau antar divisi, dapat menimbulkan miskomunikasi, duplikasi pekerjaan, dan kesalahan dalam pelaksanaan tugas. Kurangnya saluran komunikasi terbuka memperlambat penyelesaian masalah dan pengambilan keputusan. Selain itu, budaya organisasi yang tidak mendukung inovasi dan kolaborasi juga menjadi tantangan. Budaya kerja yang kaku, hirarkis, atau penuh tekanan bisa menimbulkan ketakutan akan perubahan, resistensi terhadap teknologi baru, dan kurangnya rasa memiliki terhadap pekerjaan.
Faktor eksternal seperti regulasi pemerintah, fluktuasi ekonomi, dan persaingan pasar yang ketat juga dapat menjadi hambatan. Misalnya, regulasi yang terlalu birokratis dapat memperlambat proses operasional, sementara ketidakstabilan ekonomi membuat organisasi kesulitan untuk merencanakan dan mengalokasikan sumber daya secara optimal. Selain itu, kurangnya pelatihan dan pengembangan keterampilan karyawan juga sering menjadi faktor penghambat. Dalam dunia kerja yang terus berubah, kebutuhan akan keahlian baru meningkat pesat. Organisasi yang tidak memberikan pelatihan secara berkala akan tertinggal dari kompetitor yang lebih adaptif.
Untuk mengatasi hambatan-hambatan ini, diperlukan kepemimpinan yang visioner, sistem manajemen yang adaptif, serta komitmen seluruh lapisan organisasi untuk terus belajar dan berinovasi. Identifikasi dan analisis akar penyebab masalah secara komprehensif merupakan langkah awal yang penting dalam membangun strategi peningkatan produktivitas yang berkelanjutan.
14 BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan
Produktivitas merupakan indikator utama yang mencerminkan kemampuan suatu individu, organisasi, maupun negara dalam mengelola sumber daya untuk menghasilkan output secara efisien dan efektif. Pemahaman tentang konsep produktivitas, faktor-faktor yang mempengaruhinya, jenis-jenis yang ada, hingga cara meningkatkannya menjadi kunci bagi pertumbuhan berkelanjutan dan peningkatan daya saing.
produktivitas yang tinggi merupakan fondasi utama untuk meraih keunggulan
kompetitif dan pertumbuhan jangka panjang. Oleh karena itu, investasi dalam peningkatan
produktivitas harus menjadi prioritas strategis dalam setiap jenjang organisasi.
15
DAFTAR PUSTAKA
Singgih Laksono Moses, Gunarta I Ketut. (2021). Manajemen Produktivitas Perusahaan. ITS Tekno Sains
Tukiran Martinus, Puspita Sari Nugraha, Amalia Nurul. Penyusunan Proses Bisnis dan SOP Perusahaan : Mengelola Bisnis Yang Fokus Terhadap strategi. PT. Kanisius
Nasron, Nasron, and Tri Bodroastuti. "Faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas kerja (studi pada karyawan bagian produksi PT Mazuvo Indo)." Jurnal Kajian Akuntansi dan Bisnis 1.1 (2012): 103261.
Lestari, Linda Mia Ayu. Upaya Peningkatan Produktivitas Karyawan pada PT. Mahavhira Lintas Raya. Diss. Universitas Muhammadiyah Gresik, 2021.
Mangkunegara, A. A. Anwar Prabu. (2013). Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan.
Bandung: Remaja Rosdakarya.
Robbins, Stephen P. (2015). Organizational Behavior. New Jersey: Pearson Education.
Sedarmayanti. (2018). Manajemen Sumber Daya Manusia. Bandung: Refika Aditama.
Hasibuan, Malayu S.P. (2016). Manajemen: Dasar, Pengertian, dan Masalah. Jakarta: Bumi Aksara.