Dosen Pengampu : Nana Usnawati S.ST.,M.Keb
Disusun oleh : Kelompok 5
1. Safrina Qusnul Khotimah (P27824422127) 2. Wahyu Fitri Yuliasih (P27824422128)
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SURABAYA JURUSAN KEBIDA
NAN
PROGRAM SARJANA TERAPAN KEBIDANAN KAMPUS MAGETAN 2022
i
rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul
“Model Asuhan Kebidanan Di Indonesia, Belanda, Inggris, Kanada, dan Australia”. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Konsep Kebidanan di Poltekkes Kemenkes Surabaya Prodi DIV Alih Jenjang Kebidanan Kampus Magetan. Dalam penyusunan makalah ini, kami mengucapkan terimakasih terutama kepada:
1. Ibu Nana Usnawati S.ST., M.Keb selaku dosen pengajar mata kuliah Konsep Kebidanan di Politeknik Kesehatan Kemenkes Surabaya Prodi DIV Alih Jenjang Kebidanan Kampus Magetan
2. Semua pihak yang telah membantu dalam pembuatan laporan ini
Kami menyadari bahwa penyelesaian makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, baik dalam segi pembahasan, penulisan, dan penyusunan. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran dari dosen pembimbing mata kuliah Konsep Kebidanan untuk menyempurnakan makalah ini.
Magetan, 26 Agustus 2022
Penyusun
ii
Daftar Isi...iii
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang...1
B. Rumusan Masalah...2
C. Tujuan Penulisan...2
BAB 2 PEMBAHASAN A. Model asuhan kebidanan di Indonesia...4
B. Model asuhan kebidanan di Belanda...14
C. Model asuhan kebidanan di Inggris...27
D. Model asuhan kebidanan di Kanada...32
E. Model asuhan kebidanan di Australia...36
BAB 3 PENUTUP A. Kesimpulan...41
B. Saran...42 DAFTAR PUSTAKA
iii
A. Latar belakang
Asuhan Kebidanan merupakan penerapan fungsi dan kegiatan yang menjadi tanggung jawab dalam memberikan pelayanan kepada klien yang mempunyai kebutuhan/masalah dalam bidang kesehatan ibu pada masa hamil, masa persalinan, nifas, bayi setelah lahir serta keluarga berencana (Rahmawati, 2012).
Model dalam teori kebidanan indonesia mengadopsi dari beberapa model negara dengan berdasarkan dari beberapa teori yang sudah ada disamping dari teori & model yang bersumber dari masyarakat. Model asuhan kebidanan didasarkan pada kenyataan bahwa kehamilan dan persalinan merupakan episode yang normal dalam siklus kehidupan wanita. Model kebidanan ini dapat dijadikan tolak ukur bagi bidan dalam memberikan pelayanan kebidanan pada klien sehingga akan terbina suatu hubungan saling percaya dalam pelaksanaan askeb. Dengan ini diharapkan profesi kebidanan dapat memberikan sumbangan yang berarti dalam upaya menurunkan angka kesakitan, trauma persalinan, kematian & kejadian seksio sesaria pada persalinan. Manajemen kebidanan adalah suatu metode/proses berfikir logis sistematis.oleh karena itu manajemen kebidanan merupakan alur fikir bagi seorang bidan dalam memberikan arah / kerangka dalam menangani kasus.
Model asuhan kebidanan adalah suatu bentuk pedoman atau acuan yang merupakan kerangka kerja seorang bidan dalam memberikan asuhan kebidanan dipengaruhi oleh filosofi yang dianut bidan meliputi unsure-unsur yang tedapat ddalam paradigmaa kesehatan (manusia, prilaku, lingkungan dan pelayanan kesehatan). Secara umum teori dan konsep adalah hal yang berkaitan dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Dalam pelayanan kebidanan, teori-teori yang digunakan dalam praktik kebidanan berasal dari konseptual moadel kebidanan.
1
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah Model Asuhan Kebidanan di Indonesia?
2. Bagaimanakah Model Asuhan Kebidanan di Belanda?
3. Bagaimanakah Model Asuhan Kebidanan di Inggris?
4. Bagaimanakah Model Asuhan Kebidanan di Kanada?
5. Bagaimanakah Model Asuhan Kebidanan di Australia?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui model asuhan kebidanan di Indonesia.
2. Untuk mengetahui model asuhan kebidanan di Belanda.
3. Untuk mengetahui model asuhan kebidanan di Inggris.
4. Untuk mengetahui model asuhan kebidanan di Kanada.
5. Untuk mengetahui model asuhan kebidanan di Australia.
A. Model Asuhan Kebidanan di Indonesia
1. Sejarah Pelayanan Kebidanan Di Indonesia
Sejarah pelayanan di Indoesia terjadi secara tidak langsung melalui usaha mengurangi angka kematian karena cacar. Pencacaran pertama di Indonesia dilakukan sekitar tahun 1804, setelah Yenner di Inggris menemukan vaksin cacar tahun 1796.
Pada zaman pemerintahan Hindia-Belanda, angka kematian ibu dan anak sangat tinggi. Tenaga penolong persalinan adalah dukun. Pelayanan Kesehatan termasuk pelayanan kebidanan pada saat itu hanya diperuntukkan bagi orang-orang Belanda yang ada di Indonesia.
Kemudian pada tahun 1849 dibuka pendidikan Dokter Jawa di Batavia (dirumah sakit Belanda sekarang RSPAD Gatot Subroto). Seiring dibuka pendidikan dokter tersebut, pada 1851 dibuka pendidikan bidan bagi wanita pribumi di Batavia.
Pada 1952 mulai diadakan pelatihan bidan secara formal agar dapat meningkatkan kualitas pertolongan persalinan. Khusus untuk dukun masih berlangsung dengan sampai sekarang yang memberi kursus adalah bidan yang dikenal dengan istilah Khusus Tambahan Bidan (KTB) tahun 1953 di Yogyakarta, yang akhirnya dilakukan pula di kota-kota besar lain di nusantara ini. Seiring dengan pelatihan tersebut didirikanlah Balai Kesehatan Ibu dan Anak (BKIA) dimana bidan sebagai penanggung jawab pelayanan kepada masyarakat.
Bermula dari BKIA, kemudian terbentuklah suatu pelayanan terintegrasi bagi masyarakat yang dinamakan Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) pada tahun 1957. Puskesmas memberikan pelayanan didalam
4
dan diluar gedung dan berorientasi pada wilayah kerja. Bidan yang bertugas di puskesmas berfungsi dalam memberikan pelayanan kesehatan ibu dan anak termasuk pelayanan keluarga berencana baik di luar maupun di dalam gedung. Pelayanan kebidanan yang diberikan di laur gedung adalah pelayanan kesehatan keluarga dan pelayanan di pos pelayanan terpadu (posyandu). Pelayanan di posyandu mencakup 4 bagian yaitu:
pemeriksaan kehamilan, pelayanan keluarga berencana, imunisasi, gizi dan kesehatan lingkungan.
Mulai tahun 1990 pelayanan kebidanan diberikan secara merata dan dekat dengan masyarakat, sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Melalui Instruksi Presiden secara lisan pada Sidang Kabinet Tahun 1992 tentang perlunya mendidik bidan untuk penempatan bidan di desa.
2. Pelayanan Kebidanan Di Indonesia
Pelayanan kebidanan adalah seluruh tugas yang menjadi tanggung jawab praktik profesi bidan dalam system pelayanan kesehatan yang bertujuan untuk meningkatkan kesehatan kaum perempuan khususnya ibu dan anak. Layanan kebidanan yang tepat akan meningkatkan keamanan dan kesejahteraan ibu dan bayinya. Layanan kebidanan oleh bidan dapat dibedakan meliputi:
a. Layanan kebidanan primer yaitu layanan yang diberikan sepenuhnya atas tanggung jawab bidan.
b. Layanan kolaborasi yaitu layanan yang dilakukan oleh bidan sebagai anggota tim secara bersama-sama dengan profesi lain dalam rangka pemberian pelayanan kesehatan.
c. Layanan kebidanan rujukan yaitu merupakan pengalihan tanggung jawab layanan oleh bidan kepada system layanan yang lebih tinggi atau yang lebih kompeten ataupun pengambil alihan tanggung jawab layanan/menerima rujukan dari penolong persalinan lainnya seperti rujukan.
Pada zaman pemerintahan Hindia Belanda, angka kematian ibu dan anak sangat tinggi. Tenaga penolong persalinan adalah dukun. Pada tahun 1807 ( zaman Gubernur Jendral Hendrik Willian Deandeles) para dukun dilatih dalam pertolngan persalinan, tetapi keadaan ini tidak berlangsung lama karena tidak adanya pelatih kebidanan.
Adapun pelayanan kebidanan hanya diperuntukkan bagi orang-orang Belanda yang ada di Indonesia. Tahun 1849 di buka pendidikan Dokter Jawa di Batavia (Di Rumah Sakit Militer Belanda sekarang RSPAD Gatot Subroto). Saat itu ilmu kebidanan belum merupakan pelajaran, baru tahun 1889 oleh Straat, Obstetrikus Austria dan Masland, Ilmu kebidanan diberikan sukarela. Seiring dengan dibukanya pendidikan dokter tersebut, pada tahun 1851, dibuka pendidikan bidan bagi wanita pribumi di Batavia oleh seorang dokter militer Belanda (dr. W. Bosch). Mulai saat itu pelayanan kesehatan ibu dan anak dilakukan oleh dukun dan bidan. Pada tahun 1952 mulai diadakan pelatihan bidan secara formal agar dapat meningkatkan kualitas pertolongan persalinan. Perubahan pengetahuan dan keterampilan tentang pelayanan kesehatan ibu dan anak secara menyeluruh di masyarakat dilakukan melalui kursus tambahan yang dikenal dengan istilah Kursus Tambahan Bidan (KTB) pada tahun 1953 di Yogyakarta yang akhirnya dilakukan pula dikota-kota besar lain di nusantara. Seiring dengan pelatihan tersebut didirikanlah Balai Kesehatan Ibu dan Anak (BKIA).
BKIA inilah yang akhirnya menjadi suatu pelayanan terintegrasi kepada masyarakat dan dinamakan sebagai Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) pada tahun 1957. Puskesmas memberikan pelayanan berorientasi pada wilayah kerja. Bidan yang bertugas di puskesmas berfungsi dalam memberikan pelayanan kesehatan ibu dan anak termasuk pelayanan keluarga berencana. Mulai tahun 1990 pelayanan kebidanan diberikan secara merata dan dekat dengan masyarakat. Kebijakan ini
melalui Instruksi Presiden secara lisan pada Sidang Kabinet Tahun 1992 tentang perlunya mendidik bidan untuk penempatan bidan di desa.
Adapun tugas pokok bidan di desa adalah sebagai pelaksana kesehatan KIA, khususnya dalam pelayanan kesehatan ibu hamil, persalinan dan nifas, serta pelayanan kesehatan bayi baru lahir, termasuk pembinaan dukun bayi. Dalam melaksanankan tugas pokoknya bidan di desa melaksanakan kunjungan rmah pada ibu dan anak yang memerlukanya, mengadakan pembinaan pada posyandu di wilayah kerjanya serta mengembangkan Pondok Bersalin sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat. Berbeda dengan bidan yang bekerja di rumah sakit, dimana pelayanan yang diberikan berorientasi pada individu. Bidan di rumah sakit memberikan pelayanan poliklinik antenatal, gangguan kesehatan reproduksi di poliklinik, keluarga berencana, senam hamil, pendidikan perinatal, kamar bersalin, kamar operasi kebidanan, ruang nifas dan ruang perinal.
Titik tolak dari konferensi Dunia di Kairo pada tahun 1994 yang menekankan pada reproduktif Health (kesehatan reproduksi), memperluas area garapan pelayanan bidan. Area tersebut meliputi:
a. Safe motherhood, termasuk bayi baru lahir dan perawatan abortus.
b. Family palnning.
c. Penyakit menular seksual termasuk infeksi saluaran alat reproduksi.
d. Kesehatan reproduksi remaja.
e. Kesehatan reproduksi pada orang tua.
Dalam melaksanankan tugasnya peran dan fungsi bidan didasarkan pada kewenangan dan kemampuan yang diberikan. Kewenangan tersebut diatur melalui Peraturan Menetri Kesehatan (Permenkes). Permenkes yang menyangkut wewenang bidan selalu mengalami perubahan sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan masyarakat dan kebijakan pemerintah dalam
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Permenkes tersebut dimulai dari:
a. Permenkes No. 5380/IX/1963, wewenang bidan terbatas pada pertolongan persalinan normal secara mandiri, didampingi tugas lain.
b. Permenkes No. 363/IX/1980 yang kemudian diubah menjadi permenkes 623/1989 wewenang bidan dibagi menjadi dua yaitu wewenang umum dan khusus ditetapkan bila bidan melaksanankn tindakan khusus dibawah pengawasan dokter. Pelaksanan dari permenkes ini, bidan dalam melaksanakan prakyi perorangan di bawah pengawasan dokter.
c. Permenkes No. 572/VI/1996, wewenang ini mengatur tentang registrasi dan prakyik bidan. Bidan dalam melaksanakan praktiknya diberi kewenangan yang andiri. Kewenangan tersebut disertai dengan kemampuan dalam melaksanankan tindakan. Dalam wewenang tersebut mencakup pelayanan kebidanan yang meliputi pelayanan ibu dan anak, pelayanan keluarga berencana, pelayanan kesehatan masyarakat.
d. Kepemenkes No. 900/Menkes/SK/VII/2002 tentang registrasi dan praktik bidan revisi dari permenkes No. 572/VI/1996. Dalam melaksanan tugasna, bidan melakukan kolabrasi, konsultasi dan merujuk sesuai dengan kondisi pasien, kewenangan dan kemampuannya. Serta dalam keadaan darurat bidan diberi wewenang untuk memberikan pelayanan kebidanan yang ditunjukan untuk penyelamatan jiwa. Ditegaskan pula bahwa bidan dalam mejalankan praktik harus sesuai dengan kewenangan, kemampuan, pendidikan, pengalaman serta berdasarkan standar profesi. Pencapaian kemampuan bidan sesuai dengan Kepmenkes No 900/2002 tidaklah mudah, karena kewenangan yang diberikan oleh departemen
kesehatan ini mengandung tuntutan akan kemampuan bidan sebagai tenaga profesional dan mandiri.
e. Permenkes No 1464/MENKES/PER/X/2010 tentang izin danpenyelenggaraan parktik bidan.
f. Undang-undang no 36 tahun 2009 tentang kesehatan.
g. Undang-undang no 36 Tahun 2014 tentang tenaga kesehatan.
3. Perkembangan Pendidikan Kebidanan Di Indonesia
Perkembangan pendidikan bidan berjalan seiring dan selalu berhubungan dengan perkembangan pelayanan kebidanan. Dalam perkembangannya, selalu mengikuti tuntutan atau kebutuhan masyarakat,sistem menejemen dan peralatan yang makin modern. Yang dimagsud dalam pendidikan ini adalah pendidikan secara formal dan informal.
Pendidikan bidan sudah dimulai sejak zaman Hindia Belanda pada tahun 1851, seorang dokter militer belanda yaitu dr. W. Bosch membuka pendidikan bidan bagi pribumi di Batavia atau sekarang dikenal dengan nama Jakarta. Namun pendidikan tidak berlangsung lama dikarenakan pembatasan wanita untuk keluar rumah yang berkaitan dengan adat istiadat serta budaya pada saat itu.
Pada tahun 1902 pendidikan bidan kembali dibuka untuk wanita pribumi di Rumah Sakit Militer Batavia. Serta di tahun 1904 dibuka pendidikan bidan bagi warga Indonesia diMakasar. Lulusan dari bidan ini harus bersedia untuk ditempatkan dimana saja tenaganya dibutuhkan dan bersedia menolong masyarakat yang kurang/tidak mampu secra Cuma- Cuma. Antara tahun 1911-1912 dimulai pendidikan tenaga keperawatan secara terencana di CBZ ( Centrale Burgelijke Ziekeninrichting) sekaranf RSUP Cipto mangunkusumo dan RSUP di Semarang. Calon yang diterima adalah siswa lulusan dari HIS ( Hollandsche Indiche School) dengan pendidikan keperawatan selama 4 tahun. Awalnya hanya siswa laki-laki
yang diterima namun pada tahun 1914 pertama kali siswa perempuan diterima. Bagi siswa perempuan setelah lulus dari pendidikan ini dapat melanjutkan pendidikan bidan selama dua tahun.
Pada tahun 1935-1938 pemerintah kolonial Belanda mulai mendidik bidan lulusan MULO ( meer Uitgebreid Lager Onderwijs) setingkat SLTP golongan B. Di tahun yang sama dikeluarkan peraturan yang membedakan lulusan kebidanan berdasarkan latar belakang pendidikan yaitu Bidan lulusan MULO sebagai Bidan Kelas Satu ( Vreodrouweerste klas ) sedangkan bidan lulusan perwat (mantri) sebagai Bidan Kelas Dua ( Vreodrouwtweede klas). Perbedaan ii menyangkun tentang ketentuan gaji pokok dan tunjangan.
Pada tahun 1905-1953 dibuka seolah bidan dari lulusan SMP dengan batasan umur minimal 17 tahundengan lama pendidikan 3 tahun.
Mengingat kebutuhan bidan yang semakin banyak maka dibukan pendidikan pembantu bidan yang disebut Penjenjang Kesehatan E sampai tahun 1976 setelah itu tutup. Tahun 1953 dibuka kursus tambahan bidan di Yogyakarta, lama kursus 7-12 minggu. Tahun 1960 KTB dipindahkan ke Jakarta, tujuan dari KTB ini adalah untuk memperkenalkan perkembangan program KIA dalam pelayanan kesehatan masyarakat. KTB ditutup pada tahun 1967.
Pada tahun 1954 dibuka pendidikan guru bidan secara bersama- sama dengan guru perawat dan perawat kesehatan masyarakat di Bandung, kemudian pada awal tahun 1972 institusi tersebut dilebur menjadi Sekolah Guru Perawat (SGP) yang menirima siswa dari lulusan sekolah perawat dan bidan. Dibuka sekolah pengatur rawat (SPR) di tahun 1970 yang ditambah dengan Pendidikan Lanjutan Jurusan Kebidanan (SPLJK) selama dua tahun, namun pendidikan ini tidak dilaksanakan secara merata di seluruh provinsi.
Pada tahun 1974 karena jenis tenaga kesehatan menengah dan bawah sangat banyak (24 katagori), departemen melakukan penyederhanaan pendidikan tenaga kesehatan non sarjana. Sekolah bidan ditutup dan dibuka Sekolah Perawat Kesehatan dengan tujuan menghasilkan tenaga kesehatan yang multi purpose di lapangan salah satunya adalah menolong persaliana normal. Namun karena perbedaan falsafah dan kurikulum maka tujuan pemerintah untuk menghasilkan SPK yang dapat menolong persalianan normal tidak tercapai.
Selama 10 tahun institusi pendidikan bidan ditutup ( 1975-1984) dan tidak menghasilkan bidan, namun oraganisasi profesi bidan yaitu IBI (Ikatan Bidan Indonesia) tetap ada dan mengkoordinasi aktivitas para bidan. Untuk meningkatkan kemampuan perawat dalam memberikan pelayanan kesehatan ibudan anak termasuk kebidanan maka di tahun 1981 dibuka pendidikan diploma 1 kesehatan ibu dan anak dengan lama pendidikan 1 tahun serta tidak dilakukan semua institusi. Tahun 1985 dibuka lagi program pendidikan bidan (PPB) dengan lama pendidikan 1 tahun dan menerima siswa lulusan SPR serta SPK. Kemudian duba lagi crash program pendidikan bidan secara nasional pada tahun 1989, dimana lulusan SPK diperbolehkan langsung masuk program tersebut, program ini dikenal sebagai Program Pendidikan Bidan A (PPB/A).
Pada tahun 1993 dibukan program Pendidikan Bidan program B yang menerima siswa didik lulusan dari Akademi Perawat (AKPER) dengan lama pendidikan 1 tahun, tujuanya untuk mempersiapkan tenaga pendidik pada program pendidikan bidan A, namun program ini hanya berlangsung selama 2 tahun ( 1995-1996) kemudian ditutup. Selain itu di tahun yang sama dibuka pula program pendidikan bidan C (PPB/C) yang menerima siswa lulusan dari SMP.
Antara tahun 1994-1995 pemerintah juga menyelenggarakan pendidikan bidan jarak jauh (Distance learning) ditiga provinsi yaitu jawa
timur, jawa tengah dan jawa barat. Penyelenggaraan pendidikan ini telah diatur dalam SK Menkes No 1247/Menkes/SK/XII/1994 dan dikoordinasi oleh pusdiklat depkes dan dilaksanakan oleh bapelkes di provinsi.
a. Tahun 1995-1996: DJJ tahap 1 di 15 provinsi b. Tahun 1996-1997: DJJ tahap II di 16 provinsi c. Tahun 1997-1998: DJJ tahap III di 26 provinsi d. Tahun 1998-1999: DJJ tahap IV di 26 provinsi
Selain pelatiahn DJJ (diklat jarak jauh) di tahun 1994 juga dilaksanakan pelatihan pelayanan kegawatdaruratan maternal dan neonatal (LSS= Life Saving Skill) dengan Koordinator Direktoral Kesehatan Keluarga Ditjen Binkesmas.
Pada tahun 1996, IBI bekerja sama dengan Departemen Kesehatan dan American College of Nurse Midwife (ACNM) dan rumah sakit swata, mengadakan training of trainer (TOT) kepada anggota IBI. Tahun 1995- 1998, IBI bekerjasama dengan mother care melakukan pelatihan dan peer review bagi bidan rumah sakit,puskesmas dan bidan desa di kalimantan selatan. Pada tahun 2000 telah ada pelatihan Asuhan Persalinan Normal (APN) yang dikoordinasikan oleh Maternal Neonatal Health (MNH). Di tahun ini pula dibukalah program studi DIII kebidanan, berikut perkembangan didirikanya jenjang pendidikan bagi bidan dibebrapa institusi:
a. Tahun 2000, dibuka program Diploma IV kebidanan.
b. Tahun 2000, ada tim pelatih APN,koordinator MNH.
c. Tahun 2000,dibuka Prog DIV kebidanan di UGM, 2 smt.
d. Tahun 2002, DIV kebiidanan unibersitas Padjajaran.
e. Tahun 2004, DIV kebidanan di USU (Universitas Sumatera Utara).
f. Tahun 2003, D IV kebidanan di Stikes NWU Semarang.
g. Tahun 2003 DIV Kebid di STIKIM Jakarta.
h. Tahun 2006, S2 Kebidanan di Universitas Padjajaran.
i. Tahun 2008, S1 kebidanan di Universitas Airlangga Surabaya.
4. Penerapan Model Asuhan Kebidanan di Indonesia a. Perbaikan status gizi ibu dan bayi.
b. Cakupan pertolongan persalinan oleh bidan.
c. Menurunnya angka kematian ibu melahirkan.
d. Meneurunnya angka kematian neonatus.
e. Cakupan penanganan resiko tinggi, misalnya preeklamsi, pendarahan, asfiksia dan lain- lain.
f. Meningkatnya cakupan pemeriksaan atenatal.
5. Karakteristik Petugas Kesehatan
Karakteristik petugas kesehatan dalam penerapan model asuhan kebidanan di Indonesia adalah pasien memerlukan pelayanan dari petugas kesehatan (provider) yang memiliki karakteristik sebagai berikut :
a. Semangat untuk melayani b. Simpati
c. Empati d. Tulus Ikhlas e. Memberi kepuasan
6. Pelayanan Kebidanan Yang Bermutu
Pelayanan kebidanan yang bermutu dalam penerapan model asuhan kebidanan di Indonesia adalah suatu pelayanan dikatakan bermutu bila penerapan semua persyaratan pelayanan kebidanan dapat memuaskan pasien. Ukuran pelayanan kebidanan yang bermutu adalah :
1. Ketersediaan pelayanan kebidanan (available) 2. Kewajaran pelayanan kebidanan (appropriate) 3. Kesinambungan pelayanan kebidanan (continue) 4. Penerimaan jasa pelayanan kebidanan (acceptable) 5. Ketercapaian pelayana kebidanan (accessible) 6. Keterjangkauan pelayanan kebidanan (affordable)
7. Efisiensi pelayanan kebidanan (efficient) 8. Mutu pelayanan kebidanan (quality)
B. Model Asuhan Kebidanan di Belanda 1. Sejarah Kebidanan Di Belanda
Awal tahun 1970-an, angka persalinan di rumah berkisar 70%, dan pada masa ini pekerjaan tenaga bidan sangat berat dan pendapatannya rendah. Pada masa ini terdapat peraturan bahwa medis dan bidan harus mampu mengobservasi 15 persalinan selama pelatihan. Peraturan ini menimbulkan masalah, karena tidak mencukupinya jumlah persalinan yang ada di rumah sakit. Untuk mengatasinya, dibuatlah keputusan bagi bidan untuk mendapatkan akses ke rumah sakit dengan membawa ibu yang akan ditolong persalinannya. Situasi ini memberikan dampak yang menguntungkan bagi bidan, yaitu dapat meningkatkan statusnya serta pendapatannya. Akhir tahun 70-an, angka persalinan di rumah menurun drastis sampai dengan 35%.
Saat upacara kelulusan pada calon bidan, Prof. Kloosterman berpidato mengenai ”5 menit menuju tengah malam” yang artinya bahwa bidan di Belanda harus mampu mempertahankan statusnya dengan cara : Mengikuti komunitas Internasional tentang kesehatan kelahiran dengan metode hospitalisasi untuk kelahiran.
Memilih mempertahankan sistem kebidanan. Memperkuat sistem skrening dari prenatal yang menjamin kekuatan otonomi dari bidan mandiri.
Pidato Prof. Kloosterman memberikan dampak yang besar bagi seluruh bidan dan menjadi inspirasi bagi bidan untuk menurunkan kelahiran di rumah. Bidan-bidan menjadi sadar, bahwa persentase kelahiran di rumah akan mempengaruhi seluruh sistem. Skrening yang berkesinambungan dan seleksi ibu hamil, serta bekerja dalam kelompok
wanita sehat untuk mempertahankan status kesehatannya. Hal ini menyebabkan angka kelahiran tetap baik, bukan hanya karena penurunan persentase kelahiran di rumah saja tetapi didukung oleh skrening masalah pada wanita dan angka kejadian persalinan induksi dan operatif rendah.
Inilah yang menjadi kekuatan dari sistem kebidanan Belanda.
Tahun1980-an merupakan masa kebangkitan bidan di Belanda.
Bidan menjadi sangat militan, karena harus mempertahankan persalinan di rumah. Bidan-bidan banyak menghasilkan buku-buku dan video pengajaran yang dipublikasikan. Bidan-bidan ingin mengubah image
”pekerja keras, yang tidak mampu meningkatkan mutu ketrampilan dan pendapatan, serta tidak melakukan penelitian yang perlu”. Bidan mulai merambah area politik untuk meningkatkan pendapatannya dan memperoleh pengakuan terhadap pelayanan yang diberikan. Masa ini, The Active Birth berpindah di United Kingdom (UK) dan Michel Odent membantu memberikan ide dan bekerjasama dengan bidan, sehingga bidan dapat menunjukkan aspirasinya. Salah satu aspirasi bidan adalah posisi menolong persalinan dari posisi tidur menjadi posisi duduk. Selain itu, diperlukan sebuah penelitian besar untuk mendukung praktek kebidanan.
Selama ini, penelitian banyak dilakukan oleh dokter obstetri saja, karena 100% persalinan di rumah sakit. Umumnya penelitian yang dilakukan merujuk terhadap berbahayanya persalinan di rumah.
Tahun 1990-an, merupakan masa pencerahan bagi profesi bidan dan membawa cara berfikir yang baru. Penelitian menunjukkan bahwa kelahiran di rumah sakit sangat rendah kualitasnya, oleh karena kelahiran di rumah sakit menunjukkan angka kematian perinatal yang sangat tinggi.
Data-data nasional menunjukkan fakta yang merupakan pengumpulan data selama 15 tahun terakhir yang tidak dapat dipungkiri badan pengawasan berupa komite dokter obstetri dan komite bidan. Pada masa ini, kelahiran di rumah sakit mengalami penghentian.
Tahun 1990-an, angka persalinan di rumah meningkat kembali, tetapi persalinan yang ditolong oleh bidan mengalami penurunan.
Penurunan pertolongan kelahiran oleh bidan mendapatkan kompetisi dengan dokter umum (general practisionaire). Pertolongan persalinan di rumah yang ditolong oleh dokter umum sekitar 17-19%, sedangkan persalinan yang ditolong bidan pada awal 1990-an hanya sekitar 6%.
Keuntungan bagi para bidan, saat ini pemerintah lebih mendukung pelayanan yang diberikan oleh bidan dibandingkan pelayanan yang diberikan dokter umum. Hal ini tampak pada pemberian pendapatan yang lebih tinggi pada bidan yang melakukan pelayanan dibandingkan kepada dokter umum, dan adanya kebijakan bila dr.umum melakukan pertolongan sendiri maka jasanya akan dibayar penuh oleh ibu ( tidak ditanggung oleh pemerintah). Dampak keputusan pemerintah ini menyebabkan peningkatan pertolongan persalinan di rumah oleh bidan. Tahun 1943, pengakuan dikeluarkan pemerintah untuk mendukung bidan dan peraturan yang ditetapkan sejak tahun ini menjamin masyarakat miskin untuk mendapatkan pelayanan yang terjamin baik.
2. Model Pelayanan Kebidanan di Belanda
Seiring dengan meningkatnya perhatian pemerintah Belanda terhadap kelahiran dankematian, pemerintah mengambil tindakan terhadap masalah tersebut. Wanita berhak memilihapakah ia mau melahirkan di rumah sakit, hidup atau mati. Belanda memilki angka kelahiranyang sangat tinggi sedangkan kematian perinatal relatif rendah. Satu dari tiga persalinan lahir dirumah dan ditolong oleh bidan dan perawat sedang yang lain lahir di rumah sakit juga dibantuoleh bidan.
Prof. Geerit Van Kloosterman pada konferensinya di Toronto tahun 1984 menyatakan bahwa setiap kehamilan adalah normal dan harus selalu dipantau dan mereka bebas memilihuntuk tinggal di rumah atau di rumah sakit dimana bidan yang sama akan memantaukehamilannya. Yang
utama dan penting, kebidanan di Belanda melihat suatu perbedaan yangnyata antara kebidanan keperawatan. Astrid Limburg mengatakan : seorang perawat yang baiktidak akan menjadi seorang bidan yang baik karena perawat dididik untuk merawat orang yangsakit, sedangkan bidan untuk kesehatan wanita. Tidak berbeda dengan ucapan Maria De Broeryang mengatakan bahwa kebidanan tidak memiliki hubungan dengan keperawatan, kebidananadalah profesi yang mandiri. Pendidikan kebidanan di Amsterdam memiliki prinsip yaknisebagaimana memberi anastesi dan sedatif pada pasien barulah kita harus mengatakan pendekatandan memberi dorongan pada ibu saat persalinan. Jadi pada prakteknya bidan harus memandangibu secara keseluruhan dan mendorong ibu untuk menolong dirinya sendiri.
Pada kasus resiko rendah dokter tidak ikut menangani, mulai dari prenatal, natal, postnatal, pada resiko menengah mereka selalu memberi job tersebut pada bidan dan pada kasusresiko tinggi dokter dan bidan saling bekerja sama.
Bidan di Belanda 75% bekerja secara mandiri, karena kebidanan adalah profesi yangmendiri dan aktif. Sehubungan dengan hal tersebut bidan harus menjadi role model dimasyarakatdan harus menganggap kehamilan adalah sesuatu yang normal sehingga apabila seorang wanitamerasa dirinya hamil dia dapat langsung memeriksakan diri ke bidan.
3. Pendidikan Kebidanan Di Belanda
Pendidikan Kebidanan di Belanda terpisah dari pendidikan keperawatan dan berkembang menjadi profesi yang berbeda. Di Belanda ada 3 institusi kebidanan dan menerima 66 mahasiswa setiap tahunnya.
Hampir tahun 800 calon mahasiswa (95% wanita, 4% pria) yang mengikuti tes syarat masuk mengikuti pendidikan usia minimum 19 tahun,
telah menamatkan Secondary Education atau yang sederajat dari jurusan kimia dan biologi. Mahasiswa kbidanan tidak menerima gaji dan tidak membayar biaya pendidikan.
Selama pendidikan di ketiga institusi tersebut menekankan bahwa kehamilan, persalinan, dan nifas sebagai proses fisiologis. Ini diterapkan dengan menempatkan mahasiswa untuk praktek di kamar bersalin dimana wanita dengan resiko rendah melahirkan. Persalinan, walaupun di rumah sakit, seperti di rumah, tidak ada dokter yang siap menolong dan tidak terdapat Cardiograph. Mahasiswa akan teruju keterampilan kebidanan yang telah terpelajari.
Bila ada masalah, mahasiswa baru akan berkonsultasi dengan Ahli kebidanan dan seperti di rumah, wanita di kirim ke ruang bersalin patologi. Mahasiswa diwajibkan mempunyai pengalaman minimal 40 persalinan selama pendidikan. Ketika mereka lulus ujian akhir akan menerima ijazah yang didalamnya tercanbtum nilai ujian.
Kebidanan merupakan aplikasi dari ilmu medis. Bidan adalah tenaga profesional yang mengatur dan monitoring proses fisiologis, berbeda dengan profesi kesehatan lain yang berfokus pada patologi. Bidan memberi kontribusi dalam proses medis kedokteran (Crebas 1991: 25) Perkembangan pendidikan kebidanan di Belanda adalah sbb :
1. Tahun 1779 : Didirikan sekolah kebidanan pertama di Maasticht 2. Tahun 1818 : Pemerintah mengeluarkan panduan untuk legislasi bidan 3. Tahun 1861 : Didirikan pendidikan kebidanan kedua di Amsterdam, Pada abad 18 ini masyarakat mengenal bidan sebagai praktisi mandiri Tugas dan tanggung jawab bidan sudah teridentifikasi dengan jelas dan didukung oleh undang-undang oleh pemerintah.
4. Tahun 1865 : Pemerintah memberikan kewenangan kepada bidan sebagai praktisi medis untuk memberikan pendidikan kesehatan dan mendampingi ibu selama proses kelahiran normal
5. Tahun 1878 : Pemerintah belanda mengeluarkan keputusan untuk pemberian gelar kepada yang telah lulus misalnya dr, drg, farmasi, bidan dan asisten parmasi diberikan Dengan gelar ini seorang bidan diberi kewenangan izin praktek bila sudah melakukan ujian dan dianggap lulus.
6. Tahun 1941 : Sistem pembayaran pelayanan kebidanan dengan asuransi medis yang masih tetap ada sampai dengan sekarang.
7. Wanita dengan kehamilan dan persalinan yang fisiologis berada dibawah pengawasan bidan, sedang yang patologis dengan komplikasi berada dibawah pengawasan ahli obstetri.
8. Bidan atau dokter yang memberikan pelayanan diluar wilayah kerjanya tidak akan mendapat klaim penggantian biaya asuransi 9. Siswa bidan diberikan kesempatan yang banyak dalam menolong
persalinan dirumah dibawah bimbingan bidan seniornya.
10. Pemerintah lebih menganjurkan persalinan dilakukan dirumah dan ada dukungan yang kuat dalam pendanaan bila melaukan persalinan dirumah. Hampir 1/3 bidan menolong persalinan dirumah , hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Hingstman Mayoritas (80%) bidan di netherlands praktik mandiri dan memberikan pelayanan persalinan di rumah atau di unit kebidanan dengan masa rawat yang singkat (1994), presentasi persalinan di rumah dilakukan lebih banyak ditolong oleh bidan (Baker et al 1996)
11. Tahun 1991 : Peninjauan kembali kurikulum oleh suatu komite yang bekerjasama dengan departemen kesejahteraan, kesehatan dan kebudayaan di Netherland
12. Melakukan revisi kurikulum kebidanan dengan mengidentifikasi kebutuhan kebidanan yang harus berdasarkan :
13. Perubahan area obstetric
14. Peningkatan penggunaan teknologi dalam persalinan dan kelahiran
15. Identifikasi kebutuhan untuk menyediakan pelatihan dalam USGPemikiran yang berarah pada pendidikan terutama yang berkenaan dengan penilaian mahasiswa
16. Kebutuhan bidan dalam mengembangkan kebutuhan riset (Commitee for the revision of the curiculum of midwifery school in nehterlands 1991.
17. Profil bidan yang di buat oleh Netherlands terfokus pada 3 komponen yaitu ; ANC, INC dan PNC, pada tahun 1991 ada penambahan lain yang termasuk pada kategorinya antara lain :
18. Prosedur obstetric 19. Pencegahan
20. Management pada kehamilan / keterampilan berkomunikasi 21. Melaksanakan praktek
22. Meningkatkan dan memelihara keterampilan professional
23. Mengacu pada Commitee for the revision of the curiculum of midwifery school in nehterlands 1991 menyatakan bahwa keahlian seorang bidan memiliki 5 komponen :
24. Keahlian formal yang didapat selama pelatihan dari salah satu institusi pendidikan bidan
25. Memiliki sikap yang tepat untuk seorang bidan yang professional 26. Keahlian yang profesional yang diperoleh harus selalu dipelihara
secara teratur dengan mengikuti pelatihan.
27. Mampu dalam memberikan pendidikan Kesehatan 28. Ahli dalam ultrasonic scanning
Master di dalam ilmu keperawatan dan kebidanan adalah orang yang berpendidikan universitas dengan pola fikir berkembang dan melakukan penelitian ilmiah dibidang ilmu keperawatan dan kebidanan.
Dengan adanya pendidikan ini antara lain mencoba untuk mewujudkan tujuan :
a. Menyumbangkan ilmu untuk mengembangkan ilmu pengetahuan keperawatan dan ilmu pengetahuan kebidanan.
b. Memberi bimbingan ilmu keperawatan dan ilmu kebidanan dengan membentuk lingkungan kerja dengan pola fikir akademis
c. Mengembangkan keahlian untuk bukti yang didasarkan praktek untuk mewujudkan pemeliharaan kesehatan.
d. Membentuk mereka yang berijazah universitas untuk mendidik para mahasiswa – sarjana muda yang professional dalam ilmu keperawatan dan ilmu kebidanan di dalam pendidikan sekunder (menengah).
3. Bentuk Pelayanan Kebidanan Di Belanda 1. Pelayanan Antenatal
Bidan menurut peraturan Belanda lebih berhak praktek mandiri daripada perawat. Bidan mempunyai izin resmi untuk praktek dan menyediakan layanan kepada wanita dengan resiko rendah, meliputi antenatal, intrapratum dan post natal. Tanpa ahli kandungan yang menyertai mereka bekerja di bawah Lembaga Audit Kesehatan. Bidan harus merujuk wanita dengan resiko tinggi atau kasus patologi ke Ahli Kebidanan untuk dirawat dengan baik. Untuk memperbaiki pelayanan kebidanan dan ahli kebidanan dan untuk meningkatkan kerjasama antar bidan dan ahli kebidanan dibentuklah daftar indikasi oleh kelompok kecil yang berhubungan dengan pelayanan maternal di Belanda. Daftar ini berisi riwayat sebelum dan sesudah pengobatan. Riwayat kebidanan akan berguna dalam pelayanan kebidanan. Penelitian Woremever menghasilkan data tentang mortalitas dan mobilitas yang menjamin kesimpulan : dengan sistem pelayanan yang diterapkan Belanda memungkinkan mendapatkan hasil yang memuaskan melalui seleksi wanita. Suksesnya penggunaan daftar indikasi merupakan dasar yang penting mengapa persalinan di rumah disediakan dan menjadi alternatif
karena wanita dengan resiko tinggi dapat diidentifikasi dan kemudian dirujuk ke Ahli Kebidanan.
Selama kehamilan bidan menjumpai wanita hamil 10-14 kali di klinik bidan. Sasaran utama praktek bidan adalah pelayanan komunitas.
Jika tidak ada masalah, wanita diberi pilihan untuk melahirkan di rumah atau di rumah sakit. Karena pelayanan antenatal yang hati-hati sehingga kelahiran di rumah sama amannya dengan kelahiran di rumah sakit.
Tahun1969 pemerintah Belanda menetapkan bahwa melahirkan di rumah harus dipromosikan sebagai alternatif persalinan. Di Amsterdam 43% kelahiran (catatan bidan dan Ahli Kebidanan) terjadi di rumah. Di Holland, diakui bahwa rumah adalah tempat yang aman untuk melahirkan selama semuanya normal.
b. Pelayanan Intrapartum
Dimulai dari waktu bidan dipanggil sampai satu jam setelah lahirnya plasenta dan membrannya. Bidan mempunyai kemampuan untuk melakukan episiotomi tapi tidak diizinkan menggunakan alat kedokteran. Baisanya bidan menjahit luka perineum atau episiotomi, untuk luka yang parah dirujuk ke Ahli Kebidanan. Syntomentrindan Ergometrin diberikan jika ada indikasi. Kebanyakan kala III dibiarkan sesuai fisiologinya. Analgesik tidak digunakan dalam persalinan.
c. Pelayanan Post partum
Pada tahun 1988, persalinan di negara Belanda 80% telah ditolong oleh bidan, hanya 20% persalinan di RS. Pelayanan kebidanan dilakukan pada community normal, bidan sudah mempunyai indefendensi yuang jelas. Kondisi kesehatan ibu dan anak pun semakin baik bidan mempunyai tanggung jawab yakni melindungi dan memfasilitasi proses alami, menyeleksi kapan wanita perlu intervensi, yang menghindari teknologi dan pertolongan dokter yang tidak penting.
4. Hal-hal yang berkaitan dengan kelahiran dan kebidanan di Belanda :
a. Tingkat Kelahiran di Belanda
Populasi Belanda adalah 15 juta, dan tiap tahun angka kelahiran sekitar 74.500. Total dari angka kelahiran, 46% ditolong oleh bidan, 8%
oleh dokter umum dan 46% dibantu oleh dokter obstetri. Ada 1422 bidan yang telah terdaftar, 70% merupakan praktek mandiri, 15%
bekerja sebagai bidan yang berpindah-pindah (for those on holiday or leave etc) dan 15% bekerja di kinik rumah sakit. Sebagian besar terlibat sebagai supervisi mahasiswa dalam pelatihan sebagai bidan atau dokter.
Beberapa bidan memutuskan tidak mengambil spesialis dalam risiko tinggi pelayanan dan mereka bekerja secara tertutup dengan ahli obstetric.
Rata-rata kelahiran di rumah mangalami turun naik. Pada tahun 1997 adalah 31% dari semua kelahiran di rumah dan tahun 1998 keadaan ini meningkat menjadi 32,4%. Di Amsterdam, rata-rata mengalami kenaikan dari 18% pada 1995; menjadi 26% pada 1998. di Rotterdam, rata-rata mengalami kenaikan dari 19% pada 1995; menjadi 25% pada 1998.
Secara nasional rata-rata persalinan operatif mengalami kenaikan dari 8,5% pada 1993 ; menjadi 9,5% pada 1997. Forceps atau vacum rata-rata tetap sekitar 7,7% pada 1993; dan 78% pada 1997. Rata-rata kejadian epidural adalah 6% dengan keadaan nyeri hanya dengan pertolongan persalinan operatif. Kematian perinatal rata-rata pada 1997 adalah 8,1 per 1000 kelahiran hidup.
b. Perbedaan Budaya di Belanda
Di Belanda bidan termasuk juga profesi kesehatan sejak 1972, bersama dengan dr.umum, dokter gigi, farmakolog dan dokter obtetri . Bidan melakukan pelatihan selalu memiliki standar yang tinggi, dengan kriteria sangat ketat untuk masuk universitas, termasuk akademi tinggi dan mencapai karakter dan perilaku yang baik. Kriteria ini ditimbulkan
dari seorang ibu yang memiliki kekuatan dan intelegensi dan ini digambarkan pada bahasa Belanda untuk “midwife” yang artinya “wise woman”.
Tidak ada tradisi dari perjalanan kebidanan di Belanda dan ini berpengaruh besar pada ketetapan dan perkembangan dari pelayanan kebidanan. Adanya peraturan jika seorang klien tidak senang dengan pelayanan yang diberikan dari dokter dan bidan, dia dapat menyelesaikan pada komite khusus. Komite khusus ini terdiri dari bidan, ahli obstetri dan dokter umum yang melihat kembali kasus dan penelitian kesehatan. Kompensasi finansial tidak menjadi perhatian dan biasanya jika kesalahan dibuat yang diakui sebagai sesuatu yang biasanya terjadi maka bidan dan dokter akan menerima peringatan.
Setelah tiga kali peringatan proses peradilan mungkin dimulai.
Pendekatan ini mungkin dilakukan karena dukungan sistem sosial di Belanda, yang mendukung penuh orang tua yang memiliki anak cacat terus memperoleh sistem asuransi nasional dan fasilitas masyarakat.
Tidak ada kebutuhan yang menuntut dokter atau bidan untuk memperoleh gaji dari pelayanan ini. Ini merupakan pendekatan etis untuk ketetapan dari pelayanan kebidanan dan membawa yang terbaik pada pelayanan profesional yang diberikan pada masyarakat secara keseluruhan.
Kehidupan di Belanda berpusat di sekitar rumah. Rumah adalah istana dan keluarga adalah penting. Rata-rata ibu mempunyai anak pertama pada usia 29 tahun. Ibu mengurus karirnya akan berubah untuk menjadi ibu rumah tangga. Sebagian besar ibu mengambil paruh waktu untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Keadaan ini menunjukkan tingkat emansipasi di Belanda. Umumnya ibu lebih memilih mengusrus anaknya yang masih kecil dibandingkan dengan karirnya. Ibu akan kembali bekerja pada usia 40-an mempunyai keuntungan mendapatkan
keterampilan dari keluarga dan masih ada waktu untuk mencapai posisi puncak di tempat kerjanya. Banyak anak mempunyai hadiah saat kelahiran dan ini membantu untuk menjalin keluarga bersama dan menurunkan ketakutan saat kelahiran.
c. Pusat Kelahiran Amsterdam
Pusat kelahiran didirikan tahun 1992. Ini terdiri dari dua grup dari empat bidan, mengerjakan bisnisnya dan membawa sekitar 800 ibu tiap tahun (pada 1998 bidan merawat 795 ibu : 495 primi dan 300 multi).
Berdasarkan kehamilan sekitar 20% adalah menghubungi dokter dan lebih lanjut 15% menghubungi dokter selama kelahiran. Alasan utama untuk menghubungi dokter selama kehamilan adalah tekanan darah tinggi, postmatur (lebih dari 42 minggu), sungsang, kelahiran multi, kelahiran prematur, IUGR dan perdarahan. Selama persalinan alasan utama untuk menghubungi adalah tidak ada kemajuan pada kala dua, kemajuan yang lambat pada kala satu, cairan mekonium dan ruptur pada membran tanpa kontraksi.
Di negara ini, penggantian bidan selama mengobservasi suatu persalinan merupakan hal yang ditentang. Kecuali bila harus ada penggantian selama masa observasi ini karena adanya alasan sosial atau alasan pribadi. Penggantian ini dapat dengan sesama bidan, dokter umum atau dokter obstetri. Oleh sebab itu, banyak dokter obstetri bekerjasama dengan bidan dan terkesan tunduk dengan nasehatnya bidan. Suasana di Perguruan Tinggi mendukung dialog seperti ini dan mempertajam praktek dari keduanya. Dokter dan bidan sangat kontras dan sering terlihat interaksi yang berlawanan di negara-negara lain.
Salah satu hasil dari pendekatan ini adalah jika dokter yang tidak merawat wanita secara “woman friendly” akan dikesampingkan oleh bidan. Dokter-dokter yang bersikap tidak “woman friendly” akan dimasukkan dalam daftar hitam. Hal ini berdampak pada institusi rumah
sakit yang harus mengeluarkan biaya lebih banyak untuk mengatasi klaim/keluhan pasien, klaim/keluhan dari bidan dan pelatihan yang ditujukan untuk perubahan prilaku tenaga medis.
Salah satu pendekatan pelayanan yang berfokus kepada pemberian pelayanan yang berkualitas kepada klien/wanita, maka dibentuklah sistem ambulans. Sistem ini ditujukan untuk keamanan dari kelahiran di rumah (not bom out by the facts). Jika ada kelahiran, maka ambulans akan dihubungi dan tiba dalam hitungan beberapa menit, sehingga bidan tidak repot membawa banyak peralatan.
Peran pemerintah yang lain adalah bidan tidak melakukan pelayanan pada ibu yang tidak termasuk wilayah kerjanya. Wilayah kerja bidan yang dimaksudkan adalah bahwa saat pelayanan di butuhkan oleh ibu di komunitas, bidan dapat segera datang dan tidak lebih dari 30 menit.
Ini ditujukan agar pelayanan kebidanan dapat diberikan sesegera mungkin.
C. Model Asuhan Kebidanan Di Inggris 1. Sejarah Kebidanan Di Inggris
Selama tahun 1920-an 50-60% wanita di UK hanya ditolong oleh sebagian besar bidan, buta huruf, bekerja sendiri, menerima bayaran untuk pelayanan yang mereka berikan pada klien. Pada saat itu meskipun proporsi dari praktek bidan yang mempunyai kualifikasi meningkat dari 30% pada tahun 1905 menjadi 74% di tahun 1915, banyak wanita yang lebih menyukai dukun. Hal ini karena dukun lebih mudah mengikuti tradisilokal dan memberikan dukungan domestic.
Pelayanan dipusatkan pada persalinan dan nifas dan pelayanan antenatal mulai dipromosikan pada tahun 1935. Pada tahun 1930 perawat yang juga terdaftar memasuki kebidanan karena dari tahun 1916 mereka dapat mengikuti kursus pendek kebidanan dari pada wanita tanpa kualifikasi sebagai perawat. Hal ini mengakibatkan penurunan status dan
kekuatan bidan karena perawat disosialisasikan untuk menangani keadaan patologis dari pada keadaan fisiologis. Meskipun direct entrynya dibuka kembali pada awal tahun 1990. Semua kursus kebidanan saat ini cenderung untuk dibatasi disekitar kualifikasi keperawatan.
Selama tahun 1980, bidan di inggris mulai berusaha mendapatkan otonomi yang lebih dan meningkatkan sistem melalui penelitian tentang alternative pola perawatan. Dengan perkembangan persalinan alternatif, bidan mulai mengembangkan praktik secara mandiri.
Selama tahun 1980, bidan di inggris mulai berusaha mendapatkan otonomi yang lebih dan meningkatkan sistem melalui penelitian tentang alternative pola perawatan. Dengan perkembangan persalinan alternatif, bidan mulai mengembangkan praktik secara mandiri.
Selama pertengahan 1980 kira – kira ada 10 bidan yang praktik secara mandiri di Inggris. Pada 1990 ada 32 bidan independent dan pada tahun 1994 angka perkiraan dari bidan independent adalah 100 orang dengan 80 orang diantaranya terdaftar dalam Independent Midwifery.
Tahun 1864 sekolah wanita kebidanan dibuka dilondon, Florance Nightisale sebagai pelopor pelatih bidan. Tahun 1862 ia membentuk pelatihan kebidanan bekerja sama dengan king’s collage hospital.
2. Alasan Bidan Di Inggris Ingin Melaksanakan Praktek Mandiri : a. Penolakan terhadap model medis dalam kelahiran (medicalisasi).
b. Ketidakmampuan untuk menyediakan perawatan yang memuaskan dalam NHS (National Health Servis ).
c. Untuk mengurus status bidan sebagai praktisi.
d. Untuk memberikan kelangsungan perawatan dan kemampuan bidan dalam memberikan pertolongan persalinan di rumah sebagai pilihan mereka.
3. Organisasi Profesional Kebidanan Di Inggris
a. RCM (Royal College of Midwives), merupakan lembaga yang mendukung bidan dalam upayanya meningkatkan standar perawatan bagi ibu, bayi, dan keluarganya. Tujuan dari RCM adalah untuk meningkatkan seni dan ilmu kebidanan serta meningkatkan standar profesionalisme.
b. ICM (international confederation of midwives), merupakan konfederasi bidan dunia yang sekretariatnya berada di london. Tujuan dari ICM adalah meningkatkan standar keperawatan bagi wanita, bayi, dan keluarganya di selurh dunia melalui pembangunan, pendidikan, dan penyediaan bidan yang profesional.
c. Europian Community midwives directive, merupakan aliansi bidan se- eropa yang berfokus pada peningkatan kualitas pelayanan kebidanan.
d. Pendidikan kebidanan di Inggris terdiri dari 2 bagian, yaitu :
1) Preregistration three year programme/direct entry.Program ini di tunjukan bagi yang belum pernah mengenyam pendidikan keperawat dasar dengan lama pendidikan selama 3-4 tahun.
2) Pre-registration (Shortened) 18 months programme. Program ini di tujukan bagi yang pernah mengenyam pendidikan keperawatan dasar dengan lama pendidikan 18 bulan – 2 tahun.
4. Pendidikan Kebidanan Di Inggris
Mayoritas bidan di Inggris adalah lulusan diploma. Sejak tahun 1995 sudah ada lulusan S1 kebidanan dengan dasar SMU + 3-4 tahun. Tahun 1824 kebidanan masih belum di kenal sebagai bagian dari pendidikan medis di Inggris. Lulusan itu dibekali dengan pengethuan teori dan praktek. Pendidikan Diploma Kebidanan di mulai tahun 1893, dan sejak tahun 1899 hanya bidan sekaligus perawat yang terlatih yang boleh bekerja di rumah sakit.
Setelah tahun 1995, dibentuk pendidikan kebidanan setingkat Universitas (Degree- Bachelor), yang berasal dari SMU ditambah 3-4
tahun. Lulusan ini bisa melanjutkan ke S2 kebidanan. Sistem yang dianut ialah APEL (Acreditation Of Prior Experiental Learning). Yaitu untuk akreditasi 5X study day dalam 3 tahun yang terdiri dari sertifikat, critical analisis, reflection, evaluation, dan find evidence. Pendidikan kebidanan di Inggris diatur oleh sejumlah undang-undang yaitu Midwives Rules, The Midwife’s Code of Practice, dan Unitet Kingdom Central Council (UKCC) for Nursing, Midwifery and Health Visitor.
Di dalam UKCC ditekankan bahwa yang harus dimiliki oleh seorang bidan bukan hanya pendidikan kebidanan tetapi juga kemampuan menghargai latar belakang wanita (klien) karena hal tersebut dapat mempengaruhi keadaan Ibu dan bayi. Lebih jelasnya, UKCC menguraikan keterampilan yang harus dimiliki oleh Bidan, mencakup :
1) Promosi kesehatan 2) Pengkajian fisik 3) Perawatan pasien 4) Tindakan mandiri
5) Melakukan kolaborasi dengan tenaga kesehatan lainnya 6) Melakukan perawatan yang disarankan oleh dokter 7) Komunikasi dengan pasien
8) Penelitian berkelanjutan 9) Kerjasama dalam tim
10) Bekerja sesuai dengan peraturan yang berlaku 11) Sadar dengan perkembangan masalah-masalah etika
12) Bertanggung jawab atas hasil kerjanya. Tanggung jawab Bidan, mencakup :
a) Melaksanakan kompetensi professional b) Menyimpan semua catatan/ rekam medis c) Bertanggung jawab terhadap keluarga pasien d) Bertanggung jawab pada profesi
e) Bertanggung jawab pada masyarakat
Setiap tahun pada bulan maret, Bidan mengajukan surat permohonan untuk bisa berpraktik di daerah tertentu kepada supervisor sambil memperlihatkan bukti bahwa mereka telah mengikuti up date pendidikan kebidanan terbaru. Up date pendidikan berbetuk kursus singkat yang diadakan setiap lima tahun.
Sejak April 1995, semua bidan yang akan memperbarui surat izin praktiknya harus mengikuti pendidikan berkelanjutan yang disebut PREP (Postregistration Education and Practice). Materi yang diberikan mencakup :
1) Perkembangan teknologi
2) Perubahan dalam masyarakat, peran pria dan wanita dalam keluarga serta masyarakat
3) Perubahan dalam dunia kerja 4) Perubahan dalam dunia pendidikan
5) Perubahan dalam organisasi sumberdaya serta manajemen perawatan kesehatan
6) Perubahan dalam perilaku kepercayaan dan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat.
5. Kelebidan dan Kekurangan Kebidanan Di Inggris
Bidan di United Kingdom memiliki banyak kelebihan di banding Negara lain, mereka mampu memperbaiki kualitas pelayanan kebidanan secara baik seiring dengan berjalannya waktu, diantaranya :
a. Wanita mendapatkan pelayanan dari bidan selama kehamilan sampai nifas , dan asuhan berkelanjutan, pada persalinan dapat dilakukan di rumah Ibu hamil.
b. Model kebidanan yang digunakan di United Kingkom adalah partnership antara bidan dan wanita. Bidan dengan pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman, dan wanita dengan pengetahuan
tentang kebutuhan diri dan keluarganya, serta harapan-harapan terhadap kehamilan dan persalinan. Sehingga sebelum melakukan pelayanan bidan dan wanita harus saling mengenal agar bisa menumbuhkan rasa kepercayaan diantara keduanya.
Kekurangannya program yang sebelumnya dilakukan oleh bidan seperti : a. Bidan kehilangan pandangan bahwa persalinan adalah suatu peristiwa
yang normal dan dengan peran mereka sendiripun sebagai pendamping pada peristiwa normal tersebut.
b. Bidan memberikan intervensi dan asuhan maternitas yang penuh dengan pengaruh medis, dimana seharusnya para dokter dan rumah sakit secara langsung yang lebih tepat untuk memberikannya.
D. Model Asuhan Kebidanan Di Kanada 1. Sejarah Kebidanan Di Kanada
Meskipun bidan telah mempraktikkan di Kanada sejak orang pertama tinggal di sini, dan kemudian bidan imigran membawa bersama mereka ke negara baru, hanya baru-baru ini bahwa legislasi kebidanan telah mulai diperkenalkan. Untuk waktu yang lama Kanada adalah salah satu dari sembilan negara yang tidak mengenali kebidanan, dan masih ada beberapa yurisdiksi di Kanada di mana bidan tidak diatur. Di Kanada, seperti di sebagian besar negara, istilah "bidan" digunakan tanpa awalan..
Hal ini sesuai dengan WHO / Figo / ICM International Definisi dari Bidan.
(The USA menyimpang dan diawali kata-kata seperti "perawat").
Bidan Asosiasi
a) 1987, Konfederasi Kanada Bidan (CCM) yang dibentuk untuk memfasilitasi komunikasi antara berbagai provinsi asosiasi bidan.
Sebuah konfederasi dari asosiasi bidan, bukan individu.
b) 1988, Saskatchewan Ikatan Bidan terbentuk. Asosiasi yang Saskatchewan Aman Alternatif dalam Melahirkan dibubarkan dan konsumen membentuk Friends of the Bidan kelompok.
c) 1991,Maret - the CCM mengadopsi definisi MKI kebidanan, dan
"perawat-bidan" tidak dapat diterima.
d) 2001, The CCM menjadi Asosiasi Kanada Bidan (CAM). Kemajuan kebidanan perundang-undangan di negara ini mengakibatkan lebih banyak pekerjaan, dan kebutuhan untuk Asosiasi nasional.
e) 2001, The Kebidanan Mutual Recognition Agreement di Mobilitas Buruh di Kanada yang sudah diisi ditandatangani dan diterima berdasarkan Perjanjian Perdagangan Internal.
Beberapa Sejarah Bidan Kanada :
a) 1691 --Pemerintah dalam apa yang sekarang quebec, didirikan tiga cabang otonom kedokteran: dokter, dokter bedah, bidan.
b) 1755-- Pemerintah Inggris membayar upah bidan dari Inggris yang menetap di Nova Scotia.
c) 1843--Bidan yang bekerja di Universitas Lying-in-Rumah Sakit di Montreal. Bidan yang diberikan izin oleh pemerintah daerah di Montreal, Quebec City, dan gereja-gereja lokal di daerah pedesaan.
d) 1912 --Dewan Kedokteran Kanada terbentuk dan praktek kebidanan dihilangkan di sebagian besar lokasi.
e) 1939--Selama tahun-tahun perang Perawat Kesehatan Masyarakat diberikan perawatan kebidanan di pedesaan Alberta di bawah undang- undang yang terkandung dalam Profesi Kedokteran Undang-Undang.
f) 1944 --Kebidanan sertifikat dicabut di Quebec.
g) 1946 --Canadian Nurses Association (CNA) yang disetujui praktek perawat terdaftar sebagai bidan di daerah-daerah terpencil di mana tidak ada dokter.
h) Juni 1974 - Kanada Komite Nasional Perawat-Bidan yang diorganisir di Canadian Nurses Association (CNA) konvensi di Winnipeg, tapi segera dibubarkan sebagai bidan yang terlibat dengan Asosiasi Bidan lain. The CNA mengeluarkan pernyataan pada perawat- bidan merekomendasikan pengakuan perawat-bidan.
2. Perkembangan Pendidikan Bidan Di Kanada
Kanada menerapkan program direct entry (pendidikan kebidanan selama 3 tahun tanpa pemdidikan keperawatan. Model pendidikan yang digunakan adalah pembelajaran teori dan magang. Pembelajaran teori dikelas difokuskan pada teori dasar yang akan melahirkan bidan-bidan yang dapat mengartikulasi filosofinya sendiri dalam praktik, memanfaatkan penelitian dalam praktik dan berfikir kritis pada saat parktik. Dilengkapi dengean belajar magang dimana mahasiswa bekerja dengan bimbingan dan pengawasan bidan yang praktik dalam waktu cukup lama.
Tidak seperti model magang tradisional dimana mahasiswa bekerja denganlebih dari seorang bidan dengan berbagai macam model praktik.
Mahasiswa tidak hanya mempelajari hal postif tapi juga harus mengetahui hal negatif untuk dilakukan dimasa yang akan datang.
Satu mahasiswa akan bekerja dengan satu bidan sehingga mereka tidak dikacaukan dengan bermacam-macam model praktik dalam waktu yang lama. Bidan tersebut meberikan role model partnership. Model ini terdiri dari hubungan antar wanita dengan mahasiswa bidan, mahasiswa bidan dengan bidan, guru bidan dengan bidan, hubungan antara program kerja dengan profesi kebidanan serta program kebidanan dengan wanita.Pertnership ini menjaga agar program pendidikan bidan tetap pada tujuan utama, yaitu mencetak bidan-bidan yang dapat bekerja mandiri sebagai pemberi asuhan maternitas primer.
3. Perkembangan Pelayanan Bidan Di Kanada
Ontario adalah provinsi pertama di Kanada yang menerbitkan peraturan tentang kebidanan setelah sejarah kebidanan panjang yang ilegal dan berakibat meningkatnya praktik bidan tak berizin. Sama seperti di Selandia baru, di Kanada wanitalah yang menginginkan perubahan, mereka membuat pilihan asuhan dan keputusan yang sesuai dengan pengalaman untuk dijadikan model kebidanan terbaru.
Model kebidanan yang di pakai Kanada berdasarka definisi ICM tentang bidan yaitu seorang tenaga yang mempunyai otonom praktik terbatas pada persalinan normal. Sasaran dan praktik kebidanan adalah masyarakat. Bidan memiliki akses kepada rumah sakit maternitas dan wanita memiliki pilihan atas persalinan dirumahn atau rumah sakit.
Dalam membangun dunia profesi kebidanan yang baru, Kananda mempersiapkan bidan-bidan untuk registrasi, dimulai dengan keputusan bahwa bidanlah yang dibutuhkan dalam pelayanan maternitas dan menetapkan ruang lingkup praktik kebidanan sesuai dengan ketetapan ICM yaitu bidan bekerja dengan otonomi penuh dalam lingkup persalianan normal atau pelayanan maternitas primer. Bidan bekerja dan berkonsultasi dengan ahli obstetric bila terjadi komplikasi dan ibu serta bayi memerlukan bantuan dan pelayanan maternitas sekunder. Bidan juga memiliki akses ke rumah sakit tanpa harus bekerja di rumah sakit.
4. Ruang Lingkup Praktek Bidan Di Kanada
Dalam membangun dunia profesi kebidanan yang baru, Kanada membuat suatu sistem baru dalam mempersiapkan bidan – bidan untuk registrasi. Keduanya memulai dengan suatu keputusan bahwa bidanlah yang dibutuhkan dalam perawatan maternitas.
Ruang ligkup praktik bidan di Kanada tidak keluar dari jalur yang telah ditetapkan ICM yaitu :
a) Bidan yang bekerja dengan otonomi penuh dalam lingkup persalinan normal, atau pelayanan maternitas primer.
b) Bidan bekerja dan berkonsultasi dengan ahli obstetri bila terjadi komplikasi pada ibu serta bayi memerlukan bantuan dari pelayanan maternitas sekunder.
c) Bidan di kedua negara tersebut mempunyai akses fasilitas rumah sakit tanpa harus bekerja di rumah sakit. Mereka bekerja di rumah atau dirumah sakit maternitas.
5. Model Partnersip dalam Asuhan Kebidanan Di Kanada
Kanada menerapkan model partnersip dalam asuhan kebidanan. Beberapa aspek didalamnya antara lain :
a) Hubungan dengan wanita b) Asuhan kebidanan
c) Informed choise d) Informed chonsent
e) Praktik bidan yang memiliki otonomi
f) Fokus pada normalitas kehamilan dan persalinan.
E. Model Asuhan Kebidanan Di Australia 1. Sejarah Pendidikan Bidan Di Australia
Florence Nightingale adalah pelopor kebidanan dan keperawatan yang dimulai dengan tradisi dan latihan-latihan pada abad 19. Tahun 1824 kebidanan masih belum dikenal sebagai bagian dari pendidikan medis di Australia, kebidanan masih didominasi oleh profesi dokter. Pendidikan bidan pertama kali di Australia dimulai pada tahun 1862. Lulusan itu dibekali dengan pengetahuan teori dan praktek. Pendidikan diploma kebidanan dimulai tahun 1893. Dan sejak itu tahun 1899 hanya bidan sekaligus perawat yang telah terlatih yang boleh bekerja di rumah sakit.
Sebagian besar wanita yang melahirkan tidak dirawat dengan selayaknya oleh masyarakat. Ketidakseimbangan seksual dan moral di Australia telah membuat prostitusi berkembang dengan cepat. Hal ini menyebabkan
banyak wanita hamil diluar nikah dan jarang mereka dapat memperoleh pelayanan dari bidan atau dokter karena pengaruh sosial mereka atau pada komunitas yang terbatas, meskipun demikian di Australia bidan tidak bekerja sebagai perawat, mereka bekerja sebagaimana layaknya seorang bidan. Pendapat bahwa seseorang bidan harus reflek menjadi perawat dan program pendidikan serta prakteknya banyak dibuka di beberapa tempat dan umumnya disediakan oleh non bidan.
2. Pendidikan Bidan Di Australia
Kebidanan di Australia telah mengalami perkembangan yang pesat sejak 10 tahun terakhir. Dasar pendidikan telah berubah dari tradisional hospital base programme menjadi tertiary course of studies yang menyesuaikan kebutuhan pelayanan dari masyarakat. Tidak semua institusi pendidikan kebidanan di Australia telah melaksanakan perubahan ini, beberapa masih menggunakan program yang berorientasi pada rumah sakit. Kurikulum pendidikan disusun oleh staf akademik. Pelaksanaan pendidikan bidan di Australia hampir sama dengan pelaksanaan pendidikan bidan di Indonesia. Belum ada persamaan persepsi mengenai pengimplementasian kurikulum pada masing-masing institusi, sehingga lulusan bidan mempunyai kompetensi klinik yang berbeda tengantung pada institusi pendidikannya.Pada tahun 1913 sebanyak 30% persalinan di tolong oleh bidan. Meskipun ada peningkatan jumlah dokter yang menangani persalinan antara tahun 1900-1940, tidak ada penurunan yang berarti pada angka kematian ibu dan bidanlah yang selalu disalahkan akan hal itu. Kenyataannya, wanita kelas menengah keatas yang ditangani oleh dokter dalam persalinan, justru mempunyai resiko infeksi yang lebih besar daripada wanita miskin yang ditangani oleh bidan.
3. Masalah Profesional
Bidan sangat penting di pelayanan kesehatan sejak Perang Dunia II dan menempati jumlah yang besar di rumah sakit sebagai pusat pelayanan
kesehatan. Peningkatan rumah sakit dan persatuan perawat dan peningkatan ahli kebidanan yang lebih menekankan pada teknologi menyebabkan mundurnya kebidanan. Tapi, situasi itu berakhir pada saat Amerika Utara menilai kepemimpinan perawat dan kepemimpinan bidan yang memutuskan bahwa bidan berhak mendapat penghargaan pertama dan penghargaan kedua diberikan kepada keperawatan. Penghargaan itu sangat penting untuk peningkatan profesi kebidanan. Beberapa negara mengkombinasi keperawatan dan kebidanan dalam seorang tenaga kesehatan, namun hanya sebagian kecil yang menerapkan sistem tersebut dan pelatihan klinik sekarang semakin baik menuju standar internasional.
4. Pengembangan Profesi Bidan
Pemerintah melihat adanya peningkatan kebidanan dengan pemberian asuhan yang bermanfaat. Shearman Report (NSWI, 1989) telah menemukan cara awal untuk mengatur strategi perawatan yang berkesinambungan yaitu dengan memberikan pelayanan kesehatan pada wanita dan keluarga dengan lebih baik. "Perawatan efektif sangat dibutuhkan pada kelahiran" CNH dan MRC, 1996 menyimpulkan bahwa perawatan yang berkesinambungan akan menjadi tujuan perawatan kesehatan ibu.
5. Masalah Regional
Negara tetangga Australia yaitu Papua Nugini, Pulau Solomon memiliki angka kematian yang sangat tinggi. Rosaline , seorang pemenang piagam Maria Gibran pada ICM di Oslo yang berada di Universitas Tehnologi Sidney melihat sebuah video yang digunakan untuk melatih asisten bidan di desa dengan cara ibu berbaring setelah melahirkan kepala dan bahu , dan melahirkan plasenta dengan menarik tali pusat secara terkendali. Cara ini tidak jauh berbeda dari pendidikan bidan di Australia.
Mahasiswa kebidanan harus menjadi perawat dahulu sebelum mengikuti pendidikan bidan, sebab di Australia kebidanan masih menjadi sub
spesialis dalam keperawatan (maternal and child health). Didalamnya dipelajari pendidikan tentang keluarga berencana , kesehatan wanita , perawatan ginokologi , perawatan anak kesehatan anak dan keluarga serta kesehatan remaja. Adanya peraturan ini semakin mempersempit peran dan ruang kerja bidan.Literatur yang tersedia bagi mahasiswa kebidanan masih kurang. Kurikulum yang ada dirasakan hanya sesuai untuk mahasiswa pemula atau menengah saja, sehingga kadang-kadang mahasiswa yang telah terlatih dikebidanan diberikan porsi yang sama seperti pemula atau sebaliknya. Beberapa tahun setelah Australia mengadakan pelatihan kebidanan , para pendidik membuka Universitas yang memiliki cara tersendiri untuk menghasilkan tenaga yang berkualitas. Pada waktu yang sama pemerintah mendukung bidan dengan meperluas peran mereka.
Luasnya pengalaman dapat mengurangi resiko kematian pada persalinan.
Satu hal lagi yang perlu diketahui bahwa persalinan didesa tersebut ibu berbaring didaun pisang yang bersih atau sprei.Di negara barat terdapat peraturan dimana wanita melahirkan tidak boleh ditemani keluarganya, tetapi ada beberapa negara yang menganggap peraturan ini tidak efektif dan mengatakan bahwa ibu bersalin perlu ditemani oleh suami atau anggota keluarganya.
6. Penerapan Penelitian Dalam Praktik
Akhir dari masalah bidan di kawasan ini adalah penerapan penelitian kedalam praktik, misalnya pada video yang digunakan di Papua Nugini yang berisi anjuran kepada bidan untuk meninggalkan tradisi mereka dan memandang pada fakta-fakta yang ada. Keberadaan bidan di negara masih dipertanyakan karena adanya pengaruh medikalisasi.
Perawat kebidanan tidak boleh menolong persalinan.Pendidikan kebidanan di Australia setingkat Universitas, mahasiswanya berasal dari lulusan degree perawat dan 2 tahun bidan. Pada tahun 2000, di University Of Technology Of Sidney, telah terbentuk S2 .
7. Pendidikan Master Kebidanan Di Australia
Pendidikan bidan merupakan wadah dimana calon bidan ditempat yang nantinya akan diterjunkan ke masyarakat untuk pengabdian.
Pendidikan langsung atau setelah menempuh pendidikan perawat merupakan pola pendidikan bidan yang awalnya diterapkan di seluruh dunia, karena memang awalnya profesi bidan masih menjadi satu dengan profesi keperawatan setelah bidan menemukan jati dirinya yang berbeda dengan keperawatan maka pola pendidikan khusus bidan pun dikembangkan di dunia. Di mulai dari tingkat pendidikan bidan yang setara dengan diploma sampai pasca sarjana.Setiap negara sangat berharap bahwa dengan berkembangnya pendidikan bidan sampai jenjang master, maka profesionalisme dalam menjalankan praktik kebidanan juga meningkat. Hal ini tentu membuat menurunnya angka kematian ibu dan bayi serta meningkatnya status kesehatan masyarakat.Australia adalah salah satu negara yang juga menyelenggarakan pendidikan kebidanan yang bertujuan untuk meningkatkan profesionalisme bidan dalam memberikan asuhan kebidanan melalui pendidikan berjejang dan berkelanjutan sampai ke tingkat master. Pada umumnya pendidikan di Australia terpengaruh oleh model kolonialisme Inggris terhadap penerimaan bidan yang di rekrut dari perawat, walaupunpada perkembangan terakhir model ini perlahan mulai ditinggalkan dan mengarah pada pola pendidikan khusus bagi bidan.
Agar mendapatkan pengakuan dan registrasi dari pemerintah, seorang bidan harus telah menyelesaikan pendidikan yang diakui oleh pemerintah tempat bidan berada. Di negara Australia berlaku juga hal yang sama, bidan yang mendapatkan registrasi harus sudah mempunyai kualifikasi sebagai perawat umum sebelum menempuh pendidikan bidan , walaupun sudah ada beberapa bidan praktik yang terlatih sebelum program ini dicanangkan. Selama 10 tahun terakhir, pendidikan bidan di beberapa Negara bagian Australia telah berpindah dari pendidikan di rumah sakit
menjadi pendidikan di universitas. Ada yang berpindah secara keseluruhan, ada yang berpindah sebagian.Program pendidikan yang ditawarkan di universitas berupa "Graduate Diploma" dan ada pula yang berupa "Master". Program master biasanya ditempuh dengan kuliah jarak jauh atau e-learning program, sehingga peserta didik selain dapat bekerja juga dapat mengembangkan jenjang pendidikannya sampai pada master.
Calon peserta didik biasanya harus mempunyai pengalaman kerja minimal dua tahun sebelum menempuh pendidikan bidan (Astuti, 2016).
A. Kesimpulan
Dari uraian diatas dapat penulis simpulkan bahwa pelayanan bidan disetiap negara berbeda. Dengan demikian uraian tersebut kita dapat jadikan pembading dan kita pilih mengenai hal positif dan hal negatifnya dari perbedaan tersebut. Perkembangan kebidanan telah mengalami kemajuan dan mendapatkan pengakuan di setiap negara serta didukung oleh masyarakat.
Dengan adanya kemajuan tersebut, seorang bidan dituntut untuk meningkatkan kualitas pelayanan yang ditindaklanjuti dengan mendirikan jejang pendidikan yang lebih tinggi.
B. Saran
Kami menyadari bahwa makalah di atas banyak sekali kesalahan dan jauh dari kesempurnaan. Kami akan memperbaiki makalah tersebut dengan berpedoman pada banyak sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. Maka dari itu, kamu mengharapkan kritik dan saran mengenai pembahasan makalah dalam kesimpulan di atas.
41