MAKALAH PENDIDIKAN PRA SEKOLAH
“KONSEP DASAR PENDIDIKAN ANAK USIA DINI (PAUD)”
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan Prasekolah Dosen Pengampu: Dr. Muallifah, S.Psi, MA
Oleh:
1. Siti Wardania (210401110220) 2. Gumelar Sastra H (210401110034)
FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
2024
\
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT atas segala rahmat dan petunjuk-Nya yang memungkinkan kami menyelesaikan makalah berjudul “KONSEP DASAR
PENDIDIKAN ANAK USIA DINI (PAUD)”. Shalawat dan salam kami haturkan kepada Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, yang telah memberikan kita kesehatan sehingga kami dapat menyusun makalah ini dengan baik.
Penyusunan makalah ini tidak terlepas dari dukungan dan bantuan berbagai pihak.
Oleh karena itu, kami mengucapkan terima kasih kepada Ibu Dr. Muallifah, S.Psi, MA, selaku dosen mata kuliah yang telah meluangkan waktu dan memberikan bimbingan,
motivasi, serta arahan dalam proses penyusunan makalah ini. Kami juga ingin mengucapkan terima kasih kepada keluarga besar teman-teman Psikologi angkatan 2021, khususnya Kelas Pendidikan Prasekolah X, yang selalu menunjukkan semangat, kerja sama, dan kekompakan, yang membuat kami termotivasi untuk menyelesaikan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih memiliki banyak kekurangan. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan saran dan kritik dari para pembaca. Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi semua pihak, terutama dalam bidang pendidikan.
Malang, 14 Oktober 2024
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ...
DAFTAR ISI...
BAB I (PENDAHULUAN )
2.1 Latar Belakang...
2.2 Fenomena Terkait………..
2.3 Tujuan Penulis...
BAB II (LITERATUREREVIEW)...
2.1 BAB III
3.1 Kasus
3.2 Analisis Kasus BAB IV
PENUTUP...12 A. Kesimpulan ...12 B. Saran ...12 DAFTAR PUSTAKA ...
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Indonesia menunjukkan bahwa pendidikan ini memiliki peran penting dalam mendukung perkembangan anak sejak dini. Berdasarkan data dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2023, terdapat sekitar 30,2 juta anak usia dini di Indonesia, atau sekitar 10,91% dari total populasi, yang berusia 0-6 tahun.
Dari jumlah tersebut, sekitar 8,4 juta anak atau 27,38% pernah mengikuti pendidikan prasekolah, dan 76,54% di antaranya dinyatakan siap masuk pendidikan dasar. Angka ini menunjukkan bahwa pendidikan pada masa awal kehidupan memiliki dampak yang signifikan dalam mempersiapkan anak untuk jenjang pendidikan selanjutnya.
Namun, data dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) mengungkapkan bahwa akses terhadap PAUD di Indonesia masih mengalami berbagai kendala, khususnya terkait biaya dan distribusi layanan yang belum merata. Menurut Wakil Direktur Eksekutif Operasional CSIS, Medelina K. Hendytio, kebijakan pendidikan saat ini belum berhasil mengatasi hambatan akses karena biaya masih menjadi beban bagi masyarakat. Hal ini sejalan dengan pendapat Prof. Vina Adriany dari SEAMEO CECCEP, yang menyoroti bahwa mayoritas lembaga PAUD di Indonesia dikelola oleh masyarakat dan sektor swasta, sementara PAUD negeri hanya mencakup sekitar 2% dari total sekolah.
Lebih lanjut, Data Pokok Pendidikan Indonesia 2024 menunjukkan bahwa jumlah anak yang mengikuti PAUD terus meningkat, dengan total peserta didik mencapai 6.882.224 anak dan jumlah pendidik sebanyak 486.451. Peningkatan ini mengindikasikan bahwa masyarakat, khususnya orang tua, semakin memahami pentingnya pendidikan pada anak usia dini. Namun, pemerataan akses dan peningkatan jumlah PAUD negeri menjadi tantangan yang masih harus dihadapi agar semua anak usia dini di Indonesia dapat memperoleh layanan pendidikan yang layak tanpa terhalang oleh biaya dan keterbatasan akses.
Secara keseluruhan, tantangan yang dihadapi dalam penyelenggaraan PAUD ini mencerminkan perlunya peningkatan dukungan dari pemerintah dan kerja sama yang lebih erat antara sektor publik dan swasta. Dengan demikian, diharapkan seluruh anak usia dini di Indonesia dapat memperoleh hak pendidikan yang merata dan berkualitas, sehingga mereka dapat tumbuh menjadi generasi yang siap menghadapi masa depan.
1.2 Fenomena Terkait
Pendidikan pada anak usia dini memiliki peran yang sangat penting dalam proses seorang anak untuk mencapai hidup yang lebih baik di kemudian hari. Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2023 menunjukan hasil bahwa sekitar 30,2 juta atau 10.91 persen dari total penduduk di Indonesia merupakan anak usia dini yang berusia 0-6 tahun dan juga anak yang pernah menjalani pendidikan prasekolah itu mencapai 27,38 persen 8,4 juta anak, Sementara itu, jika dilihat pada indikator Angka Kesiapan Sekolah (AKS), capaiannya sekitar 76,54 persen sekitar 6.5 juta anak, artinya sekitar 3 dari 4 peserta didik yang duduk di kelas 1 SD pernah mengikuti Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)
Pada tahun ini menurut Data Pokok Pendidikan Indonesia data peserta didik di indonesia – 16 Oktober 2024 mencapai 6.882.224 dan Pendidik sebanyak 486.451 untuk Aspek Pendidikan Anak Usia Dini, artinya jumlah dari anak usia dini yang mengikuti Pendidikan Anak Usia Dini bertambah sekitar 300 ribu-an yang mana hal ini menunjukan bahwasanya Pendidikan Anak Usia Dini di Indonesia memiliki peningkatan dan juga masyarakat khusus nya orang tua sudah mengerti akan pentingnya pendidikan pada seorang anak khususnya pada anak usia dini.
Center for Strategic and International Studies (CSIS) telah melakukan penelitian mengenai kebijakan pendidikan di Indonesia pada berbagai jenjang, termasuk Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Berdasarkan hasil penelitian tersebut, ditemukan bahwa akses terhadap PAUD di Indonesia masih menghadapi kendala, terutama karena adanya biaya dan distribusi layanan yang belum merata. Wakil Direktur Eksekutif Operasional CSIS, Medelina K. Hendytio, mengungkapkan bahwa kebijakan yang diterapkan saat ini belum memberikan dampak signifikan, terutama karena keterbatasan akses yang disebabkan oleh biaya yang masih dibebankan kepada masyarakat.
Direktur Southeast Asian Ministers of Education Organization (SEAMEO) CECCEP, Prof. Vina Adriany, juga menyampaikan pandangan serupa. Menurut Prof. Vina, jumlah sekolah PAUD negeri di Indonesia masih sangat terbatas, hanya sekitar 2 persen dari total sekolah yang ada di Indonesia. Dengan demikian, mayoritas lembaga PAUD di Indonesia masih didominasi oleh partisipasi masyarakat dan sektor swasta.
1.3 Tujuan Penulisan
1. Menjelaskan definisi dan konsep dasar Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) berdasarkan berbagai sumber yang relevan.
2. Mengidentifikasi berbagai bentuk layanan PAUD di Indonesia, serta persyaratan usia dan waktu pembelajaran untuk setiap jenis layanan.
3. Menganalisis prinsip-prinsip dasar dalam pelaksanaan pembelajaran PAUD yang berorientasi pada kebutuhan dan perkembangan anak.
4. Menguraikan kendala-kendala yang dihadapi dalam penyediaan akses terhadap PAUD di Indonesia, terutama dari sisi biaya dan distribusi layanan.
5. Menjelaskan pentingnya peran masyarakat dan pemerintah dalam meningkatkan akses dan kualitas pendidikan anak usia dini di Indonesia.
6. Menggambarkan perkembangan dan peningkatan partisipasi anak usia dini dalam layanan PAUD berdasarkan data terbaru.
BAB II
LITERATURE REVIEW 2.1 Pengertian Pendidikan Anak Usia Dini
Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional:
"Pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut" (Depdiknas, 2003). Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah tahap pendidikan yang berada sebelum pendidikan dasar, yang berfokus pada pembinaan anak mulai dari lahir hingga usia enam tahun. Melalui pemberian rangsangan pendidikan, PAUD bertujuan untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan fisik serta mental anak, sehingga mereka siap untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya. PAUD ini tersedia dalam bentuk layanan formal, nonformal, maupun informal.
Menurut Peraturan No. 20/2003, pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) mencakup anak- anak berusia 0 hingga 6 tahun. Namun, berdasarkan kajian dalam bidang PAUD di berbagai negara, PAUD sering kali dilaksanakan untuk anak-anak hingga usia 8 tahun. Penyelenggaraan PAUD melalui jalur pendidikan formal biasanya berbentuk Taman Kanak-Kanak (TK) atau Raudhatul Atfal (RA) dan ditujukan untuk anak-anak berusia 4 hingga 6 tahun. Sementara itu, PAUD jalur pendidikan nonformal dapat berupa Taman Penitipan Anak (TPA) yang melayani anak berusia 0 hingga kurang dari 2 tahun, 2 hingga kurang dari 4 tahun, dan 4 hingga 6 tahun, serta program pengasuhan untuk anak berusia 0 hingga 6 tahun. Selain itu, Kelompok Bermain (KB) dan bentuk lain yang setara menyediakan program untuk anak berusia 2 hingga kurang dari 4 tahun dan 4 hingga 6 tahun. Sujiono (2009) mendefinisikan PAUD sebagai: "Suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut".
Jadi, Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah program pembinaan untuk anak dari lahir hingga enam tahun, yang bertujuan mendukung perkembangan fisik dan mental mereka agar siap untuk pendidikan selanjutnya. PAUD mencakup anak usia 0-6 tahun dan tersedia
dalam bentuk layanan formal, seperti Taman Kanak-Kanak (TK), dan nonformal, seperti Taman Penitipan Anak (TPA) dan Kelompok Bermain (KB).
2.2 Bentuk – Bentuk Layanan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)
Berdasarkan Sujiono (2009), bentuk layanan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Indonesia dapat dikelompokkan menjadi tiga jalur, yaitu formal, nonformal, dan informal.
Berikut penjelasan lebih detail mengenai masing-masing jalur:
1. Jalur Formal
Jalur formal mencakup lembaga pendidikan PAUD yang terstruktur dan diakui secara resmi oleh pemerintah. Contohnya adalah Taman Kanak-kanak (TK) dan Raudatul Athfal (RA), yang bertujuan untuk mempersiapkan anak usia 4-6 tahun dalam memasuki pendidikan dasar. Pendidikan ini dilakukan dalam kurikulum yang telah ditetapkan dan diawasi secara resmi.Waktu pembelajaran di TK atau RA adalah minimal 900 menit per minggu. Lembaga formal ini lebih menekankan pada aspek perkembangan sosial-emosional, motorik, kognitif, serta kesiapan akademik dasar, seperti pengenalan huruf dan angka secara bermain.
2. Jalur Nonformal
Jalur nonformal mencakup lembaga-lembaga seperti Kelompok Bermain (KB) dan Taman Penitipan Anak (TPA), yang menyelenggarakan pendidikan PAUD secara lebih fleksibel. Usia peserta didik di KB umumnya antara 2-4 tahun dengan waktu pembelajaran minimal 360 menit per minggu. Sedangkan TPA melayani anak usia 0-6 tahun dengan waktu minimal 120 menit per hari.Jalur nonformal ini menawarkan layanan yang lebih fleksibel, dengan kurikulum yang dapat disesuaikan untuk memenuhi kebutuhan pengasuhan dan perkembangan anak. Layanan ini sangat berguna bagi orang tua yang bekerja, sehingga anak tetap mendapatkan stimulasi pendidikan yang sesuai usianya.
3. Jalur Informal
Jalur informal berfokus pada pendidikan yang berlangsung dalam keluarga dan lingkungan sekitar anak. Pendidikan ini tidak terstruktur dalam lembaga tertentu, melainkan terjadi secara alami dalam interaksi sehari-hari antara anak dengan orang tua, anggota keluarga lain, dan lingkungan.Jalur informal sangat penting dalam mengembangkan nilai-nilai moral, etika, serta kebiasaan sosial. Orang tua dan keluarga memainkan peran utama dalam memberikan pembelajaran tentang sikap, perilaku, serta
dasar-dasar pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan dalam kehidupan sehari- hari.
Masing-masing jalur layanan PAUD memiliki tujuan yang sama, yaitu untuk mengembangkan potensi anak sejak dini, namun disesuaikan dengan kebutuhan, usia, serta lingkungan sosial anak tersebut.
2.3 PRINSIP – PRINSIP DASAR PAUD
Salah satu pilar konsep dasar PAUD adalah prinsip-prinsip pelaksanaanpembelajaran.
Terdapat tiga belas prinsip pelaksanaan pembelajaran PAUD:
1. Berorientasi Pada Kebutuhan Anak
Pembelajaran anak harus berfokus pada kebutuhan mereka. Menurut Maslow, kebutuhan manusia terbagi menjadi tujuh tingkatan yang berurutan, yaitu: kebutuhan fisik, rasa aman, kasih sayang, harga diri, pengetahuan, estetika, dan aktualisasi diri.
Bagi anak, kebutuhan utama adalah kebutuhan fisik (seperti makanan, minuman, dan pakaian). Setelah itu, mereka memerlukan rasa aman (rasa nyaman, perlindungan, dan terbebas dari bahaya). Lalu, ada kebutuhan akan kasih sayang (dipahami, dicintai, dan dihargai).Pembelajaran anak usia dini tidak seharusnya berfokus pada pencapaian akademis seperti membaca, menulis, atau berhitung, tetapi lebih pada pengembangan sikap, minat belajar, serta potensi dan kemampuan dasar mereka.
2. Pembelajaran Anak Sesuai Dengan Perkembangan Anak
Pembelajaran untuk anak usia dini perlu disesuaikan dengan tahap perkembangan mereka, baik dari segi usia maupun kebutuhan individual. Setiap anak memiliki perkembangan yang berbeda, ada yang lebih cepat dan ada yang lebih lambat.
Karena itu, guru harus memahami kebutuhan khusus atau individu dari setiap anak.
Namun, perlu juga diingat bahwa ada faktor-faktor dalam diri anak, seperti faktor genetik, yang sulit atau tidak bisa diubah. Oleh karena itu, pendidikan anak usia dini (PAUD) bertujuan untuk menyediakan lingkungan dan bimbingan belajar yang sesuai agar anak dapat berkembang sesuai dengan kapasitas genetiknya.
3. Mengembangkan Kecerdasan Majemuk
Kecerdasan anak tidak diukur dari kemampuan kognitif seperti membaca, menulis, dan berhitung (calistung), melainkan dari kematangan emosinya. Jadi, meskipun seorang anak mampu membaca, menulis, dan berhitung dengan baik, itu
tidak selalu berarti ia cerdas. Sebaliknya, stimulasi yang berlebihan pada perkembangan kognitif bisa saja mengabaikan pengembangan jenis kecerdasan lain, seperti kecerdasan linguistik, kinestetik, interpersonal, dan sebagainya.
4. Belajar Melalui Bermain
Bermain merupakan salah satu pendekatan dalam pelaksanaan pendidikan untuk anak usia dini. Dengan menggunakan strategi, metode, bahan, dan media yang menarik, permainan dapat membuat anak menikmati kegiatan belajar. Melalui permainan, anak bisa diajak untuk bereksplorasi, menemukan, dan memanfaatkan benda-benda di sekitarnya.
5. Tahapan Perkembangan Anak Usia Dini
Pembelajaran anak usia dini sebaiknya dilakukan secara bertahap, dimulai dari hal-hal yang konkret ke yang abstrak, dari konsep yang sederhana ke yang lebih kompleks, serta dari pemahaman tentang diri sendiri menuju pemahaman lingkungan sosial.
6. Anak Adalah Peserta Didik Aktif
Pembelajaran bertujuan untuk mendorong anak agar berpartisipasi secara aktif dalam proses belajar. Anak berperan sebagai subjek dan aktor utama dalam pendidikan, bukan sekadar objek. Guru bertugas menciptakan suasana dan kondisi yang memotivasi anak untuk mengambil inisiatif dan berperan aktif. Anak tidak hanya menjadi pendengar dan pengamat, melainkan pelaku utama dalam proses belajar, sementara guru berperan sebagai fasilitator dan pendamping utama.
7. Interaksi Sosial Anak
Anak sangat memerlukan interaksi, dan melalui interaksi dengan orang dewasa, orang tua, guru, serta teman sebaya, anak akan belajar. Tanpa secara khusus mempelajari bahasa, pada usia 4-5 tahun, anak sudah mampu menguasai lebih dari 14.000 kosakata.
8. Lingkungan Yang Kondusif
Lingkungan belajar harus dirancang agar menarik dan menyenangkan, dengan memperhatikan faktor keamanan dan kenyamanan yang mendukung aktivitas belajar melalui bermain. Ini berarti lingkungan belajar harus bebas dari benda tajam yang bisa membahayakan anak, serta mainan dan cat yang aman digunakan tanpa menyebabkan iritasi kulit. Pengaturan ruang yang aman juga diperlukan agar anak bisa bergerak dengan leluasa, termasuk memanjat meja dan kursi untuk mengambil mainan.
9. Merangsang Kreativitas Dan Inovasi
Pembelajaran di PAUD harus mampu merangsang kreativitas dengan tingkat inovasi yang tinggi. Proses kreativitas dan inovasi bisa dicapai melalui kegiatan-kegiatan menarik yang membangkitkan rasa ingin tahu anak, memotivasi mereka untuk berpikir kritis, serta mendorong mereka untuk menemukan hal-hal baru.
10. Mengembangkan Kecakapan Hidup
Berbagai kecakapan dilatih agar anak dapat tumbuh menjadi individu yang utuh dengan kepribadian atau akhlak yang baik, cerdas, terampil, mampu bekerja sama dengan orang lain, serta siap hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Pengembangan kecakapan hidup dapat dilakukan melalui proses pembelajaran, yang bertujuan agar anak belajar mandiri, disiplin, mampu bersosialisasi, dan memperoleh keterampilan dasar yang bermanfaat untuk kehidupannya di masa depan.
11. Memanfaatkan Potensi Lingkungan
Media dan sumber pembelajaran dapat diambil dari lingkungan sekitar atau bahan-bahan yang disiapkan oleh pendidik, termasuk bahan untuk membuat permainan edukatif. Bahan bekas yang ada di sekitar dapat dikelola secara kreatif dan diolah secara inovatif menjadi permainan edukatif yang dapat meningkatkan rasa ingin tahu anak.
12. Pembelajaran Sesuai Dengan Kondisi Sosial Budaya
Kegiatan atau pembelajaran untuk anak usia dini seharusnya disesuaikan dengan konteks sosial dan budaya tempat anak tersebut tinggal. Berbagai objek di sekitar anak, serta peristiwa dan isu menarik, dapat dijadikan tema dalam pembelajaran.
13. Stimulasi Secant Holistik
Kegiatan pembelajaran untuk anak usia dini harus bersifat terpadu dan holistik.
Anak tidak seharusnya hanya dikembangkan dalam kecerdasan tertentu, seperti IPA, matematika, atau bahasa secara terpisah, melainkan harus terintegrasi dalam satu aktivitas. Contohnya, melalui bermain air, anak dapat belajar berhitung (matematika), mengenali sifat-sifat air (IPA), menggambar (seni), dan lain-lain. Dengan cara ini, setiap permainan dapat membantu mengembangkan semua aspek kecerdasannya.
BAB III ANALISIS KASUS 3.1 Kasus
Dalam konteks Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), kami akan menganalisis sebuah kasus yang menggambarkan tantangan yang dihadapi oleh seorang anak berusia 5 tahun bernama Fira, yang mengikuti pendidikan di Taman Kanak-Kanak (TK) Aisyiyah. Fira menunjukkan ketertarikan yang besar dalam belajar, tetapi juga mengalami kesulitan dalam berinteraksi dengan teman-teman sebaya dan menunjukkan perilaku cemas saat harus tampil di depan kelas.
3.2 Analisis Kasus
1. Kebutuhan Anak :Menurut prinsip PAUD yang berorientasi pada kebutuhan anak, penting bagi pendidik untuk memahami kondisi emosional dan sosial Fira.
Kebutuhan dasar Fira, seperti rasa aman dan kasih sayang, harus dipenuhi agar dia dapat merasa nyaman di lingkungan belajar. Dalam kasus Fira, pengenalan lingkungan sosial baru di TK mungkin menjadi sumber kecemasan, sehingga dukungan dari guru dan teman-teman sangat diperlukan.
2. Perkembangan Anak: Mengacu pada prinsip bahwa pembelajaran harus sesuai dengan perkembangan anak, guru perlu menyesuaikan pendekatan pembelajaran dengan kebutuhan individual Fira. Mengingat usia Fira yang masih dini, pembelajaran harus lebih berfokus pada interaksi sosial dan perkembangan emosional, bukan hanya pada pencapaian akademis. Dengan demikian, Fira akan lebih mudah beradaptasi dan berkembang.
3. Kecerdasan Majemuk : Teori kecerdasan majemuk yang dikemukakan oleh Howard Gardner dapat diterapkan dalam analisis ini. Fira mungkin memiliki kecerdasan interpersonal yang rendah, yang menyebabkan kesulitan dalam berinteraksi. Oleh karena itu, guru bisa menggunakan metode permainan yang melibatkan kerjasama kelompok untuk membantu Fira dalam meningkatkan kemampuan sosialnya.
Dengan melakukan aktivitas kelompok yang menyenangkan, Fira akan lebih terbuka untuk berinteraksi dan belajar dari teman-temannya.
4. Belajar Melalui Bermain : Dalam konteks pembelajaran untuk Fira, bermain dapat menjadi sarana efektif untuk mengurangi kecemasan. Dengan mengintegrasikan permainan yang melibatkan interaksi sosial, guru dapat menciptakan lingkungan belajar yang lebih menyenangkan dan mengurangi rasa cemas Fira saat
berpartisipasi dalam kegiatan kelas. Misalnya, permainan seperti "bermain peran"
dapat membantu Fira untuk merasa lebih percaya diri dalam berinteraksi dengan teman-teman.
5. Tahapan Perkembangan : Berdasarkan prinsip tahapan perkembangan, penting untuk mengenali bahwa Fira masih dalam tahap perkembangan awal. Pembelajaran sebaiknya dilakukan secara bertahap, dimulai dari pengalaman konkret sebelum berpindah ke konsep yang lebih abstrak. Guru harus memberikan dukungan yang konsisten dan mengenalkan konsep baru dengan cara yang menyenangkan, sehingga Fira dapat memahami dan merespons dengan baik
Kesimpulan dari kasus Fira adalah perlunya dukungan yang tepat untuk perkembangan sosial dan emosionalnya. Fira membutuhkan perhatian, aktivitas bermain yang mendorong interaksi, serta keterlibatan orang tua. Dukungan dari guru juga krusial untuk membantunya merasa lebih percaya diri dan berpartisipasi di kelas.
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN 4.1 Kesimpulan
4.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA Badan Pusat Statistik Indonesia (2024)
Berita Kompas.com 21/03/2024 (sulitnya anak indonesia masuk PAUD karena berbayar dan tidak merata)
Depdiknas. (2003). Undang-undang RI No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional. Jakarta: Depdiknas.
Hurlock, E. B. (2013). Perkembangan Anak Jilid 1. Jakarta: Erlangga.
Morrison, G. S. (2012). Dasar-dasar Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Jakarta: Indeks.
Mulyasa, H. E. (2012). Manajemen PAUD. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Permendikbud No. 146 Tahun 2014 tentang Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini.
Permendikbud No. 146 Tahun 2014 tentang Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini.
Sujiono, Y. N. (2009). Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta: PT Indeks.
Santrock, J. W. (2007). Perkembangan Anak. Edisi ke-11. Jakarta: Erlangga.
Rahman, & Hibana S. 2002. Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini. Yogyakarta: PGTKI press
Suyanto Slamet. 2005. Dasar-dasar Pendidikan Anak Usia Dini. Yogyakarta: Hikayat Publishing
Standard Pendidikan Anak Usia Dini (PERMENDIKNAS NO.58 TAHUN 2009) Santrock, J. W. (2007). Perkembangan Anak. Edisi ke-11. Jakarta: Erlangga.
Yuliani, N. (2009). Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta: Indeks.
(rapikan ya )