• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH PERMAKULTURE

N/A
N/A
Fatahilla Ali

Academic year: 2023

Membagikan "MAKALAH PERMAKULTURE"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

Permakultur merupakan pendekatan yang telah terbukti. Semenjak Bill Mollison dan David Holmgren menerapkannya pada awal 1970-an hingga lima dekade kemudian, bukti-bukti telah terhampar. Bukti-bukti ini mendorong orang untik mempelajari dan mempraktekkan permakultur. Saat ini telah ribuan orang mempraktekkan permakultur meskipun dalam skala kecil. Dan telah banyak komunitas permakultur membentuk satu kawasan bersama yang disebut ecovillage, karena memang permakultur untuk dipraktekkan bersama, bukan hanya untuk diri sendiri atau keluarga sendiri.

Buku ini merupakan buku pengantar yang sederhana mengenai pengertian, prinsip, dan metode sederhana untuk mempraktekkan permakultur. Buku ini juga ditambahkan beberapa catatan agar kita dapat segera masuk ke alam permakultur dengan mudah. Sehingga tidak ada kata “sulit” untuk memulai dan mengubah diri kita ke dalam permakultur.

B. RUMUSAN MASALAH

Adapun rumusan masalah dalam makalah ini yang ingin diketahui adalah sebagai berikut :

1. Apa yang dimaksud dengan Permakultur ? 2. Apa prinsip – prinsip dari permakultur ? 3. Apa dampak dan manfaat dari permakultur ?

C. TUJUAN

Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah : 1. Untuk mengetahui tentang Permakultur

2. Mengetahui prinsip – prinsip dari Permakultur 3. Untuk mengetahui dampak dan manfaatnya

(2)

BAB II PEMBAHASAN A. PERMAKULTUR

Bersamaan dengan isu-isu lingkungan yang semakin mendapat perhatian dalam beberapa tahun terakhir, istilah permakultur bisa jadi semakin tidak asing di telinga kita sekarang, meskipun konsep permakultur itu sendiri sudah ada sejak lama.

Faktanya, kata “permakultur” dirumuskan oleh Bill Mollison dan David Holmgren di pertengahan tahun 1970. Saat itu, pengertian permakultur didefinisikan sebagai “Sebuah sistem terintegrasi dan kian berevolusi yang terdiri dari spesies tanaman dan hewan yang hidupnya tahan lama (awet) dan berguna untuk umat manusia “

Akan tetapi, definisi atau arti permakultur yang lebih baru juga bisa dirumuskan sebagai “lanskap yang dirancang secara sadar, yang mampu menirukan pola dan interaksi yang ada di alam, sembari menghasilkan makanan, serat, dan energi untuk pemenuhan kebutuhan (masyarakat) lokal”. Dengan kata lain, permakultur adalah rancangan dari ekosistem agrikultur yang produktif dan memiliki keberagaman, stabilitas, dan ketahanan layaknya ekosistem alam.

Permakultur mengintegrasikan tanah, sumber daya, manusia, serta lingkungan dalam relasi sinergi yang saling menguntungkan. Konsep utamanya ialah untuk menciptakan lanskap yang mampu mensimulasi lingkungan alam, terutama dalam hal bagaimana alam membentuk siklus yang melingkar dan tertutup, sehingga tidak ada sampah yang dihasilkan, sembari menghasilkan sesuatu yang berguna untuk manusia.

Disiplin ilmu permakultur didasarkan pada observasi mengenai apa yang membuat sistem alam bekerja dan tahan lama, kemudian merumuskan prinsip yang sederhana dan efektif, dan pada akhirnya mengaplikasikan prinsip tersebut untuk mereplika alam dalam segala hal yang kita buat, mulai dari taman, kebun, bangunan, komunitas, dan bahkan kota atau perkotaan.

Mengutip ada yang Maddy Harland tulis dalam permaculture.co.uk, “Yang membuat permakultur sebagai rancangan sistem berbeda daripada yang lain terletak pada kemampuannya untuk mengintegrasikan aspek intelektualitas dan etika.

Permakultur bisa mengajarkan kita untuk berpikir dengan hati dan merespon dengan pikiran.”

(3)

Etika Permakultur

Tiga etika permakultur, diambil dari buku Essence of Permaculture oleh David Holmgren 1. Earth Care (Merawat Bumi)

Prinsip dasar dari etika ini ialah untuk merawat dan menjaga alam, baik tanahnya, airnya, iklim, maupun aspek-aspek lain.

Meski begitu, visi yang awalnya bertujuan untuk menjaga dan merawat semua makhluk hidup maupun benda mati kini berkembang dan turut mengakomodir pemahaman yang komprehensif dan mendalam tentang keputusan-keputusan yang dibuat manusia dalam kesehariannya. Keputusan-keputusan itu sebagian besar berkaitan dengan pola konsumsi manusia, seperti pakaian yang kita pakai dan makanan yang kita santap.Bukan, permakultur tidak mengharuskan setiap orang untuk menanam bahan makanannya sendiri dan membangun rumpah impian kita sendiri, akan tetapi penting untuk diingat bahwa kita memiliki tanggung jawab sekaligus kekuatan sebagai konsumen/pembeli. Oleh karena itu, gunakan kekuatan itu dengan baik dan jadilah konsumen yang bijak.

2. People Care (Merawat Individu dan Komunitas)

Prinsip ini menekankan bahwa kebutuhan dasar manusia harus dipenuhi, mulai dari makanan, tempat berlindung, pendidikan, pekerjaan, serta hubungan antar manusia yang sehat.

Selain itu, setelah selesai dengan urusan memenuhi kebutuhan hidup dasar, fokus selanjutnya ialah untuk mewujudkan dan memberdayakan kekuatan dari komunitas.

Jika satu individu saja bisa melakukan perubahan, maka bayangkan perubahan lebih besar apa lagi yang mampu dicapai oleh sebuah komunitas masyarakat yang kuat dan berdaya. Baik di daerah perkotaan maupun pedesaan, seseorang bisa merasakan keuntungan dari memberdayakan dan memberikan

(4)

kembali untuk komunitas lokal mereka. Layaknya tetangga yang saling membantu satu sama lain, komunitas yang kuat bisa menjadi awal mula transformasi sosial yang dimulai dari gerakan-gerakan akar rumput.

3.

Fair Share (Pembagian yang Adil)

Etika yang terakhir dan tidak kalah penting berkaitan dengan pemahaman bahwa kita hanya memiliki satu bumi, dan kita harus berbagi ruang hidup yang hanya satu ini dengan semua makhluk hidup yang tinggal di dalamnya, sekaligus untuk generasi mendatang.

Dengan kata lain, tidak cukup jika kita hanya merancang ruang atau lanskap yang menguntungkan diri sendiri dan komunitas kita, sementara di bagian dunia lain masih banyak orang-orang yang harus berjuang memenuhi kebutuhan dasar dan hak hidup mereka, seperti misalnya air bersih, tempat berlindung, dll.

Kenyataan pahit yang harus kita terima sekarang adalah bahwa negara- negara maju menggunakan sumber daya yang setara dengan 3 bumi!

Sementara di sisi lain, banyak negara-negara berkembang yang masih harus bergumul dengan kelaparan dan kemiskinan.

Hal inilah yang ingin diangkat oleh etika Fair Shares: bahwa ada disparitas dan ketidakmerataan yang mendalam di antara masyarakat dunia, yang kemudian menuntut kita untuk membatasi konsumsi (terutama sumber daya alam) di negara-negara maju

Permakultur menolak secara mendasar model pertumbuhan industri dari negara-negara maju dan bercita-cita untuk merancang sistem yang lebih merata dan adil, yang turut mempertimbangkan batasan-batasan planet dan kebutuhan seluruh makhluk hidup di dalamnya.

B. PRINSIP DALAM PERMAKULTUR

David Holmgren (salah satu pondasi Permakultur) dalam bukunya Permaculture:

Principles and Pathways Beyond Sustainability membahas mendalam mengenai 12 prinsip permakultur yaitu:

1. Pengamatan dan Interaksi

“Beauty is in the eye of the beholder”

(5)

Pengamatan adalah pintu permakultur. Mengembangkan kemampuan pengamatan adalah esensial jika kita menginginkan sebuah desain permakultur yang benar- benar berfungsi dengan baik.

Dengan mengamati pola alam dan sosial, kita dapat menggunakannya dalam karya desain – berkaitan dengan falsafah Fukuoka ‘bekerja dengan alam, bukan melawan alam’. Kita perlu tahu bagaimana alam ini bekerja jika ingin bekerja bersama alam.

Seringkali kita bekerja dengan sistem yang kompleks – meskipun hanya sebuah kebun kecil tapi sebetulnya dapat sangat beragam dengan pelbagai interaksi – prinsip ini menyarankan agar kita melakukan pengamatan dengan seksama dan terus menerus, dan terus mengamati hasil intervensi kita. Dengan demikian kita dapat mengubah, berhenti, melanjutkan, tergantung pada hasil, tanpa harus mengakibatkan banyak masalah.

Faktanya, “kegagalan”, merupakan sarana terbaik untuk belajar! Dan belajar merupakan titik kunci. Prinsip ini mengingatkan bahwa permakultur adalah mengenai belajar. Permakultur menggunakan cara belajar aktif yang bekerja dengan tahapan-tahapan:

1. Kita menentukan satu masalah, isu atau tantangan;

2. Kemudian menentukan pilihan aksi yang realistis;

3. Lakukan tindakan terbaik dalam beraksi;

4. Amati hasilnya;

5. Refleksikan apa yang sudah dilakukan sebagai pelajaran;

6. Kembali menentukan kembali masalah, tantangan atau isu, dan memulai kembali fase belajar.

Dengan hanya mengamati saja, tidak akan ada sesuatupun yang terjadi. Dan hanya bertindak hanya menjadikan masalah semakin besar. Kita memerlukan keseimbangan antara pengamatan dan tindakan.

2. Tangkap dan Simpan Energi

“Make hay while the sun shines”

Prinsip ini tentang bagaimana menangkap dan menyimpan energi, di dalam lingkungan, bangunan dan bahkan masyarakat. Bayangkan sebuah saldo deposito bank, bagaimana kita berinvestasi secara seksama agar modal berkembang, dan bukan bagaimana menikmati bunga deposito semata. Hanya saja energi alam seringkali merupakan investasi alam yang kita terima dengan rasa syukur.

(6)

Energi yang luar biasa melimpah adalah dari matahari yang ditangkap oleh tanaman yang dengan cara cerdas mengubah foton menjadi karbohidrat kompleks. Cara luar biasa inilah yang ikut menjaga seluruh ekosistem bumi. Kita perlu membangun kembali sebuah ‘investasi alami’ dalam rangka membuat basis masyarakat berkelanjutan dan jangka panjang.

MENYIMPAN ENERGI DI DALAM LANSKAP

Sebagai desainer permakultur kita mengatur lanskap agar maksimal dalam menangkap energi. Terutama dengan cara banyak menanam dan memelihara area ‘biomassa‘ – semua jenis kehidupan – terutama tanaman, biasanya pohon, kebun hutan, kolam, dll. Jika memungkinkan adalah mencari cara agar sistem tanaman juga berkontribusi pada pembentukan tanah dalam yang sehat. Tanah dalam, sebagai penyimpan energi, akan menjadi tempat hidup tanaman yang baik, mempertahankan air hujan, dan juga memiliki peran yang sangat besar bagi penyimpanan karbon.

Dengan desain kita dapat merancang, merencanakan dan memutuskan bagaimana energi dapat ditangkap dan menyimpannya ke dalam kolam, penampungan air, dan

reservoir yang juga dapat memberikan nilai lebih.

Menangkap dan menyimpan energi dalam bangunan lingkungan kita

Kita juga dapat mendesain bangunan yang menangkap energi. Teknik tenaga surya pasif dapat digunakan di genting atap untuk menyediakan pencahayaan di dalam rumah. Sebuah teknologi surya aktif seperti panel atau pemanas surya dapat menangkap energi matahari dan menyimpannya dalam air atau ke dalam batere.

KITA JUGA DAPAT MENYIMPAN ENERGI DI DALAM RUMAH

Sebagai contohnya adalah kita menyimpan sayuran dan buah-buahan, atau difermentasi, simpanan kayu bakar dan arang, berbagai benih tanaman dalam kotak penyimpanan untuk ditanam di musim berikutnya.

3. Mendapatkan Hasil Panen

“You can’t work on an empty stomach”

Prinsip ini merupakan keharusan. Pastikanlah setiap kali kita mendesain rumah, taman, kebun atau sekolah, mesti termasuk di dalamnya unsur-unsur yang memberikan hasil panen yang terukur. Panen dapat berupa pangan, serat atau bahan bakar, bahkan keindahan, ketenangan batin, bau sedap, dll. Tidak mungkin kita

(7)

membangun lingkungan yang hanya menyediakan makanan saja, juga tidak mungkin selalu membeli pangan dari luar terus menerus, dengan melewati kebun yang hanya dirancang sebagai ornamen dan hiasan semata.

Permakultur menekankan kemandirian dan ketidaktergantungan – kemampuan untuk menyediakan sendiri kebutuhan kita dari sumberdaya yang ada, apapun kondisi kita. Di sebuah lingkungan rumah susun yang padat, kita dapat menanam slada di dalam pot di jendela, dan tetangga bisa menanam tanaman lain agar dapat bertukar dengan slada kita. Kita tidak dapat bergantung hanya pada sistem pangan global, atau selalu berharap ada cadangan minyak bumi bagi kendaraan kita sehingga kita bisa pergi berbelanja.

Permakultur menekankan penggunaan tanaman yang multifungsi – makanan atau energi, obat, serat, getah, – dan tidak hanya hal-hal yang itu-itu saja, juga fungsi keindahan, kesegaran mata, terapi aroma, kenyamanan dll yang merupakan panen yang bisa kita dapatkan dalam bentuk lain.

Panen merupakan proses kreatif dan bukan “sekali proses panen”. Panen adalah pendekatan bagaimana rumah dan semua lanskap memberikan hasil maksimal, penuh keberkahan. Dan kita didorong semakin kreatif lagi dengan melakukan perbaikan, menambah spesies di celah yang ada, memperkaya sistem, menjadi semakin kompleks dan beragam, dan semakin melimpah panennya.

Dengan hasil panen, semakin hari ketergantungan kita semakin berkurang. Dan kita semakin bisa berbagi dengan yang lain dan semakin mungkin memberikan kembali kepada alam dengan lahan yang sedikit sekalipun.

4. Menerapkan Sistem Swatata dan Menerima Umpan Balik

“We reap what we sow”

Prinsip ini berkaitan dengan aspek swatata dan swakelola alam, yang dalam permakultur akan membatasi tindakan yang dianggap tidak layak atau perilaku melanggar adab. Salah satu contoh adalah adab yang mengatur desainer dan praktisi untuk tidak mengkonsumsi kecuali yang dihasilkan kebun dan kebun sekitar (lokal).

Sistem swarawat juga merupakan ‘penjaga kemurnian’ dalam permakultur. Hal ini dapat dilihat dengan dalam desain kebun hutan, di mana kerja diminimalkan dengan penanaman selimut bumi (ground cover) yang mengurangi gulma, memperbaiki nitrogen menggantikan pupuk dan tanaman perennial yang berkembangbiak

(8)

mandiri (self-seeding plants) untuk mengurangi tanaman bulanan atau musiman yang berumur pendek. Ini merupakan kerja bertahap.

5. Menggunakan dan Menghargai Sumberdaya dan Layanan Terbarukan

“Let nature take its course”

Desain permakultur bertujuan menggunakan sumberdaya terbarukan dengan cara terbaik, untuk menciptakan, mengelola dan merawat sistem panen, agar sistem menjadi stabil dan berumur panjang.

Sebagai masyarakat kita mesti menghargai dengan tinggi ‘layanan ekosistem’

seperti pemurnian air. Saat ini kita telah merusak ekosistem alam yang bisa didapat kembali dengan ribuan tahun perbaikan. Oleh karena itu hargailah upaya perbaikan alam.

Permakultur menggunakan proses alamiah dan perilaku binatang sebagai bagian dari desain. Contohnya traktor ayam digunakan sebagai cara mempercepat membuat tanah subur.

Angin, matahari, gelombang laut merupakan kunci bagi sumberdaya terbarukan yang akan membantu kita mendesain keberlanjutan. Membentuk kembali hutan dan tanah merupakan dua tindakan sangat penting di abad ini.

6. Tanpa Sampah

“Waste not want not”, “A stitch in time saves nine”

Sampah merupakan output yang tidak digunakan. Apabila ada sebuah output tidak dimanfaatkan atau tidak dapat dimanfaatkan, atau berbahaya, sebaiknya kita tidak memproduksinya.

Permakultur bertujuan membangun koneksi input dan output dari berbagai unsur- unsur sebagai bagian-bagian. Unsur-unsur dapat bertemu dan bekerja sama memberikan kebutuhan bagi satu sama lain. Sebagai contoh, jika kita mengumpulkan sisa makanan dapur, dan memasukkan ke kotak kompos, Kita dapat membuat kompos yang nanti digunakan di kebun untuk menanam sayuran yang dapat kita makan, dan hasil-hasil lain (tanah subur, aneka ragam tanaman, banyak cacing). Artinya sisa makanan bukanlah sampah. Bandingkan jika sisa makanan tadi dibuang di tempat penampungan sampah, akan memproduksi metana yang mempolusi udara, juga polusi bau, memerlukan energi untuk mengangkutnya ke tempat pembuangan, mengurangi kemungkinan mendapat sayuran segar dari kebun, atau harus membeli sayur dari tempat lain, dll.

(9)

Perawatan yang baik dan membeli alat berkualitas dan berusia panjang juga merupakan cara mengurangi sampah dan tingkat konsumsi.

Jadi istilah “rethink, refuse, reduce, reuse, repair, recycle” dapat ditambahkan dengan istilah “re-design” di sini pula, di mana pendekatan cradle-to- cradle digunakan permakultur secara baik.

7. Desain dengan Pola sampai Detil

“Can’t see the woods for the trees”

Pola yang ditemukan di alam merupakan sumber inspirasi bagi permakultur.

‘Berpikir pola’ dapat digunakan dalam situasi yang beranekaragam, tidak seperti teknik khusus yang hanya dapat diterapkan hanya pada situasi tertentu saja.

Permakultur bermaksud membantu kita memikirkan mengenai keseluruhan pola bagi semua metode dan beraneka desain. Kita melihatnya dari pola sebagai

‘gambaran besar’ terlebih dahulu. Berpikir gambaran besar, semuanya berkaitan dengan apa yang ingin kita capai, di mana etika ada di dalamnya.

Zonasi merupakan contoh yang baik bagaimana metode desain digunakan untuk menerapkan pola di semua tempat dan memastikan bahwa semuanya didesain menjadi efisien. Analisis sektor merupakan metode desain lain untuk melihat bagaimana energi (matahari, angin, kehidupan liar, dll) mengalir ke dalam lanskap.

Kedua metode ini merupakan alat yang dapat membantu kita membentuk dan memulai desain, sebelum kita masuk ke dalam detail. Ketika mendesain sangatlah penting untuk memahami pola-pola lokal atau regional, di antaranya:

 · Tipe lanskap, terutama hidrologi

 · Geologi yang ada di dalamnya

 · Keanekaragaman hayati lokal dan habitat umum

 · Pola sosial dan budaya – tradisi, norma dan nilai-nilai 8. Menyatukan bukan Memisahkan

“Many hands make light work”

Salah satu ilham terpenting dari ekologi adalah kesalingberkaitan dan hubungan penuh manfaat antara satu dengan yang lain. Sebuah ekosistem yang sehat adalah luasnya koneksi-koneksi dan hunungan antara unsur-unsur. Oleh karena itu, dalam permakultur kita menciptakan sistem yang saling kait mengait.

(10)

Permakultur berusaha mengintegrasikan unsur-unsur sehingga kebutuhan satu unsur diberikan oleh unsur yang lain. Lebih jelaskan akan dijabarkan sebagai berikut:

SETIAP FUNGSI PENTING DITOPANG OLEH BEBERAPA UNSUR YANG BEKERJA SAMA

Gambarannya seperti menu makanan untuk rumah yang bisa disediakan oleh beberapa ragam tanaman, sayuran, bumbu, buah, daging, ikan, dll., yang menjadi kombinasi menu dan resep. Apabila satu bagian dari menu tidak ada, maka kesempurnaan hidangan tidak akan tercapai. Daya tahan sistem akan meningkat seiring dengan banyaknya unsur yang menopang fungsi, dan dengan demikian kemungkinan gagal atau rusak berkurang.

SETIAP UNSUR MEMBERIKAN BANYAK FUNGSI

Banyak sekali sistem industrial konvensional yang melihat unsur hanya sebelah mata, atau satu fungsi saja. Ayam misalnya hanya dipandang sebagai daging saja, atau telur saja, bahkan dipisahkan spesiesnya untuk hanya memberikan satu fungsi.

Fungsi tunggal ini pada akhirnya akan ditopang oleh sumber daya keuangan dan input yang besar. Dalam sebuah sistem permakultur kita berusaha mendayagunakan semua atau berbagai fungsi dan hasil panen dari sebuah elemen. Misalnya ayam dapat membantu kendali hama, menyangkul, membasmi gulma, memberikan daging, bulu, telur, panas dari tubuhnya, untuk meningkatkan lebih banyak panen dan menciptakan sistem yang terintegrasi.

LOKASI BERHUBUNGAN

Agar diperoleh koneksi yang baik antara bagian-bagian sistem yang berbeda, adalah penting untuk menempatkan unsur sedemikian rupa sehingga mereka dapat berperan optimal. Sebagai contoh adalah tandon penampung air hujan biasanya diletakkan di bagian bawah talang air dari rumah, atau kandang ayam diletakkan di dekat bedengan sayuran yang sering dicangkul dan dikendalikan hamanya, atau bumbu-bumbuan yang ditanam dekat pintu dapur sehingga mudah dipetik kapan saja!

9. Gunakan Solusi Sederhana dan Lambat

“The bigger they are the harder they fall”, “Slow and steady wins the race”

(11)

Hal ini mengingatkan kita bahwa sistem semestinya didesain untuk memberikan fungsi dengan skala terkecil yang praktis dan efisien energi (daripada sistem yang besar). Dalam beberapa hal ini tergantung pada penilaian kemampuan kita sendiri.

Permakultur menyarankan skala kecil dan lokal daripada skala besar dan global.

Prinsip ini digambarkan sebagai konsep ‘skala manusia’ atau “Kecil itu Indah”

dalam bahasa E.F. Schumacher.

Solusi skala kecil dan aktivitas sederhana lebih mungkin diadaptasikan dengan keperluan lokal, lebih dapat menghargai alam dan dapat untuk melihat konsekuensi dari tindakan. Kita menemukan istilah-istilah senada seperti slow food, slow city dan slow down! Perubahan bertahap lebih dapat diamati, dipahami dan dimonitor.

Konsep ini disebut “Golden Rules” oleh Bill Mollison. Aa Gym mengatakan,

“Mulai dari kecil, mulai dari sekarang.” Dapat dikendalikan dan kemudian perlahan berkembang – atau dengan perkataan lain, jangan ambil terlalu banyak dan terlalu cepat, kita akan kelelahan.

10. Gunakan dan Hargai Keanekaragaman

“Don’t put all your eggs in one basket”

Keanekaragaman merupakan esensi indahnya kehidupan. Merawat dan meningkatkan keanekaragaman dari ekosistem yang ada juga merupakan kegiatan esensial karena beberapa alasan.

Di manapun, dalam desain, kita selalu memasukkan kawasan ‘Zona 5’ yang tidak diapa-apakan, di mana alam bekerja dengan sendirinya. Di sinilah keanekaragaman acak akan berkembang.

Desain permakultur mestilah mempertimbangkan berbagai varietas tanaman, binatang dan beragam pendekatan-pendekatan. Hal ini bukan karena ingin beragam saja, atau jadi semacam “asuransi” kalau tidak hidup yang ini, akan hidup yang lainnya. Bahkan di dalam semak-semak akan kita temukan keanekaragaman berbagai varietas. Polikultur (sistem pertanian dengan banyak jenis tanaman), sekarang terbukti lebih produktif secara keseluruhan dan lebih tahan terhadap cuaca, hama, dan macam-macam faktor dibandingkan monokultur (sistem pertanian dengan satu jenis tanaman).

Keanekaragaman tanaman juga menjadi kunci dari teknik yang dikenal sebagai

‘pengendalian hama terpadu’. Demikian pula keanekaragaman desainer atau

(12)

manusia juga menjadi kunci bagi kreativitas dan sebuah getaran vibrasi, sebuah tatanan sosial yang sehat.

11. Gunakan Tepian dan Hargai Marginal

“Don’t’ think you are on the right track just because it is a well beaten path”

Tempat di mana dua ekosistem atau dua habitat bertemu biasanya lebih produktif dan kaya dengan spesies-spesies yang hadir sebagai habitat tersendiri atau habitat dari kedua sistem yang bertemu tersebut. Dalam ekologi disebut ‘nada alam’ atau

ecotone‘. Jika bit produktif dari hutan adalah tepian, maka didesain agar memiliki tepian yang lebih banyak. Kita dapat mendesain dengan tanaman-tanaman aliansi (alley cropping), sabuk naungan (shelterbelts) dan desain kolam. Marginal dapat berupa gagasan-gagasan, pandangan-pandangan, tanaman yang tidak lazim, binatang liar atau orang yang berbeda sehingga menjadi ‘masyarakat tepian’.

Permakultur itu sendiri merupakan konsep marginal selama puluhan tahun…

12. Penggunaan Kreatif dan Tanggap akan Perubahan

“Vision is not seeing things as they are, but as they will be”

Kita tahu segala sesuatu berubah – lebih cepat daripada kita duga. Perubahan iklim, suplai minyak bumi, habisnya sumberdaya, pertumbuhan penduduk, perkembangan teknologi, pertumbuhan dan krisis ekonomi (economic booms and busts). Sebagian menjadi tantangan di luar kendali kita. Namun demikian, pertimbangan kita akan hal tersebut, dan bagaimana kita bereaksi, sebagai individu, kelompok, organisasi dan jaringan, itulah yang dapat kita kelola.

Untaian dari prinsip ini adalah perencanaan dan proses mendesain yang memperhatikan perubahan. Sebagai contoh, perubahan musim tahunan, perubahan suhu malam dan siang, perubahan cuaca yang dapat diantisipasi, perubahan bentuk dan pertumbuhan tanaman, yang masuk di dalam desain, rencana pengelolaan dan rencana aksi. Bagaimana ekosistem berubah bersama waktu – dalam ekologi ini disebut ‘suksesi’ yang juga dapat diprediksi dan dirancang, meskipun tidak semuanya. Dengan memahami bagaimana ekosistem berubah bersama waktu, kita dapat mempercepat proses dan mengkreasikan produktivitas ekosistem lebih cepat daripada proses alamiah. Kebun hutan merupakan contoh; di mana semua lapisan hutan dimasukkan sebagai satu kesatuan dalam waktu, ketimbang menunggunya selama bertahun-tahun.

(13)

Demikian pula terdapat banyak metode dalam perubahan sosial, pengembangan organisasi dan keterlibatan komunitas yang dapat kita berdayakan untuk membantu kelompok-kelompok bekerja bersama dan bekerjasama secara gotong royong (collectively) merencanakan perubahan. Bekerja bersama orang-orang merupakan kegiatan yang sama pentingnya, sebagaimana bekerja dengan tanaman (di mana semestinya lebih mudah!)

C. DAMPAK DAN MANFAAT

Istilahnya, permakultur (permaculture) merupakan cabang ilmu desain dan teknik ekologis yang mengembangkan pengolahan lahan, arsitektur berkelanjutan, dan sistem pertanian swadaya berdasarkan ekosistem alam (Hemenway, 2009).

Permakultur berasal dari kata dari “permanent agriculture” atau pertanian permanen, tetapi kemudian disesuaikan menjadi “permanent culture” atau budaya permanen untuk memenuhi aspek-aspek sosial masyarakat lokal. Kegiatan yang diterapkan dalam permakultur meliputi pengelolaan sumber daya air terintegrasi yang mengembangkan arsitektur berkelanjutan. Selain itu untuk mengelola habitat dan sistem pertanian regeneratif yang terpelihara dengan model dari ekosistem alam.

Sebagai sebuah sistem pertanian yang berkelanjutan, permakultur tentu memiliki dampak dan manfaat bagi pertanian di Indonesia. Penerapan permakultur dapat menjadi solusi bagi petani untuk perlahan-lahan meninggalkan pola tanam monokultur. Dengan berbagai praktik permakultur, seperti wanatani, petani dapat menanam berbagai tumbuhan pertanian dan memperoleh bahan pangan yang bervariasi tanpa menyebabkan kerusakan lingkungan. Selain itu, penerapan permakultur dapat membantu petani untuk mencegah OPT dan mempertahankan kesejahteraan apabila harga bahan pangan tertentu jatuh di pasar.

Penggunaan bahan-bahan organik dalam permakultur terbukti meningkatkan kesuburan tanah dan kemampuan tanah untuk menyerap dan menahan air (Didarali

& Gambiza, 2019). Permakultur dapat memperkuat struktur tanah, meningkatkan infiltrasi air dan kapasitas retensi. Oleh karena itu, permakultur dapat mengurangi resiko kekeringan dan mengurangi biaya yang perlu dikeluarkan oleh petani karena mereka tidak perlu menggunakan air dari PDAM.

(14)

Pelaksanaan permakultur dapat meningkatkan ketahanan pangan nasional dan memberikan kesempatan bagi petani untuk memperoleh bahan makanan mereka sendiri tanpa perlu mengeluarkan biaya lagi (Didarali & Gambiza, 2019). Melalui permakultur, petani dapat mengurangi biaya yang perlu mereka keluarkan untuk memperoleh bahan pangan. Bahan pangan dari hasil permakultur juga terbukti memiliki lebih banyak nutrisi, sehingga bermanfaat bagi kesehatan para petani maupun konsumen yang membeli bahan pangan dari petani tersebut.

Bagi para seseorang yang ingin bertani secara mandiri, secara mudah dapat diterapkan, tanpa perlu mengeluarkan biaya yang begitu banyak Salah satu keuntungan ekonomi dari penerapan permakultur adalah petani di kemudian hari tidak perlu mengeluarkan banyak biaya untuk memperbaiki lahan atau membeli bahan pangan karena sistem pertanian permakultur adalah sesuatu yang berkelanjutan. Sistem pertanian permakultur mampu menuat interaksi antar tumbuh-tumbuh dengan ekosistemnya. Hal tersebut dapat mendukung satu sama lain dalam jangka waktu yang panjang. Sehingga, petani tidak perlu melalui berbagai kesulitan untuk mengurus pertanian permakultur. Selain itu, permakultur bisa diterapkan pada tumbuh-tumbuhan di kebun rumah seperti buah-buahan, sehingga masyarakat di Indonesia tidak perlu menjadi petani yang memiliki ladang besar untuk menerapkan permakultur.

Penerapan permakultur pada lahan pertanian dapat membantu meningkatkan ketahanan lingkungan terhadap perubahan iklim dan pemanasan global. Dengan permakultur, petani dapat mengurangi penggunaan pestisida yang berbahaya bagi kesehatan manusia, serta hewan liar atau binatang ternak yang memakan hasil pertanian. Parmakultur juga mampu mencegah pemanasan global karena konsep pelastarian alam dengan menanam berbagai tumbuh-tumbuhan serta menyuburkan lahan-lahan yang kritis akibat kerusakan lingkungan. Selain itu, penerapan permakultur memampukan manusia untuk mendaur ulang segala sumber daya alam yang ada, sehingga mencegah pemborosan dan pencemaran lingkungan. (Bambang Parlupi/Juli 2021)

(15)

BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN A. KESIMPULAN

Intinya mengubah diri kita menjadi berkelanjutan itu tidak sulit, dan dapat dilakukan dengan langkah sederhana. Menerapkan permakultur tidak harus di lahan yang luas, atau area yang besar. Kita dapat memulai permakultur dari dalam diri kita sendiri dulu. Dan sebetulnya memang memulai permakultur dari zona 0, yaitu diri kita sendiri. Ubahlah cara kita memandang sesuatu, cara berpikir kita, dan perbaiki diri kita dari makanan, gaya hidup, dll.

B. SARAN

Tentunya terhadap penulis sudah menyadari jika dalam penyusunan makalah di atas masih banyak ada kesalahan serta jauh dari kata sempurna.

Adapun nantinya penulis akan segera melakukan perbaikan susunan makalah itu dengan menggunakan pedoman dari beberapa sumber dan kritik yang bisa membangun dari para pembaca.

(16)

DAFTAR PUSTAKA

https://www.permaculture.co.uk/articles/what-permaculture-part-1-ethics

https://bumilangitinstitute.wordpress.com/2015/05/27/prinsip-permakultur/

https://www.flamboyanasri.com/2019/06/12-prinsip-desain-dalam-permakultur-dan.html https://waste4change.com/blog/permakultur/

https://www.pustakaborneo.org/berita/seputar-pembangunan-berkelanjutan/dampak-dan- manfaat-permakultur.html#gsc.tab=0

https://www.jardineriaon.com/id/permacultura.html

(17)

KATA PENGANTAR

Puji syukur diucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa. atas segala rahmat-Nya sehingga makalah ini dapat tersusun sampai selesai. Tidak lupa kami mengucapkan terima kasih terhadap bantuan dari pihak yang telah berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik pikiran maupun materi.

Penulis sangat berharap semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi pembaca. Bahkan kami berharap lebih jauh lagi agar makalah ini bisa pembaca praktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi kami sebagai penyusun merasa bahwa masih banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini karena keterbatasan pengetahuan dan pengalaman kami. Untuk itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Penulis

(18)

DAFTAR ISI

Halaman Judul ...

Kata Pengantar ... ii Daftar Isi ... iii BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ... 1 B. Rumusan Masalah ... 1 C. Tujuan ... 1 BAB II PEMBAHASAN

A. Permakultur ... 2 B. Prinsip – Prinsip Primakultur ... 4 C. Dampak dan Manfaat ... 13 BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan ... 15 B. Saran ... 15 Daftar Pustaka ... 16

(19)

MAKALAH PERMAKULTUR

OLEH :

NAMA : PRISKILA NOVITA WANIMBO NIM : 2022 0510 64063

JURUSAN : FARMASI

FAKULTAS : MATEMATIKA dan ILMU PENGETAHUAN ALAM

(20)

Referensi

Dokumen terkait

Jika ditinjau dari segi ekonomi, daun sirih banyak terdapat didaerah tersebut sehingga tidak perlu mengeluarkan biaya yang mahal untuk membeli obat-obatan

PENERAPAN AZAS SEDERHANA, CEPAT DAN BIAYA RINGAN DALAM PEMERIKSAAN PERKARA PERDATA MELALUI MEDIASI.. BERDASARKAN

Analisis ekonomi menunjukkan perolehan keuntungan yang signifikan dalam penerapan pertanian organik dan penggunaan agen hayati dapat menekan biaya produksi hingga

Saluran 4 mengeluarkan biaya fungsional yang paling rendah dapat dikarenakan pada miniplant Tuban pemilik miniplant tidak perlu mengeluarkan biaya transportasi

Penerapan strategi juga perlu diterapkan karena dengan adanya strategi penyampaian dalam dakwah lebih mudah dipahami oleh masyarakat dan masyarakat bisa mengerti apa

oleh pemegang saham karena manajer mengeluarkan biaya yang akan menambah.. biaya perusahaan yang akan menurukan keuntungan perusahaan dan

Analisis ekonomi menunjukkan perolehan keuntungan yang signifikan dalam penerapan pertanian organik dan penggunaan agen hayati dapat menekan biaya produksi hingga

Diduga status sosial ekonomi ( umur, pendidikan formal, jumlah tanggungan, pengalaman bertani, luas lahan, dan pendapatan), sifat inovasi (keuntungan relatif,