• Tidak ada hasil yang ditemukan

Makalah PIKM Kel 4

N/A
N/A
36 - Zalfaa Naila Afifah

Academic year: 2025

Membagikan "Makalah PIKM Kel 4"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH PENGANTAR ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

“Analisis Permasalahan Kesehatan Mental di Indonesia: Faktor Penyebab, Dampak, dan Upaya Pencegahan”

Dosen Pengampu:

Dr. Santi Martini, dr., M.Kes

Disusun oleh:

Kelompok 4

1. Daniel Brian Nainggolan (194241036) 2. Rahmadi Septatiana (194241023) 3. Raidah Raqiqah (194241024) 4. Zalfaa Naila Afifah (194241034)

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT

FAKULTAS ILMU KESEHATAN, KEDOKTERAN, DAN ILMU ALAM UNIVERSITAS AIRLANGGA

2025

(2)

KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur kami ucapkan kehadirat Allah SWT karena berkat dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Tidak lupa shalawat serta salam kita limpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW. Tujuan penyusunan makalah ini adalah untuk melengkapi penugasan pada mata kuliah Pengantar Ilmu Kesehatan Masyarakat.

Pada kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Dr. Santi Martini, dr., M.Kes selaku dosen pengampu mata kuliah Pengantar Ilmu Kesehatan Masyarakat yang telah memberikan tugas kepada kami. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang sudah turut membantu dalam pembuatan makalah ini.

Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna dan merupakan langkah awal yang baik dari studi yang sebenarnya. oleh karena itu, keterbatasan waktu dan kemampuan kami, maka kritik dan saran yang membangun senantiasa kami harpakan guna untuk memperbaiki makalah ini. Semoga makalah ini dapat berguna bagi kami pada khususnya dan pihak lain yang berkepentingan pada umumnya.

Banyuwangi, 23 Maret 2025

Kelompok 4

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR... 2

DAFTAR ISI... 3

BAB I... 1

PENDAHULUAN... 1

1.1 Latar Belakang...1

1.2 Rumusan Masalah...1

1.3 Tujuan... 2

1.4 Manfaat...2

1.4.1 Manfaat bagi penulis:...2

1.4.2 Manfaat bagi pembaca:... 2

BAB II... 3

TINJAUAN PUSTAKA...3

2.1 Definisi Penyakit Kesehatan Mental...3

2.2 Masalah Kesehatan Mental di Indonesia... 3

2.3 Pencegahan dengan Skrining Kesehatan Mental... 4

BAB III... 6

HASIL DAN PEMBAHASAN... 6

3.1 Faktor Penyebab Kesehatan Mental pada Masyarakat... 6

3.1.1 Faktor Sosial Budaya... 6

3.1.2 Faktor Psikologis...6

3.1.3 Faktor Biologis...6

3.2 Dampak Penyakit Kesehatan Mental pada Masyarakat...7

3.2.1 Dampak Sosial... 7

3.2.2 Dampak Ekonomi... 7

3.2.3 Dampak Pendidikan... 7

3.2.4 Dampak Kesehatan Fisik...7

3.2.5 Dampak Terhadap Keluarga...8

3.3 Upaya Pencegahan dan Penanggulangan Kesehatan Mental di Indonesia... 8

3.4 Peran Kesmas dalam Permasalahan Kesehatan Mental di Indonesia... 9

3.4.1 Pendekatan Promotif: Edukasi dan Pengurangan Stigma... 9

3.4.2 Pendekatan Preventif : Deteksi Dini dan Penguatan SDM... 9

3.4.3 Rehabilitasi dan Reintegrasi Sosial (Rehabilitatif)... 10

3.4.4 Penangan Determinasi Sosial...10

3.4.5 Kolaborasi Lintas Sektor untuk Penanganan Holistik...10

BAB IV... 11

PENUTUP...11

4.1 Kesimpulan... 11

4.2 Saran... 12

DAFTAR PUSTAKA...14

(4)

BAB I

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Kesehatan mental telah menjadi isu global yang semakin mendapat perhatian, terutama dalam beberapa tahun terakhir. Di Indonesia, masalah kesehatan mental semakin mengemuka seiring dengan perubahan sosial, ekonomi, dan budaya yang cepat. Data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan bahwa prevalensi gangguan mental emosional pada penduduk usia di atas 15 tahun mencapai 9,8% pada tahun 2021 (Kemenkes RI, 2021). Angka ini menunjukkan peningkatan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, yang menandakan bahwa kesehatan mental merupakan masalah serius yang perlu segera ditangani.

Studi yang dilakukan oleh World Health Organization (WHO) pada tahun 2022 menyebutkan bahwa lebih dari 19 juta penduduk Indonesia mengalami depresi, dengan angka bunuh diri yang terus meningkat setiap tahunnya (WHO, 2022). Faktor-faktor seperti kemiskinan, pengangguran, stigma sosial, dan kurangnya akses ke layanan kesehatan mental turut memperparah kondisi ini. Selain itu, pandemi COVID-19 yang terjadi sejak awal tahun 2020 telah memberikan dampak signifikan terhadap kesehatan mental masyarakat. Penelitian oleh Saputra dkk. (2021) menunjukkan bahwa pandemi menyebabkan peningkatan tingkat stres, kecemasan, dan depresi di kalangan masyarakat Indonesia, terutama pada kelompok rentan seperti tenaga kesehatan, lansia, dan anak-anak.

Tantangan lain yang dihadapi adalah kurangnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya kesehatan mental serta stigma yang melekat pada penderita gangguan mental.

Studi yang dilakukan oleh Andriani dkk. (2020) mengungkapkan bahwa stigma negatif terhadap penderita gangguan mental masih sangat tinggi di Indonesia, sehingga banyak orang enggan mencari bantuan profesional. Hal ini diperparah dengan keterbatasan fasilitas dan tenaga kesehatan mental di daerah-daerah terpencil. Dengan pendekatan yang komprehensif, tantangan ini dapat dikelola dengan lebih efektif, membantu mahasiswa mencapai keseimbangan dalam kehidupan akademis dan pribadi mereka, serta mendukung pencapaian kesuksesan akademik dan emosional (Izati, E., Hairisya, R., Nurita, E. 2024).

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah dalam makalah ini adalah:

1. Apa saja faktor penyebab meningkatnya masalah kesehatan mental di Indonesia?

2. Bagaimana dampak masalah kesehatan mental terhadap masyarakat?

3. Upaya apa saja yang dapat dilakukan untuk mencegah dan menanggulangi masalah kesehatan mental di Indonesia?

(5)

1.3 Tujuan

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah:

1. Menganalisis faktor-faktor penyebab masalah kesehatan mental di Indonesia.

2. Mengidentifikasi dampak yang ditimbulkan oleh masalah kesehatan mental terhadap masyarakat.

3. Memberikan rekomendasi upaya pencegahan dan penanggulangan masalah kesehatan mental di Indonesia.

1.4 Manfaat

1.4.1 Manfaat bagi penulis:

1. Meningkatkan pemahaman dan wawasan tentang isu kesehatan mental di Indonesia.

2. Mengembangkan keterampilan analitis dan penulisan ilmiah.

3. Memberikan kontribusi dalam upaya penanganan masalah kesehatan mental melalui rekomendasi berbasis data.

1.4.2 Manfaat bagi pembaca:

1. Meningkatkan kesadaran tentang pentingnya kesehatan mental.

2. Memberikan informasi tentang upaya pencegahan dan penanggulangan masalah kesehatan mental.

3. Menjadi referensi untuk penelitian, kebijakan, atau program terkait kesehatan mental.

(6)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Penyakit Kesehatan Mental

Penyakit mental, atau gangguan mental, adalah kondisi yang memengaruhi pemikiran, perasaan, perilaku, atau kombinasi dari ketiganya. Menurut American Psychiatric Association (APA), gangguan mental adalah kondisi kesehatan yang melibatkan perubahan emosi, pemikiran, atau perilaku (atau kombinasi dari ketiganya) yang terkait dengan distress atau gangguan fungsi dalam aktivitas sosial, pekerjaan, atau keluarga. Gangguan mental dapat bersifat ringan hingga berat, dan mencakup berbagai kondisi seperti depresi, gangguan kecemasan, skizofrenia, dan gangguan bipolar (American Psychiatric Association, 2013).

World Health Organization (WHO) mendefinisikan kesehatan mental sebagai keadaan sejahtera di mana individu menyadari kemampuan mereka, dapat mengatasi tekanan hidup yang normal, dapat bekerja secara produktif, dan mampu memberikan kontribusi kepada komunitas mereka. Gangguan mental terjadi ketika terdapat gangguan pada kondisi ini, yang dapat disebabkan oleh faktor biologis, psikologis, dan sosial (WHO, 2021).

2.2 Masalah Kesehatan Mental di Indonesia

Kesehatan mental telah menjadi isu penting di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Data dari Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa prevalensi gangguan mental emosional, seperti depresi dan kecemasan, terus meningkat. Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, sekitar 6,1% penduduk Indonesia mengalami gangguan mental emosional, dengan angka yang lebih tinggi pada kelompok usia produktif (Kementerian Kesehatan RI, 2018). Faktor-faktor seperti tekanan ekonomi, stigma sosial, dan kurangnya kesadaran tentang kesehatan mental berkontribusi pada tingginya angka ini. Selain itu, akses terhadap layanan kesehatan mental masih terbatas, terutama di daerah terpencil. Hal ini menunjukkan bahwa kesehatan mental bukan hanya masalah individu, tetapi juga masalah kesehatan masyarakat yang memerlukan perhatian serius.

Data Riskesdas 2018 juga mengungkapkan bahwa prevalensi gangguan jiwa berat, seperti skizofrenia, mencapai sekitar 1,7 per 1.000 penduduk. Stigma sosial yang kuat terhadap gangguan mental seringkali menghambat individu untuk mencari bantuan profesional, sementara keterbatasan tenaga kesehatan mental, seperti psikiater dan psikolog, memperparah situasi ini. Menurut WHO (2021), hanya sekitar 10% dari orang dengan gangguan mental di Indonesia yang mendapatkan perawatan yang memadai.

Pandemi COVID-19 turut memperburuk kondisi kesehatan mental di Indonesia.

Survei yang dilakukan oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) pada tahun 2020 menunjukkan bahwa 64,3% responden mengalami masalah psikologis, seperti cemas dan depresi, selama pandemi (PDSKJI, 2020). Kondisi ini semakin menegaskan pentingnya upaya peningkatan kesadaran, pengurangan stigma, dan perluasan akses layanan kesehatan mental di seluruh lapisan masyarakat.

(7)

Riset dari Institute for Health Metrics and Evaluation University of Washington terkait Global Burden of Disease (GBD) 2019 menunjukkan, tingkat prevalensi gangguan mental di Indonesia beragam. Prevalensi terbesar adalah depresi dan kecemasan. Dari riset tersebut terlihat, prevalensi perempuan yang mengalami depresi di Indonesia sebesar 2,9% dari populasi. Artinya, sekitar 8 juta perempuan dari sekitar 270 juta penduduk mengalami gangguan depresi. Angka ini lebih tinggi dari prevalensi laki-laki dengan gangguan serupa yakni hanya 2% atau sekitar 5 juta orang. Sementara itu, prevalensi gangguan kecemasan pada perempuan di Indonesia mencapai 4,5%. Jumlahnya hampir dua kali lipat dibandingkan laki-laki. Begitu pula perempuan memiliki prevalensi gangguan makan lebih tinggi. Dilihat dari trennya, gangguan kesehatan mental di Indonesia mengalami peningkatan, terutama pada perempuan yang mengalami depresi, kecemasan, dan gangguan makan.

Tren Prevalensi Gangguan Kesehatan Mental di Indonesia

Gangguan kesehatan mental di Indonesia cenderung meningkat dalam tiga dekade, terutama pada perempuan yang mengalami depresi, kecemasan, dan gangguan makan

2.3 Pencegahan dengan Skrining Kesehatan Mental

Skrining kesehatan mental adalah salah satu upaya pencegahan yang efektif untuk mengidentifikasi gangguan mental sejak dini. Skrining ini bertujuan untuk mendeteksi

(8)

gejala-gejala gangguan mental sebelum kondisi tersebut menjadi lebih parah. Skrining dapat dilakukan melalui kuesioner atau wawancara yang dirancang untuk mengidentifikasi risiko gangguan mental, seperti depresi, kecemasan, atau gangguan stres pascatrauma (PTSD).

Menurut National Institute of Mental Health (NIMH), skrining kesehatan mental dapat membantu mengurangi beban penyakit mental dengan memungkinkan intervensi dini dan pencegahan komplikasi lebih lanjut (NIMH, 2021). Contoh alat skrining yang sering digunakan adalah Patient Health Questionnaire-9 (PHQ-9) untuk depresi dan Generalized Anxiety Disorder-7 (GAD-7) untuk gangguan kecemasan.

Studi oleh Kroenke et al. (2001) menunjukkan bahwa penggunaan PHQ-9 dalam skrining depresi memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi dalam mengidentifikasi individu yang berisiko. Skrining ini dapat dilakukan di berbagai setting, termasuk fasilitas kesehatan primer, sekolah, dan tempat kerja, untuk menjangkau populasi yang lebih luas.

Pencegahan melalui skrining juga dapat dilakukan dengan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya kesehatan mental dan mengurangi stigma terkait gangguan mental. Program edukasi dan kampanye kesehatan mental dapat membantu masyarakat memahami pentingnya deteksi dini dan mencari bantuan profesional ketika diperlukan (WHO, 2021).

(9)

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Faktor Penyebab Kesehatan Mental pada Masyarakat

Kesehatan mental merupakan aspek penting dalam usaha menjaga kualitas hidup individu dan masyarakat. Di Indonesia, isu ini sering dianggap tabu dan tidak mendapatkan perhatian yang seharusnya. Berdasarkan penelitian dan pengamatan yang ada, terdapat berbagai faktor yang menjadi pemicu terhadap gangguan kesehatan mental di masyarakat.

Faktor-faktor ini dapat dikelompokkan menjadi beberapa kategori utama, yakni:

3.1.1 Faktor Sosial Budaya

Faktor sosial seperti kesulitan dalam ekonomi, diskriminasi yang menyebabkan perasaan rendah diri, keterisolasi dari sosial, dan konflik atau hubungan yang buruk dalam keluarga. Faktor budaya seperti adanya nilai dan norma yang tidak mendukung kesehatan mental, pengaruh media sosial yang sering menyebabkan perasaan tidak puas, cemas, dan juga depresi juga dapat memperparah keadaan mental seseorang setelah adanya faktor sosial.

faktor sosial budaya mempunyai korelasi positif terhadap kesehatan mental emosional, yaitu semakin tinggi/banyak masalah sosial budaya maka semakin tinggi resiko mengalami gangguan kesehatan mental emosional (Yulianti & Ariasti, 2020).

3.1.2 Faktor Psikologis

Faktor psikologis juga menjadi penyebab gangguan kesehatan mental pada masyarakat. Faktor psikologis yang menyebabkan gangguan kesehatan mental yaitu:

1. Trauma/pengalaman tidak menyenangkan : Pengalaman traumatis seperti kehilangan orang terdekat atau masalah berat yang dialami dapat memicu gangguan mental emosional.

2. Stress : Tuntutan hidup yang tinggi seperti pekerjaan maupun pendidikan dapat menyebabkan stress yang berkepanjangan.

3. Tipe Kepribadian : Beberapa tipe kepribadian dapat membuat seseorang menjadi lebih rentan untuk terkena gangguan mental, terutama mereka yang memiliki kepribadian sulit untuk menghadapi tekanan dan perubahan pada lingkungan.

4. Konsep Diri : Persepsi negatif tentang diri sendiri seperti rasa rendah diri atau merasa kurang berharga kepada diri sendiri juga berkontribusi pada kesehatan mental. kf

3.1.3 Faktor Biologis

Beberapa faktor biologis penyebab gangguan kesehatan mental yaitu:

1. Genetik : Mempunyai riwayat keluarga dengan gangguan kesehatan mental yang dapat meningkatkan seorang individu mengalami masalah yang sama.

(10)

2. Kesehatan Fisik : Penyakit fisik kronis seperti diabetes atau hipertensi yang juga bisa berkontribusi pada gangguan mental.

3.2 Dampak Penyakit Kesehatan Mental pada Masyarakat

Dampak adanya permasalahan kesehatan mental yang ada di masyarakat meliputi:

3.2.1 Dampak Sosial

a. Stigma dan Diskriminasi. Penyakit kesehatan mental yang muncul kerap diiringi dengan stigma yang kuat yang menyebabkan individu dan masalah kesehatan mentalnya merasa terasingkan dan diabaikan. Hal tersebut menjadi penghambat mereka untuk mencari bantuan dan berpartisipasi dalam kegiatan di masyarakat.

b. Relasi Interpersonal yang Memburuk. Orang yang terkena gangguan kesehatan mental menjadi lebih sering mengalami kesulitan dalam menjalin dan mempertahankan hubungan interpersonal mereka yang dimana hal ini dapat menyebabkan isolasi sosial dan memperburuk kondisi mental mereka.

3.2.2 Dampak Ekonomi

a. Kehilangan Produktivitas. Seseorang yang kesehatan mentalnya buruk cenderung mengalami penurunan produktivitas di tempat kerja. Biasanya mereka akan lebih sering absen atau tidak memberikan performa terbaik mereka.

b. Biaya Perawatan Kesehatan. Pengeluaran untuk perawatan kesehatan mental, baik untuk individu maupun sistem kesehatan, meningkat. Hal ini mencakup biaya terapi, pengobatan, dan rawat inap yang dapat membebani anggaran pribadi dan publik.

3.2.3 Dampak Pendidikan

a. Performa Akademis yang Menurun. Remaja dan anak-anak yang mengalami gangguan kesehatan mental seringkali memiliki performa akademi yang buruk.

Mereka kesulitan berkonsentrasi dan kesulitan dalam menghadapi tantangan belajar.

b. Angka Putus Sekolah yang Tinggi. Masalah kesehatan mental dapat menyebabkan tingginya tingkat putus sekolah. Remaja yang mengalami stres, depresi, atau kecemasan mungkin merasa tidak mampu melanjutkan pendidikan mereka.

3.2.4 Dampak Kesehatan Fisik

a. Peningkatan Risiko Kecelakaan. Individu yang terkena gangguan kesehatan mental memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami kecelakaan, baik di tempat kerja maupun dalam kehidupan sehari-hari, akibat penurunan konsentrasi dan pengambilan keputusan yang buruk.

b. Komorbiditas dengan Penyakit Fisik. Penyakit kesehatan mental sering kali berhubungan dengan masalah kesehatan fisik, seperti penyakit jantung, diabetes, dan gangguan sistem kekebalan tubuh. Ini dapat memperburuk kualitas hidup dan harapan hidup individu.

(11)

3.2.5 Dampak Terhadap Keluarga

1. Beban Emosional dan Finansial. Keluarga yang mempunyai anggota dengan masalah kesehatan mental sering kali mengalami beban emosional yang berat. Mereka mungkin merasa cemas, marah, atau frustrasi dan mengalami tantangan finansial akibat biaya perawatan.

2. Dinamika Keluarga Terganggu. Hadirnya masalah kesehatan mental di dalam keluarga dapat mengganggu dinamika dan interaksi antar anggota keluarga. Hal ini dapat menyebabkan konflik, kurangnya komunikasi, dan ketegangan dalam hubungan.

3.3 Upaya Pencegahan dan Penanggulangan Kesehatan Mental di Indonesia Upaya pencegahan dan penanggulangan kesehatan mental di Indonesia sangat penting mengingat meningkatnya prevalensi gangguan kesehatan mental di masyarakat. Berbagai langkah telah diambil untuk meningkatkan kesadaran, akses, dan kualitas layanan kesehatan mental. Salah satu langkah utama adalah melalui edukasi dan kampanye kesadaran masyarakat yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman tentang kesehatan mental, mengurangi stigma, dan mendorong individu untuk mencari bantuan saat menghadapi masalah kesehatan mental.

Salah satu inovasi penting yang dilakukan dalam hal ini adalah dengan menghadirkan aplikasi SATUSEHAT Mobile, yang dengan adanya aplikasi tersebut memungkinkan masyarakat untuk melakukan skrining kesehatan jiwa secara mandiri dan gratis. Aplikasi ini dirancang untuk mendeteksi dini masalah kesehatan mental, sehingga individu yang menunjukkan gejala gangguan dapat segera mendapatkan intervensi yang diperlukan. Proses skrining melibatkan menjawab serangkaian pertanyaan untuk mengidentifikasi gejala gangguan mental, dan hasilnya dapat digunakan sebagai acuan untuk perawatan lebih lanjut di fasilitas kesehatan.

Pemerintah juga berusaha meningkatkan akses layanan kesehatan mental dengan memperkuat infrastruktur di puskesmas. Kementerian Kesehatan menekankan pentingnya skrining kesehatan mental di puskesmas dan memberikan pelatihan kepada tenaga kesehatan agar lebih siap menangani masalah tersebut. Meskipun saat ini hanya sekitar 38% puskesmas yang mampu menangani masalah kesehatan jiwa, upaya peningkatan kapasitas terus dilakukan.

Dukungan sosial juga sebagai aspek penting dalam penanggulangan kesehatan mental. Masyarakat didorong untuk membentuk kelompok dukungan bagi individu dengan masalah kesehatan mental dan keluarganya, serta melibatkan keluarga dalam proses pemulihan. Kebijakan yang mendukung kesehatan mental, seperti UU No. 18 Tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa, menjadi landasan penting dalam upaya ini.

Undang-undang ini menekankan perlindungan hak individu dengan gangguan mental dan mendorong pemerintah daerah untuk mengalokasikan anggaran khusus untuk program kesehatan mental.

Dengan berbagai upaya ini, diharapkan dapat mengurangi beban masalah

kesehatan mental di masyarakat Indonesia dan meningkatkan kesejahteraan secara

(12)

keseluruhan. Kerjasama antara pemerintah, masyarakat, dan sektor kesehatan sangat penting untuk mencapai tujuan tersebut.

3.4 Peran Kesmas dalam Permasalahan Kesehatan Mental di Indonesia

Kesehatan mental bukan hanya masalah individu, melainkan kasus yang berakar pada ketimpangan sosial, kemiskinan, dan budaya stigmatisasi. Di Indonesia, rendahnya literasi kesehatan jiwa (hanya 10% masyarakat paham gejala depresi menurut Riskesdas 2018) dan minimnya layanan di daerah terpencil (hanya 30% kabupaten memiliki fasilitas kesehatan jiwa) memperparah dampaknya. Kesmas berperan sebagai katalisator transformasi sistemik dengan mengintegrasikan kesehatan mental ke dalam kerangka kebijakan publik, program komunitas, dan pembangunan manusia. Berikut penjelasan lengkap tentang peran konkret Kesehatan Masyarakat (Kesmas) dalam menangani kasus kesehatan mental di Indonesia:

3.4.1 Pendekatan Promotif: Edukasi dan Pengurangan Stigma

Kesehatan Masyarakat (Kesmas) menggunakan strategi edukasi berbasis budaya untuk mengubah persepsi masyarakat tentang kesehatan mental. Misalnya, melalui Kampanye "Sehat Jiwa" oleh Kementerian Kesehatan, informasi tentang gejala depresi dan kecemasan disebarluaskan via media sosial dan radio komunitas. Keterlibatan tokoh agama dan budaya sebagai duta kesehatan mental—seperti ceramah di masjid atau pertunjukan seni tradisional—membantu meluruskan mitos bahwa gangguan mental adalah "aib". Di sektor pendidikan, program "Sekolah Ramah Mental" melatih guru mendeteksi tanda stres atau bullying pada siswa, sekaligus menyediakan konseling antar-teman sebaya (peer-to-peer), menciptakan lingkungan sekolah yang mendukung kesehatan jiwa.

3.4.2 Pendekatan Preventif : Deteksi Dini dan Penguatan SDM

Kesmas menekankan pencegahan dengan memperkuat kapasitas sumber daya manusia. Kader kesehatan di desa dilatih mengenali gejala awal gangguan jiwa, seperti perubahan pola tidur atau isolasi sosial, lalu merujuk kasus ke puskesmas. Skrining komunitas menggunakan instrumen SRQ-29 di Posyandu atau arisan warga membantu mengidentifikasi risiko gangguan mental secara dini. Di tingkat fasilitas kesehatan, tenaga primer (bidan, perawat) dibekali pelatihan mental health first aid oleh PDSKJI,

(13)

3.4.3 Rehabilitasi dan Reintegrasi Sosial (Rehabilitatif)

Kesmas memfokuskan rehabilitasi penyintas gangguan mental melalui program pelatihan keterampilan kerja bagi ODGJ (e.g., bertani, membuat kerajinan) bersama Kementerian Sosial, mengurangi ketergantungan pada pasung dan memfasilitasi kemandirian ekonomi. Pascabencana alam, seperti gempa di Lombok, kelompok dukungan psikososial berbasis komunitas dibentuk untuk pendampingan korban melalui terapi kelompok dan aktivitas rekreasional guna mencegah PTSD. Kolaborasi dengan LSM seperti Yayasan Pulih di Papua juga mengintegrasikan pendekatan budaya (e.g., ritual adat) dengan konseling modern untuk rehabilitasi trauma pasca-konflik. Dengan ini, Kesmas tidak hanya memulihkan kesehatan mental, tetapi juga memastikan penyintas kembali berdaya dan diterima di masyarakat.

3.4.4 Penangan Determinasi Sosial

Kesehatan masyarakat mengatasi akar masalah kesehatan mental yang terkait kemiskinan dan ketidakadilan melalui program pemberdayaan ekonomi. Contohnya, pelatihan UMKM bagi ibu-ibu di daerah miskin mengurangi tekanan finansial pemicu stres.

Advokasi kebijakan seperti penerapan work-life balance di perusahaan atau aturan anti-bullying di sekolah menciptakan lingkungan yang ramah kesehatan jiwa. Respon krisis berbasis komunitas, seperti pendampingan psikososial pasca-bencana alam di Lombok dan Kalimantan, mencegah trauma kolektif dan PTSD.

3.4.5 Kolaborasi Lintas Sektor untuk Penanganan Holistik

Kesmas menjembatani kolaborasi antar-sektor untuk mengatasi determinan sosial yang kompleks. Bersama Kementerian Sosial, program rehabilitasi ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa) dijalankan melalui pelatihan keterampilan kerja, mengurangi praktik pasung dan isolasi. Kemitraan dengan LSM seperti Into The Light (penyedia hotline pencegahan bunuh diri) dan Yayasan Pulih (penanganan trauma pasca-konflik) memperluas jangkauan layanan. Sinergi dengan BPJS Kesehatan juga memastikan akses konseling psikologis di puskesmas terjangkau bagi masyarakat miskin.

(14)

BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Permasalahan kesehatan mental di Indonesia merupakan kasus yang dipengaruhi oleh faktor sosial, ekonomi, budaya, dan ketimpangan akses layanan. Tingginya prevalensi gangguan jiwa, seperti depresi (9,8%) dan skizofrenia (1,7 per 1.000 penduduk), diperparah oleh stigma yang mengakar, minimnya literasi masyarakat, serta keterbatasan infrastruktur kesehatan jiwa di daerah terpencil. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan lebih dari 60% penderita gangguan mental tidak mendapatkan layanan memadai, mencerminkan urgensi penanganan yang holistik dan inklusif.

Kesehatan Masyarakat hadir sebagai solusi melalui pendekatan promotif, preventif, dan kolaboratif. Upaya promotif seperti kampanye "Sehat Jiwa" oleh Kemenkes dan program

"Sekolah Ramah Mental" berhasil meningkatkan kesadaran masyarakat serta mengurangi stigma. Sementara itu, strategi preventif berbasis komunitas seperti pelatihan kader kesehatan dan skrining menggunakan instrumen SRQ-29 di Posyandu memungkinkan deteksi dini gangguan mental sebelum berkembang kronis. Kolaborasi lintas sektor, misalnya dengan Kementerian Sosial dalam rehabilitasi ODGJ atau LSM Into The Light dalam pencegahan bunuh diri, memperluas jangkauan intervensi hingga ke daerah marginal.

Meski demikian, tantangan struktural masih menghambat efektivitas program.

Keterbatasan tenaga psikiatri (hanya ~1.000 psikiater untuk 270 juta penduduk), anggaran kesehatan mental yang minim (kurang dari 1% APBN kesehatan), serta resistensi budaya terhadap layanan modern menjadi penghalang signifikan. Contohnya, praktik pasung masih ditemui di beberapa daerah karena ketidaktahuan keluarga atau ketiadaan akses rehabilitasi.

Di sisi lain, kesenjangan antara kebijakan (seperti UU Kesehatan Jiwa No. 18/2014) dan implementasi di lapangan menunjukkan perlunya penguatan sistemik.

Kesmas membuktikan bahwa kesehatan mental adalah investasi jangka panjang bagi ketahanan bangsa. Program seperti pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas dan pendampingan psikososial pascabencana tidak hanya menyembuhkan individu, tetapi juga

(15)

4.2 Saran

Untuk mengatasi tantangan kesehatan mental secara holistik, diperlukan komitmen kolektif dari seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, masyarakat, sektor swasta, hingga akademisi. Pertama, pemerintah perlu meningkatkan alokasi anggaran kesehatan mental menjadi minimal 5% dari total anggaran kesehatan, sekaligus memperluas cakupan BPJS Kesehatan untuk layanan psikologis di puskesmas. Pelatihan task-shifting bagi tenaga kesehatan non-spesialis, seperti perawat dan kader desa, harus diperbanyak agar deteksi dini gangguan mental dapat dilakukan secara masif. Integrasi kesehatan mental ke dalam kebijakan lintas sektor juga krusial, misalnya dengan mewajibkan perusahaan menyediakan layanan konseling karyawan atau memasukkan modul kesehatan jiwa dalam kurikulum pendidikan.

Kedua, masyarakat dan LSM harus aktif dalam kampanye anti-stigma melalui kolaborasi dengan tokoh agama, seniman, dan media lokal. Konten kreatif di platform digital seperti TikTok atau Instagram dapat dimanfaatkan untuk menyebarkan informasi kesehatan mental secara menarik. Di tingkat komunitas, program pemberdayaan ekonomi berbasis UMKM bagi kelompok rentan seperti penyintas ODGJ atau korban kekerasan perlu digencarkan untuk mengurangi tekanan finansial yang memicu stres. Pelatihan kader kesehatan secara berkala dengan instrumen skrining sederhana (e.g., SRQ-29) juga diperlukan agar deteksi dini lebih efektif.

Selanjutnya, sektor kesehatan dan teknologi harus bersinergi mengoptimalkan layanan telemedicine seperti SehatMental.id untuk menjangkau daerah terpencil. Pembangunan sistem surveilans berbasis data—dengan memanfaatkan Riskesdas dan SDKI dapat membantu memetakan daerah prioritas intervensi, seperti wilayah dengan angka bunuh diri tinggi atau dampak pascabencana. Di sisi lain, akademisi dan peneliti perlu mendorong riset terapan tentang integrasi kearifan lokal (e.g., peran dukun) dengan layanan kesehatan mental modern, serta mengevaluasi efektivitas program kolaboratif lintas sektor sebagai dasar kebijakan berbasis bukti. Terakhir, seluruh upaya ini harus dibingkai dalam kerangka keberlanjutan. Tanpa komitmen jangka panjang, inisiatif kesehatan mental berisiko stagnan.

Kolaborasi multisektor, inovasi teknologi, dan pendekatan berbasis komunitas menjadi kunci untuk membangun sistem kesehatan mental yang inklusif dan responsif. Dengan

(16)

langkah-langkah konkret ini, Indonesia tidak hanya mampu mengurangi beban gangguan jiwa, tetapi juga menciptakan masyarakat yang resilien dan produktif secara psikososial.

(17)

DAFTAR PUSTAKA

American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (5th ed.). American Psychiatric Publishing.

Andriani, S., et al. (2020). Stigma terhadap Penderita Gangguan Mental di Indonesia: Studi Kasus di Masyarakat Urban dan Rural. Jurnal Psikologi Klinis, 12(2), 45-56.

Institute for Health Metrics and Evaluation. (2020). Global Burden of Disease Study 2019 (GBD 2019) results. University of Washington.

Izati, E. J., Hairisya, R., & Nurita, E. (n.d.). (2024). Tantangan dan Solusi dalam Penanganan Kesehatan Mental di Kalangan Mahasiswa. Prosiding Seminar Nasional Manajemen, 4(1), 463–467. http://openjournal.unpam.ac.id/index.php/PSM/index

Kroenke, K., Spitzer, R. L., & Williams, J. B. W. (2001). The PHQ-9: Validity of a brief depression severity measure. Journal of General Internal Medicine, 16(9), 606-613.

Muhawarman, A. (2024, December 1). Skrining Kesehatan Jiwa Gratis Lewat SATUSEHAT

Mobile. KEMENTERIAN KESEHATAN.

http://kemkes.go.id/id/rilis-kesehatan/skrining-kesehatan-jiwa-gratis-lewat-satusehat- mobile diakses pada 23/3/2025 pukul 21.27

National Institute of Mental Health. (2021). Mental Health Information. Department of Health and Human Services.

Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI). (2020). Survei Kesehatan Mental selama Pandemi COVID-19. Jakarta: PDSKJI.

Saputra, R., et al. (2021). Dampak Pandemi COVID-19 terhadap Kesehatan Mental Masyarakat Indonesia. Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional, 16(3), 123-130.

Smith, J., et al. (2021). "Early Detection of Mental Health Issues Through Screening Programs." Journal of Mental Health, 30(2), 145-153.

World Health Organization. (2021). Mental health: Strengthening our response.

https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/mental-health-strengthening-our-response YULIANTI, Tunjung Sri; ARIASTI, Dinar. Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi

Kesehatan Mental Emosional Masyarakat Di Dukuh Gumuk Sari Dan Gerjen, Pucangan, Kartasura. KOSALA: Jurnal Ilmu Kesehatan, 2020, 8.2: 53-62.

Referensi

Dokumen terkait

 Perilaku sehat individu sangat tergantung pada kesehatan mental misal: gangguan mental atau kondisi stres akan mempengaruhi prilaku sehatnya (WHO, 2005).  Depresi dan

Setelah melakukan kategori pada 20 pertanyaan gangguan mental emosional, penderita kanker perempuan pada umur 15 tahun keatas mengalami gangguan kesehatan mental

Berbeda dengan depresi unipolar, gangguan bipolar terjadi pada laki-laki dan perempuan dengan prevalensi yang seimbang, kira-kira 1:1 (tidak seperti depresi, di mana kejadian

Masih dari data RISKESDAS tersebut menyebutkan prevalensi dari penderita DM cenderung meningkat pada perempuan dibandingkan dengan laki-laki dan terjadi peningkatan

Dari domain mental, mahasiswa kedokteran sangat rawan untuk mengalami gangguan kesehatan mental di mana dari segi kelelahan, ansietas, depresi maupun tekanan psikologis

Pasien gangguan kesehatan mental salah satunya gangguan depresi ditandai gejala yang berhubungan dengan gizi yaitu terjadinya anoreksia dan apatis terhadap makanan,

Individu dengan OCD memiliki risiko lebih tinggi untuk mengembangkan gangguan kesehatan mental tambahan, seperti depresi, gangguan kecemasan lainnya, atau gangguan makan Gejala OCD yang

Gangguan kesehatan mental mampu menyerang berbagai kalangan usia,akan tetapi paling banyak dimiliki pada remaja khususnya.Terdapat banyak faktor yang terkait dengan kesehatan mental