MAKALAH PSIKOLOGI ABNORMAL
Gangguan Kepribadian Menurut DSM V dan Gangguan dimasa Tua
Disusun oleh:
Kelompok 3
Irsyadul Fitri 200205015 Agil Septian 200205014
Dosen Pengampu:
Oktavia,M.Psi
INSTITUT AGAMA ISLAM SUMATERA BARAT (IAI SUMBAR) PARIAMAN
2022
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang dengan rahmat-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah Psikologi Abnormal tepat pada waktunya. Shalawat serta salam juga semoga selalu tercurahkan kepada baginda Rasulullah SAW, sang manajer sejati Islam yang selalu becahaya dalam sejarah hingga saat ini. Dalam pembuatan makalah ini, tentu tak lupa penulis mengucapkan terima kasih kepada Dosen Pengampu yang telah membimbing penulis selama ini. Tentunya makalah ini, masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu penulis senantiasa mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua.
Amiin Yaa Robbal „Aalamiin.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatu
Pariaman, Juni 2022
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...ii
DAFTAR ISI...iii
BAB I...1
PENDAHULUAN...1
A. Latar Belakang...1
B.Rumusan Masalah...1
C.Tujuan Penulisan...1
BAB II...2
PEMBAHASAN...2
A.Gangguan kepribadian menurut DSM V...2
B.Penyebab gangguan kepribadian Menurut Perspektif Teoritis...16
C. Intervensi atau penanganan gangguan kepribadian menurut perspektif...19
D.Gangguan dimasa Tua...21
DAFTAR PUSTAKA...23
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Psikologi abnormal merupakan salah satu cabang dalam ilmu psikologi yang berupaya untuk memahami pola perilaku abnormal dan cara menolong orang-orang yang mengalaminya, sehingga para ahli kesehatan mental menggunakan berbagai kriteria dalam membuat keputusan tentang apakah suatu perilaku dapat dikatakan abnormal atau tidak.
Sistem klasifikasi yang paling umum digunakan saat ini adalah pengembangan dan perluasan dari Kraepelin : Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder (DSM), yang diterbitkan oleh American Psychiantric Association. DSM ini menggolongkan pola perilaku abnormal sebagai gangguan mental atas dasar kriteria diagnostik yang spesifik (Nevid,2005).
Gangguan kepribadian dikodekan dalam aksis II menurut DSM (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders) dan membaginya menjadi tiga kelompok : 1.
Kelompok A : orang yang di anggap aneh atau eksentrik Gangguan Kepribadian paranoid, schizoid, dan skizotipol. 2. Kelompok B : orang dengan perilaku terlalu dramatik, emosional, atau eratik. Gangguan kepribadian antisosial, ambang, histrionik, dan narsitik. 3. Kelompok C : orang yang sering kali tampak cemas atau ketakutan. Gangguan kepribadian menghindar, dependen, dan obsesif-kompulsif (Apt & Hurlbert, 1994; Stone, 1993).
B.Rumusan Masalah
1.Apa saja gangguan kepribadian menurut DSM V?
2.apa saja gangguan kepribadian di masatua C.Tujuan Penulisan
Untuk mengetahui tentang gangguan kepribadian menurut DSM V dan gangguan dimasa tua
BAB II
PEMBAHASAN
A.Gangguan kepribadian menurut DSM V
Gangguan Kepribadian adalah ciri kepribadian yang kaku dan mengalahkan diri sendiri, sehingga mempengaruhi fungsinya dan bahkan menyebabkan gejala psikiatrik, menyebabkan penderitaan pada pasien atau orang lain atau keduanya dan menimbulkan maladaptasi sosial(teman, keluarga, pekerjaan).Kepribadian demikian nampak tidak seimbang, tanpa koordinasi perilaku yang harmonis.Gangguan kepribadian cenderung muncul pada masa remaja atau dewasa awal, berlanjut selama bertahun-tahun, dan menyebabkan banyak tekanan. Selama masa itu, mereka dapat menyebabkan konflik besar dengan orang lain, menyebabkan hubungan gagal atau mencegah mereka berkembang, mengganggu kemampuan seseorang untuk berfungsi secara tepat dalam situasi sosial dan menghalangi pencapaian tujuan hidup.
Gangguan kepribadian merupakan bagian yang sering mengalami kesalahan diagnosis dikarenakan kurangnya penelitian pada bidang ini. Banyak orang yang memahami bahwa kepribadian antisosial merupakan gangguan kepribadian. Gangguan kepribadian dibutuhkan penatalaksanaan yang memiliki tantangan tersendiri (Casey, 1999).Perlu diketahui bahwa ada banyak komorbiditas di antara gangguan kepribadian, yang berarti bahwa seseorang yang memenuhi kriteria untuk satu gangguan kepribadian akan sering juga memenuhi kriteria untuk satu atau lebih gangguan kepribadian tambahan. Satu studi baru-baru ini yang didanai oleh National Institute of Mental Health menemukan bahwa sekitar 85 persen orang dengan borderline personality disorder juga memenuhi kriteria diagnostik untuk setidaknya satu gangguan kepribadian atau mood.
DSM-V membagi sepuluh gangguan kepribadian ke dalam tiga kelompok, atau cluster, berdasarkan masalah utama yang dialami.
Cluster A
Gangguan kepribadian ini ditandai oleh perilaku aneh atau eksentrik. Orang dengan gangguan kepribadian Cluster A cenderung mengalami gangguan yang berat dalam hubungan karena perilaku mereka mungkin dianggap aneh, mencurigakan, atau sangat berbeda dibanding yang lain. Secara sederhana orang-orang dengan gangguan ini memiliki sikap yang
tidakpeduli dengan lingkungan sosial yang ada. Mereka menolak aturan, norma sosial, serta hak orang lain. Mereka dengan gangguan ini memperlihatkan gejala sejak masih kanak- kanak, sulit berempati, dan tidak memiliki penyesalan atas beberapa hal yang telah dilakukan.
Gangguan kepribadian Cluster A meliputi:
1. Schizotypal Personality Disorder
Gangguan Kepribadian Skizotipal adalah gangguan kepribadian yang didiagnosis pada orang yang kesulitan dalam membina hubungan dekat. Dari perilaku, sikap, hingga pola pikirnya aneh atau ganjil, namun tidak cukup terganggu untuk dapat didiagnosis skizofrenia.
Mereka dapat menjadi sangat cemas dalam situasi sosial, bahkan saat berinteraksi dengan orang yang mereka kenal. Kecemasan sosial mereka tampak terkait dengan pikiran paranoid (misalnya, takut bahwa orang lain akan menyakiti mereka) dibandingkan dengan ketekutan akan di tolak atau dievaluasi secara negatif oleh orang lain (Nevid, Rathus,& Greene, 2005).
Pembicaraan mereka mungkin tidak jelas atau abstrak dalam artian yang tidak biasa.
Mereka memiliki penampilan yang berantakan, menunjukan sikap dan prilaku yang tidak umum, seperti berbicara pada diri sendiri saat bersama dengan orang lain. Wajah mereka hanya menunjukan sedikit emosi. Seperti orang dengan kepribadian skizoid, mereka tidak bertukar senyum atau anggukan dengan orang lain. Atau mereka dapat tampak konyol den tersenyum serta tertawa pada saat yang keliru.
Kriteria diagnostik (DSM-5) pada gangguan skizotipal adalah sebagai berikut.
a. Pola pervasif deficit sosial dan interpersonal yang ditandai oleh ketidak senangan akut dengan, dan penurunan kapasitas untuk, hubungan erat dan juga oleh peyimpangan kognitif atau persepsi dan perilaku eksentrik, dimulai pada masa dewasa awal dan tampak dalam berbagai konteks , seperti yang ditunjukkan oleh lima (atau lebih) berikut:
1) Gagasan yang menyangkut diri sendiri (ideas of reference) kecuali waham yang menyangkut diri sendiri.
2) Keyakinan aneh atau pikiran magis yang mempengaruhi perilaku dan tidak konsisten dengan norma Kultural (misalnya, percaya takhyul), (superstitiousness), percaya dapat melihat apa yang akan terjadi (clairvoyance), telepati, atau indera keenam, pada anak-anak dan remaja khayalan atau preokupasi yang kacau)
3) Pengalaman persepsi yang tidak lazim, termasuk ilusi tubuh.
4) Pikiran dan bicara yang aneh.
5) Kecurigaan atau ide paranoid.
6) Afek yang tidak sesuai atau terbatas.
7) Perilaku atau penampilan yang aneh, eksentrik atau janggal.
8) Tidak memiliki teman akrab atau orang yang dipercaya selain sanak saudara derajat pertama
9) Kecemasan sosial yang bertebihan yang tidak menghilang dengan keakraban dan cenderung disertai dengan ketakutan paranoid ketimbang pertimbangan negative tentang diri sendiri.
b. Tidak terjadi semata- mata selama perjalanan skizofrenia , suatu gangguan mood dengan ciri psikotik lain , atau suatu gangguan perkembangan pervasif.
2. Paranoid Personality Disorder
Merupakan gangguan yang memengaruhi antara 1 persen dan 2 persen orang dewasa di Amerika Serikat. Gejala-gejalanya mencakup ketidakpercayaan berlebih yang menyeluruh pada orang lain; kecurigaan akan ditipu atau dieksploitasi oleh orang lain, termasuk teman, keluarga, dan mitra; luapan kemarahan dalam menanggapi penipuan; dan perilaku dingin, tertutup, atau cemburu. Perasaan curiga yang pervasif merupakan trait penentu dalam gangguan kepribadian paranoid (paranoid personality disorder), yaitu kecenderungan untuk menginterpretasi perilaku orang lain sebagai hal yang mengancam atau merendahkan. Orang dengan gangguan ini sangat tidak percaya pada orang lain, dan hubungan sosial mereka terganggu karenanya.Orang yang memiliki kepribadian paranoid cenderung terlalu sensitif terhadap kritikan, baik itu nyata maupun yang dibayangkan. Mereka marah pada ketidakhormatan yang sangat kecil. Mereka mudah marah dan tidak terima bila mereka pikir mereka telah diperlakukan dengan sangat buruk. Mereka cenderung tidak mempercayakan rahasia pribadi mereka pada orang lain karena mereka yakin bahwa informasi pribadi akan digunakan untuk menyerang mereka. Mereka mempertanyakan ketulusan dan kelayakan untuk dipercaya dari teman dan rekan mereka. Senyuman ataupun lirikan dapat ditanggapi dengan kecurigaan.
Mereka juga cenderung sangat berhati-hati, seolah-olah mereka harus waspada terhadap hal-hal yang mengancam atau menyakiti. Mereka tidak mau disalahkan atas kekeliruan mereka, meskipun telah diberikan bukti-bukti, orang-orang dengan gangguan paranoid dipandang oleh orang lain sebagai individu yang dingin, menjaga jarak, punya
rencana licik, pembohong, dan tidak memiliki rasa humor. Sebagai akibatnya, mereka hanya memiliki sedikit teman dan hubungan erat (Nevid, Rathus,& Greene, 2005).
Kriteria diagnostik (DSM-5) untuk gangguan kepribadian paranoid adalah sebagai berikut.
a. Ketidakpercayaan dan kecurigaan yang pervasif kepada orang lain sehingga motif mereka dianggap sebagai berhati dengki, dimulai pada masa dewasa awal dan tampak dalam berbagai konteks, seperti yang ditunjukkan oleh empat (atau lebih) berikut :
1) Menduga, tanpa dasar yang cukup, bahwa orang lain memanfaatkan, membabayakan, atau menghianati dirinya.
2) Preokupasi dengan keraguan yang tidak pada tempatnya tentang loyalitas atau kejujuran teman atau rekan kerja.
3) Enggan untuk menceritakan rahasianya kepada orang lain karena rasa takut yang tidak perlu bahwa informasi akan digunakan secara jahat melawan dirinya.
4) Membaca arti merendahkan atau mengancam yang tersembunyi dari ucapan atau kejadian yang biasa.
5) Secara persisten menanggung dendam, yaitu tidak memaafkan kerugian, cedera, atau kelalaian.
6) Merasakan serangan terhadap karakter atau reputasinya yang tidak tampak bagi orang lain dan dengan cepat bereaksi secara marah atau balas menyerang.
7) Memiliki kecurigaan yang berlulang, tanpa pertimbangan, tentang kesetiaan pasangan atau mitra seksual.
b. Tidak terjadi semata-mata selama perjalanan skizofrenia, suatu gangguan mood dengan ciri psikotik, atau gangguan psikotik lain dan bukan karena efek fisiologis langsung dari kondisi medis umum.
3. Schizoid Personality Disorder
Gangguan kepribadian skizoid adalah sebuah gangguan kepribadian yang ditandai dengan kurangnya minat dengan hubungan sosial, efek yang datar, dan penarikan diri dari lingkungan sosial (Nevid, Rathus,& Greene, 2005). Ciri utama dari gangguan kepribadian skizoid ini adalah isolasi sosial.Mereka dengan gangguan ini tampak jauh dan menjaga jarak, mereka penyendiri. Wajah mereka cenderung tidak menampilkan ekspresi emosional, seperti kemarahan, kebahagiaan, atau kedehihan tidak tampak pada diri mereka. Mereka jarang bertukar senyum sosial atau salam yang disertai anggukan dengan orang lain. Mereka tampak tidak terpengaruh terhadap kritikan atau pujian yang tampak terbungkus dalam ide-ide abstrak dari dalam pikiran mengenai manusia, mereka cenderung preokupasi dengan fantasi
dan introspeksi yang berlebihan. Meski mereka lebih senang menjaga jarak dengan orang lain, mereka membina kontak yang lebih baik dengan realitas daripada orang yang menderita skizofrenia. Prevalensi dari gangguan ini dalam populasi umum tidak lah diketahui (Nevid, Rathus, & Greene, 2005).
Dalam Nevid, dkk.(2005) juga dijelaskan bahwa pola kepribadian skizoid umumnya dapat dikenali saat awal masa dewasa. Pria dengan gangguan ini jarang berkencan atau menikah.
Perempuan dengan gangguan ini cenderung menerima ajakan romantis secara pasif dan menikah, namun mereka jarang berinisiatif untuk membina huhungan atau untuk mengembangkan ikatan yang kuat dengan pasangan mereka.
Kriteria diagnostik (DSM-5) untuk gangguan kepribadian paranoid adalah sebagai berikut.
a. Pola pervasif pelepasan dari hubungan sosial dan rentang pengalaman emosi yang terbatas dalam lingkungan interpersonal, dimulai pada masa dewasa awal dan ditemukan dalam berbagai korteks, seperti yang dinyatakan oleh empat (atau lebih) berikut:
1) Tidak memiliki minat ataupun menikmati hubungan dekat, termasuk menjadi bagian dari keluarga.
2) Hampir selalu memilih kegiatan secara sendirian.
3) Memiliki sedikit, jika ada, rasa tertarik untuk melakukan pengalaman seksual dengan orang lain.
4) Merasakan kesenangan dalam sedikit, jika ada aktifitas.
5) Tidak memiliki teman dekat atau orang yang dipercaya selain sanak saudara derajat pertama.
6) Tampak tidak acuh terhadap pujian atau kritik orang lain.
7) Menunjukkan kedinginan emosi, pelepasan atau pendataran afektivitas.
b. Tidak terjadi semata-mata selama perjalanan skizofrenia, gangguan, suatu gangguan mood dengan ciri psikotik, gangguan psikotik lain atau suatu gangguan perkembangan pervasif, dan bukan karena efek fisiologis langsung dari kondisi medis umum
Gangguan kepribadian "Cluster B" ditandai oleh perilaku dramatis atau tidak menentu.
Orang-orang yang memiliki gangguan kepribadian dari kelompok ini cenderung mengalami emosi yang sangat ekstrem atau terlibat dalam perilaku yang sangat impulsif, tidak sopan, atau melanggar aturan yang ada.
Gangguan kepribadian Cluster B meliputi:
4. Borderline Personality Disorder
Borderline Personality Disorder/BPD merupakan gangguan kepribadian yang ditandai oleh perubahan yang cepat dalam mood, kurangnya sense of self yang koheren, serta perilaku yang tidak dapat diduga dan implusif. Kepribadian ambang cenderung tidak yakin akan identitas pribadi mereka-nilai, tujuan, karier, dan bahkan mungkin orientasi seksual mereka.
Ketakutan akan ditinggalkan menjadikan mereka pribadi yang melekat dan menuntut dalam hubungan sosial mereka, Namun kelekatan mereka seringkali malah menjauhkan orang-orang yang menjadi tumpuan mereka. Tanda-tanda penolakan membuat mereka sangat marah, yang membuat hubungan mereka lebih jauh lagi. Akibatnya perasaan mereka terhadap orang lain menjadi mendalam dan berubah-ubah (Nevid, Rathus, & Greene, 2005).
Mereka silih berganti antara melakukan pemujaan yang ekstram dengan memendam kebencian. Mereka memandang orang lain sebagai semua-tentangnya-baik atau semua- tentangnya-buruk dan berubah-ubah dengan cepat dari satu ekstrim ke ekstrim lain. Sebagai hasilnya mereka terbang dari satu pasangan kepasangan lain dalam satu seri hubungan yang singkat dan menggebu-gebu (Gunderson & Singer, 1986).Menurut Sanislow, dkk (2000), ketidakstabilan mood merupakan karakteristik sentral dari ganguan kepribadian ambang.
Mood berkisar dari kemarahan dan iritabilitas sampai pada depresi dan kecemasan, yang masing-masing berlangsung dari beberapa jam ke beberapa hari. Mereka memiliki kesulitan dalam mengendalikan kemarahan dan rentan terhadap perkelahian dan perselisiahan. Self- mutilation terkadang dimunculkan sebagai ekspresi kemarahan atau sebagai sarana memanipulasi orang lain (Nevid, Rathus, & Greene, 2005).
Dalam buku Psikologi Abnormal oleh Nevid, dkk (2005) dijelaskan bahwa individu dengan BPD cenderung untuk memiliki hubungan yang bermasalah dengan keluarga asalnya dan dengan orang lain. Mereka banyak memiliki riwayat pengalaman traumatis semasa kanak-kanak, seperti kehilangan atau perpisahan dengan orang tua, penganiayaan, pengabaian atau menyaksikan kekerasan. Dari perspektif psikodinamika modern, individu ambang dianggap tidak dapat menyintesiskan elemen positif dan negatif dari kepribadian menjadi keseluruahan yang utuh. Karenanya mereka gagal mencapai self-identity atau gambaran mengenai orang lain yang pasti.
Kriteria diagnostik (DSM-5) pada gangguan Borderline Personality Disorder adalah sebagai berikut.
a. Pola pervasif ketidakstabilan hubungan interpersonal, citra diri, dan afek, dan impulsivitas yang jelas pada dewasa awal dan ditemukan dalam berbagai konteks, seperti yang ditunjukkan oleh lima (atau lebih) berikut :
1) Usaha mati-matian untuk menghindari ketinggalan yang nyata atau khayalan.
2) Pola hubungan interpersonal yang tidak stabil dan kuat yang ditandai oleh perubahan antara ekstrim-ekstrim idealisasi dan devaluasi.
3) Gangguan identitas, citra diri atau perasaan diri sendiri yang tidak stabil secara jelas dan persisten.
4) lmpulsivitas pada sekurangnya dua bidang yang potensial membahayakan diri sendiri.
5) Perilaku, isyarat, atau ancaman bunuh diri yang berulang kali, atau perilaku mutilasi diri.
6) Ketidakstabilan afektif karena reaktivitas mood yang jelas.
7) Perasaan kosong yang kronis.
8) Kemarahan yang kuat dan tidak pada tempatnya atau kesulitan dalam mengendalikan kemarahan.
9) Ide paranoid yang transien dan berhubungan dengan stress, atau gejala disosiatif yang parah.
5. Histrionic Personality Disorder
Gangguan kepribadian histrionik (histrionic personality disorder) melibatkan emosi berlebihan dan kebutuhan yang besar untuk bisa menjadi pusat perhatian. Istilah ini berasal dari bahasa Latin histrio, yang berarti “aktor”. Orang dengan gangguan kepribadian histrionic cenderung dramatis dan emosional, namun emosi mereka tampak dangkal, dibesar-besarkan dan mudah berubah. Gangguan ini didiagnosis lebih sering pada perempuan daripada laki- laki (Hartung & Widiger, 1998, dalam buku Psikologi Abnormal, Nevid, Rathus, & Greene, 2005).
Orang-orang dengan gangguan kepribadian histrionik cenderung menuntut agar orang lain memenuhi kebutuhan mereka akan perhatian dan berperan sebagai korban saat orang lain mengecewakan mereka. Pada umumnya, mereka tertarik pada mode dan mereka cenderung self-centered bahkan tidak toleran terhadap penundaan kesenangan. Profesi seperti modeling dan akting menjadi kemungkinan wadah yang menarik bagi mereka dengan berkepribadian histrionik, di mana dunia profesi tersebut terdapat dominasi lampu sorot.
Meski tampak sukses di luar, mereka sebenarnya memiliki self-esteem yang kurang dan sedang berjuang memberi kesan pada orang lain bertujuan untuk meningkatkan self- worth mereka. Keraguan yang menyedihkan akan muncul dalam diri mereka apabila mereka mengalami kemunduran atau kehilangan perhatian publik.
Kriteria diagnostik (DSM-5) pada gangguan Histrionik adalah sebagai berikut.
a. Pola pervasif emosionalitas dan mencari perhatian yang berlebihan, dimulai pada masa dewasa muda dan tampak dalam berbagai konteks, seperti yang ditunjukkan oleh lima (atau lebih) berikut :
1) Tidak merasa nyaman dalam situasi dimana ia tidak merupakan pusat perhatian.
2) Interaksi dengan orang lain sering ditandai oleh godaan seksual yang tidak pada tempatnya atau perilaku provokatif.
3) Menunjukkan pergeseran emosi yang cepat dan ekspresi emosi yang dangkal.
4) Secara terus menerus menggunakan penampilan fisik untuk menarik perhatian kepada dirinya.
5) Memiliki gaya bicara yang sangat impresionistik dan tidak memiliki perincian.
6) Menunjukkan dramitasi diri, teatrikal, dan ekspresi emosi yang berlebihan.
7) Mudah disugesti, yaitu mudah dipengaruhi oleh orang lain atau situasi.
8) Menganggap hubungan menjadi lebih intim ketimbang keadaan sebenarnya.
6. Antisocial Personality Disorder
Merupakan gangguan yang cenderung muncul di masa kanak-kanak, tidak seperti kebanyakan gangguan kepribadian lain. Gejalanya termasuk mengabaikan aturan dan norma sosial dan kurangnya empati terhadap orang lain. Orang dengan gangguan kepribadian antisosial (antisosial personality disorder) secara persisten atau konstan melakukan pelanggaran terhadap hak-hak orang lain dan sering melanggar hukum, mengabaikan norma, dan konvensi sosial, impulsif, serta gagal membina komitmen interpersonal dan pekerjaan.
Ciri yang paling menonjol dari mereka adalah tingkat kecemasan yang rendah ketika ada keadaan yang mengancam dan kurangnya rasa bersalah atau penyesalan ketika mereka melakukan sebuah kesalahan. Pada perilaku mereka, hukuman nampaknya hanya sedikit memiliki dampak. Siapapun yang menghukum, mereka akan tetap menjalankan hidup yang tidak bertanggung jawab atau impulsif.
Menurut survey Kesler, dkk. (1994) bahwa gangguan kepribadian antisosial 5x lebih umum dijumpai pada laki-laki daripada perempuan. Tetapi gangguan antisosial tersebut telah tumbuh dengan cepat di antara tahun-tahun terakhir ini.
Pola perilaku yang menandai gangguan kepribadian antisosial ini biasanya dimulai dari masa kanak atau remaja hingga berlanjut hingga dewasa. Namun, perilaku antisosial dan kriminal yang terkait dengan gangguan kepribadian ini cenderung menurun sesuai bertambahnya usia, dan mungkin akan hilang pada saat orang tersebut mencapai usia 40 tahun. Namun, tidak demikian dengan Trait kepribadian yang mendasari gangguan antisosial – trait seperti egosentris; manipulatif; kurangnya empati; kurangnya rasa bersalah atau penyesalan, dan
kekejaman pada orang lain. Hal-hal tersebut relatif stabil meski terdapat penambahan usia (Harpur & Hare, 1994).
Kriteria diagnostik (DSM-5) pada gangguan kepribadian antisosial adalah sebagai berikut.
a. Paling tidak berusia 18 tahun.
b. Ada bukti gangguan perilaku sebelum usia 15 tahun, ditunjukkan dengan pola perilaku seperti membolos, kabur, memulai perkelahian fisik, menggunakan senjata, memaksa seseorang untuk melakukan aktivitas seksual, kekejaman fisik pada orang atau binatang, merusak atau membakar bangunan secara sengaja, berbohong, mencuri, atau merampok.
c. Sejak usia 15 tahun menunjukkan kepedulian yang kurang dan pelanggaran terhadap hak-hak orang lain, yang ditunjukkan oleh beberapa perilaku sebagai berikut:
1) Kurang patuh terhadap norma sosial dan peraturan hukum, ditunjukkan dengan pola perilaku melanggar hukum yang dapat atau tidak dapat mengakibatkan penahanan, seperti merusak bangunan, terlibat dalam pekerjaan yang bertentangan dengan hukum, mencuri, atau menganiaya orang lain.
2) Agresif dan sangat mudah tersinggung saat berhubungan dengan orang lain, ditunjukkan dengan terlibat dalam perkelahian, fisik dan menyerang orang lain secara berulang, mungkin termasuk penganiayaan terhadap pasangan atau anak-anak.
3) Secara konsisten tidak bertanggung jawab, ditunjukkan dengan kegagalan mempertahankan pekerjaan karena ketidakhadiran berulang kali, keterlambatan, mengabaikan kesempatan kerja atau memperpanjang periode pengangguran meski ada kesempatan kerja; dan/atau kegagalan untuk mematuhi tanggung jawab seperti gagal membiayai anak atau membayar hutang; dan/atau kurang dapat bertahan dalam hubungan monogami.
4) Gagal membuat perencanaan masa depan atau impulsivitas, seperti ditunjukkan oleh perilaku berjalan-jalan tanpa pekerjaan atau tujuan yang jelas.
5) Tidak menghormati kebenaran, ditunjukkan dengan berulang kali berbohong, memperdaya, atau menggunakan orang lain untuk mencapai tujuan pribadi atau kesenangan.
6) Tidak menghargai keselamatan diri sendiri atau keselamatan orang lain, ditunjukkan dengan berkendara saat mabuk atau berulang kali mengebut.
7) Kurangnya penyesalan atas kesalahan yang dibuat, ditunjukkan dengan ketidakpedulian akan kesulitan yang ditimbulkan pada orang lain, dan/atau membuat alas an untuk kesulitan tersebut.
Faktor-faktor sosiokultural dan gangguan kepribadian antisosial
Gangguan ini lebih umum terjadi dalam kelompok sosial ekonomi yang lebih rendah. Hal tersebut mungkin dikarenakan bahwa dari orang dengan kehidupan tingkat sosial ekonomi rendah cenderung diasuh oleh orang tua yang memberi panutan perilaku antisosial.
Bagaimanapun, bisa juga terjadi bahwa diagnosis yang telah diberikan secara keliru pada orang yang hidup dalam komunitas keras yang mungkin menunjukkan perilaku antisosial sebuah strategi pertahanan hidup (APA, 2000).
Perilaku Antisosial dan Kriminalitas
Kita cenderung berpikir perilaku antisosial bersinonim dengan perilaku kriminalis. Meski terdapat hubungan kuat antara perilaku keduanya, tidak semua kriminalis menunjukkan tanda-tanda psikopat dan tidak semua orang dengan kepribadian psikopati menjadi kriminalis (Lilienfeld & Andrews, 1996). Orang-orang yang menjadi kriminalis atau berbuat kejahatan bisa saja bukan karena kepribadian yang terganggu tetapi karena mereka dibesarkan dalam lingkungan atau dipaparkan pada budaya yang mendorong dan menghargai perilaku kriminal.
Dalam sebuah penelitian di mana peneliti memandang bahwa kepribadian psikopat terdiri dari dua dimensi yang agak terpisah, yaitu:
a. Dimensi kepribadian, dimensi ini terdiri dari trait-trait seperti karisma yang tampak di luarnya saja, mementingkan diri sendiri, kurangnya empati, keji dan tidak ada penyesalan meski telah memanfaatkan orang lain, serta tidak memikirkan kesejahteraan orang lain. Tipe kepribadian psikopat ini dikenakan pada orang yang memiliki trait psikopat namun tidak menjadi pelanggar hukum.
b. Dimensi kedua yang dipertimbangkan adalah dimensi perilaku, dimensi ini ditandai oleh gaya hidup yang tidak stabil dan antisosial, termasuk sering berhadapan dengan masalah hukum, riwayat pekerjaan yang minim, dan hubungan yang tidak stabil (Brown & Forth, 1997; Cooke & Michie, 1997).
Kedua dimensi ini umumnya terpisah; banyak individu psikopat menunjukan bukti memiliki kedua macam trait tersebut. Namun kita juga sebaiknya mengenali bahwa kurangnya rasa penyesalan, yang merupakan ciri utama dari gangguan kepribadian antisosial, tidak tidak menandai semua kriminal (Nevid, Rathus, & Greene, 2005).
Gangguan Kepribadian Antisosial dan Psikopat:
1) Gangguan kepribadian antisosial adalah gangguan kepribadian yang menunjukkan perilaku tidak bertanggungjawab dan tidak konsisten dalam bekerja, melanggar hukum, mudah tersinggung, dan agresif secara fisik.
2) Karakteristik psikopat, salah satu karakteristik utama psikopat adalah kemiskinan emosi baik yang negatif maupun positif. Orang yang psikopatik tidak memiliki rasa malu, bahkan perasaan mereka yang tampak positif terhadap orang lain hanyalah kepura-puraan.
Profil Kepribadian Antisosial
Hervey Cleckley (1941) menunjukan bahwa ciri-ciri yang menentukan kepribadian psikopat (antisosial) – self-centereddness, tidak bertanggung jawab, implusif dan tidak peka terhadap kebutuhan orang lain – tak hanya kriminalis tetapi juga pada anggota komunitas yang terhormat, termasuk dokter, pengacara, politikus, dan pembisnis eksekutif (Nevid, Rathus, &
Greene, 2005).
Menurut Patrick, dkk (1994) dan Robins, dkk (1991), Ciri- ciri umum orang dengan ganguan antisosial mencakup kegagalan patuh pada norma sosial, tidak bertanggung jawab, tidak mau berusaha dan tidak memiliki rencana atau tujuan jangka panjang, perilaku yang implusif, benar-benar tidak patuh pada hukum, melakukan kekerasan, tidak memiliki pekerjaan dalam waktu yang lama, memiliki masalah perkawinan, kurangnya rasa penyesalan atau empati, penyalahgunaan obat, riwayat alkoholisme, serta tidak menghargai kebenaran dan perasaan juga kebutuhan orang lain (dalam Nevid, Rathus, & Greene, 2005)
7. Narcissistic Personality Disorder
Merupakan gangguan yang dikaitkan dengan egoisme, citra diri yang berlebihan, dan kurangnya empati terhadap orang lain. Narkissos adalah seorang pemuda tampan yang menurut mitologi Yunani, jatuh cinta pada bayangannya sendiri. Karena self-love-nya yang berlebihan, dalam salah satu versi dari mitologi, ia diubah oleh para dewa menjadi bunga yang kini dikenal sebagai narcissus. Orang dengan gangguan kepribadian narsisistik (narcissistic personality disorder) memiliki rasa bangga atau keyakinan yang berlebihan terhadap diri mereka sendiri dan kebutuhan yang ekstrem akan pemujaan. Mereka membesar- besarkan prestasi mereka dan berharap orang lain menghujani mereka dengan pujian. Mereka bersifat self-absorbed dan kurang memiliki empati pada orang lain. Orang dengan kepribadian narsistik cenderung terpaku pada fantasi akan keberhasilan dan kekuasaan, cinta yang ideal, atau pengakuan kecerdasan atau kecantikan.
Kriteria diagnostik (DSM-5) pada gangguan Narsistik adalah sebagai berikut.
a. Pola perfsif kebesaran (dalam khayalan atau perilaku), membutuhkan kebanggaan, dan tidak ada empati, dimulai pada masa dewasa awal dan tampak dalam berbagai konteks, seperti yang ditunjukkan oleh lima (atau lebih) berikut :
1) Memiliki rasa kepentingan diri yang besar (misalnya melebih-lebihkan bakat dan
2) Preokupasi dengan khayalan akan keberhasilan, kekuatan, kecerdasan, kecantikan, atau cinta ideal yang tidak terbatas.
3) Yakin bahwa ia adalah khusus dan unik dan dapat dimengerti hanya oleh atau harus berhubungan dengan orang lain (atau institusi) yang khusus atau memiliki status tinggi.
4) Membutuhkan kebanggaan yang berlebihan
5) Memiliki perasaan bernama besar, yaitu harapan yang tidak beralasan akan perlakuan khusus atau kepatuhan otomatis sesuai harapannya.
6) Eksploatif secara interpersonal, yaitu mengambil keuntungan dari orang lain untuk mencapai tujuannya sendiri.
7) Tidak memiliki tempat, tidak mau mengenali atau mengetahui perasaan dan kebutuhan orang lain.
8) Sering cemburu terhadap orang lain dan merasa orang lain juga cemburu kepada dirinya.
9) Memperlihatkan kesombongan, sikap congkak dan sombong Cluster C
Gangguan kepribadian "Cluster C" ditandai oleh kecemasan. Individu dengan gangguan kepribadian dalam kelompok ini cenderung mengalami kecemasan yang berlebih atau mengalami ketakutan.
Gangguan kepribadian Cluster C meliputi:
8. Dependent Personality Disorder
Merupakan gangguan yang melibatkan rasa takut sendirian dan kerap bermasalah dengan orang-orang yang peduli dengannya. Dependent Personality Disorder Menggambarkan orang yang memiliki kebutuhan yang berlebihan untuk di asuh oleh orang lain. hal ini membuat mereka menjadi sangat patuh dan melekat dalam hubungan mereka serta akan takut aka perpisahan. Orang dengan gangguan ini merasa sangat sulit melakukan segala sesuatu sendiri tanpa bantuan orang lain. mereka mencari saran dalam membuat keputusan yang paling kecil sekalipun.Gangguan kepribadian dependen telah dikaitkan dengan ganguan psikologis lain, termasuk depresi mayor, gangguan bipolar, dan fobia sosial, serta dengan masalah masalah fisik, seperti hipertensi, kanker dan gangguan gastroinstenstinal (Bornstein, 1999; loranger, 1996; reich, 1996). Tampak pula adanya kaitan antara kepribadian dependen dengan apa yang disebut oleh para teoritikus psikodinamika sebagai masalah perilaku ”oral”, seperti merokok, gangguan makan, dan alkoholisme (Bornstein, 1993, 1999). Penelitian menunjukan bahwa orang dengan kepribadian dependen lebih bergantung pada orang lain untuk mendapatkan dukungan dan bimbingan daripada kebanyakan orang (Greenberg & Bornstein, 1998a).
Kriteria diagnostik (DSM-5) pada gangguan kepribadian dependen adalah sebagai berikut.
a. Kebutuhan yang perpasiv dan berlebihan untuk diasuh, yang menyebarkan perilaku tunduk dan menggantung dan rasa takut akan perpisahan, dimulai pada masa dewasa awal dan tampak dalam berbagai konteks, seperti yang ditunjukkan oleh lima (atau lebih) berikut:
1) Memiliki kesulitan dalam mengambil keputusan setiap hari tanpa sejumlah besar nasehat dan penenteraman dari orang lain.
2) Membutuhkan orang lain untuk menerima tanggung jawab dalam sebagian besar bidang utama kehidupannya.
3) Memiliki kesulitan dalam mengekspresikan ketidaksetujuan pada orang lain.
4) Memiliki kesulitan dalam memulai proyek atau melakukan hal dengan dirinya sendiri (karena tidak memiliki keyakinan diri dalam pertimbangan atau kemampuan ketimbang tidak memiliki motivasi atau energi)
5) Berusaha berlebihan untuk mendapatkan asuhan dan dukungan dari orang lain, sampai pada titik secara sukarela melakukan hal yang tidak meyenangkan.
6) Merasa tidak nyaman atau tidak berdaya jika sendirian karena timbulnya rasa takut tidak mampu merawat diri sendiri.
7) Segera mencari hubungan dengan oranglain sebagai sumber pengasuhan dan dukungan jika hubungan dekatnya berakhir.
8) Secara tidak realistic terpreokupasi dengan rasa takut ditinggal untuk merawat dirinya sendiri.
9. Obsessive-Compulsive Personality Disorder
Merupakan gangguan yang ditandai oleh kesenangan atau menikmati ketertiban, kesempurnaan, dan kontrol hubungan. Ciri yang menggambarkan gangguan kepribadian obsesif-kompulsif meliputi derjat keteraturan yang berlebihan, kesempurnaan, kekakuan, kesulitan melakukan coping dengan ketidakpastian, dan mendetail dalam kebiasaan kerja.
Sekitaar 1% dari sampel komunitas di diagnosis dengan gangguan ini (APA, 2000).
Gangguan ini lebih umum di temui pada laki laki daripada perempuan. Orang dengan gangguan kepribadian obsesif-kompulsif sangat terpaku pada kebutuhan atau kesempurnaan sehingga mereka tidak dapat menyelesaikan segala sesuatu tepat waktu. Apa yang mereka lakukan pasti gagal memenuhi harapan mereka dan mereka memaksa diri untuk mengerjakan ulang. Mereka berfokus pada detail yang orang lain anggap sebagai hal yang kurang penting.
kelakuan mereka menganggu hubungan sosial mereka, mereka memaksa melakukan hal hal sesuai dengan cara mereka sendiri daripada berkompromi. Antusiasme yang besar akan
waktu senggang dan mereka terlalu kaku dalam masalah moralitas dan etika karena kekakuan dalam kepribadian dan bukan karena memegang teguh keyakinan.
Kriteria diagnostik (DSM-5) pada gangguan kepribadian obsesif-komplusif adalah sebagai berikut.
a. Pola pervasif preokupasi dengan urutan, perfeksionisme, dan pengendalian mental dan interpersonal, dengan mengorbankan fleksibilitas, keterbukaan, dan efisiensi, dimulai pada masa dewasa awal dan tampak dalam berbagai konteks, seperti yang ditunjukkan oleh empat (atau lebih) berikut:
1) Terpreokupasi dengan perincian, aturan, daftar, urutan, susunan atau jadwal sampai tingkat dimana aktivitas sesama hilang.
2) Menunjukkan perfeksionisme yang mengganggu penyelesaian tugas.
3) Secara berlebihan setia kepada pekerjaan dan produktivitas sampai mengabaikan aktivitas waktu luang dan persahabatan (tidak disebabkan oleh kebutuhan ekonomi yang besar)
4) Terlalu berhati-hati, teliti, dan tidak fleksibel tentang masalah moralitas, etika atau nilai- nilai (tidak disebabkan oleh identifikasi kultural atau religius)
5) Tidak mampu membuang benda-benda yang usang atau tidak berguna walaupun tidak memiliki nilai sentimental.
6) Enggan untuk mendelegasikan tugas atau untuk bekerja dengan orang lain kecuali mereka tunduk dengan tepat caranya mengerjakan hal
7) Memiliki gaya belanja yang kikir baik untuk dirinya sendiri maupun orang lain, uang dipandang sebagai sesuatu yang harus ditimbun untuk rencana dimasa depan.
8) Menunjukkan kekacauan dan keras kepala.
10. Avoidant Personality Disorder
Merupakan gangguan yang dapat muncul selama masa kanak-kanak. Ini ditandai dengan mengabaikan aturan dan kurangnya empati dan penyesalan. Orang kepribadian menghindar (avoidant personality disorder) sangat ketakutan akan penolakan dan kritik sehingga mereka umumnya tidak memasuki hubungan tanpa adanya kepastian akan penerimaan. Sebagai hasilnya, mereka hanya memiliki sedikit teman dekat di luar keluarga inti. Mereka juga cenderung menghindari pekerjaan kelompok atau aktivitas rekreasi karena takut penolakan. Mereka lebih suka menyendiri. gangguan kepribadian menghindar, yang muncul dalam proporsi sama pada laki laki dan perempuan, diyakini menimpa antara 0,5%
hingga 1% dari populasi umum (APA, 2000).Tidak seperti orang dengan karakteristik skizoid, yang juga memiliki karakteristik ciri menarik diri secara sosial, individu dengan
gangguan kepriadian menghindar memiliki minat dan perasaan akan kehangatan pada orang lain. meskipun demikian, ketakutan akan penolakan menghalangi mereka untuk memenuhi kebutuhan mereka akan afeksi dan penerimaan. Dalam sistuasi sosial, mereka cenderung merapat pada dinding dan menghindari percakapan pada orang lain.
Kriteria diagnostik (DSM-5) pada gangguan kepribadian mengindar adalah sebagai berikut.
a. Pola perfasiv hambatan sosial, perasaan tidak cakap, dan kepekaan berlebihan terhadap penilaian negatif, dimulai pada masa dewasa awal dan tampak dalam berbagai koteks, seperti yang ditunjukkan oleh empat (atau lebih) berikut :
1) Mengindari aktivitas pekerjaan yang memerlukan kontak interpersonal yang bermakna karena takut akan kritik, celaan dan penolakan.
2) Tidak mau terlibat dengan orang lain kecuali merasa yakin akan disenangi.
3) Menunjukkan keterbatasan dalam hubungan intim karena rasa takut dipermalukan atau ditertawai
4) Preokupasi dengan sedang dikritik atau ditolak dalam situasi sosial
5) Terhambat dalam situasi interpersonal yang baru karena perasaan tidak ada kuat
6) Memandang diri sendiri tidak layak secara sosial karena merasa dirinya tidak menarik atau lebih rendah dari orang lain.
7) Tidak biasanya enggan untuk mengambil resiko pribadi atau melakukan aktivitas baru karena dapat membuktikan penghinaan
B.Penyebab gangguan kepribadian Menurut Perspektif Teoritis a. Perspektif Psikodinamika
Teori Freudian memandang bahwa banyaknya abnormalitas yang muncul diakibatkan karena Oedipus complex. Freud meyakini bahwa anak-anak normalnya dapat mengatasi Oedipus complex dengan mengabaikan inses pada orangtua yang bededa gender dan mengidentifikasi diri dengan orang tua dari gender yang sama. Hasilnya adalah mereka menyerap prinsip moral orangtua yang bergender sama dalam bentuk struktur kepribadian yang disebut superego. Selain itu juga freud memandang bahwa ketidakhadiran sosok ayah dan orangtua yang antisosial juga merupakan faktor yang menyebabkan penyimpangan pada proses perkembangan, menghalangi anak untuk memiliki moral guna mencegah perilaku anti sosial, perasaan bersalah, menyesal,atau perilaku menyakiti orang lain. Pada perkembangan moral freud berfokus pada laki-laki, sehingga menuai kritikan karena gagal menjelaskan perkembangan moral perempuan.
b. Perspektif belajar
Teoritikus belajar menggigatkan bahwa pada masa kanak-kanak banyak terjadi pengalaman penting yang membentuk perkembangan kebiasaan maladaptif dalam berhubungan dengan orang lain yang menyebabkan gangguan kepribadian. Sebagai contoh, anak yang secara terus menerus tidak didukung utuk mengungkapkan pikiran mereka atau menjelajahi lingkungan mereka dapat mengembangkan pola perilaku kepribadian dependen. Gangguan kepribadian obsesif-kompulsif kemungkinan terkait disiplin atau kontrol yang berlebihan dari orangtua dimasa kanak-kanak. Theodore Millon (1981) menyatakan bahwa anak yang perilakunya dikontrol dan dihukum secra kaku oleh orang tua mereka, bahkan untuk kesalahan yang ringan, dapat mengembangkan standar kesempurnaan yang tidak fleksibel. Ketika beranjak dewasa, mereka mungkin berjuang untuk mengembangkan diri mereka dalam area dimana mereka dapat tampil baik, seperti kegiatan akademis atau atletis, sebagai cara untuk menghindari kritik atau hukuman dari orang tua. namun perhatian yang khusus pada area perkembangan tertentu saja mencegah mereka untuk menjadi orang yang terlibat dalam banyak aktivitas. Sehingga mereka menghindari resiko dan tantangan baru.
Teoretikus sosial-kognitif menekankan peran reinforcement dalam menjelaskan asal mula adanya perilaku antisosial. Ullmann dan krassner menyatakan bahwa orang dengan kepribadian antisosial kemungkinan gagal untuk belajar merespons terhadap orang lain sebagai reinforcer yang potensial. Anak menempatkan orang lain sebagai reinforcing agent karena saat orang lain tersebut memberikan mereka reinforcemet berupa pujian karena melakukan hal yang baik dan menghukum mereka saat melakukan kesalahan, reinforcement dan hukuman mmberikan informasi pada anak bahwa ada yang namanya harapan sosial, yang kemudian memebantu anak memodifikasi perilakunya untuk memaksimalkan kesempatan mendapatkan reward dan meminimalisir risiko di waktu yang akan datag, sebagai konsekuensinya dalam artian anak menjadi sensitive terhadap tuntutan orang lain.
Teoritikus Albert Bandura mempelajari proses belajar observasional dalam perilaku agresif yang merupakan salah satu komponen umum anti sosial. Ia dan rekannya telah menunjukan bahwa anak menguasai keterampilan, termasuk keterampilan agresif melalui pengamatan terhadap orang lain.
Psikolog kognitif-sosial juga menujukan cara orang dengan gangguan kepribadian menginterpretasi pengalaman sosial mereka memperngaruhi perilaku mereka, misalnya ia cenderung keliru menginterpretasikan perilaku orang lain sebagai ancaman.
c. Perspektif keluarga
Sejalan dengan pandangan psikodinamika yang, bahwa gangguan dalam hubungan keluarga mendasari perkembangan gangguan kepribadian. Peneliti menemukan bahwa orang dengan gangguan kepribadian ambang (BPD) dibandingkan dengan gangguan psikologis lain, merka mengenang orang tua mereka sebagai seorang yang lebih mengontrol dan kurang peduli.Sejalan lagi dengan psikodinamika, faktor keluarga seperti overprotektif dan ototarianisme menyebabkan berkembangnya trait kepribadian dependen yang menghambat perkembangan perilaku yang mandiri. Ketakutan yang ekstreen akan ditinggalkan juga dapat menjadi salah satu penyebab, kemungkinan dihasilkan dari kegagalan untuk mengembangkan ikatan yang aman dengan figure orangtua dimasa kanak-kanak akibat pengabaian, penolakan, atau kematian orangtua.
d. Perspektif biologis 1. Faktor genetis
Adanya indikasi bukti dari adanya faktor genetis, beradasarkan temuan bahwa hubungan biologis derajat pertama (orang tua dan saudara kandung) dari orang dengan gangguan kepribadian tertentu, terutama tipe antisosial, skizotipal, dan ambang, lebih cenderung didiagnosis gangguan-gangguan ini daripada anggota populasi umum.Penelitian terhadap transmisi dalam keluarga terbatas karena anggota keluarga berbagi lingkungan yang sama sebagaimana juga gen. maka penelitian beralih pada anak kembar dan anak adopsi untuk mengetahui pengaruh genetis dan lingkungan. Bukti dari penelitian ini anak kembar menyatakan bahwa dimensi keprbadian yang terkait dengan gangguan kepribadian tertentu dapat memiliki kompenen yang diwariskan.
2. Kurangnya respon emosional
Hervey menyatakan bahwa kepribadian anti sosial dapat menjaga ketenangan mereka dalam situas yang penuh tekanan yang akan menyebabkan kecemasan pada kebanyakan orang.
Teoritikus kognitif dapat menjelaskan hasil penelitian yang menunjukan bahwa efek dari stimulus aversif pada orang dengan gangguan kepribadian anti sosial bergantung pada makna dan nilai dari stimulus.Saat orang cemas, telapak tangan mereka cenderung berkeringat.
Respon kulit, disebut galvanic skin respons , adalah suatu tanda aktivasi dari cabang simpatis sistem saraf otonom (autonomic nervous system). Orang dengan kepribadian antisosial memiliki tingkat GSR lebih rendah saat mereka dihadapkan pada stimulus yang menyakitkan daripada kelompok control yang normal. Tampaknya, orang dengan kepribadian antisosial hanya mengalami sedikit kecemasan dalam mengatasi rasa sakit yang akan dihadapinya.
3. Model lapar-akan-stimulasi
Kebutuhan akan tingkat stimulasi yang lebih tinggi dapat menjelaskan mengapa orang dengan trait psikopati cenderung lebih mudah mersa bosan daripada orang lain dan juga lebih sering tertarik pada aktivitas yang lebih menstimulasi namun secara potensial berbahaya.
Seperti motorcycling, skydiving, jud dengan taruhan yang besar, atau petualangan seksual.
4. Abnormalitas otak
Penelitian menggunakan teknik pencitraan otak (brain-imaging) yang canggih menghubungkan antara gangguan kepribadian antisosial dan abnormalitas pada korteks prefrontal dari lobus frontal.Korteks prefrontal adalah bagian dari otak yang beratanggung jawab untuk menghambat perilaku impulsif, menimbang konsekuensi dari tindakan kita, memecahkan masalah, dan merencanakan masa depan.
Abnormalitas otak dapat membantu menjelaskan beberapa ciri gangguan kepribadian antisosial, termasuk kurangnya hati nurani, kegagalan dalam menghambat perilaku impulsif, kondisi ketengsaraan yang rendah, usaha yang buruk dalam memecahkan masalah dan kegagalan untuk memikirkan konsekuensi dari perilaku sebelum bertindak.
e. Perspektif sosiokultural
Perspektif sosiokultural menelaah kondisi sosial yang dapat berkontribusi pada perkembangan pola perilaku yang diidentifikasi sebagai gangguan kepribadian. Kita perlu melihat peran dari stressor yang dialami individu dan keluarga yang kurang beruntung yang bermain dalam pembentukan pola perilaku, dikarenakan gangguan kepribadian antisosial dilaporkan paling sering terjadi pada orang yang ekonominya dari kelas sosial lebih rendah.
Banyak lingkungan yang di dalamnya penuh dengan masalah sosial seperti kemiskinan, alkohol, seks bebas, penyalahgunaan obat terlarang, serta keluarga yang tidak terorganisasi dan tidak terintegrasi. Masalah sosial tersebut dapat mendorong individu menjadikan hal tersebut sebagai panutan yang menyimpang.Bicara tentang masalah kepribadian antisosial dapat meliputi usaha pada tingkat masyarakat untuk memperbaiki ketidakadilan sosial dan memperbaiki kondisi sosial.
C. Intervensi atau penanganan gangguan kepribadian
Orang dengan perilaku gangguan kepribadian biasanya memandang perilaku mereka sebagian dari perilaku alami mereka. meski mereka tidak pernah bahagia atau distress, mereka sulit menganggap perilaku mereka sendiri sebagai penyebabnya. Orang dengan gangguan kepribadian juga cenderung berespon lebih buruk terhadap penanganan masalah
seperti depresi di bandingkan orang lain, mungkin karena pengaruh negative dari pola perilaku maladaptive mereka (Shea, Widiger, & Klein, 1992).
a. Pendekatan psikodinamika
Pendekatan psikodinamika sering digunakan untuk menolong orang yang di diagnosis dengan gangguan kepribadian agar menadi lebih sadar akan akar dari pola perilaku self-defetaing mereka dan belajar cara yang lebih adaptif dalam berhubungan dengan orang lain. kemajuan dalam terapi dapat terhambat oleh kesulitan dalam bekerja secara terapeutik dengan orang yang menderita gangguan kepribadian, terutama klien dengan gangguan kepribadian ambang dan narisistik. Terapis psikodinamika sering melaporkan bahwa orang dnegan gangguan kepribadian ambang cenderung memilki hubungan yang tidak stabil dengan para terapis, kadang mengidolakan mereka, kadang menuduh mereka tidak peduli.
Terlepas dari adanya masalah dalam menangani orang yang menderita gangguan kepribadian dengan menggunakan psikoterapi, sejumlah hasil yang menjanjikan telah di laporkan menggunakan terapi berorientasi psikodinamika (misalnya, Bateman & Fonagy, 2001). Pertama kali di temukan bentuk terstruktur dan singkat dari terapi psikodinamika di Beth Israel Medical Center New York (Winston dkk, 1991).
b. Pendekatan behavioral
Banyak teoritikus behavioral yang sama sekali tidak berpikir dalam kerangka kepribadian klien, namun lebih dalam kerangka perilaku maladaptive di pelajari dan di pertahankan oleh kemungkina adanya reinforcement. Maka dari itu terapis behavioral berfokus pada usaha untuk merubah perilaku maladaptive mengubah menjadi perlaku adaptif melalui menggunakan teknik seperti pemusnahan, modeling dan reinforcement. Jika klien tersebut diajarkan perilaku yang cenderung dikuatkan oelh orang lain, maka perilaku baru tersebut akan di pertahankan.
Terlepas dari kesulitan dalam menangani gangguan kepribadian ambang (ABD), dua kelompok terapis di kepalai oleh Aaron Beck dan Marsha Linehan melporkan hasil yang menjanjikan dengan menggunakan teknik kognitif-behavioral. Pendekatan Beck berfokus pada menolong individu memperbaiki distorsi kognitif yang mendasari kecenderungan untuk memandang diri sendiri dan orang lain sebagai “semua-tentangnya-baik” atau “semua- tentangnya-buruk”. Teknik Linehan yang disebut dialectical behavioral therapy (DBT), menggunakan terapi perilaku dan pskoterapi suportif. Technical behavioral di gunakan untuk
dalam menyelesaikan masalah, yang bisa memperbaiki hubungan mereka dengan orang lain dan juga kemampuan untuk mengatasi kemampuan negatif. Karena orang dengan BPD cenderung terlalu sensitive bahkan terhadap tanda yang paling halus dari penolakan, terapis memberi penerimaan dan dukungan yang terus menerus, bahkan saat klie n terus mendesak hingga menjadi manipulatif atau sangat menuntut. Walaupun hasil awal dengan DPB menjanjikan, peneliti tahu bahwa perlu penelitian lebih lanjut untuk mendukung efikasi dalam menangani gangguan yang menantang (Scheel, 2000; Turner, 2000).
c. Pendekatan biologis
Terapi obat tidak secara langsung dapat menangani gangguan kepribadian. Meski demikian, obat anti depresan atau anti kecemasan kadang di gunakan untuk menangani distress emosional yang di alami individu gangguan kepribadian. Obat tidak mengubah pola persisten dari perilaku maladaptive yang dapat menyebabkan distress. Meski demikian, sebuah penelitian mengindentifikasi bahwa antidepresan Prozac dapat mengurangi perilaku agresif dan iritabilitas dala diri individu penderita gangguan kepribadian, yang impulsive dan agresif (Coccaro & Kavoussi, 1997). Peneliti menduga bahwa perilaku impulsive dan agresif berhubungan dengan kekurangan serotonin. Prozac dan obat lain yang serupa bekerja untuk mningkatkan ketersediaan serotonin untuk sambungan sinaptik di otak.
D.Gangguan dimasa Tua
Masalah-masalah utama yang sering didapati pada Lansia dan seringkali menjadi penyebab gangguan kepribadian pada lansia adalah keterbatasan kemampuan fisik ,ketergantungan dengan orang lain, perasaan semakin kurang berguna, dan perasaan terisolasi. Masalah kesehatan fisik dan mental pada lansia tersebut menjadi penghalang bagi aktivitas sosial lansia. Hurlock (2008), mengatakan bahwa perubahan yang dialami oleh setiap orang terutama lansia akan mempengaruhi minatnya terhadap perubahan tersebut dan akhirnya mempengaruhi pola hidupnya terutama interaksi sosialnya di lingkungan masyarakatnya Seperti halnya juga yang diungkapkan oleh Havighurst dalam Neugarten (1968: 161) bahwa perubahan sosial yang terjadi pada orang lanjut usia antara lain terjadinya penurunan aktivitas.Berkurangnya aktivitas sosial usia Lanjut dapat menyebabkan Lansia semakin mengalami perasaan terisolir dan merasa tidak berguna lagi, sehingga usia lanjut akan lebih suka menyendiri atau mengisolasi diri dari sosialnya.
Aktivitas sosial pada lansia diperkirakan memberikan kontribusi paling besar terhadap masa tua yang sukses.Ada beberapa permasalahan yang bersifat psikologis yang sering
dirasakan oleh lanjut usia, yang disebabkan oleh berkurangnya aktivitas sosial pada Lansia yaitu rasa kesepian dalam menjalani kehidupan sehari-hari antara lain:
(1) longgarnya kegiatan dalam mengasuh anak-anak karena anak-anak sudah dewasa dan bersekolah tinggi sehingga tidak memerlukan penanganan yang terlampau rumit,
(2) Berkurangnya teman/relasi akibat kurangnya aktivitas di luar rumah, (3) kurangnya aktivitas sehingga waktu luang bertambah banyak,
(4) Meninggalnya pasangan hidup,
(5) Anak-anak yang meninggalkan rumah karena menempuh pendidikan yang lebih tinggi, anak-anak yang meninggalkan rumah untuk bekerja, dan
(6) Anak-anak telah dewasa dan membentuk keluarga sendiri.
Faktor-faktor inilah yang banyak mempengaruhi kesehatan psikis, sehingga menyebabkan orang lanjut usia kurang mandiri dan harus bergantung pada orang lain. Dalam teori pertukaran sosial sumber kebahagian dan kepuasan manusia umumnya berasal dari hubungan sosial.Perubahan peran, kedudukan sosial, aktivitas, dan perpisahan dengan orang-orang yang dicintai menjadi faktor yang seringkali menyebabkan Lansia merasa tidak puas dan akan berakibat pada timbulnya sikap apatis, sulit dalam menerima perubahan diri, dan timbulnya sikap meminta perhatian/bantuan berlebihan dari orang lain.Kondisi-kondisi tersebut menyebabkan usia Lanjut (lansia) menjadi lebih rentan mengalami masalah mental dan rentan terhadap depresi.Depresi menjadi salah satu masalah gangguan mental yang sering ditemukan pada lansia. Orang yang depresi memiliki hubungan sosial yang lebih kecil dan menyebabkan ketidak mampuan dalam fungsi sosial yaitu akan meningkatkan isolasi sosial, morbiditas medik, masalah keluarga dan penderitaan pribadi. Selain rasa kesedihan, depresi juga menimbulkan gangguan fisik dan mental seperti kemampuan kerja, nafsu seks, nafsu makan dan bahkan kesulitan untuk memahami informasi merupakan bagian dari depresi.
Dengan adanya penurunan kedua fungsi tersebut, lansia juga mengalami perubahan aspek psikososial yang berkaitan dengan keadaan kepribadian lansia.
Beberapa perubahan tersebut dapat dibedakan berdasarkan 5 tipe kepribadian lansia sebagai berikut:
a. Tipe Kepribadian Konstruktif (Construction personalitiy), biasanya tipe ini tidak banyak mengalami gejolak, tenang dan mantap sampai sangat tua.
b. Tipe Kepribadian Mandiri (Independent personality), pada tipe ini ada kecenderungan mengalami post power sindrome, apalagi jika pada masa lansia Masalah Psikososial Pada Lanjut Usia ( Kartinah dan Agus Sudaryanto ) tidak diisi dengan kegiatan yang dapat memberikan otonomi pada dirinya
c. Tipe Kepribadian Tergantung (Dependent personalitiy), pada tipe ini biasanya sangat dipengaruhi kehidupan keluarga, apabila kehidupan keluarga selalu harmonis maka pada masa lansia tidak bergejolak, tetapi jika pasangan hidup meninggal maka pasangan yang ditinggalkan akan menjadi merana, apalagi jika tidak segera bangkit dari kedukaannya.
d. Tipe Kepribadian Bermusuhan (Hostility personality), pada tipe ini setelah memasuki
tidak diperhitungkan secara seksama sehingga menyebabkan kondisi ekonominya menjadi morat-marit.
e. Tipe Kepribadian Kritik Diri (Self Hate personalitiy), pada lansia tipe ini umumnya terlihat sengsara, karena perilakunya sendiri sulit dibantu orang lain atau cenderung membuat susah dirinya.
DAFTAR PUSTAKA
Nevid, J.S., dkk., Psikologi Abnormal Edisi Ke-5, Jakarta: Penerbit Erlangga, 2005.
Maslim, Rusdi, Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkas PPDGJ-III dan DSM-5, Jakarta:
Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atma Jaya, 2013.
Davison, G.C., Neale, J.M., & Kring, A.M. (2010). Psikologi Abnormal, Edisi ke-9 (Terjemahan). Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada