• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH PSIKOLOGI KESEHATAN “BODY IMAGE”

N/A
N/A
Dheyaaa

Academic year: 2023

Membagikan "MAKALAH PSIKOLOGI KESEHATAN “BODY IMAGE”"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH PSIKOLOGI KESEHATAN

“BODY IMAGE”

DISUSUN OLEH:

NAMA : DHEA PUTRI UTAMI NIM : PO714241201008 PRODI : D4 FISIOTERAPI

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLTEKKES KEMENKES MAKASSAR

2020

KATA PENGANTAR

(2)

Assalamualaikum wr.wb. Dengan menyebutkan nama Allah SWT yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang serta memanjatkan puji syukur kehadirat Nya yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah Nya kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan pembuatan makalah ini.

Makalah ini disusun guna memenuhi tugas dosen pada mata kuliah Psikologi Kesehatan di Poltekkes Kemenkes Makssar. Selain itu, saya juga berharap agar makalah ini dapat

menambah wawasan bagi pembaca tentang perilaku kesehatan.

Saya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Bapak Yonathan Ramba, SPd, M.Si, selaku dosen mata kuliah Psikologi Kesehatan. Tugas yang telah diberikan ini dapat menambah pengetahuan dan wawasan terkait bidang yang saya ditekuni. Saya juga mengucapkan terima kasih pada semua pihak yang telah membantu proses penyusunan makalah ini.

Terlepas dari segala hal tersebut, penulis sadar sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karenanya penulis dengan lapang dada menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ini.

Akhir kata saya sebagai penulis sangat berharap semoga saja dengan adanya penulisan makalah ini bisa memberikan manfaat maupun inspirasi untuk pembaca.

Makassar, 15 Oktober 2020

Dhea Putri Utami

DAFTAR ISI

(3)

Contents

KATA PENGANTAR...2

DAFTAR ISI...3

BAB 1...4

PENDAHULUAN...4

1.1 LATAR BELAKANG...4

1.2 RUMUSAN MASALAH...4

1.3 TUJUAN...4

BAB II...5

PEMBAHASAN...5

2.1 PENGERTIAN BODY IMAGE...5

2.2 KATEGORI BODY IMAGE...6

2.3 ASPEK-ASPEK BODY IMAGE...6

2.4 FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN BODY IMAGE...8

2.5 CARA MEMBANGUN BODY IMAGE YANG POSITIF...10

2.6 GAMBARAN BODY IMAGE PADA REMAJA...10

BAB III...12

PENUTUP...12

3.1 KESIMPULAN...12

DAFTAR PUSTAKA...13

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

(4)

Pada dasarnya manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang sempurna, teristimewa, terbaik, dan terunik dibanding dengan ciptaan Tuhan yang lainnya. Manusia diberikan konsep diri oleh Tuhan, setiap manusia memiliki konsep dirinya masing-masing atau tidak sama dengan manusia lain. Konsep diri muncul dan atau dipelajari berdasarkan pengalaman internal masing- masing individu, hubungan dengan orang lain, dan interaksi dengan dunia luar. Konsep diri sangat penting bagi kesehatan fisik dan mental seseorang. Individu dengan konsep diri yang positif akan menjadi lebih baik dan mampu mengembangkan dan memelihara hubungan antar sesama individu lainnya. Konsep diri memberi perasaan kontinuitas, lengkap/utuh dan

kemantapan pada seseorang.

Konsep diri yang positif, memungkinkan seseorang untuk menemukan kebahagiaan dalam hidup, dan juga untuk mengatasi kekecewaan dan perubahan hidup. Sedangkan konsep diri negatif menimbulkan perasaan tidak berharga, perasaan dibenci, dan selalu merasakan kesedihan yang mendalam dan juga mudah putus asa.

1.2 RUMUSAN MASALAH

Adapun rumusan masalah yang didapatkan yaitu 1. Apa pengertian dari Body Image ?

2. Apa saja yang termasuk kategori Body Image?

3. Apa saja aspek-aspek Body Image?

4. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan Body Image?

5. Bagaimanakah cara membangun body image yang positif?

6. Bagaimanakah gambaran Body Image pada remaja

1.3 TUJUAN

1. Untuk mengetahui pengertian dari Body Image 2. Untuk mengetahui kategori-kategori Body Image 3. Untuk mengetahui apa saja aspek-aspek Body Image

4. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan Body Image 5. Untuk mengetahui bagaimana cara membangun Body Image yang positif

6. Untuk mengetahui gambaran Body Image pada remaja

BAB II PEMBAHASAN

2.1 PENGERTIAN BODY IMAGE

Body Image (citra tubuh) adalah sikap individu terhadap dirinya baik disadari maupun tidak, yang meliputi presepsi masa lalu atau sekarang mengenai ukuran dan dinamis karena secara konstan berubah seiring dengan presepsi dan pengalaman- pengalaman baru.

(5)

Body image (citra tubuh) merupakan pengalaman individu yang berupa persepsi terhadap bentuk dan berat tubuhnya, serta perilaku yang mengarah pada evaluasi individu tersebut terhadap penampilan fisiknya (Cash, 2012).

Kartono dan Dali mengatakan bahwa body image merupakan suatu citra mental mengenai dirinya sendiri (Kartono, Dali. 1987).Menurut Chaplinbody concept or body image (konsep tubuh atau gambaran tubuh)adalah ide seseorang mengenai betapa penampilan badannya dihadapan orang (bagi) orang lain. Kadang kala dimasukkan pula konsep mengenai fungsi tubuhnya (Chalpin, 1999).

Hurlock, 1978, mendefinisikan body image sebagai cara seseorang

mempersepsikan tubuhnya sehubungan dengan ideal yang dimilikinya. Pada suatu kebudayaan setempat dan dalam hubungan dengan cara orang lain menilai tubuh yang dimilikinya (Hurlock, 1978).

Menurut Cash (2002 dalam Grogan, 2000) pembentukan body imagemerupakan hasil dari timbal balik antara peristiwa di lingkungan sekitar kognitif, afektif proses fisik dan perilaku individu. Gambaran tubuh terdiri dari hubungan pribadi individu dengan tubuhnya sendiri yang mencakup persepsi pikiran, perasaan, dan tindakan yang

berhubungan dengan penampilan fisik yang dikonseptualisasikan terdiri dari empat yaitu persepsi, kognisi, afeksi, dan perilaku.

Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa gambaran tubuh merupakan perasaan, pengalaman, sikap dan evaluasi yang dimiliki seseorang mengenai tubuhnya yang meliputi bentuk tubuh, ukuran tubuh, dan berat tubuh yang mengarah kepada penampilan fisik yang bersifat positif dan negative

2.2 KATEGORI BODY IMAGE

Body image dibagi menjadi 2 bagian, yaitu : a. Body Image Positif

Orang yang memiliki body imagepositif akan cenderung merasa puas terhadap- kondisi tubuhnya, memiliki harga diri yang tinggi, penerimaan jati diri yang tinggi, rasa percaya diri akan kepedulian terhadap kondisi badan dan kesehatannya sendiri, serta adanya kepercayaan diri ketika menjalani hubungan dengan orang lain (Irianita, 2007).

Persepsi yang tepat dan benar terhadap bentuk tubuh diri sendiri, menghargai bentuk alamiah merasa gembira dan menerima tubuh sebagai sesuatu yang unik menolak memikirkan hal-hal yang tidak masuk akal (seperti: khawatir terhadap makanan, berat badan, dan kalori), merasa nyaman dan percaya diri dengan tubuh yang dimiliki (Halil, 2007).

(6)

b. Body Image Negatif

Orang yang memiliki body imageyang negatifakan cenderung merasa tidak puas atau malu terhadap kondisi tubuhnya sehingga tidak jarang menimbulkan depresi, memiliki harga diri yang rendah atau bahkan merasa dirinya tidak berharga (Irianita 2007).

Mengalami distorsi persepsi terhadap bentuk tubuh sendiri, meyakini bahwa orang lain lebih menarik, merasa ukuran atau bentuk tubuh adalah pertanda dari kegagalan personal merasa malu, merasa cemas terhadap tubuh, merasa tidak nyaman dan merasa aneh dengan tubuh yang dimiliki (Halil, 2007).

2.3 ASPEK-ASPEK BODY IMAGE

Menurut Thompson, (2000) tingkat citra raga individu digambarkan oleh seberapa jauh individu merasa puas terhadap bagian-bagian tubuh dan penampilan fisik secara keseluruhan serta menambahkan tingkat penerimaan citra raga sebagian besar tergantung pada pengaruh sosial budaya yang terdiri dari empat aspek yaitu reaksi orang lain, perbandingan dengan orang lain, peranan individu dan identifikasi terhadap orang lain.

Thompson, (2000) menjelaskan aspek-aspek dalam citra raga yaitu:

a. Persepsi terhadap bagian-bagian tubuh dan penampilan secara keseluruhan.

Bentuk tubuh merupakan suatu simbol dari diri seorang individu, karna dalam hal tersebut individu dinilai oleh orang lain dan dinilai oleh dirinya sendiri.

b. Aspek perbandingan dengan orang lain

Adanya penilaian sesuatu yang lebih baik atau lebih buruk dari yang lain, sehingga menimbulkan suatu prasangka bagi dirinya keorang lain, hal-hal yang menjadi perbandingan individu ialah ketika harus menilai penampilan dirinya dengan penampilan fisik orang lain.

c. Aspek sosial budaya (reaksi terhadap orang lain).

Seseorang dapat menilai reaksi terhadap orang lain apabila dinilai orang itu menarik secara fisik, maka gambaran orang itu akan menuju hal-hal yang baik untuk menilai dirinya

Menurut Cash (2002, dalam Gragon, 2000).Pada saat ini pengukuran terhadap body image berkembang pada bentuknya yang multidimensional.

a. Persepsi

Dimensi ini menjelaskan mengenai bagaimana individu memiliki, ukuran, bentuk, dan berat tubunya ideal.Pemahaman mengenai persepsi pada konsep body image termasuk mengukur estimasi bagian-bagian tubuh secara keseluruhan.

b. Afeksi

Dimensi ini menjelaskan mengenai perasaan yang dialami individu terkait dengan kondisi tubuhnya.Perasaan tersebut terkait dengan kondisi penampilan

(7)

dan bentuk tubuh individu.Afeksi menunjukkan bagaimana perasaan seseorang terhadap penampilan tubuhnya.

c. Kognitif

Komponen kognitif menjelaskan mengenai penampilan tubuhnya. Komponen ini menunjukkan sikap yang lebih jauh dari sekedar merasakan, individu pada tahap ini mulai merencanakan apa yang harus dia lakukan untuk mencapai bentuk dan bnetuk penampilan yang ideal.

d. Perilaku

Dimensi perilaku tetap termasuk dalam konsep body image.Dalam pengukuran yang dilakukan terhadap dimensi perilaku pada body image memiliki keterkaitan dengan berat badan, sehingga item yang muncul terkait dengan upaya- upaya dalam menjaga barat badan seperti melakukan puasa, diet, dan bahkan penggunaan obat penurunan (Rosa, 2013).

2.4 FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN BODY IMAGE

Beberapa ahli menyatakan bahwa body image dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain sebagai berikut:

a. Jenis kelamin

Cash dan Puzinsky. 2002 mengatakan bahwa jenis kelamin merupakan faktor yang mempengaruhi dalam perkembangan tubuh seseorang. Dacey dan Kenny. 1999 juga sependapat bahwa jenis kelamin mempengaruhi body image. Ketidakpuasan terhadap tubuh lebih banyak dialami oleh remaja perempuan daripada remaja laki- laki.

Pada umunya, remaja perempuan lebih kurang puas dengan keadaan tubuhnya dan memiliki lebih banyak body image yang negatif, dibandingkan dengan remaja laki-laki selama masa pubertas. Hal tersebut di karenakan pada saat mulai memasuki masa remaja, seorang perempuan akan mengalami peningkatan lemak tubuh yang membuat tubuhnya semakin jauh dari bentuk tubuh yang ideal, sedangkan remaja laki-laki menjadi lebih puas karena masa otot yang meningkat (Brooks Gunn &

Psikoff dalam Santrock, 2003) ketidakpuasan terhadap body image pada remaja perempuan umumnya mencerminkan keinginan untuk menjual lebih langsing.

Sedangkan pada remaja laki-laki ketidakpuasan terhadap tubuhnya juga timbul karena keinginan untuk menjadi lebih besar, lebih tinggi, dan berotot (Cash dan Puzinsky.

2002).

b. Media Massa

(8)

Tiggemann,2001 (dalam Cash & Pruzinsky, 2002) mengatakan bahwa media yang muncul dimana-mana memberi gambaran ideal mengenai figure perempuan dan laki-laki yang dapat mempengaruhi body image seseorang. Media massa menjadi pengaruh yang paling kuat dalam budaya sosial. Anak-anak dan remaja lebih banyak menghabiskan waktunya dengan menonton televisi.Konsumsi media yang tinggi dapat mempengaruhi konsumen. Isi tayangan media sering menggambarkan bahwa standar kecantikan perempuan adalah tubuh yang kurus. Media juga menggambarkan gambaran ideal bagi laki-laki adalah dengan memiliki tubuh yang berotot.

c. Keluarga

Menurut teori social learning, orang tua merupakan model yang penting dalam proses sosialisasi sehingga mempengaruhi body image anak-anaknya melalui modeling, feedback dan instruksi.

Fisher, dan Stark menyatakan bahwa body image melibatkan pertimbangan figure orang tua terhadap jenis kelamin bayinya dan bagaimana wajah bayinya kelak. Ketika bayinya lahir, orang tua menyambut bayi tersebut dengan persamaan antara bayi ideal yang mereka harapkan dengan penampilan sebenarnya. Kebutuhan emosional bayi adalah disayangi lingkungan yang dapat mempengaruhi harga diri seseorang. Harapan fisik bayi oleh orang tua juga sama seperti harapan anggota keluarga lain yaitu tidak cacat tubuh (Andea, 2010).

d. Hubungan Interpersonal

Hubungan interpersonal membuat seseorang cenderung membandingkan diri dengan orang lain dan feedback yang diterima mempengaruhi konsep diri termasuk mempengaruhi bagaimana perasaan terhadap penampilan fisik. Hal inilah yang sering membuat orang merasa cemas dengan penampilannya dan gugup ketika orang lain melakukan terhadap dirinya.

Rosen dan koleganya (dalam Cash & Purzinsky, 2002) menyatakan bahwa feedback terhadap penampilan dan kompetisi teman sebaya dan keluarga dalam hubungan interpersonal dapat mempengaruhi bagaimana dan perasaan mengenai tubuh.

Menurut Dunn & Gokee (1998, dalam Cash Purzinsky, 2002) menerima feedback mengenai penampilan fisik berarti seseorang mengembangkan persepsi tentang bagaimana orang lain memandang dirinya. Keadaan tersebut dapat membuat mereka melakukan perbandingan sosial yang merupakan salah satu proses pembentukan dalam penilaian diri mengenai daya tarik fisik.

Body image yang berkaitan dengan sifat-sifat fisik dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut;

a. Reaksi orang lain

Rekasi dari figure yang memiliki arti bagi individu yang seringkali muncul akan mempengaruhi bentuk body image yang dimiliki dari individu.

b. Pembanding dengan orang lain

Body image yang terbentuk sangat tergantung dari bagaimana cara individu membandingkan dirinya dengan orang lain. Biasanya pada orang-orang hampir

(9)

serupa dengan dirinya, misalnya individu sering kali membandingkan dirinya dengan saudaranya lebih tampan atau lebih cantik secara terus menerus akan mengalami kondisi yaitu individu tersebut menganggap baha dirinya adalah individu yang jelek.

c. Identifikasi terhadap orang lain

Individu yang mengalami suatu tokoh yang dianggapnya ideal maka seringkali individu tersebut meniru tokoh seperti cara-cara berdandan, potongan rambut dan lain-lain.

d. Peran seseorang

Setiap orang memiliki peran yang berbeda-beda dan diharapkan dapat bertindak sesuai dengan peran yang dimilikinya misalnya pada seorang guru dan seorang foto model, dua profesi yang berbeda dengan tuntutan serta penghayatan peran yang berbeda pula. Oleh sebab itu, gangguan pada kondisi fisik akan mempunyai afeksi yang berbeda terhadap body image yang ada misalnya jerawat lebih menganggu body image seorang model dari pada guru.

e. Perkembangan body image

Pada saat individu kanak-kanak telah mempunyai suatu body image yang ideal menurut dirinya.Body image ideal yang memiliki individu saat itu biasanya bersifat realistis, sejalan dengan pertumbuhan fisik yang terjadi dan juga semakin luasnya pengalaman-pengalaman yang didapatkannya. Maka nilai ideal body image yang terbentuk masa kanak-kanak akan berubah, tetapi biasanya bagian-bagian yang esensial akan terus menetap.

2.5 CARA MEMBANGUN BODY IMAGE YANG POSITIF

a. Cintai dan Hargai Diri Anda

Semua orang memiliki kekurangan. Apakah itu kekurangan di tubuh, kebiasaan maupun sikap. Kini saatnya menerima semua itu, terutama kekurangan pada tubuh. Seorang perempuan bertubuh kurus pun kadang berharap memiliki tubuh yang berlekuk dan berisi.

b. Hilangkan Keinginan Memiliki Tubuh Model

Diet memang boleh dilakukan, namun tidak diajurkan untuk melakukan diet hingga rela kelaparan. Tubuh seperti model memang terlihat sempurna, namun jangan lupa campur tangan software komputer yang membuat tubuh mereka indah. Toh, para model maupun artis ini juga tidak mengenakan makeup terus- terusan, terutama saat bersantai di rumah.

c. Belanja Sesuai Kondisi Diri

Trend berpakaian terus berubah. Tidak berarti Anda harus mengikutinya dan berpakaian ala ora lain. Lebih baik membeli baju yang sesuai dengan pribadi Anda dan nyaman dikenakan.

d. Berolahraga

Melakukan olahraga tak semata berhubungan dengan penurunan berat badan atau kegemukan. Jadikan olahraga sebagai rutinitas harian karena akan

memberikan efek positif pada tubuh dan pikiran Anda.

(10)

e. Memanjakan Diri

Sebatang coklat atau sekantong kripik tidak akan membunuh Anda.

Manjakan diri Anda sejenak dengan kudapan favorit, disusul melakukan hobi favorit seperti membaca, traveling, menggambar atau menonton televisi.

2.6 GAMBARAN BODY IMAGE PADA REMAJA

Salah satu yang memengaruhi kepercayaan diri adalah penampilan fisik atau bentuk tubuh yang dimilikinya. Penampilan fisik yang sangat berpengaruh pada

kepercayaan diri didasarkan bagaimana individu tersebut melihat bagaimana kondisi fisik yang dapat berupa bentuk tubuh ataupun berat tubuh yang ia miliki serta bagaimana penilaian individu itu terhadap fisik yang ia miliki dan bagaimana bentuk yang ia inginkan (Surya, 2007).

Kepercayaan diri merupakan suatu keyakinan seseorang terhadap segala aspek yang ada pada dirinya dan diwujudkan dalam tingkah laku sehari-hari serta bagaimana individu mampu menilai diri sendiri dan lingkungannya secara positif. Hal demikian sejalan dengan hasil penelitian Suhardita (2011) bahwa kepercayaan diri dapat dibentuk melalui pengalaman yang pernah dilakukan individu baik dalam lingkungan sekolah dan sehari-hari dan diwujudkan dalam tingkah laku. Beberapa cara yang terbukti manjur meningkatkan kepercayaan diri adalah layanan konseling kelompok (Imro’atun, 2017) dan self-instruction (Fiorentika, Santoso, & Simon, 2016)

Tingkat body image remaja putri pada umumnya berada pada kategori netral. masih adanya remaja putri yang belum sepenuhnya memiliki body image yang positif. Grogan dalam Nahdiyah (2015) menyatakan body image dapat didefinisikan sebagai persepsi, pikiran,perasaan seseorang terhadap tubuhnya sendiri. Charles & Kerr dalam Davista (2016) menemukan bahwa kebanyakan wanita tidak puas dengan body image mereka. Body image yang negatif ini memacu wanita untuk memperbaiki penampilan mereka.

Kebanyakan remaja putri mengungkapkan ketidaknyamanan akan bentuk tubuhnya dan ingin menurunkan berat badannya. Ketidakpuasan akan bentuk tubuh lebih banyak dialami oleh remaja putri dibandingkan remaja putra, hal tersebut dapat disebabkan dari berbagai macam hal, seperti keluarga teman sepermainan, serta media (Sari, 2001).

Menurut Santrock (2003) di masa remaja atau pubertas, remaja putri terlihat lebih tidak puas dan memiliki citra tubuh yang negatif dibandingkan dengan remaja laki-laki. Hal tersebut dikarenakan adanya kemungkinan meningkatnya body fat pada remaja putri, sedangkan remaja laki-laki lebih merasa puas akan bentuk tubuhnya karena di masa inilah otot-otot mereka mulai terlihat.

Fokus utama dari perhatian para remaja adalah tubuh mereka (Emmons, 1996). Remaja putri sering sekali menjadi lebih tidak puas dengan keadaan tubuhnya dikarenakan lemak di dalam tubuhnya bertambah, sedangkan remaja putra menjadi lebih puas dikarenakan otot mereka meningkat (Gross, 1984)

(11)

BAB III PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Gambaran tubuh (Body Image) merupakan perasaan, pengalaman, sikap dan evaluasi yang dimiliki seseorang mengenai tubuhnya yang meliputi bentuk tubuh, ukuran tubuh, dan berat tubuh yang mengarah kepada penampilan fisik yang bersifat positif dan negatif.

Gambaran diri (Body Image) berhubungan dengan kepribadian. Cara individu

memandang dirinya mempunyai dampak yang penting pada aspek psikologinya. Pandangan yang realistis terhadap dirinya manarima dan mengukur bagian tubuhnya akan lebih rasa aman, sehingga terhindar dari rasa cemas dan meningkatkan harga diri (Keliat,

1992). Individu yang stabil, realistis dan konsisten terhadap gambaran dirinya akan memperlihatkan kemampuan yang mantap terhadap realisasi yang akan memacu sukses dalam kehidupan.

Kita juga harus memiliki Body Image yang positif dengan cara mencintai dan

menghargai diri sendiri, berbelanja sesuai kondisi diri, berolahraga, serta memanjakan diri.

(12)

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman Fadlullah. (2014). Faktor-Faktor Pendorong Perilaku Diet Tidak Sehat Pada Wanita Usia Dewasa Awal Studi Kasus Pada Mahasiswi Universitas Mulawarman.

Jurnal Psikologi. Vol 2 No. 02. Halaman 162-170. (diakses 15 Oktober 2020).

Ammar Nisa’ul Evana., Nurmala Ira. (2020). Analisis Faktor Sosio-Kultural terhadap Dimensi Body Image pada Remaja. Jurnal of Health Science and Prevention. Vol 4 No.

01. (diakses 15 Oktober 2020).

Hasmalawati Nur. (2017). Pengaruh Citra Tubuh Dan Perilaku Makan Terhadap Penerimaan Diri Pada Wanita. Jurnal Psikoislamedia. Vol 2, No. 2. Halaman 107-115.

(diakses 15 Oktober 2020).

Ifdil Ifdil, Amandha Unzilla Denich, Asmidir Ilyas. (2017). Hubungan Body Image dengan Kepercayaan Diri Remaja Putri. Jurnal Kajian Bimbingan dan Konseling. Vol 2 No. 03. Halaman 110-111. (diakses 15 Oktober 2020).

Julianti Jessi. (2015). Hubungan Antara Body Image dengan Self Esteem Remaja Putri yang Aktif dalam Perilaku Gymnastic. Jurnal Psikologi. (diakses 15 Oktober 2020).

Muhammad Ridha. (2012). Hubungan antara Body Image dengan Penerimaan Diri pada Mahasiswa. Jurnal Fakultas Psikologi. Vol.1 No.01. (diakses 15 Oktober 2020).

Samosir Putri Triana Devi., Sawitri Ratna Dian. (2015). Hubungan Antara Citra Tubuh Dengan Pengungkapan Diri Pada Remaja Awal Kelas VII. Jurnal Empati. Volume 4 No 2. Halaman 14-19. (diakses 15 Oktober 2020).

Nurvita Victoria. (2015). Hubungan Antara Self-esteem dengan Body Image pada Remaja Awal yang Mengalami Obesitas. Jurnal Psikologi Klinis dan Kesehatan Mental.

Vol. 04. No. 01. Halaman 41-49. (diakses 15 Oktober 2020).

(13)

Referensi

Dokumen terkait

Wanita pasca melahirkan yang memiliki Profile I, yang terdiri dari dimensi body image evaluation negatif (tidak puas) dan body image investment rendah

Dari Tabel 4 diketahui bahwa semua (100%) responden penelitian yang memiliki tingkat social comparison sangat tinggi merasa tidak puas terhadap bentuk tubuhnya; sebagian besar

Menurut Thompson, (2000) Tingkat Body image individu digambarkan oleh seberapa jauh individu merasa puas terhadap bagian-bagian tubuh dan penampilan fisik secara keseluruhan

tanpa terpengaruh oleh bentuk tubuhnya sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Serly et.al, (2015) yang menjelaskan bahwa body image positif

Menurut Thompson, (2000) Tingkat Body image individu digambarkan oleh seberapa jauh individu merasa puas terhadap bagian-bagian tubuh dan penampilan fisik secara keseluruhan

Remaja putri yang memiliki self-esteem rendah akan merasa tidak puas dengan penampilan fisik mereka dan meningkatkan body image negatif yang berarti mereka mengalami distorsi body

Terdapat hubungan positif yang signifikan antara persepsi body image terhadap frekuensi makan, dimana semakin negatif persepsi body image menganggap diri gemuk maka akan cenderung

Selanjutnya menurut Nurvita dan Handayani 2015 mengatakan bahwa apabila remaja tidak memiliki body image yang positif atau tidak puas dengan tubuh yang dimilikinya dapat berdampak pada