PENDEKATAN PENGEMBANGAN KURIKULUM DALAM LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM (LPI)
MAKALAH
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
MANAJEMEN PENGEMBANGAN KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM
Dosen Pengampu:
Dr. Agus Zaenul Fitri, M. Pd. dan Prof. Dr. H. Abd Azis, M.Pd.I
Oleh:
Rendi Satriawan Sandi NIM. 1880501220011
PROGRAM STUDI
MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM
PASCASARJANA UIN SAYYID ALI RAHMATULLAH TULUNGAGUNG
2023
PRAKATA
Segala puji syukur selalu kami haturkan atas kehadirat Allah SWT yang senantiasa melimpahkan rahmat, hidayah, serta inayah-Nya kepada kami, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas penyusunan makalah dengan judul “Pendekatan Pengembangan Kurikulum Dalam Lembaga Pendidikan Islam (LPI)”. Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarganya, sahabat serta pengikut setia ajarannya.
Penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini tidak dapat terselesaikan tanpa bantuan dari pihak-pihak tertentu. Untuk itu, kami selaku penyusun makalah menyampaikan ucapan terimakasih kepada:
1. Prof. Dr. H. Maftukhin M.Ag., selaku Rektor Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung.
2.
Dr. Agus Zaenul Fitri, M. Pd. dan Prof. Dr. H. Abd Azis, M.Pd.I, selaku dosen pengampu mata kuliah Manajemen Pengembangan Kurikulum Pendidikan Islam yang telah memberikan motivasi dan semangat dalam menyelesaikan makalah ini.3. Semua pihak yang telah membantu terselesaikannya penulisan makalah ini.
Dengan penuh harap semoga jasa kebaikan mereka diterima Allah SWT. dan tercatat sebagai amal shalih. Akhirnya, penyusunan makalah ini penulis suguhkan kepada pembaca, dengan harap adanya saran dan kritik yang bersifat konstruktif demi perbaikan. Semoga karya ini bermanfaat dan mendapat ridha Allah SWT.
Tulungagung, 1 Juni 2023
Rendi Satriawan Sandi
DAFTAR ISI
PRAKATA...ii DAFTAR ISI...iii A. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang ...1 2. Rumusan Masalah...2 3. Tujuan ...2 B. PEMBAHASAN
1. Orientasi Pendidikan Islam...3 2. Perspektif Pendidikan Islam...8 C. ANALSIS DAN KESIMPULAN
1. Analisis...10 2. Kesimpulan...11 D. REFERENSI...12
A. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Salah satu hal yang diutamakan dalam pembangunan nasional pada lingkup pendidikan adalah perbaikan kualitas sumber daya manusia. Maka, salah satu hal yang kerap menjadi perhatian adalah cakupan sumber pendidikan termasuk implementasi kurikulum (Farid, 2013). Selain implementasinya, kurikulum juga dituntut untuk dilakukan pengembangan sebagai perbaikan yang akan terus berkelanjutan. Sebagai upaya pengembangan kurikulum yang lebih baik, maka dibutuhkan pendekatan yang sesuai pula dengan sekolah yang dimaksud.
Menurut Rusman kurikulum dapat dikatakan sebagai rangkaian terstruktur dan istematis untuk membangaun pembelajaran agar menuju arah menjadi lebih baik. Kurikulum adalah salah satu komponen yang berperan cukup strategis dalam pendidikan baik secara nasional maupun dalam lingkup sekolah (Sudarsono, 2016). Maksudnya, menurut Marty perubahan kurikulum dipastikan memiliki andil dalam perubahan yang signifikan. Sebab, kurikulum dan pembelajaran merupakan aktivitas pokok sekolah dan pengelolaannya merupakan bagian yang sangat penting dari manajemen sekolah.
Perubahan dan pengembangan kurikulum adalah suatu hal yang sangat wajar terjadi.
Tidak ada batasan dalam kurun waktu tertentu dalam proses perubahannya. Namun, terkadang yang menjadi persoalalan adalah berkenaan dengan tujuan dan alasan mengapa perubahan itu terjadi. Adapun perubahan dan pengembangan kurikulum sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan sekarang dan antisipasi masa depan (Alhamuddin, 2014).
Kurikulum juga dianggap sebagai segala pengalaman yang disajikan kepada para siswa di bawah pengawasan atau pengarahan sekolah. Terdapat teori yang berpendapat bahwa kurikulum bukan hanya meliputi semua kegiatan yang direncanakan melainkan juga peristiwa-peristiwa yang terjadi dibawah pengawasan sekolah. Maka pengembangannya juga disesuaikan dengan kebutuhan sekolah dan pemilihan pendekatan yang efektif pula.
Salah satu alasan mengapa dilakukan pengembangan kurikulum adalah sifatnya yang dinamis serta dapat disempurnakan sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pengembangan kurikulum harus didasarkan pada landasan dan prinsip-prinsip pengembangan yang berlaku (Sudarman, 2019).
Berdasarkan hal di atas, maka akan dibahas lebih lanjut terkait dengan pendekatan pengembangan kurikulum pendidikan Islam. Mutu pendidikan sekolah/madrasah seharusnya
menjadi pusat perhatian dan ditingkatkan menjadi lebih baik dan berkualitas. Hal ini juga merupakan tantangan yang penting direspon oleh lembaga pendidikan Islam (Prim, 2014).
2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat ditemukan rumusan masalah sebagai berikut:
a) Bagaimana orientasi dalam kurikulum pendidikan Islam?
b) Bagaimana perpektif dalam kurikulum pendidikan Islam?
3. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di atas maka dapat ditemukan tujuan masalah sebagai berikut:
1. Mengetahui orientasi dalam kurikulum pendidikan Islam.
2. Mengetahui perspektif dalam kurikulum pendidikan Islam.
B. PEMBAHASAN
1. Hakikat Kurikulum Pendidikan Islam
Secara etimologi, kurikulum berasal dari bahasa Yunani, yaitu curir yang artinya pelari dan curee jarak yang ditempuh oleh pelari. Istilah ini pada mulanya digunakan dalam dunia olahraga yang berarti “a little race course” yang artinya suatu jarak yang harus ditempuh dalam pertandingan olahraga. Pendapat yang lain mengemukakan bahwa kurikulum adalah arena pertandingan, tempat pelajaran bertanding untuk menguasai pelajaran guna mencapai garis finish berupa ijazah, diploma atau gelar kesarjanaan.1
Kurikulum dapat dimaknai sebagai totalitas pengalaman dan kegiatan yang diselenggarakan oleh sekolah di bawah pengawasan guru agar tejadi komunikasi antara guru dan murid. Sehingga dengan itu, terjadi proses pendidikan dan perubahan perilaku yang berpengaruh pada pertumbuhan yang komplit dan sempurna (kamil).2 Kurikulum 2013 adalah sebuah kurikulum yang dikembangkann untuk meningkatkan dan menyeimbangkan kemampuan soft skills dan hard skills yang berupa sikap, keterampilan, dan pengetahuan.
Mengenai tujuan kurikulum 2013, dapat diuraikan sebagai berikut:3
a) Meningkatkan mutu pendidikan dengan menyeimbangkan hard skills dan soft skills melalui kemmpuan sikap, keterampilan dan pengetahuan dalam rangka menghadapi tantangan global yang terus berkembang.
b) Membentuk dan meningkatkan sumber daya manusia yang produktif, kreatif dan inovatif sebagai modal pembangunan bangsa dan Negara Indonesia.
c) Meringankan tenaga pendidik dalam menyampaikan materi dan menyiapkan administrasi mengajar, sebab pemerintah telah menyiapkan semua komponen kurikulum beserta buku teks yang digunakan dalam pembelajaran.
d) Meningkatkan peran serta pemerintah pusat dan daerah serta warga masyrakat secara seimbang dalam menentukan dan mengendalikan kualitas dalampelaksanaan kueikulum di tingkat satuan pendidikan.
e) Meningkatkan persaingan yang sehat antar satuan pendidikan tentang kualitas pendidikan yang akan dicapai.
Dengan demikian pengertian kurikulum dalam pandangan modern merupakan program pendidikan yang disediakan oleh sekolah, yang tidak hanya sebatas bidang studi
1 Muhammad Roihan Alhaddad. Hakikat Kurikulum pendidikan Islam. Raudhah Proud to be Proffesionals. Jurnal Tarbiyah Islamiyah, Vol. 3, No. 1 Edisi Juni 2018.
2
3 Anisatul Azizah, dkk. Orientasi Pedidikan Karakter pada Mata Pelajaran Pendidikan Agam Islam di Sekolah Menengah Atas dalam Kurikulum 2013 Perspektif Thomas Lickona. Jurnal Al Tarbawi al Haditsah Vol. 1, No. 2 ISSN 2407-6805.
dan kegiatan belajarnya saja, akan tetapi meliputi segala sesuatu yang dapat mempengaruhi perkembangan dan pembentukan pribadi peserta didik sesuai dengan tujuan pendidikan yang diharapkan sehingga dapat meningkatkan mutu kehidupannya, yang pelaksanaannya bukan saja di sekolah tetpi juga di luar sekolah.4
Isi kurikulum pendidikan Islam memiliki urutan yang sangat penting dan urutan ini menunjukkan prioritas yang harus diperhatikan dalam sistem pendidikan Islam, urutan di maksud adalah sebagai berikut: a) al-Quran dan as-Sunnah, b) ilmu0ilmu bahasa Arab, c) ilmu-ilmu yang termasuk kategori wajib kifayah, d) ilmu-ilmu budaya. Dalam komponen kurikulum paling tidak terdiri dari empat komponen yaitu tujuan, isi, metode dan evaluasi. Komponen pertama dari kurikulum adalah tujuan. Demikian pula Islam mengutamkaan tujuan yang hendak dicapai secara jelas. Tujuan dari pendidikan Islam adalah membentuk pribadi muslim yang paripurna (insan kamil).5
2. Orientasi Kurikulum
Istilah kurikulum kerap digunakan dalam dunia pendidikan dan mengalami perubahan makna sesuai dengan perkembangan dan dinamika yang ada pada dunia pendidikan. Secara garis besar, kurikulum dapat diartikan sebagai seperangkat materi pendidikan dan pengajaran yang diberikan kepada murid sesuai dengan tujuan pendidikan yang akan dicapai.
Pengembangan kurikulum memerlukan kajian dan telaahn yang terus menerus,karena dunia berubah maka kurikulum harus dapat menyesuaikan di setiap perubahannya. Dinamika perubahan kurikulum dibarengi dengan makin meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan.6
Semua aspek yang terkait dengan pendidikan seperti metode belajar, sasaran-sasaran pembelajaran, juga termasuk dalam lingkup kurikulum. Dengan merujuk kepada ‘regulasi akademik’ tersebut diharapkan proses pendidikan akan berjalan secara sistematis dan memiliki orientasi yang jelas. Sebab arah pendidikan di samping sebagai media peningkatan penguasaan pengetahuan, kemampuan dan keterampilan, juga merupakan sarana pengembangan nilai-nilai normative dalam rangka 7
Orientasi adalah peninjauan untuk menentukan sikap, arah, tempat dan sebagainya yang tepat dan benar atau pandangan yang mendasari pikiran, perhatian dan kecenderungan. Maka dari itu, orientasi ini juga sangat penting dan dibutuhkan dalam pengembangan kurikulum
4 Muhammad Roihan Alhaddad. Hakikat Kurikulum pendidikan…
5 Kiki Mayasaroh, “Toleransi Strategi dalam Membangun kerukunan Antar Umat Beragama di Indonesia”, AL-Afkar, Journal For Islamic Studies 3, No. 1, Januari 2020: 77-88.
6 Imam Mawardi, Orientasi Ideal Manajemen Pengembangan…, h. 1248.
7 Samsul Bahri, Orientasi Perubahan Kurikulum Pendidikan Pesantren, Jurnal Ilmiah Al-Jauhari;
Jurnal Studi Islam dan Interdisipliner Vol. 4 No. 2, Desember 2019, h. 262.
pendidikan Islam. Dalam Islam, manusia dipandang sebagai makhluk yang terdiri dari raga dan jiwa. Melalui pendidikan, jiwa berkembang dari yang natural (thabi’i) dan bentukan (ikhtiyari). Oleh karena itu, pendidikan berperan sebagai instrument pengubahan, pengembangan dan pengarahan manusia untuk menjadi manusia ideal yang diharapkan.8 Pada proses ini, pendidikan Islam berorientasi pada: a) duniawi-ukhrawi; b) ruhani versus badani;
c) masa lalu dan masa depan (antara historitas dan futurism); dan d) pendidikan Islam antara membebaskan dan mengikatkan.
Tujuan pendidikan dalam Islam adalah agar menjadi pribadi yang kaffah, sehingga mmeberikan dampak positif bagi lingkungan bukan bagi diri sendiri. Sehingga dapat dirumuskan bahwa orientasi kurikulum pendidikan Islam meliputi dua hal, yaitu:9
a) Orientasi transformasi perubahan kecil (individu)
Pada orientasi ini kurikulum diajukan untuk mmebekali siswa dengan seperangkat kompetensi dan kemampuan agar mereka bisa mandiri secara individu dan mampu menyelesaikan masalahnya sendiri.
b) Orientasi transformasi perubahan besar (kelompok/masyarakat)
Pada orientasi ini kurikulum ditujukan untuk mempersiapkan dari siswa agar nantinya mereka dapat menjadi bagian masyarakat dalam upaya melakukan perubahan-perubahan ke arah yang lebih baik.
Pada dasarnya, orientasi kurikulum pendidikan pada umumnya dapat dirangkum menjadi lima, yaitu orientasi pada pelestarian nilai-nilai, orientasi pada kebutuhan sosial (social demand), orientasi pada tenaga kerja, orientasi pada peserta didik dan orientasi pada masa depan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.10
Dari kelima orientasi pendidikan Islam dengan ulasan, sebagai berikut:11 a) Orientasi pelestarian nilai
Dalam pandangan Islam, nilai terbagi atas dua macam, yaitu nilai yang turun dari Allah SWT (nilai Ilahiyah) dan nilai yang tumbuh dan berkembang dari peradaban manusia sendiri (nilai Insaniah). Kedua nilai tersebut selanjutnya membentuk norma- norma atau kaidah-kaidah kehidupan yang dianut dan melembaga pada masyarakat yang mendukungnya.
8 Ahmad Syamsu Rizal, Orientasi dan Konteks Sosial Pendidikan Islam, Jurnal Pendidikan Agama Islam-Ta’lim Vol. 13 No. 1 2015, h. 2.
9 Agus Zaenul fitri, Manajemen Kurikulum Pendidikan Islam, (Bandung: Alfabeta, 2013), h. 98.
10 Ibid,.
11 Muhammad Roihan Alhaddad, Hakikat Kurikulum Pendidikan Islam, Jurnal Tarbiyah Islamiyah Volume 3 Nomor 1 Edisi Juni, (Salatiga, 2018), h. 63-64
Tugas kurikulum selanjutnya adalah menciptakan situasi-situasi dan program tertentu untuk tercapainya pelestarian kedua nilai tersebut. Orientasi ini memfokuskan kurikulum sebagai alat untuk tercapainya “gent of conservative”.
b) Orientasi pada peserta didik
Orientasi ini memberikan pedoman arah pada kurikulum untuk memnuhi kebutuhan peserta didik yang disesuaikan dengan bakat, minat dan potensi yang dimilikinya, serta kebutuhan peserta didik. Orientasi ini diarahkan kepada pembinaan tiga dimensi peserta didiknya, yakni:
1) Dimensi kepribadian sebagai manusia, yaitu kemampuan untuk menjaga integritas antara sikap, tingkah laku etiket dan moralitas.
2) Dimensi produktivitas yang menyangkut apa yang dihasilkan peserta didik dalam jumlah yang lebih banyak kualitas yang lebih baik setelah ia menamatkan pendidikannya.
3) Dimensi kreatifitas yang menyangkut kemampuan peserta didik untuk berfikit dan berbuat, menciptakan sesuatu yang berguna bagi diri sendiri dan masyarakat.
f) Orientasi pada masa depan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) Kemajuan suatu zaman ditandai oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta produk-produk yang dihasilkannya. Hampir semua segi kehidupan saat ini tidak lepas dari keterlibatan IPTEK mulai dari kehidupan yang paling sederhana sampai kehidupan dan peradaban yang paling tinggi.
g) Orientasi pada social demand (tuntutan sosial)
Kehidupan adalah berkembang, tanpa perkembangan berarti tidak ada kehidupan.
Masyarakat yang maju adalah masyarakat yang ditandai oleh munculnya berbagai peradaban dan kebuadayaan sehingga masyarakat tersebut mengalami perubahan dan perkembangan yang pesat. Orientasi kurikulum adalah bagaimana memberikan kontribusi positif dalam perkembangan sosial dan kebutuhannya, sehingga output di lembaga pendidikan mampu menjawab dan mengatasi masalah-masalah yang dihadapi masyarakat.
h) Orientasi penciptaan tenaga kerja
Kebutuhan-kebutuhan manusia yang sifatnya lahiriah harus dipenuhi secara layak dan salah satu diantara persiapan untuk mendapatkan pemenuhan kebutuhan yang layak adalah melalui pendidikan. Dengan pendidikan, pengalaman danpengetahuan seseorang bertambah dan dapat menentukan kualitas dan kuantitas kerja seseorang, sehingga dewasa ini dunia kerja semakin banyak persaingan.
Sebagai konsekuensinya, kurikulum pendidikan diarahkan untuk memenuhi kebutuhan kerja, yang ditujukan setelah lulus dari lembaga sekolah, peserta didik mempunyai kemampuan dan keterampilan yang professional, berproduktif dan kreatif, mampu mendayagunakan sumber daya alam, sumber daya diri dan sumber daya situasi yang mempengaruhinya.
Kurikulum pendidikan Islam tidak hanya diorientasikan dalam bentuk transmisi dan transaksi, akan tetap diorientasikan pada transformasi. Dalam kurikulum pendidikan secara umum sebagaimana dijelaskan oleh John P. Miller dan Wayne Seller membagi kurikulum ke dalam tiga orientasi.12
a) Transmission Position Curriculum, di dalam model ini dikatakan bahwa guru atau pendidik itu bersifat mentransfer memindahkan fakta, keterampilan, informasi atau ilmu dan juga nilai-nilai kepada siswa.
Fungsi pendidikan menurut orientasi ini adalah mentransmisikan fakta, keterampilan dan nilai untuk siswa.
1) Penguasaan materi sekolah melalui pembelajaran buku teks.
2) Kemahiran keterampilan dasar dan nilai-nilai budaya tertentu dan aturan-aturan yang dibutuhkan di dalam masyarakat.
3) Aplikasi pandangan mekanisme dari perilaku manusia, dimana keterampilan siswa dikembangkan melalui strategi pembelajaran tertentu.
Orientasi ini mendasarkan penguasaan materi seklah tradisional melalui metodologi pengajaran tradisional, pembelajaran buku teks, kemampuan keterampilan dasar siswa dan budaya nilai-nilai tertentu dan moral yang dibutuhkan dan bermanfaat bagi kehidupan bermasyarakat.
Pada orientasi ini terdapat tiga jenis orientasi transmisi, antara lain:
a. Subjek/orientasi isi:
1) Kurikulum dipusatkan pada subjek dan disiplin akademik tertentu.
2) Penekanan pada pembelajaran langsung; dosen dan penugasan (resitasi).
3) Kurikulum dibagi berbagai materi.
4) Subjek kurikulum didasarkan pada perencanaan tertentu mengenai pendidikan apa yang dibutuhkan pada level tertentu.
5) Lamanya masa belajar diatur sesuai dengan materi.
12 Agus Zaenul fitri, Manajemen Kurikulum…, h. 100.
b. Orientasi transmisi budaya:
1) Sekolah-sekolah harus menjadi pelindung excellence karakter bangsa.
2) Metode merupakan pendidikan moral rasional.
3) Sekolah harus melatih siswa dengan keterampilan yang dibutuhkan oleh masyarakat.
4) Aspek moral dihibungkan dengan suatu kewajiban; menentukan perilaku.
5) Aspek moral merupakan konteks eksternal yang kita sesuaikan dengan perilaku kita.
c. Orientasi pendidikan berbasis kompetensi/orientasi mastery learning
1) Tujuan dari CBE (Competence Based Education) adalah mengembangkan kemampuan siswa melalui strategi pembelajaran tertentu.
2) CBE difokuskan pengukuran secara objektif, mencari perencanaan pembelajaran yang sesuai, penilaian melalui kriteria-kriteria yang mengarah pada ujian.
3) Mastery learning merupakan sistem yang terintergerasi yang mencakup prosedur untuk mengidentifikasi outcome pembelajaran yang akan meningkatkan pembelajaran siswa.
b) Transaction Position atau model transaksi
Model kurikulum yang melibatkan siswa dalam menentukan subyek atau topik apa yang akan dipelajari. Individu dipandang sebagai seseorang yang rasional dan memiliki kemampuan intelegensi untuk menyelesaikan masalah. Pendidikan dipandang sebagai dialog antara siswa dan kurikulum dimana siswa merekonstruk pengetahuan melalui proses dialog.
Menurut teori ini bahwasanya:
1) Pendidikan adalah dialog antara siswa dan kurikulum dimana siswa dan kurikulum dapat mengkonstruk pengetahuan melalui proses dialog
2) Siswa secara individu dipandang sebagai seseorang yang memiliki kecakapan dan kemampuan untuk menyelesaikan masalah
3) Elemen ini ditekankan pada strategi kurikulum yang membantu penyelesaian masalah.
c) Transformation Position
Merupakan model yang lebih mengembangkan kurikulum dari segi sekedar transaksi saja. Dalam konteks ini pembelajaran bisa dianggap sebagai upaya mengubah lingkungan
dan siswa menjadi suatu lingkungan dan kehidupan baru yang lebih baik dan ini biasanya cocok untuk negara-negara maju.
Metaorientasi transformasi mefokuskan pada perubahan sosial dan perubahan.
Pengajaran keterampilan siswa yang menaikkan transformasi personal dan sosial.
Paradigma transformasi memiliki hubungan secara konseptual dengan suatu fenomena.
2. Perspektif Pendidikan Islam
Dalam perspektif filsafat pendidikan Islam kurikulum dibangun di atas dasar yang kuat dan kokoh, yaitu al-Qur’an dan hadits. Dari dasar inilah manusia melalui jalan yang terang benderang untuk menjalankan fungsinya sebagai khalifah dan memperoleh kehidupan yang hakiki di dunia dan akhirat melalui namanya pendidikan Islam. Oleh karena dasar kurikulum pendidikan Islam adalah wahyu maka orientasi pendidikan bukan hanya sebagai penguasa ilmu tapi pengamal ilmu. Dengan demikian kurikulum didesain agar lahirnya manusia yang memiliki ilmu, karakter dan keterampilan.13
Para ahli pendidikan khususnya pendidikan Islam mengartikan bahwa pendidikan Islam upaya untuk menggali dan mengaplikasikan ajaran-ajaran yang terkandung dalam al-qur’an dan hadits.filsafat pendidikan Islam sebagai teori dan praktik. Hal ini senada dengan berfilsafat dan mendidik adalah dua tahap dalam satu kegiatan. Berfilsafat sebagai kegiatan memikirkan dengan seksama nilai-nilai dan cita-cita yang lebih baik. Sedangkan mendidik adalah usaha merealisasi nilai-nilai dan cita-cita dalam kehidupan dan kepribadian manusia.14
Selain dari perspektif filsafat, dalam perspektif modern, kurikulum didefinisikan sebagai program pendidikan yang disediakan oleh sekolah yang tidak hanya sebatas bidang studi dan kegiatan belajarnya saja, akan tetapi meliputi segala sesuatu yang dapat mempengaruhi perkembangan dan pembentukan pribadi siswa sesuai dengan tujuan pendidikan yang diharapkan sehingga dapat meningkatkan mutu kehidupannya yang pelaksanaannya tidak hanya di sekolah tetapi juga di luar sekolah.
Dalam menyelenggarakan pendidikan pada abad mendatang sangat diperlukan adanya model pendekatan yang beragam sebagai ganti model pendekatan yang serba seragam, yang dimana sudah tidak sesuai lagi dengan semangat demokrasi, keterbukaan, informasi dan kesetaraan. Jadi kurikulum tidak lagi berorientasi pada subject matter yang lebih diarahkan
13 Agus Salim, Kurikulum Dalam Perspektif Filsafat Pendidikan Islam, Jurnal EduTech Vol. 5 No. 2 September 2019, Binjai, h. 105.
14 Ibid, h. 106.
hanya untuk memnuhi kebutuhan dan keinginan orang dewasa melainkan child oriented yaitu harus diorientasikan kepada keinginan anak.15
Dalam hal ini, pengembangan kurikulum harus memberikan arah dan pedoman untuk memenuhi kebutuhan peserta didik yang disesuaikan dnegan bakat, minat dan kemampuannya. Selain itu, orientasi kurikulum diarahkan juga untuk memberi kontribusi pada perkembangan sosial, sehingga output-nya mampu menjawab dan menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi masyarakat. Demikian juga, pendidikan Islam harus berorientasi terhadap ilmu pengetahuan yang memuat sejumlah mata pelajaran dari berbagai disiplin ilmu, termasuk teknologi.16
Adapun konsep pendidikan Islam dari perspektif Muhaimin, yaitu pendidikan Islam merupakan sitem yang sengaja diselenggarakan atau didirikan dengan hasrat dan niat untuk mengejawantahkan ajaran dan nilai-nilai Islam. Ada dua tujuan pendidikan Islam, menjadikan peserta didik sebagai imam bagi orang yang bertaqwa dan menjadikan peserta didik seorang agamawan yang toleran.17
C. Analisis dan Kesimpulan 1. Analisis
Kurikulum merupakan salah satu komponen pokok atau jalan yang dilalui untuk menuju pada sesuatu dalam pendidikan. Ia merupakan kompas penunjuk arah hendak kemana peserta didik mau dibawa. Sedangkan hakikat kurikulum dalam perspektif filsafat pendidikan Islam adalah al-Qur’an dan hadits. Al-Qur’an dan hadits merupakan sebagai sumber primer pendidikan Islam. Oleh karena itu, maka posisi kurikulum dalam praktek pendidikan amatlah penting, namun betapapun pentingnya posisi kurikulum, harus tetap diingat bahwa ia adalah alat untuk mencapai tujuan.
Untuk mengembangkan kurikulum pendidikan Islam, baiknya kembali kepada orientasinya. Dirumuskan orientasi pendidikan Islam meliputi dua hal yakni, orientasi transformasi perubahan kecil dan besar. Yang paling umum orientasi pendidikan Islam, hanya ada lima yaitu orientasi pelestarian nilai-nilai, kebutuhan sosial, tenaga kerja, peserta didik dan masa depan dan perkembangan IPTEK.
15 Ach. Sayyi, Modernisasi Kurikulum Pendidikan Islam dalam Perspektif Azyumardi Azra, Jurnal Tadris Vol. 12 No. 1 Juni 2017, h. 37.
16 Ibid, h. 37.
17 Abdul Khakim, Konsep Pendidikan Islam Perspektif Muhaimin, Jurnal Al-Makrifat Vol. 3 No. 2, Oktober 2018, h. 117.
2. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas dapat ditarik kesimpulan, bahwa kurikulum merupakan kumpulan seperangkat nilai yang diinternalisasikan kepada subjek didik, baik nilai-nilai dalam bentuk kognitif, afektif maupun psikomotorik. Melalui pendidikan Islam apa saja usaha yang diarahkan kepada pembentukan kepribadian anak yang sesuai dengan ajaran Islam atau suatu upaya dengan ajaran Islam, memikir, memutuskan dan berbuat berdasarkan nilai-nilai Islam, serta bertanggung jawab sesuai dengan nilai-nilai Islam.
Orientasi kurikulum pendidikan Islam adalah orientasi pelestarian nilai, kebutuhan sosial, tenaga kerja seta peserta didik. Yang menjadi perbedaankurikulum pendidikan Islam dengan yang lainnya adalah nilai yang ingin ditanamkan dalam prosesnya. Bahwa kurikulum pendidikan Islam harus berlandaskan nilai-nilai Islam.
D. Referensi
Alhaddad, Muhammad Roihan. 2018. Hakikat Kurikulum Pendidikan Islam, Jurnal Tarbiyah Islamiyah Volume 3 Nomor 1 Edisi Juni. Salatiga.
Azizah, Anisatul, dkk. Orientasi Pedidikan Karakter pada Mata Pelajaran Pendidikan Agam Islam di Sekolah Menengah Atas dalam Kurikulum 2013 Perspektif Thomas Lickona.
Jurnal Al Tarbawi al Haditsah Vol. 1, No. 2 ISSN 2407-6805.
Bahri, Samsul. Orientasi Perubahan Kurikulum Pendidikan Pesantren, Jurnal Ilmiah Al- Jauhari; Jurnal Studi Islam dan Interdisipliner Vol. 4 No. 2, Desember 2019
Bahri, Syamsul. 2011. Pengembangan Kurikulum Dasar dan Tujuannya. Jurnal Ilmiah Islam Futura Volume XI, No. 1, Agustus. Banda Aceh.
Fitri, Agus Zaenul. 2013. Manajemen Kurikulum Pendidikan Islam. Bandung: Alfabeta.
Khakim, Abdul. Konsep Pendidikan Islam Perspektif Muhaimin, Jurnal Al-Makrifat Vol. 3 No. 2, Oktober 2018.
Mayasaroh, Kiki. “Toleransi Strategi dalam Membangun kerukunan Antar Umat Beragama di Indonesia”, AL-Afkar, Journal For Islamic Studies 3, No. 1, Januari 2020.
Mawardi, Imam. 2018. Orientasi Ideal Manajemen Pengembangan Kurikulum Madrasah:
Analisis Dasar Kebijakan Mutu Pendidikan Islam. Proceeding The 1st Annual Conference on Islamic Education Management (ACIEM). Universitas Muhammadiyah Magelang.
Rizal, Ahmad Syamsu. Orientasi dan Konteks Sosial Pendidikan Islam, Jurnal Pendidikan Agama Islam-Ta’lim Vol. 13 No. 1 2015.
Salim, Agus. Kurikulum Dalam Perspektif Filsafat Pendidikan Islam, Jurnal EduTech Vol. 5 No. 2 September 2019, Binjai.