MAKALAH
SEJARAH PERKEMBANGAN DAN TOKOH TASAWUF DI INDONESIA
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Tasawuf
Dosen Pengampu : Mukhlisin, M.Ag.
DI SUSUN OLEH :
Kelompok 10
Raihan Raudhatul Jannah 21211765 Riska Faradila Ramadhani 21211773 Sayyidanur Nafisa Hariandja 21211785 Sekar Adiyanti 21211787
PROGRAM STUDI ILMU AL-QUR’AN DAN TAFSIR FAKULTAS USHULUDDIN DAN DAKWAH INSTITUT ILMU AL-QUR’AN (IIQ) JAKARTA
2021
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN………...
A. Latar Belakang………
B. Rumusan Masalah………
C. Tujuan………...………
BAB II PEMBAHASAN… ………
A. Sejarah Perkembangan Tasawuf di Nusantara ……….... ……….
B. Tokoh-tokoh Perkembangan Tasawuf di Nusantara ……….
BAB III PENUTUP……….
A. Kesimpulan………..
DAFTAR PUSTAKA……….…….
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Islam masuk ke Indonesia pada abad pertama Hijriyah (abad ke-7 masehi), maka dapat diketahui bahwa tasawuf tidak bersamaan dengan masuknya Islam ke Indonesia. Tasawuf datang ke Indonesia paling cepat pada awal abad ke-2 Hijriah. Yang jelas pada abad ke-8 Hijriyah atau abad ke-14 Masehi, faham tasawuf sudah mendapat asaran di Indonesia.
Membahas perkembangan tasawuf di Indonesia, tidak lepas dari pengkajian proses Islamisasi di kawasan ini. Sebab, penyebaran Islam di Nusantara merupakan jasa para sufi.
Pengikut tasawuf merupakan unsur yang sangat dominan dalam masyarakat pada masa itu.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana sejarah perkembangan tasawuf di nusantara?
2. Siapa saja tokoh-tokoh perkembangan tasawuf di nusantara ? C. Tujuan
1. Memahami bagaimana sejarah perkembangan tasawuf di nusantara.
2. Mengetahui siapa saja tokoh-tokoh perkembangan tasawuf di nusantara.
BAB II PEMBAHASAN
A.Sejarah Perkembangan tasawuf di nusantara
Dengan dikatakan Islam masuk ke Indonesia pada abad pertama hijriyah (abad ke-7 masehi), maka dapat diketahui bahwa tasawuf tidak bersamaan dengan masuknya Islam ke Indonesia. Tasawuf datang ke Indonesia paling cepat pada awal abad ke-2 Hijriyah. Yang jelas pada abad ke-8 Hijriyah atau abad ke-14 Masehi, faham tasawuf sudah mendapat pasaran di Indonesia.Alasan yang dikemukakan dalam hal ini: pertama, tokoh-tokoh sufi angkatan pertama seperti Hasan Al-Basri, Rabi’an Al-adawiyah, Sufyan Tsauri, ketiga-tiganya dari Bashrah, kemudian Ibrahim bin Adham dan Syaqiq Al-Balkhi yang kedua-keduanya dari Persia hidup antara akhir abad ke-1 sampai akhir abad ke-2 Hijriyah. Tentu saja paham tasawuf mereka ini paling cepat menyebar pada awal abad ke-2 Hijriyah, bahkan tidak mustahil jauh setelah itu. Kedua, yang mula-mula menyebarkan Islam ke Indonesia adalah para pedagang yang mempunyai konsentrasi pada urusan bisnis, disamping merasa berkewajiban untuk menyiarkan agama yang mereka anut (Islam). Mereka tida pernah disebut sebagai ahli tasawuf.
Ketiga, paham-paham tarekat yang berkembang di Indonesia, seperti Naqsabandiyah, Qadariyah, Syatariyah, ternyata mereka ini berada antara abad ke-7 Hijriyah.1
Perkembangan tasawuf di Indonesia berkaitan erat dengan proses islamisasi di kawasan Nusantara. Hal tersebut disebabkan karena sebagian besar penyebaran Islam di Nusantara merupakan jasa para sufi. Berdirinya kerajaan Islam Pasai menjadi titik sentral penyiaran agama Islam ke berbagai daerah di Sumatra dan pesisir utara Pulau Jawa. Penyebaran Islam ke Pulau Jawa juga berasal dari kerajaan Pasai, terutama berkat jasa Maulana Malik Ibrahim, Maulana Ishak, dan Ibrahim Asmoro yang ketiganya adalah abituren Pasai. Karena kegigihan dan keuletan mereka maka lahirlah kerajaan Islam di Jawa yaitu Kerajaan Demak yang kemudian menguasai Banten dan Batavia melalui Syarif Hidayatullah. Perkembangan Islam di Pulau Jawa kemudian digerakkan oleh Wali Sanga. Sebutan tersebut sudah cukup menunjukkan bahwa mereka adalah penghayat tasawuf yang sudah sampai pada derajat
“wali”.2
Wacana tasawuf khususnya tasawuf falsafi di Nusantara dimotori oleh Hamzah Fansuri dan Syamsuddin Sumatrani, dua tokoh sufi yang datang dari pulau Andalas (Sumatera) pada
1 izzanizza, “Sejarah Tasawuf Di Indonesia,” July 2012, 1.
2 Hanafi, “Tokoh Tasawuf Di Indonesia,” n.d., 1.
abad ke 17 M. Sekalipun pada abad ke 15 sebelumnya telah terjadi peristiwa tragis berupa eksekusi mati terhadap Syekh Siti Jenar atas fatwa dari Wali Songo, karena ajarannya dipandang menganut doktrin sufistik yang bersifat bid’ah berupa pengakuan akan kesatuan wujud manusia dengan wujud Tuhan, Zat Yang Maha Mutlak. Namun sejauh ini penulis belum menemukan literatur yang menjelaskan apakah paham yang dianut Syekh Siti Jenar adalah wahdatulwujud yang berasal dari Ibnu Arabi lewat ‘jaringan ulama’ sebagaimana dimaksud Azra dalam bukunya tersebut. Terlebih lagi terlalu sedikit literatur yang menjelaskan keberadaan sosok Syekh Siti Jenar dalam khazanah keislaman di Nusantara. Paling tidak menurut Alwi Shihab, kehadiran Syekh Siti Jenar dengan ajaran dan syahahat-nya yang dipandang sesat, dapat dijadikan sebagai tahap pertama perkembangan tasawuf falsafi di Indonesia. Alwi menamakannya sebagai tahap perkenalan. Pembunuhan terhadap Syekh Siti Jenar agaknya telah meredupkan cahaya perkembangan tasawuf falsafi di Indonesia dalam waktu yang lama, sampai kemudian munculnya Hamzah dan Syamsuddin di Sumatera.
Hamzah Fansuri adalah keturunan Melayu yang dilahirkan di Fansur -nama lain dari Barus-. Para peneliti tidak menemukan bukti yang valid kapan sebenarnya Hamzah lahir. Dia diperkirakan hidup pada akhir abad ke 16 dan awal abad ke 17, yakni pada masa sebelum dan selama pemerintahan Sultan ‘Ala al- Din Ri’ayat Syah (berkuasa 977- 1011H/1589-1602M).
Hamzah diperkirakan meninggal sebelum tahun 1016H/1607M. Hamzah memulai pendidikannya di Barus, kota kelahirannya yang pada waktu itu menjadi pusat perdagangan, karena saat itu Aceh berada dalam kemajuan di bawah pemerintahan Sultan Iskandar Muda dan Iskandar Tsani. Kwalitas pendidikan yang cukup baik di Aceh menjadikan Hamzah dapat mempelajari ilmuilmu agama seperti ; fiqh, tauhid, akhlak, tasawuf, dan juga ilmu umum seperti ; kesustraan, sejarah dan logika. Selesai mengikuti pendidikan di tanah kelahirannya, Hamzah kemudian melanjutkan pendidikan ke Timur Tengah, khususnya Persia dan Arab.
Sehingga dia dapat menguasai bahasa Arab dan Persia, mungkin juga bahasa Urdu. Dalam hal tasawuf falsafi diperkirakan Hamzah mempelajari dari Iraqi, murid Sadr al-Din al-Qunawi, murid kesayangan Ibnu Arabi. Sekembalinya dari perantauan menuntut ilmu, Hamzah mengajarkan agama di Aceh melalui lembaga pendidikan “Dayah” (pesantren) di Oboh Simpang-Kanan, yang merupakan cabang dari Dayah Simpang-Kiri yang diasuh oleh kakaknya Syekh Ali Fansuri, ayah dari Abdr Rauf al-Sinkli. Hamzah ternyata tidak hanya beraktifitas sebagai guru, namun juga rajin menulis. Tetapi sangat disayangkan karya-karya Hamzah tersebut tidak lagi ditemukan karena telah dimusnahkan oleh ‘lawan-lawannya’ yang menentang paham wujudiyah yang dikembangkan oleh Hamzah. Pemikiran Hamzah tentang ajaran wujudiyah terdapat dalam karyanya Zinat al-Wahidin, yang terdiri dari tujuh bab. Dalam
karyanya tersebut Hamzah menjelaskan bahwa penampakan Tuhan tidak terjadi begitu saja atau secara langsung, tapi melalui tahap tertentu, sehingga keesaan dan kemurnian Tuhan tidak tercampuri dengan makhluk. Ajaran wujudiyah Hamzah ini kemudian dikembangkan oleh muridnya Syamsuddin Sumatrani.
Kebanyakan peneliti berpendapat, hubungan mereka adalah guru- murid. Abdul Azis juga membenarkan pendapat A. Hasymy bahwa hubungan Hamzah dengan Syamsuddin sebagai murid dan khalifah, karena menurutnya telah dijumpai dua karya Syamsuddin yang merupakan ulasan atau syarah terhadap pengajaran Hamzah yaitu : Syarah Ruba’i Hamzah Fansuri dan Syarah Syair Ikan Tongkol. Terdapat banyak informasi tentang potret pribadi syeikh di antaranya : Hikayat Aceh, Adat Aceh, Bustan al-Salathin dan informasi dari pengembara dan peneliti asing. Dari informasi tersebut dijelaskan bahwa Syamsuddin lahir kira-kira 1589 dan wafat 24 Februari 1630 berdasarkan informasi Deny Lombard. Syaikh banyak melahirkan karya bermutu seperti : Jawhar al-Haqaiq, Risalah Tubayyin Mulahazah, Nur al- Daqaiq, Thariq al-Shalikin, I’raj alIman dan karya lainnya. Syamsuddin menguasai beberapa bahasa, tapi karya-karyanya kebanyakan ditulis dalam bahasa Melayu dan Arab.
Pengajaran Syamsuddin tentang Tuhan dengan corak paham wujudiyyah dikenal juga dengan pengajaran tentang “martabat tujuh”, yaitu tentang satu wujud dengan tujuh martabatnya.
Pengajarannya tentang ini agaknya sama dengan yang diajarkan al-Burhanpuri, yang diduga kuat sebagai orang pertama yang membagi martabat wujud itu kepada tujuh kategori. Ketujuh martabat tersebut adalah : martabat ahadiyyah, martabat wahdah, martabat wahidiyyah, martabat alam arwah, martabat alam mitsal, martabat alam ajsam dan martabat alam insan.
Paham martabat tujuh inilah yang membedakan antara Syamsuddin Sumatrani dengan gurunya Hamzah Fansuri, yang mana dalam ajaran Hamzah tidak ditemukan pengajaran ini. Tetapi keduanya sangat menekankan pemahaman tauhid yang murni, bahwa Tuhan tidak boleh disamakan atau dicampurkan dengan unsur alam, dikenal dalam pengajaran Hamzah Fansuri la ta’ayyun. Sedangkan dalam pengajaran Syamsuddin dikenal dengan aniyat Allah, yang merupakan kejelasan dari ajaran al-Burhanpuri untuk tidak mencampur-adukkan martabat ketuhanan dengan martabat kemakhlukan. Kedua tokoh dengan ajaran yang saling melengkapi ini bagaimanapun juga telah mengajarkan dan secara sempurna tentang tasawuf falsafi yang kemudian diikuti oleh banyak pengikutnya di Nusantara dan Indonesia. Tasawuf akhlaki adalah aplikasi tasawuf dalam akhlak mukmin yang terpancar dari bathinnya sehingga berpengaruh
kepada seluruh tingkah lakunya. Tasawuf akhlaki menuntut keikhlasan yang murni semata- mata karena Allah.3
B. Tokoh-tokoh tasawuf di Indonesia
1. Hamzah Al-Fansuri
Hamzah Al-Fansuri adalah orang yang pertama memunculkan tasawuf falsafi di Indonesia, yang bersih dan murni dari penyimpangan, bahkan seakan sempurna dalam rujukannya terhadap sumber-sumber Arab yang Islami. Riwayat hidup Hamzah masih dipersoalkan para peneliti, namun sementara ini merka menyimpulkan Hamzah hidup pertengahan abad ke-16 hingga awal abad ke-17. Risalah tasawuf Hamzah Fansuri ada tiga, yaitu:4
a. Syarah al-Asykin
Kandungan Syarab Al-Asykin adalah ringkasan ajaran wahdah al-wujuh Ibnu Arabi, Sadr al- Din al-Qunawi dan Abd Karim al-Jili. Kitab ini terdiri dari tujuh bab yang membahas tentang Ilmu Suluk yang terdiri dari syariat,hakikat dan makrifat , tajalli zat Tuhan yang maha tinggi, asas-asas ontologi wujudiyah, dan uraian sifat-sifat Allah.
b. Asrar al-Arifin
Di dalam risalah ini ada lima belas syair yang merupakan uraian tentang metafisika atau ontologi wujudiyah dan sifat-sifat Tuhan yang kekal. Dalam sifat-sifat-Nya terkandung potensi dari tindakan-tindakan-Nya yang dengan tidak berkesudahan memperlihatkan diri dalam segala ciptaan-Nya.
c.Al-Muntahi
Di dalam muntahi ada tiga masalah penting yang dibicarakan yaitu,pertama tentang kejadian atau penciptaan alam semesta sebagai panggung manifestasi Tuhan dan kemahakuasaan-Nya, kedua tentang bagaimana Tuhan memanifestasikan dirinya dan bagaimana alam semesta dipandang dari sudut pemikiran ahli-ahli makrifat, serta sebab pertama dari segala kejadian dan ketiga tentang bagaimana seseorang dapat kembali ke asalnya (Tuhan).
3 Dr. Suherman, M.Ag, “PERKEMBANGAN TASAWUF DAN KONTRIBUSINYA DI INDONESIA” 5, no. 1 februari (2019): 4–6.
4 Abdullah, Nawash, “Perkembangan Ilmu Tasawuf Dan Tokoh-Tokohnya Di Nusantara,” Surabaya: Al-Ikhlas, 1999.
2. Syeikh Yusuf Makasari
Seorang tokoh sufi yang agung yang tiada taranya, berasal dari Sulawesi ialah Syeikh Yusuf Makasari. Beliau dilahirkan pada 8 Syawal 1036 H atau bersamaan dengan 3 Juli 1629 M, yang berarti belum beberapa lama setelah kedatangan tiga orang penyebar Islam ke Sulawesi (yaitu Datuk Ri Banding dan kawan-kawannya dari Minangkabau). Untuk diri sebesar ini selain ia dinamakan dengan Muhammad yusuf diberi gelar juga dengan ”Tuanku Salamaka”, ”Abdul Mahasin”, ”Hidayatullah” dll.
Dalam salah satu karangannya beliau menulis diujung namanya dengan bahasa arab
”al-Mankasti” yaitu mungkin yang beliau maksudkan adalah ”Makassar” yaitu nama kota di Sulawesi Selatan dimasa pertengahan dan nama kota itu sekarang diganti pula dengan ”Ujung Pandang” yaitu mengambil nama yang lebih tua dari pada nama Makasar.5
Naluri atau fitrah pribadinya sejak kecil telah menampakkan diri cinta akan pengetahuan keislaman, dalam tempo relatif singkat al-Qur’an 30 juz telah tamat dipelajarinya.
Setelah lancar benar tentang al-Qur’an dan mungkin beliau termasuk seorang penghafal maka dilanjutkannya pula dengan pengetahuan-pengetahuan lain yang ada hubungannya dengan itu.
Dimulainya dengan ilmu nahwu, ilmu sharaf kemudian meningkat hingga keilmu bayan, mani’, badi’, balaghah, manthiq, dan sebagainya.
Beriringan dengan ilmu-ilmu yang disebut ”ilmu alat” itu beliau belajar pula ilmu fiqih, ilmu ushuludin, dan ilmu tasawuf. Ilmu yang terakhir ini nampaknya seumpama tanaman yang ditanam ditanah yang subur. Kiranya lebih serasi pada pribadinya. Namun walaupun demikian adanya tiadalah dapat dibantah bahwa Syeikh Yusuf juga mempelajari ilmu-ilmu yang lainnya, seumpama ilmu hadist dan sekte-sektenya, juga ilmu tafsir dalam berbagai bentuk dan coraknya, termasuk ”ilmu asbaabun nuzul ”, ”ilmu tafsir”dll . Karangan-karangan Syeikh Yusuf Tajul Khalwati yang berbahasa arab mungkin merupakan salinan tulisan tangan telah diserahkan oleh Haji Muhammad Nur (salah seorang keturunan khatib di Bone dan mungkin adalah keturunan Syeikh Yusuf sendiri).6
5 Nassr, Sayyid Husein, “Ensiklopedi Tematis Spiirtualitas Islam Manifestasi, Penterj. Tim Penerjemah Mizan,”
Bandung Mizan Media Utama, 2003.
6 Nassr, Sayyid Husein, “Ensiklopedi Tematis Spiirtualitas Islam Manifestasi, Penterj. Tim Penerjemah Mizan,”
Bandung Mizan Media Utama, 2003, 205.
3. Syiekh Abdul Rauf as-Singkili
Nama lengkapnya Abdul Rauf Singkel dalam ejaan bahasa arab disebut ’Abd ar-Rauf bin ’Ali al-Jawiyy al-Fansuriyy as-Sinkilyy, selanjutnya akan disebut Abdurrauf. Ia adalah seorang Melayu dari Fansur, Sinkil (Singkel) di wilayah pantai barat laut Aceh. Hingga saat ini tiak ada data pasti mengenai tanggal dan tahun kelahirannya. Akan tetapi menurut hipotesis Rinkes, Abdurrauf dilahirkan sekitar tahun 1615 M. Rinkes mendasarkan dugaannya setelah menghitung mundur dari saat kembalinya Abdurrahman dari tanah Arab ke Aceh pada 1661M.7
Abdurrahman wafat pada tahun 1693 M dan dimakamkan disamping makam teuku Anjong yang dianggap paling keramat di aceh, dekat kuala sungai Aceh. Oleh karena itulah di Aceh ia dikenal dengan sebutan Teuku di Kuala. Berkat kemasyurannya, nama Abdurrauf diabadikan menjadi nama sebuah perguruan tinggi di Aceh, yaitu Univeraitas Syiah Kuala.
Abdurrauf telah menghasilkan berbagai karangan yang mencakup bidang fiqih, hadist, tasawuf, tafsir al-Qur’an, dan ilmu-ilmu agama lainnya. Beberapa karangan yang dihubungkan dengan Abdurrauf dibidang tasawuf antara lain :[5] Tanbih al-Masyi al-Manshub Ila Thariq al-Qusyassyiyy (pedoman bagi orang yang menempuh tarekat al-Qusyasyiyy, bahasa arab)
’Umdah al-Muhtajin Ila Suluk Maslak al-Mufarridin (pijakan bagi orang-orang yang menempuh jalan tasawuf, bahasa melayu).
Sullam al-Mustafidin (tanga setiap orang yang mencari faedah, bahasa Melayu).
Piagam tentang Dzikir (bahasa Melayu). Kifayah al-Muhtajin Ila Masyrab al-Muwahhidin al- Qa’ilin bi Wahdah al-Wujud (bekal bagi orang yang membutuhkan minuman ahli tauhid penganut Wahdatul Wujud, bahasa Melayu).8
4. Nuruddin Ar-Raniri
Nuruddin Ar-Raniri lahir di kota Ranir Pantai Gujarat, India. Tahun kelahirannya tidak di ketahui tetapi banyak ahli yang memperkirakan ia lahir di akhir abad 16. Guru yang paling berpengaruh adalah Abu Nafs Sayyid Imam bin ‘Abdullah bin Syaiban, seorang guru Tarekat Rifa’iyah. Ar-Raniri merupakan tokoh pembaharuan Islam di Aceh. Pembaharuan utamanya adalah memerangi aliran Wujudiyyah yang dianggap aliran sesat. Karya-karya beliau antara
7 Fathurrahman,Oman., “Tanbih Al-Masyi Menyoal Wahdatul Wujud: Kasus Abdurrauf Singkel Di Aceh Abadc,”
Bandung: Mizan 1999, 175
8 Fathurrahman,Oman.175
lain Ash-Shirath Al-Mustaqim, Bustan As-Salatin fi DzikirAl-Awwalin wa Al-Akhirin, Durrat Al-Farra’idh bi Syarhi Al’Aqa’id, Syifa Al-Qulub.
Mengenai ketuhanan, Ar-Raniri berupaya menyatukan paham Mutakallimin dengan paham para sufi yang diwakili oleh Ibn Arabi. Ia berpendapat ungkapan “wujud Allah dan Alam Esa” berarti alam ini merupakan sisi lahir dari hakikat batin yaitu Allah SWT sebagaimana yang dimaksud Ibn Arabi. Tetapi hakikatnya alam ini tidak ada yang ada adalah wujud Allah Yang Esa. Jadi ia berpendapat bahwa alam ini tidak bisa dikatakan berbeda dengan Allah atau bersatu dengan Allah, alam ini merupakan tajalli Allah SWT.
5. Syekh Nawawi Al-Bantani (1230-1314 H / 1815- 1897 M)
Lahir dengan nama Abû Abdul Mu’ti Muhammad Nawawi bin ‘Umar bin ‘Arabi.
Ulama besar ini hidup dalam tradisi keagamaan yang sangat kuat. Ulama yang lahir di Kampung Tanara, sebuah desa kecil di kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang, Propinsi Banten. Bernasab kepada keturunan Maulana Hasanuddin Putra Sunan Gunung Jati, Cirebon.
Keturunan ke-12 dari Sultan Banten. Nasab beliau melalui jalur ini sampai kepada Baginda Nabi Muhammad saw. Di usia beliau yang belum lagi mencapai 15 tahun, Syaikh Nawawi telah mengajar banyak orang.
Dalam bidang tasawuf ia memiliki konsep yang identik dengan tasawuf ortodok.
Pandangan tasawufnya meski tidak tergantung pada gurunya Syekh Khatib Sambas, seorang ulama tasawuf asal Jawi yang memimpin sebuah organisasi tarekat, bahkan tidak ikut menjadi anggota tarekat, namun ia memiliki pandangan bahwa keterkaitan antara praktek tarekat, syariat dan hakikat sangat erat. Untuk memahami lebih mudah dari keterkaitan ini Nawawi mengibaratkan syariat dengan sebuah kapal, tarekat dengan lautnya dan hakekat merupakan intan dalam lautan yang dapat diperoleh dengan kapal berlayar di laut.
Dalam proses pengamalannya Syariat (hukum) dan tarekat merupakan awal dari perjalanan (ibtida’i) seorang sufi, sementara hakikat adalah hasil dari syariat dan tarikat.
Pandangan ini mengindikasikan bahwa Syekh Nawawi tidak menolak praktek-praktek tarekat selama tarekat tersebut tidak mengajarkan hal-hat yang bertentangan dengan ajaran Islam, syariat. Paparan konsep tasawufnya ini tampak pada konsistensi dengan pijakannya terhadap pengalaman spiritualitas ulama salaf. Tema-teman yang digunakan tidak jauh dari rumusan ulama tasawuf klasik. Model paparan tasawuf inilah yang membuat Nawawi harus dibedakan dengan tokoh sufi Indonesia lainnya. la dapat dimakzulkan (dibedakan) dari karakteristik
tipologi tasawuf Indonesia, seperti Hamzah Fansuri, Nuruddin al-Raniri, Abdurrauf Sinkel dan sebagainya.
6. HAMKA
Hamka, atau nama lengkapnya Haji Abdul Malik Karim Amrullah (lahir di Kampung Molek, Maninjau, Sumatera Barat, Indonesia pada 17 Februari 1908 - 24 Julai 1981) adalah seorang penulis dan ulama terkenal Indonesia. Ayahnya ialah Syekh Abdul Karim bin Amrullah, yang dikenal sebagai Haji Rasul, yang merupakan pelopor Gerakan Islah (tajdid) di Minangkabau. Beliau melibatkan diri dengan pertubuhan Muhammadiyah dan menyertai cawangannya dan dilantik menjadi anggota pimpinan pusat Muhammadiyah.Beliau melancarkan penentangan terhadap khurafat, bida'ah, thorikoh kebatinan yang menular di Indonesia.
Oleh itu, beliau mengambil inisiatif untuk mendirikan pusat latihan dakwah Muhammadiyah. Sebagai realisasi dari upayanya memurnikan kembali ajaran tasawuf, Hamka menulis beberapa karya yang berkenaan dengan tasawuf. Berikut ini dikemukakan beberapa pokok pikirannya, sebagaimana yang terdapat dalam bukunya, Tasawuf Moderen.
1. Tentang Harta Benda dan Kekayaan 2. Al-Qana’ah
3. Tawakkal 7. Walisongo
Wali Songo yang sangat berperan dalam penyebaran Islam di Indonesia khususnya Tanah Jawa, mempunyai andil yang besar dalam mengajarkan tasawuf kepada masyarakat.
Pada abad ke-12 M, peranan ulama tasawuf sangat dominan di dunia Islam. Hal ini antara lain disebabkan pengaruh pemikiran Islam al-Ghazali (wafat 111 M), yang berhasil mengintegrasikan tasawuf ke dalam pemikiran keagamaan madzab Sunnah wal Jamaah menyusul penerimaan tasawuf di kalangan masyarakat menengah. Hal ini juga berlaku di Indonesia, sehingga corak tasawuf yang berkembang di Indonesia lebih cenderung mengikuti tasawuf yang diusung oleh al-Ghazali, walaupun tidak menutup kemungkinan berkembang tasawuf dengan corak warna yang lain.
Abdul Hadi W. M. dalam tesisnya menulis : “Kitab tasawuf yang paling awal muncul di Nusantara ialah Bahar al-Lahut (lautan Ketuhanan) karangan `Abdullah Arif (w. 1214). Isi
kitab ini banyak dipengaruhi oleh pemikiran yang wujudiyah Ibn `Arabi dan ajaran persatuan mistikal (fana) al-Hallaj”. Sehingga sejarah mencatat di samping Wali Songo sebagai pengusung tasawuf sunni juga muncul Syekh Siti Jenar sebagai penyebar tasawuf falsafi dengan ajaran ‘manunggaling kawula gusti’. Aliran tasawuf yang berkembang pada zaman Walisongo dikelompokan menjadi 2 yaitu :
1. Tasawuf Sunni 2. Tasawuf Falsafi
8. Syekh Syamsuddin bin Abdillah As-Sumatraaniy
Beliau adalah seorang keturunan ulama, ayahnya bernama Abdullah as-Sumatri, dan mendapat pendidikan kesufian dari Syekh Hamzah Pansuri. Syamsuddin Sumatrani dikenal dengan nama Syamsuddin Pasai. Ia pernah belajar Ilmu Tasawuf pada syekh Hamzah Pansuri dan Sunan bonang di Jawa.Dia lebih giat menulis buku tasawuf daripada gurunya (Hamzah Pansuri), dan keberhasilannya karena ditunjang oleh dana yang memadai. Dan di antara karya- karyanya adalah : Jawaahirul Haqaaiq, Tanbiihuth Thullaab Fi-Ma'arifati Malikil Wahhaab, Risaalatul Bayyinatil Mulaahazbatil Muwahhidiin 'Alal Muhtadiy Fi-Dzikrillah, Kitab al- Halaqah dan Nur al-Daqaiq, Sirr al-'Arifin, Mir'at al-Iman, Dzikr al-Da'irah Qausai al-Adna, Mir'at al-Qulub, Syarah Mir'at al- Qulub, Kitab Ushul al-Tahqiq dll.
Tentang Allah, Syamsuddin Sumatrani mengajarkan bahwa Allah itu Esa adanya, Qadim, dan Baqa. Tentang Penciptaan. Menggambarkan tentang penciptaan dari Dzat yang mutlak. Tentang manusia ia berpendapat bahwa manusia seolah-olah semacam objek ketika Tuhan menzahirkan sifatnya. Semua sifat-sifat yang dimiliki oleh manusia ini hanyalah sekedar penggambaran sifat-sifat Tuhan dan tidak bearti bahwa sifat-sifat Tuhan itu sama dengan sifat yang dimiliki manusia.
9. Syekh Abdus Shamad Al-Falimbani
Ia termasuk seorang Shufi, putra dari seorang Ulama Tasawuf yang terkemuka di zamannya, bernama Syekh Abdul Jaiil bin Abdil Wahhab bin Syekh Ahmad Al-Mahdan Al- Yaman. Dari beberapa ungkapannya, ia sering mengatakan; seorang Shufi tidak boleh belajar dan berdzikir saja, tetapi ia harus tampil membela agama Islam dengan perjuangan pisik.
Karena itu, ia gugur di medan peperangan ketika ia turut memimpin pasukan Muslim melawan Siam (Muanthai) yang hendak melenyapkan agama Islam.
Mengenai kitab karangannya yang memuat ajaran Tasawuf antara lain : Shiraatul Muriid Fi-Bayaan Kalimatir Tauhid, Hidaayatus Saalikiin, Siyaarus Saalikin (empat jilid), Urwatul Wutsqaa, Nashiihatul Muslim Wa-Tadzkratul Mu'minin Fi-Sabilillah, Ratiib Syekh abdish Shamaad Al-Falimbaaniy.
10. Syeikh Burhanuddin (1646-1693 M)
Beliau merupakan penduduk asli Minangkabau, lahir pada tahun 1056 H/1646 M dan meninggal pada bulanSyafar 1111 H/1693 M. Murid dari Syekh Abdul Ra‟uf Singkel yang berpaham Syafi‟I, Beliau mendirikan madrasah dan mengajar di ulakan,diantara murid-murid yang pernah belajar dengan beliau adalah; TuankuMansingan Nan Tuo, Tuanku Imam Bonjol.9
9 Hanafi, “Tokoh Tasawuf Di Indonesia.”
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
Islam masuk ke Indonesia pada abad pertama Hijriyah (abad ke-7 masehi), maka dapat diketahui bahwa tasawuf tidak bersamaan dengan masuknya Islam ke Indonesia.
Tasawuf datang ke Indonesia paling cepat pada awal abad ke-2 Hijriah. Yang jelas pada abad ke-8 Hijriyah atau abad ke-14 Masehi, faham tasawuf sudah mendapat asaran di Indonesia.
Tokoh-tokoh tasawuf yang ada di Nusantara antara lain: Hamzah Fansuri,Syeikh Yusuf Makassari, Syeikh Abdur rauf As- singkili, Nuruddin Ar-Raniry, Syeikh Nawawi Al-Bantani, HAMKA, Walisongo, Syeikh Syamsuddin, Syeikh Abdus Shamad Al- Falimbani, dan Syeikh Burhanuddin.
DAFTAR PUSTAKA
Izzanizza, “Sejarah Tasawuf Di Indonesia,” July 2012.
Hanafi, “Tokoh Tasawuf Di Indonesia,”.
Dr. Suherman, M.Ag, “PERKEMBANGAN TASAWUF DAN KONTRIBUSINYA DI INDONESIA” 5, no. 1 februari (2019).
Abdullah, Nawash, “Perkembangan Ilmu Tasawuf Dan Tokoh-Tokohnya Di Nusantara,”
Surabaya: Al-Ikhlas, 1999.
Nassr, Sayyid Husein, “Ensiklopedi Tematis Spiirtualitas Islam Manifestasi, Penterj. Tim Penerjemah Mizan,” Bandung Mizan Media Utama, 2003.
Fathurrahman,Oman., “Tanbih Al-Masyi Menyoal Wahdatul Wujud: Kasus Abdurrauf Singkel Di Aceh Abadc,” Bandung: Mizan 1999.