• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH TEKNOLOGI PEMBUATAN PUPUK HAYATI

N/A
N/A
SALMA PUTRI AISYAH ASMA

Academic year: 2024

Membagikan "MAKALAH TEKNOLOGI PEMBUATAN PUPUK HAYATI"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH

“TEKNOLOGI PEMBUATAN PUPUK HAYATI”

Disusun Oleh : Kelompok 05

1. Salsa Bila Naris D. P. (20031010043) 2. Salma Putri Aisyah A. (20031010116) 3. Arya Mada Wiratama (20031010188) 4. Farrel Erikrisna (20031010193) 5. Windhy Mutiara S. (20031010207)

PROGRAM STUDI TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”

JAWA TIMUR 2024

(2)

2 KATA PENGANTAR

Puji syukur atas rahmat Allah SWT, atas berkat rahmat serta karunia-Nya sehingga makalah ini bisa diselesaikan dengan baik. Seluruh penyusunan makalah ini tidak bisa diselesaikan dengan baik tanpa bantuan dari berbagai pihak yang terkait.

Kami juga mengucapkan terima kasih kepada ibu Ir. Dyah Suci, MT selaku dosen pengampu dan yang telah memberikan tugas ini kepada kami serta kepada semua pihak yang sudah membantu dalam penulisan makalah dari awal hingga akhir.

Adapun tujuan dari makalah yang berjudul “Teknologi Pembuatan Pupuk Hayati” disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Teknologi Pupuk. Selain itu, makalah ini juga diharapkan mampu menjelaskan serta dapat dipahami dengan mudah tentang apa itu teknologi pupuk dan jenisnya.

Kami menyadari bahwa dalam penyusunan dan penulisan masih melakukan banyak kesalahan. Oleh karena itu, kami memohon maaf atas kesalahan dan ketidaksempurnaan yang pembaca temukan dalam makalah ini. Kami juga berharap adanya kritik serta saran dari pembaca apabila menemukan kesalahan dalam makalah ini.

Surabaya, 15 Februari 2024

Kelompok 05

(3)

3 DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... 2

DAFTAR ISI ... 3

DAFTAR GAMBAR ... 4

BAB I PENDAHULUAN ... 5

I. 1. Latar Belakang ... 5

I. 2. Rumusan Masalah ... 6

I. 3. Tujuan ... 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 7

II. 1. Pengertian Pupuk dan Teknologi Pemupukan ... 7

II. 2. Jenis-Jenis Pupuk ... 8

II. 2. 1. Pupuk Berdasarkan Pembentukannya ... 8

II. 2. 2. Pupuk Yang Didasarkan pada Bentuknya ... 12

II. 3. Teknologi Pembuatan Pupuk ... 14

II. 4. Jenis-Jenis Pupuk Hayati ... 15

II. 4. 1. Pupuk Hayati Berdasarkan Fungsinya ... 15

II. 4. 2. Pupuk Hayati Berdasarkan Kandungan Unsur Haranya ... 16

II. 5. Contoh Pupuk Hayati ... 16

II. 6. Teknologi Pembuatan Pupuk Hayati ... 18

II. 7. Inovasi Terbaru dalam Teknologi Pupuk... 20

II. 8. Faktor Yang Mempengaruhi Pemupukan ... 23

II. 9. Aplikasi ... 25

BAB III KESIMPULAN DAN SARAN... 27

III. 1. Kesimpulan ... 27

III. 2. Saran ... 27

DAFTAR PUSTAKA ... 28

(4)

4 DAFTAR GAMBAR

Gambar 2. 1 Pupuk Hayati Ecofert ... 16

Gambar 2. 2 Pupuk Hayati Biotara ... 17

Gambar 2. 3 Pupuk Hayati Boidex ... 17

Gambar 2. 4 Pupuk Hayati Bio LK ... 18

Gambar 2. 5 Pupuk Hayati Biosalin ... 18

Gambar 2. 6 Hubungan Curah Hujan dengan Pemupukan ... 24

(5)

5 BAB I

PENDAHULUAN

I. 1. Latar Belakang

Indonesia merupakan negara agraris, dengan mayoritas penduduknya menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian. Seiring dengan meningkatnya produksi pertanian untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat lokal, penyediaan pupuk berkualitas tinggi dengan harga terjangkau menjadi hal yang penting. Pupuk mempunyai peranan penting dalam meningkatkan kualitas produksi pertanian. Petani memupuk tanaman dengan harapan dapat meningkatkan hasil.

Dalam hal ini, pupuk yang mengandung organisme mampu memperbaiki sifa-sifat tanah.

Pupuk hayati adalah mikrobia ke dalam tanah untuk meningkatkan pengambilan hara oleh tanaman dari dalam tanah atau udara. Umumnya digunakan mikrobio yang mampu hidup bersama dengan tanaman inangnya. Keuntungan diperoleh oleh kedua pihak, tanaman inang mendapatkan tambahan unsur hara yang diperlukan, sedangkan mikrobia mendapatkan bahan organik untuk aktivitas dan pertumbuhannya. Mikrobia yang digunakan sebagai pupuk hayati dapat diberikan langsung ke dalam tanah, disertakan dalam pupuk organik.

Dengan pertumbuhan penduduk yang pesat, produksi pertanian juga harus meningkat. Meningkatnya kebutuhan produksi pertanian memerlukan teknik untuk meningkatkan hasil. Salah satu teknik tersebut adalah pemupukan. Secara umum, seiring berjalannya waktu, kesuburan tanah lahan pertanian semakin menurun akibat penggunaan lahan yang intensif dan kerusakan tanah akibat erosi. Lahan ini menjadi kurang produktif untuk produksi pertanian. Pemupukan merupakan salah satu usaha penting untuk meningkatkan produksi, bahkan sampai sekarang dianggap sebagai faktor yang dominan dalam produksi pertanian.

(6)

6 I. 2. Rumusan Masalah

1. Jelaskan yang disebut dengan pupuk dan teknologi pemupukan!

2. Sebut dan jelaskan klasifikasi pupuk!

3. Jelaskan yang dimaksud dengan pupuk hayati!

4. Bagaimana pengembangan terbaru dari teknologi pupuk dan aplikasinya?

I. 3. Tujuan

1. Untuk mengetahui pengertian dari pupuk dan teknologi pemupukan 2. Untuk mengetahui jenis-jenis pupuk

3. Untuk mengetahui defisini, jenis, dan contoh dari pupuk hayati 4. Untuk mengetahui aplikasi pupuk terbaru

(7)

7 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II. 1. Pengertian Pupuk dan Teknologi Pemupukan

Pupuk merupakan salah satu sarana produksi yang mempunyai peranan penting dalam meningkatkan hasil dan mutu tanaman budidaya. Dalam PP Nomor 8 Tahun 2001 Bab 1 Pasal 1 dijelaskan pengertian pupuk sebagai bahan kimia atau bahan hayati yang secara langsung atau tidak langsung berfungsi menyediakan unsur hara yang diperlukan bagi kebutuhan tanaman. Pupuk adalah zat yang ditambahkan manusia ke dalam tanah untuk memenuhi kebutuhan pertumbuhan dan produksi tanaman.

Selain itu, pengertian pupuk anorganik adalah pupuk yang diperoleh dari proses teknologi kimia, fisika, dan/atau biologi dan merupakan hasil suatu industri atau pabrik pembuatan pupuk, sedangkan pupuk organik adalah pupuk yang sebagian besar atau seluruhnya berasal dari tumbuhan dan/atau hewan yang telah melalui proses rekayasa dan berbentuk padat atau cair dan digunakan untuk menyediakan bahan organik dan memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah (Firmansyah, 2011).

Pemupukan dapat diartikan sebagai pemberian bahan organik maupun non organik untuk mengganti kehilangan unsur hara di dalam tanah dan untuk memenuhi kebutuhan unsur hara bagi tanaman sehingga produktivitas tanaman meningkat. Beberapa tujuan pemupukan adalah :

1. Melengkapi penyediaan unsur hara secara alami yang ada dalam tanah untuk memenuhi kebutuhan tanaman.

2. Menggantikan unsur hara yang hilang karena tersangkut dengan hasil panen, pencucian dan sebagainya.

3. Memperbaiki kondisi tanah yang kurang baik atau mempertahankan kondisi tanah yang sudah baik untuk pertumbuhan tanaman.

(Mansyur, Pudjiwati, & Murtilaksono, 2021)

(8)

8 II. 2. Jenis-Jenis Pupuk

II. 2. 1. Pupuk Berdasarkan Pembentukannya 1. Pupuk Alam

Pupuk alam adalah pupuk yang diperoleh dari alam tanpa melalui proses industri atau pembuatan di pabrik. Pupuk alam pada umumnya adalah senyawa organik, kecuali ada beberapa senyawa anorganik misalnya fosfat.

a. Pupuk Kandang

Pupuk kandang merupakan kotoran padat dan cair dari hewan ternak yang tercampur dengan sisa tanaman dan alas kandang. Kandungan unsur haranya ditentukan oleh jenis makanan yang diberikan.

Tabel 2. 1 Kandungan Unsur Hara Pada Pupuk Kandang Ternak N (%) P2O5 (%) K2O (%) Unggas

(ayam) 1,7 1,9 1,5

Sapi 0,29 0,17 0,35

Kuda 0,44 0,17 0,35

Babi 0,6 0,41 0,13

Domba 0,55 0,31 0,15

(Hardjowigeno, 2007) b. Pupuk Hijau

Pupuk hijau adalah tanaman atau bagian-bagian lainnya yang masih muda yang dibenamkan ke dalam tanah untuk menambah bahan organik dan unsur-unsur hara, terutama nitrogen. Syarat-syarat sebagai tanaman pupuk hijau, yaitu :

1.Tahan kekeringan

2.Tidak banyak mengandung kayu tetapi banyak mengandung nitrogen

3.Dapat tumbuh pada tanah yang kurus dan kurang subur

(9)

9 Contoh pupuk hijau, antara lain :

• Pupuk hijau yang berbentuk pohon, dipakai sebagai pohon pelindung, misalnya: Leucaena glauca (lamtoro), Sesbania grandiflora (turi – putih).

• Pupuk hijau berbentuk perdu, biasanya dipakai untuk tanaman, misalnya Crotalaria sp (orok-orok), Tephrosia candida

• Pupuk hijau berbentuk semak yang lunak batangnya, misalnya Calopogonium mucunoides, Centrosema sp, Mimosa invisa

c. Kompos

Kompos bahan yang berasal dari bahan sisa-sisa bahan organik apa saja yang ditumpuk dan mengalami proses dekomposisi. Bahan organik yang dapat digunakan sebagai kompos adalah serbuk gergaji, jerami, abu sisa pembakaran. Pembuatan kompos adalah pemupukan bahan-bahan organik dan membiarkannya terurai menjadi bahan-bahan yang mempunyai nisbah C dan N yang rendah sebelum digunakan sebagai pupuk.

2. Pupuk Buatan

Pupuk buatan adalah pupuk yang dibuat di pabrik-pabrik dengan kandungan unsur hara tertentu. Pada umumnya, kandungan unsur haranya yang tinggi dan berbentuk anorganik. Pupuk buatan lebih ekonomis karena dapat menringankan ongkos pengangkutan dan tenaga kerja serta dapat memberikan pengaruh langsung terhadap produksi. Pupuk buatan yang dibuat di pabrik-pabrik dapat dihasilkan dalam jumlah yang besar, sehingga diharapkan dapat mempunyai sifat kebaikan dan kelemahan, yaitu :

a. Lebih mudah menentukan jumlah pupuk yang diperlukan sesuai dengan keperluan tanaman, tetapi bila tidak dengan perhitungan penggunaannya, pupuk buatan dapat merusak tanah, tanaman, dan lingkungan.

(10)

10 b. Hara yang diberikan dalam bentuk yang tersedia, tetapi umumnya tidak atau sedikit mengandung unsur hara mikro dan hanya unsur gara tertentu saja.

3. Pupuk Berdasarkan Kandungan Unsur Haranya a. Pupuk Tunggal

Pupuk tunggal adalah pupuk yang mengandung satu jenis hara tanaman.

Tabel 2. 2 Contoh Pupuk Tunggal Unsur Hara Contoh Pupuk

Tunggal Sifat

Pupuk N

Amonium Sulfat (ZA)

Berbentuk kristal;

berwarna putih, abu-abu, kebiru-biruan, dan kuning; kadar N sebesar

20,5-21 %.

Amonium Sulfat Nitrat

Berbentuk kristal;

berwarna kuning sampai kuning kemerah-merahan;

kadar N sebesar 26 %.

Amonium Klorida

Berbentuk butir-butir putih seperti ZA; kadar N

sebesar 25 %

Pupuk P

DSP (Double Superphosphate)

Kadar P2O5 sebesar 36 - 38%. Berupa bubuk kasar.

Berwarna putih kotor, abu-abu atau coklat muda.

TSP (Triple Superphosphate)

Kadar P2O5 sebesar 46-48

%. Berupa butir-butir kecil. Berwarna abu-abu.

(11)

11 FMP (Fused

Magnesium Phosphate)

Unsur penting yang dikandungnya adalah:

P2O5 sebesar 19 – 21 %, MgO sebesar 15 – 18 %.

Keduanya melarut dengan asam lemah (asam sitrat).

Merupakan bubuk yang berwarna abu-abu

keputih-putihan.

Pupuk K

Kalium Sulfat

Kadar K2O sebesar 48 — 52 %. Kadar SO4 tidak lebih dari 3 %. Berupa tepung putih yang larut

dalam air.

Kalium Chlorida Kadar K2O sebesar 52- 55%.

Kalium Magnesium Sulfat

Kadar K2O sebesar 21- 30%.

b. Pupuk Majemuk

Pupuk majemuk adalah pupuk yang mengandung lebih dari satu unsur hara tanaman, yaitu gabungan antara N-P, P-K, N-K atau secara lengkap N-P-K. Keuntungan dari pemakaian pupuk majemuk adalah bahwa dengan satu kali pemberian telah mencakup beberapa unsur, tidak ada persoalan pencampuran pupuk.

Tabel 2. 3 Contoh Pupuk Majemuk Unsur

Hara

Contoh Pupuk

Majemuk Sifat

Pupuk NP Ammo-Phos

Kadar unsur hara : Ammophos A 11% N + 48

P2O5 (larut dalam air).

(12)

12 Amophos B 16,5% N + 20% P2O5 (larut dalam air).

Warna abu-abu muda, biasanya dalam bentuk butir

(granule).

Superstikfos

bahan terpenting yang dikandung mono amonium

fosfat (NH4H2PO4).

Kandungan unsur hara sama dengan Amophos yaitu 16,5% N + 20% P2O5. Pupuk NK Kalium Nitrat Kadar 13% N + 44% K2O.

Pupuk PK Kalium Meta Fosfat Kadar 60% P2O5 + 40%

K2O.

Pupuk

NPK Rustica Yellow Kadar 15% N + 15% P2O5

+ 15% K2O.

II. 2. 2. Pupuk Yang Didasarkan pada Bentuknya 1. Pupuk Yang Didasarkan pada Reaksinya

a. Pupuk yang membentuk kemasaman tanah

Mampu meningkatkan kemasaman tanah. Mengandung unsur nitrogen yang dapat menurunkan pH tanah melalui proses nitrifikasi garam amonium. Contoh : amonium sulfat dan amonium nitrat.

b. Pupuk basa

Mampu menurunkan tingkat kemasaman tanah karena residu yang ditinggalkan kation-kation basa di dalam tanah. Contoh : magnesium amonium fosfat.

c. Pupuk netral

Dapat meninggalkan residu di dalam tanah, baik bersifat masam atau basa. Contoh : dolomit.

(13)

13 2. Pupuk Berdasarkan Susunan Kimia

a. Pupuk anorganik

Dibuat di pabrik (pupuk buatan). Lebih cepat bereaksi dalam tanah dan mudah tersedia untuk tanaman. Contoh : TSP, amonium sulfat b. Pupuk organik

Hasil akhir antara perubahan atau penguraian bagian-bagian atau sisa tanaman dan hewan. Lebih sukar larut dalam tanah. Contoh : pupuk kandang, kompos

3. Pupuk Berdasarkan Kadar Kandungan Haranya a. Berkadar hara tinggi

Kandungan haranya lebih dari 30%, misalnya: Urea dengan kandungan hara = 45% N, TSP dengan kandungan hara = 46% P2O5

b. Berkadar hara sedang

Kandungan unsur haranya 20- 30%, misalnya: Amonium Sulfat dengan kandungan haranya 20,5% N, Amonium Klorida (NH4Cl) dengan kandungan hara 25% N.

c. Berkadar hara rendah

Kandungan haranya lebih kecil dari 20%, misalnya Fused Magnesium Fosfat (FMP) dengan kandungan P2O5 = 19%

4. Pupuk Berdasarkan Kelarutannya

a. Larut dalam air (+): Pupuk N: Urea 45%N (+), ZA 20% N (+) Pupuk K: KCl (60% K2O) (+), ZK 50% K2O (+) Pupuk P: DS 36% P2O5 (+), TSP 45% P2O5 (+)

b. Larut dalam asam sitrat (=): FMP (Fused Magnesium Fosfat) (=) c. Larut dalam asam keras (HCl 25%) (X) Fosfat Alam (X)

(Purba, Situmeang, & Rohman, 2021)

(14)

14 II. 3. Teknologi Pembuatan Pupuk

1. Sanitary Landfill

Sanitary landfill merupakan model pembuatan pupuk dengan mengurung sampah ke dalam tanah, dengan menyebarkan sampah secara lapis pada lahan yang telah disiapkan. Pada dasarnya, dirancang untuk penanganan sampah secara sehat, tidak mencemari lingkungan, mampu menghasilkan produk sampingan yaitu biogas. Kelemahannya yaitu memerlukan lahan yang luas, sehingga sulit untuk diterapkan di kota-kota besar serta mahalnya biaya instalasi untuk pengonversian biogas dan pengumpulan air lindi.

2. Insinerasi

Insinerasi adalah proses pembakaran sampah yang terkendali menjadi gas dan abu. Gas yang dihasilkan adalah karbondioksida dan gas-gas yang lain yang kemudia dilepaskan ke udara, sedangkan abunya dibuang ke TPA atau dicampur dengan bahan lainnya sehingga menjadi produk berguna. Untuk mendapatkan operasi insinerasi yang optimum dan efesien, proses pembakaran harus dikontrol sehingga residu yang dihasilkan sekecil mungkin dan emisi gas berbahaya dapat dicegah. Kekukarangan dari insinerasi adalah kemungkinan adanya polusi udara dari gas buang. Selain itu, model ini juga memerlukan biaya operasional yang besar.

3. Teknologi Pengomposan

Pengomposan adalah proses biologi yang dilakukaan oleh mikroorganisme untuk mengubah limbah padat organik menjadi produk yang stabil menyerupai humus. Pengomposan pada dasarnya mengupayakan pengaktifan kegiatan mikrobia agar mampu mempercepat proses dekomposisi bahan organik. Proses pengomposan pada dasarnya dapat dibagi dua jenis yaitu aerobik dan anaerobik. Aerobik artinya kondisi pengomposan membutuhkan oksigen, sedangkan anaerobik tanpa bantuan oksigen.

(Solichin, Yoto, & Wahono, 2018)

(15)

15 II. 4. Jenis-Jenis Pupuk Hayati

II. 4. 1. Pupuk Hayati Berdasarkan Fungsinya 1. Pupuk Hayati Penambat Nitrogen

Pupuk ini mengandung mikroba yang mampu mengikat senyawa nitrogen yang berasal dari udara, lalu akan diproses secara biologis di dalam tanah dan digunakan oleh tanaman. Mekanisme penambatan setiap mikroba berbeda-beda, tergantung sifat mikroba tersebut. Ada bakteri yang bersimbiosis dengan tanaman seperti Rhizobium dan Azospirilium. Ada juga bakteri yang tidak bersimbiosis seperti Azobacter chrococcum dan Bacillus megatherium. Mikroba penambat nitrogen mampu menambat nitrogen 25- 40 kg N/hektare/tahun.

2. Pupuk Hayati Peluruh Fosfat

Pupuk ini mengandung mikroba yang mampu meluruhkan unsur fosfat terikat yang berada di dalam tanah sebagai senyawa organik atau batuan mineral. Pada umumnya, mikroba tersebut akan mengeluarkan senyawa organik dan melepas ikatan fosfat sehingga dapat dengan mudah diserap oleh tanaman. Inokulan mikroba dapat menyumbang sekitar 20-25%

kebutuhan fosfat bagi tanaman.

3. Pupuk Hayati Peluruh Bahan Organik

Pupuk ini mengandung mikroba yang mampu memecahkan senyawa organik komplek yang berada di dalam tanah menjadi senyawa yang lebih sederhana dan membentuk senyawa lain. Fungsi lainnya yaitu sebagai pembenah tanah, mengubah kondisi fisik tanah, menjadikan tanah agregat yang stabil, dan lain sebagainnya.

4. Pupuk Hayati Pemicu Pertumbuhan dan Pengendali Penyakit

Pupuk ini mengandung mikroba yang mampu menstimulasi pertumbuhan dan melindungi sistem perakaran tanaman serta meningkatkan daya tahan tanaman terhadap serangan penyakit.

(Mukhlis, 2020)

(16)

16 II. 4. 2. Pupuk Hayati Berdasarkan Kandungan Unsur Haranya

1. Pupuk Tunggal

Pupuk hayati dengan mikroorganisme tunggal, mengandung satu jenis mikroba dan memiliki satu fungsi. Contoh : mikroba Rhizobium.

2. Pupuk Majemuk

Pupuk hayati dengan kandungan mikroorganismenya lebih dari tiga jenis mikroba.

(Pertanian, 2021)

II. 5. Contoh Pupuk Hayati 1. Ecofert

Merupakan jenis pupuk hayati yang diperkaya dengan mikroorganisme unggulan yang bermanfaat bagi kesuburan tanah, dan untuk tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan. Butiran ecofert berbentuk granul, berwana abu-abu, mengandung bahan aktif Aspergillus niger, Pseudonomas mendocina, dan Bacillus subtilis.

Gambar 2. 1 Pupuk Hayati Ecofert 2. Biotara

Merupakan pupuk hayati yang adaptif dengan tanah masam di lahan rawa yang mampu meningkatkan produktivitas tanaman. Biotara mengandung bahan aktif Trichoderma sp., Bacillus sp., dan Azospirilum sp. Biotara berbentuk powder dan berwarna coklat kehitaman. Biotara mampu mengikat unsur hara N dan P dalam tanah, mendekomposisi sisa-sisa bahan organik, meningkatkan pertumbuhan tanaman.

(17)

17 Gambar 2. 2 Pupuk Hayati Biotara

3. Biodex

Merupakan biofaktor perombak bahan organik. Biodex dibuat dengan menggunakan bahan aktif mikroba unggu yang memiliki kemampuan selulotik dan lignolitik tinggi sehingga waktu pengomposan relatif lebih singkat. Biodex berbentuk powder dan berwarna coklat kehitaman. Biodex memiliki keunggulan yaitu sesuai untuk limbah orgabik padat, tidak membutuhkan tambahan nutrisi, tidak perlu dilakukan pembalikan pada saat proses pengomposan, dan sesuai untuk daerah tropis.

Gambar 2. 3 Pupuk Hayati Boidex 4. Bio LK

Merupakan pupuk hayati dengan bahan aktif Bacilluus sp. dan Pseudomonas sp. yang diaplikasikan untuk seed treatment dan dapat digunakan pada semua benih tanaman. Bio LK berbentuk powder dan berwarna coklat kehitaman. Bio LK digunakan untuk membantu tanaman dalam menghadapi cekaman kekeringan atau kadar air rendah.

(18)

18 Gambar 2. 4 Pupuk Hayati Bio LK

5. Bio Salin

Merupakan pupuk hayati dengan bahan aktif bakteri Psedomonas sp. yang diaplikasian untuk seed treatment dan dapat digunakan pada semua benih tanaman. Bio salin berbentuk powder dan berwarna coklat kehitaman. Bio salin digunakan untuk membantu tanaman dalam menghadapi cekaman kadar garam tinggi, seperti di wilayah pesisir pantai dan di lahan tergenang (rawa).

Gambar 2. 5 Pupuk Hayati Biosalin

(Soesilo, 2024)

II. 6. Teknologi Pembuatan Pupuk Hayati 1. Pupuk Cair

1) Siapkan bahan baku (100 kg kotoran ternak)

2) Siapkan mikroba yang akan digunakan (azospirillum, azotobacter, dan trichoderma), sebanyak 0,5% untuk masing-masing jenis mikroba, boleh juga digunakan mikroba jenis lain.

3) Tambahkan 20% air.

(19)

19 4) Campur semua bahan itu dalam drum dan diaduk hingga tercampur rata. Setelah itu drum ditutup rapat dan disimpan di tempat teduh selama 21 hari.

5) Setiap 3 hari, dciek suhu larutan. Suhu dijaga pada 27-30oC supaya mikroba tidak mati kepanasan.

6) Jika suhu melebihi 30oC, turunkan dengan mengaduk dan menambahkan air secukupnya.

7) Proses pembuatan selesai bila cairan dalam drum tidak berbau, warna hitam kental, dan suhu stabil 27oC. Itu dicapai pada 21 hari kemudian.

8) Saring cairan nutrisi untuk memisahkan cairan dan sisa-sisa kotoran.

9) Pupuk hayati hasil saringan itu siap digunakan. Encerkan 1 ltr pupuk cair, dalam 10-20 liter air bersih. Hasil pengenceran itulah yang ia gunakan sebagai penyubur dengan cara dikocorkan ke tanah dekat pangkal batang beragam sayuran itu.

2. Pupuk Padat

1) Siapkan bahan baku dengan memanfaatkan limbah rumah tangga, jerami, serbuk gergaji, dan kotoran ternak, dengan perbandingan 1 : 1.

2) Susun semua bahan baku itu seperti kue lapis masing-masing setinggi 30 cm. Di antara 2 bahan itu disemprotkan cairan mikroba berdosis 0,5% secara merata di atasnya.

3) Proses pembuatan pupuk hayati padat juga berlangsung selama 3 pekan.

4) Aduk tumpukan setiap 3 hari, untuk menjaga suhu 27-30ºC.

5) Setelah 21 hari semua bahan baku berubah warna menjadi hitam dan remah, berarti proses pembuatan pupuk hayati berhasil dan siap pakai.

3. Pupuk Hayati dari Akar

1) Buat larutan nutrisi dengan cara melarutkan 100 g gula merah, gula pasir, atau molase ke dalam 1 liter air.

(20)

20 2) Tumbuk 15 g akar beragam tumbuhan dan masukkan ke dalam

larutan nutrisi.

3) Tambahkan 5 g tanah subur dan 5 g kompos.

4) Campur semua bahan itu dalam drum atau ember yang memiliki pompa sirkulasi.

5) Peram selama 2 hari, cairan dalam drum sudah bisa digunakan sebagai starter.

6) 10% starter dibiakkan kembali dalam 2,5-5% larutan nutrisi.

Tambahkan juga 10% bahan hijauan yang sudah dihancurkan.

7) Fermentasi selama 5 hari. Selama proses fermentasi sesekali cairan dalam drum diaduk. Setelah itu pupuk hayati siap digunakan.

8) Encerkan larutan itu, 1 liter pupuk dengan 10-50 liter air. Hasil pengenceran itulah yang digunakan sebagai penyubur.

(Ladiku, 2020)

II. 7. Inovasi Terbaru dalam Teknologi Pupuk 1. Pemanfaatan Teknologi Mikroba

Teknologi mikroba memiliki berbagai pemanfaatan yang penting dalam berbagai bidang kehidupan. Berikut adalah beberapa contoh pemanfaatan teknologi mikroba:

1) Industri Pangan: Mikroba digunakan dalam proses fermentasi untuk menghasilkan berbagai makanan dan minuman seperti keju, yoghurt, tempe, bir, dan anggur. Mikroba seperti bakteri asam laktat dan ragi digunakan untuk mengubah bahan baku menjadi produk akhir yang bermanfaat dan memiliki rasa yang khas.

2) Industri Farmasi: Mikroba digunakan dalam produksi antibiotik dan vaksin. Beberapa mikroba, seperti spesies Penicillium dan Streptomyces, menghasilkan senyawa-senyawa antibiotik yang efektif dalam melawan infeksi bakteri. Selain itu, teknologi rekayasa

(21)

21 genetika mikroba juga digunakan untuk menghasilkan protein medis seperti insulin dan hormon pertumbuhan manusia.

3) Pengolahan Limbah: Mikroba digunakan dalam proses pengolahan limbah organik dan limbah industri. Mikroba dapat menguraikan bahan organik yang kompleks menjadi senyawa yang lebih sederhana, sehingga membantu dalam proses pengomposan dan pengolahan limbah secara alami. Mikroba juga digunakan dalam sistem pengolahan air limbah untuk menguraikan polutan dan menghasilkan air yang lebih bersih.

4) Pertanian dan Kehutanan: Mikroba digunakan dalam pupuk hayati untuk meningkatkan produktivitas tanah dan pertumbuhan tanaman.

Beberapa mikroba seperti Rhizobium dan mikoriza membentuk hubungan simbiotik dengan tanaman dan membantu dalam penyerapan nutrisi dan perlindungan tanaman terhadap penyakit.

Selain itu, mikroba juga digunakan dalam dekomposisi bahan organik dalam kompos untuk meningkatkan kesuburan tanah.

5) Pembersihan Lingkungan: Mikroba dapat digunakan untuk membersihkan lingkungan tercemar. Mikroba yang mampu mendegradasi bahan kimia berbahaya, seperti minyak atau logam berat, dapat digunakan dalam proses bioremediasi untuk menghilangkan polutan dari tanah atau air yang tercemar.

6) Energi dan Bahan Bakar: Mikroba dapat digunakan dalam produksi bioenergi seperti biogas dan bioetanol. Mikroba dalam proses fermentasi dapat mengubah bahan organik menjadi gas metana yang dapat digunakan sebagai sumber energi alternatif. Selain itu, mikroba juga dapat mengubah bahan biomassa menjadi bioetanol yang dapat digunakan sebagai bahan bakar pengganti bahan bakar fosil.

Pemanfaatan teknologi mikroba ini menunjukkan potensi yang besar dalam berbagai bidang dan dapat memberikan manfaat signifikan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, penggunaan teknologi mikroba juga perlu

(22)

22 memperhatikan aspek keamanan, regulasi, dan dampak lingkungan untuk memastikan pemanfaatannya yang berkelanjutan.

2. Pupuk Hayati Berbasis Nano

Pupuk hayati berbasis nano adalah jenis pupuk organik yang telah diolah dengan menggunakan teknologi nano. Pupuk ini mengandung mikroorganisme, seperti bakteri atau jamur, yang telah diubah ukurannya menjadi sangat kecil melalui proses nanoteknologi. Partikel-partikel nano ini memiliki ukuran yang sangat kecil, dalam skala nanometer (satu nanometer setara dengan satu miliar bagian dari satu meter), sehingga mereka dapat dengan mudah diserap oleh tanaman.

Penggunaan pupuk hayati berbasis nano memiliki beberapa keunggulan. Pertama, partikel nano pada pupuk ini dapat lebih mudah masuk ke dalam sel tanaman dan berinteraksi dengan nutrisi yang diperlukan oleh tanaman. Ini dapat meningkatkan efisiensi penyerapan nutrisi oleh tanaman dan memaksimalkan penggunaan pupuk.

Kedua, pupuk hayati berbasis nano juga dapat membantu meningkatkan produktivitas tanaman. Partikel nano tersebut dapat berfungsi sebagai pembawa nutrisi, sehingga dapat mengirimkan nutrisi langsung ke tempat yang dibutuhkan oleh tanaman. Selain itu, mikroorganisme dalam pupuk ini juga dapat berperan sebagai agen biologis yang membantu meningkatkan kualitas tanah dan melawan penyakit tanaman.

Meskipun pupuk hayati berbasis nano menawarkan berbagai manfaat, penggunaannya perlu diperhatikan dengan baik. Dalam penggunaan pupuk ini, diperlukan dosis yang tepat agar tidak terjadi over- dosis yang dapat merugikan tanaman. Selain itu, penggunaan pupuk hayati berbasis nano juga harus mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan agar tetap berkelanjutan dan tidak merusak ekosistem.

3. Pengembangan Formula Pupuk Hayati yang Lebih Efektif

Para peneliti terus mengembangkan formula pupuk hayati yang lebih efektif dalam meningkatkan pertumbuhan tanaman. Melalui uji coba dan penelitian yang intensif, mereka berusaha menciptakan kombinasi

(23)

23 mikroorganisme dan bahan tambahan lain yang bekerja secara sinergis untuk meningkatkan hasil panen.

(Junidi, 2023)

II. 8. Faktor Yang Mempengaruhi Pemupukan 1. Ketersediaan dan Kehilangan Hara Tanah

Ketika pupuk diperkenalkaan, para petani mulai menggunakan pupuk untuk memasok nutrisi utama N, P, dan K, dan pemupukan juga digunakan untuk memasok unsur hara sekunder dan mikro sehingga unsur hara yang menjadi faktor pembatasan produksi tanaman dapat dilakukan perbaikan (Liebig, 1840).

2. Tepat Jenis, Tepat Dosis, Tepat Waktu, Tepat Tempat, dan Tepat Cara Arti tepat jenis adalah proses pemupukan seharusnya tepat dalam menentukan jenis pupuk apa yang sesuai dengan kebutuhan tanamannya karena tiap jenis pupuk mempunyai kandungan unsur hara, reaksi fisiologis, kelarutan, dan kecepatan bekerja yang berbeda-beda.

Pengertian tepat dosis yaitu proses pada saat pemupukan dosis yang diberikan harus tepat dan sesuai dengan kebutuhan tanaman.

Arti tepat waktu yaitu pada saat pemberian pupuk yang baik dan benar sebaiknya disesuaikan waktu terbaik kapan tanaman itu butuh asupan lebih unsur hara atau waktu yang tepat supaya tanaman itu dapat tumbuh dan berkembang dengan optimal.

Tepat tempat yang dimaksud pada pemupukan artinya harus memperhatikan tempat atau lokasi tanaman sehingga dapat mengaplikasikan pemupukan secara tepat.

Tepat cara yaitu pada saat pemupukan cara kita harus benar. Cara pemberian pupuk yang salah akan membuat pupuk terbuang sia-sia ataupun tercuci oleh air dan ter dinitrifikasi sehingga tidak dapat diserap atau ditangkap langsung oleh tanaman.

(24)

24 3. Iklim, Suhu, dan Curah Hujan

Faktor iklim terutama curah hujan ikut serta dalam menentukan pertumbuhan dan produksi pertanian. Curah hujan erat kaitannya dengan pencucian, sedangkan radiasi matahari, suhu, angin dan kelembaban kaitannya dengan vortilisasi. Berikut gambar 2. 1 yang menunjukkan hubungan antara curah hujan dengan pemupukan:

Gambar 2. 6 Hubungan Curah Hujan dengan Pemupukan Keterangan:

T1: Jika dilakukan pemupukan, dan tiba-tiba terjadi hujan maka pupuk yang akan diaplikasikan mengalami leaching terutama untuk pupuk N, P dan S, sehingga terjadi kerugian. Di samping itu, bersama run off aliran permukaan tanah pupuk- pupuk itu akan masuk ke sungai dan berpotensi meracuni perairan.

T2: waktu yang paling tepat melakukan pemupukan. Pada kondisi ini, tanah dalam keadaan lembab (air tidak kurang juga tidak berlebihan) karena pelarutan unsur hara memerlukan air yang cukup.

T3: pemupukan apa pun tidak baik dilakukan kecuali dilakukan penyiraman. Pupuk akan mengikat agregat tanah pada kondisi ini, sehingga tanah menjadi kompak.

Catatan: pemupukan sebaiknya dilakukan pada pagi hari karena perbedaan temperatur tidak terlalu jauh dan evapotranspirasi belum banyak.

(Roni, 2015)

(25)

25 II. 9. Aplikasi

1. Aplikasi Pupuk Hayati Untuk Meningkatkan Pertumbuhan dan Produktivitas Tanaman Kelapa Sawit

Aplikasi pupuk hayati dapat meningkatkan efisiensi pemupukan melalui pengurangan dosis pupuk anorganik dengan tetap mempertahankan pertumbuhan tanaman dan bobot tandan. Pertumbuhan tanaman kelapa sawit dapat meningkat pada kisaran 8,5-17,2% (luas daun) dan 8,6-14,9%

(berat kering pelepah) tidak berbeda nyata dibandingkan kontrol (100%

anorganik). Produktivitas tanaman kelapa sawit pada perlakuan aplikasi pupuk hayati meningkat pada kisaran 2-11%. Selain itu, aplikasi pupuk hayati dengan kandungan konsorsium bakteri dapat memberikan nilai ekonomi yang lebih pada budidaya kelapa sawit melalui efisiensi biaya pemupukan dan peningkatan pendapatan. Pengamatan lanjutan sangat diperlukan untuk mengetahui konsistensi hasil dan dampak positif penggunaan pupuk hayati dalam jangka panjang sebagai upaya mendukung kelapa sawit berkelanjutan (Hidayat, 2023).

2. Aplikasi Pupuk Hayati Terhadap Pertumbuhan Tanaman Jagung Var.

Bisma

Pemberian pupuk hayati dengan lama simpan 0, 1, 2, 4, dan 6 bulan mampu meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman jagung. Namun semakin lama penyimpanan, responnya terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman semakin menurun. Penurunan tersebut terlihat pada bobot produksi jagung. Bobot produksi jagung tertinggi terdapat pada tanaman yang diberi pupuk hayati 1 bulan dibandingkan dengan kontrol tanpa pupuk hayati namun diberi kompos (Hidayati, 2017).

3. Aplikasi Pupuk Hayati Mikroriza Untuk Meningkatkan Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Pakcoi (Brassica raoa. S.)

Penggunaan pupuk hayati mikoriza tidak meningkatkan pertumbuhan dan hasil pakcoi, tetapi dapat mengurangi kebutuhan pupuk NPK sampai sebesar 50% dari dosis pupuk NPK standar. Kombinasi pupuk organik standar (15 ton/ha pupuk kandang kuda) + 0,5 dosis standar pupuk

(26)

26 NPK (100 kg/ha NPK 16-16-16) + 1,0 dosis standar pupuk hayati mikoriza (7,5 kg/ha) mempunyai efektivitas yang lebih baik terhadap hasil pakcoi dibandingkan dengan kombinasi pupuk organik standar + pupuk NPK standar, dengan nilai Relative Agronomic Effectiveness dan Relative Economic Effectiveness lebih dari 100% (Firmansyah, 2011).

4. Aplikasi Pupuk Hayati Pada Tanaman Rempah dan Obat

Aplikasi pupuk hayati sudah dikembangkan secara luas pada tanaman rempah dan obat. Pupuk hayati menjaga lingkungan tanah yang kaya hara mikro dan makro melalui fiksasi nitrogen, pelarutan fosfor dan mineralisasi kalium, pelepasan zat pengatur tumbuh tanaman, produksi antibiotik dan biodegradasi bahan organik tanah. Mikroorganisme yang digunakan dalam pupuk hayati terdiri dari berbagai macam, seperti mikoriza, fungi dan bakteri, baik yang bersimbiosis dengan tanaman maupun yang hidup bebas di lingkungan. Banyak penelitian yang telah dilakukan untuk mengetahui pengaruh pupuk hayati pada tanaman rempah dan obat. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa pupuk hayati memberikan pengaruh positif pada berbagai tanaman rempah dan obat seperti lada, cengkeh, jahe, artemisia, ketumbar, panili, adas, dan lain-lain. Hal ini dapat dilihat pada peningkatan parameter pertumbuhan tanaman (tinggi, jumlah dan luas daun, perakaran), maupun hasil senyawa metabolit sekunder yang dihasilkan. Penggunaan pupuk hayati pada tanaman memberi dampak kesehatan manusia dan lingkungan (Kartikawati, Trisilawati, & Darwati, 2017).

5. Aplikasi Pupuk Hayati Untuk Efesiensi Pemupukan dan Peningkatan Produktivitas Lahan Sawah

Pupuk hayati Mikroflora Tanah Multiguna (MTM) merupakan konsorsia mikroorganisme yang mampu meningkatkan ketersediaan hara dan kesehatan tanah. Penggunaan MTM mampu menunjang keberlanjutan produktivitas tanah. Pemberian MTM-Nodulin dapat menghemat penggunaan pupuk Urea 100%, P dan K hingga 50%, sedangkan pemberian MTM-BioNutrient dan kompos Mdec dapat menghemat penggunaan pupuk Urea, P dan K hingga 50% (Purwani & Saraswati, 2016).

(27)

27 BAB III

PENUTUP

III. 1. Kesimpulan

1. Pemupukan dapat diartikan sebagai pemberian bahan organik maupun non organik untuk mengganti kehilangan unsur hara di dalam tanah dan untuk memenuhi kebutuhan unsur hara bagi tanaman sehingga produktivitas tanaman meningkat.

2. Jenis-jenis pupuk ada yang berdasarkan pembentukannya (pupuk alam, pupuk buatan, dan pupuk berdasarkan kandungan unsur haranya) dan pupuk yang didasarkan pada bentuknya (pupuk yang didasarkan pada reaksinya, susunan kimia, kadar kandungan hara, dan kelarutannya).

3. Pupuk hayati adalah pupuk yang berasal dari mahluk hidup yang dimanfaatkan untuk mengurangi pemakaian pupuk kimia.

4. Pengembangan terbaru dari teknologi pupuk hayati diantaranya ada pupuk cair, padat, dan pupuk dari akar, sedangkan pengaplikasianya pada beberapa tanaman menunjukkan hasil yang lumayan efektif dalam pertumbuhannya.

III. 2. Saran

Kesadaran masyarakat pertanian tentang manfaat dan pentingnya mikroba penyubur tanah dalam teknik pertanian masih rendah, sehingga diperlukan penjelasan, penyuluhan, dan sosialisasi di berbagai kalangan, serta perlu adanya peranan dari instansi terkait khususnya dalam bidang pertanian termasuk pejabat pertanian, penyuluh dan petani tentang pemanfaatan pupuk hayati guna program peningkatan produksi pertanian.

(28)

28 DAFTAR PUSTAKA

Firmansyah. (2011). Peraturan Tentang Pupuk, Klasifikasi Pupuk Alternatif dan Peranan Pupuk Organik dalam Peningkatan Produksi Pertanian.

Kalimantan Tengah: Apresiasi Pengembangan Produk Organik.

Hardjowigeno. (2007). Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Jakarta: Pustaka Utama.

Hidayat, F. (2023). Aplikasi Pupuk Hayati Untuk Meningkatkan Pertumbuhan dan Produktivitas Tanaman Kelapa Sawit. Jurnal Pen. Kelapa Sawit, 96-107.

Hidayati, N. (2017). Aplikasi Pupuk Hayati (Plat Growth Promoting Rhizobacteria) yang Telah Disimpan Terhadap Pertumbuhan Tanaman Jagung Var. Bisma.

Jurnal Maduranch, 13-21.

Junidi. (2023). Inovasi Terbaru dalam Pupuk Hayati: Mengoptimalkan Efesiensi Nutrisi dan Mengurangi Dampak Lingkungan. Diambil kembali dari Retrieved from Bertanam: https://www.bertanam.com/inovasi-terbaru- dalam-pupuk-hayati-mengoptimalkan-efesiensi-nutrisi-dan-mengurangi- dampak-lingkangan/

Kartikawati, A., Trisilawati, O., & Darwati, I. (2017). Pemanfaatan Pupuk Hayati (Biofertilizer) pada Tanaman Rempah dan Obat. Jurnal Perspektif, 33-43.

Ladiku, S. (2020). Teknologi Pembuatan Pupuk Hayati. Indonesia: Universitas Negeri Gorontalo.

Liebig, J. v. (1840). Organic Chemistry in Its Application to Agriculturre and Physiology. London: Printed for Taylir and Walton.

Mansyur, I., Pudjiwati, H., & Murtilaksono, A. (2021). Pupuk dan Pemupukan.

Aceh: Syiah Kuala University Press.

Mukhlis. (2020, Januari 29). Jenis-Jenis Pupuk Hayati Berdasarkan Fungsinya.

Diambil kembali dari Dinas Pertanian Kabupaten Luwu Utara:

(29)

29 https://dtphp.luwuutarakab.go.id/berita/29/jenisjenis-pupuk-hayati-

berdasarkan-fungsinya.html

Pertanian, K. (2021). Mengenal Pupuk Hayati. Jakarta: Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian.

Purba, T., Situmeang, R., & Rohman, H. (2021). Pupuk dan Teknologi Pemupukan.

Medan: Yayasan Kita Menulis.

Purwani, J., & Saraswati, R. (2016). Teknik Aplikasi Pupuk Hayati Untuk Efesiensi Pemupukan dan Peningkatan Produktivitas Lahan Sawah. Indonesia:

Journal of Contemporary Issues in Elementary Education.

Roni, G. (2015). Bahan Ajar Tanah Sebagai Media Tumbuh. Bali: Fakultas Peternakan Universitas Udayana.

Soesilo, B. (2024). Pupuk Hayati. Indonesia: PT Pupuk Kalimantan Timur.

Solichin, Yoto, & Wahono. (2018). Penerapan Teknologi Tepat Guna Untuk Pembuatan Pupuk Organik di Desa Selorejo, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Jurnal Karinov, 3.

Gambar

Tabel 2. 1 Kandungan Unsur Hara Pada Pupuk Kandang  Ternak  N (%)  P 2 O 5  (%)  K 2 O (%)  Unggas
Tabel 2. 2 Contoh Pupuk Tunggal  Unsur Hara  Contoh Pupuk
Tabel 2. 3 Contoh Pupuk Majemuk  Unsur
Gambar 2. 1 Pupuk Hayati Ecofert  2.  Biotara
+4

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan merancang proses pembuatan pupuk cair organik dari limbah cair pabrik kelapa sawit (LCPKS) serta menghasilkan pupuk.. Bahan yang digunakan

Ilmu fisika sangat mendukung perkembangan teknologi, industri, komunikasi, termasuk kerekayasaan ( engineering ), kimia, biologi, kedokteran, dan lain-lain. Ilmu fisika

Hasil perhitungan neraca massa pembuatan pelet pupuk organik dari residu lumpur proses digestasi anaerobik dengan umpan lumpur biologi industri kertas dapat dilihat pada Gambar

Melalui makalah yang berjudul Pembuatan Anilin Melalui Reduksi Nitrobenzene ini yang diharapkan dapat menunjang nilai penulis di dalam mata kuliah Proses Industri Kimia

Untuk itu diperlukan penelitian teknologi pengolahan bahan baku secara biologi dengan mencoba beberapa perlakuan fisik, kimia dan biologi secara terus menerus

Pengolahan ditujuan untuk menghilangkan polutan dari air limbah baik dengan cara fisika, kimia maupun biologi. Proses fisika kimia yang diterapkan tergantung sifat

Pemberian pupuk organik sumber bahan organik yang dikombinasikan dengan pupuk anorganik berpengaruh terhadap kesuburan fisik tanah, kimia tanah maupun biologi tanah, menyebabkan proses

Program Studi Teknik Kimia Jurusan Teknologi Industri dan Proses Institut Teknologi Kalimantan Balikpapan, 2022... Program Studi Teknik Kimia Jurusan Teknologi Industri dan Proses