Jurnal Pendidikan Tambusai 3508
Kajian Semantik : Makna Konotasi Pada Rubrik Opini “Jati Diri”
Harian Jawa Pos
Eva Eri Dia1, Silmy Rosydah2
Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, STKIP PGRI Jombang Jl. Pattimura No.3 Jombang, 61418, Jombang
Email : [email protected] , [email protected]
Abstrak
Penelitian dengan judul Kajian Semantik : Makna Konotasi Pada Rubrik Opini “Jati Diri” Harian Jawa Pos . Tujuan dari penelitian ini yaitu (1) mengetahui bentuk kata makna konotasi, (2) mengetahui fungsi arti kata makna konotasi. Jenis Penelitian ini adalah deskriptif kualitatif.
Sumber data dalam penelitian ini Rubrik Opini “Jati Diri” Harian Jawa Pos, sedangkan data penelitian ini berupa bentuk kata dan frasa. Instrumen penelitian ini menggunakan tabel data agar memudahkan dalam menganalis makna konotasi. Teknik pengumpulan data yang digunakan teknik simak,catat dan pengkodean, sedangkan teknik analisis data dengan cara pengumpulan data dengan cara mengelompokkan data, analisis data, dan simpulan. Hasil penelitian ini menganalisis makna konotasi berdasarkan bentuk kata dan fungsi.
Kata Kunci : Makna Konotasi, Rubrik Opini, Jawa Pos Abstract
Research with the title Semantic Study: The Meaning Of Connotation In The Java Pos Daily Java Pos Opinion Rubric. The aims of this study are (1) to know the form of the word connotative meaning, (2) to know the function of the word meaning connotative meaning. This type of research is descriptive qualitative. The source of the data in this research is the Opinion Rubric "Jati Diri" Daily Jawa Pos, while the data in this study are in the form of words and phrases. This research instrument uses a data table to make it easier to analyze the meaning of connotation. The data collection techniques used were listening, recording and coding techniques, while the data analysis techniques were collecting data by grouping data, analyzing data, and making conclusions. The results of this study analyzed the meaning of connotation based on word form and function.
Keywords: Connotation Meaning, Opinion Rubric, Jawa Pos
PENDAHULUAN
Media massa adalah salah satu aspek komunikasi yang penting, terutama pada masa sekarang ini. Kehadiran media massa tersebut dalam kehidupan masyarakat tidak dapat diabaikan peranannya dalam mengubah budaya yang ada. Bagaimana media massa dapat mengembangkan norma-norma sosial, membentuk interaksi sosial, melakukan kontrol sosial, dan menimbulkan perubahan sosial juga bagaimana tujuan utama media massa yang bersangkutan. Salah satu media massa yang dapat menyajikan informasi secara aktual adalah surat kabar. Isi surat kabar senantiasa apa yang benar terjadi dalam masyarakat sebagai peristiwa fisik yang menempati ruang dan waktu maupun sebagai kejadian abstrak yang mengambil tempat di dalam otak dan hati masyarakat (Liliweri, 1991:27)..
Surat kabar sangat berperan penting dalam memenuhi kebutuhan akan informasi, dan anggap dapat menumbuhkan kesadaran pada masyarakat tentang programprogram pemerintah dalam pembangunan di segala bidang kehidupan. Kemampuan pers dalam penyebaran informasi memang tidak diragukan lagi, pers yang berfungsi sebagai penyebar informasi dapat menyampaikan berita-berita aktual tentang kondisi pemerintah dan
Jurnal Pendidikan Tambusai 3509 pembangunan masyarakat secara luas. Media massa cetak seperti surat kabar, pesan- pesannya dapat dibaca kapan dan dimana saja serta dapat diulang-ulang. Dengan demikian media cetak memiliki sifat menguasai waktu, adapun kelemahannya adalah terletak pada sistem distribusinya karena harus melalui transportasi darat, laut dan udara (Panuju, 2002:52).
Menurut Iskandar (2009:111) mengemukakan Surat kabar merupakan media cetak yang diterbitkan secara teratur dan sistematis yang memuat berita-berita, opini, artikel-artikel dan informasi-informasi yang bersentuhan dengan kehidupan sehari-hari. Menurut Laksana, (2010:8) Surat kabar adalah alat komunikasi cetak yang luas jangkaunnya di negeri kita.
Sebagai alat komunikaasi cetak, surat kabar dapat dibaca berulang-ulang. Dengan demikian peneliti dapat menyimpulkan surat kabar harian adalah suatu tulisan yang disertai dengan bukti untuk disampaikan kepada khalayak banyak terhadap suatu kejadian yang terjadi pada hari itu juga dan terbit setiap hari atau secara periodik.
Surat kabar Jawa Pos yang beridri sejak 1 Juli 1949, dalam setiap harinya terbit kurang lebih sebanyak 40 halaman dimana terbagi atas kurang lebih 3 bagian yaitu bagian utama atau berita-berita utama nasional dan internasional, Ekonomi-bisnis dan Olah raga. Surat kabar harian Jawa Pos adalah surat kabar harian yang memuat berita-berita faktual yang jangkauannya luas. Sebagian besar masyarakat berlangganan atau membeli surat kabar karena memerlukan informasi mengenai berbagai peristiwa yang terjadi. Selanjutnya, fungsi mendidik, koreksi, menghibur, dan mediasi merupakan fungsi pelengkap yang dapat ditemukan dalam artikel atau opini, cerita dan sebagainya.
Penerbitan pers khususnya surat kabar hampir semuanya menyediakan rubrik untuk menampung pendapat, opini, ataupun gagasan. Rubrik opini disediakan berkaitan dengan salah satu tujuan penerbitan surat kabar, yaitu agar khalayak dalam arti masyarakat luas mempunyai sikap, pendapat, dan melakukan suatu tindakan tertentu. Penerbit biasanya menyediakan satu halaman penuh yang khusus memuat pendapat, opini, atau gagasan, baik dari masyarakat pada umumnya maupun redaktur. Halaman ini menurut Totok Djuroto (2000:
67) dinamakan halaman pendapat (opinion pages). Rubrik opini juga merupakan representasi penggunaan bahasa oleh masyarakat luas. Hal ini mengingat bahwa tulisan-tulisan dalam rubrik opini sebagian besar berasal dari masyarakat luas atau pembaca pada umumya.
Dengan demikian, tulisan-tulisan pada rubrik opini sarat dengan perkembangan bahasa pada masyarakat pengguna bahasa.
Semantik memiliki peran penting bagi linguistik khususnya berkaitan dengan makna.
Ilmu semantic terdapat beberapa hal yang perlu dikaji terutama terletak pada makna suatu kata. Menurut Chaer (1989:60) yang menyatakan bahwa dalam Semantik yang dibicarakan adalah hubungan antara kata dengan konsep atau makna dari kata tersebut, serta benda atau hal-hal yang dirujuk oleh makna itu yang berada diluar bahasa. Makna dari sebuah kata, ungkapan atau wacana ditentukan oleh konteks yang ada. Menurut Tarigan (1985:7) Semantik menelaah lambang-lambang atau tanda-tanda yang menyatakan makna, hubungan makna yang satu dengan yang lain, dan pengaruhnya terhadap manusia dan masyarakat.
Jadi semantik senantiasa berhubungan dengan makna yang dipakai oleh masyarakat penuturnya. Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa semantik adalah ilmu yang menelaah lambang-lambang atau tanda-tanda yang menyatakan makna, hubungan makna yang satu dengan yang lain, serta hubungan antara kata dengan konsep atau makna dari kata tersebut.
Terdapat banyak macam jenis makna yang ada dalam ilmu semantik menurut Chaer (2013, hlm. 59-78) yaitu makna leksikal, makna gramatikal, makna referensial, makna nonreferensial, makna denotatif, makna konotatif, makna kata, makna istilah, makna konseptual, makna asosiatif, makna idiomatikal, makna peribahasa, makna kias, makna kolusi, makna ilokusi, dan makna perlokusi. Namun, pada penelitian ini, peneliti hanya memfokuskan pada makna konotasi. Makna konotatif merupakan responsi-responsi emosional yang sering bersifat perorangan serta timbul dalam kebanyakan kata-kata leksikal pada kebanyakan para pemakainya. Makna konotasi suatu kata merupakan segala sesuatu yang kita pikirkan apabila kita melihat kata tersebut yang mungkin dan juga mungkin tidak
Jurnal Pendidikan Tambusai 3510 sesuai dengan makna sebenarnya (Tarigan, 1985:50). Menurut Chaer (2012: 292) makna konotatif adalah makna lain yang “ditambahkan” pada makna denotatif yang berhubungan dengan nilai rasa dari orang atau kelompok orang yang menggunakan kata tersebut. Jadi dapat disimpulkan bahwa makna konotatif merupakan makna yang muncul akibat dari perasaan atau pikiran seseorang terhadap apa yang dicapkan maupun yang didengar. Oleh karena itu, makna, bahwa makna konotasi adalah nilai rasa positif, negative, maupun netral.
Pada kata itu sendiri nilai rasa positif dan negative sebuah kata sering sekali juga terjadi sebagai akibat digunakannya referen kata itu sebagai sebuah perlambang. Jika digunakan sebagai lambang sesuatu yang positif, maka makna bernilai positif dan jika digunakan sebagai lambang sesuatu yang negatif, maka makna bernilai negative. Dalam penelitian ini jenis konotatif yang dipilih ialah makna konotasi positif dan makna konotasi negatif. Penggunaan makna konotatif ditinjau dari segi nilai rasa positif maupun negative.
Dipilihnya harian jawa pos sebagai objek penelitian terdapat banyak kolom-kolom rubrik yang ditampilkan didalamnya salah satunya rubrik opini “jati diri”. Alasan peneliti memilih rubrik opini “jati diri”, karena salah satu rubrik lama dari Jawa Pos yang dipilih oleh Jawa Pos sebagai media berinteraksi antara media dan masyarakat. Dalam berita utama surat kabar harian Jawa Pos terdapat halaman opini yang merupakan tulisan atau artikel yang ditulis baik oleh masyarakat ataupun redaksi yang bersifat subyektif yang sangat berbeda sekali dengan berita yang bersifat obyektif. Rubrik opini sendiri juga dapat digunakan sebagai media untuk menyalurkan opini publik yang dikemas dengan cukup menarik dalam penerbitan pers. Oleh karena itu, kata yang tertuang dalam harian Jawa Pos banyak mengandung makna konotasi.
Berdasarkan uraian diatas , peneliti tertarik untuk menganalisis makna konotasi pada Rubrik Opini “Jati Diri” Harian Jawa Pos. Adapun rumusan masalah penelitian ini adalah (1) Bagaimana bentuk kata makna konotasi pada Rubrik Opini “Jati Diri” Harian Jawa Pos dan (2) Bagaimana fungsi makna kata konotasi pada Rubrik Opini “Jati Diri” Harian Jawa Pos.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk kata makna konotasi terbagi menjadi 2 yaitu konotasi baik dan konotasi tidak baik dan menjelaskan fungsi arti kata konotasi pada temuan kalimat di Rubrik Opini “Jati Diri” Harian Jawa Pos.
Teknik pengumpulan data penelitian ini menggunakan metode simak atau penyimakan.
Metode simak berarti peneliti menyimak kata yang termasuk makna konotasi positif dan negatif pada Rubrik Opini “Jati Diri” Harian Jawa Pos. Untuk menyimak data tertulis, yang harus dilakukan adalah membaca keseluruhan isi data secara berulang-ulang, mencari data, mengamati, serta memahami setiap data yang terdapat dalam sumber data. Setelah data dipahami, peneliti akan menandai bagian-bagian kata yang bermakna konotasi. Metode simak dibantu dengan teknik lanjutan berupa teknik catat. Selanjutnya pemberian kode pada data- data yang sudah dibaca. Sedangkan teknik analisis data penelitian ini pengumpulan data dengan cara mengelompokkan data, analisis data dan simpulan.
Melalui kegiatan menganalisis makna konotasi dalam penelitian ini, peneliti mengambil data pada Rubrik Opini “Jati Diri” Harian Jawa Pos. Hasil dari penelitian ini digunakan menganalisis makna konotasi berdasarkan bentuk kata dan fungsi. Penelitian ini memberi manfaat bagi banyak kalangan,baik kalangan akademis atau umum. Serta secara langsung diharapkan penelitian ini bermanfaat dalam menentukan keberhasilan dalam dapat memperkaya wawasan, pengetahuan, dan pengalaman mengenai analisis makna konotasi pada surat kabar harian Jawa Pos.
Pengertian Semantik
Semantik adalah cabang lingustik yang bertugas untuk meninjau makna kata, apa yang akan Anda katakan sejak awal, bagaimana perkembangannya dan mengapa ada perubahan makna dalam sejarah bahasa (Mulyono di Suwandi, 2008: 9). Semantik mempunyai peran penting bagi linguistik yang secara khusus terkait dengan makna. Ilmu semantik terdapat beberapa hal untuk dipelajari terutama dalam arti kata. Misalkan maknanya adalah bagian dari bahasa, semantik adalah bagian dari linguistik yang mengetahui tanda- tanda linguistik dengan hal-hal yang dirancang.
Jurnal Pendidikan Tambusai 3511 Menurut (Kridalaksana, 2001:1993) Semantik adalah bagian dari struktur bahasa yang berhubungan dengan makna ungkapan dan dengan struktur makna suatu wicara. Makna adalah maksud pembicaraan, pengaruh satuan bahasa dalam pemahaman persepsi, serta perilaku manusia atau kelompok. Makna kata merupakan bidang kajian yang dibahas dalam ilmu semantik. Berbagai jenis makna kata dikaji dalam ilmu semantik.
Menurut Chaer (1989:60) yang menyatakan bahwa dalam Semantik yang dibicarakan adalah hubungan antara kata dengan konsep atau makna dari kata tersebut, serta benda atau hal-hal yang dirujuk oleh makna itu yang berada diluar bahasa. Makna dari sebuah kata, ungkapan atau wacana ditentukan oleh konteks yang ada. Menurut Tarigan (1985:7) Semantik menelaah lambang-lambang atau tanda-tanda yang menyatakan makna, hubungan makna yang satu dengan yang lain, dan pengaruhnya terhadap manusia dan masyarakat.
Jadi semantik senantiasa berhubungan dengan makna yang dipakai oleh masyarakat penuturnya. Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa semantik adalah ilmu yang menelaah lambang-lambang atau tanda-tanda yang menyatakan makna, hubungan makna yang satu dengan yang lain, serta hubungan antara kata dengan konsep atau makna dari kata tersebut..
Jenis Makna Semantik
Makna suatu kata merupakan bahan yang dikaji dalam ilmu semantik. Makna kata terbagi menjadi beberapa jenis. Seperti yang dikemukakan oleh Palmer (dalam Pateda, 2001:96) jenis makna terdiri dari: (i) makna kognitif (cognitive meaning), (ii) makna ideasional (ideational meaning), (iii) makna denotasi (denotasional meaning), (iv) makna proposisi (propositional meaning), sedangkan Shipley (dalam dalamPateda, 2001:96) berpendapat bahwa makna mempunyai jenis: (i) makna emotif (emotif meaning), (ii) makna kognitif (cognitive meaning) atau makna deskriptif (descriptive meaning), (iii) makna referensial (referential meaning), (iv) makna pictorial (pictorial meaning), (v) makna kamus (dictionary meaning), (vi) makna samping (fringe meaning), dan (vii) makna inti (core meaning). Leech (dalam Chaer, 1989:61) membedakan adanya tujuh tipe makna, yaitu (1) makna konseptual, (2) makna konotatif, (3) makna stilistika, (4) makna afektif, (5) makna refleksi, (6) makna kolokatif, (7) makna tematik.\
Pendapat lain dikemukakan oleh Chaer (1989:61), yang membedakan jenis makna menjadi beberapa kriteria sebagai berikut. Berdasarkan jenis semantiknya dapat dibedakan antara makna leksikal dan makna gramatikal, berdasarkan ada tidaknya referen pada sebuah kata/leksem dapat dibedakan adanya makna referensial dan makna nonreferesial, berdasarkan ada tidaknya nilai rasa pada sebuah kata/leksem dapat dibedakan adanya makna denotative dan makna konotatif, berdasarkan ketepatan maknanya dikenal adanya makna kata dan makna istilah atau makna umum dan makna khusus. Lalu berdasarkan kriteria lain atau sudut pandang lain dapat disebutkan adanya makna-makna asosiasif, kolokatif, reflektif, idiomatik, dan sebagainya..
Pengertian Makna Konotasi
Menurut Keraf (1994:29) makna konotatif adalah suatu jenis makna dimana stimulus dan respons mengandung nilai-nilai emosional. Konotasi atau makna konotatif disebut juga makna konotasional, makna emotif, atau makna evaluatif. Makna konotatif sebagian terjadi karena pembicara ingin menimbulkan perasaan setuju atau tidak setuju, senang atau tidak senang, dan sebagainya pada pihak pendengar, dipihak lain kata yang dipilih itu memperlihatkan bahwa pembicaranyajuga memendam perasaan yang sama. Makna konotatif sebenarnya adalah makna denotasi yang mengalami penambahan. Hal ini sependapat dengan pengertian konotasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008:725) yakni konotasi adalah tautan pikiran yang menimbulkan nilai rasa pada seseorang ketika berhadapan dengan sebuah kata, makna yang ditambahkan pada makna denotasi.
Aminuddin (2001:88) berpendapat makna konotatif adalah makna kata yang telah mengalami penambahan terhadap makna dasarnya. Makna konotatif disebut juga dengan makna tambahan. Makna konotatif muncul sebagai akibat asosiasi perasaan pemakai bahasa
Jurnal Pendidikan Tambusai 3512 terhadap kata yang didengar atau dibaca. Zgusta (dalam Aminuddin, 2001:112) berpendapat makna konotatif adalah makna semua komponen pada kata ditambah beberapa nilai mendasar yang biasanya berfungsi menandai.
Makna konotatif merupakan responsi-responsi emosional yang sering bersifat perorangan serta timbul dalam kebanyakan kata-kata leksikal pada kebanyakan para pemakainya. Makna konotasi suatu kata merupakan segala sesuatu yang kita pikirkan apabila kita melihat kata tersebut yang mungkin juga mungkin tidak sesuai dengan makna sebenarnya (Tarigan, 1985:50). Menurut Chaer (2012: 292) makna konotatif adalah makna lain yang
“ditambahkan” pada makna denotatif yang berhubungan dengan nilai rasa dari orang atau kelompok orang yang menggunakan kata tersebut. Jadi dapat disimpulkan bahwa makna konotatif merupakan makna yang muncul akibat dari perasaan atau pikiran seseorang terhadap apa yang dicapkan maupun yang didengar. Oleh karena itu, makna, bahwa makna konotasi adalah nilai rasa positif, negative, maupun netral. Pada kata itu sendiri nilai rasa positif dan negative sebuah kata sering sekali juga terjadi sebagai akibat digunakannya referen kata itu sebagai sebuah perlambang. Jika digunakan sebagai lambang sesuatu yang positif, maka makna bernilai positif dan jika digunakan sebagai lambang sesuatu yang negatif, maka makna bernilai negative.
Jenis Makna Konotasi
Menurut Tarigan (2015: 54) makna konotasi dapat dibagi menjadi dua menurut garis besarnya, yaitu (1) konotasi baik meliputi konotasi tinggi dan konotasi ramah, (2) konotasi tidak baik meliputi konotasi berbahaya, konotasi tidak pantas, konotasi tidak enak, konotasi kasar, konotasi keras, dan (3) konotasi netral meliputi konotasi bentukan sekolah, konotasi kanakkanak, konotasi hipokoristik, dan konotasi bentuk nonsense. Dalam penelitian ini jenis konotatif yang dipilih ialah makna konotasi positif dan makna konotasi negatif. Penggunaan makna konotatif ditinjau dari segi nilai rasa positif maupun negative.
Makna Konotasi Positif
Makna konotatif menurut Chaer (1995: 66-68) dibedakan menjadi dua yaitu, konotasi positif dan konotasi negatif. Konotasi positif merupakan kiasan yang mengandung makna baik atau positif. Menurut Djajasudarma (2009: 13) makna konotatif dan makna emotif cenderung berbeda dalam bahasa indonesia Makna emotif (emotive meaning) adalah makna yang melibatkan perasaan (pembaca dan pendengar); (penulis dan pembaca) ke arah positif.
Menurut Wijana dan Rohmadi (2008: 23) nilai emotif dari suatu kata berbeda-beda bisa jadi halus maupun kasar. Nilai emotif yang terdapat dalam suatu kebahasaan disebut konotasi Sebagai contohnya, kata wanita memiliki 13 konotasi yang positif karena memiliki nilai rasa yang tinggi daripada perempuan. Wanita memiliki nuanasa halus dan perempuan memiliki nuansa lebih kasar. Hal ini bisa dibedakan dari makna suatu kata atau sinonim suatu kata. Maka akan terlihat perbedaan makna konotatif dan makan emotif. Contoh tersebut ditinjau dari penggunaan kata, adapun contoh dari ungkapan anak emas yang artinya anak kesayangan. Positif atau negatifnya nilai rasa bergantung pada konteks yang digunakan kata, frasa, atau klausa.
Makna Konotasi Negatif
Makna konotatif merupakan kiasan yang mengandung makna buruk atau negatif.
Menurut Djajasudarma (2009: 13) makna konotatif dan makna emotif cenderung berbeda dalam bahasa indonesia. Makna konotasi muncul akibat asosiasi perasaan kita terhadap apa yang didengar atau diucapkan. Makna konotatif cenderung mengarah pada hal-hal yang negatif, sedangkan emotif merujuk ke hal-hal yang positif. Konotasi negatif dapat dilihat dari nilai rasa yang kurang baik atau buruk.
Sebagai contohnya kata perempuan dan wanita, perempuan memiliki nilai rasa yang rendah daripada wanita sehingga kata perempuan memiliki konotasi yang negatif. Contoh lain yang berupa ungkapan adu domba memiliki makna yang negatif yaitu membuat orang lain menjadi bermusuhan atau berselisih paham. Penggunaan konotasi negatif bergantung pada
Jurnal Pendidikan Tambusai 3513 konteks yang digunakan, konotasi negatif bisa berupa kata, frasa atau klausa. Peribahasa ataupun ungkapan yang memiliki makna konotasi negative.
Surat Kabar Rubrik Opini Harian Jawa Pos
Media massa adalah salah satu aspek komunikasi yang penting, terutama pada masa sekarangini. Manusia merupakan khalayak sasaran media massa, sehingga keberadaan media massa senantiasa dituntut untuk mengikuti gerak dan dinamika individu sebagai kesatuan dalam masyarakat, namun kehadiran media massa akna dinilai berbeda-beda oleh setiao individu. Untuk memberikan pelayanan informasi kepada masyarakat, media massa (pers) diharapkan mampu mencerdaskan masyarakat melalui muatan informasi yang memiliki kebenaran, kepentingan dan manfaat untuk masyarakat.
Surat kabar sangat berperan penting dalam memenuhi kebutuhan akan informasi, dan anggap dapat menumbuhkan kesadaran pada masyarakat tentang programprogram pemerintah dalam pembangunan di segala bidang kehidupan. Kemampuan pers dalam penyebaran informasi memang tidak diragukan lagi, pers yang berfungsi sebagai penyebar informasi dapat menyampaikan berita-berita aktual tentang kondisi pemerintah dan pembangunan masyarakat secara luas. Media massa cetak seperti surat kabar, pesan- pesannya dapat dibaca kapan dan dimana saja serta dapat diulang-ulang. Dengan demikian media cetak memiliki sifat menguasai waktu, adapun kelemahannya adalah terletak pada sistem distribusinya karena harus melalui transportasi darat, laut dan udara (Panuju, 2002:52).
Menurut Iskandar (2009:111) mengemukakan Surat kabar merupakan media cetak yang diterbitkan secara teratur dan sistematis yang memuat berita-berita, opini, artikel-artikel dan informasi-informasi yang bersentuhan dengan kehidupan sehari-hari. Menurut Laksana, (2010:8) Surat kabar adalah alat komunikasi cetak yang luas jangkaunnya di negeri kita.sebagai alat komunikaasi cetak, surat kabar dapat dibaca berulang-ulang. Dengan demikian peneliti dapat menyimpulkan surat kabar harian adalah suatu tulisan yang disertai dengan bukti untuk disampaikan kepada khalayak banyak terhadap suatu kejadian yang terjadi pada hari itu juga dan terbit setiap hari atau secara periodic.
Perkembangan surat kabar di Indonesia yang cukup pesat dengan banyaknya surat kabar yang muncul dan banyak juga surat kabar atau koran yang tidak dapat bertahan hingga bangkrut membuktikan bahwa persaingan antar media terutama surat kabar sangat ketat sekali. Hal ini berdampak pada isi berita hingga rubrikrubrik yang dimunculkan oleh redaksi setiap harinya. Dengan memunculkan rubrik-rubrik baru yang dapat menarik perhatian pembaca akan membuat surat kabar tersebut untuk tetap bertahan dalam persaingan yang ketat. Rubrik-rubrik tersebut akan mendorong pembaca untuk membeli atau bahkan meningkatkan pendatan surat kabar melalui iklan karena memiliki jumlah pembaca yang cukup besar.
Salah satunya surat kabar Jawa Pos yang beridri sejak 1 Juli 1949, dalam setiap harinya terbit kurang lebih sebanyak 40 halaman dimana terbagi atas kurang lebih 3 bagian yaitu bagian utama atau berita-berita utama nasional dan internasional, Ekonomi-bisnis dan Olah raga. Surat kabar harian Jawa Pos adalah surat kabar harian yang memuat berita-berita faktual yang jangkauannya luas. Sebagian besar masyarakat berlangganan atau membeli surat kabar karena memerlukan informasi mengenai berbagai peristiwa yang terjadi.
Selanjutnya, fungsi mendidik, koreksi, menghibur, dan mediasi merupakan fungsi pelengkap yang dapat ditemukan dalam artikel atau opini, cerita dan sebagainya.
Penerbitan pers khususnya surat kabar hampir semuanya menyediakan rubrik untuk menampung pendapat, opini, ataupun gagasan. Rubrik opini disediakan berkaitan dengan salah satu tujuan penerbitan surat kabar, yaitu agar khalayak dalam arti masyarakat luas mempunyai sikap, pendapat, dan melakukan suatu tindakan tertentu. Penerbit biasanya menyediakan satu halaman penuh yang khusus memuat pendapat, opini, atau gagasan, baik dari masyarakat pada umumnya maupun redaktur. Halaman ini menurut Totok Djuroto (2000:
67) dinamakan halaman pendapat (opinion pages). Rubrik opini juga merupakan representasi penggunaan bahasa oleh masyarakat luas. Hal ini mengingat bahwa tulisan-tulisan dalam
Jurnal Pendidikan Tambusai 3514 rubrik opini sebagian besar berasal dari masyarakat luas atau pembaca pada umumya.
Dengan demikian, tulisan-tulisan pada rubrik opini sarat dengan perkembangan bahasa pada masyarakat pengguna bahasa.
Opini sangat diperlukan karena opini merupakan sarana untuk menyampaikan ide, gagasan, kritik dan saran kepada sistem kehidupan bermasyarakat yang merupakan kontrol bagi pelaksanaan pemerintahan. (Djuroto, 2000: 45). Dalam menulis artikel atau opini dapat disebut juga sebagai karya tulis untuk surat kabar maka diperlukan beberapa unsur salah satunya adalah orisinalitas atau keaslian karya tulis tersebut, bukan hasil menjiplak atau membajak karya orang lain. Dalam dunia intelektualisme dan jurnalistik, plagiat merupakan sebuah dosa besar sehingga harus dihindari dengan menguasai etika penulisan dan pengutipan (Sumandiria 2004: 7). Begitu banyaknya permasalahan yang bermunculan akhir- akhir ini (pendidikan, agama, ekonomi, politik dan sebagainya) mengakibatkan masyarakat luas berlomba dalam menuangkan aspirasinya. Tampak terlihat peranan surat kabar khususnya rubrik opini mempunyai andil yang besar bagi masyarakat. Hal ini diharapkan, mampu untuk menciptakan iklim atau arus informasi yang dapat mendorong terjadinya interaksi timbal balik secara terbuka dan bertanggung jawab, antar pribadi atau kelompok dengan lembaga atau badan usaha baik milik pemerintah atau swasta.
METODE PENELITIAN
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif, Taylor dan Bodgan (dalam Moleong. 2009: 4) mengatakan bahwa penelitian kualitatif dapat diartikan sebagai penelitian yang menghasilkan data deskriftif mengenai kata-kata, lisan maupun tertulis, dan tingkah laku yang dapat diamati dari orang-orang yang diteliti. Dalam melakukan metode penelitian kualitatif ini data diperoleh melalui penyediaan data, teknik analisis, dan teknik penyajian hasil analisis data. Menurut Sukmadinata (2011: 73), penelitian deskriptif kualitatif ditujukan untuk mendeskripsikan dan menggambarkan fenomena-fenomena yang ada, baik bersifat alamiah maupun rekayasa manusia, yang lebih memperhatikan mengenai karakteristik, kualitas, keterkaitan antar kegiatan.
Sumber data adalah subjek dari mana data dapat diperoleh (Arikunto, 2013:129).
Sumber data dalam penelitian ini Rubrik Opini “Jati Diri” Harian Jawa Pos, sedangkan data penelitian ini berupa bentuk kata dan frasa pada Rubrik Opini “Jati Diri” Harian Jawa Pos.
Peneliti hanya terfokus pada jenis makna konotasi yaitu makna konotasi positif dan negatif.
Dengan melakukan penelitian ini diharapkan data yang diperoleh sesuai dengan realita, sehingga pembahasan yang ditulis bisa runtut dan sistematis.
Instrument penelitian yaitu alat yang digunakan untuk mencari atau mengumpulkan berbagai data yang diperlukan dalam kegiatan penelitian.” Sedangkan menurut Arikunto (2013: 160) “instrumen penelitian adalah alat atau fasilitas dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik, dalam arti lebih cermat, lengkap dan sistematis sehingga lebih mudah diolah”. Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar analisis untuk mengolah data. Instrumen penelitian ini menggunakan tabel data agar memudahkan dalam menganalis makna konotasi positif dan makna konotasi negatif.
Menurut Arikunto (2013: 203) metode pengumpulan data adalah cara yang dapat digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data.Teknik pengumpulan data penelitian ini menggunakan metode simak atau penyimakan. Metode simak berarti peneliti menyimak kata yang termasuk makna konotasi positif dan negatif pada Rubrik Opini “Jati Diri” Harian Jawa Pos. Untuk menyimak data tertulis, yang harus dilakukan adalah membaca keseluruhan isi data secara berulang-ulang, mencari data, mengamati, serta memahami setiap data yang terdapat dalam sumber data. Setelah data dipahami, peneliti akan menandai bagian-bagian kata yang bermakna konotasi. Metode simak dibantu dengan teknik lanjutan berupa teknik catat. Selanjutnya pemberian kode pada data-data yang sudah dibaca.
Mahsun (2012: 253) menyatakan bahwa analisis data merupakan upaya yang dilakukan untuk mengklasifikasi, mengelompokkan data. Teknik analisis data penelitian pada rubrik opini “jati diri” harian jawa pos yaitu 1) pengumpulan data dengan cara mengelompokkan data. 2)
Jurnal Pendidikan Tambusai 3515 selanjutnya dianalisis dengan disertai perbaikannya. Peneliti menganalisis data yang telah diklasifikasikan menurut bentuk kata atau frasa sesuai dengan makna konotasi baik positif maupun negatif. Selanjutnya peneliti juga menganalis fungsi arti kata konotasi pada temuan kalimat pada Rubrik Opini “Jati Diri” Harian Jawa Pos. 3) langkah terakhir yaitu ditarik kesimpulan. Peneliti menyimpulkan hasil analisis data berupa bentuk kata atau frasa sesuai dengan makna konotasi baik positif maupun negatif pada temuan kalimat pada Rubrik Opini
“Jati Diri” Harian Jawa Pos.
HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian
Analisis Bentuk Kata dan Fungsi Kata Makna Konotasi Positif Pada Rubrik Opini “Jati Diri” Harian Jawa Pos
Menurut Chaer (2012: 292) makna konotatif adalah makna lain yang “ditambahkan”
pada makna denotatif yang berhubungan dengan nilai rasa dari orang atau kelompok orang yang menggunakan kata tersebut. Jadi dapat disimpulkan bahwa makna konotatif merupakan makna yang muncul akibat dari perasaan atau pikiran seseorang terhadap apa yang dicapkan maupun yang didengar. Makna konotasi positif merupakan kiasan yang mengandung makna baik atau positif. Berdasarkan instrument data penelitian makna konotasi Positif Pada Rubrik Opini “Jati Diri” Harian Jawa Pos peneliti memperoleh sebanyak 17 data penelitian yang terdiri dari 30 data yang mengandung makna konotasi positif untuk dianalisis. Data tersebut bisa berupa kata atau frasa.
Data (1) Termasuk dalam situasi pandemi ini, mereka harus putar otak.
(D1/ROJTJP/JB/MKP/01/Des/2020) (makna
sebenarnya
memutar otak) Putar otak
berusaha dan berpikir keras dalam menyelesaikan suatu masalah atau mencari akal.
(makna konotasi)
Jurnal Pendidikan Tambusai 3516 Berdasarkan (Data 1) pada Rubrik Opini “Jati Diri” Jawa Pos yang berjudul “Saatnya Warga Berperan Lawan Covid” mengandung bentuk kata makna konotasi bersifat positif.
Makna konotatif pada konteks kalimat tersebut ditunjukkan oleh frasa putar otak. Frasa Putar otak dalam fungsi kalimat tersebut berarti berusaha dan berpikir keras dalam menyelesaikan suatu masalah atau mencari akal. Namun dalam makna sebenarnya berarti memutar otak, sehingga makna di atas tidak sesuai dengan sebenarnya.
Data (2) Langkah menteri kesehatan menetapkan enam vaksin yang dapat dibeli seharusnya menjadi langkah awal untuk memburu persediaan vaksin.
(D2/ROJTJP/JB/MKP/02/Des/2020
Berdasarkan (Data 2) pada Rubrik Opini “Jati Diri” Jawa Pos yang berjudul “ Pentingnya Regulasi Vaksin Mandiri” mengandung bentuk kata makna konotasi bersifat positif. Makna konotatif pada konteks kalimat tersebut ditunjukkan oleh kata memburu. Kata Memburu dalam fungsi kalimat tersebut berarti berusaha keras supaya mendapat persediaan vaksin. Namun dalam makna sebenarnya dalam KBBI berarti mengejar untuk menangkap binatang dalam hutan dan sebagainya, sehingga makna di atas tidak sesuai dengan sebenarnya.
Data (3) Masyarakat sepak bola tanah air tentu tak ingin hasil penggemblengan di Kroasia menguap begitu saja. (D3/ROJTJP/JB/MKP/04/Des/2020)
Berdasarkan (Data 3) pada Rubrik Opini “Jati Diri” Jawa Pos yang berjudul “Semoga Sudah Matang Saat Dibutuhkan” mengandung bentuk kata makna konotasi bersifat positif.
Makna konotatif pada konteks kalimat tersebut ditunjukkan oleh kata menguap. Kata Menguap dalam fungsi kalimat tersebut berarti Lenyap atau tidak ada gunanya. Namun dalam makna sebenarnya dalam KBBI berarti mengeluarkan uap, sehingga makna di atas tidak sesuai dengan sebenarnya.
Data (4) Ribka berkaca pada segala pengalaman kasus pemberian vaksin lain yang justru mengakibatkan kematian dan kelumpuhan.(D4/ROJTJP/JB/MKP/06/Des/2020)
Mengejar untuk menangkap binatang
dalam hutan dan sebagainya (makna
sebenarnya dalam KBBI)
Memburu
Berusaha keras supaya mendapat
(makna konotasi)Berkaca
Mengambil sebagai contoh
(makna konotasi) Memakai kaca (maknasebenarnya)
Menguap Mengeluarkan uap
(makna sebenarnya)
Lenyap atau tidak ada
gunanya
(makna konotasi)Jurnal Pendidikan Tambusai 3517 Berdasarkan (Data 4) pada Rubrik Opini “Jati Diri” Jawa Pos yang berjudul
“Tantangan Transparansi dan Komunikasi Vaksin” mengandung bentuk kata makna konotasi bersifat positif. Makna konotatif pada konteks kalimat tersebut ditunjukkan oleh kata berkaca.
Kata Berkaca dalam fungsi kalimat tersebut berarti mengambil sebagai contoh pada segala pengalaman kasus pemberian vaksin lain yang justru mengakibatkan kematian dan kelumpuhan. Namun dalam makna sebenarnya dalam KBBI berarti memakai kaca, sehingga makna di atas tidak sesuai dengan sebenarnya.
Data (5) Awal 2021, sejumlah ajang olahraga di tanah air seharusnya sudah bisa bergulir. (D5/ROJTJP/JB/MKP/07/Des/2020)
Berdasarkan (Data 5) pada Rubrik Opini “Jati Diri” Jawa Pos yang berjudul “Harus Terbiasa dengan Penundaan” mengandung bentuk kata makna konotasi bersifat positif.
Makna konotatif pada konteks kalimat tersebut ditunjukkan oleh kata ajang. Ajang dalam fungsi kalimat tersebut berarti sejumlah tempat olahraga di tanah air. Namun dalam makna sebenarnya dalam KBBI berarti Tempat untuk makan (piring dan sebagainya), sehingga makna di atas tidak sesuai dengan sebenarnya.
Data (6) Peraturan pemerintah terkait televisi digital sangat krusial karena berpotensi menjadi daya tawar untuk kubu penyeimbang. (D6/ROJTJP/JB/MKP/09/Des/2020)
Berdasarkan (Data 6) pada Rubrik Opini “Jati Diri” Jawa Pos yang berjudul “Quo Vadis Penyiaran Pasca-Omnibus Law” mengandung bentuk kata makna konotasi bersifat positif. Makna konotatif pada konteks kalimat tersebut ditunjukkan oleh kata kubu. Kata Kubu dalam fungsi kalimat tersebut berarti sekelompok pendukung. Namun dalam makna sebenarnya dalam KBBI berarti Pagar dari kayu yang diberi lapisa tanah dan sebagainya untuk menahan serangan atau sebagainya, sehingga makna di atas tidak sesuai dengan sebenarnya.
Data (7) Sebetulnya Presiden Pertama Indonesia Soekarno pernah menempatkan kuliner sebagai salah satu ujung tombak. (D7/ROJTJP/JB/MKP/12/Des/2020)
Tempat untuk makan (piring dan sebagainya)
(makna sebenarnya)
Ajang
Tempat
(makna konotasi)
Pagar dari kayu yang diberi lapisan tanah dan sebagainya untuk menahan serangan atau
sebagainya (makna sebenarnya)
Kubu
Sekelompok pendukung
(makna konotasi)Bagian kepala tombak yang runcing (makna
sebenarnya)
Ujung tombak
Kuliner yang berada dibaris paling depan dan menjadi
penggerak utama
(makna konotasi)Jurnal Pendidikan Tambusai 3518 Berdasarkan (Data 7) pada Rubrik Opini “Jati Diri” Jawa Pos yang berjudul “Upaya- Upaya Menghidupkan Gastrodiplomasi Indonesia” mengandung bentuk kata makna konotasi bersifat positif. Makna konotatif pada konteks kalimat tersebut ditunjukkan oleh frasa ujung tombak. Frasa Ujung Tombak dalam fungsi kalimat tersebut berarti Kuliner yang berada dibaris paling depan dan menjadi penggerak utama. Namun dalam makna sebenarnya dalam KBBI berarti bagian kepala tombak yang runcing, sehingga makna di atas tidak sesuai dengan sebenarnya.
Data (8) Kalau presiden sudah dijadikan "permodelan" vaksinasi, (D8/ROJTJP/JB/MKP/13/Des/2020)
Berdasarkan (Data 8) pada Rubrik Opini “Jati Diri” Jawa Pos yang berjudul “Jangan Anggap Enteng Polemik Vaksin” mengandung bentuk kata makna konotasi bersifat positif.
Makna konotatif pada konteks kalimat tersebut ditunjukkan oleh kata permodelan. Frasa Permodelan dalam fungsi kalimat tersebut berarti contoh percobaan vaksinasi. Namun dalam makna sebenarnya dalam KBBI berarti bentuk pembelajaran melalui pengamatan pada model, sehingga makna di atas tidak sesuai dengan sebenarnya.
Data (9) Kembali ke proses awal pembahasan dengan membuka ruang dialektika dengan semua elemen masyarakat. (D9/ROJTJP/JB/MKP/16/Des/2020)
Berdasarkan (Data 9) pada Rubrik Opini “Jati Diri” Jawa Pos yang berjudul “Bijak Merumuskan Kebijakan” mengandung bentuk kata makna konotasi bersifat positif. Makna konotatif pada konteks kalimat tersebut ditunjukkan oleh kata elemen. Kata Elemen dalam fungsi kalimat tersebut berarti kelompok masyarakat. Namun dalam makna sebenarnya dalam KBBI berarti Zat sederhana (tunggal) yang dianggap sebagai komposisi bahan alam semesta, sehingga makna di atas tidak sesuai dengan sebenarnya.
Data (10) Perjalanan satu tahun pemerintahan Joko Widodo dan Ma’ruf Amin dipenuhi dinamika. (D10/ROJTJP/JB/MKP/17/Des/2020)
Berdasarkan (Data 10) pada Rubrik Opini “Jati Diri” Jawa Pos yang berjudul “Setahun Hilangnya Checks and Balances” mengandung bentuk kata makna konotasi bersifat positif.
Bentuk pembelajaran melalui pengamatan
pada model (makna sebenarnya)
Permodelan
Contoh percobaan
(makna konotasi)Zat sederhana (tunggal) yang dianggap sebagai komposisi bahan alam
semesta (makna sebenarnya)
Elemen
Kelompok
(makna konotasi)
Bagian ilmu fisika yang berhubungan dengan benda yang bergerak dan tenaga
yang digerakkan (makna sebenarnya)
Dinamika
Masalah
(makna konotasi)
Jurnal Pendidikan Tambusai 3519 Makna konotatif pada konteks kalimat tersebut ditunjukkan oleh kata dinamika. Kata Dinamika dalam fungsi kalimat tersebut berarti suatu masalah. Namun dalam makna sebenarnya dalam KBBI berarti bagian ilmu fisika yang berhubungan dengan benda yang bergerak dan tenaga yang digerakkan, sehingga makna di atas tidak sesuai dengan sebenarnya.
Data (11) Mereka tak yakin komprtesi musim 2020 bisa dilanjut tahun ini. Sebab, kondisinya masih serba abu-abu. (D11/ROJTJP/JB/MKP/19/Des/2020)
Berdasarkan (Data 11) pada Rubrik Opini “Jati Diri” Jawa Pos yang berjudul “Mundur dan Makin Babak Belur” mengandung bentuk kata makna konotasi bersifat positif. Makna konotatif pada konteks kalimat tersebut ditunjukkan oleh frasa abu-abu. Frasa Abu-abu dalam fungsi kalimat tersebut berarti tidak jelas. Namun dalam makna sebenarnya dalam KBBI berarti warna antara hitam dan putih (serupa dengan warna abu kayu bakar), sehingga makna di atas tidak sesuai dengan sebenarnya.
Data (12) Mulai jantung kota hingga wilayah pinggiran.
(D12/ROJTJP/JB/MKP/20/Des/2020)
Berdasarkan (Data 12) pada Rubrik Opini “Jati Diri” Jawa Pos yang berjudul “33 Kelurahan Nol Kasus Covid-19” mengandung bentuk kata makna konotasi bersifat positif.
Makna konotatif pada konteks kalimat tersebut ditunjukkan oleh kata jantung. Kata jantung dalam fungsi kalimat tersebut berarti pusat kota. Namun dalam makna sebenarnya dalam KBBI berarti Bagian tubuh yang menjadi pusat peredaran darah (letaknya di dalam rongga dada sebelah atas), sehingga makna di atas tidak sesuai dengan sebenarnya.
Data (13) Setelah berdiskusi panjang dengan keluarga, jalan keluar akhirnya ditemukan. (D13/ROJTJP/JB/MKP/23/Des/2020)
Berdasarkan (Data 13) pada Rubrik Opini “Jati Diri” Jawa Pos yang berjudul “Tiga Bulan Berhasil Buka Cabang dan Pekerjaan Korban PHK” mengandung bentuk kata makna konotasi bersifat positif. Makna konotatif pada konteks kalimat tersebut ditunjukkan oleh frasa jalan keluar. Frasa jalan keluar dalam fungsi kalimat tersebut berarti jalan pemecahan
Warna antara hitam dan putih (serupa dengan warna abu kayu bakar)
(makna sebenarnya)
Abu-abu
Tidak jelas
(makna konotasi)Bagian tubuh yang menjadi pusat peredaran darah (letaknya di dalam rongga dada sebelah
atas)
Jantung
pusat
(makna konotasi)
Pintu keluar
(makna sebenarnya) Jalan keluar
Jalan pemecahan (mengatasi persoalan)
(makna konotasi)
Jurnal Pendidikan Tambusai 3520 (mengatasi persoalan). Namun dalam makna sebenarnya dalam KBBI pintu keluar, sehingga makna di atas tidak sesuai dengan sebenarnya.
Data (14) Apalagi Januari, tahun ajaran baru, pemerintah sudah memberikan lampu hijau untuk memungkinkan sekolah-sekolaah kembali tatap muka.
(D13/ROJTJP/JB/MKP/25/Des/2020)
Berdasarkan (Data 14) pada Rubrik Opini “Jati Diri” Jawa Pos yang berjudul
“Perubahan Besar bila GeNose Diterapkan” mengandung bentuk kata makna konotasi bersifat positif. Makna konotatif pada konteks kalimat tersebut ditunjukkan oleh frasa lampu hijau. Frasa lampu hijau dalam fungsi kalimat tersebut berarti Isyarat (izin) untuk menjalankan suatu rencana. Namun dalam makna sebenarnya dalam KBBI berarti Lampu lalu lintas yang berwarna hijau, mengisyaratkan kendaraan boleh jalan, sehingga makna di atas tidak sesuai dengan sebenarnya.
Data (15) Jika tiga hingga empat bulan awal pandemic banyak pelaku seni bingung bagaimana mendulang pemasukan, kini setidaknya roda ekonomi sudah berputar meski belum stabil. (D15/ROJTJP/JB/MKP/26/Des/2020)
Berdasarkan (Data 15) pada Rubrik Opini “Jati Diri” Jawa Pos yang berjudul “Era Layar Semakin Panjang” mengandung bentuk kata makna konotasi bersifat positif. Makna konotatif pada konteks kalimat tersebut ditunjukkan oleh kata mendulang dan roda. Kata mendulang dan roda dalam fungsi kalimat tersebut berarti meningkatakan pemasukan dan kegiatan ekonomi sudah berputar. Namun dalam makna sebenarnya dalam KBBI berarti Kata mendulang artinya menyuapi, sedangkan roda artinya barang bundar (berlingkar dan biasanya berjeruji), sehingga makna di atas tidak sesuai dengan sebenarnya.
Data (16) Yakni, hanya tersisa 12 wilayah yang menggelar pilkada dengan status zona hijau. (D16/ROJTJP/JB/MKP/29/Des/2020)
Lampu lalu lintas yang berwarna hijau, mengisyaratkan kendaraan boleh jalan
(makna sebenarnya)
Lampu
hijau
Isyarat (izin) untuk menjalankan suatu rencana
(makna konotasi)
Kata mendulang artinya menyuapi, sedangkan roda artinya
barang bundar (berlingkar dan biasanya berjeruji)
Mendulang, roda
Mendulang artinya meningkatkan, sedangkan
roda artinya kegiatan
(makna konotasi)Tempat yang berwarna hijau seperti padang
rumput (makna sebenarnya)
Zona hijau Sebuah wilayah atau daerah sudah tidak ada kasus atau infeksi virus
corona (makna konotasi)
Jurnal Pendidikan Tambusai 3521 Berdasarkan (Data 16) pada Rubrik Opini “Jati Diri” Jawa Pos yang berjudul “Bisa Ditunda, tapi Tak Dilakukan” mengandung bentuk kata makna konotasi bersifat positif. Makna konotatif pada konteks kalimat tersebut ditunjukkan oleh frasa zona hijau. Frasa zona hijau dalam fungsi kalimat tersebut berarti sebuah wilayah atau daerah sudah tidak ada kasus atau infeksi virus corona. Namun dalam makna sebenarnya dalam KBBI berarti tempat yang berwarna hijau seperti padang rumput, sehingga makna di atas tidak sesuai dengan sebenarnya.
Data (17) Padahal, dalam setiap pertandingan sebuah kemenangan ditentukan lewat
upaya yang memeras keringat dan berjuang
keras.(D17/ROJTJP/JB/MKP/30/Des/2020)
Berdasarkan (Data 17) pada Rubrik Opini “Jati Diri” Jawa Pos yang berjudul “Noda Bulu tangkis Indonesia” mengandung bentuk kata makna konotasi bersifat positif. Makna konotatif pada konteks kalimat tersebut ditunjukkan oleh frasa memeras keringat. Frasa memeras keringat dalam fungsi kalimat tersebut berarti bekerja keras. Namun dalam makna sebenarnya dalam KBBI berarti mengeluarkan keringat, sehingga makna di atas tidak sesuai dengan sebenarnya
Analisis Bentuk Kata dan Fungsi Kata Makna Konotasi Negatif Pada Rubrik Opini “Jati Diri” Harian Jawa Pos
Menurut Chaer (2012: 292) makna konotatif adalah makna lain yang “ditambahkan”
pada makna denotatif yang berhubungan dengan nilai rasa dari orang atau kelompok orang yang menggunakan kata tersebut. Jadi dapat disimpulkan bahwa makna konotatif merupakan makna yang muncul akibat dari perasaan atau pikiran seseorang terhadap apa yang dicapkan maupun yang didengar. Makna konotasi muncul akibat asosiasi perasaan kita terhadap apa yang didengar atau diucapkan. Makna konotatif cenderung mengarah pada hal-hal yang negatif, sedangkan emotif merujuk ke hal-hal yang positif. Konotasi negatif dapat dilihat dari nilai rasa yang kurang baik atau buruk. Berdasarkan instrument data penelitian makna konotasi negatif Pada Rubrik Opini “Jati Diri” Harian Jawa Pos peneliti memperoleh sebanyak 17 data penelitian yang terdiri dari 2 data yang mengandung makna konotasi negatif untuk dianalisis. Data berupa bentuk kata atau frasa.
Data (1) Hal ini masih lebih manusiawi ketimbang membeli suara pemilihan dengan amplop menjelang pemungutan suara. (D1/ROJTJP/JB/MKN/03/Des/2020)
Berdasarkan (Data 1) pada Rubrik Opini “Jati Diri” Jawa Pos yang berjudul “Pilih Nomor Berapa?” mengandung bentuk kata makna konotasi bersifat negatif. Makna konotatif pada konteks kalimat tersebut ditunjukkan oleh kata amplop. Kata amplop dalam fungsi kalimat tersebut berarti uang sogok. Namun dalam makna sebenarnya dalam KBBI berarti sampul surat, sehingga makna di atas tidak sesuai dengan sebenarnya.
Data (2) Kita mendorong pemerintah untuk membuat standar tracing yang baik.
(D2/ROJTJP/JB/MKN/05/Des/2020)
Sampul surat
(makna sebenarnya)
AmplopUang sogok
(makna konotasi) Bekerja keras (makna konotasi) Mengeluarkan
keringat
Memeras keringat
Menolak dari bagian belakang atau bagian
depan
(makna sebenarnya)Mendesak atau memaksa supaya berbuat sesuatu
(makna konotasi)
Jurnal Pendidikan Tambusai 3522 Berdasarkan (Data 2) pada Rubrik Opini “Jati Diri” Jawa Pos yang berjudul “Inflansi Surat Keterang Bebas Covid” mengandung bentuk kata makna konotasi bersifat negatif.
Makna konotatif pada konteks kalimat tersebut ditunjukkan oleh kata mendorong. Kata mendorong dalam fungsi kalimat tersebut berarti mendesak atau memaksa supaya pemerintah berbuat sesuatu. Namun dalam makna sebenarnya dalam KBBI berarti menolak dari bagian belakang atau bagian depan, sehingga makna di atas tidak sesuai dengan sebenarnya.
Pembahasan Penelitian
Bentuk Kata Makna Konotasi Pada Rubrik Opini “Jati Diri” Harian Jawa Pos
Berdasarkan analisis data yang telah dilakukan pada Rubrik Opini “Jati Diri” Harian Jawa Pos. Rubrik opini “jati diri” harian Jawa Pos merupakan halaman khusus yang disediakan untuk pembaca atau masyarakat sehingga dapat menginspirasikan pendapat, saran, kritik, problem pemerintah, pelayanan publik atau apa saja yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Peneliti hanya terfokus pada jenis makna konotasi yaitu makna konotasi positif dan negatif. Menurut Chaer (2012: 292) makna konotatif adalah makna lain yang “ditambahkan” pada makna denotatif yang berhubungan dengan nilai rasa dari orang atau kelompok orang yang menggunakan kata tersebut. Jadi dapat disimpulkan bahwa makna konotatif merupakan makna yang muncul akibat dari perasaan atau pikiran seseorang terhadap apa yang dicapkan maupun yang didengar. Makna konotasi positif merupakan kiasan yang mengandung makna baik atau positif. Sedangkan Makna konotasi muncul akibat asosiasi perasaan kita terhadap apa yang didengar atau diucapkan. Makna konotatif cenderung mengarah pada hal-hal yang negatif, sedangkan emotif merujuk ke hal-hal yang positif. Konotasi negatif dapat dilihat dari nilai rasa yang kurang baik atau buruk.
Pada data penelitian makna konotasi Positif Pada Rubrik Opini “Jati Diri” Harian Jawa Pos Edisi Desember 2020 peneliti memperoleh sebanyak 17 data penelitian yang terdiri dari 30 data yang mengandung makna konotasi positif yaitu kata atau frasa membuka ruang, putar otak, memburu, tuan rumah, bintang, keropos, menguap, transparan, berkaca, ajang, bertele-tele, kubu, bilangan, bergairah, ujung tombak, permodelan, manjur, elemen, dinamika, memutar roda, abu-abu, jantung, jalan keluar, beraroma, kilat, lampu hijau, mendulang, roda, zona hijau, meras keringat. Sedangkan pada data penelitian makna konotasi negatif Pada Rubrik Opini “Jati Diri” Harian Jawa Pos Edisi Desember 2020 peneliti memperoleh sebanyak 17 data penelitian yang terdiri dari 2 data yang mengandung makna konotasi negative yaitu kata amplop dan mendorong. Berdasarkan dari hasil analisis data yang telah dipaparkan di atas keterkaitan hasil penelitian dengan penelitian terdahulu yang relevan yakni sebagai berikut.
Penelitian relavan Suci (2014) melakukan penelitian dengan judul “Analisis Penggunaan Makna Denotatif dan Konotatif dalam Iklan Harian Batam Pos Mei 2014”. Hasil penelitian ini adalah (1) penggunaan makna denotatif di dalam iklan Harian Batam Pos Mei 2014 terdapat sebanyak 29 iklan atau 67% dan (2) penggunaan makna konotatif di dalam iklan Harian Batam Pos Mei 2014 sebanyak 14 iklan atau 33%, jadi makna denotatif lebih dominan digunakan dalam penulisan iklan dibanding dengan makna konotatif.Setelah dilakukan analisis data, persamaan penelitian yang dilakukan oleh Suci dengan penelitian ini yaitu sama-sama meneliti tentang makna konotatif hanya saja penelitian Suci tidak hanya meneliti mengenai makna konotatif tetapi juga makna denotatif. Perbedaannya terletak pada objek penelitiannya. Penelitian yang dilakukan oleh Suci menggunakan objek iklah pada Harian Batam Pos Mei 2014, sedangkan dalam penelitian ini objek kajiannya adalah Rubrik Opini “Jati Diri” Harian Jawa Pos.
Mendorong
Jurnal Pendidikan Tambusai 3523 Penelitian relavan Prayitna (2015) melakukan penelitian dengan judul “Analisis Makna Konotatif dan Pesan Pada Lagu Linkin Park‟s dalam Album A Thousand Suns”. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa terdapat 46 tutur kata dalam lirik lagu yang mengandung makna konotasi. Makna konotasi yang ditemukan terdapat dalam kata, frase, dan kalimat.
Pesan yang terdapat dalam lirik lagu tersebut kebanyakan memotivasi dan bersifat persuasif.
Konotasi yang digunakan dalam lirik lagu tersebut yaitu untuk menciptakan gambaran dan suasana tertentu. Setelah dilakukan analisis data, persamaan penelitian yang dilakukan oleh Prayitna dengan penelitian ini yaitu sama-sama meneliti makna konotasi. Objek penelitian yang dilakukan oleh Prayitnya yaitu lagu Linkin Park‟s dalam Album A Thousand Sun, sedangkan objek penelitian ini adalah Rubrik Opini “Jati Diri” Harian Jawa Pos.
Penelitian relavan Mazin (2008) melakukan penelitian yang berjudul “Approaches to Denotative and Connotative Meanings in the Translations of the Holy Quran”. Hasil penelitiannya adalah pendeketan makna denotatif dan konotatif pada terjemahan Al Quran.
Penelitian yang dilakukan oleh Mazin bahwa di dalam terjemahan Al Quran terdapat makna- makna yang bervariasi. Beberapa penerjemah telah menerjemahkan dan memiliki pendekatan yang berbeda dalam menentukan makna denotatif dan konotatifnya. Setelah dilakukan analisis data, persamaan penelitian yang dilakukan oleh Mizan dengan penelitian ini yaitu sama-sama meneliti makna konotatif, namun berbeda pada objek kajiannya dan penelitian Mazin tidak hanya meneliti mengenai makna konotatif tetapi juga makna denotatif.
Penelitian ini menganalisis konotatif pada Rubrik Opini “Jati Diri” Harian Jawa Pos, sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Mizan menganalisis makna denotatif dan konotatif dengan mengkaji terjemahan Al Quran.
Fungsi Makna Konotasi Pada Rubrik Opini “Jati Diri” Harian Jawa Pos
Berdasarkan hasil penelitian fungsi makna konotasi pada rubrik “Jati Diri” Harian Jawa Timur terdapat beberapa fungsi yaitu :
Fungsi betuk kata makna konotasi positif
Menurut Chaer (2012: 292) makna konotatif adalah makna lain yang “ditambahkan”
pada makna denotatif yang berhubungan dengan nilai rasa dari orang atau kelompok orang yang menggunakan kata tersebut. Jadi dapat disimpulkan bahwa makna konotatif merupakan makna yang muncul akibat dari perasaan atau pikiran seseorang terhadap apa yang dicapkan maupun yang didengar. Makna konotasi positif merupakan kiasan yang mengandung makna baik atau positif. Berdasarkan instrument data penelitian makna konotasi Positif Pada Rubrik Opini “Jati Diri” Harian Jawa Pos Edisi Desember 2020 peneliti memperoleh sebanyak 30 data yang mengandung makna konotasi positif.
1) Frasa membuka ruang dalam fungsi kalimat tersebut berarti membuka peluang.
2) Frasa putar otak dalam fungsi kalimat tersebut berarti berusaha dan berpikir keras dalam menyelesaikan suatu masalah atau mencari akal.
3) Kata memburu dalam fungsi kalimat tersebut berarti berusaha keras supaya mendapat persediaan vaksin.
4) Kata tuan rumah dalam fungsi kalimat tersebut berarti tempat mengadakan perjamuan tamu.
5) Kata bintang dalam fungsi kalimat tersebut berarti calon juara sepak bola dunia.
6) Kata keropos dalam fungsi kalimat tersebut berarti lemah.
7) Kata menguap dalam fungsi kalimat tersebut berarti Lenyap atau tidak ada gunanya.
8) Kata transparan dalam fungsi kalimat tersebut berarti jelas.
9) Kata berkaca dalam fungsi kalimat tersebut berarti mengambil sebagai contoh pada segala pengalaman kasus pemberian vaksin lain yang justru mengakibatkan kematian dan kelumpuhan
10) Kata ajang dalam fungsi kalimat tersebut berarti sejumlah tempat olahraga di tanah air.
Jurnal Pendidikan Tambusai 3524 11) Frasa bertele-tele dalam fungsi kalimat tersebut berarti kurang akal untuk memastikan
kelanjutan kompetensi.
12) Kata kubu dalam fungsi kalimat tersebut berarti sekelompok pendukung.
13) Kata bilangan dalam fungsi kalimat tersebut berarti daerah.
14) Kata bergairah dalam fungsi kalimat tersebut berarti bersemangat.
15) Frasa ujung tombak dalam fungsi kalimat tersebut berarti Kuliner yang berada dibaris paling depan dan menjadi penggerak utama.
16) Kata permodelan dalam fungsi kalimat tersebut berarti contoh percobaan vaksinasi.
17) Kata manjur dalam fungsi kalimat tersebut berarti kurangnya kepercayaan dari masyarakat.
18) Kata elemen dalam fungsi kalimat tersebut berarti kelompok masyarakat.
19) Kata dinamika dalam fungsi kalimat tersebut berarti suatu masalah.
20) Frasa memutar roda dalam fungsi kalimat tersebut berarti mengulang.
21) Frasa abu-abu dalam fungsi kalimat tersebut berarti tidak jelas.
22) Kata jantung dalam fungsi kalimat tersebut berarti pusat kota.
23) Frasa jalan keluar dalam fungsi kalimat tersebut berarti jalan pemecahan (mengatasi persoalan).
24) Kata beraroma dalam fungsi kalimat tersebut berarti menimbulkan kesan.
25) Kata kilat dalam fungsi kalimat tersebut berarti cepat.
26) Frasa lampu hijau dalam fungsi kalimat tersebut berarti Isyarat (izin) untuk menjalankan suatu rencana.
27) Kata mendulang dalam fungsi kalimat tersebut berarti meningkatakan pemasukan.
28) Kata roda dalam fungsi kalimat tersebut berarti kegiatan ekonomi sudah berputar.
29) Frasa zona hijau dalam fungsi kalimat tersebut berarti sebuah wilayah atau daerah sudah tidak ada kasus atau infeksi virus corona.
30) Frasa memeras keringat dalam fungsi kalimat tersebut berarti bekerja keras.
Fungsi Betuk Kata Makna Konotasi Negatif
Menurut Chaer (2012: 292) makna konotatif adalah makna lain yang “ditambahkan”
pada makna denotatif yang berhubungan dengan nilai rasa dari orang atau kelompok orang yang menggunakan kata tersebut. Jadi dapat disimpulkan bahwa makna konotatif merupakan makna yang muncul akibat dari perasaan atau pikiran seseorang terhadap apa yang dicapkan maupun yang didengar. Makna konotasi muncul akibat asosiasi perasaan kita terhadap apa yang didengar atau diucapkan. Makna konotatif cenderung mengarah pada hal-hal yang negatif, sedangkan emotif merujuk ke hal-hal yang positif. Konotasi negatif dapat dilihat dari nilai rasa yang kurang baik atau buruk. Berdasarkan instrument data penelitian makna konotasi negatif Pada Rubrik Opini “Jati Diri” Harian Jawa Pos peneliti memperoleh sebanyak 2 data yang mengandung makna konotasi negatif. 1) Kata amplop dalam fungsi kalimat tersebut berarti uang sogok. 2) Kata mendorong dalam fungsi kalimat tersebut berarti mendesak atau memaksa supaya pemerintah berbuat sesuatu.
SIMPULAN
Simpulan dari penelitian ini, yakni dari hasil analisis makna konotatsi pada konotatif pada Rubrik Opini “Jati Diri” Harian Jawa Pos. Berdasarkan rumusan masalah yang pertama bahwa hasil identifikasi data yang dilakukan oleh peneliti diperoleh sebanyak tiga puluh tujuan penelitian yang mengandung bentuk kata makna konotasi positif yaitu kata membuka ruang, putar otak, memburu, tuan rumah, bintang, keropos, menguap, transparan, berkaca, ajang, bertele-tele, kubu, bilangan, bergairah, ujung tombak, permodelan, manjur, elemen, dinamika, memutar roda, abu-abu, jantung, jalan keluar, beraroma, kilat, lampu hijau, mendulang, roda, zona hijau, meras keringat. Sedangkan dua tujuan penelitian yang merupakan makn konotasi negative yaitu kata amplop dan mendorong, sehingga total data yang ditemukan peneliti 32 data makna konotasi. Data tersebut bisa berupa kata atau frasa. Berdasarkan rumusan kedua bahwa hasil identifikasi data diperoleh fungsi kata makna konotasi sesuai arti temuan dari bentuk kata konotasi positif dan makna konotasi negative tersebut.
Jurnal Pendidikan Tambusai 3525 DAFTAR PUSTAKA
Ahmed, Mazin Fawzi. (2008). Approaches to Denotative and Connotative Meanings in the Translations of the Holy Quran. Adab Al-Rafidayn. University of Mosul, 50, 1-30.
Alo, Liliweri. 1991. Memahami Peran Komunikasi Massa dalam Masyarakat. Bandung : PT Citra Aditya Bakti.
Aminuddin. 2001. Semantik Pengantar Studi Tentang Makna. Malang : Sinar Baru Agesindo.
Arikunto. 2006. Metode Penelitian. Jakarta : PT. Rineka Cipta.
Ariyanti, Nia Evi. 2017. Makna Denotatif Dan Konotatif Pada Rubrik Opini Harian Kompas Edisi Maret 2017 Dan Implikasinya Sebagai Bahan Ajar Di Sma/Smk. Surakarta : Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta. http://eprints.ums.ac.id/54162/ (Diakses 30- 01-2021)
Daniar Adriyanti, Nova. 2017. Makna Denotatif Dan Konotatif Pada Teks Berita Politik Surat Kabar Kompas Edisi Januari-Februari 2017 Dan Implementasinya Pada Pembelajaran Bahasa Indonesia Di Smp Kelas VIII. Surakarta : Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta. http://emrints.ums.ac.id/54764/ (Diakses 30-01-2021)
Djajasudarma, Fatimah. 2009. Semantik Pengantar Kearah Ilmu Makna. Bandung : PT Eresco.
Djuroto, Toto. 2000. Manajemen Penerbitan Pers. Bandung:Penerbit Remaja.
Fajar, Laksana. 2008. Mannajemen Pemasan.Yogyakarta :Penerbit Graha Ilmu.
Jawa Pos-Wikipedia bahasa Indonesia.ensiklopedian bebes.
http://id.m.wikipedia.org/wiki?Jawa_Pos (Diakses 30-01-2021)
Keraf, Gorys. 1994. Diksi dan Gaya Bahasa Komposisi Lanjutan I. Jakarta : PT Gramedia.
Kridalaksana, Harimurti. 2001. Kamus Linguistik. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
Mahsun. 2012. Metode Penelitian Bahasa : Tahapan Strategi, Metode, dan Tekniknya.
Jakarta : Rajawali Pers.
Meleong, Lexy J. 2004. Metode Penelitian Kualitatif Revisi. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.
Panuju, Redi. 2002. Relasi Kuasa Media Massa dan Publik :Pertarungan Memenangkan Opini Publik dan Peran dalam Transformasi Sosial. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Pateda, Masnoer. 2001. Semantik Leksikal. Jakarta : Rineka Cipta.
Prayitna, Nadia Aprilia. (2015). An Analysis on Connotative Meaning and Message in Linkin Park‟s Song in a Thousand Suns Album. Thesis. Surabaya: Universitas Brawijaya.
Sukmadinata, NS. 2011. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
Sumandiria, AS Haris. 2004. Jurnalistik Indonesia, Menulis Berita dan Feature. Bandung : PT.
Refika Aditama.
Suci, Indah Pratiwi. (2014). Analisis Penggunaan Makna Denotatif dan Makna Konotatif dalam Iklan Harian Batam Pos Mei 2014. Skripsi S-1. Tanjung Pinang: Universitas Maritim Raja Ali Haji.
Tarigan, Henry Guntur. 1985. Pengajaran Semantik. Bandung : Angkasa.
Wijana. 2008. Semantik. Yogyakarta : Fakultas Sastra Universitas Negeri Yogyakarta.