Manajemen Keuangan Keluarga Islami
M. Haikalus Shomadani, Nur Asnawi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Abstrak
Geliat ekonomi Islam di Indonesia masih sangat memprihatinkan. Kuantitas masyarakat muslim di Indonesia yang sangat besar belum diimbangi dengan kualitas ekonomi syariah. Rendahnya kualitas masyarakat Indonesia dari segi ekonomi Islam disebabkan rendahnya tingkat literasi yang dimiliki masyarakat. Hal ini menegaskan bahwa kajian ekonomi Islam yang selama ini dilakukan belum tersampaikan kepada masyarakat secara utuh. Kajian ini mengkaji tentang pengelolaan keuangan keluarga Islam, agar masyarakat muslim di Indonesia dapat lebih memahami pengelolaan uang yang diselenggarakan sesuai dengan syariat Islam. Penelitian ini menggunakan data sekunder yang dianalisis secara sistematis untuk mengkaji pengelolaan keuangan yang dapat dilakukan oleh rumah tangga berdasarkan Alquran dan hadits.
Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa rumah tangga harus memperhatikan kehalalan uang yang masuk dan keluar. Konsumsi harus dibawa kepada maslaha, dan mengutamakan perilaku investasi yang sesuai dengan syariat Islam dibandingkan dengan perilaku menabung.
Kata Kunci : Manajemen, Keuangan Keluarga, Islam
A. PENDAHULUAN
Islam adalah anugrah terbesar yang diberikan oleh Allah kepada semua makhluk di bumi, karena Islam adalah agama yang membawa keselamatan bagi semua makhluk di bumi (rahmatan lilalamin). Rumitnya ajaran Islam mengatur seluruh aspek kehidupan manusia mulai dari bangun tidur hingga kembali tidur.
Kompleksitas ajaran Islam masih sangat sedikit dipahami oleh masyarakat muslim, terutama dalam aspek ekonomi yang merupakan aspek fundamental dan krusial dalam kehidupan masyarakat saat ini.
Ajaran Islam mengenal dua hal yaitu halal dan haram. Halal adalah sesuatu yang diperbolehkan baik berupa perbuatan maupun benda. Haram adalah sesuatu yang tidak diperbolehkan dalam bentuk perbuatan atau benda. Halal dan haram dimaksudkan untuk membawa manfaat bagi semua makhluk. Setiap makhluk yang melakukan perbuatan halal akan mendapatkan pahala, sedangkan setiap makhluk yang melakukan perbuatan haram akan mendapatkan dosa. Pahala akan mendatangkan kebaikan baik di dunia maupun di akhirat sedangkan dosa akan mendatangkan keburukan baik di dunia maupun di akhirat.
Halal dan haram merupakan ajaran fundamental dalam Islam yang telah terdistorsi oleh zaman, dimana begitu banyak fitnah-fitnah yang terjadi di depan pintu setiap umat Islam tidak terkecuali masyarakat muslim di Indonesia.
Mayoritas masyarakat muslim di Indonesia tidak lagi memperhatikan halal dan
haram dalam aktivitas sehari-hari, terutama dalam masalah ekonomi. Mayoritas masyarakat muslim Indonesia telah tenggelam dalam gelombang besar kapitalisme yang berlomba-lomba mengejar kesenangan dunia sehingga tidak sedikit dari mereka yang mengabaikan
selanjutnya. Ayah yang menafkahi istri dan anak-anaknya dari hasil uang haram, atau ibu yang membelanjakan uang keluarganya sembarangan bukan lagi tabu di tanah air.
Hal ini menjadi persoalan pelik dalam kehidupan sosial umat Islam di Indonesia karena kapitalisme telah menjadi urat bahkan jantung perekonomian umat Islam di Indonesia. Namun demikian, permasalahan ini masih dapat diselesaikan melalui akar rumput perekonomian Indonesia, yaitu di sektor rumah tangga. , perlu dilakukan kajian intensif terkait tata kelola keuangan dalam rumah tangga yang sesuai dengan syariat Islam, karena setiap kegiatan ekonomi diawali dengan keuangan.
Indonesia sudah memiliki lembaga keuangan Islam yang cukup banyak, yaitu mulai tahun 1992. Diikuti dengan banyaknya bermunculan akademisi atau aktivis yang peduli dengan ekonomi Islam atau Islamic finance. Minat yang tinggi untuk ekonomi Islam atau keuangan Islam telah membawa banyak literasi tentang ekonomi Islam dan keuangan Islam tetapi dari sekian banyak literasi yang diberikan pada ekonomi Islam atau keuangan Islam secara makro dan masih sangat sedikit literasi yang kami kaji tentang tata kelola keuangan dalam skala mikro. (rumah tangga).
Hal inilah yang mendorong peneliti untuk melakukan penelitian tentang pengelolaan keuangan keluarga yang sesuai dengan syariat Islam sehingga dapat menjadi sumbangsih akademisi peneliti dalam memperkaya literasi ekonomi dan keuangan Islam.
B. LANDASAN TEORI
1. Manajemen dalam perspektif Islam
Manajemen dalam bahasa disebutidarah. Idarah berasal dari kata adartasy- syai'a atau kata adarta bihi bisa juga berdasarkan kata ad-Dauran. Pengamat bahasa menilai pengambilan kedua - yaitu: 'dart a bihi-itu lebih cepat. Dari segi manajemen merupakan kegiatan khusus yang menyangkut kepemimpinan, pengarahan, pengembangan, personalia, perencanaan dan pengawasan pekerjaan.1
Manajemen syariah adalah proses manajemen untuk mengoptimalkan sumber daya yang ada yang setiap aspeknya bertujuan untuk mendapatkan ridha Allah SWT. Hal inilah yang mendasari bahwa setiap langkah yang diambil dalam menjalankan pengelolaan harus berdasarkan aturan Tuhan. Kaidah tersebut tertuang dalam Al-Qur'an, Hadis dan beberapa contoh yang dilakukan oleh para sahabat, berdasarkan paradigma di atas, manajemen syariah secara umum sama dengan manajemen konvensional, perbedaan keduanya terletak pada dasar pelaksanaannya secara substansial. dimana manajemen syariah mewujudkan setiap aspek yang harus dilakukan sesuai dengan hukum Islam.
1 Muhammad, Manajemen Dana Bank Syariah,(Yogyakarta:Ekonisia,2004), hlm 13-14
Perkembangan manajemen syariah sudah dimulai sejak zaman Nabi Muhammad SAW, dimana pada saat itu Nabi membangun negara dengan sistem pemerintahan yang sangat baik. Rasulu llah sebagai pemimpin dan imam telah memberikan cara, tata cara atau solusi untuk kemaslahatan hidup orang lain, bahkan dianggap masih relevan untuk diterapkan saat ini. Rasulullah selalu bermusyawarah dan meminta pendapat dari para sahabat tentang masalah yang tidak ada wahyunya. Rasulullah menerima pendapat mereka meskipun mungkin bertentangan dengan pendapat pribadinya.
Pengelolaan yang dilakukan Rasulullah tidak harus dilakukan secara serentak dari satu generasi ke generasi berikutnya. Hal ini dikarenakan permasalahan dan tantangan yang dihadapi berbeda setiap waktunya, sehingga diperlukan metode yang berbeda pula untuk mengatasi permasalahan tersebut.
hukum hanya mensyaratkan agar pemimpin dan pengikut berpegang teguh pada asas kemanfaatan dan mas lahah, serta tidak menyimpang dari ketentuan nash syari'ah.Manajemen Rasulullah dapat diterapkan kembali jika memang sesuai untuk menjawab permasalahan dan tantangan yang ada, misalnya dalam hal kenegaraan, Indonesia tidak mengikuti manajemen yang diterapkan oleh Rasulullah, dimana pada saat itu Nabi berperan sebagai eksekutif, legislatif dan yudikatif secara bersamaan. . Manajemen menyatakan bahwa karena ini hanya dapat dilakukan oleh seorang rasul yang secara lisan dan tindakan diatur langsung oleh Tuhan, tetapi Indonesia akan mengikuti manajemen yang dilakukan oleh nabi dalam mengambil beberapa keputusan dengan cara musyawarah.
Prinsip prinsip manajemen ada tiga yaitu; keadilan, amanah dan tanggung jawab, serta komunikatif. Prinsip pertama dan kedua didasarkan padapengucapan administrasiyang berurusan denganlafadz al-amr. Prinsip ketiga diambil berdasarkanpengucapan administrasi yang menghadapi lafadz Al-Quran Dan pengucapan administrasi yang menghadapi al-qaul. Hal ini didasarkan pada argumentasi bahwa lafadz Al-Quran Dan al-qaul merupakan simbol-simbol komunikasi dalam QS As-Shad (38 : 29 ) dan QS Mu'minum (23 : 68 ).
Jamil menjelaskan bahwa prinsip-prinsip manajemen Islam, adalah sebagai berikut:
a) Keadilan
Keadilan merupakan hal mendasar dan krusial dalam hukum Islam.
Pengelolaan keadilan tidak boleh selektif, dengan mengabaikan status sosial, aset keuangan, golongan dan kepercayaan seseorang. Al-Qur'an memerintahkan untuk mengambil keputusan berdasarkan prinsip kesetaraan, integritas dan keterbukaan.
Hal inilah yang menjadikan keadilan ideal untuk diterapkan dalam hubungan dengan sesama manusia.2
Kata kunci yang digunakan Al-Qur'an dalam menjelaskan konsep keadilan adalah' ad lDanqist. 'Adl menyiratkan sawiyyat, dan juga mengandung arti persamaan dan kesetaraan. Persamaan dan kesamaan ini bertentangan dengan
2 Muhammad,Manajemen Bank Syari’ah (Edisi Revisi), (Yokyakarta: UPP AMPYKPN, 2011), hlm.
183
kataBebas dari penindasan (kejahatan dan penindasan). Qist menyiratkan distribusi, angsuran, bahkan jarak. Taqassata, salah satu kata turunannya juga berarti pemerataan bagi masyarakat, danqista, kata turunan lainnya, artinya keseimbangan berat. Sehingga dua kata dalam Al-Qur'an yang digunakan untuk menyatakan keadilan yaitu'adlDanAnda dianggapmengandung arti pemerataan, termasuk pembagian materi. Keadilan yang terkandung dalam Al-Qur'an, juga berarti menempatkan sesuatu pada dalilnya.
b) Amanah dan Tanggung Jawab
kata AllahDan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang kamu kerjakan“. Amanat adalah amassabentuk kata kerjaamina, ya'manu, amn (an), amanat (an), aman (an), imn (an), amanat (an)secara leksikal berarti segala sesuatu yang diatur oleh Tuhan kepada hamba-Nya.
Ibnu Katsir berpendapat bahwa ayat ini menyatakan sifat-sifat Rasul Allah, yaitu: menyampaikan panggilan Allah, memberi nasehat dan amanah. Al-Maraghi mengklasifikasikan amanat dibagi menjadi:
1) Tanggung jawab manusia satu sama lain 2) Tanggung jawab kepada Tuhan
3) Tanggung jawab manusia terhadap dirinya sendiri.
Prinsip ini mengandung arti bahwa setiap orang yang mempunyai kedudukan fungsional dalam interaksi antar manusia dituntut untuk melaksanakan kewajibannya dengan sebaik-baiknya. Jika ada kelalaian terhadap kewajiban tersebut akan mengakibatkan kerugian bagi dirinya sendiri. Masalah lebih lanjut menyangkut kewajiban yang menjadi tanggung jawab dan sumber tanggung jawab tersebut. Hal ini terkait dengan amanat yang telah ditegaskan, yaitu amanat dari Tuhan berupa tugas berupa kewajiban yang dibebankan oleh agama, dan amanat sesama manusia, baik mandat individu dan organisasi.3 Dalam konteks ini, penerima amanah dituntut untuk bersikap profesional, sebagaimana hadits Nabi Muhammad SAW berikut ini:"Jika pesan telah disia-siakan, tunggu kehancuran".
Selanjutnya amanat yang dijatuhkan akan dimintai pertanggungjawabannya, seperti hadits Nabi Muhammad SAW berikut ini:“Setiap hamba adalah penggembala (penjaga) harta milik tuannya, dan dia bertanggung jawab atas harta kekayaan yang dikuasainya”.
c) Komunikatif
Sesungguhnya dalam gerak manusia tidak bisa menghindar untuk berkomunikasi. Komunikasi begitu akrab dengan kehidupan manusia, sehingga manusia perlu berkomunikasi untuk menghindari komunikasi.
3 Muhammad,Manajemen Dana Bank Syariah, (Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2014), hlm. 73-74.
Dalam manajemen, komunikasi menjadi faktor penting dalam mentransformasi kebijakan atau keputusan dalam rangka implementasi manajerial itu sendiri menuju tercapainya tujuan yang diharapkan. Begitu pentingnya komunikasi dalam manajemen, sehingga menuntut agar komunikasi dapat tersampaikan dengan baik. Ketepatan dalam menyampaikan komunikasi ini selanjutnya disebut komunikatif.
Uraian-uraian yang telah dipaparkan di atas, menunjukkan bahwa hakikat manusia sebagai makhluk yang bergantung dan makhluk utama yang memiliki kebebasan dalam menentukan jalan hidupnya dan keberadaannya sebagai hamba Allah dan khalifah yang mengemban misi manusia pembuat bumi. dan ma'ruf nahi munkar, erat kaitannya dengan tercapainya sifat manajemen yang terkandung dalam al-Qur'an yaitu memandang atau merenungkan suatu hal (masalah) agar masalah tersebut terpuji dan baik akibatnya.4
2. Pengertian Manajemen Keuangan Islam
Kata manajemen berasal dari bahasa Perancis Kuno dari kata tersebutpengelolaan, yang berarti seni melaksanakan dan mengatur. Manajemen juga didefinisikan sebagai proses perencanaan, pengorganisasian, koordinasi, dan pengendalian sumber daya untuk mencapai tujuan (sasaran) secara efektif dan efisien. Manajemen keuangan berkaitan dengan bagaimana menciptakan dan mempertahankan nilai ekonomi atau kesejahteraan. Konsekuensinya, semua pengambilan keputusan harus difokuskan untuk menciptakan kesejahteraan.
Dalam memperkenalkan teknik pengambilan keputusan, kami akan menekankan logika yang mendasari teknik tersebut.5
Menurut GR Terry, Manajemen adalah suatu proses atau kerangka kerja, yang melibatkan bimbingan atau pengarahan sekelompok orang menuju tujuan organisasi atau maksud yang sebenarnya.
Keuangan dalam KBBI (2008:1767) berarti: (1) segala sesuatu yang berhubungan dengan uang; (2) seluk beluk uang; (3) masalah uang; (4) keadaan uang.Ridwan dan Inge (2003). Keuangan adalah ilmu dan seni mengelola uang yang memengaruhi kehidupan setiap orang dan setiap organisasi. Keuangan berkaitan dengan proses, lembaga, pasar dan instrumen yang terlibat dalam transfer uang antara individu dan antara bisnis dan pemerintah.6
Manajemen Keuangan merupakan kegiatan perusahaan termasuk kegiatanperencanaan, analisis dan pengendalian kegiatan keuangan yang berkaitan dengan cara mendapatkan dana, penggunaan dana, dan mengelola aset
4 Muhammad,Manajemen Bank Syariah, (Yokyakarta: UPP AMPYKPN, 2002), 2002, 183.
5 Manulang, M. Dasar-dasar Manajemen. (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1990) hlm 20
6 Sundjaja Ridwan S. & Barlian Inge. Manajemen Keuangan, edisi ke lima.. (Jakarta:
Literata Lintas Media, 2003) hlm 25
sesuai dengan maksud dan tujuan perusahaan. Dalam teori manajemen syariah, manajemen memiliki dua pengertian (1) sebagai ilmu, (2) rangkaian kegiatan untuk merencanakan, mengorganisasikan, mengkoordinasikan, dan mengendalikan sumber daya yang dimiliki oleh badan usaha.
Secara etimologis (asal kata, lughawi) kata “Islam” berasal dari bahasa Arab: salima yang berarti selamat. Dari kata itu terbentuk aslama yang artinya pasrah atau tunduk dan patuh. Sebagaimana firman Allah SWT: 112. (tidak demikian) bahkan siapa pun yang berserah diri kepada Tuhan adalah berbuat baik, Baginya pahala di sisi Tuhannya dan tidak ada perhatian bagi mereka dan mereka tidak sedih.
Dari katatidak pernah, kataIslamterbentuk. Para penganut disebutMuslim. Orang yang memeluk Islam berarti menyerahkan diri kepada Tuhan dan siap untuk menaati ajaran-Nya7.
Pengertian manajemen keuangan Islam adalah suatu proses atau kerangka yang berkaitan dengan uang yang melibatkan perencanaan, pengorganisasian, pembinaan dan evaluasi dalam pengamalannya serta mengaitkan perilakunya dengan nilai-nilai iman dan tauhid serta sesuai dengan tuntunan ajaran Islam (Al-Qur’an dan Hadits).
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa manajemen keuangan syari'ah adalah kegiatan perusahaan yang meliputiperencanaan, analisis dan pengendalian kegiatan keuangan yang berkaitan dengan cara mendapatkan dana, menggunakan dana, dan mengelola aset sesuai dengan maksud dan tujuan perusahaan untuk mencapai tujuan dengan memperhatikan kepatuhannya pada prinsip prinsip syariah.
Berdasarkan prinsip-prinsip tersebut di atas, dalam merencanakan, mengatur, melaksanakan dan mengendalikan keuangan syariah8:
1) Setiap usaha dalam memperoleh harta harus memperhatikan cara-cara yang sesuai dengan syari'at seperti perdagangan/perdagangan, pertanian, industri, atau jasa.
2) Obyek yang dicari bukanlah sesuatu yang diharamkan.
3) Harta yang diperoleh digunakan untuk hal-hal yang tidak dilarang/diubah seperti membeli barang konsumsi, rekreasi dan sebagainya. Digunakan untuk hal-hal yang dianjurkan/sunnah seperti infaq, waqaf, sadaqah. Digunakan untuk hal-hal yang wajib seperti zakat.
4) Dalam menginvestasikan uang juga harus memperhatikan prinsip
“uang sebagai alat tukar bukan sebagai komoditas yang diperdagangkan”, dapat dilakukan secara langsung atau melalui lembaga perantara seperti bank syariah dan pasar modal syari’ah.
3. Karakteristik Manajemen Keuangan Islam
7 Drs. Nasruddin Razak, Dienul Islam, (Bandung: Al-Ma'rif 1989) hlm. 56-57
8 Muhammad,Manajemen Bank Syariah.(Yogyakarta: UP STIMYKPN, 2011) hlm. 56
Direktorat Perbankan Syariah BI menjelaskan bahwa ada tujuh karakteristik utama yang menjadi prinsip Sistem Perbankan Syariah di Indonesia yang menjadi dasar pertimbangan calon nasabah dan landasan kepercayaan bagi nasabah setia. Ketujuh ciri tersebut diterbitkan dan diedarkan dalam bentuk booklet Bank Syariah Untuk Kita Semua14. Ketujuh ciri tersebut adalah:
1) Universal. Pandangan bahwa Bank Syariah berlaku untuk semua orang tanpa memandang perbedaan kemampuan ekonomi atau perbedaan agama.
2) Adil. Memberi sesuatu hanya kepada yang berhak dan memperlakukan sesuatu sesuai dengan kedudukannya dan melarang adanya unsur maysir (spekulasi atau keberuntungan), gharar (tidak jelas), haram, riba,
3) Transparan. Dalam kegiatannya, bank syariah sangat terbuka untuk semua lapisan masyarakat.
4) Seimbang. Mengembangkan sektor keuangan melalui kegiatan perbankan syariah yang meliputi pengembangan sektor riil dan UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah)
5) Maslahat Bermanfaat dan baik untuk segala aspek kehidupan
6) Variatif. Produknya beragam, mulai dari tabungan haji dan umrah, tabungan umum, giro, deposito, pembiayaan berbasis laba, jual beli, hingga layanan kustodian, layanan transfer, dan layanan pembayaran (kartu debit, biaya syariah).
7) Fasilitas. Penerimaan dan penyaluran zakat, infak, sedekah, wakaf, dana kebajikan (qard), memiliki fasilitas ATM, mobile banking, internet banking dan interkoneksi syariah antar bank.
4. Prinsip Manajemen Keuangan Islam
a. Setiap tindakan akan dimintai pertanggungjawaban.
“Dan bukanlah hartamu dan bukan anak-anakmu yang membawamu sedikit saja, melainkan orang-orang yang beriman dan beramal saleh (bertakwa, merekalah yang mendapat pahala ganda karena apa yang telah mereka kerjakan; dan mereka selamat di tempat tinggi). tempat (di surga)”
b. Setiap aset yang diperoleh memiliki hak orang lain.
“Dan atas harta mereka ada hak bagi fakir miskin yang meminta dan fakir miskin yang tidak mendapat bagian."(Surah Adz-Dzariyaat 51;
19)
“Wahai orang-orang yang beriman, infakkanlah (di jalan Allah) sebagian dari rejeki yang telah kami berikan kepadamu sebelum datangnya hari itu, tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi
syafa'at. Dan orang-orang kafir adalah mereka yang berbuat salah ”.
(Surah Baqarah 2; 254)
“Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah mirip dengan biji yang menumbuhkan tujuh bulir, di setiap seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) Maha Mengetahui”.
(Surah Baqarah 2; 261)
c. Uang sebagai alat tukar bukan sebagai komoditas yang diperdagangkan.
“Orang yang makan (mengambil) riba tidak bisa berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kerasukan setan karena (tekanan) gila.
Keadaan mereka seperti itu, karena mereka mengatakan (pendapat), sebenarnya jual beli itu sama sebagai riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba, orang-orang yang telah sampai pada larangan dari Tuhannya, kemudian terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya terlebih dahulu (sebelum datangnya larangan); dan urusannya (terserah) Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”.(al-Qur'an, Baqarah 2; 275)
Prinsip-prinsip manajemen keuangan Islam yang diajarkan dalam Alquran adalah sebagai berikut9:
1) Setiap perdagangan harus didasarkan pada persetujuan bersama atau atas dasar preferensi timbal balik antara dua pihak, sehingga para pihak tidak merasa dirugikan atau dirugikan.
2) Penegakan prinsip keadilan (keadilan), baik dari segi ukuran, skala, besaran mata uang (kurs), maupun bagi hasil.
3) Kasih sayang, tolong bantu dan persaudaraan universal.
4) Dalam kegiatan perdagangan jangan berinvestasi pada bisnis yang diharamkan seperti kerusakan mental dan moral misalnya narkoba dan pornografi. Demikian juga komoditi yang diperdagangkan harus produk yang halal dan baik.
5) Prinsip larangan riba, dan perdagangan harus dijauhkan dari praktek spekulasi, gharar, tadlis dan maysir.
6) Berdagang tidak boleh melalaikan diri dari ibadah (sholat dan zakat) dan mengingat Allah.
5. Etika Pengelolaan Keuangan Syariah
Etika dalam pengelolaan keuangan syariah tidak lepas dari nilai-nilai ajaran Islam secara keseluruhan. Oleh karena itu, berikut ini terlebih dahulu ditampilkan pemetaan posisi manajemen keuangan atau ekonomi Islam dalam
9 Ayub, Muhammad.Memahami Keuangan Islam.(Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2009) hlm 178
struktur ajaran Islam. Manajemen keuangan atau ekonomi Islam juga terkait dengan aspek ekonomi rasional sebagai fokus ekonomi konvensional. Jadi nilai Islam bukanlah aspek yang terpisah sama sekali dari aspek rasional realitas ekonomi. Keduanya sebenarnya terkait erat. Oleh karena itu, kami memahami bahwa manajemen keuangan atau ekonomi Islam dikatakan juga bekerja untuk mewujudkan motif/prinsip ekonomi yaitu mencapai keuntungan sebesar-besarnya dengan tenaga yang sekecil-kecilnya.16meskipun tidak mutlak sama dengan praktek motif ekonomi pada kenyataannya.
Praktek motif ekonomi yang kuat atau bahkan mutlak bisa berdampak negatif, menindas sesama manusia dengan cara yang paling kejam. Namun, bagi sebagian orang di dunia, motif ekonomi bukanlah hukum fundamental dalam ikhtiar manusia, karena ada “pandangan dunia” sebagaimana Islam telah menjadi kekuatan yang hidup dan nyata. Sebagai negara yang mayoritas penduduknya menganut pandangan dunia Islam dengan tradisi infaq shadaqah zakat (sebagai contoh kedermawanan/altruisme), dampak terburuk dari motif ekonomi tidak terjadi. Selain itu, kami juga berasumsi bahwa manusia pada umumnya tidak setuju bahwa motif dilakukan secara murni dan mutlak, terlepas dari moralitas.
Homo economicus, yaitu manusia yang selalu bertindak menurut motif ekonomi, hanya ada dalam teori Prinsip ekonomi menurut ekonomi normatif tidak mungkin secara absolut. Dalam hal ini motif ekonomi yang terjadi di masyarakat adalah motif ekonomi menurut ilmu ekonomi positif. Dalam realitas di masyarakat, motif ekonomi diwujudkan dengan berbagai modifikasi atau perubahan yang tidak jarang terjadi secara besar-besaran yang disebabkan oleh berbagai faktor atau multi dimensi manusia. Sehingga perlu dibedakan motif ekonomi antara menurut ekonomi normatif dan ekonomi positif. Karena motif ekonomi (Homo Economicus) menurut ekonomi positif tidak berbeda jauh dengan motif ekonomi dalam hal arus utama ekonomi syariah Islam (Homo Islamicus)18 Karena ini,
Ekonomi sangat dikecam oleh Muslim yang jujur. Usaha meskipun tujuannya menguntungkan, meskipun telah dilakukan secara sukarela, tetapi tetap tidak dibenarkan jika melanggar aturan atau pengetahuan umum, termasuk pengetahuan tentang harga umum/wajar; misalnya perilaku menaikkan harga suatu barang kepada orang luar dan kepada orang-orang yang terbiasa berada di daerahnya, memberikan harga yang murah/ wajar. Dalam Al-Qur'an dikatakan terkait dengan motif ekonomi yang salah karena hanya mengejar keuntungan materi dan 'duniawi'.
Surat Hud ayat 15-16. “Barangsiapa yang menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, pasti Kami berikan kepadanya pahala atas pekerjaannya di dunia dengan sempurna dan orang-orang yang ada di dunia itu tidak akan dirugikan. Inilah orang-orang yang tidak memperolehnya di akhirat, kecuali neraka dan menghilang di akhirat, selama ini mereka bekerja untuk apa di dunia dan selama ini mereka bekerja sia-sia?sebenarnya motif/prinsip ekonomi adalah hasil pemahaman manusia yang wajar dalam memenuhi kebutuhan materinya,
bukan murni rumusan kapitalisme Barat, sehingga menganggap bahwa masalah diselesaikan dengan menyalahkan kapitalisme Barat adalah salah, padahal motif ekonomi melekat pada manusia yang berakal, sifat ekonomi bekerja menurut ukuran akal atau rasio.19.
Sementara rasio hanya menerima nilai yang dapat diukur dan ditimbang
"secara kuantitatif". Sehingga prinsip/motif ekonomi mengukur hasil dan biaya dalam bentuk “uang”, yaitu dengan angka yang merupakan harga yang dapat dibandingkan dan dihitung. Proses asal muasal perumusan motif ekonomi terlihat jelas, yaitu muncul dari perilaku seseorang atau suatu komunitas dalam memenuhi kebutuhan material orang atau komunitas lain. Dalam upaya itu, barang atau jasa harus dibeli dari orang atau komunitas lain. Untuk pembelian ini diperlukan uang sebagai alat pengukur/gauge harga dan alat tukar. Sehingga terdapat pemahaman prinsip ekonomi yang menggunakan ukuran kuantitatif dan pada proses akhirnya berupa uang sebagai alat untuk mengukur nilai sesuatu, terutama untuk menilai dibandingkan dengan biaya. Jika hasilnya melebihi biaya maka diperoleh keuntungan/keuntungan. Jika hasilnya kurang dari biaya, akan ada kerugian.
Namun ada fakta lain yang juga kita akui dan lakukan, jika kita berjalan menurut kodrat (nature) bahwa kebutuhan hidup manusia tidak selalu bisa diukur dengan uang.
Manusia pada hakekatnya tidak dapat menerima/tidak membiarkan dirinya/pribadinya dinilai dengan uang. Sehingga barang bagi seseorang memiliki nilai yang tinggi jika diukur dengan uang, bagi orang lain bisa jadi sama sekali tidak ada harganya. Misalnya, seseorang yang sakit parah rela mengeluarkan uang berapa pun untuk kesembuhannya. Seorang penggemar seni mampu membayar harga atau membelanjakan berapa pun untuk mendapatkan lukisan yang menarik baginya. Sedangkan orang yang tidak menyukai seni, tidak akan rela, meski dengan harga yang lebih murah.
Kebiasaan menyatakan sesuatu itu murah atau mahal, untung atau rugi menurut besar kecilnya uang membuat kita semakin lupa pada kenyataan dalam diri manusia bahwa kebutuhan manusia akan yang bersangkutan memang bukan bersifat objektifkuantitatif akan tetapi secara subyektif-kuantitatif. Oleh karena itu, uang tidak dapat digunakan untuk menilai dan mengukur kebutuhan manusia.
Orang lapar tidak bisa puas dengan makanan "mahal" tapi tidak mengenyangkan.
Ukurannya bukan harga uang, tapi mana yang lebih bisa memuaskan kebutuhannya (lapar) .
Selain itu, penerapan prinsip ekonomi kuantitatif sebagian besar mengalami kesulitan bahkan gagal. Karena ada fakta bahwa manusia ingin dinilai dan diperlakukan sesuai dengan kepribadiannya sendiri sebagai subyek. Karena pelaksanaan prinsip-prinsip ekonomi tersebut berurusan dengan orang-orang yang memiliki banyak dimensi: kejiwaan, agama, budaya, politik, dan lain-lain serta menolak perlakuan jika dinilai sebagai objek. Selain itu, prinsip ekonomi dalam pelaksanaannya banyak yang gagal karena terganggu dan tidak atau kurang
maksimal untuk mencapai tujuannya, akibat penerapan adat atau kepercayaan yang menghalanginya.
Seringkali tujuan yang baik, yang sesuai dengan prinsip ekonomi, dalam praktiknya menyimpang dari tujuannya bahkan bertentangan dengan tujuan baik itu, seperti upaya pemerintah untuk melindungi usaha rakyat dan menjamin jalannya hukum, dalam praktiknya PNS tidak protektif, malah menggertak rakyat.
Bukannya menjadi penegak hukum malah menjadi perusak hukum. Meskipun banyak pelanggaran dan penyimpangan prinsip ekonomi, namun tidak mengurangi fakta bahwa prinsip ekonomi selama manusia berakal, bekerja sesuai fitrah manusia.
Sistem Ekonomi Islam menempati posisi tengah antara Sistem Ekonomi Liberal dan Sistem Ekonomi Sosial. Jelas bahwa selain Islam mengakui motif mencari keuntungan, juga mengikat motif tersebut dengan kondisi moral, sosial, dan kesederhanaan (self-limitation). Dengan demikian, ketika Islam diimplementasikan, penggunaan motif keuntungan individu/perseorangan, bukan untuk membuat ekstrim individualisme, manusia yang hanya ingat akan kepentingan diri sendiri tanpa mempedulikan masyarakat. Sistem Ekonomi Islam (SEI) jika diikuti dan diimplementasikan adalah keseimbangan yang harmonis (ukuran yang harmonis, penulis) antara kepentingan individu dan kepentingan masyarakat.
Motif ekonomi menurut syariah/Islam adalah mencari keuntungan materi secara efisien dan cara lain yang benar/etis yang berujung pada keuntungan di kehidupan sekarang dan kehidupan setelah kematian.20 Maka penghematan biaya dalam mencapai keuntungan yang besar merupakan cara yang dibenarkan, karena dalam bentuk efisiensi. Sedangkan Islam tidak melarang efisiensi/tabungan. Yang dilarang Islam adalah kikir dan pemborosan. Cara-cara yang benar dirumuskan menurut wahyu serta pengalaman manusia dalam kehidupan ekonomi. Keharusan menggunakan cara yang benar karena ditegaskan oleh Allah SWT dalam Al- Qur'an An-Nisa' ayat 29, 161;
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan harta tetanggamu dengan cara yang curang, kecuali dengan cara jual beli yang berlaku dengan hati nurani yang sama di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu sendiri, sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu.” [an-Nisa 'ayat 29].
“Dan karena mereka memakan riba, padahal sebenarnya mereka telah diharamkan darinya, dan karena mereka memakan harta orang dengan cara yang salah. Kami telah menyediakan bagi orang-orang kafir di antara mereka azab yang pedih.” [An-Nisa' ayat 161 ]
Untuk mengetahui cara yang benar, terlebih dahulu kita harus mengetahui cara yang salah. Di dalam Al-Qur'an dijelaskan bahwa cara batil/menipu dalam memakan harta orang lain21.
1. Penipuan seperti dengan sengaja menimbang, mengambil contoh, menakar dan lain-lain. Al-An'am ayat 152-153, Surat al-Muthoffifin
ayat 1-12. “Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, sampai mereka dewasa pengukuran dan skala secara adil. Kami tidak membebani seseorang tetapi hanya kemampuannya. Dan jika kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil meskipun dia adalah kerabat (kamu), dan penuhi janji Allah. Itulah yang Allah perintahkan untuk kamu ingat, (152) dan itu (yang Kami perintahkan) adalah jalanku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah mengikuti jalan (lain), karena jalan itu memisahkan kamu dari jalan-Nya. Allah memerintahkanmu untuk takut akan hal ini (153)” [al-An’am ayat 152-53].
2. Tidak menepati janji/melanggar sumpah an-Nahl: 92-94. “Dan janganlah kamu seperti wanita yang memutuskan benang yang telah dipintal dengan kuat, menjadi cerai lagi, kamu jadikan sumpah (perjanjian) sebagai alat tipu muslihat di antara kamu, karena ada satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain.
Sesungguhnya Allah hanya menguji kamu dengan hal itu, dan sesungguhnya pada hari kiamat nanti Dia menjelaskan kepadamu apa yang kamu perselisihkan sebelumnya. telah kokoh berdiri, dan kamu merasa miskin (di dunia) karena kamu menghalangi (manusia) dari jalan Allah: dan bagimu azab yang besar. . (94)” [An-Nahl ayat 92- 94].
3. Pencurian. Larangan yang disebutkan dalam Al-Qur'an tentang bagaimana mencuri sebagai cara yang salah untuk mengalihkan kepemilikan dari satu pihak ke pihak lain dalam Surat Al-Maidah ayat 38: Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potong tangannya (as) sebagai pembalasan. atas apa yang mereka lakukan dan sebagai siksaan dari Tuhan. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (38) [Surah Al-Qaidah ayat 38].
4. Perjudian atau judi. Larangan judi ini disebutkan dalam Al-Qur'an Surat Al-Baqarah ayat 219 dan 280 dan Surat Al-Maidah ayat 90 dan 91. “Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. dan beberapa manfaat bagi manusia, namun keduanya lebih besar dari manfaatnya”. Dan mereka menanyakan kepadamu apa yang mereka infakkan. Ayat 219] .“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (minum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, menarik takdir dengan anak panah, adalah perbuatan-perbuatan yang keji termasuk setan. ) Sesungguhnya setan bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu karena (meminum) khamar dan berjudi, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat;
maka berhentilah kamu (dari melakukan pekerjaan). (91)” [Al-Maidah ayat 90-91].
5. Larangan menimbun untuk diri sendiri dalam Al-Qur'an Surat At- Taubah Ayat 34-35. “Wahai orang-orang yang beriman,
sesungguhnya kebanyakan orang beragama Yahudi dan para rahib Nasrani memang memakan harta orang dengan cara yang batil dan mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak membelanjakannya di jalan Allah, beri tahu mereka (mereka akan mendapatkan) azab yang pedih, (34) Pada hari emas perak dipanaskan di Neraka, kemudian dibakar dengan dahi, lambung, dan punggung mereka (kemudian berkata) kepada mereka: "Ini adalah hartamu yang telah kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat) apa yang telah kamu simpan.” (35) [At-Taubah ayat 34-35]
6. Perbuatan lain yang bertujuan untuk mengambil hak orang lain tanpa izin atau sepengetahuan atau kehendak orang yang berhak. Hal ini disebutkan dalam Al-Qur'an, antara lain:
a. Surat Al-Baqarah ayat 188 menunjukkan, meskipun mengambil harta dari hak orang lain itu berdasarkan keputusan hakim, tetapi jika dia sendiri mengetahui bahwa harta itu bukan haknya, maka perbuatan itu dilarang oleh Allah SWT. “Dan janganlah seorang di antara kamu memakannya harta bagian lain dari dirimu dengan cara batil dan (jangan) kamu bawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu memakan sebagian harta orang lain dengan (cara berbuat) dosa, sekalipun meskipun kamu tahu.
" [Al-Baqarah ayat 188].
b. Allah SWT dan Rasul-Nya melarang cara “riba” untuk memperoleh keuntungan. Perlu diketahui, bahwa tidak semua hal atau perkara yang dilarang oleh Allah SWT tidak ada manfaatnya sama sekali atau hanya membawa mudharat atau kerusakan. Hal ini terlihat dari firman Allah SWT dalam Al- Quran surah Al-Baqarah (2): 219 tentang khamr yang diharamkan, yang menyatakan bahwa khamr juga mengandung manfaat tetapi “madaratnya lebih besar” dan berbahaya daripada manfaat yang mungkin diperoleh. Demikian pula riba, 'mungkin' mengandung manfaat tertentu bagi golongan masyarakat tertentu, tetapi secara universal, mudharat dan bahaya riba melebihi manfaat yang ditimbulkannya (al-Misri, 1999: 34-35).
C. Hasil dan Diskusi
1.Manajemen Keuangan Keluarga Islami
Mengelola keuangan merupakan langkah awal yang harus dilakukan agar uang yang dimiliki dapat dialokasikan secara efektif dan efisien.
Manajemen menjadi landasan bagi manusia untuk dapat memenuhi kebutuhan dan keinginannya secara optimal dengan menggunakan uang yang terbatas, karena segala sesuatu atau setiap kegiatan yang dilakukan pasti
memiliki nilai uang di dalamnya. Manajemen memiliki empat fungsi pokok yaitu perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengendalian, keempat hal tersebut harus dilakukan dalam pengaturan keuangan.
Rumah tangga merupakan salah satu pilar utama dalam perekonomian. Rumah tangga adalah penyedia tenaga kerja sekaligus konsumen. Rumah tangga harus mengelola keuangannya agar kegiatan ekonominya dapat berjalan secara efektif dan efisien. Pengelolaan keuangan keluarga dapat meningkatkan ekonomi rumah tangga di masa depan.
Perspektif Islam yang digunakan dalam pengaturan rumah tangga adalah membatasi kegiatan ekonomi atau perilaku yang dilakukan oleh rumah tangga, karena hukum Islam telah komprehensif dalam mengatur semua aspek kehidupan manusia di dunia sehingga dapat menjadi bekal kehidupan di akhirat. Islam mewajibkan pemeluknya untuk memiliki orientasi hidup di dunia dan di akhirat, menjadikan dunia sebagai awalan kebahagiaan atau kebaikan di akhirat. Syariat Islam memiliki hu kum halal dan haram , halal adalah produk hukum Islam yang menyatakan perbolehan sedangkan yang dilarang menyatakan ketidakbolehan.Halal dapat menyangk ut dari kegiatan atau benda. Hukum yang halal akan mendatangkan pahala sedangkan yang haram akan mendatangkan dosa dan keburukan.
Mwasiat atau minuman adalah sesuatu yang diperbolehkan (halal) dalam Islam. Babi dan khamar adalah benda yang tidak diperbolehkan (haram) untuk dikonsumsi dalam Islam. Umat Islam yang makan daging babi atau minum alkohol adalah sesuatu yang tidak diperbolehkan (haram) dalam islam.Memakan atau minum diperbolehkan dalam aktivitas Islam tetapi daging babi dan anggur adalah hal yang diharamkan, makan daging babi untuk minum alkohol adalah sesuatu yang tidak dibenarkan (haram) dalam Islam. Hal ini menandakan bahwa halal dan haram tidak boleh disatukan, sehingga umat Islam harus benar-benar memastikan bahwa setiap aktivitas yang dilakukannya halal (halal).
Islam yang dijadikan dasar pengaturan keuangan keluarga telah mengaitkan kehidupan setiap anggota keluarga yang berorientasi pada dunia dan akhirat, membatasi kegiatan ekonomi dengan hanya melakukan semua kegiatan yang diperbolehkan (halal) dalam Islam dan tidak melakukan kegiatan yang tidak dianjurkan. diperbolehkan (haram) tanpa mengurangi fungsi manajemen yaitu perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengendalian.
Pengelolaan keuangan keluarga dimulai dengan menentukan sumber pendapatan, sumber pendapatan harus berasal dari kegiatan yang dibenarkan (halal) dalam Islam, jika kegiatan yang dilakukan untuk memperoleh uang merupakan kegiatan yang dilarang maka uang yang dihasilkan juga akan haram. Masuk diterima untuk pengorbanan ekonomi mereka dilakukan seperti pekerjaan, atau perdagangan. Bekerja berarti mengorbankan tenaga dan waktu dalam jangka waktu tertentu sehingga nantinya mendapat imbalan
dari perusahaan yang merupakan pendapatan rumah tangga, sedangkan berdagang adalah pertukaran dengan akad jual beli, dari jual beli yang dilakukan akan mendapatkan keuntungan, keuntungan akan menjadi pendapatan. untuk keluarga .
Bekerja dan berdagang adalah kegiatan yang diperbolehkan dalam Islam sehingga uang yang dihasilkan juga halal, tetapi ada kegiatan yang lebih substansial yang dapat mengarah pada kegiatan haram dalam bekerja dan berdagang, seperti korupsi dalam pekerjaan atau pengurangan timbangan dalam perdagangan, dan ada pekerjaan. dan perdagangan yang dilarang oleh Islam. Pekerjaan atau perdagangan ini akan menghasilkan uang yang haram, dan semua kegiatan yang dibiayai oleh uang tersebut akan haram, misalnya bekerja di bank konvensional. Bank konvensional dapat dijadikan contoh jual beli yang diharamkan karena bank memberikan pelayanan pinjaman dengan mengambil keuntungan melalui bunga sehingga umat Islam dilarang bekerja di bank konvensional. Fatwa MUI tahun 2004 menyatakan bahwa bunga adalah riba sedangkan riba diharamkan dalam Syariah Islam. Allah berfirman dalam surah Ali-imran ayat 30 dan Al-Baqarah ayat 279:
Hai orang-orang yang beriman, janganlah memakan riba, berlipat ganda, dan bertakwalah kepada Allah, agar kamu berhasil.( Al- Baqarah ayat 279)
Hai orang-orang yang beriman, janganlah makan riba berlipat ganda dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rejeki.
Peliharalah dirimu dari api neraka, rizki bagi orang-orang kafir.
( Ali-imran ayat 30)
Pendapatan rumah tangga yang terjamin halal juga harus dibarengi dengan penggunaan keuntungan finansial yang efektif dan efisien dalam perspektif Islam. Ini akan mengarah pada kemenangan falah. Falah menurut terminologi adalah kemenangan, kemenangan hidup di dunia dan kemenangan hidup di akhirat, artinya hidup di dunia memiliki ekonomi yang baik yang ditandai dengan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan hidup.
kebutuhan dan keinginan mereka, dan di akhirat dapat menikmati gelora yang dijanjikan Allah kepada orang-orang yang beriman.
Uang yang dimiliki rumah tangga pada umumnya akan digunakan untuk konsumsi, tabungan dan investasi, dengan persamaan (P = C + S + I).
Islam memiliki perspektif yang sama dalam hal alokasi keuangan, tetapi ada perbedaan yang signifikan dalam pemetaan konsumsi tabungan dan investasi substansial. Hal ini mengakibatkan perbedaan yang mendasar dalam penerapan ketiga hal tersebut.
Islam membedakan kedudukan dan proporsi pemenuhan kebutuhan dan keinginan yang menjadi dasar konsumsi. Kebutuhan memiliki kedudukan dan proporsi yang lebih tinggi dari keinginan. Islam mewajibkan umatnya untuk segera memenuhi kebutuhan dunia dan akhirat, dengan cara-cara yang
dibenarkan syariat, namun tidak boleh ada unsur berlebihan dalam memenuhi kebutuhan tersebut. Sesuatu yang najis akan menjadi halal jika ada urgensi pemenuhan kebutuhan dan kekurangan pilihan. Kedudukan dan proporsi keinginan berada dalam ragam yang tersedia dalam memenuhi kebutuhan dengan batasan-batasan tertentu. Makan dan minum merupakan suatu kebutuhan bagi manusia, pilihan untuk makan atau minum sesuatu menjadi suatu keinginan dalam memenuhi kebutuhan. Pilihan ini dibatasi oleh hukum syar'i yang melarang makan atau minum sesuatu yang diharamkan seperti babi atau khamar, jika ada pilihan lain.
Umat Islam harus mampu memisahkan kebutuhan alam dengan keinginan yang selalu menyertainya, jika rumah tangga tidak mampu menjaga keduanya maka akan timbul masalah ekonomi yang terpisah seperti pinjaman. Kredit muncul karena ketidakmampuan untuk memenuhi keinginan. Seseorang yang memiliki keinginan atau keinginan yang tinggi akan memunculkan perilaku konsumsi yang tinggi, jika hal ini tidak dibarengi dengan kemampuan ekonomi yang tinggi maka akan mendorong seseorang untuk melakukan pinjaman berbunga. Rumah tangga perlu melakukan perencanaan keuangan atau penganggaran dalam konsumsi.
Penganggaran ini didasarkan pada pemenuhan kebutuhan, dengan membatasi keinginan agar tidak berlebihan, sehingga pendapatan yang diperoleh dapat dimanfaatkan secara efektif dan efisien.
Konsumsi yang dilakukan untuk memiliki harta dalam rumah tangga diperbolehkan selama harta yang dimiliki memiliki manfaat. Islam tidak memberikan unsur mubazir atau ketiadaan manfaat dalam kepemilikan suatu benda. Rumah tangga tidak diperbolehkan memiliki harta berdasarkan dorongan hati semata atau menyombongkan diri (ria), karena hanya akan mendatangkan keburukan (mudharat) bagi diri sendiri, dipelajari dalam perspektif ekonomi harta atau harta tetap memiliki biaya overhead. Biaya overhead merupakan biaya yang timbul akibat penurunan fungsi, sehingga perlu mengeluarkan sejumlah uang untuk mengembalikan fungsi aset (pemeliharaan), semakin banyak aset yang dimiliki tentunya akan mengeluarkan biaya yang semakin besar.
Pendapatan yang tidak digunakan untuk konsumsi dapat ditabung atau diinvestasikan. Menabung dan menabung memiliki motif yang berbeda, menabung adalah konsumsi yang ditunda atau ditunda, maksudnya adalah mengumpulkan sumber daya (uang) yang diperoleh dalam jangka waktu tertentu untuk konsumsi di masa yang akan datang. Investasi adalah pemanfaatan uangyang dimiliki dalam bentuk kecukupan modal dengan harapan akan memperoleh deviden atau capital gain. Investasi memiliki kedudukan yang lebih menonjol dalam Islam, karena adanya kegiatan pemberdayaan uang yang dimiliki. Investasi juga akan mendatangkan keuntungan bagi penerima dana dengan membawa peluang untuk memperoleh keuntungan yang lebih besar.
Dunia investasi dapat mengarah pada kegiatan yang dilarang, karena investasi erat kaitannya dengan spekulasi, dimana spekulasi dapat dikategorikan dalam perjudian. Investasi pada perusahaan yang memproduksi atau menjual barang dan jasa yang dilarang tidak diperbolehkan dalam Islam.
Tindakan ini membuat rumah tangga berkontribusi pada penyebaran sesuatu yang halal. Rumah tangga harus berhati-hati dalam melakukan investasi di dunia dengan memperhatikan segala aspek, menghindari jual beli saham dalam waktu singkat guna mendapatkan capital gain untuk menghindari praktik spekulatif.
Investasi akhirat adalah pemanfaatan uang yang dimiliki untuk memperoleh keuntungan di akhirat, contoh investasi ini adalah zakat dan infak. Zakat adalah pemberian kepemilikan harta tertentu dengan jumlah dan waktu tertentu yang diberikan kepada golongan tertentu (delapan golongan).
Besarnya zakat yang dikeluarkan tergantung dari jenis harta dan banyaknya harta yang dimiliki seseorang. Zakat dan sedekah tidak hanya membawa manfaat di akhirat, tetapi juga membawa kebaikan di dunia.
Zakat dan infak yang dibayarkan oleh rumah tangga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat ekonomi lemah dengan pemanfaatan yang efektif dan efisien. Perbaikan ekonomi yang terjadi dapat menciptakan pangsa pasar baru, karena kenaikan konsumsi. Hal ini akan meningkatkan pasokan permintaan yang tercipta, dan akan menguntungkan pengusaha atau pekerja, dimana rumah tangga juga mendapatkan keuntungan darinya. Zakat dan infak juga dapat meminimalisir kejahatan di masyarakat seperti pencurian atau perampokan. Pencurian dan perampokan atas dasar tekanan ekonomi akan berkurang karena aliran dana mengalir dari pemilik harta kepada masyarakat ekonomi lemah, sehingga tercipta kondisi aman.
KESIMPULAN
a) Halal dan haram adalah hal-hal yang mendasari pengelolaan keuangan keluarga di sektor rumah tangga.
b) Rumah tangga harus mampu memetakan pendapatan yang akan diterima dan memastikan kegiatan yang dilakukan tidak mengandung unsur-unsur haram
c) Rumah tangga terbagi antara kebutuhan dan keinginan dalam perilaku konsumsi yaitu rumah tangga harus memenuhi kebutuhan secara efektif dan efisien dengan cara menekan keinginan yang timbul dari aktivitas pemenuhannya.
d) Harta rumah tangga didasarkan pada asas kemanfaatan, dan harus dapat memanfaatkan harta tersebut.
e) Investasi dapat digolongkan menjadi dua kelompok, investasi dunia dan investasi akhirat,
SARAN
a) Keluarga muslim harus memperhatikan unsur halal dan haram dalam setiap aktivitas yang mereka lakukan, baik aktivitas untuk mendapatkan uang, maupun aktivitas untuk menggunakan uang. Hal ini dilakukan dengan niat untuk mendapatkan keridhaan Allah sehingga mendapatkan kemenangan di dunia dan akhirat
b) Para ulama dan ulama hendaknya lebih tegas dalam memberikan pemahaman kepada masyarakat muslim terkait dengan pengelolaan uang yang sesuai dengan syariat, melihat maraknya transaksi riba di tengah- tengah masyarakat muslim.
c) Pemerintah diharapkan membuat regulasi yang dapat mendorong tumbuhnya industri keuangan syariah, serta memfasilitasi para ulama dan kyai untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang keuangan syariah.
DAFTAR PUSTAKA
ab. Mumin Ab. Ghani.1999. Sistem Otoritas Islam dan Implementasinya di Malaysia. KualaLumpur: Posisi Kemajuan Islam Malaysia .
Adiwarman Karim. 2006. History of Islamic economic thought cet III, Jakarta:
Rajawali press. Antonio, Muhammad Syafi'i. 2001. Sharia Bank: theory and practice. Jakarta: Gemma Insani
Pres.
Ayub, Muhamad. 2009. Pengertian Keuangan Islam. Jakarta: Perpustakaan Utama Gramedia Bringham, Eugene F dan Houston, Joel F., 2006. Dasar-dasar Manajemen Keuangan, Jakarta: Salemba Empat .
Dawam Rahardjo. 2001. “Sejarah Ekonomi Islam” dalam buku Adiwarman Karim, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, IIT, Cetakan 1.
Djakman D Chaerul. 1999. Fundamentals of Financial Management . Jakarta:
Salemba Empat.
Drs. Nasruddin Razak. 1989 Dienul Islam . Bandung: Al-Ma'rif. Kamus Besar Bahasa Indonesia Online, diakses pada 7 Agustus 2019
Manulang, M. 1990. Fundamentals of Management . Jakarta . Ghalia Indonesia , Muhammad . 2011. Management of Islamic Banks . Yogyakarta: UPP STIMYKPN .
Muhammad 2011 .. Management of Syari'ah Bank (Revised Edition) . Yokyakarta:
UPP AMP YKPN
Muhammad 2014. Sharia Bank Fund Management . Jakarta: PT Rajagrafindo Persada . Muhammad 2002. Management of Islamic Banks, Yokyakarta: UPP AMPYKPN . Muhammad 2004. Management of Sharia Bank Funds h , Yogyakarta: Ekonisia .
Muhammad Abu Zahrah. 1985 Tahrim al-Riba Tanzim Iqtisadi, cet. 2. Riyad: al-Dar al Su'udiyyah.
Imam Suroso Zadjuli,. Etika sebagai Landasan Moral Pembangunan Ekonomi di Indonesia, makalah seminar yang diselenggarakan jurnal UNISIA UII Yogyakarta, 25 September 2004
Sundjaja Ridwan S. & Barlian Inge. 2003. Financial Management, fifth edition . Jakarta. Cross Media Literata.
Syafrudin Arif Marah Manunggal. Islamic Ethics in Management K euangan , JHI, Volume 9, Number 2, December 2011 .
Syafruddin Prawiranegara. 1998. Economics and Finance : The Meaning of Islamic Economics, Jakarta: Haji Masagung