Sandiwara Politik : Manipulasi Janji dan Ayat Suci Di atas kursi, para politisi berlomba,
Janji manis disuguhkan, muluk pun bermacam,
"Majukan negeri, rakyatlah prioritas!", Tapi kenyataannya, itu cuma basa-basi.
Mereka berdebat, saling serang tanpa henti,
Namun satu hal yang pasti, mereka jadi berkuasa dengan senang hati.
Rakyat menjadi tontonan, di atas panggung sandiwara, Saat politisi berebut kursi, bagai dalam perang sastra.
Kata-kata indah terucap dari bibir mulut mereka,
Tapi di balik layar, uang dan kepentingan mereka yang utama.
"Kesejahteraan rakyat!" teriaknya berulang,
Namun di balik layar, ujungnya duit berbungkus angpao.
Di antara para politisi, manipulasi pun berjalan, Ayat suci dijadikan alat, untuk memperoleh pujian.
Mereka mengutip kitab suci, sebagai senjata retoris,
Namun tujuannya hanya satu: menangkap hati rakyat dalam ulah hipokrisi.
Mereka berdiri di mimbar, dengan wajah penuh kesucian,
Tapi di balik tabir, niat buruk mereka nampak jelas dengan kecerdikan.
"Mari kita bersama, membangun negeri yang makmur!",
Tapi di dalam hati, hanya kuasa dan keuntunganlah yang diemban dengan penuh kelicikan.
Ayat-ayat suci dijadikan semacam mantra,
Untuk membungkus kebohongan, dalam misteri yang terlalu nyata.
Mereka bermain dengan agama, tanpa belas kasihan, Hanya demi kekuasaan, segala cara pun jadi pilihan.
Tapi tahukah mereka, bahwa yang di atas melihat segala-galanya?
Manipulasi tak akan tertutup, di hadapan Sang Pencipta yang Maha Kuasa.
Rakyat mungkin terpedaya, oleh rayuan politik yang terasa manis,
Namun di akhir cerita, kebenaran akan terungkap dalam candaan yang hampa dan penuh lara