• Tidak ada hasil yang ditemukan

MARIA BUNDA BERDUKCITA

N/A
N/A
sofyan sinurat

Academic year: 2024

Membagikan " MARIA BUNDA BERDUKCITA"

Copied!
2
0
0

Teks penuh

(1)

MARIA BUNDA BERDUKCITA MARIA MATER DOLOROSA

15 September

Dalam liturgi gereja katolik, cukup banyak perayaan atau pesta yang didedikasikan bagi Maria. Hal ini menunjukkan betapa Gereja Katolik memberi perhatian pada Maria.

Ada 4 perayaan bagi Maria yang dikategorikan sebagai Hari Raya:

1. Maria Bunda Allah (theotokos) yang dirayakan pada 1 Januari 2. Maria menerima Kabar Sukacita yang dirayakan pada 25 Maret 3. Maria diangkat ke Surga (Assumpta) yang dirayakan pada 15 Agustus

4. Maria dikandung tanpa Noda dosa (Immaculata) yang dirayakan pada 8 Desember Ada 2 perayaan bagi Maria yang setingkat pesta:

1. Maria mengunjungi Elisabet yang dirayakan pada 31 Mei 2. Kelahiran Maria yang dirayakan pada 8 September Ada 4 perayaan bagi Maria yang setingkat peringatan:

1. Santa Perawan Maria Ratu yang dirayakan pada 22 Agustus 2. Maria Berdukacita yang dirayakan pada 15 September 3. Maria Ratu Rosario yang dirayakan pada 7 Oktober

4. Maria dipersembahkan kepada Allah yang dirayakan pada 21 November

Data-data tersebut menjadi satu tanda betapa pentingnya peranan Maria dalam hidup beriman.

Posisi Maria dalam hidup beriman selalu ditempatkan dalam 2 bagian yakni:

1. Maria tidak pernah bisa dipisahkan dari Yesus. Maria dipilih Allah menjadi sarana untuk melahirkan Yesus yang akan menjadi penebus.

2. Maria tidak dapat dipisahkan dari Gereja. Maria menjadi manusia yang paling unggul dari antara mansuia dan malaikat. Ia dipilih Allah dari semula menjadi bunda Allah. Jika ia menjadi bunda Allah, maka ia berada lebih di antara manusia atau gereja.

Seluruh perayaan kepada Bunda Maria selalu ada dalam kaitan kedua sudut pandang akan peranan Maria dalam karya Keselamatan Allah. Maria bukan menjadi pengantara doa kepada Allah, sebab pengantara tunggal ialah Yesus Kristus. Oleh sebab itu, seluruh perayaan yang berkaitan dengan Maria selalu berbicara tentang Yesus dan bukan menekankan Maria. Kisah- kisah Maria dalam kitab suci selalu berkaitan dengan Yesus dan tidak pernah terlepas dari Yesus. Apabila Maria tidak mengandung Yesus, ia tetap sebagi manusia biasa saja. Namun, sebagai manusia, ia menjadi unggul atau penting ketika mengemban tugas luhur yakni menjadi Bunda Allah.

Seluruh kehidupan Maria menunjukkan betapa seharusnya berada bersama dengan Allah.

Ia taat kepada kehendak Allah. Ketaatan ini bukanlah ketaatan buta. Ia dengan bebas menyerahkan diri kepada Allah dengan berkata “aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu” (Ecce ancila Domini, fiat mihi secundum verbum tuum). Ketika Maria menerima kabar sukacita yakni akan mengandung Yesus, ia telah tahu betapa banyak kedukaan yang akan menimpa dirinya. Gelar Maria sebagai bunda Berdukacita diberikan sebagai refleksi iman betapa Maria menghadapi banyak kedukaan dalam menjalankan ketaatan kepada Allah.

Tradisi Gereja menuliskan bahwa Maria menghadapi dukacita dan sengsara selama menjadi ibu Yesus. Tradisi menuliskan ada 7 dukacita yang dialami maria yakni:

1. Pengungsian keluarga Kudus ke Mesir ketika Herodes memerintahkan untuk membunuh bayi

2. Yesus yang masih kanak-kanak hilang dan diketemukan dalam bait Allah

(2)

3. Nubuat Simeon yang menyatakan bahwa sebilah pedang akan menembus dada Maria 4. Maria berjumpa dengan Yesus dalam perjalanan-Nya menuju Kalvari

5. Maria berdiri dekat kayu salib tempat Yesus disalibkan

6. Bunda Maria memangku jenazah Yesus ketika diturunkan dari kayu salib 7. Bunda Maria memakamkan jenazah Yesus

Ketujuh dukacita ini diterima Maria dengan penuh kepercayaan kepada Allah. Penyerahan diri Maria ini menjadi model bagi manusia untuk beriman kepada Allah. Seluruh dukacita ini sering dipandang sebagian orang sebagai kemartiran Maria selama hidup di dunia.

Sejarah peringatan ini mulai ada sejak abad XII, yang kemudian berkembang pada abad ke XIV-XV. Pada tahun 1727, Paus Benediktus XIII memasukkan peringatan Maria berdukacita pada kalendarium gereja Katolik yang jatuh pada hari Jumat sebelum Minggu Palma. Namun, peringatan ini ditiadakan setelah adanya perubahan penanggalan Gereja Katolik dalam Missale Romawi pada tahun 1969. Paus Pius X menetapkan 15 September sebagai perayaan hari Santa Maria Berdukacita.

Setiap manusia pasti mengalami dukacita atau penderitaan. Ada banyak penderitaan atau dukacita yang dialami manusia. Tak jarang setiap orang berusaha untuk menjauhi penderitaan.

Tidak mudah untuk menghayati makna dukacita Maria dalam hidup sehari-hari. Orang menganggap bahwa dukacita itu bukan bagian dari hidup manusia. Padahal dukacita adalah bagian hakiki dari hidup manusia yang tidak dapat dipisahkan.

Maria yang berdiri tegar di kaki salib memberi kesaksian tentang dukacita yang menyelamatkan dan membuat manusia mampu berdiri tegar. Manusia tidak akan selamat dengan meratapi kemalangan dan nasib sial, bukan pula dengan bertindak sok pahlawan. Dukacita yang menyelamatkan lahir dalam bentuk kerelaan berkorban demi kebaikan dan keselamatan bersama. Berdukacita dengan mengorbankan kebebasan, keinginan, keuntungan dan pelbagai keuntungan; berkorban dengan memberi diri melalui hidup berdisiplin dalam kebutuhan pada aturan hidup yang menyelamatkannya semua. Pengorbanan adalah ekspresi dukacita yang menyelamatkan.

Referensi

Dokumen terkait