• Tidak ada hasil yang ditemukan

masalah ekonomi Islam

N/A
N/A
Nataya Adiati

Academic year: 2023

Membagikan "masalah ekonomi Islam "

Copied!
3
0
0

Teks penuh

(1)

Nama ester benang sari waruwu Ruang : 461

Jawaban :

1. Dalam Islam masalah ekonomi Islam permasalahan ekonomi adalah ditribusi yang tidak merata. Adapun tujuan dalam penelitian ini antara lain : Mengetahaui konsep

permasalahan ekonomi dalam Islam, Mengetahui perbedaan permasalahan ekonomi dalam ekonomi Islam dan konvensional, dan Mengetahui cara mengatasi permasalahan ekonomi dalam Islam. Permasalahan dalam ekonomi Islam adalah distribusi yang tidak merata sedangkan konvensional adalah kelangkaan. Solusi yang ditawarkan Islam antara lain: Masyarakat mempunyai hak khiyar. Hak khiyar adalah adalah salah satu ak bagi kedua belah pihak yang melakukan transaksi (akad) ketika terjadi beberapa persoalan dalam transaksi yang dimaksud. Hak Khiyar sendiri ada terbagi menjadi :Khiyar Tadlis (Membatalkan karanabarangnya cacat), Khiyar ‘aib (kurangnya nilai tersebut dikalangan ahli pasar. Khiyar Syarat (hakpilih) yang dijadikansyarat keduanya. Masyarakat

menyelesaikannya dengan media al-shulhu (perdamaian).

2. karakteristik ekonomi syariah: Sumber daya dipandang sebagai pemberian atau titipan Allah SWT kepada manusia. Kerja sama adalah penggerak utama dalam ekonomi syariah. Kepemilikan masyarakat serta penggunaannya direncanakan atas azas kepentingan banyak orang. (adil, tumbuh sepadan, bermoral, dan beradab).

3. Materi Muatan Pokok ialah; Hakim pengadilan dalam lingkungan peradilan agama yang memeriksa, mengadili dan menyelesaikan perkara yang berkaitan dengan ekonomi syari'ah, mempergunakan sebagai pedoman prinsip syari'ah dalam Kompilasi Hukum Ekonomi Syari'ah.

Mempergunakan sebagai pedoman prinsip syari'ah dalam Kompilasi Hukum Ekonomi Syari'ah sebagaimana dimaksud ayat (1), tidak mengurangi tanggungjawab hakim untuk menggali dan menemukan hukum untuk menjamin putusan yang adil dan benar. Pasal- pasal Kompilasi Hukum Ekonomi Syari'ah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 adalah Kompilasi Hukum Ekonomi Syari'ah yang menjadi lampiran dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Mahkamah Agung. Akad-akad Dalam Transaksi

Perbankan Syariah yaitu ; a. Wadiah

Akad penitipan batang atau uang antara pihak yang mempunyai barang atau uang dan pihak yang diberi kepercayaan dengan tujuan untuk menjaga keselamatan, keamanan, serta keutuhan barang atau uang.

b. Mudharabah

Akad kerjasama suatu usaha antara pihak pertama (malik, shahibul mal, atau bank syariah) yang menyediakan seluruh modal dan pihak kedua ('amil, mudharib, atau nasabah) yang bertindak selaku pengelola dana dengan kesepakatan yang dituangkan

(2)

dalam akad, sedangkan kerugian ditanggung sepenuhnya oleh Bank Syariah kecuali jika pihak kedua melakukan kesalahan yang disengaja, lalai atau menyalahi perjanjian.

c. Musyarakah

Akad kerjasama diantara dua pihak atau lebih untuk usaha tertentu yang masing-masing pihak memberikan porsi dana masing-masing.

d. Murabahah

Akad pembiayaan suatu barang dengan menegaskan harga belinya kepada pembeli dan pembeli membayarnya dengan harga yang lebih sebagai keuntungan yang disepakati.

e. Salam

Akad pembiayaan suatu barang dengan cara pemesanan dan pembayaran harga yang dilakukan terlebih dahulu dengan syarat tertentu yang disepakati.

f. Istisna'

Akad pembiayaan barang dalam bentuk pemesanan pembuatan barang tertentu yang disepakati antara pemesan atau pembeli (mustashni') dan penjual atau pembuat (shani').

g. Ijarah

Akad penyediaan dana dalam rangka memindahkan hak guna atau manfaat dari suatu barang atau jasa berdasarkan transaksi sewa, tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikian barang itu sendiri.

h. Ijarah Muntahiyah Bit Tamlik

Akad penyediaan dana dalam rangka memindahkan hak guna atau manfaat dari suatu barang atau jasa berdasarkan transaksi sewa dengan opsi pemindahan kepemilikan barang.

i. Qardh

Akad pinjaman dana kepada nasabah dengan ketentuan bahwa nasabah wajib mengembalikan dana yang diterimanya pada waktu yang telah disepakati.

4. Ekonomi syariah mengacu pada prinsip dasar, yakni:

Tidak adanya kepemilikan yang mutlak atas sesuatu, semua sumber daya yang ada merupakan titipan dari Allah swt, menggerakkan ekonomi secara berjamaah, Menjamin kepemilikan dari masyarakat dan perencanaannya untuk kemaslahatan banyak orang, semerataan dari kekayaan, apabila seseorang telah memiliki kekayaan tertentu yang sudah mencapai nisab, maka wajib atasnya mengeluarkan zakat, dan pelarangan riba dalam bentuk apapun.

Pasal 1

Dalam Peraturan Mahkamah Agung ini yang dimaksud dengan: Ekonomi Syariah adalah usaha atau kegiatan yang dilakukan oleh orang perorang, kelompok orang, badan usaha yang berbadan hukum atau tidak berbadan hukum dalam rangka memenuhi kebutuhan yang bersifat komersial dan tidak komersial menurut prinsip syariah.

(3)

Referensi

Dokumen terkait

Dalam Pasal 3 Keputusan Dikrektur Jenderal Badan Peradilan Umum Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor: 271/DJU/SK/PS01/2018 tentang Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Mahkamah

Koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang perorang atau

menengah atau usaha Besar. 5) Berbentuk usaha orang perorangan, badan usaha yang tidak. berbadan hukum, atau badan usaha yang berbadan

Usaha produktif milik orang perorang dan atau badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria usaha mikro, memiliki kekayaan bersih

(1) Setiap orang atau badan usaha yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, Pasal 5, Pasal 6, dan Pasal 7 Peraturan Daerah Kabupaten

Usaha Pariwisata sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2) dapat berbentuk perseorangan atau berbentuk badan usaha Indonesia yang berbadan hukum atau tidak

Adalah setiap orang (perseorangan, kelompok orang, masyarakat, badan usaha berbadan hukum, dan/atau badan usaha bukan berbadan hukum), instansi Pemerintah, atau instansi

Sebagai badan usaha berbadan hukum dan melakukan kegiatan berdasarkan prinsip ekonomi, sesungguhnya koperasi adalah suatu kegiatan usaha karena prinsip ekonomi itu sendiri