• Tidak ada hasil yang ditemukan

Masyarakat Indonesia - ADOC.PUB

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "Masyarakat Indonesia - ADOC.PUB"

Copied!
254
0
0

Teks penuh

Eksploitasi timah dan masuknya buruh Tionghoa dan swasta Tionghoa tampaknya telah mempengaruhi komposisi penduduk Bangka dan Belitung. Kasus yang terjadi di kalangan masyarakat penambang timah Tionghoa di Belitung juga memiliki kemiripan dengan yang terjadi di Bangka. Tampaknya perkembangan politik di Indonesia dan Bangka-Belitung selama periode ini tidak berdampak signifikan terhadap radikalisasi politik di kalangan penambang Tionghoa di Bangka Belitung.

Bagian ini mengkaji perkembangan organisasi sosial politik di Bangka dan Pangkal Pinang serta organisasi buruh multietnis.

Tabel 1 di bawah ini memperlihatkan jumlah penduduk Karesidenan  Bangka  pada  tahun  1930
Tabel 1 di bawah ini memperlihatkan jumlah penduduk Karesidenan Bangka pada tahun 1930

BAHASA, IDENTITAS, DAN KONFLIK

Ketika dua komunitas berbicara bahasa yang berbeda, agama yang sama tidak cukup menyatukan mereka. Sebaliknya, bahasa yang sama bukanlah jaminan untuk hidup berdampingan dengan damai. Bahasa yang pernah mengalami sejarah tekanan seperti itu adalah Katalan, bahasa Roman yang kurang lebih sama hubungannya dengan Prancis dan Spanyol.

Dari segi linguistik, kedua bahasa tersebut memang sama, dan kedua kelompok pengguna bahasa tersebut dapat saling memahami dengan sempurna saat menggunakan satu bahasa dengan bahasa lainnya.

PETA KONFLIK DAN KONFLIK KEKERASAN di MINANGKABAU SUMATERA BARAT 1

Hal ini terbukti dalam kasus pelanggaran HAM di Sumatera Barat yang meningkat dalam tiga tahun terakhir. Data menunjukkan terjadi peningkatan kasus pelanggaran HAM di Sumatera Barat setiap tahunnya. Berdasarkan “Laporan Tahunan Perwakilan Komnas HAM Provinsi Sumatera Barat Tahun 2008” di (Avisen Padang Ekspress, 10 Desember 2008), telah terjadi peningkatan jumlah kasus selama tiga tahun terakhir.

Jika dirinci lebih lanjut, dari 14 kasus khusus, hanya 2 kasus yang dilakukan oleh aparat negara, sedangkan 11 kasus lainnya dilakukan oleh warga sipil dan 1 kasus ditutup (Laporan Tahunan perwakilan Komnas HAM Provinsi Sumbar di. Jika Dilihat dari unsur-unsur yang terlibat, konflik di Sumatera Barat dapat dikategorikan menjadi empat, yaitu (i) konflik antar masyarakat (konflik horizontal), (ii) konflik antara masyarakat dengan pemerintah (konflik vertikal), (iii) konflik antar masyarakat dan perusahaan atau investor (konflik vertikal), (iv) konflik yang melibatkan aparat keamanan (konflik vertikal).Berdasarkan “Laporan Tahunan Komnas HAM Perwakilan Provinsi Sumatera Barat dan Tahun 2008” terlihat bahwa banyak pengaduan masyarakat yang meminta bantuan instansi terkait untuk menyelesaikannya.

Misalnya kasus yang terjadi di Pasaman Barat pada tahun 2008 yaitu terjadinya tindak kekerasan yang dilakukan oleh Satpol PP Kabupaten Pasaman Barat terhadap masyarakat Sasak. Kepala desa atas perintah dari Kepala Dinas Sosial Sumbar kemudian mengizinkan lahan tersebut digunakan oleh mereka yang tergolong miskin. Kasus yang terjadi pada tahun 2007-2008 sebagaimana diuraikan di atas merupakan salah satu contoh bentuk konflik dalam masyarakat yang disebabkan oleh alasan ekonomi.

Sebagai wilayah Minangkabau yang umum, Sumatera Barat telah lama memiliki kearifan lokal yang mengikat masyarakatnya. Dalam wawancara dengan Pino Oktavia dari LBH, ketua LBH Sumbar, Pino Oktavia mengatakan bahwa lembaga konvensional harus diikuti dengan payung hukum di Sumbar.

ANTARA PENGARUH NEGARA DAN KAPITAL

Pemerintah Orde Baru tidak lebih baik dari pemerintah kolonial dalam mengintervensi lembaga adat di Kei. Campur tangan negara Orde Baru di Kei membawa banyak implikasi bagi keberlangsungan lembaga adat, terutama kedudukan dan peran tikus. Konflik berdarah di Kei saat itu bisa dikatakan sebagai akibat dari konflik besar yang terjadi di Ambon (awal Januari 1999).

Namun demikian, ikatan adat di Kei masih lebih kuat daripada di Ambon dan mungkin sebagian besar wilayah di Maluku. Terbukti dengan menggunakan mekanisme adat, penyelesaian konflik di Kei jauh lebih cepat dibandingkan daerah lain di Kepulauan Maluku. Penyelesaian konflik di Kei tidak terlepas dari peran tikus sebagai penggerak utama, namun tidak semua tikus di Kei memiliki kapasitas untuk itu.

Hal penting yang perlu diketahui dalam hal ini adalah kekuatan tikus di Kei masih kuat. Pada beberapa domba tikus di Kei kini terlihat adanya gugatan kasta ren atas kekuasaan kasta susu. Hal ini terlihat dari berbagai konflik yang belum terselesaikan dengan baik di Kei selama ini.

Namun, demokrasi telah membuka ruang yang lebih luas bagi masyarakat sipil untuk lebih kritis dalam mengontrol perilaku para elit, termasuk para tikus di Kei. Pada masa penjajahan, kekuatan tikus untuk menjaga ketertiban masyarakat adat Kei masih sangat kuat.

DINAMIKA IDENTITAS KOMUNITAS

MUSLIM HATUHAHA” DI PULAU HARUKU MALUKU TENGAH

Artikel ini mengkaji tentang dinamika identitas di kalangan masyarakat Muslim Maluku di Pulau Haruku, Maluku Tengah, atau yang dikenal dengan sebutan “Muslim Hatuhaha”. Secara kuantitatif, Komunitas Muslim Hatuhaha (KMH) merupakan kelompok mayoritas di Pulau Haruku, namun mengalami diskriminasi. Sementara itu, komunitas Muslim Hatuhaha sebagai kelompok mayoritas di Pulau Haruku tidak mendapat perhatian yang sama dengan komunitas Muslim di Ternate dan Tidore, Maluku Utara.

Tulisan ini mengisahkan dinamika identitas untuk menjelaskan proses konstruksi identitas dan perubahan sosial di kalangan masyarakat Muslim Hatuhaha di negeri Pelauw, Kecamatan Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah. Perubahan budaya, politik, dan ekonomi yang dialami masyarakat Muslim Maluku di Pulau Haruku juga dipengaruhi oleh dua hal. Gambaran jumlah komunitas Muslim di Pulau Haruku dibandingkan dengan jumlah komunitas Kristen dapat dilihat pada tabel berikut.

Munculnya perlawanan masyarakat lokal terhadap kolonialisme dan penegasan identitas komunitas Muslim di Pulau Haruku selama dan setelah masa kolonial dicirikan oleh penulis sebagai negosiasi identitas. Kedua, Perang Allaka menjadi momen awal yang penting bagi masyarakat Muslim Maluku di Pulau Haruku untuk menegaskan identitasnya. Sikap terhadap Portugis dan Belanda inilah yang membedakan komunitas Muslim di Maluku Utara dengan komunitas Muslim di Maluku Tengah.

Anak-anak komunitas Muslim Maluku yang berasal dari Pulau Haruku cukup banyak yang aktif dalam ormas. Pembahasan tentang dinamika identitas dan perubahan dalam komunitas Muslim Maluku di Pulau Haruku, Maluku Tengah, dengan berfokus pada komunitas Muslim Hatuhaha di negara Pelauw, menunjukkan empat hal.

Diagram 1: Unsur-unsur yang memengaruhi indentitas KMH
Diagram 1: Unsur-unsur yang memengaruhi indentitas KMH

MENGKONSTRUKSI IDENTITAS DIASPORA MALUKU DI NEGERI BELANDA

Berdasarkan premis Hall, tulisan ini menganalisis masyarakat Belanda Maluku dalam konstruksi dan negosiasi identitasnya dalam konteks masyarakat Belanda. Istilah "Maluku Belanda" digunakan secara tertulis sebagai kategori yang membedakannya dari orang Maluku yang tinggal di Indonesia. Narasi migrasi merupakan aspek yang sangat penting bagi masyarakat Maluku di Belanda dalam rekonstruksi identitasnya.

Dalam istilah Bartel, orang Maluku di Belanda semakin menjadi orang Barat dalam perilaku dan pemikiran. Orang-orang Maluku di Belanda juga mengadopsi nilai-nilai Belanda sebagai ungkapan kedekatan mereka dengan orang-orang Belanda. Banyak dari mereka yang masih makan nasi, tapi tidak sesering orang Maluku di tanah airnya.

Orang Maluku di Maluku menemukan bahwa orang Maluku Belanda memiliki postur, cara berjalan, dan cara berpakaian yang berbeda. Di sisi lain, orang Maluku Belanda percaya bahwa Belanda telah menahan mereka di negaranya. Orang Maluku di Belanda dianggap tidak lebih "Maluku" dibandingkan orang Maluku yang tinggal di Maluku.

Masyarakat Maluku yang tinggal di luar perkampungan Maluku berpendapat bahwa teluk kota Maluku merupakan inti identitas budaya Maluku di Belanda. Pada masa awal kehidupan Maluku di Belanda, generasi pertama dan kedua mengalami hambatan untuk berintegrasi dengan masyarakat Belanda.

POLITIK BAHASA NASIONAL DAN DAERAH DALAM PERSPEKTIF ORANG LAMAHOLOT

Secara teoretis, kebijakan bahasa sebagai cara untuk mencapai alat pemersatu komunikasi dalam negara-bangsa multi-etnis dapat berhasil membangun bangsa sebagai komunitas imajiner (lihat Anderson 1990) dan pada saat yang sama menciptakan komunitas bahasa imajiner (lihat Gal .1998; Silverstein 2000; Josep 2003; Schmid 2001; dan Davies 2004). Secara empiris, telah ditemukan sejumlah fakta terkait persoalan politik bahasa negara, negara bangsa, dan bahasa daerah dan etnis. Isu utama yang dibahas dalam artikel ini adalah apakah tidak ada dampak kebijakan bahasa nasional terhadap bahasa dan etnis Lamaholot lintas generasi sekarang.

Benarkah penerimaan penutur asli bahasa Lamaholot dalam politik bahasa nasional berbeda-beda menurut generasi dan komposisi masyarakat. Hegemoni negara yang terpusat melalui politik asimilasi bahasa, yang mempromosikan bahasa nasional (bahasa Indonesia) kepada komunitas/suku di Indonesia, termasuk komunitas/etnis Lamaholot melalui pendidikan sejak taman kanak-kanak, menciptakan situasi dilema konflik antara tujuan pembentukan negara-bangsa (negara-bangsa) di satu sisi dan melestarikan serta mengembangkan budaya dan bahasa lokal/etnik termasuk suku bangsa Lamaholot di sisi lain. Informan utama penelitian ini adalah tokoh masyarakat yang mengetahui atau terlibat langsung dalam isu-isu yang berkaitan dengan politik bahasa dan penerapannya di masyarakat.

Pengaruh politik bahasa nasional terhadap bahasa Lamaholot dapat dibedakan menjadi empat cara penerimaan, yaitu (i) penerimaan bahasa Indonesia, (ii) penolakan (resistensi) bahasa Indonesia, (iii) pengikisan bahasa Lamaholot, dan (iv) penguatan/pemeliharaan bahasa Lamaholot. Kebijakan asimilasi bahasa nasional yang sejak lama dianggap sebagai pintu gerbang pemahaman diri kolektif suatu kelompok (nasionalisme kultural), telah mempengaruhi etnisitas dan nasionalisme masyarakat Lamaholot. Implikasi temuan penelitian ini terhadap bahasa, suku, dan nasionalisme masyarakat Lamaholot dalam kaitannya dengan teori terapan menimbulkan pertanyaan tentang kebijakan bahasa apa yang harus diterapkan di negara-bangsa multietnis ini.

Menurut hemat penulis, politik bahasa tetap mempertahankan bahasa persatuan, bahasa Indonesia, tetapi juga tidak menghilangkan atau mengabaikan bahasa etnik. Politik bahasa yang tidak hanya mengedepankan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, tetapi juga politik bahasa yang menghormati, mengakui, memelihara dan memberikan ruang hidup yang baik bagi bahasa-bahasa etnik.

NASIONALISME: KAJIAN NOVEL A. HASJMY

Masalah kebangsaan yang terkandung dalam novel tersebut tentunya mencakup banyak aspek yang terbentang dalam kurun waktu dan ruang yang panjang, yang sesuai dengan latar belakang kehidupan A. A. Bagaimana ide, konsep, representasi, pandangan atau. yang mencerminkan unsur-unsur yang mereka bayangkan dalam novel A.?

Terakhir, novel Indonesia Semarang Hitam (1924) karya Mas Marco Kartodikoro 2 Melalui novel ini, Anderson menunjukkan bahwa fenomena sosial yang ada melalui tokoh “pemuda kita” dapat merepresentasikan tubuh kolektif “orang Indonesia” atau setelah “komunitas imajiner”. Indonesia. Sementara itu, dalam novel MJ disebutkan gambaran tentang otonomi, tetapi tidak dalam konteks zaman Indonesia, melainkan disisipkan dalam kerangka masuknya Islam di Banda Aceh. Dalam novelnya yang lain, yaitu SALG— NP— EGN—TM, topik ini didiskusikan dengan cermat dan luas.

Kesatuan dalam kebijakan kebudayaan adalah kesatuan dalam pengertian Bhinneka Tunggal Ika, yaitu meskipun berbeda-beda tetapi hanya satu. Dengan demikian, jelas doktrin nasionalisme dalam novel-novel A. Gambaran yang cukup memadai tentang perkembangan bahasa Melayu sebagai lingua franca di Aceh dapat dilihat dalam Alfian, khususnya pada bab “Dari Bahasa Pasai Jawi Aceh Utara ke dalam bahasa nasional Indonesia” (hal.53-76). Dalam lima novel lainnya, yakni BCB—SALG—EGN—MJ—TM, persoalan kelas sosial merupakan persoalan yang sangat signifikan dalam kerangka mewujudkan doktrin nasionalisme.

Hasjmy adalah agama dan negara.8 Misi ini tercermin di hampir semua novel yang dibahas, kecuali novel NP dan EGN. Puisi juga muncul dalam dua posisi, yaitu dalam pengantar novel dan dalam teks novel.

Gambar

Tabel 1 di bawah ini memperlihatkan jumlah penduduk Karesidenan  Bangka  pada  tahun  1930
Diagram 1: Unsur-unsur yang memengaruhi indentitas KMH

Referensi

Dokumen terkait