• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAteri Baja

N/A
N/A
Welly

Academic year: 2025

Membagikan "MAteri Baja"

Copied!
73
0
0

Teks penuh

(1)

PENGAWASAN PEKERJAAN BAJA

Bandung, 22 Agustus 2020

Pengertian Pengawasan Pekerjaan Jembatan

• Untuk pengendalian pelaksanaan pekerjaan di lapangan dan penjaminan pelaksanaan pekerjaan tersebut sesuai dengan spesifikasi teknik yang telah ditetapkan di dalam kontrak jasa konstruksi

• Pengawas/Supervisi juga berperan membantu Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) didalam melaksanakan administrasi teknis pekerjaan pada lokasi kegiatan yang sedang berlangsung.

Acuan : Spesifikasi Jalan 2018

Dalam Pengawasan, yang perlu disiapkan : - Instruksi Kerja Lapangan

- Lembar Monitoring Penerimaan Material - Lembar Pemeriksaan Pekerjaan

- Lembar Pemeriksaan Pengujian - Buku Komunikasi

- Daftar Simak

(2)

- Pekerjaan dapat dimulai setelah Request-nya diterima oleh Direksi Teknis.

- Direksi Teknis akan melakukan aktivitas pengawasan mulai dari pengendalian mutu bahan, proses pengolahan bahan, prosedur kerja sampai hasil pekerjaan terlaksana sesuai ketentuan.

Team Supervisi akan membantu dan mengarahkan Penyedia Jasa agar : - Pekerjaan selesai tepat waktu (Pengendalian Waktu).

- Pekerjaan selesai tepat biaya (Pengendalian Biaya).

- Pekerjaan selesai dengan hasil sesuai yang disyaratkan (Pengendalian Mutu) - Pelaksanaan pekerjaan tidak mengganggu kelancaran arus lalu-lintas

(Pengaturan Lalu Lintas).

- Pekerjaan dilaksanakan dengan mengutamakan keselamatan kerja (SMK3L)

(3)
(4)

PENGAWASAN PEKERJAAN BAJA STRUKTUR (7.4)

1. Persiapan

Periksa persiapan pelaksanaan pekerjaan meliputi :

penyediaan, fabrikasi, galvanisasi, dan pengecatan

logam struktur serta peralatan.

2. Gambar Kerja

Kendalikan Kontraktor mengajukan gambar kerja,

laporan pengujian fisik, program dan metode

pelaksanaan.

(5)

3. Pengajuan Kesiapan Kerja S 7.4.1

Pastikan Kontraktor menyerahkan laporan pengujian pabrik yang menunjukkan kadar bahan kimia dan pengujian fisik untuk setiap mutu baja yang akan digunakan. Bila laporan pengujian ini tidak tersedia, Kontraktor harus melaksanakan pengujian sebagai pengganti sertifikat pabrik.

Pastikan Kontraktor menyerahkan 3 (tiga) salinan Gambar kerja terinci untuk disetujui Pengawas Pekerjaan.

Pastikan Kontraktor menyerahkan program dan metode pelaksanaan yang diusulkan, Gambar Kerja, dan rancangan untuk pekerjaan sementara yang diperlukan.

4. Check

Periksa laporan hasil pengujian fisik untuk setiap mutu baja yang diajukan.

Periksa Gambar Kerja, program dan metode pelaksanaan dan rancangan untuk pekerjaan sementara yang diajukan serta rekomendasikan persetujuan Direksi Pekerjaan.

5. Penyimpanan dan Perlindungan Bahan S 7.4.1

Kendalikan penyimpanan bahan baja, baik fabrikasi dibengkel dan dilapangan, harus ditumpuk diatas balok pengganjal atau landasan dan tidak bersentuhan dengan tanah, serta bila ditumpuk dalam beberapa lapis, pengganjal untuk semua lapis harus dalam satu gans.

Kendalikan perlindungan bahan dan korosi bebas dari kotoran, minyak, dan gemuk. Perlindungan korosi dilakukan dengan galvanisasi dan atau pengecatan.

(6)

6. Pabrikasi S 7.4.3

Periksa semua elemen yang dirakit harus cocok dan tepat dalam toleransi yang disyaratkan.

Periksa sambungan dengan baut harus dilengkapi dengan pelat paking.

Celah tidak melampaui 1 mm untuk baut geser tegangan tinggi dan 2 mm untuk jenis lainnya.

Periksa pemotongan harus dilaksanakan secara akurat dan perhatikan keakuratan ukuran.

Persyaratan

(7)

Toleransi

Persyaratan Bahan

(8)

Sifat Mekanis Baja Struktural

Sertifikat

(9)

Persyaratan Kerja

Pelaksanaan

(10)

Baut Geser Mutu Tinggi

Pengangkutan dan

Perakitan

(11)

Pemasangan Jembatan Baja

Penyelesaian

Jembatan Baja

(12)

Pengendalian Mutu

Pengendalian Mutu

(13)

Pengendalian Mutu

Pengukuran dan

Pembayaran

(14)

Pengendalian Mutu Baja

a. Mill Certificate dari Pabrik b. Uji kimia

(15)

Pengendalian Mutu Bahan Baja

c. Uji tarik dan bending

SNI 07-0408-1989 Cara uji tarik logam, diperbaiki : SNI 8389-2017 SNI 07-0371-1998 Batang uji tarik untuk bahan logam

SNI 07-0308-1989 Baja karbon, Cara uji komposisi kimia SNI 07-0372-1989 Batang uji lengkung untuk bahan logam SNI 07-0410-2017 Cara uji lengkung tekan logam

Pengendalian Mutu Bahan Baja

c. Uji tarik dan bending

(16)

Pengendalian Mutu Bahan Baja c. Uji tarik dan bending

Pengendalian Mutu Baja

Cacat pada baja

Cacat permukaan dapat berupa kerak, karat, goresan, cungkilan, lubang, dan sobekan

Cacat permukaan bisa disebabkan karena inclusion dan ketidakbersihan pada material tuang atau bahan baku (ingot)

Selain itu cacat permukaan juga bisa diakibatkan karena kondisi sejenis yang berkaitan dengan persiapan material dan proses pengerolan

Cacat akibat pengeroran:

(17)

Pengendalian Mutu Baja

Wavy Edge

Wavy edge atau edge wrinkling terjadi karena rol yang melengkung. Rol yang melengkung menyebabkan plat menjadi lebih tipis pada bagian tepinya. Bagian tepi plat yang lebih tipis akan bertambah panjang, sedangkan bagian tengah plat yang masih tebal tidak akan bertambah panjang. Konsekuensinya bagian yang tipis pada plat akan melengkung akibat keinginannya bertambah panjang terhalang oleh bagian tebal yang tidak bertambah panjang

Pengendalian Mutu Baja

Pengukuran ketebalan pelat a. Jangka sorong

b. Mikrometer

(18)

Pengendalian Mutu Baja

Pengukuran ketebalan pelat c. Ultrasonik

(19)

 Sambungan baut

 Sambungan Las Sambungan pada Baja

Periksa lubang untuk baut sbb:

a. Lubang untuk baut tidak terbenam (countersunk) dan baut hitam, baut silinder (turned barrel bolt) dan baut geser tegangan tinggi.

Diameter lubang tidak boleh lebih besar 2 mm dari diameter paku keling atau baut.

Semua lubang harus dibor atau dibor kecil dahulu kemudian diperbesar.

b. Lubang untuk baut pas dan baut geser

- Diameter lubang harus sama dengan diameter nominal baut batang (shank) atau silinder (barrel), toleransi-0,0 mm, dan + 0,15 mm.

(20)

c. Lubang untuk baut geser tegangan tinggi

Baut diameter sampai 16 mm, diameter lubang 1 mm lebih besar dari diameter nominal baut.

Baut diameter diatas 16 mm, diameter lubang 1,5 mm lebih besar dari diameter nominal.

Jarak dari pusat lubang sampai tepi pelat sebagai berikut:

Pelat hasil pemotongan cara geser harus minimum 1,7 diameter nominal baut.

Pelat yang di rol atau dipotong dengan las minimum 1,5 diameter nominal baut.

d. Pengaku

Pengaku ujung pada gelagar sebagai penunjang beban terpusat harus mempunyai bidang kontak sepenuhnya pada flens.

Pengaku yang tidak menunjang beban terpusat dipasang dengan cukup rapat untuk menahan air setelah digalvanisasi.

Perakitan di Bengkel

Bila diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan, unit-unit harus dirakit di bengkel sebelum dikirim ke lapangan.

Sambungan dengan Baut Standar (Selain Baut Geser Tegangan Tinggi)

Baut yang tidak dikencangkan terhadap beban percobaan (proof load) harus mempunyai mur tunggal yang dapat mengunci sendiri.

Panjang baut sedemikian hingga seluruh mur dapat dimasukkan kedalam baut tetapi maksimum sepanjang 6 mm di luar mur. Baut dimasukkan ke dalam lubang tanpa adanya kerusakan pada uliran dengan menggunakan

"snap" untuk mencegah kerusakan kepala baut. Kepala baut dan mur dikencangkan sampai rapat.

7. Perakitan untuk Pengiriman

(21)

• Baut Geser Tegangan Tinggi.

Kelandaian permukaan bidang kontak dengan kepala baut dan mur tidak boleh melebihi 1 : 20.

Semua permukaan yang akan disambung harus bebas kerak kecuali kerak pabrik yang keras.

Peralatan yang digunakan untuk pengencangan baut harus dikalibrasi secara teratur dan dibuktikan dengan sertifikat kalibrasi.

Pengencangan dilaksanakan dengan cara putar separuh maupun dengan cara pengendalian dengan torsi sesuai dengan manual pengencangan baut.

• Kekencangan Baut.

Gaya Tarik Baut Minimum Sesuai tabel berikut:

Diameter Nominal Baut (mm)

Gaya Tarik Minimum

(kN)

16 95

20 145

24 210

30 335

36 400

Gaya Tarik Baut

Minimum

(22)
(23)

Structural Bolting

(24)

JENIS-JENIS BAUT

Carbon steel bolt – Kekuatan normal (A307)

Baut biasa

Kekuatan rendah, beban rendah / shear connector

High Strength Bolt – A325, A325m, A490, A490M

Memerlukan pemanasan untuk kekuatan yang tinggi

Tahanan geser lebih tinggi

Digunakan sebagai baut tipe geser

Dapat digunakan dengan atau tanpa ring (washer)

Bolt function

Snug tight bolts – diizinkan adanya slip

Pre-tensioned bolt – slip critical

BAUT UNTUK JEMBATAN

(25)

Prinsip Sambungan Slip

(26)

d=diameter bolt M10 , d=10 P=pitch from table M10, p=1,5

(27)
(28)

Kesalahan pemasangan baut

Pemasangan baut terbalik

Pelaksanaan pengencangan sulit

Pelat tidak dibersihkan dan dikasarkan

Fungsi friction tidak tercapai

Baut dilepas dan dipasang dengan betul

Apabila baut belum dikencangkan 100%, lepaskan dan bersihkan pelat serta dikasarkan dan pasang baut kembali

Dipaksa dengan menggunakan palu/ martil

Baut akan rusak

Lubang baut menjadi cacat

Ganti baut dan periksa kembali secara keseluruhan

Baut yang rusak diganti

Kesalahan Baut dan Mur

Baut dan mur kotor

Baut dan mur tidak mengandung pelumas MoS2

Sulit dalam pelaksanaan pengancangan

Kekencangan 100% tidak akan tercapai

Bersihkan baut dan mur sebelum digunakan

Periksa baut dan mur apakah mengandung pelumas MoS2

Jangan menggunakan pelumas sembarangan, karena dapat mempe-ngaruhi friction yang harus terjadi

(29)

Kekencangan Baut

Baut belum dikencang-kan 100%

sudah dimulai pekerjaan pengecoran

Camber tidak tercapai

Pengencangan selanjut-nya menjadi sulit

Gaya friction tidak akan tercapai

Sebelum dilakukan pembesian, periksa kekencangan baut dan kencangkan baut hingga 100%

Beton baru dicor setelah semua baut berada dalam kondisi kekencangan 100%

Kunci Torsi

Penggunaan kunci torsi momen salah, gaya yang harus dicapai tidak sesuai

Alat kunci torsi momen tidak akurat

Kekencangan tidak ter-capai

Baut menjadi longgar atau patah karena gaya yang berlebih

Kunci torsi momen dikalibrasi

Periksa alatpengukur sampai menunjukkan angka sesuai dengan kekencangan yang dikehendaki

Baut yang patah/rusak diganti

(30)

Manual Pemasangn

Tidak dibaca dengan baik

Salah pemasangan komponen

Salah pengencangan baut

Jembatan tidak berfungsi dengan baik

Sebelum pemasangan, manual harus dibaca

Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah kekencangan baut, camber yang harus terjadi, waktu

pemasangan landasan, waktu pengecoran beton

Kesalahan pada sambungan baut

(31)

Kontraktor harus menyerahkan secara tertulis prosedur pengelasan baik di bengkel maupun di lapangan, termasuk keterangan tentang persiapan permukaan-permukaan yang akan disambung.

Pada sambungan dengan pengelasan harus

digunakan pelat penyambung "run - on" dan "run - off" pada bagian ujung elemen.

PENGELASAN

Structural Welding

http://pojok-

welder.blogspot.com/2017/04/pemeriksaan -dan-pengujian-las.html

(32)

Tipe Sambungan Las

1. Butt Joint

(33)

2. Tee Joint

T Joint adalah jenis sambungan yang berbentuk seperti huruf T, tipe sambungan ini banyak diaplikasikan untuk pembutan kontruksi atap, konveyor dan jenis konstruksi lainnya. Untuk tipe groove juga terkadang digunakan untuk sambungan fillet adalah double bevel, namun hal tersebut sangat jarang kecuali pelat atau materialnya sangat tebal.

Sambungan Tee ini banyak yang menyebutnya dengan sambungan fillet, padahal dalam pengelasan fillet merupakan jenis pengelasan. Yang termasuk

pengelasan fillet atau fillet weld adalah sambungan Tee, Lap dan Corner. Sehingga mulai sekarang perlu diperbaiki tentang penyebutan ini

3. Corner Joint

Corner Joint mempunyai desain sambungan yang hampir sama dengan T Joint, namun yang membedakannya adalah letak dari materialnya. Pada sambungan ini materialnya yang disambung adalah bagian ujung dengan ujung. Ada dua jenis corner joint, yaitu close dan open.

Sambungan Close corner adalah jika material 1 ditumpuk pada atas material 2, sedangan open corner adalah sambunga plat yang saling bertemu pada bagian ujung. Untuk detailnya silahkan lihat pada gambar di atas.

(34)

4. Lap Joint

Tipe sambungan las yang sering digunakan untuk pengelasan spot atau seam. Karena materialnya ini ditumpuk atau disusun sehingga sering digunakan untuk aplikasi pada bagian body kereta dan cenderung untuk plat plat tipis. Jika menggunakan proses las SMAW, GMAW atau FCAW

pengelasannya sama dengan pengelasan fillet.

5. Edge Joint

(35)

Jenis-jenis kampuh

Kampuh las merupakan bentuk potongan plat yang akan disambung. Tujuan pembuatan kampuh pengelasan ini untuk mendapatkan penetrasi atau penembusan yang dalam dari hasil pengelasan. Kampuh ini dibuat atau diaplikasikan pada material yang tebal, rata rata yang menggunakan kampuh v adalah material yang lebih tebal dari 8 mm, berikut ini jenis jenis kampuh Las :

•Square atau I.

•Kampuh V.

•Double V atau X.

•Bevel.

•Double Bevel.

•Kampuh J.

•Double J

•Kampuh U.

•Double U.

•Flare Bevel.

•Flare V.

Macam macamposisi pengelasanpada pelat dan Pipa– Posisi Pengelasan adalah jenis atau posisi sambungan yang akan dilakukan pengelasan, posisi pengelasan ini dilakukan berdasarkan material atau produk yang akan dilas. Dalam teknologi pengelasan, semua itu ada pengkodeannya berdasarkan jenis sambungan. Untuk sambungan fillet maka disimbolkan dengan posisi 1F, 2F, 3F dan 4F, sedangkan untuk sambungan groove atau bevel maka disimbolkan dengan 1G, 2G, 3G dan 4G.

Posisi Pengelasan

Jenis jenis Posisi pengelasanpada pipa pun juga berbeda, untuk Pipa biasanya menggunakan jenis sambungan groove oleh karena itu pada Pipa disimbolkan dengan 1G, 2G, 5G dan 6G. Namun pada Pipa juga terkadang disambung dengan plate. Untuk Anda yang ingin mengetahui jenis jenis sambunganpengelasan, berikut ini detailnya.

(36)

Posisi Pengelasan

Posisi Pengelasan Sambungan V

Posisi Pengelasan Sambungan T atau Fillet Weld

Posisi Pengelasan

Posisi Pengelasan Sambungan Pipa

Posisi Pengelasan Sambungan Fillet Weld Pada Pipa

(37)

Fillet Full penetration single bevel groove weld

Partial penetration single bevel groove weld Plug penetration Full

double vee groove weld

Partial penetration single J groove

weld

• Tipe las tergantung pada konfigurasi las danpendekatandesainnya.

• Las Fillet dan las groove merupakan jenis las yang umum

• Las Groove dibagi dalam 2 kategori

Full penetration – semua bagian cross-section dilas

Partial penetration – hanya sebagian dari cross-section yang dilas (AISC)

Welding Terminology

PENGELASAN

(38)
(39)
(40)

• Dye penetrant testing locates minute surface cracks and porosity

• Dye types that may be used include:

Color contrast dye - which shows up under ordinary light

Fluorescent dye – which shows up under black light

• The dye is normally applied by spraying it directly on the weld (AISC & NISD 2000)

Dye Penetrant Test

• Ultrasonic inspection can be used to detect flaws inside welds

• High frequency sound waves are directed into the metal with a probe held at a specific angle

• The flaws reflect some energy back to the probe

• Flaws show up as indications on a screen (above) and are subject to interpretation by an inspector

(AISC & NISD 2000)

Ultrasonic Inspection

(41)

Pemeriksaan mutu las Ultrasonic Pulse Velocity

Pemeriksaan Mutu Las

(42)
(43)

Jenis Cacat Las

1. Under Cut

Undercut adalah cacat las yang berada di bagian permukaan atau akar, bentuk cacat ini seperti cerukan yang terjadi pada logam induk. Jenis cacat

pengelasan ini dapat terjadi pada semua sambungan las, baik fillet, butt, lap, corner dan edge joint

Penyebab:

Arus terlalu besar

Kecepatan pengelasan terlalu tinggi

Panjang busur las terlalu tinggi

Posisi elektroda kurang tepat

Ayunan tangan kurang merata, waktu ayunan saat disamping terlalu cepat

Pencegahan:

Sesuaikan arus pengelasan, lihat rekomendasi ampere pada bungkus elektroda

Kecepatan las diturunkan

Panjang busur diperpendek (1.5 x diameter elektroda)

Sudut kemiringan 70 – 80 derajat

Sering berlatih utk mengayunkan elektroda

Jenis Cacat Las

2. Porositas

Cacat Porositas adalah cacat pengelasan yang berupa lubang lubang kecil pada weld metal (logam las), dapat berada pada permukaan maupun didalamnya. Porosity ini mempunyai beberapa tipe yaitu Cluster Porosity, Blow Hole dan Gas Pore

Penyebab:

Elektroda terlalu lembab

Busur las terlalu panjang

Arus pengelasan terlalu rendah

Kecepatan las terlalu tinggi

Adanya pengotor pada benda kerja (karat, minyak dll)

Tercipta gas hydrogen karena panas las

Pencegahan:

Pastikan kawat las (elektroda) kondisi kering (sudah di oven)

Atur tinggi busur +/- 1.5 diameter

Arus disesuaikan dengan rekomendasi pabrik.

Pastikan tidak ada pengotor pada benda kerja

(44)

Jenis Cacat Las

3. Slag Inclusi

Slag Inclusion adalah cacat pada daerah dalam hasil lasan. Cacat ini berupa slag (flux yang mencair) yang berada dalam lasan, yang sering terjadi pada daerah awal dan berhentinya proses pengelasan. Untuk melihat cacat ini kita harus melakukan pengujian radiografi atau bending.

Penyebab:

Pembersihan slag kurang, sehingga tertumpuk oleh lasan

Arus terlalu rendah

Busur las terlalu jauh

Sudut pengelasan salah

Sudut kampuh terlalu kecil

Pencegahan:

Pastikan lasan benar-benar bersih dari slag sebelum mengelas ulang

Kuat arus disesuaikan dengan prosedur

Busur las disesuikan

Sudut las disesuikan

Sudut kampuh lebih dibesarkan (50 – 70 derajat)

Jenis Cacat Las

4. Tungsten Inclusi

Tungsten Inclusion adalah cacat pengelasan yang diakibatkan oleh mencairnya tungsten pada saat pengelasan yang kemudian melebur menjadi satu dengan weld metal, cacat ini hampir sama dengan slag inclusion namun saat diuji radiografi tungsten inclusion berwana sangat terang (berat jenisnya lebih besar dibanding logam lasnya). Untuk jenis cacat las ini hanya terjadi pada proses pengelasan GTAW

Penyebab:

Tungsten sudah tumpul saat pengelasan

Jarak tungsten terlalu dekat

Arus terlalu tinggi

Pencegahan:

Tungsten harus diruncingkan sebelum pengelasan

Jarak harus disesuaikan

Arus mengikuti prosedur

(45)

Jenis Cacat Las

5. Incomplete Penetration

Incomplete Penetration (IP) adalah sebuah cacat pengelasan yang terjadi pada daerah root atau akar las, sebuah pengelasan dikatakan IP jika

pengelasan pada daerah root tidak tembus atau reinforcemen pada akar las berbentuk cekung.

Penyebab:

Kecepatan pengelasan terlalu tinggi

Jarak gap terlalu lebar

Jarak elektroda terlalu tinggi

Sudut elektroda salah

Arus las terlalu kecil

Pencegahan:

Kecepatan las disesuaikan dengan WPS

Standar gap atau root opening 2-4 mm

Standar jarak elektroda 1.5 x diamtert

Arus disesuakan dengan WPS

Jenis Cacat Las

6. Incomplete Fusion

Cacat Incomplete Fusion adalah sebuah hasil pengelasan yang tidak dikehendaki karena

ketidaksempurnaan proses

penyambungan antara logam las dan logam induk. Cacat ini biasanya terjadi pada bagian samping lasan

Penyebab:

Posisi sudut kawat las salah

Arus terlalu rendah

Sudut kampuh terlalu kecil

Permukaan kampuh terdapat kotoran

Kecepatan pengelasan terlalu tinggi

Pencegahan:

Perbaiki sudut elektroda

Arus disesuaikan dengan WPS atau rekomendasi

Sudut kampuh sesuai dengan WPS

Bersihkan semua kotoran

Mengatur kecepatan las yang sesuai

(46)

Jenis Cacat Las

7. Over Spatter

Spatter adalah percikan las, sebenarnya jika spater dapat dibersihkan maka tidak termasuk cacat. Namun jika jumlahnya berlebih dan tidak dapat

dibersihkan maka dikategorikan dalam cacat visual.

Penyebab:

Arus terlalu tinggi

Jarak elektroda terlalu jauh

Elektroda lembab

Pencegahan:

Arus disesuikan dengan rekomendasi atau WPS

Panjang busur disesuaikan

Elektroda dijaga tetap kering (di oven)

Jenis Cacat Las

8. Hot Crack

Penyebab:

Pemilihan elektroda yang salah

Tidak melakukan perlakuan panas

Pencegahan:

Menggunakan elektroda yang sesuai WPS

Melakukan perlakuan panas (PWHT dan Preheat)

Hot Crack (retak panas) adalah sebuah retak pada pengelasan dimana retak itu terjadi setelah proses pengelasan selesai atau saat proses pemadatan logam lasan

(47)

Jenis Cacat Las

9. Cold Crack

Cold Cracking (retak dingin) adalah sebuah retak yang terjadi pada daerah lasan setelah beberapa waktu (memerlukan waktu, bisa 1 menit, 1 jam, atau 1 hari) proses pengelasan selesai. Biasanya untuk mengecek adanya crack dilakukan uji tidak merusak yaitu dengan ujiPenetrant Testatau Magnetic Test

Penyebab:

Retak dingan pada bahan las

Cooling rate terlalu cepat

Arus pengelasan terlalu rendah

Kecepatan las terlalu tinggi

Tidak dilakukan pemanasan awal (pre heat)

Pencegahan:

Perlambat pendinginan setelah pengelasan

Panas yang diterima sesuai WPS

Gunakan arus sesuai rekomendasi

Kecepatan las disesuaikan

Lakukan pre heat

Jenis Cacat Las

10. Distorsi

Pengertian distorsi padapengelasan

adalahsebuah perubahan bentuk material yang diakibatkan panas yang berlebih saat proses pengelasan berlangsung. Distorsi ini terjadi saat proses pendinginan, karena adanya panas yang berlebih maka material dapat mengalami penyusutan atau pengembangan sehingga akan tarik menarik dan membuat material tersebut melengkung

Penyebab:

Panas berlebih

Arus terlalu tinggi

Take weld (las ikat) kurang kuat

Persiapan pengelasan yang salah

Pencegahan:

Arus disesuaikan dengan WPS

Take weld ditambah atau memberikan stopper (penguat pada logam induk)

Persiapan pengelasan yang benar

(48)

Jenis Cacat Las

11. Arc Strike

Arc Strike adalah cacat las yang diakibatkan menempelnya ujung kawat las kedaerah logam las atau base metal secara singkat, biasanya hal ini tidak disengaja oleh tukang las. Cacat las Arc Strike ini sangat berbahaya bagi kekuatan logam, karena dapat mengurangi nilai ketangguhan dan kekuatan logam lasan tersebut.

Berkurangnya kekuatan dan ketangguhan dikarenakan material tersebut mengalami laju pendingan yang cepat, terdapat daerah HAZ dan juga berkurang ketebalan material.

Meskipun begitu masih banyak tukang las atau welder yang masih belum

memperhatikan akan dampak buruk adanya arc strikes

Jenis Cacat Las

12. Underfill

Cacat yang terjadi pada permukaan, pada permukaan lasan pengisian masih kurang sehingga permukaan benda kerja lebih tinggi dari daerah lasan atau kampuh las. Untuk mengatasinya dilakukan proses pengelasan lagi pada area tersebut atau diratakan semua daerah las dan dilakukan pengelasan secara menyeluruh agar ketinggian sama.

(49)

Jenis Cacat Las

13. Lack of inter run fusion

Cacat Las yang tidak fusi di antar layer atau pass weld metal, cacat ini terjadi dapat dikarenakan arus yang terlalu rendah, sudut elektroda yang tidak tepat dan pengelasan terlalu cepat

Jenis Cacat Las

14. Misalignment

Ketinggian antara plat yang dijoint berbeda atau tidak rata. Hal ini disebabkan karena persiapan pengelasan yang tidak tepat. Untuk

mengatasinya material dipotong dan dipersiapkan kembali secara benar, jika tidak diperbolehkan maka daerah lasan digerinda sampai habis dan pelat dilakukan setting ulang

(50)

Jenis Cacat Las

15. Excessive root penetration

Hasil pengelasan pada daerah akar las terlalu tinggi, maksimal ketinggian akar las adalah 2 mm dan minimum rata atau 0. Penyebabnya dapat karena gap terlalu lebar, arus pengelasan terlalu tinggi dan root face terlalu tipis

Jenis Cacat Las

16. Overlap

Overlap dapat terjadi pada permukaan dan akar las, cacat ini terjadi jika hasil lasan lebarnya melebihi dari kampuh las dan pada ujungnya tidak fusi dengan logam induk. Penyebab Overlap dikarenakan gerakan pengelasan yang salah yaitu terlalu melebar.

Jenis jenis cacat pengelasan dan penyebabnya di atas dapat terjadi pada las listrik (SMAW), GMAW, GTAW, SAW, FCAW, OAW. Namun untuk tungsten inclusion hanya terjadi pada GTAW, karena hanya pengelasan tersebut yang menggunakan logam tungsten.

(51)

Periksa program dan metoda serta prosedur pengelasan di pabrik dan lapangan terutama penyiapan permukaan yang disambung,

Periksa bagian pabrikasi yang dirakit harus tepat sesuai toleransi.

Pastikan baja struktural selama pengiriman tidak boleh mendapat beban, yang menimbulkan tegangan yang berlebihan, melengkung atau kerusakan lainnya.

Pastikan semua bagian dirakit secara akurat seperti diperlihatkan dalam gambar.

8. Pengecekan

Pelaksanaan pengecatan sesuai dengan Pedoman Teknik No.

028/T/BM/1999 (Pedoman Penanggulangan Korosi Komponen Baja Jembatan dengan cara Pengecatan).

SE Menteri No: 26/SE/M/2015 tentang Pedoman Perlindungan Komponen Baja Jembatan dengan Cara Pengecatan

Semua komponen struktur baja termasuk komponen Gelagar Baja Komposit, termasuk balok, pelat, baut, ring, diafragma dan sejenisnya hams digalvanisasi dengan sistem pencelupan panas sesuai dengan AASHTO M 111 M-04 atau ASTM A 123 M-02

9. Pengecatan dan Galvanisasi

diperkirakan laju korosi lapis seng galvanis sebagai berikut : lokasi pantai 5,5 UM/tahun. Lokasi industri 7,0 UM/tahun dan lokasi gunung dekat berapi 7,5 UM/tahun.

(52)

SE Menteri No: 26/SE/M/2015 tentang Pedoman Perlindungan Komponen Baja Jembatan dengan Cara Pengecatan

Persiapan Pengecatan

85 % kegagalan pengecatan akibat persiapan permukaan yang tidak baik.

Peningkatan pengetahuan dan pelatihan bagi blaster dan painter.

https://www.steelconstruction.info/Surface_preparation

https://galvanizeit.org/knowledgebase/article/sspc-surface-preparation-standards

https://www.thefabricator.com/thefabricator/article/cuttingweldprep/preparing- structural-steel-surfaces-for-painting-coating-standards

(53)

1. Kegagalan pengecatan umumnya disebabkan oleh jeleknya :

Persiapan permukaan pada baja.

Pembersihan.

Penggunaan lapisan cat

Akses tempat pengecatan

Ventilasi

Pemilihan pengecatan

Inspeksi dan pengawasan

2. Hasil penyelidikan perusahaan asuransi menyebutkan bahwa:

95% semua kegagalan pengecatan diakibatkan oleh

Persiapan permukaan yang jelek

Pelaksanaan pengecatan yang jelek

85% kegagalan akan terlihat dalam waktu 1-2 tahun.

Persiapan Pengecatan

Persiapan Pengecatan

Sudut dan Percikan Las

(54)
(55)
(56)
(57)
(58)
(59)
(60)
(61)

Kegagalan Pengecatan

a. Blister (gelembung)

Penyebab:

Uap solvent pada lapisan bawah terjebak oleh lapisan atasnya.

Uap air (lembab) pada lapisan bawah.

Pencegahan:

Permukaan yang akan dicat harus kering sempurna.

Selang waktu antara setiap lapisan cat cukup lama.

Usahakan lapisan cat tipis agar pengeringan lebih sempurna.

Hindari pengecatan pada cuaca buruk (hujan, mendung atau lembab)

Perbaikan:

Jika gelembung banyak, maka dikerok seluruhnya, bersihkan permukaan, dan beri lapisan dasar (jika perlu) sebelum dilapisi cat akhir

Jika gelembung sedikit, perbaikan pada bagian yang rusak

Kegagalan Pengecatan

b. Flaking/Mengelupas

Penyebab:

Jenis cat yang bersifat keras, sehingga tidak bisa mengikuti pergerakan.

Pengecatan diatas lapisan cat yang sudah mengapur, sehingga daya lekat kurang.

Permukaan kotor

Menggunakan dempul kualitas rendah

Lapisan cat lama bermutu rendah

Cat dasar tidak cocok dengan cat lapisan akhir

Pencegahan:

Permukaan yang akan dicat harus bersih dan kering.

Kerok lapisan cat lama yang sudah rusak atau bermutu rendah

Gunakan cat dasar yang dianjurkan untuk system pengecatan yang digunakan.

(62)

Kegagalan Pengecatan

c. Sagging (lapisan cat menurun)

Penyebab:

Pengecatan yang tidak merata.

Pencegahan:

Pengecatan dengan ketebalan merata.

Selang waktu pengecatan cukup lama.

Pengecatan tidak langsung tebal (tipis – tipis).

Kegagalan Pengecatan

d. Brush Mark (Garis bekas kuas)

Penyebab:

Cat mengalir tidak rata setelah dilapiskan, Teknik pengecatan tidak benar.

Pengenceran yang kurang

Kuas dijalankan terus pada saat lapisan cat sudah mulai mongering

Menggunakan kuas yang kotor atau bulu-bulunya telah menggumpal

Pencegahan:

Lakukan pengenceran yang benar dan gunakan pengencer yang sesuai.

Lapiskan cat dengan cepat tetapi merata. Jangan melapis ulang pada lapisan cat yang mulai mongering.

Pakai kuas yang bermutu baik dan bersih.

(63)

Kegagalan Pengecatan

g. Cracking ( Lapisan retak-retak)

Penyebab:

Lapisan cat sudah tua

Pengecatan dilakukan pada cat dasar yang masih belum kering

Pencegahan

Lapisan cat harus kering betul sebelum diberi lapisan berikutnya.

https://tukangcatduco.wordpress.com/2012/08/13/35/

Wet Film (WFT)

Pengujian Cat

Dry Film (DFT) Pull out test

(64)

Galvanisasi

SNI 07-7033-2004 : GGalvanisasi(hot dip galvanized) pada besi dan baja fabrikasi – Spesifikasi dan Metoda Pengujian

Permukaan hasil pelapisan galvanis harus bebas dari gelembung, kekasaran dan jaruman (jika menyebabkan luka) dan lokasi yang tak terlapisi

Permukaan galvanis yang abu-abu gelap atau tidak rata warnanya, tidak harus menjadi produk tersebut ditolak.

Sisa flux, gumpalan dan abu seng tidak diijinkan, karena dapat mempengaruhi ketahanan karat.

Produk yang gagal dalam inspeksi visual harus digalvanis ulang

(65)

Pastikan setiap elemen dicat atau ditandai untuk identifikasi dan disertai suatu diagram pemasangan atau manual pemasangan dengan tanda- tanda pemasangan yang ditunjukkan di dalamnya.

Kendalikan agar elemen-elemen dapat diangkut dan dibongkar di tempat tujuannya tanpa mengalami tegangan, deformasi, atau kerusakan lainnya.

Pastikan baut, mur dan ring harus dikemas terpisah. Pen (pin), bagian- bagian yang kecil, dan paket baut, ring dan mur hams dikirim dalam kotak, krat atau tong, berat setiap kemasan tidak melebihi 150 kg.

10. Pengangkutan (S 7.4.4)

(66)

Pastikan Kontraktor menyediakan perkakas dan perancah yang diperlukan untuk penanganan termasuk pengaku sementara, semua perkakas, mesin, dan peralatan termasuk pasak pengungkit (drift) dan baut penyetel.

Periksa perancah dan pengaku sementara harus dirancang, dibuat dan dipelihara agar dalam tahap pemasangan berfungsi dan dapat menahan semua gaya dan beban struktur baja.

11. Peralatan dan Perancah (S 7.4.4)

Kendalikan perakitan pekerjaan baja sbb:

Komponen yang difabrikasi oleh Penyedia Jasa.

Setiap bagian harus dirakit dengan akurat sesuai Gambar dan manual pemasangan serta mengikuti semua tanda yang telah diberikan. Pada komponen struktur baja yang akan dipasang dengan cara kantilever, pastikan semua komponen struktur baja sudah tersedia dan dipasang dengan seksama sehingga didapat lendutan balik (camber) sesuai dengan desain atau manual pemasangan.

12. Perakitan Pekerjaan Baja (S 7.4.4)

(67)

Bila penyambungan atau perakitan pada titik

buhul telah selesai, baut pada titik bahul tersebut harus dikencangkan 100% kekencangan yang disyaratkan.

Baut permanen untuk sambungan elemen-elemen tekan tidak boleh dikencangkan sampai seluruh bentangan berayun.

Sambungan (splices) dan penyambungan di lapangan (field connections) harus setengah jumlah lubang yang diisi dengan baut dan pen (pin) silindris untuk pemasangan (setengah baut dan setengah pin) sebelum dibaut dengan baut tegangan tinggi

Sambungan dan penyambung yang akan dilewati lalu-lintas selama pemasangan, lubang baut telah terisi % - nya.

Komponen yang disediakan Pengguna Jasa.

Komponen yang disediakan Pengguna Jasa dipasang sesuai dengan buku petunjuk dan Gambar yang disediakan pabrik pembuatnya.

(68)

Pemasangan dengan Perancah

Perancah kurang kuat

Perancah menghalangi alur sungai

Pada waktu pemasangan dapat terjadi kerun-tuhan

Atau terjadi pada waktu pengecoran beton terja-di penurunan

Jembatan hanyut pada waktu banjir

Pembuatan perancah jangan menghalangi alur sungai

Hitung kekuatan perancah untuk beban yang harus dipikul

Perancah kurang kuat, bongkar dan pasang kembali

Pemasangan dengan Kantilever

Baut tidak dikencangkan 100%

pada waktu pemasangan komponen per panel

Camber tidak tercapai

Elevasi ujung jembatan tidak tercapai

Baut dikencangkan 100% pada waktu setiap panel selesai

Jika camber tidak tercapai dan elevasi ujung tidak tercapai, dongkrak jembatan dan tinggikan bagian linking steel

Elevasi landasan di seberang dipendekkan/ disesuaikan

(69)
(70)
(71)

Periksa hal-hal sbb:

Potong secara tepat, hati-hati dan rapi, semua sudut tidak tajam

Semua lubang paku atau baut dibor lebih besar dari diameter paku atau baut

Prosedur pengelasan sesuai prosedur yang sudah disetujui. Permukaan yang akan dilas harus bersih dari kotoran berminyak

Baut dipasang tepat tanpa merusak alir

Semua permukaan baja dicat sesuai spesifikasi

Semua komponen baja galvanis panas sesuai spesifikasi

Tiap baja struktural dicat atau dilindungi selama pemasangan

Semua pekerjaan tidak boleh keluar dan toleransi

13. Cek

Periksa pekerjaan baja yang rusak selama penyimpanan, penanganan dan pemasangan harus diperbaiki.

Periksa komponen struktur jembatan yang tidak dirakit dan/

atau dipasang sesuai ketentuan Spesifikasi harus diperbaiki.

14. Perbaikan Hasil Pekerjaan (S 7.4.1)

(72)

 Kuantitas baja struktur yang akan diukur untuk

pembayaran sebagai jumlah dalam kilogram pekerjaan yang telah selesai di tempat dan diterima.

15. Pengukuran Hasil Pekerjaan (S 7.4.5)

Pembayaran sesuai Pengukuran Hasil Pekerjaan untuk mata pembayaran sesuai Daftar Kuantitas dan Harga dalam Kontrak.

16. Pembayaran

(73)

THANK YOU !

Untuk lebih jelas :

• Email : [email protected]

Referensi

Dokumen terkait

17 daerah lasan dalam jumlah yang melebihi syarat batas, penyebab lain adalah penggunaan kawat las basah, sehingga dapat menimbulkan porosity , masih adanya bekas cat,

Melihat sebab-sebab yang mempengaruhi nilai kekerasan pada sambungan (lasan) penelitian ini akan memvariasikan bentuk kampuh dan kuat arus pada proses pengelasan menggunakan

Unsur Si bersama unsur yang lainya juga memiliki peranan untuk berkontribusi agar logam cair lebih mudah mengalir mengisi daerah kampuh las sehingga cacat las berupa

Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh variasi sudut kampuh terhadap cacat las pada hasil pengelasan dengan melalui uji visual, mengetahui pengaruh

2 Proses pengelasan menggunakan las argon dengan arus : - 60 Ampere - 80 Ampere - 100 Ampere 3 Sambungan Menggunakan Jarum las 2,04 mm dan kawat las Stainless Steel ukuran 2,04 mm

Analisis dampak variasi sudut kampuh single V dan variasi posisi las dengan sambungan MIG pada aluminium 6061 terhadap kekuatan impak sebagai material

Penelitian pengaruh variasi kuat arus listrik dan jenis kampuh las SMAW terhadap kekerasan hasil lasan dan strukturmakro pada material Stainless Steel AISI 304 diperoleh nilai kekerasan

21 Proses ini mengunakan mesin las MAG Arc Welding mahineng dengan ampre 26,8 ,tegangan 072 volt, open CO2 7 L/Min dan ukuran kawat las 0,8 mm sedangkan kampuh dan posisi pengelasan