PENGAWASAN PEKERJAAN BAJA
Bandung, 22 Agustus 2020
Pengertian Pengawasan Pekerjaan Jembatan
• Untuk pengendalian pelaksanaan pekerjaan di lapangan dan penjaminan pelaksanaan pekerjaan tersebut sesuai dengan spesifikasi teknik yang telah ditetapkan di dalam kontrak jasa konstruksi
• Pengawas/Supervisi juga berperan membantu Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) didalam melaksanakan administrasi teknis pekerjaan pada lokasi kegiatan yang sedang berlangsung.
Acuan : Spesifikasi Jalan 2018
Dalam Pengawasan, yang perlu disiapkan : - Instruksi Kerja Lapangan
- Lembar Monitoring Penerimaan Material - Lembar Pemeriksaan Pekerjaan
- Lembar Pemeriksaan Pengujian - Buku Komunikasi
- Daftar Simak
- Pekerjaan dapat dimulai setelah Request-nya diterima oleh Direksi Teknis.
- Direksi Teknis akan melakukan aktivitas pengawasan mulai dari pengendalian mutu bahan, proses pengolahan bahan, prosedur kerja sampai hasil pekerjaan terlaksana sesuai ketentuan.
Team Supervisi akan membantu dan mengarahkan Penyedia Jasa agar : - Pekerjaan selesai tepat waktu (Pengendalian Waktu).
- Pekerjaan selesai tepat biaya (Pengendalian Biaya).
- Pekerjaan selesai dengan hasil sesuai yang disyaratkan (Pengendalian Mutu) - Pelaksanaan pekerjaan tidak mengganggu kelancaran arus lalu-lintas
(Pengaturan Lalu Lintas).
- Pekerjaan dilaksanakan dengan mengutamakan keselamatan kerja (SMK3L)
PENGAWASAN PEKERJAAN BAJA STRUKTUR (7.4)
1. Persiapan
–
Periksa persiapan pelaksanaan pekerjaan meliputi :
penyediaan, fabrikasi, galvanisasi, dan pengecatan
logam struktur serta peralatan.
2. Gambar Kerja
–
Kendalikan Kontraktor mengajukan gambar kerja,
laporan pengujian fisik, program dan metode
pelaksanaan.
3. Pengajuan Kesiapan Kerja S 7.4.1
– Pastikan Kontraktor menyerahkan laporan pengujian pabrik yang menunjukkan kadar bahan kimia dan pengujian fisik untuk setiap mutu baja yang akan digunakan. Bila laporan pengujian ini tidak tersedia, Kontraktor harus melaksanakan pengujian sebagai pengganti sertifikat pabrik.
– Pastikan Kontraktor menyerahkan 3 (tiga) salinan Gambar kerja terinci untuk disetujui Pengawas Pekerjaan.
– Pastikan Kontraktor menyerahkan program dan metode pelaksanaan yang diusulkan, Gambar Kerja, dan rancangan untuk pekerjaan sementara yang diperlukan.
4. Check
–
Periksa laporan hasil pengujian fisik untuk setiap mutu baja yang diajukan.
–
Periksa Gambar Kerja, program dan metode pelaksanaan dan rancangan untuk pekerjaan sementara yang diajukan serta rekomendasikan persetujuan Direksi Pekerjaan.
5. Penyimpanan dan Perlindungan Bahan S 7.4.1
– Kendalikan penyimpanan bahan baja, baik fabrikasi dibengkel dan dilapangan, harus ditumpuk diatas balok pengganjal atau landasan dan tidak bersentuhan dengan tanah, serta bila ditumpuk dalam beberapa lapis, pengganjal untuk semua lapis harus dalam satu gans.
– Kendalikan perlindungan bahan dan korosi bebas dari kotoran, minyak, dan gemuk. Perlindungan korosi dilakukan dengan galvanisasi dan atau pengecatan.
6. Pabrikasi S 7.4.3
– Periksa semua elemen yang dirakit harus cocok dan tepat dalam toleransi yang disyaratkan.
– Periksa sambungan dengan baut harus dilengkapi dengan pelat paking.
Celah tidak melampaui 1 mm untuk baut geser tegangan tinggi dan 2 mm untuk jenis lainnya.
– Periksa pemotongan harus dilaksanakan secara akurat dan perhatikan keakuratan ukuran.
Persyaratan
Toleransi
Persyaratan Bahan
Sifat Mekanis Baja Struktural
Sertifikat
Persyaratan Kerja
Pelaksanaan
Baut Geser Mutu Tinggi
Pengangkutan dan
Perakitan
Pemasangan Jembatan Baja
Penyelesaian
Jembatan Baja
Pengendalian Mutu
Pengendalian Mutu
Pengendalian Mutu
Pengukuran dan
Pembayaran
Pengendalian Mutu Baja
a. Mill Certificate dari Pabrik b. Uji kimia
Pengendalian Mutu Bahan Baja
c. Uji tarik dan bending
SNI 07-0408-1989 Cara uji tarik logam, diperbaiki : SNI 8389-2017 SNI 07-0371-1998 Batang uji tarik untuk bahan logam
SNI 07-0308-1989 Baja karbon, Cara uji komposisi kimia SNI 07-0372-1989 Batang uji lengkung untuk bahan logam SNI 07-0410-2017 Cara uji lengkung tekan logam
Pengendalian Mutu Bahan Baja
c. Uji tarik dan bending
Pengendalian Mutu Bahan Baja c. Uji tarik dan bending
Pengendalian Mutu Baja
Cacat pada baja
Cacat permukaan dapat berupa kerak, karat, goresan, cungkilan, lubang, dan sobekan
Cacat permukaan bisa disebabkan karena inclusion dan ketidakbersihan pada material tuang atau bahan baku (ingot)
Selain itu cacat permukaan juga bisa diakibatkan karena kondisi sejenis yang berkaitan dengan persiapan material dan proses pengerolan
Cacat akibat pengeroran:
Pengendalian Mutu Baja
Wavy Edge
Wavy edge atau edge wrinkling terjadi karena rol yang melengkung. Rol yang melengkung menyebabkan plat menjadi lebih tipis pada bagian tepinya. Bagian tepi plat yang lebih tipis akan bertambah panjang, sedangkan bagian tengah plat yang masih tebal tidak akan bertambah panjang. Konsekuensinya bagian yang tipis pada plat akan melengkung akibat keinginannya bertambah panjang terhalang oleh bagian tebal yang tidak bertambah panjang
Pengendalian Mutu Baja
Pengukuran ketebalan pelat a. Jangka sorong
b. Mikrometer
Pengendalian Mutu Baja
Pengukuran ketebalan pelat c. Ultrasonik
Sambungan baut
Sambungan Las Sambungan pada Baja
Periksa lubang untuk baut sbb:
a. Lubang untuk baut tidak terbenam (countersunk) dan baut hitam, baut silinder (turned barrel bolt) dan baut geser tegangan tinggi.
– Diameter lubang tidak boleh lebih besar 2 mm dari diameter paku keling atau baut.
– Semua lubang harus dibor atau dibor kecil dahulu kemudian diperbesar.
b. Lubang untuk baut pas dan baut geser
- Diameter lubang harus sama dengan diameter nominal baut batang (shank) atau silinder (barrel), toleransi-0,0 mm, dan + 0,15 mm.
c. Lubang untuk baut geser tegangan tinggi
– Baut diameter sampai 16 mm, diameter lubang 1 mm lebih besar dari diameter nominal baut.
– Baut diameter diatas 16 mm, diameter lubang 1,5 mm lebih besar dari diameter nominal.
– Jarak dari pusat lubang sampai tepi pelat sebagai berikut:
Pelat hasil pemotongan cara geser harus minimum 1,7 diameter nominal baut.
Pelat yang di rol atau dipotong dengan las minimum 1,5 diameter nominal baut.
d. Pengaku
– Pengaku ujung pada gelagar sebagai penunjang beban terpusat harus mempunyai bidang kontak sepenuhnya pada flens.
– Pengaku yang tidak menunjang beban terpusat dipasang dengan cukup rapat untuk menahan air setelah digalvanisasi.
– Perakitan di Bengkel
– Bila diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan, unit-unit harus dirakit di bengkel sebelum dikirim ke lapangan.
– Sambungan dengan Baut Standar (Selain Baut Geser Tegangan Tinggi)
– Baut yang tidak dikencangkan terhadap beban percobaan (proof load) harus mempunyai mur tunggal yang dapat mengunci sendiri.
Panjang baut sedemikian hingga seluruh mur dapat dimasukkan kedalam baut tetapi maksimum sepanjang 6 mm di luar mur. Baut dimasukkan ke dalam lubang tanpa adanya kerusakan pada uliran dengan menggunakan
"snap" untuk mencegah kerusakan kepala baut. Kepala baut dan mur dikencangkan sampai rapat.
7. Perakitan untuk Pengiriman
• Baut Geser Tegangan Tinggi.
– Kelandaian permukaan bidang kontak dengan kepala baut dan mur tidak boleh melebihi 1 : 20.
– Semua permukaan yang akan disambung harus bebas kerak kecuali kerak pabrik yang keras.
– Peralatan yang digunakan untuk pengencangan baut harus dikalibrasi secara teratur dan dibuktikan dengan sertifikat kalibrasi.
– Pengencangan dilaksanakan dengan cara putar separuh maupun dengan cara pengendalian dengan torsi sesuai dengan manual pengencangan baut.
• Kekencangan Baut.
– Gaya Tarik Baut Minimum Sesuai tabel berikut:
Diameter Nominal Baut (mm)
Gaya Tarik Minimum
(kN)
16 95
20 145
24 210
30 335
36 400
Gaya Tarik Baut
Minimum
Structural Bolting
JENIS-JENIS BAUT
Carbon steel bolt – Kekuatan normal (A307)
– Baut biasa
– Kekuatan rendah, beban rendah / shear connector
High Strength Bolt – A325, A325m, A490, A490M
– Memerlukan pemanasan untuk kekuatan yang tinggi
– Tahanan geser lebih tinggi
– Digunakan sebagai baut tipe geser
– Dapat digunakan dengan atau tanpa ring (washer)
Bolt function
– Snug tight bolts – diizinkan adanya slip
– Pre-tensioned bolt – slip critical
BAUT UNTUK JEMBATAN
Prinsip Sambungan Slip
d=diameter bolt M10 , d=10 P=pitch from table M10, p=1,5
Kesalahan pemasangan baut
Pemasangan baut terbalik
Pelaksanaan pengencangan sulit
Pelat tidak dibersihkan dan dikasarkan
Fungsi friction tidak tercapai
Baut dilepas dan dipasang dengan betul
Apabila baut belum dikencangkan 100%, lepaskan dan bersihkan pelat serta dikasarkan dan pasang baut kembali
Dipaksa dengan menggunakan palu/ martil
Baut akan rusak
Lubang baut menjadi cacat
Ganti baut dan periksa kembali secara keseluruhan
Baut yang rusak diganti
Kesalahan Baut dan Mur
Baut dan mur kotor
Baut dan mur tidak mengandung pelumas MoS2
Sulit dalam pelaksanaan pengancangan
Kekencangan 100% tidak akan tercapai
Bersihkan baut dan mur sebelum digunakan
Periksa baut dan mur apakah mengandung pelumas MoS2
Jangan menggunakan pelumas sembarangan, karena dapat mempe-ngaruhi friction yang harus terjadi
Kekencangan Baut
Baut belum dikencang-kan 100%
sudah dimulai pekerjaan pengecoran
Camber tidak tercapai
Pengencangan selanjut-nya menjadi sulit
Gaya friction tidak akan tercapai
Sebelum dilakukan pembesian, periksa kekencangan baut dan kencangkan baut hingga 100%
Beton baru dicor setelah semua baut berada dalam kondisi kekencangan 100%
Kunci Torsi
Penggunaan kunci torsi momen salah, gaya yang harus dicapai tidak sesuai
Alat kunci torsi momen tidak akurat
Kekencangan tidak ter-capai
Baut menjadi longgar atau patah karena gaya yang berlebih
Kunci torsi momen dikalibrasi
Periksa alatpengukur sampai menunjukkan angka sesuai dengan kekencangan yang dikehendaki
Baut yang patah/rusak diganti
Manual Pemasangn
Tidak dibaca dengan baik
Salah pemasangan komponen
Salah pengencangan baut
Jembatan tidak berfungsi dengan baik
Sebelum pemasangan, manual harus dibaca
Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah kekencangan baut, camber yang harus terjadi, waktu
pemasangan landasan, waktu pengecoran beton
Kesalahan pada sambungan baut
Kontraktor harus menyerahkan secara tertulis prosedur pengelasan baik di bengkel maupun di lapangan, termasuk keterangan tentang persiapan permukaan-permukaan yang akan disambung.
Pada sambungan dengan pengelasan harus
digunakan pelat penyambung "run - on" dan "run - off" pada bagian ujung elemen.
PENGELASAN
Structural Welding
http://pojok-
welder.blogspot.com/2017/04/pemeriksaan -dan-pengujian-las.html
Tipe Sambungan Las
1. Butt Joint
2. Tee Joint
T Joint adalah jenis sambungan yang berbentuk seperti huruf T, tipe sambungan ini banyak diaplikasikan untuk pembutan kontruksi atap, konveyor dan jenis konstruksi lainnya. Untuk tipe groove juga terkadang digunakan untuk sambungan fillet adalah double bevel, namun hal tersebut sangat jarang kecuali pelat atau materialnya sangat tebal.
Sambungan Tee ini banyak yang menyebutnya dengan sambungan fillet, padahal dalam pengelasan fillet merupakan jenis pengelasan. Yang termasuk
pengelasan fillet atau fillet weld adalah sambungan Tee, Lap dan Corner. Sehingga mulai sekarang perlu diperbaiki tentang penyebutan ini
3. Corner Joint
Corner Joint mempunyai desain sambungan yang hampir sama dengan T Joint, namun yang membedakannya adalah letak dari materialnya. Pada sambungan ini materialnya yang disambung adalah bagian ujung dengan ujung. Ada dua jenis corner joint, yaitu close dan open.
Sambungan Close corner adalah jika material 1 ditumpuk pada atas material 2, sedangan open corner adalah sambunga plat yang saling bertemu pada bagian ujung. Untuk detailnya silahkan lihat pada gambar di atas.
4. Lap Joint
Tipe sambungan las yang sering digunakan untuk pengelasan spot atau seam. Karena materialnya ini ditumpuk atau disusun sehingga sering digunakan untuk aplikasi pada bagian body kereta dan cenderung untuk plat plat tipis. Jika menggunakan proses las SMAW, GMAW atau FCAW
pengelasannya sama dengan pengelasan fillet.
5. Edge Joint
Jenis-jenis kampuh
Kampuh las merupakan bentuk potongan plat yang akan disambung. Tujuan pembuatan kampuh pengelasan ini untuk mendapatkan penetrasi atau penembusan yang dalam dari hasil pengelasan. Kampuh ini dibuat atau diaplikasikan pada material yang tebal, rata rata yang menggunakan kampuh v adalah material yang lebih tebal dari 8 mm, berikut ini jenis jenis kampuh Las :
•Square atau I.
•Kampuh V.
•Double V atau X.
•Bevel.
•Double Bevel.
•Kampuh J.
•Double J
•Kampuh U.
•Double U.
•Flare Bevel.
•Flare V.
Macam macamposisi pengelasanpada pelat dan Pipa– Posisi Pengelasan adalah jenis atau posisi sambungan yang akan dilakukan pengelasan, posisi pengelasan ini dilakukan berdasarkan material atau produk yang akan dilas. Dalam teknologi pengelasan, semua itu ada pengkodeannya berdasarkan jenis sambungan. Untuk sambungan fillet maka disimbolkan dengan posisi 1F, 2F, 3F dan 4F, sedangkan untuk sambungan groove atau bevel maka disimbolkan dengan 1G, 2G, 3G dan 4G.
Posisi Pengelasan
Jenis jenis Posisi pengelasanpada pipa pun juga berbeda, untuk Pipa biasanya menggunakan jenis sambungan groove oleh karena itu pada Pipa disimbolkan dengan 1G, 2G, 5G dan 6G. Namun pada Pipa juga terkadang disambung dengan plate. Untuk Anda yang ingin mengetahui jenis jenis sambunganpengelasan, berikut ini detailnya.
Posisi Pengelasan
Posisi Pengelasan Sambungan V
Posisi Pengelasan Sambungan T atau Fillet Weld
Posisi Pengelasan
Posisi Pengelasan Sambungan Pipa
Posisi Pengelasan Sambungan Fillet Weld Pada Pipa
Fillet Full penetration single bevel groove weld
Partial penetration single bevel groove weld Plug penetration Full
double vee groove weld
Partial penetration single J groove
weld
• Tipe las tergantung pada konfigurasi las danpendekatandesainnya.
• Las Fillet dan las groove merupakan jenis las yang umum
• Las Groove dibagi dalam 2 kategori
Full penetration – semua bagian cross-section dilas
Partial penetration – hanya sebagian dari cross-section yang dilas (AISC)
Welding Terminology
PENGELASAN
• Dye penetrant testing locates minute surface cracks and porosity
• Dye types that may be used include:
Color contrast dye - which shows up under ordinary light
Fluorescent dye – which shows up under black light
• The dye is normally applied by spraying it directly on the weld (AISC & NISD 2000)
Dye Penetrant Test
• Ultrasonic inspection can be used to detect flaws inside welds
• High frequency sound waves are directed into the metal with a probe held at a specific angle
• The flaws reflect some energy back to the probe
• Flaws show up as indications on a screen (above) and are subject to interpretation by an inspector
(AISC & NISD 2000)
Ultrasonic Inspection
Pemeriksaan mutu las Ultrasonic Pulse Velocity
Pemeriksaan Mutu Las
Jenis Cacat Las
1. Under Cut
Undercut adalah cacat las yang berada di bagian permukaan atau akar, bentuk cacat ini seperti cerukan yang terjadi pada logam induk. Jenis cacat
pengelasan ini dapat terjadi pada semua sambungan las, baik fillet, butt, lap, corner dan edge joint
Penyebab:
• Arus terlalu besar
• Kecepatan pengelasan terlalu tinggi
• Panjang busur las terlalu tinggi
• Posisi elektroda kurang tepat
• Ayunan tangan kurang merata, waktu ayunan saat disamping terlalu cepat
Pencegahan:
• Sesuaikan arus pengelasan, lihat rekomendasi ampere pada bungkus elektroda
• Kecepatan las diturunkan
• Panjang busur diperpendek (1.5 x diameter elektroda)
• Sudut kemiringan 70 – 80 derajat
• Sering berlatih utk mengayunkan elektroda
Jenis Cacat Las
2. Porositas
Cacat Porositas adalah cacat pengelasan yang berupa lubang lubang kecil pada weld metal (logam las), dapat berada pada permukaan maupun didalamnya. Porosity ini mempunyai beberapa tipe yaitu Cluster Porosity, Blow Hole dan Gas Pore
Penyebab:
• Elektroda terlalu lembab
• Busur las terlalu panjang
• Arus pengelasan terlalu rendah
• Kecepatan las terlalu tinggi
• Adanya pengotor pada benda kerja (karat, minyak dll)
• Tercipta gas hydrogen karena panas las
Pencegahan:
• Pastikan kawat las (elektroda) kondisi kering (sudah di oven)
• Atur tinggi busur +/- 1.5 diameter
• Arus disesuaikan dengan rekomendasi pabrik.
• Pastikan tidak ada pengotor pada benda kerja
Jenis Cacat Las
3. Slag Inclusi
Slag Inclusion adalah cacat pada daerah dalam hasil lasan. Cacat ini berupa slag (flux yang mencair) yang berada dalam lasan, yang sering terjadi pada daerah awal dan berhentinya proses pengelasan. Untuk melihat cacat ini kita harus melakukan pengujian radiografi atau bending.
Penyebab:
• Pembersihan slag kurang, sehingga tertumpuk oleh lasan
• Arus terlalu rendah
• Busur las terlalu jauh
• Sudut pengelasan salah
• Sudut kampuh terlalu kecil
Pencegahan:
• Pastikan lasan benar-benar bersih dari slag sebelum mengelas ulang
• Kuat arus disesuaikan dengan prosedur
• Busur las disesuikan
• Sudut las disesuikan
• Sudut kampuh lebih dibesarkan (50 – 70 derajat)
Jenis Cacat Las
4. Tungsten Inclusi
Tungsten Inclusion adalah cacat pengelasan yang diakibatkan oleh mencairnya tungsten pada saat pengelasan yang kemudian melebur menjadi satu dengan weld metal, cacat ini hampir sama dengan slag inclusion namun saat diuji radiografi tungsten inclusion berwana sangat terang (berat jenisnya lebih besar dibanding logam lasnya). Untuk jenis cacat las ini hanya terjadi pada proses pengelasan GTAW
Penyebab:
• Tungsten sudah tumpul saat pengelasan
• Jarak tungsten terlalu dekat
• Arus terlalu tinggi
Pencegahan:
• Tungsten harus diruncingkan sebelum pengelasan
• Jarak harus disesuaikan
• Arus mengikuti prosedur
Jenis Cacat Las
5. Incomplete Penetration
Incomplete Penetration (IP) adalah sebuah cacat pengelasan yang terjadi pada daerah root atau akar las, sebuah pengelasan dikatakan IP jika
pengelasan pada daerah root tidak tembus atau reinforcemen pada akar las berbentuk cekung.
Penyebab:
• Kecepatan pengelasan terlalu tinggi
• Jarak gap terlalu lebar
• Jarak elektroda terlalu tinggi
• Sudut elektroda salah
• Arus las terlalu kecil
Pencegahan:
• Kecepatan las disesuaikan dengan WPS
• Standar gap atau root opening 2-4 mm
• Standar jarak elektroda 1.5 x diamtert
• Arus disesuakan dengan WPS
Jenis Cacat Las
6. Incomplete Fusion
Cacat Incomplete Fusion adalah sebuah hasil pengelasan yang tidak dikehendaki karena
ketidaksempurnaan proses
penyambungan antara logam las dan logam induk. Cacat ini biasanya terjadi pada bagian samping lasan
Penyebab:
• Posisi sudut kawat las salah
• Arus terlalu rendah
• Sudut kampuh terlalu kecil
• Permukaan kampuh terdapat kotoran
• Kecepatan pengelasan terlalu tinggi
Pencegahan:
• Perbaiki sudut elektroda
• Arus disesuaikan dengan WPS atau rekomendasi
• Sudut kampuh sesuai dengan WPS
• Bersihkan semua kotoran
• Mengatur kecepatan las yang sesuai
Jenis Cacat Las
7. Over Spatter
Spatter adalah percikan las, sebenarnya jika spater dapat dibersihkan maka tidak termasuk cacat. Namun jika jumlahnya berlebih dan tidak dapat
dibersihkan maka dikategorikan dalam cacat visual.
Penyebab:
• Arus terlalu tinggi
• Jarak elektroda terlalu jauh
• Elektroda lembab
Pencegahan:
• Arus disesuikan dengan rekomendasi atau WPS
• Panjang busur disesuaikan
• Elektroda dijaga tetap kering (di oven)
Jenis Cacat Las
8. Hot Crack
Penyebab:
• Pemilihan elektroda yang salah
• Tidak melakukan perlakuan panas
Pencegahan:
• Menggunakan elektroda yang sesuai WPS
• Melakukan perlakuan panas (PWHT dan Preheat)
Hot Crack (retak panas) adalah sebuah retak pada pengelasan dimana retak itu terjadi setelah proses pengelasan selesai atau saat proses pemadatan logam lasan
Jenis Cacat Las
9. Cold Crack
Cold Cracking (retak dingin) adalah sebuah retak yang terjadi pada daerah lasan setelah beberapa waktu (memerlukan waktu, bisa 1 menit, 1 jam, atau 1 hari) proses pengelasan selesai. Biasanya untuk mengecek adanya crack dilakukan uji tidak merusak yaitu dengan ujiPenetrant Testatau Magnetic Test
Penyebab:
• Retak dingan pada bahan las
• Cooling rate terlalu cepat
• Arus pengelasan terlalu rendah
• Kecepatan las terlalu tinggi
• Tidak dilakukan pemanasan awal (pre heat)
Pencegahan:
• Perlambat pendinginan setelah pengelasan
• Panas yang diterima sesuai WPS
• Gunakan arus sesuai rekomendasi
• Kecepatan las disesuaikan
• Lakukan pre heat
Jenis Cacat Las
10. Distorsi
Pengertian distorsi padapengelasan
adalahsebuah perubahan bentuk material yang diakibatkan panas yang berlebih saat proses pengelasan berlangsung. Distorsi ini terjadi saat proses pendinginan, karena adanya panas yang berlebih maka material dapat mengalami penyusutan atau pengembangan sehingga akan tarik menarik dan membuat material tersebut melengkung
Penyebab:
• Panas berlebih
• Arus terlalu tinggi
• Take weld (las ikat) kurang kuat
• Persiapan pengelasan yang salah
Pencegahan:
• Arus disesuaikan dengan WPS
• Take weld ditambah atau memberikan stopper (penguat pada logam induk)
• Persiapan pengelasan yang benar
Jenis Cacat Las
11. Arc Strike
Arc Strike adalah cacat las yang diakibatkan menempelnya ujung kawat las kedaerah logam las atau base metal secara singkat, biasanya hal ini tidak disengaja oleh tukang las. Cacat las Arc Strike ini sangat berbahaya bagi kekuatan logam, karena dapat mengurangi nilai ketangguhan dan kekuatan logam lasan tersebut.
Berkurangnya kekuatan dan ketangguhan dikarenakan material tersebut mengalami laju pendingan yang cepat, terdapat daerah HAZ dan juga berkurang ketebalan material.
Meskipun begitu masih banyak tukang las atau welder yang masih belum
memperhatikan akan dampak buruk adanya arc strikes
Jenis Cacat Las
12. Underfill
Cacat yang terjadi pada permukaan, pada permukaan lasan pengisian masih kurang sehingga permukaan benda kerja lebih tinggi dari daerah lasan atau kampuh las. Untuk mengatasinya dilakukan proses pengelasan lagi pada area tersebut atau diratakan semua daerah las dan dilakukan pengelasan secara menyeluruh agar ketinggian sama.
Jenis Cacat Las
13. Lack of inter run fusion
Cacat Las yang tidak fusi di antar layer atau pass weld metal, cacat ini terjadi dapat dikarenakan arus yang terlalu rendah, sudut elektroda yang tidak tepat dan pengelasan terlalu cepat
Jenis Cacat Las
14. Misalignment
Ketinggian antara plat yang dijoint berbeda atau tidak rata. Hal ini disebabkan karena persiapan pengelasan yang tidak tepat. Untuk
mengatasinya material dipotong dan dipersiapkan kembali secara benar, jika tidak diperbolehkan maka daerah lasan digerinda sampai habis dan pelat dilakukan setting ulang
Jenis Cacat Las
15. Excessive root penetration
Hasil pengelasan pada daerah akar las terlalu tinggi, maksimal ketinggian akar las adalah 2 mm dan minimum rata atau 0. Penyebabnya dapat karena gap terlalu lebar, arus pengelasan terlalu tinggi dan root face terlalu tipis
Jenis Cacat Las
16. Overlap
Overlap dapat terjadi pada permukaan dan akar las, cacat ini terjadi jika hasil lasan lebarnya melebihi dari kampuh las dan pada ujungnya tidak fusi dengan logam induk. Penyebab Overlap dikarenakan gerakan pengelasan yang salah yaitu terlalu melebar.
Jenis jenis cacat pengelasan dan penyebabnya di atas dapat terjadi pada las listrik (SMAW), GMAW, GTAW, SAW, FCAW, OAW. Namun untuk tungsten inclusion hanya terjadi pada GTAW, karena hanya pengelasan tersebut yang menggunakan logam tungsten.
Periksa program dan metoda serta prosedur pengelasan di pabrik dan lapangan terutama penyiapan permukaan yang disambung,
Periksa bagian pabrikasi yang dirakit harus tepat sesuai toleransi.
Pastikan baja struktural selama pengiriman tidak boleh mendapat beban, yang menimbulkan tegangan yang berlebihan, melengkung atau kerusakan lainnya.
Pastikan semua bagian dirakit secara akurat seperti diperlihatkan dalam gambar.
8. Pengecekan
Pelaksanaan pengecatan sesuai dengan Pedoman Teknik No.
028/T/BM/1999 (Pedoman Penanggulangan Korosi Komponen Baja Jembatan dengan cara Pengecatan).
SE Menteri No: 26/SE/M/2015 tentang Pedoman Perlindungan Komponen Baja Jembatan dengan Cara Pengecatan
Semua komponen struktur baja termasuk komponen Gelagar Baja Komposit, termasuk balok, pelat, baut, ring, diafragma dan sejenisnya hams digalvanisasi dengan sistem pencelupan panas sesuai dengan AASHTO M 111 M-04 atau ASTM A 123 M-02
9. Pengecatan dan Galvanisasi
diperkirakan laju korosi lapis seng galvanis sebagai berikut : lokasi pantai 5,5 UM/tahun. Lokasi industri 7,0 UM/tahun dan lokasi gunung dekat berapi 7,5 UM/tahun.
SE Menteri No: 26/SE/M/2015 tentang Pedoman Perlindungan Komponen Baja Jembatan dengan Cara Pengecatan
Persiapan Pengecatan
• 85 % kegagalan pengecatan akibat persiapan permukaan yang tidak baik.
• Peningkatan pengetahuan dan pelatihan bagi blaster dan painter.
https://www.steelconstruction.info/Surface_preparation
https://galvanizeit.org/knowledgebase/article/sspc-surface-preparation-standards
https://www.thefabricator.com/thefabricator/article/cuttingweldprep/preparing- structural-steel-surfaces-for-painting-coating-standards
1. Kegagalan pengecatan umumnya disebabkan oleh jeleknya :
• Persiapan permukaan pada baja.
• Pembersihan.
• Penggunaan lapisan cat
• Akses tempat pengecatan
• Ventilasi
• Pemilihan pengecatan
• Inspeksi dan pengawasan
2. Hasil penyelidikan perusahaan asuransi menyebutkan bahwa:
• 95% semua kegagalan pengecatan diakibatkan oleh
• Persiapan permukaan yang jelek
• Pelaksanaan pengecatan yang jelek
• 85% kegagalan akan terlihat dalam waktu 1-2 tahun.
Persiapan Pengecatan
Persiapan Pengecatan
Sudut dan Percikan Las
Kegagalan Pengecatan
a. Blister (gelembung)
Penyebab:
• Uap solvent pada lapisan bawah terjebak oleh lapisan atasnya.
• Uap air (lembab) pada lapisan bawah.
Pencegahan:
• Permukaan yang akan dicat harus kering sempurna.
• Selang waktu antara setiap lapisan cat cukup lama.
• Usahakan lapisan cat tipis agar pengeringan lebih sempurna.
• Hindari pengecatan pada cuaca buruk (hujan, mendung atau lembab)
Perbaikan:
• Jika gelembung banyak, maka dikerok seluruhnya, bersihkan permukaan, dan beri lapisan dasar (jika perlu) sebelum dilapisi cat akhir
• Jika gelembung sedikit, perbaikan pada bagian yang rusak
Kegagalan Pengecatan
b. Flaking/Mengelupas
Penyebab:
• Jenis cat yang bersifat keras, sehingga tidak bisa mengikuti pergerakan.
• Pengecatan diatas lapisan cat yang sudah mengapur, sehingga daya lekat kurang.
• Permukaan kotor
• Menggunakan dempul kualitas rendah
• Lapisan cat lama bermutu rendah
• Cat dasar tidak cocok dengan cat lapisan akhir
Pencegahan:
• Permukaan yang akan dicat harus bersih dan kering.
• Kerok lapisan cat lama yang sudah rusak atau bermutu rendah
• Gunakan cat dasar yang dianjurkan untuk system pengecatan yang digunakan.
Kegagalan Pengecatan
c. Sagging (lapisan cat menurun)
Penyebab:
• Pengecatan yang tidak merata.
Pencegahan:
• Pengecatan dengan ketebalan merata.
• Selang waktu pengecatan cukup lama.
• Pengecatan tidak langsung tebal (tipis – tipis).
Kegagalan Pengecatan
d. Brush Mark (Garis bekas kuas)
Penyebab:
• Cat mengalir tidak rata setelah dilapiskan, Teknik pengecatan tidak benar.
• Pengenceran yang kurang
• Kuas dijalankan terus pada saat lapisan cat sudah mulai mongering
• Menggunakan kuas yang kotor atau bulu-bulunya telah menggumpal
Pencegahan:
• Lakukan pengenceran yang benar dan gunakan pengencer yang sesuai.
• Lapiskan cat dengan cepat tetapi merata. Jangan melapis ulang pada lapisan cat yang mulai mongering.
• Pakai kuas yang bermutu baik dan bersih.
Kegagalan Pengecatan
g. Cracking ( Lapisan retak-retak)
Penyebab:
• Lapisan cat sudah tua
• Pengecatan dilakukan pada cat dasar yang masih belum kering
Pencegahan
• Lapisan cat harus kering betul sebelum diberi lapisan berikutnya.
https://tukangcatduco.wordpress.com/2012/08/13/35/
Wet Film (WFT)
Pengujian Cat
Dry Film (DFT) Pull out test
Galvanisasi
SNI 07-7033-2004 : GGalvanisasi(hot dip galvanized) pada besi dan baja fabrikasi – Spesifikasi dan Metoda Pengujian
Permukaan hasil pelapisan galvanis harus bebas dari gelembung, kekasaran dan jaruman (jika menyebabkan luka) dan lokasi yang tak terlapisi
Permukaan galvanis yang abu-abu gelap atau tidak rata warnanya, tidak harus menjadi produk tersebut ditolak.
Sisa flux, gumpalan dan abu seng tidak diijinkan, karena dapat mempengaruhi ketahanan karat.
Produk yang gagal dalam inspeksi visual harus digalvanis ulang
Pastikan setiap elemen dicat atau ditandai untuk identifikasi dan disertai suatu diagram pemasangan atau manual pemasangan dengan tanda- tanda pemasangan yang ditunjukkan di dalamnya.
Kendalikan agar elemen-elemen dapat diangkut dan dibongkar di tempat tujuannya tanpa mengalami tegangan, deformasi, atau kerusakan lainnya.
Pastikan baut, mur dan ring harus dikemas terpisah. Pen (pin), bagian- bagian yang kecil, dan paket baut, ring dan mur hams dikirim dalam kotak, krat atau tong, berat setiap kemasan tidak melebihi 150 kg.
10. Pengangkutan (S 7.4.4)
Pastikan Kontraktor menyediakan perkakas dan perancah yang diperlukan untuk penanganan termasuk pengaku sementara, semua perkakas, mesin, dan peralatan termasuk pasak pengungkit (drift) dan baut penyetel.
Periksa perancah dan pengaku sementara harus dirancang, dibuat dan dipelihara agar dalam tahap pemasangan berfungsi dan dapat menahan semua gaya dan beban struktur baja.
11. Peralatan dan Perancah (S 7.4.4)
Kendalikan perakitan pekerjaan baja sbb:
Komponen yang difabrikasi oleh Penyedia Jasa.
–
Setiap bagian harus dirakit dengan akurat sesuai Gambar dan manual pemasangan serta mengikuti semua tanda yang telah diberikan. Pada komponen struktur baja yang akan dipasang dengan cara kantilever, pastikan semua komponen struktur baja sudah tersedia dan dipasang dengan seksama sehingga didapat lendutan balik (camber) sesuai dengan desain atau manual pemasangan.
12. Perakitan Pekerjaan Baja (S 7.4.4)
Bila penyambungan atau perakitan pada titik
buhul telah selesai, baut pada titik bahul tersebut harus dikencangkan 100% kekencangan yang disyaratkan.
Baut permanen untuk sambungan elemen-elemen tekan tidak boleh dikencangkan sampai seluruh bentangan berayun.
Sambungan (splices) dan penyambungan di lapangan (field connections) harus setengah jumlah lubang yang diisi dengan baut dan pen (pin) silindris untuk pemasangan (setengah baut dan setengah pin) sebelum dibaut dengan baut tegangan tinggi
Sambungan dan penyambung yang akan dilewati lalu-lintas selama pemasangan, lubang baut telah terisi % - nya.
Komponen yang disediakan Pengguna Jasa.
– Komponen yang disediakan Pengguna Jasa dipasang sesuai dengan buku petunjuk dan Gambar yang disediakan pabrik pembuatnya.
Pemasangan dengan Perancah
Perancah kurang kuat
Perancah menghalangi alur sungai
Pada waktu pemasangan dapat terjadi kerun-tuhan
Atau terjadi pada waktu pengecoran beton terja-di penurunan
Jembatan hanyut pada waktu banjir
Pembuatan perancah jangan menghalangi alur sungai
Hitung kekuatan perancah untuk beban yang harus dipikul
Perancah kurang kuat, bongkar dan pasang kembali
Pemasangan dengan Kantilever
Baut tidak dikencangkan 100%
pada waktu pemasangan komponen per panel
Camber tidak tercapai
Elevasi ujung jembatan tidak tercapai
Baut dikencangkan 100% pada waktu setiap panel selesai
Jika camber tidak tercapai dan elevasi ujung tidak tercapai, dongkrak jembatan dan tinggikan bagian linking steel
Elevasi landasan di seberang dipendekkan/ disesuaikan
Periksa hal-hal sbb:
Potong secara tepat, hati-hati dan rapi, semua sudut tidak tajam
Semua lubang paku atau baut dibor lebih besar dari diameter paku atau baut
Prosedur pengelasan sesuai prosedur yang sudah disetujui. Permukaan yang akan dilas harus bersih dari kotoran berminyak
Baut dipasang tepat tanpa merusak alir
Semua permukaan baja dicat sesuai spesifikasi
Semua komponen baja galvanis panas sesuai spesifikasi
Tiap baja struktural dicat atau dilindungi selama pemasangan
Semua pekerjaan tidak boleh keluar dan toleransi
13. Cek
Periksa pekerjaan baja yang rusak selama penyimpanan, penanganan dan pemasangan harus diperbaiki.
Periksa komponen struktur jembatan yang tidak dirakit dan/
atau dipasang sesuai ketentuan Spesifikasi harus diperbaiki.
14. Perbaikan Hasil Pekerjaan (S 7.4.1)
Kuantitas baja struktur yang akan diukur untuk
pembayaran sebagai jumlah dalam kilogram pekerjaan yang telah selesai di tempat dan diterima.
15. Pengukuran Hasil Pekerjaan (S 7.4.5)
Pembayaran sesuai Pengukuran Hasil Pekerjaan untuk mata pembayaran sesuai Daftar Kuantitas dan Harga dalam Kontrak.
16. Pembayaran