STUDI KASUS
dr. Sang Ayu Kompiyang Indriyani, Sp.A(K), M.Kes
UKK Respirologi IDAI
DISCLAIMER WEWANTI
• The speaker receives financial support from PT. AstraZeneca Indonesia for speaking in this meeting.
• Pembicara menerima dana dari PT. AstraZeneca Indonesia sebagai pembicara pada pertemuan ilmiah ini .
I have no conflict of interest
Saya tidak memiliki konflik kepentingan
• This meeting is organized by Respiratory Working Group of Indonesia Pediatric Society , and sponsored by AstraZeneca Indonesia.
• Acara Ilmiah ini diselenggarakan oleh UKK Respirologi IDAI dan disponsori oleh PT AstraZeneca Indonesia
Kasus 1
• M, 7 tahun, laki-laki
• Keluhan utama: batuk sejak 3 minggu, terutama muncul dan memberat saat bangun tidur pagi.
• Pilek sejak 5 hari, riwayat pilek berulang 6 bulan terakhir (bersin dan meler di pagi hari atau cuaca dingin).
• Demam (-), sesak napas (-).
• Dua kali berobat ke klinik rawat jalan karena batuk pilek dalam 5 bulan terakhir, diberikan terapi nebulisasi dengan respons minimal. Rawat inap (-).
• Kontak dengan penderita COVID-19 terduga/terkonfirmasi (-), kontak TBC (-)
• Ibu dengan rinitis alergika, dan ayah perokok.
• Mulai sekolah luring sejak 6 bulan yang lalu.
Anamnesis
• Sadar, keadaan umum baik
• Frekuensi nadi : 84 kali/menit
• Frekuensi napas: 20 kali/menit
• tax : 36.7oC
• SpO2 : 99% (udara kamar)
• BB : 20 kg ; TB: 120 cm
• Kepala/leher: anemia-/- ; ikterus -/- ; kongesti nasal (+), sekresi nasal bening minimal, mukosa nasal dan faring hiperemi (-),
ukuran tonsil T1/T1 hiperemi (-), nyeri tekan sinus maksilaris +/+
• Toraks: simetris, retraksi (-).
Jantung: suara jantung normal, tanpa murmur
Paru: suara napas vesikuler, crackles (-/-), wheezing (-/-)
• Abdomen: dalam batas normal
Kasus 1
Pemeriksaan fisis
DIAGNOSIS ??
• Asma?
• Infeksi Respiratorik Akut (IRA) atas berulang?
• TBC paru
• Pneumonia atipikal?
• Rinitis alergika?
• Sinusitis?
• Gastroesofagal refluks?
BATUK/MENGI (WHEEZING)/SESAK NAPAS/DADA TERTEKAN dengan karakteristik, minimal 2 dari berikut:
E - Episodisitas : timbul kronik atau berulang
V - Variabilitas : sering memberat pada malam atau menjelang dini hari
T - Trigger : timbul bila ada pencetus (aktivitas berlebihan, asap rokok, tertawa, pajanan alergen atau perubahan cuaca, dll)
R - Reversibilitas: membaik dengan obat pereda asma
PEMERIKSAAN FISIS
Distress respirasi (+) Distress respirasi (-)
Terpenuhi
PIKIRKAN DIAGNOSIS SELAIN ASMA atau ADANYA KOMORBID
ASMA
Karakteristik hasil uji fungsi respiratori untuk asmab
Tidak respons
Tidak terpenuhi Uji fungsi parua
Mampu laksana Tidak mampu laksana
ATASI KEGAWATAN Ikuti alur diagnosis setelah
kegawatan teratasi
Jika ada gejala observasi
Terapi awal empirik asma:
obat pereda asma 3-5 hari, jika belum membaik dapat dipertimbangkan pemberian steroid selama 3-5 hari
Respons baik
Jika tidak ada gejala
Ulang uji fungsi respiratori ANAMNESIS
Salbutamol oral 3 x 1 mg selama 3 hari Tidak respons + metilprednisolon oral
3 x 8 mg selama 3 hari
a Spirometer atau peak flow meter (PFM)
b Karakteristik hasil uji fungsi respiratori untuk asma:
FEV1 <80%; atau FEV1/FVC <90%;
atau uji reversibilitas dg spirometer
>12%; uji variabilitas dg PFM >13%
(pada asma intermiten tanpa gejala hasil bisa normal)
Update 2022
ALUR DIAGNOSIS
ASMA ANAK (> 6 th)
INVESTIGASI LEBIH LANJUT:
Diagnosis:
Batuk kronik yang disebabkan oleh rinosinusitis Tatalaksana:
Penghindaran alergen Cuci hidung
Kortikosteroid intranasal Antihistamin
Dilakukan penelusuran lebih lanjut untuk mencari
kemungkinan selain asma, didapatkan hasil pemeriksaaan yang menunjukkan bahwa batuk kroniknya bukan ok asma tapi ok rinosinusitis
Foto torak normal
Foto sinus: perselubungan di kedua sinus maksilaris
Respons baik: Batuk berkurang lalu hilang
Kasus 2
• N, 9 tahun, perempuan
• Keluhan utama: batuk disertai mengi berulang sejak 4 bulan terakhir, terutama pada malam hari sehingga membuat terbangun dan juga saat beraktivitas fisik di sekolah.
• Demam (-), pilek (-).
• Berobat ke UGD sekitar 2 kali dalam sebulan dan selalu mendapat nebulisasi. Kunjungan terakhir ke UGD 2 minggu yang lalu dengan sesak napas yang didahului batuk dan mengi.
Keluhan membaik setelah mendapat 2x nebulisasi, sehingga tidak rawat inap, tetapi batuk disertai mengi muncul kembali sejak kemarin dan diberikan nebulisasi 1 kali di rumah.
• Kontak TBC disangkal, kontak COVID-19 disangkal.
• Riwayat alergi susu sapi saat bayi (+)
• Riwayat alergi makanan pada ayah (+), dan ayah perokok.
Anamnesis
Pemeriksaan fisis:
• Sadar, keadaan umum sedang, dapat berbicara dalam kalimat
• Frekuensi nadi : 82 kali/menit
• Frekuensi napas: 22 kali/menit
• tax : 36.5oC
• SpO2 : 98% (udara kamar)
• BB : 30 kg ; TB: 132 cm
• Kepala/leher: anemia-/- ; ikterus -/- ; kongesti nasal (-), sekresi nasal (-), mukosa nasal dan faring hiperemi (-), ukuran tonsil T1/T1 hiperemi (-), nyeri tekan sinus (-)
• Toraks: simetris, retraksi (-).
Jantung: suara jantung normal, tanpa murmur
Paru: suara napas vesikuler, crackles (-/-), wheezing (+/+)
• Abdomen: dalam batas normal Pemeriksaan fisis
BATUK/MENGI (WHEEZING)/SESAK NAPAS/DADA TERTEKAN dengan karakteristik, minimal 2 dari berikut:
E - Episodisitas : timbul kronik atau berulang
V - Variabilitas : sering memberat pada malam atau menjelang dini hari
T - Trigger : timbul bila ada pencetus (aktivitas berlebihan, asap rokok, tertawa, pajanan alergen atau perubahan cuaca, dll)
R - Reversibilitas: membaik dengan obat pereda asma
PEMERIKSAAN FISIS
Distress respirasi (+) Distress respirasi (-)
Terpenuhi
PIKIRKAN DIAGNOSIS SELAIN ASMA atau ADANYA KOMORBID
ASMA
Karakteristik hasil uji fungsi respiratori untuk asmab
Tidak respons
Tidak terpenuhi Uji fungsi parua
Mampu laksana Tidak mampu laksana
ATASI KEGAWATAN Ikuti alur diagnosis setelah
kegawatan teratasi
Jika ada gejala observasi
Terapi awal empirik asma:
obat pereda asma 3-5 hari, jika belum membaik dapat dipertimbangkan pemberian steroid selama 3-5 hari
Respons baik
Jika tidak ada gejala
Ulang uji fungsi respiratori ANAMNESIS
Salbutamol oral 3 x 1 mg selama 3 hari Tidak respons + metilprednisolon oral
3 x 8 mg selama 3 hari
a Spirometer atau peak flow meter (PFM)
b Karakteristik hasil uji fungsi respiratori untuk asma:
FEV1 <80%; atau FEV1/FVC <90%;
atau uji reversibilitas dg spirometer
>12%; uji variabilitas dg PFM >13%
(pada asma intermiten tanpa gejala hasil bisa normal)
Update 2022
ALUR DIAGNOSIS
ASMA ANAK (> 6 th)
200 L/mnt 170 L/mnt
Uji variabilitas dengan PFM: 16% (>13%) Perhitungan:
X 100%
Alat yang tersedia Peak Flow Meter (PFM)
ASMA selanjutnya klasifikasi..
KLASIFIKASI ASMA
Derajat Asma Keterangan
Intermiten Episode gejala asma satu kali sebulan atau lebih jarang
Persisten ringan Episode gejala asma ³2 kali sebulan, tetapi tidak >1 kali seminggu Persisten sedang Episode gejala asma >1 kali seminggu; namun tidak setiap hari Persisten berat Episode gejala asma hampir tiap hari
BERDASARKAN KEKERAPAN GEJALA
• Jika belum yakin: klasifikasi dibuat setelah diberikan tata laksana umum (pengendalian lingkungan dan penghindaran pencetus) selama 4 minggu.
• Jika sudah yakin: klasifikasi asma dibuat sejak kunjungan awal, dan tata laksana (non medikamentosa dan medikamentosa) dapat dilakukan sesuai klasifikasi.
• Klasifikasi kekerapan: acuan awal penetapan jenjang tata laksana jangka panjang.
• Klasifikasi dapat berubah pada kunjungan berikutnya sesuai dengan kondisi pasien.
BERDASARKAN DERAJAT SERANGAN
• Tidak gelisah
• Bicara dalam kalimat
• Frekuensi napas meningkat
• Retraksi minimal
• SpO2 (udara kamar):
92 – 95%
Ringan Sedang
• Gelisah
• Bicara dalam kata
• Frekuensi napas meningkat
• Retraksi jelas
• SpO2 (udara kamar)
< 92%
Berat
• Letargi
• Suara napas tak terdengar
Ancaman henti napas
• Tanpa gejala
• Dengan gejala
Tidak dalam serangan
Kriteria Terkendali
penuh Terkendali
sebagian Tidak terkendali Dalam 4 minggu terakhir apakah pasien
mengalami:
Semua kriteria
tidak ada 1-2 kriteria 3-4 kriteria - Gejala asma siang hari >2 kali
seminggu
- Terbangun malam hari karena asma - Penggunaaan obat pereda >2 kali
seminggu
- Keterbatasan aktivitas karena gejala asma
BERDASARKAN DERAJAT KENDALI
PENULISAN DIAGNOSIS ASMA
Derajat kekerapan Keadaan saat ini Derajat kendali
- Intermiten - Tanpa gejala - Terkendali penuh
- Persisten ringan - Gejala - Terkendali sebagian
- Persisten sedang - Serangan ringan-sedang - Tidak terkendali - Persisten berat - Serangan berat
- Serangan asma dengan ancaman henti napas
Diagnosis:
Asma persisten ringan dengan gejala tidak terkendali Tatalaksana:
Penghindaran pencetus
Tatalaksana jangka panjang dengan obat pengendali
Pereda: SABA
kecuali yang bertanda *: pereda KI-formoterol Tanpa pengendali,
pereda SABA + KI dosis rendah
KI dosis rendah
− KI-LABA dosis rendah
− KI-LABA dosis
menengah − KI-LABA dosis tinggi
intermitten persisten ringan persisten sedang persisten berat
− Tambahan: seperti Anti IgE, anti IL-4R,
− KI-formoterol dosis sangat rendah*
atau
− KI-formoterol dosis rendah*
atau
− KI dosis menengah atau
− Tanpa pengendali, pereda SABA + KI dosis rendah
− KI dosis rendah +
LTRA − menambahkan
pengendali di atas dengan LAMA atau LTRA
atau
− Pengendali LTRA
− Pengendali KI dosis rendah
Pilihan pengendali lain: Pilihan pengendali lain:
− menambahkan anti IL-5
− menambahkan kortiko- steroid oral dosis rendah, sebagai upaya terakhir atau
Pilihan lain:
Rujuk ke konsultan respirologi
Pertimbangkan:
Pilihan lain:
Pilihan lain:
Pengendali:
Pengendali:
Pengendali:
Obat pengendali: KI dosis rendah Obat pereda: SABA
Kasus 3
• O, 10 tahun, laki-laki
• Keluhan utama: sesak napas dan mengi memberat sejak kemarin
• Pasien mengalami batuk dan mengi berulang sejak 3 bulan yang lalu dan telah didiagnosis asma
persisten ringan dengan gejala tidak terkendali dan baru mulai mendapatkan obat pengendali sejak 1 bulan yang lalu (obat flutikason (MDI) dosis 2 x 50 mcg)
• Saat ini gejala batuk dan mengi masih dirasakan 3-4 kali setiap minggu yang memerlukan obat pereda salbutamol (MDI).
• Gejala terutama muncul saat beraktivitas fisik di sekolah atau terpapar udara dingin, dan beberapa kali membuat terbangun malam hari karena sesak.
• Demam (-), pilek (-).
• Riwayat asma pada ayah dan ayah perokok.
Anamnesis
Pemeriksaan fisis:
• Sadar, keadaan umum sedang, dapat berbicara dalam kalimat
• Frekuensi nadi : 98 kali/menit
• Frekuensi napas: 36 kali/menit, ekspirasi memanjang
• tax : 36.5oC
• SpO2 : 94% (udara kamar)
• BB : 30 kg ; TB: 136 cm
• Kepala/leher: anemia-/- ; ikterus -/- ; kongesti nasal (-), sekresi nasal (-), mukosa nasal dan faring hiperemi (-), ukuran tonsil T1/T1 hiperemi (-), nyeri tekan sinus (-)
• Toraks: simetris, retraksi minimal subkostal.
Jantung: suara jantung normal, tanpa murmur
Paru: suara napas vesikuler, crackles (-/-), wheezing (+/+)
• Abdomen: dalam batas normal Pemeriksaan fisis
BERDASARKAN DERAJAT SERANGAN
• Tidak gelisah
• Bicara dalam kalimat
• Frekuensi napas meningkat
• Retraksi minimal
• SpO2 (udara kamar):
92 – 95%
Ringan Sedang
• Gelisah
• Bicara dalam kata
• Frekuensi napas meningkat
• Retraksi jelas
• SpO2 (udara kamar)
< 92%
Berat
• Letargi
• Suara napas tak terdengar
Ancaman henti napas
• Tanpa gejala
• Dengan gejala
Tidak dalam serangan
KLASIFIKASI ASMA
TATALAKSANA SESUAI
DERAJAT SERANGAN ASMA RINGAN SEDANG
Derajat Asma Keterangan
Intermiten Episode gejala asma satu kali sebulan atau lebih jarang
Persisten ringan Episode gejala asma ³2 kali sebulan, tetapi tidak >1 kali seminggu Persisten sedang Episode gejala asma >1 kali seminggu; namun tidak setiap hari Persisten berat Episode gejala asma hampir tiap hari
BERDASARKAN KEKERAPAN GEJALA
• Jika belum yakin: klasifikasi dibuat setelah diberikan tata laksana umum (pengendalian lingkungan dan penghindaran pencetus) selama 4 minggu.
• Jika sudah yakin: klasifikasi asma dibuat sejak kunjungan awal, dan tata laksana (non medikamentosa dan medikamentosa) dapat dilakukan sesuai klasifikasi.
• Klasifikasi kekerapan: acuan awal penetapan jenjang tata laksana jangka panjang.
• Klasifikasi dapat berubah pada kunjungan berikutnya sesuai dengan kondisi pasien.
Kriteria Terkendali
penuh Terkendali
sebagian Tidak terkendali Dalam 4 minggu terakhir apakah pasien
mengalami:
Semua kriteria
tidak ada 1-2 kriteria 3-4 kriteria - Gejala asma siang hari >2 kali
seminggu
- Terbangun malam hari karena asma - Penggunaaan obat pereda >2 kali
seminggu
- Keterbatasan aktivitas karena gejala asma
BERDASARKAN DERAJAT KENDALI
Diagnosis:
Asma persisten sedang serangan ringan sedang tidak terkendali Tatalaksana:
Tatalaksana asma serangan ringan sedang Evaluasi penghindaran pencetus
Evaluasi tatalaksana jangka panjang dengan obat pengendali
Evaluasi komorbid
Foto sinus normal Foto torak normal
Pemeriksaan spirometri menunjukkan FEV1 68%, uji bronkodilator
menunjukkan FEV1 80%
INVESTIGASI LEBIH LANJUT:
• Ayah sudah berhenti merokok
• Penghindaran alergen sudah dilakukan
• Obat pengendali sudah dipakai setiap hari sesuai petunjuk dan cara pemakaian sudah benar.
• Tidak didapatkan komorbid INVESTIGASI LEBIH LANJUT:
TATALAKSANA JANGKA PANJANG STEP UP SESUAI ASMA PERSISTEN SEDANG
Jika ini belum maksimal maka dilakukan
perbaikan tatalaksana dahulu sebelum STEP UP
Pereda: SABA
kecuali yang bertanda *: pereda KI-formoterol Tanpa pengendali,
pereda SABA + KI dosis rendah
KI dosis rendah
− KI-LABA dosis rendah
− KI-LABA dosis
menengah − KI-LABA dosis tinggi
intermitten persisten ringan persisten sedang persisten berat
− Tambahan: seperti Anti IgE, anti IL-4R,
− KI-formoterol dosis sangat rendah*
atau
− KI-formoterol dosis rendah*
atau
− KI dosis menengah atau
− Tanpa pengendali, pereda SABA + KI dosis rendah
− KI dosis rendah +
LTRA − menambahkan
pengendali di atas dengan LAMA atau LTRA
atau
− Pengendali LTRA
− Pengendali KI dosis rendah
Pilihan pengendali lain: Pilihan pengendali lain:
− menambahkan anti IL-5
− menambahkan kortiko- steroid oral dosis rendah, sebagai upaya terakhir atau
Pilihan lain:
Rujuk ke konsultan respirologi
Pertimbangkan:
Pilihan lain:
Pilihan lain:
Pengendali:
Pengendali:
Pengendali:
Obat pengendali: budesonide-formoterol dosis 2 x 4.5 mcg Obat pereda: budesonide-formoterol