• Tidak ada hasil yang ditemukan

MATERI EVALUASI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "MATERI EVALUASI "

Copied!
85
0
0

Teks penuh

Peneliti melihat pada situasi nyata, pemahaman siswa terhadap membaca Al-Qur’an masih kurang. Bagaimana pendapat siswa tentang pembelajaran Al-Qur'an berbasis metode sorogan pada siswa kelas X IPS di SMA Negeri 2 Ponorogo. Bagaimana keterampilan membaca Al-Qur'an siswa Kelas X IPS SMA Negeri 2 Ponorogo dengan metode sorogan.

Adakah hubungan persepsi siswa terhadap pembelajaran Al-Quran berbasis metode sorogan dengan keterampilan membaca Al-Quran siswa kelas X IPS SMA Negeri 2 Ponorogo. Untuk mengetahui persepsi siswa terhadap pembelajaran Al-Quran berbasis metode sorogan pada siswa kelas X IPS di SMA Negeri 2 Ponorogo. Untuk mengetahui keterampilan membaca Al-Quran siswa kelas X IPS SMA Negeri 2 Ponorogo menggunakan metode sorogan.

Untuk mengetahui hubungan persepsi siswa terhadap pembelajaran Al-Qur'an berbasis metode sorogan dengan keterampilan membaca Al-Qur'an siswa Kelas X IPS di SMA Negeri 2 Ponorogo.

TUJUAN

MATERI EVALUASI

METODE

Faktor Siswa: kondisi latar belakang dan pengalaman siswa;

Faktor Sarana dan Fasilitas: yaitu sarana dan fasilitas yang mendukung terhadap proses pembelajaran. Tersedianya media

Secara etimologis lafadz Al-Qur’an berasal dari bahasa Arab yaitu akar kata qara’at yang berarti “membaca”. Al-Qur'an merupakan salah satu bentuk isim masdar yang diartikan sebagai isim maf'ul yang artinya maqru. Pendapat lain mengatakan bahwa lafad Al-Qur’an yang berasal dari akar kata qara’a juga mempunyai arti al-Jam’u masing-masing.

Al-Qur'an merupakan kitab suci yang diturunkan Allah SWT, Tuhan Semesta Alam kepada Rasul-Nya yang terakhir dan Nabi Muhammad SAW. Dari beberapa penjelasan mengenai makna Al-Qur'an di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa Al-Qur'an adalah kitab wahyu Allah. 25 Mohammad Nor Ichwan, Kajian Al-Qur'an: Mengungkap Khazanah Ilmu Al-Qur'an Melalui Pendekatan Historis-Metodologi (Semarang: Rasail, 2005), 33.

Membaca al-Quran adalah perbuatan yang dilakukan dengan melihat dan memahami apa yang tertulis secara lisan atau dalam hati.

Ta’awwudz dan Basmalah

Al-Quran boleh dibaca dengan tiga cara: lambat, lambat dan cepat yang setiap satunya wajib bertajwid, tartil, dalam gaya bahasa Arab asli (pertuturan). Pembacaan ayat-ayat al-Quran yang berulang kali menimbulkan tafsiran baru, perkembangan idea dan meningkatkan kesucian jiwa dan kesejahteraan batin. Qoraish Shihab, Tafsir Tematik Wawasan Al-Qur'an Pelbagai Mata Pelajaran Ummah (Bandung: Penerbit Mizan.

Menurut ulama al-Quran (ahli qari), terdapat 4 (empat) peringkat bacaan al-Quran: 33. Membaca seperti tartil, tetapi lebih tenang dan perlahan, kaedah ini biasanya digunakan untuk mengajar al-Quran sepenuhnya. " 33 Ahmad Annuri, Panduan Tahsin Tilawah Al-Qur'an & Perbincangan Ilmu Tajwid (Jakarta: Al-Kautsar, 2010), 29.

Tingkatan membaca ini adalah yang terbaik karena melalui membaca itulah Al-Qur’an diturunkan.

Setiap orang beriman yakin bahwa sekadar membaca Al-Quran merupakan amalan yang sangat mulia dan akan mendapat pahala yang lebih karena yang dibacanya adalah kitab suci Ilahi. Al-Qur'an merupakan bacaan terbaik bagi orang-orang yang beriman, baik di saat suka maupun duka, di saat senang maupun di saat sedih. Padahal, membaca Al-Qur'an bukan hanya sekedar amal dan ibadah, namun juga menjadi obat dan penawar bagi orang-orang yang jiwanya gelisah.

Apabila dia meminta nasihat, dia berkata: "Wahai Ibnu Mas'ud, berilah aku nasihat yang boleh dijadikan ubat bagi jiwaku yang gelisah. Maka Ibnu Mas'ud menasihatinya, dia berkata: "Jika penyakit itu menimpa kamu, maka teguhkanlah hatimu untuk mengunjungi tiga tempat, iaitu ke tempat orang membaca al-Quran, kamu membaca al-Quran atau kamu mendengar dengan penuh perhatian orang yang membacanya, atau kamu pergi ke Majlis Pengajian yang mengingatkan hati Tuhan atau kamu mencari waktu dan tempat yang sunyi, di sana anda berdoa kepada Allah, contohnya di tengah malam, ketika orang sedang tidur nyenyak, anda bangun untuk menunaikan solat malam, memohon dan memohon kepada Allah untuk ketenangan jiwa, ketenangan jiwa dan. Mengenai pahala membaca al-Quran, Ali bin Abi Talib berkata bahawa sesiapa yang membaca al-Quran ketika solat akan mendapat pahala lima puluh kebaikan bagi setiap huruf yang dilafazkannya, sedangkan dia membaca al-Quran di luar solat dengan berwuduk. . 37. Pahalanya dua puluh lima kali kebajikan bagi setiap huruf yang dilafazkannya dan membaca al-Quran di luar solat tanpa berwuduk, balasannya ialah sepuluh kebaikan bagi setiap huruf yang dilafazkannya.

Metode Sorogan

Para santri mendengarkan dan memvalidasinya dengan membuat catatan di bukunya, untuk memvalidasi ilmu yang diberikan oleh kyainya 41 4) Metode Sorogan adalah metode ceramah dimana santri menghadap dirinya sendiri. Metode Sorogan merupakan salah satu metode CBSA (Metode Belajar Siswa Aktif) dimana siswa secara aktif memilih kitab, biasanya kitab kuning, untuk dibaca, kemudian dibacakan dan diterjemahkan di hadapan kyai untuk sementara. Secara umum dalam metode sorogan ini siswa berhak memilih kitab yang akan dipelajari.

Peneliti dapat menyimpulkan bahwa metode sorogan merupakan metode pembelajaran dimana siswa menghadap gurunya dan membawa Al-Quran kemudian membacanya secara individu dan bergiliran. Guru memberikan informasi agar siswa lebih memahami dan rajin membaca Al-Qur’an di rumah maupun di sekolah. Metode Sorogan didasarkan pada peristiwa yang terjadi ketika Rasulullah SAW atau para nabi lainnya menerima ajaran dari Allah SWT melalui malaikat Jibril langsung bertemu satu persatu yaitu antara malaikat Jibril dengan para nabi.46.

Hubungan pembelajaran Al-Quran berbasis metode Sorogan dengan keterampilan membaca Al-Qur'an.

Hubungan antara Pembelajaran Al- Qur’an berbasis Metode Sorogan dengan Keterampilan Membaca Al- Qur’an

Penerapan metode Sorogan merupakan upaya yang dilakukan oleh seorang guru di bidang membaca Al-Qur'an untuk mempengaruhi siswa agar meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur'an. Tujuan yang ingin dicapai adalah mampu membaca Al-Qur’an. yang baik dan benar, yaitu benar dalam makhraj dan tajwid. Metode Sorogan yaitu santri maju satu persatu menghadap kiai untuk menyerahkan bacaan Al-Qur’annya sehingga apabila ada kesalahan dalam bacaannya maka kiai langsung membetulkan bacaannya. Cara sorogan ini sangat baik bagi pemula yang ingin belajar membaca Al Quran dengan baik dan benar.

Dari uraian di atas terlihat bahwa metode sorogan dinilai terbukti efektif dalam meningkatkan semangat dan kemampuan siswa dalam membaca Al-Qur'an. Tesis yang ditulis oleh Purwi Arum Muslickhah STAIN Ponorogo), berjudul “Hubungan Penggunaan Metode Tarsana Dan Motivasi Belajar Dengan Hasil Belajar Membaca Al-Qur’an Di Majelis Mushola Taklim Nurul Falah Desa Pencol Kecamatan Kartoharjo Kabupaten Magetan”. Hasil penelitian: Terdapat hubungan positif yang signifikan antara penggunaan metode Tarsaana dan motivasi belajar dengan hasil belajar membaca Al Quran di Majlis Taklim Mushola Nurul Falah Desa Pencol Kecamatan. Berdasarkan pedoman interpretasi koefisien korelasi diperoleh hasil antara penggunaan metode TARSANA dan motivasi belajar dengan hasil pengajaran membaca Al-Qur’an di Majelis Taklim Mushola Nurul Falah Desa Pencol Kecamatan .

Tesis yang ditulis oleh Inayah Alfauziyah (3103100, IAIN Walisongo Semarang) yang berjudul “Pengaruh penerapan metode Sorogan terhadap kemampuan membaca Al-Quran pada anak usia 6-7 tahun di Pondok Tahfidh. Yaitu penelitian yang bersifat penelitian kuantitatif dan kuantitatif. a) Keduanya membahas tentang pembelajaran membaca Al-Qur'an, teknik pengumpulan data menggunakan angket dan dokumentasi b) Keduanya membahas tentang metode sorogan dan membaca Al-Qur'an dan pengumpulan data menggunakan metode angket, tes dan dokumentasi. Sedangkan penelitian ini mencoba untuk menyelidiki hubungan persepsi siswa terhadap pembelajaran Al-Qur'an berbasis metode sorogan dengan keterampilan membaca Al-Qur'an siswa kelas X IPS.

Jika persepsi siswa terhadap pembelajaran Al-Qur’an berdasarkan metode sorogan siswa tinggi, maka kemampuan membaca Al-Qur’an tinggi. Jika persepsi siswa terhadap pembelajaran Al-Qur’an berdasarkan metode sorogan siswa rendah, maka kemampuan membaca Al-Qur’an rendah. Ho: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara persepsi siswa terhadap pembelajaran Al-Qur'an berbasis metode sorogan dengan keterampilan membaca Al-Qur'an siswa IPS Kelas X SMA Negeri 2 tahun ajaran 2015-2016.

Ha : Terdapat hubungan yang signifikan antara persepsi siswa terhadap pembelajaran Al-Qur'an berbasis metode sorogan dengan keterampilan membaca Al-Qur'an siswa kelas X IPS SMA Negeri 2 tahun ajaran 2015-2016. Dalam penelitian ini variabel bebasnya adalah persepsi siswa terhadap pembelajaran Al-Qur'an dengan metode sorogan, dan variabel terikatnya adalah keterampilan membaca Al-Qur'an.

POPULASI DAN SAMPEL 1. Populasi

INSTRUMEN PENGUMPULAN DATA

  • Faktor Guru

NEGERI 2 TAHUN

  • TEKNIK PENGUMPULAN DATA
  • TEKNIK ANALISIS DATA
  • Uji Validitas dan Reliabilitas Instrument 1. Uji Validitas Instrument
  • Gambaran Umum lokasi Penelitian
  • Deskripsi Data Hasil Angket persepsi peseta didik tentang pembelajaran Al- Qur’an berbasis metode sorogan dengan Hasil Tes Keterampilan
    • Analisis data tentang Keterampilan Membaca Al- Qur’an
    • Analisis Data tentang Korelasi Persepsi Peseta Didik tentang Pembelajaran Al- Qur’an berbasis Metode Sorogan dengan
  • Pembahasan dan Interpretasi 1. Interpretasi
    • Pembahasan

Tes ini digunakan peneliti untuk mengetahui kemampuan siswa dalam membaca Al-Quran dengan baik dan akurat. Cara penerapannya adalah seluruh siswa Kelas X IPS diwajibkan membaca ayat suci Al-Quran. Jadi, item instrumen dalam penelitian ini berjumlah 35 variabel pengajaran Al-Qur’an berdasarkan metode sorogan.

Dari hasil data angket persepsi siswa mengenai pembelajaran Al-Qur'an berdasarkan metode sorogan untuk kelas Skor dan frekuensi persepsi responden siswa mengenai pembelajaran Al-Qur'an berbasis metode sorogan pada siswa kelas IPS Setelah diteliti, peneliti memperoleh data tentang keterampilan membaca Al-Qur'an siswa IPS Kelas

Hasil dan Frekuensi Responden Keterampilan Membaca Al-Qur'an di Kelas Untuk memperoleh data tersebut, penulis menggunakan metode angket yang dibagikan kepada 89 siswa untuk mengetahui persepsi siswa terhadap pembelajaran Al-Qur'an berdasarkan metode sorogan di SMAN 2 Horny. Penilaian persepsi siswa terhadap pembelajaran Al-Qur'an berdasarkan metode sorogan pada siswa kelas X IPS SMAN 2 Ponorogo.

Kelas 84 Lihat Lampiran 11 Tabel Nilai Variabel Keterampilan Menghafal Al-Qur'an Siswa Kelas X IPS SMAN 2 Ponorogo. Data Persepsi Siswa Terhadap Pembelajaran Al-Qur'an Berdasarkan Metode Sorogan dengan Keterampilan Membaca Al-Qur'an Kelas X.

Secara umum dapat dikatakan pembelajaran Al Quran berbasis metode sorogan di SMAN 2 Ponorogo sudah cukup. Jadi secara umum dapat dikatakan bahwa keterampilan membaca Al-Qur’an siswa IPS Kelas Korelasi persepsi siswa terhadap pembelajaran Al-Qur'an berdasarkan metode sorogan dengan keterampilan membaca.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran Al-Qur’an berbasis metode sorogan ada hubungannya dengan keterampilan membaca Al-Qur’an siswa kelas X IPS SMAN 2 Ponorogo.

Tabel 4.7  Frekuensi Teoritik
Tabel 4.7 Frekuensi Teoritik

PENUTUP

Kesimpulan

Saran

Kajian Al-Qur'an: Menemukan Khazanah Ilmu Al-Qur'an Melalui Pendekatan Historis-Metodologis.

Gambar

Tabel 4.7  Frekuensi Teoritik

Referensi

Dokumen terkait

i ABSTRAK Suci Elsayu Syafira : Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis Android Tentang Materi Jamur Untuk Peserta Didik Kelas X SMA/MA Media pembelajaran adalah salah satu