MAKALAH MAUQUF ‘ALAIH
Disusun dalam rangka menyelesaikan tugas mata kuliah Hukum Zakat dan Wakaf Kontemporer
Dosen Pembimbing : Husni A. Jalil, M.A.
Disusun Oleh :
Shaffan Dihaaqa (220102253) Farah Amelia (230102077)
PROGAM STUDI HUKUM EKONOMI SYARIAHFAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM UNIVERSITAS UIN AR-RANIRY
BANDA ACEH 2024
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya ucapkan ke hadirat Allah SWT atas segala rahmat-Nya sehingga makalah ini dapat tersusun sampai dengan selesai. Tidak lupa saya mengucapkan terima kasih terhadap bantuan dari pihak yang telah berkontribusi dengan memberikan pikiran maupun materinya.
Penulis sangat berharap semoga makalah ini dapat menambah pengetahuandan pengalaman bagi pembaca. Bahkan saya berharap lebih jauh lagi agar makalah ini bisa pembaca praktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi saya sebagai penyusun merasa bahwa masih banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini karena keterbatasan pengetahuan dan pengalaman saya Untuk itu saya sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah Hukum Zakat dan Wakaf Kontemporer
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR... 2
DAFTAR ISI...3
BAB 1...4
PENDAHULUAN...4
1.1 Rumusan Masalah... 5
BAB II...6
PEMBAHASAN...6
2.1 Definisi dan Kedudukan Muquf ‘Alaih Dalam Hukum Islam...6
2.1 Persyaratan Mauquf ‘Alaih...7
2.3 Regulasi Mauquf ‘Alaih dalam Peraturan Perundang-undangan di Indonesia...9
2.4 Praktik Mauquf ’Alaih di Masyarakat...10
2.5 Analisis Kesesuaian Praktik dengan Hukum Islam dan Peraturan Perundang-undangan...11
BAB III... 14
PENUTUP... 14
3.1 Kesimpulan...14
DAFTAR PUSTAKA... 15
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perwakafan dalam Islam merupakan salah satu bentuk ibadah mal yang sangat dianjurkan untuk membantu meningkatkan kesejahteraan umat, dengan cara menyisihkan sebagian harta yang dimiliki untuk kepentingan umum. Secara syar’i, wakaf bukan hanya bertujuan untuk memperbaiki kehidupan materi umat Islam, tetapi juga sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Namun, dalam prakteknya, perwakafan di Indonesia, terutama yang menyangkut pengelolaan harta wakaf, masih menghadapi berbagai tantangan, seperti kurangnya pemahaman masyarakat tentang wakaf uang dan kurang maksimalnya lembaga nadzir dalam pengelolaan aset wakaf.
Salah satu aspek yang perlu menjadi perhatian adalah mauquf alaih, yaitu pihak yang memperoleh manfaat dari harta wakaf yang telah disalurkan. Mauquf alaih dapat berupa individu, lembaga, atau masyarakat yang mendapatkan manfaat dari hasil pemanfaatan wakaf. Dalam perspektif hukum Islam, peran mauquf alaih sangat penting karena merekalah yang menjadi sasaran dari seluruh manfaat wakaf yang dikelola. Oleh karena itu, analisis mengenai kesesuaian antara praktik perwakafan dan pemenuhan hak-hak mauquf alaih menjadi sangat relevan.
Seiring berkembangnya hukum perwakafan di Indonesia, berbagai regulasi telah dikeluarkan untuk memperbaiki pengelolaan wakaf, termasuk peraturan terkait wakaf uang yang mulai populer di kalangan masyarakat. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf dan berbagai peraturan pelaksanaannya memberikan landasan hukum yang jelas bagi pengelolaan harta wakaf, termasuk dana wakaf yang dapat dimanfaatkan secara produktif.
Namun, masih terdapat ketidaksesuaian antara peraturan yang ada dan praktik pelaksanaan perwakafan, khususnya dalam hal pemberdayaan dan kesejahteraan mauquf alaih. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana praktik wakaf di Indonesia, khususnya dalam konteks mauquf alaih, dapat disesuaikan dengan prinsip-prinsip hukum Islam dan peraturan yang berlaku, serta bagaimana implementasi yang tepat dapat meningkatkan kesejahteraan mereka yang menjadi penerima manfaat dari harta wakaf tersebut
1.1 Rumusan Masalah
1. Apa definisi dan kedudukan mauquf ’alaih dalam hukum Islam?
2. Bagaimana regulasi mauquf ‘alaih dalam peraturan perundang-undangan di Indonesia?
3. Bagaimana praktik mauquf ‘alaih di masyarakat?
4. Apakah praktik di masyarakat sesuai dengan hukum Islam dan peraturan perundang-undangan?
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Definisi dan Kedudukan Muquf ‘Alaih Dalam Hukum Islam
Mauquf ‘alaih adalah pihak atau tujuan yang menerima manfaat dari harta wakaf. Dalam konteks hukum Islam, mauquf ’alaih mengacu pada sasaran wakaf yang harus berada dalam batasan-batasan syariat Islam. Sasaran tersebut bisa berupa individu, kelompok, atau lembaga yang memenuhi syarat tertentu sesuai dengan prinsip kebajikan (qurbat) yang mendekatkan diri kepada Allah. Prinsip utama dari mauquf ’alaih adalah bahwa penggunaannya harus mencerminkan amal kebaikan yang diperbolehkan atau dianjurkan oleh syariah, sehingga manfaat harta wakaf dapat terus berlanjut secara abadi. Oleh karena itu, tujuan wakaf tidak hanya bersifat material, tetapi juga mencakup aspek spiritual yang memberikan dampak positif bagi masyarakat dan lingkungan.
A. Pembagian Mauquf ’Alaih
Para ulama membagi mauquf ’alaih menjadi dua kategori besar, yaitu :1 1. Al-Mu’ayyan (Tertentu)
Sasaran wakaf yang spesifik atau jelas, seperti individu tertentu, kelompok, atau lembaga tertentu.
Contohnya:
Wakaf kepada seorang fakir miskin yang disebutkan namanya.
Wakaf kepada sebuah masjid tertentu, seperti Masjid Al-Azhar.
Wakaf kepada keluarga pewakaf sendiri atau kepada anak keturunannya.
Syarat Al-Mu’ayyan:
Untuk dianggap sah, mauquf ’alaih harus memenuhi syarat bahwa pihak penerima memiliki kemampuan untuk memiliki harta (ahl li al-tamalluk). Namun, terdapat perbedaan
1Sarpini, “Telaah Mauquf ‘Alaih dalam Hukum Perwakafan,” ZISWAF: Jurnal Zakat dan Wakaf 6, no. 1 (2019):
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Purwokerto, 31–36. P-ISSN: 2461-0577; E-ISSN: 2477-5347. Hal. 24
pendapat tentang beberapa kondisi tertentu, seperti wakaf untuk orang yang belum lahir atau belum dikenal.
2. Ghair Mu’ayyan (Tidak Tertentu)
Sasaran wakaf bersifat umum dan tidak spesifik. Misalnya:
Wakaf untuk kaum fakir miskin secara umum.
Wakaf untuk mendukung pembangunan lembaga pendidikan, masjid, atau fasilitas kesehatan.
Wakaf untuk kegiatan sosial seperti pemeliharaan anak yatim, pemberdayaan ekonomi, atau pembangunan bendungan.
Syarat Ghair Mu’ayyan:
Sasaran harus mencakup kebajikan (al-birr wa al-khair), sesuai dengan prinsip taqarrub ilallah. Selain itu, sasaran ini harus memberikan manfaat yang bersifat luas dan berkelanjutan, tanpa melanggar aturan hukum dan nilai-nilai syariat.
2.1 Persyaratan Mauquf ‘Alaih
Agar mauquf ‘alaih dianggap sah, ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi sesuai pandangan ulama fikih dan regulasi yang berlaku :2
A. Syarat Umum Mauquf ’Alaih
1. Berhubungan dengan Qurbat kepada Allah
Sasaran wakaf harus mencerminkan kebajikan yang mendekatkan diri kepada Allah. Artinya, tujuan wakaf tidak boleh bertentangan dengan prinsip ibadah atau nilai-nilai Islam.
2. Tidak Mengandung Maksiat
Wakaf tidak sah jika digunakan untuk tujuan yang bertentangan dengan hukum syariat, seperti mendukung kegiatan haram atau maksiat.
3. Jelas dan Tertentu
2Sarpini, “Telaah Mauquf ‘Alaih dalam Hukum Perwakafan,” hal. 32-34
Identitas mauquf ’alaih harus jelas, baik secara individu, kelompok, maupun institusi. Dalam kasus ghair mu’ayyan, tujuan umum harus dijelaskan agar harta wakaf dapat dikelola dengan baik.
4. Bersifat Kontinu
Harta wakaf harus digunakan untuk tujuan yang berkelanjutan, sehingga manfaatnya tetap ada dalam jangka panjang. Misalnya, wakaf untuk masjid yang terus digunakan sebagai tempat ibadah.
5. Tidak Kembali kepada Wakif
Setelah diwakafkan, harta tersebut tidak boleh kembali menjadi milik pewakaf. Ini sesuai dengan prinsip bahwa wakaf adalah perpindahan kepemilikan harta secara permanen.
B. Syarat Khusus Mauquf ’Alaih
1. Kemampuan Memiliki (ahl li al-tamalluk):
Penerima wakaf harus mampu memiliki harta secara sah menurut hukum Islam. Misalnya seperti anak dalam kandungan tidak dianggap memenuhi syarat oleh mayoritas ulama, kecuali Mazhab Maliki dan hamba sahaya juga tidak dapat menerima wakaf karena tidak memiliki hak kepemilikan.
2. Tidak Melanggar Hukum yang Berlaku:
Penggunaan harta wakaf harus sejalan dengan peraturan perundang-undangan. Di Indonesia, Pasal 22 UU No. 41 Tahun 2004 mengatur bahwa wakaf hanya dapat digunakan untuk:
Sarana ibadah, pendidikan, dan kesehatan.
Bantuan sosial, seperti untuk fakir miskin dan yatim piatu.
Peningkatan ekonomi umat dan kesejahteraan masyarakat.
3. Tidak Bertentangan dengan Akhlak Islami:
Selain mematuhi hukum syariat, penggunaan wakaf juga harus sesuai dengan norma-norma akhlak yang mulia.
4. Manfaat Tidak Terputus:
Aktivitas yang didanai oleh wakaf harus bersifat abadi atau menghasilkan manfaat yang terus berlanjut. Abu Hanifah menekankan pentingnya keberlanjutan manfaat (ta’bid), karena tujuan wakaf adalah amal jariah yang pahalanya terus mengalir
2.3 Regulasi Mauquf ‘Alaih dalam Peraturan Perundang-undangan di Indonesia
Regulasi mengenai mauquf ‘alaih dalam peraturan perundang-undangan di Indonesia diatur dalam beberapa peraturan hukum yang memberikan landasan pelaksanaan wakaf di Indonesia. Secara umum, mauquf ‘alaih merujuk pada pihak yang berhak menerima manfaat dari harta yang diwakafkan oleh wakif (pemberi wakaf). Dalam konteks hukum Indonesia, pengaturan terkait mauquf ‘alaih dapat ditemukan dalam Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf, Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1977, dan Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2006.
1. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf
Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 memberikan dasar hukum yang mengatur mekanisme pelaksanaan wakaf di Indonesia, termasuk ketentuan mengenai mauquf ‘alaih. Dalam undang-undang ini, disebutkan bahwa wakaf adalah perbuatan hukum untuk memisahkan dan/atau menyerahkan sebagian harta benda milik wakif untuk dimanfaatkan sesuai dengan tujuan syariat Islam. Dalam konteks mauquf ‘alaih, penerima manfaat dari wakaf ini harus dipastikan layak dan dapat memanfaatkan harta wakaf sesuai dengan ketentuan yang berlaku.3
2. Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1977
Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1977 mengatur mengenai prosedur pelaksanaan wakaf, termasuk kewajiban wakif untuk melakukan ikrar wakaf di hadapan Pejabat Pembuat Akta Ikrar Wakaf (PPAIW). Dalam hal ini, mauquf ‘alaih yang ditunjuk oleh wakif harus memenuhi persyaratan hukum yang ditetapkan, sehingga hak dan kewajiban atas harta wakaf dapat dijalankan dengan baik.4
3. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2006
3Undang-Undang Republik Indonesia, Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 159, Jakarta: Sekretariat Negara.
4Peraturan Pemerintah Republik Indonesia, Nomor 28 Tahun 1977 tentang Pelaksanaan Wakaf, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1977 Nomor 38, Jakarta: Sekretariat Negara.
Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2006 mengatur definisi dan tata cara pelaksanaan wakaf, termasuk pemanfaatan harta wakaf oleh mauquf ‘alaih. Dalam peraturan ini, wakaf diartikan sebagai tindakan pemisahan atau penyerahan sebagian harta benda milik wakif untuk dimanfaatkan oleh pihak yang berhak. Mauquf ‘alaih, dalam hal ini, memiliki hak untuk memperoleh manfaat dari harta wakaf, dan pengelolaannya harus dilakukan dengan sesuai dengan tujuan syariat.5
Regulasi ini memberikan landasan bagi implementasi wakaf yang transparan dan sesuai dengan hukum yang berlaku, dengan memastikan bahwa pihak yang menerima manfaat dari wakaf (mauquf
‘alaih) dapat memanfaatkan harta tersebut dengan sebaik-baiknya untuk kepentingan umum 2.4 Praktik Mauquf ’Alaih di Masyarakat
Praktik mauquf alaih dalam pengelolaan wakaf uang di masyarakat dapat dilihat melalui berbagai contoh konkret yang menggambarkan bagaimana wakaf uang diimplementasikan untuk memberdayakan penerima manfaat. Salah satu studi kasus yang relevan adalah yang terjadi di Yayasan Dana Sosial Al Falah (YDSF) Surabaya, yang telah berhasil menjalankan program wakaf uang dengan baik, memberikan dampak positif bagi kesejahteraan sosial-ekonomi masyarakat.
A. Studi Kasus dan Peran Nazir dalam Menentukan Mauquf ’Alaih
Dalam konteks YDSF, wakaf uang dikelola dengan sangat hati-hati oleh nazhir (pengelola wakaf).
Peran nazhir di sini sangat penting dalam menentukan siapa saja yang berhak menerima manfaat dari wakaf uang, atau yang disebut mauquf alaih. Nazir harus memastikan bahwa penerima manfaat ini benar- benar memenuhi kriteria yang ditetapkan berdasarkan kebutuhan sosial dan ekonomi, serta kesesuaian dengan prinsip-prinsip maqashid syariah. Di YDSF, penerima manfaat diutamakan dari kalangan yang membutuhkan, termasuk kelompok masyarakat kurang mampu, anak-anak yatim, dan kaum duafa yang membutuhkan bantuan pendidikan serta pembiayaan kesehatan.6
Nazhir di YDSF bekerja dengan transparansi dan akuntabilitas yang tinggi, menjaga agar tidak terjadi kesalahan dalam menentukan penerima manfaat, sehingga distribusi wakaf uang dapat tepat sasaran dan memberikan dampak yang optimal. Proses ini mencakup pengumpulan data yang akurat dan penyuluhan kepada masyarakat tentang hak mereka sebagai penerima manfaat dari program wakaf.
5Peraturan Pemerintah Republik Indonesia, Nomor 42 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan Wakaf, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 105, Jakarta: Sekretariat Negara.
6Astrianisa Fathona dan Moh. Qudsi Fauzi, “Tercapainya Tingkat Efektivitas Wakaf Uang untuk Memberdayakan Kesejahteraan Mauquf ’Alaih di Yayasan Dana Sosial Al Falah (YDSF) Surabaya,” Jurnal Ekonomi Syariah Teori dan Terapan, Vol. 3 No. 1 (2016), hal. 56-69.
B. Masalah-Masalah yang Sering Terjadi dalam Pengelolaan Wakaf
Meskipun pengelolaan wakaf uang di YDSF berjalan dengan baik, terdapat beberapa masalah yang kerap muncul dalam pengelolaan wakaf di masyarakat secara umum. Beberapa masalah yang sering dihadapi adalah:
1. Penyalahgunaan Wakaf
Penyalahgunaan wakaf dapat terjadi ketika nazhir tidak bertindak dengan jujur dan transparan dalam mengelola dana wakaf, sehingga dana yang seharusnya diperuntukkan bagi kemaslahatan umat disalahgunakan untuk kepentingan pribadi atau kelompok tertentu. Untuk mengatasi hal ini, YDSF menekankan pentingnya pengelolaan yang profesional dan diawasi dengan ketat oleh lembaga yang berwenang.
2. Ketidakjelasan Penerima Manfaat
Salah satu tantangan besar dalam pengelolaan wakaf adalah ketidakjelasan siapa yang berhak menerima manfaat. Ini dapat muncul karena ketidaktepatan dalam pendataan atau penyebaran informasi tentang penerima manfaat (mauquf alaih). Di YDSF, masalah ini diatasi dengan sistem yang jelas untuk mendata dan memverifikasi penerima manfaat secara transparan, serta melibatkan masyarakat dalam pengawasan.
3. Konflik di Antara Pihak Terkait
Terkadang, perbedaan pandangan tentang siapa yang berhak menerima manfaat atau bagaimana wakaf uang seharusnya dikelola dapat menyebabkan konflik di antara pihak-pihak terkait, seperti antara nazhir, wakif, dan penerima manfaat. Konflik semacam ini bisa dicegah dengan komunikasi yang baik dan sistem yang jelas mengenai pembagian manfaat wakaf, serta penyelesaian sengketa yang adil berdasarkan hukum yang berlaku.
2.5 Analisis Kesesuaian Praktik dengan Hukum Islam dan Peraturan Perundang-undangan A. Kesesuaian dengan Hukum Islam
Praktik pengelolaan wakaf uang di YDSF sudah sesuai dengan prinsip-prinsip hukum Islam, terutama dalam hal pengelolaan harta wakaf yang tidak boleh disalahgunakan dan harus tetap dipertahankan pokoknya. Wakaf uang di Islam dipandang sebagai bentuk ibadah yang sah selama hasil dari harta tersebut digunakan untuk kepentingan umat, seperti pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan
ekonomi masyarakat. Dalam hal ini, YDSF telah berhasil menyesuaikan praktiknya dengan prinsip maqashid syariah, yang mencakup lima pokok tujuan yaitu agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta umat.
Wakaf uang yang dikelola dengan profesional di YDSF menjamin bahwa manfaat yang diberikan kepada penerima manfaat (mauquf alaih) tidak hanya untuk kesejahteraan material, tetapi juga untuk kemaslahatan spiritual dan sosial.7
B. Kesesuaian dengan Peraturan Perundang-undangan
Dalam konteks Indonesia, pengelolaan wakaf uang di YDSF juga sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. YDSF mengikuti Undang-Undang No. 41 Tahun 2004 tentang Wakaf yang memperbolehkan wakaf uang, serta Peraturan Pemerintah No. 42 Tahun 2006 yang menjelaskan bahwa wakaf dapat berupa benda bergerak seperti uang. Selain itu, Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) tahun 2002 juga mengakui wakaf uang sebagai bentuk amal yang sah dan sesuai dengan ajaran Islam.
YDSF juga memenuhi prosedur administrasi sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Agama RI No.
4 Tahun 2009, yang mengatur tentang pendaftaran wakaf uang, serta ketentuan lain yang mendukung kelancaran pengelolaan wakaf uang di Indonesia.
C. Solusi atas Ketidaksesuaian
Meski pengelolaan wakaf uang di YDSF telah sesuai dengan hukum Islam dan peraturan perundang-undangan, beberapa kendala di lapangan sering kali terjadi, seperti masalah penyalahgunaan dan ketidakjelasan penerima manfaat. Oleh karena itu, beberapa solusi yang dapat dipertimbangkan untuk memperbaiki praktik pengelolaan wakaf uang di masyarakat antara lain:
1. Peningkatan Pengawasan dan Transparansi
Agar praktik wakaf uang tetap berjalan sesuai dengan prinsip Islam dan peraturan yang berlaku, pengawasan yang lebih ketat dari pihak berwenang, seperti Badan Wakaf Indonesia (BWI), perlu dilakukan. Transparansi dalam pengelolaan wakaf uang juga sangat penting agar masyarakat dapat mengetahui secara jelas alur penggunaan dana wakaf.
2. Pendidikan dan Sosialisasi Lebih Lanjut
Agar masyarakat lebih memahami tentang konsep wakaf uang dan perannya dalam pemberdayaan sosial, edukasi dan sosialisasi yang lebih intensif perlu dilakukan. Hal ini penting agar
7Fathona dan Fauzi, “Tercapainya Tingkat Efektivitas Wakaf Uang untuk Memberdayakan Kesejahteraan Mauquf ’Alaih,” hal. 63-69.
baik wakif, nazhir, maupun mauquf alaih memiliki pemahaman yang benar tentang hak dan kewajiban mereka dalam sistem wakaf.
3. Penyusunan Panduan yang Jelas
Panduan operasional yang lebih jelas tentang kriteria penerima manfaat dan prosedur pengelolaan wakaf uang harus disusun oleh nazhir dan lembaga pengelola wakaf. Hal ini akan meminimalisir ketidakjelasan dan potensi konflik yang dapat muncul di kemudian hari.
Dengan langkah-langkah perbaikan tersebut, diharapkan praktik pengelolaan wakaf uang di Indonesia dapat semakin sesuai dengan hukum Islam dan peraturan yang berlaku, serta memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat.
BAB III PENUTUP
3.1 KesimpulanMauquf ‘alaih memainkan peran yang sangat vital dalam pengelolaan wakaf, terutama dalam memastikan manfaat dari harta wakaf dapat dirasakan oleh masyarakat secara berkelanjutan. Dalam perspektif hukum Islam, mauquf ‘alaih harus berada dalam koridor syariat, dengan tujuan utama untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memberikan dampak positif bagi kesejahteraan umat. Pembagian mauquf ‘alaih ke dalam kategori tertentu (mu’ayyan) dan tidak tertentu (ghair mu’ayyan) memberikan fleksibilitas dalam menentukan siapa yang berhak menerima manfaat, sesuai dengan kebutuhan sosial dan ekonomi masyarakat.
Regulasi yang ada di Indonesia, seperti Undang-Undang No. 41 Tahun 2004 dan peraturan pemerintah terkait, memberikan dasar hukum yang jelas bagi pengelolaan wakaf, termasuk dalam menentukan mauquf ‘alaih. Penerapan regulasi ini bertujuan untuk memastikan bahwa harta wakaf digunakan dengan sebaik-baiknya, sesuai dengan prinsip syariat dan kepentingan masyarakat. Praktik yang dilakukan oleh lembaga pengelola wakaf, seperti Yayasan Dana Sosial Al Falah (YDSF), menunjukkan bahwa pengelolaan wakaf yang transparan dan profesional dapat memberikan manfaat signifikan, terutama dalam pemberdayaan ekonomi dan sosial masyarakat yang membutuhkan.
Namun, tantangan besar yang sering dihadapi dalam pengelolaan wakaf adalah penyalahgunaan dana, ketidakjelasan penerima manfaat, dan potensi konflik antara pihak terkait. Untuk mengatasi masalah ini, pengawasan yang lebih ketat dari lembaga yang berwenang, serta peningkatan transparansi dalam pengelolaan wakaf, sangat dibutuhkan. Selain itu, edukasi masyarakat mengenai konsep wakaf dan perannya dalam kesejahteraan umat juga harus diperkuat agar setiap pihak yang terlibat dalam sistem wakaf, baik wakif, nazhir, maupun mauquf ‘alaih, memiliki pemahaman yang jelas mengenai hak dan kewajibannya.
Dengan langkah-langkah tersebut, pengelolaan wakaf di Indonesia diharapkan dapat semakin optimal dan sesuai dengan prinsip syariat, memberikan manfaat yang berkelanjutan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
Astrianisa Fathona dan Moh. Qudsi Fauzi. "Tercapainya Tingkat Efektivitas Wakaf Uang untuk Memberdayakan Kesejahteraan Mauquf ’Alaih di Yayasan Dana Sosial Al Falah (YDSF) Surabaya."Jurnal Ekonomi Syariah Teori dan Terapan3, no. 1 (2016).
Republik Indonesia. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 159. Jakarta: Sekretariat Negara.
Republik Indonesia. Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1977 tentang Pelaksanaan Wakaf. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1977 Nomor 38. Jakarta: Sekretariat Negara.
Republik Indonesia. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan Wakaf. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 105. Jakarta: Sekretariat Negara.
Sarpini. "Telaah Mauquf ‘Alaih dalam Hukum Perwakafan." ZISWAF: Jurnal Zakat dan Wakaf 6, no. 1 (2019): 31–36. Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Purwokerto. P-ISSN: 2461-0577; E-ISSN:
2477-5347.