• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bagaimana membangun kemampuan literasi numerasi secara bertahap sejak PAUD hingga SD?

N/A
N/A
USMAN USMAN

Academic year: 2024

Membagikan "Bagaimana membangun kemampuan literasi numerasi secara bertahap sejak PAUD hingga SD?"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

Modul 3

Guru menyadari miskonsepsi yang umum terjadi terkait konsep dan penerapan literasi dan numerasi pada PAUD-SD

Bagaimana membangun kemampuan literasi

numerasi secara bertahap sejak PAUD hingga SD?

Materi 1.

BADAN STANDAR KURIKULUM, DAN ASESMEN PENDIDIKAN

KEMENTERIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA

2022

(2)

Perjalanan belajar yang akan Bapak/Ibu lalui adalah sebagai berikut:

MODUL 1

Mengapa penguatan

transisi PAUD-SD

penting?

Materi 1 : Miskonsepsi yang umum terjadi

mengenai ‘makna kesiapan bersekolah’ dan ‘proses transisi PAUD- SD’

Materi 2 : Memahami hubungan antara penguatan transisi PAUD SD serta kaitannya dengan pemenuhan hak anak serta kesiapan bersekolah;

Materi 3 : memahami landasan prinsipil serta kebijakan yang mendasari gerakan penguatan transisi PAUD-SD

MODUL 2

Bagaimana membangun

lingkungan belajar yang mendukung

transisi PAUD-SD?

Materi 1 : Identifikasi praktik pembelajaran yang sesuai untuk anak usia dini

Materi 2.1 : Masa dua minggu awal di tahun ajaran : Anak

mengenal sekolah Materi 2.2 : Masa dua minggu awal di tahun ajaran : sekolah mengenal anak dengan asesmen awal

MODUL 3

Bagaimana membangun kemampuan literasi numerasi

secara bertahap sejak PAUD

hingga SD?

Materi 1 : Miskonsepsi literasi dan numerasi pada PAUD-SD

Materi 2 : Memahami lingkup literasi pada PAUD-SD

Materi 3 : Bagaimana membangun kemampuan literasi secara bertahap Materi 4 : Memahami konsep dasar lingkup numerasi pada PAUD-SD Materi 5 : Bagaimana membangun kemampuan numerasi secara bertahap

MODUL 4

Bagaimana membangun kemampuan fondasi secara

holistik dan bertahap sejak PAUD hingga SD?

Materi 1 : Memahami pentingnya membangun kemampuan fondasi pada PAUD hingga SD kelas awal.

Materi 2 :Memahami kemampuan fondasi yang perlu dibangun pada anak usia dini bersifat holistik.

Materi 3 : Memahami bagaimana kemampuan fondasi dapat dibangun secara bertahap dan berkesinambungan di PAUD dan SD.

MODUL 5

Bagaimana merencanakan

pembelajaran yang menguatkan

transisi PAUD-SD?

Materi 1 : Memiliki kemampuan

meramu tujuan pembelajaran Materi 2 :Kegiatan pembelajaran yang mendukung tujuan

pembelajaran

MODUL 6

Bagaimana melaporkan pembelajaran

yang menguatkan

transisi PAUD-SD?

Materi 1 : Asesmen untuk anak usia dini Materi 2 : Fungsi, teknik dan instrumen asesmen

Materi 3 : menyusun laporan hasil belajar yang spesifik dan mudah dipahami.

Materi 4 :

menginformasikan hasil belajar secara dialogis.

(3)

Pada Pernyataan 1, ‘mengajar membaca dimulai dari menghafal huruf A-Z’ merupakan pernyataan tidak tepat. Membaca adalah proses yang bertahap mulai dari kemampuan membedakan bunyi, membunyikan lambang yang berupa gambar dan aksara. Oleh karena itu pengucapan yang tepat akan membantu anak melafalkan lambang (gambar/huruf) yang ditemuinya sehingga dapat dikatakan bahwa proses anak belajar membaca dimulai sebelum anak mengenal huruf A-Z.

9

Pada pernyataan 2,Kegiatan menceritakan apa yang terjadi di lingkungan sekitarnya merupakan salah satu kegiatan pembelajaran yang sebaiknya dilakukan saat persiapan membaca’ merupakan pernyataan yang tepat. Bercerita dengan benda-benda yang ada di sekitar anak (mainan, alat-alat makan, alat-alat tulis, makanan kesukaan) merupakan salah satu cara untuk melatih kemampuan awal membaca termasuk pemahaman makna kata.

Pada pernyataan 3, ‘Anak yang lancar baca tidak selalu memahami isi bacaan’ merupakan pernyataan yang tepat. Pemahaman isi bacaan terkait dengan makna kata, dan maksud ujaran (kalimat). Pemahaman isi bacaan terkait dengan makna kata, dan maksud ujaran (kalimat) sedangkan kelancaran membaca berkaitan dengan pemahaman akan bentuk, arah dan bunyi huruf. Oleh sebab itu, peserta didik perlu membangun pemahamannya akan makna kata dan ujaran seiring terus melatih kelancarannya dalam membaca.

Modul 3. Bagaimana membangun kemampuan literasi numerasi secara bertahap sejak PAUD hingga SD? | Materi 1 3

Miskonsepsi Literasi Anak Usia Dini

(4)

Masyarakat awam menganggap bahwa literasi dimulai dengan pengenalan huruf, kemampuan mengeja suku kata, kefasihan melafalkan bacaan, dan keterampilan menulis secara drilling (mengandalkan latihan terus menerus) dan mengabaikan konteks.

1. Sejatinya, kecakapan literasi dimulai dari kemampuan anak untuk dapat berkomunikasi, artinya bertukar informasi melalui interaksi dengan lingkungan sekitarnya.

2. Kemampuan ini dapat ditumbuhkan melalui kegiatan bercakap-cakap, menyimak lagu dan cerita, bermain dan bersosialisasi.

3. Kegiatan pembelajaran tersebut pun dapat dilakukan seiring dengan dilakukannya pengenalan aksara, kata, menulis dan membaca.

Miskonsepsi Literasi Anak Usia Dini

Literasi pada Anak Usia Dini dan SD Awal

(5)

Pernyataan 1: Anak usia dini belum siap untuk belajar matematika.

Penjelasan :

Anak usia dini dapat secara aktif membangun pemahamannya dari pengalaman sehari-hari mereka terkait berbagai konsep dan strategi matematika, misalnya ketika ia memiliki dua cokelat dan memberikannya satu untuk adik dapat membuatnya memahami konsep pengurangan.

Mereka siap dan bersemangat untuk belajar numerasi yang merangsang dan menantang.

Pernyataan 2:

Numerasi atau matematika hanya dapat dikuasai oleh anak cerdas dengan gen matematika (turun-temurun).

Penjelasan :

Minat dan pengetahuan matematika yang dibawa anak-anak ke sekolah berbeda karena pengalaman

mereka yang berbeda-beda, bukan karena faktor biologis mereka.

Kita tidak boleh melupakan fakta bahwa semua anak, terlepas dari latar belakang dan pengalaman sebelumnya, memiliki potensi untuk belajar matematika.

Miskonsepsi Numerasi Anak Usia Dini

Modul 3. Bagaimana membangun kemampuan literasi numerasi secara bertahap sejak PAUD hingga SD? | Materi 1 5 12

(6)

Pernyataan 3:

Mengajarkan bilangan yang sederhana dan bentuk sudah cukup bagi anak usia dini.

Penjelasan :

Pembelajaran matematika anak usia dini bersifat mendalam dan luas, yang mencakup ide-ide besar matematika di banyak bidang — termasuk bilangan dan operasi, geometri (bentuk dan ruang), pengukuran, aljabar (terutama pola), dan analisis data — dalam konteks pembelajaran yang menekankan pemecahan masalah, analisis dan komunikasi.

Pernyataan 4:

Literasi lebih penting daripada numerasi untuk anak usia dini.

Penjelasan :

Numerasi sama pentingnya dengan literasi. Anak-anak belajar berbicara, membaca dan menulis bahasa matematika untuk mengkomunikasikan ide-ide matematika.

Jenis bahasa terpenting yang dapat dipelajari anak-anak dalam matematika adalah bahasa pemikiran, pembenaran, dan pembuktian. Bahasa dan literasi jelas sangat tertanam dalam pembelajaran dan pengajaran matematika.

Miskonsepsi Numerasi Anak Usia Dini

(7)

Pernyataan 5:

Guru dapat menyediakan sarana yg lengkap seperti alat belajar untuk anak belajar numerasi, kemudian membiarkan anak membangun pemahamannya sendiri dengan alat belajar tersebut.

Penjelasan :

Lingkungan fisik yang kaya, meskipun merupakan indikator kualitas yang penting, tidaklah cukup dengan sendirinya. Faktor yang penting bukanlah apa yang dimungkinkan oleh lingkungan, tetapi apa yang sebenarnya dilakukan anak-anak di dalamnya.

Lingkungan mungkin menyediakan 'makanan untuk berpikir matematis', tetapi keberadaan makanan untuk berpikir matematis di kelas tidak menjamin bahwa anak-anak akan mencernanya.

Guru perlu membantu anak untuk mengolahnya. Salah satu caranya dapat dilakukan dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan pemicu ketika anak bermain dengan alat belajarnya tersebut. Hal ini diharapkan dapat mengembangkan kemampuan matematis anak menjadi lebih kuat lagi

Miskonsepsi Numerasi Anak Usia Dini

Modul 3. Bagaimana membangun kemampuan literasi numerasi secara bertahap sejak PAUD hingga SD? | Materi 1 7 12

MITOS

FAKTA

(8)

Pernyataan 6:

Matematika hendaknya tidak diajarkan sebagai mata pelajaran yang berdiri sendiri

Penjelasan :

Matematika dapat menjadi subjek studi yang menarik dan mengasyikkan dengan sendirinya. Anak-anak terpesona dengan bilangan dan bentuk.

Matematika tidak selalu perlu diintegrasikan dengan kegiatan lain untuk menarik anak-anak.

Walau demikian, apabila memungkinkan dan memang berkaitan, matematika/numerasi dapat diintegrasikan dalam kegiatan pembelajaran yang juga dirancang untuk mencapai ketercapaian pembelajaran yang lain, misalnya fisik-motorik.

Pernyataan 7:

Asesmen dalam

matematika tidak relevan untuk anak usia dini.

Penjelasan :

Asesmen terutama yang bersifat autentik, relevan untuk anak usia dini. Asesmen yang dipahami dengan baik, diterapkan dengan baik, dan berkelanjutan adalah alat yang sangat diperlukan dalam memfasilitasi keterlibatan dan keberhasilan semua anak dalam matematika.

Di ruang kelas anak usia dini, observasi merupakan teknik asesmen yang sering digunakan untuk memahami anak-anak, karena tidak menimbulkan tekanan pada anak dan berfokus pada perilaku yang teramati yang mengindikasikan ketercapaian tujuan pembelajaran.

Dalam kasus matematika, guru sering menggunakan ceklis untuk mencatat pengamatan mereka tentang apakah seorang anak telah menunjukkan pengetahuan matematika tertentu.

Miskonsepsi Numerasi Anak Usia Dini

(9)

Pernyataan 8:

Anak belajar matematika hanya melalui interaksi dengan

benda-benda konkret.

Penjelasan :

Penggunaan bahan konkret memang efektif untuk mendorong anak berpikir dan membuat hubungan antara objek dan membangun ide matematika yang bersifat abstrak. Walau demikian, yang paling utama adalah bagaimana membangun ide tersebut menggunakan pertanyaan pemantik yang membantu anak menemukan pemahamannya sendiri. Misalnya "menurut kamu, mana yang lebih banyak? kira-kira apa yang terjadi apabila kita menumpahkan isi air di ember ini ke dalam gelas? cukup tidak ya?", dst.

Oleh sebab itu, guru dan juga orang tua di rumah, perlu lebih sering memberikan pertanyaan-pertanyaan tersebut sehingga aktivitas belajar anak tidak hanya bersifat hands-on (anak melakukan kegiatan), tetapi yang utama, minds-on (anak terus diajak untuk mengolah informasi dengan panduan pertanyaan pemantik dari guru).

Pernyataan 9:

Pemahaman konsep bilangan diukur dari kemampuan menghitung cepat.

Penjelasan :

Kemampuan menghitung cepat saja belum menjamin seorang anak memiliki pemahaman yang utuh mengenai bilangan, termasuk di dalamnya kesadaran atau intuisi bilangan.

Meskipun menghitung mungkin tampak sebagai proses yang sederhana, untuk dapat berhasil menghitung dengan pemahaman, melibatkan proses yang tidak sederhana (berlapis-lapis) sehingga pembelajaran pun perlu dibangun secara bertahap.

Miskonsepsi Numerasi Anak Usia Dini

Modul 3. Bagaimana membangun kemampuan literasi numerasi secara bertahap sejak PAUD hingga SD? | Materi 1 9 12

(10)

Numerasi pada anak usia dini dipandang sebagai kemampuan pemecahan masalah dasar dan penerapan matematika dalam kehidupan sehari-hari, dan bukan sekedar keterampilan berhitung bilangan, melainkan juga mencakup pemahaman akan pola (aljabar), geometri (bentuk, lokasi dan posisi), pengukuran, serta analisa data.

Numerasi terdiri dari pengetahuan, keterampilan, perilaku, dan kecenderungan (disposisi) yang dibutuhkan seseorang untuk dapat menggunakan matematika untuk memecahkan masalah dalam berbagai situasi.

Sumber: Pengembangan Numerasi untuk Anak Usia 5-6 Tahun, Unicef, 2021

Miskonsepsi Numerasi Anak Usia Dini

Numerasi Anak Usia Dini

Referensi

Dokumen terkait

Tunjukkan beberapa kartu kata bergambar dengan suku kata awal 1 huruf, 2 huruf dan 3 huruf pada anak dan minta anak mengelompokkan dua kartu kata bergambar yang memiliki suku kata

Adapun ciri-ciri proses berfikir pada anak usia itu antara lain (1) pola berfikir dalam memahami konsep yang abstrak masih terikat pada media konkret, (2) jika

LAPORAN PELAKSANAAN PRAKTEK PEMANTAPAN KEMAMPUAN MENGAJAR (PKM) Disusun Untuk Memenuhi Persyaratan Mata Kuliah Pemantapan Kemampuan Mengajar (PDGK 4209) S1 PGSD Universitas Terbuka DISUSUN OLEH : NAMA : .....................NIM : .....................SEMESTER: IV (EMPAT) UPBJJ : UT PANGKAL PINANG POKJAR : MUNTOK MASA REGISTRASI : 2015.1 FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIT PROGRAM BELAJAR JARAK JAUH UNIVERSITAS TERBUKA PANGKAL PINANG TAHUN 2015 2 / 9 ii LEMBAR PENGESAHAN LAPORAN PELAKSNAAN PRAKTEK PEMANTAPAN KEMAMPUAN MENGAJAR (PDGK 4209) Oleh ..................... telah diketahui dan disahkan oleh Bapak Sarbudiono, S.Pd selaku Pembimbing Mata Kuliah Pemantapan Kemampuan Mengajar (PKM) di UPBJJ UT Pangkal Pinang Pokjar Muntok sebagai salah satu tugas akhir semester IV (Empat). Tempat : Muntok Hari : Minggu Tanggal : Mei 2015 Pembimbing Mahasiswa Sarbudiono, S.Pd ..................... NIP. 19680528 199103 1 005 NIM. ..................... 3 / 9 iii KATA PENGANTAR Alhamdullilah, segala puji syukur atas kehadirat Allah SWT dan atas berkat rahmat, hidayah dan karunia-Nya, sehingga akhirnya penulis dapat menyelesaikan laporan pelaksanaan praktek Pemantapan Kemampuan Mengajar ini dengan baik. Melalui mata kuliah ini, penulis berlatih untuk menerapkan berbagai pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang telah dipelajari dalam kegiatan merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi kegiatan pembelajaran, sehingga penulis dapat mengoreksi diri agar menjadi seorang guru yang profesional. Penyusunan laporan tugas akhir semester IV ini tentu tidak lepas dari bimbingan dan arahan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan laporan ini, diantaranya : 1.Bapak Drs. Syarif Fadillah, M.Si, selaku kepala UPBJJ UT Pangkal Pinang; 2.Bapak Hermansyah selaku pengelolah UT pangkal Pinang Pokjar Muntok; 3.Bapak Sarbudiono, S.Pd selaku Pembimbing Mata Kuliah Pemantapan Kemampuan Mengajar di UPBJJ UT Pangkal Pinang Pokjar Muntok; 4.Bapak Mulkan selaku Kepala Sekolah Dasar Negeri 4 Jebus; 5.Bapak Sarmin selaku Kepala sekolah Dasar Negeri 5 Simpang Teritip; 6.Bapak Jhoni Darma Putra, S.Pd.SD selaku Kepala Sekolah Dasar Negeri 6 Parittiga; 7.Bapak Parjana, S.Pd.SD selaku Supervisor 2 yang telah banyak membantu penulis dalam melaksanakan Praktek Pemantapan Kemampuan Mengajar; 8.Kedua orang tua dan teman Mahasiswa yang telah memberi bantuan baik moral, maupun materi dan juga semua pihak yang telah banyak membantu dalam pembuatan laporan ini. Penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari kesempurnaan walaupun penulis telah bekerja dengan maksimal. Maka dari itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak guna perbaikan, selanjutnya penulis berharap Laporan pelaksanaan praktek Pemantapan Kemampuan Mengajar ini akan memberi manfaat bagi pembaca, dan semua pihak yang berkepentingan. Muntok, Mei 2015 Penulis, 4 / 9 iv DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL ............................................................................... i LEMBAR PENGESAHAN ......................................................................... ii KATA PENGANTAR ................................................................................. iii DAFTAR ISI ........................................................................................ iv BAB I. PENDAHULUAN......................................................................1 A.Latar Belakang ...........................................................................1 B.Deskripsi Profil Mahasiswa .............................................................2 BAB II. PELAKSANAAN PKM.......................................................................... 3 A.Manfaat Mengikuti PKM ...............................................................3 B.Tempat Pelaksanaan PKM ..............................................................3 C.Waktu Pelaksanaan PKM ...............................................................3 BAB III. ULASAN PROSES SELAMA PELAKSANAAN PKM .....................5 A.Temuan Dalam Praktek Mengajar Mata Pelajaran Eksakta ........................5 B.Temuan Dalam Praktek Mengajar Mata Pelajaran Non Eksakta ..................5 BAB IV. PENUTUP.............................................................................6 A.Kesimpulan ................................................................................. 6 B.Saran ......................................................................................... LAMPIRAN ............................................................................................. oLembar Kelengkapan Berkas Laporan Praktek PKM ...............................oSurat Rekomendasi Kepaka Sekolah ...................................................oSurat Kesediaan Teman Sejawat .......................................................o10 (Sepuluh) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ...................................... o3 (Tiga) APKG 1 dan APKG 2 .........................................................o10 (Sepuluh) Lembar Refleksi .........................................................o10 (Sepuluh) Lembar Observasi .......................................................oJurnal Pembimbingan .................................................................... 5 / 9 1 BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang Mengajar pada hakekatnya ialah membelajarkan siswa, dalam arti mendorong dan membimbing siswa belajar. Membelajarkan siswa mengandung maksud agar guru berupaya mengaktifkan siswa belajar. Dengan demikian, di dalam proses pembelajaran guru menggunakan berbagai strategi dan media semata-mata supaya siswa belajar (Sri Anitah W, dkk, 2009:1.3). Guru adalah pendidik professional dengan tugas utama adalah mendidik, mengajar, membimbing, melatih, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Ketegasan di atas menjelaskan bahwa guru harus memiliki sikap keprofesionalisme yang harus dimiliki. Profesional sendiri adalah suatu pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi. Berdasarkan pelaksanaan kegiatan Pemantapan Kemampuan Mengajar (PKM) yang telah dilaksanakan, diharapkan memperoleh pengetahuan dan pengalaman dan untuk mengetahui hasil pelaksanaan kegiatan Pemantapan Kemammpuan Mengajar (PKM) maka perlu disusun laporan hasil pelaksanaan kegiatan tersebut guna dijadikan acuan untuk pelaksanaan pembelajaran lebih baik. Kegiatan Praktek Pemantapan Kemampuan Mengajar dilaksanakan di SD Negeri 4 Jebus yang beralamat di Desa Limbung, Kecamatan Jebus, Kabupaten Bangka Barat. SD Negeri 4 Jebus dikepalai oleh bapak Mulkan memiliki 7 tenaga pendidik dan 2 tenaga kependidikan. Sekolah ini memiliki 6 rombel dengan jumlah siswa 108 orang yang kebanyakan merupakan penduduk setempat.

dfLAPORAN PELAKSANAAN PRAKTEK PEMANTAPAN KEMAMPUAN MENGAJAR (PKM) Disusun Untuk Memenuhi Persyaratan Mata Kuliah Pemantapan Kemampuan Mengajar (PDGK 4209) S1 PGSD Universitas Terbuka DISUSUN OLEH : NAMA : .....................NIM : .....................SEMESTER: IV (EMPAT) UPBJJ : UT PANGKAL PINANG POKJAR : MUNTOK MASA REGISTRASI : 2015.1 FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIT PROGRAM BELAJAR JARAK JAUH UNIVERSITAS TERBUKA PANGKAL PINANG TAHUN 2015 2 / 9 ii LEMBAR PENGESAHAN LAPORAN PELAKSNAAN PRAKTEK PEMANTAPAN KEMAMPUAN MENGAJAR (PDGK 4209) Oleh ..................... telah diketahui dan disahkan oleh Bapak Sarbudiono, S.Pd selaku Pembimbing Mata Kuliah Pemantapan Kemampuan Mengajar (PKM) di UPBJJ UT Pangkal Pinang Pokjar Muntok sebagai salah satu tugas akhir semester IV (Empat). Tempat : Muntok Hari : Minggu Tanggal : Mei 2015 Pembimbing Mahasiswa Sarbudiono, S.Pd ..................... NIP. 19680528 199103 1 005 NIM. ..................... 3 / 9 iii KATA PENGANTAR Alhamdullilah, segala puji syukur atas kehadirat Allah SWT dan atas berkat rahmat, hidayah dan karunia-Nya, sehingga akhirnya penulis dapat menyelesaikan laporan pelaksanaan praktek Pemantapan Kemampuan Mengajar ini dengan baik. Melalui mata kuliah ini, penulis berlatih untuk menerapkan berbagai pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang telah dipelajari dalam kegiatan merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi kegiatan pembelajaran, sehingga penulis dapat mengoreksi diri agar menjadi seorang guru yang profesional. Penyusunan laporan tugas akhir semester IV ini tentu tidak lepas dari bimbingan dan arahan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan laporan ini, diantaranya : 1.Bapak Drs. Syarif Fadillah, M.Si, selaku kepala UPBJJ UT Pangkal Pinang; 2.Bapak Hermansyah selaku pengelolah UT pangkal Pinang Pokjar Muntok; 3.Bapak Sarbudiono, S.Pd selaku Pembimbing Mata Kuliah Pemantapan Kemampuan Mengajar di UPBJJ UT Pangkal Pinang Pokjar Muntok; 4.Bapak Mulkan selaku Kepala Sekolah Dasar Negeri 4 Jebus; 5.Bapak Sarmin selaku Kepala sekolah Dasar Negeri 5 Simpang Teritip; 6.Bapak Jhoni Darma Putra, S.Pd.SD selaku Kepala Sekolah Dasar Negeri 6 Parittiga; 7.Bapak Parjana, S.Pd.SD selaku Supervisor 2 yang telah banyak membantu penulis dalam melaksanakan Praktek Pemantapan Kemampuan Mengajar; 8.Kedua orang tua dan teman Mahasiswa yang telah memberi bantuan baik moral, maupun materi dan juga semua pihak yang telah banyak membantu dalam pembuatan laporan ini. Penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari kesempurnaan walaupun penulis telah bekerja dengan maksimal. Maka dari itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak guna perbaikan, selanjutnya penulis berharap Laporan pelaksanaan praktek Pemantapan Kemampuan Mengajar ini akan memberi manfaat bagi pembaca, dan semua pihak yang berkepentingan. Muntok, Mei 2015 Penulis, 4 / 9 iv DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL ............................................................................... i LEMBAR PENGESAHAN ......................................................................... ii KATA PENGANTAR ................................................................................. iii DAFTAR ISI ........................................................................................ iv BAB I. PENDAHULUAN......................................................................1 A.Latar Belakang ...........................................................................1 B.Deskripsi Profil Mahasiswa .............................................................2 BAB II. PELAKSANAAN PKM.......................................................................... 3 A.Manfaat Mengikuti PKM ...............................................................3 B.Tempat Pelaksanaan PKM ..............................................................3 C.Waktu Pelaksanaan PKM ...............................................................3 BAB III. ULASAN PROSES SELAMA PELAKSANAAN PKM .....................5 A.Temuan Dalam Praktek Mengajar Mata Pelajaran Eksakta ........................5 B.Temuan Dalam Praktek Mengajar Mata Pelajaran Non Eksakta ..................5 BAB IV. PENUTUP.............................................................................6 A.Kesimpulan ................................................................................. 6 B.Saran ......................................................................................... LAMPIRAN ............................................................................................. oLembar Kelengkapan Berkas Laporan Praktek PKM ...............................oSurat Rekomendasi Kepaka Sekolah ...................................................oSurat Kesediaan Teman Sejawat .......................................................o10 (Sepuluh) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ...................................... o3 (Tiga) APKG 1 dan APKG 2 .........................................................o10 (Sepuluh) Lembar Refleksi .........................................................o10 (Sepuluh) Lembar Observasi .......................................................oJurnal Pembimbingan .................................................................... 5 / 9 1 BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang Mengajar pada hakekatnya ialah membelajarkan siswa, dalam arti mendorong dan membimbing siswa belajar. Membelajarkan siswa mengandung maksud agar guru berupaya mengaktifkan siswa belajar. Dengan demikian, di dalam proses pembelajaran guru menggunakan berbagai strategi dan media semata-mata supaya siswa belajar (Sri Anitah W, dkk, 2009:1.3). Guru adalah pendidik professional dengan tugas utama adalah mendidik, mengajar, membimbing, melatih, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Ketegasan di atas menjelaskan bahwa guru harus memiliki sikap keprofesionalisme yang harus dimiliki. Profesional sendiri adalah suatu pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi. Berdasarkan pelaksanaan kegiatan Pemantapan Kemampuan Mengajar (PKM) yang telah dilaksanakan, diharapkan memperoleh pengetahuan dan pengalaman dan untuk mengetahui hasil pelaksanaan kegiatan Pemantapan Kemammpuan Mengajar (PKM) maka perlu disusun laporan hasil pelaksanaan kegiatan tersebut guna dijadikan acuan untuk pelaksanaan pembelajaran lebih baik. Kegiatan Praktek Pemantapan Kemampuan Mengajar dilaksanakan di SD Negeri 4 Jebus yang beralamat di Desa Limbung, Kecamatan Jebus, Kabupaten Bangka Barat. SD Negeri 4 Jebus dikepalai oleh bapak Mulkan memiliki 7 tenaga pendidik dan 2 tenaga kependidikan. Sekolah ini memiliki 6 rombel dengan jumlah siswa 108 orang yang kebanyakan merupakan penduduk setempat.