• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS KEMAMPUAN PENGUASAAN KOSA KATA BARU PADA ANAK POS PAUD MUTIARA SEMARANG MELALUI METODE GLENN DOMAN ipi6985

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "ANALISIS KEMAMPUAN PENGUASAAN KOSA KATA BARU PADA ANAK POS PAUD MUTIARA SEMARANG MELALUI METODE GLENN DOMAN ipi6985"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

Jurnal Penelitian PAUDIA, Volume 1 No. 1 2011

ANALISIS KEMAMPUAN PENGUASAAN KOSA KATA BARU

PADA ANAK POS PAUD MUTIARA SEMARANG

MELALUI METODE GLENN DOMAN

Penelitian. “Analisis Kemampuan Penguasaan Kosa Kata Baru pada Anak Pos PAUD Mutiara Semarang melalui Metode Glenn Doman”. Jurusan Pendidikan Anak Usia Dini IKIP PGRI Semarang. Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) untuk mengetahui metode pengajaran yang paling tepat diterapkan untuk mengajarkan kemampuan membaca pada anak usia dini, dan (2) untuk mengetahui penerapan metode Glenn Doman untuk mengajarkan kosa kata baru bagi anak usia dini di Pos PAUD Mutiara Semarang.

Penelitian yang dilakukan ini merupakan penelitian jenis kualitatif yang difokuskan pada satu fenomena saja yang akan ditelaah secara mendalam. Populasi dari penelitian ini adalah sejumlah 67 orang anak murid Pos PAUD Mutiara Semarang, terbagi dalam 2 kelompok: PAUD Kecil (24 anak) dan PAUD Besar (43 anak). Yang menjadi sampel penelitian adalah anak di kelompok PAUD besar. Karena jumlah populasinya yang kurang dari 100 orang, maka keseluruhan populasi di kelompok PAUD besar akan dijadikan sebagai sampel dalam penelitian ini.

Berdasarkan proses penelitian yang dilalui, ditemukan fakta-fakta untuk menjawab permasalahan yang diajukan dalam Rumusan Masalah sebagai berikut: 1) mengetahui metode pengajaran yang paling tepat diterapkan untuk mengajarkan kemampuan membaca pada anak usia dini adalah Metode Glenn Doman, dan (2) penerapan metode Glenn Doman untuk mengajarkan kosa kata baru bagi anak usia dini di Pos PAUD Mutiara Semarang menghasilkan data bahwa pada Tahap I diperoleh rata pencapaian sebesar 61,4 %, 62,3 % pada Tahap II, dan 66,5 % pada Tahap III. Peneliti menyarankan beberapa hal, yaitu: 1). galilah lebih dalam dan lebih banyak lagi macam metode pembelajaran untuk anak usia dini, dan 2). Kepada peneliti selanjutnya diharapkan dapat mencobakan Metode Glenn Doman tersebut pada anak TK, sehingga keempat tahapnya dapat diterapkan secara maksimal.

(2)

Jurnal Penelitian PAUDIA, Volume 1 No. 1 2011

Setiap manusia diharapkan mampu menguasai keempat kemampuan

berbahasa secara urut, mulai dari menyimak, berbicara, membaca, dan menulis.

Di dalam sebuah artikel disebutkan bahwa membaca merupakan salah satu fungsi

tertinggi otak manusia dari semua makhluk hidup di dunia. Membaca juga

merupakan fungsi yang paling penting dalam hidup. Hampir semua proses belajar

didasarkan pada kemampuan membaca. Anak-anak dapat membaca sebuah kata

ketika usia mereka satu tahun, sebuah kalimat ketika berusia dua tahun, dan

sebuah buku ketika berusia tiga tahun dan mereka menyukainya.

(http://dranak.blogspot.com/2006/06/mengajar-bayi-anda-membaca-metode.html).

Tahun 1961, satu tim ahli dunia yang terdiri atas, dokter, spesialis

membaca, ahli bedah otak dan psikolog mengadakan penelitian "Bagaimana otak

anak-anak berkembang?". Penelitian tersebut mendapati bahwa ternyata anak

yang mengalami cidera otak-pun dapat membaca dengan baik pada usia tiga tahun

atau bahkan lebih muda lagi. Jadi dapat disimpulkan kalau ada sesuatu yang salah

pada apa yang sedang terjadi pada anak-anak sehat jika di usia ini mereka belum

bisa membaca dengan lancar.

Untuk dapat mengajarkan keterampilan membaca pada anak, khususnya

anak balita, diperlukan sebuah perlakuan khusus (special treatment) yang unik,

menyenangkan, namun berhasil bagi anak-anak. Peneliti tertantang untuk

membuktikan keberhasilan metode Glenn Doman yang menurut banyak pihak

diakui sebagai sebuah metode pengajaran membaca yang praktis namun efisien

bagi balita. Hal ini dikarenakan dalam metode ini anak-anak diajari dalam

suasana santai, tenang, menyenangkan, sehingga hasil yang dicapai dapat

benar-benar maksimal namun tidak member rasa bosan pada pembelajar muda ini.

Dari dasar pemikiran inilah, penulis melaksanakan penelitian dengan judul “Analisis Kemampuan Penguasaan Kosa Kata Baru pada Anak Pos PAUD Mutiara Semarang melalui Metode Glenn Doman”, dengan harapan dapat menjadi

penyumbang ide dalam rangka mensukseskan program Pendidikan yang Ramah

Anak di kota Semarang. Tujuan dari pelaksanaan penelitian ini adalah: (1). untuk

mengetahui metode pengajaran yang paling tepat diterapkan untuk mengajarkan

(3)

Jurnal Penelitian PAUDIA, Volume 1 No. 1 2011

metode Glenn Doman untuk mengajarkan kosa kata baru bagi anak usia dini di

Pos PAUD Mutiara Semarang.

Tahap Perkembangan Bahasa pada Anak Usia Dini

Setiap anak adalah unik. Mereka begitu polos, lugu, namun menyimpan

segudang potensi luar biasa yang sering kali mencengangkan orang dewasa.

Sebagai manusia, mereka dibekali akal yang akan terus berkembang seiring

bertambahnya usia dan kematangan diri. Sebagai manusia pula, mereka mampu

menguasai keterampilan berbahasa yang diawali dari mendengar, mengucap,

membaca, kemudian menulis.

Respon yang anak (bahkan bayi) berikan terhadap keadaan di sekitar

mereka merupakan cara indah mereka dalam membangun komunikasi dengan

lingkungan. Walaupun yang muncul adalah tangisan, mereka sebenarnya sedang

berkomunikasi, sedang menggunakan bahasa. Sebelum mampu berbicara, anak

umumnya mampu menegeluarkan suara sederhana yang kemudian terus

berkembang secara komplek dan bermakna (Aulia, 2011 : 17). Tahapan-tahapan

sederhana ini adalah: menangis, mendekut, mengoceh, dan menirukan kata-kata

yang didengar dari lingkungan sekitar. Kemampuan berbahasa sebelum anak

dapat berbicara disebut Pre-linguistic Speech (Papalia dalam Aulia,2011).

Perkembangan bahasa sangat erat hubungannya dengan kematangan

fisiologis dan perkembangan sistem syaraf dalam otak. Setiap bayi telah dibekali

kemampuan untuk berkomunikasi sejak dalam kandungan, yang akan terus

berlanjut hingga bayi lahir, tumbuh dan berkembang (2011: 18).

Perkembangan bahasa pada anak usia dini dimulai sejak bayi.

Perkembangannya sendiri dipengaruhi oleh perkembangan otak kanan dan kiri da

masa awal pertumbuhan bayi.

Fungsi otak kiri adalah mendukung perkembangan bahasa dan bicara serta

mengatur kemampuan berbicara, pengucapan kata dan kalimat, memahami

pembicaraan orang, mengulang kata dan kalimat di samping kemampuan

berhitung, membaca dan menulis. Sementara itu fungsi otak kanan adalah

(4)

Jurnal Penelitian PAUDIA, Volume 1 No. 1 2011

situasi dan kondisi, pengendalian emosi, kesenian, kreativitas, dan pola berpikir

secara holistic (Aulia, 2011: 7).

Pada 2 tahun pertama kehidupan anak, belahan otak kanan lebih

berkembang daripada otak kiri, baru setelahnya otak kiri berkembang mengikuti.

Oleh sebab itu pada periode 2 tahun pertama ini seringkali seorang anak memakai

tangan kirinya sebagai reaksi untuk melambaikan tangan, member, dan atau

meminta (2011: 8)

Selanjutnya perkembangan bahasa bayi tergambar sebagai berikut:

1. Perkembangan bahasa bayi sebagai komunikasi prelinguistik (0-3 bulan)

2. Kata-kata pertama: transisi ke bahasa anak (3-9 bulan)

3. Perkembangan kosakata yang cepat: pemebntukan kalimat awal (9-18 bulan)

4. Percakapan bayi menjadi registrasi anak prasekolah yang menyerupai orang

dewasa (18-36 bulan)

Fase perkembangan bahasa di atas dapat dibagi menjadi 2 periode, yaitu

Periode Prelinguistik (0-1 tahun) dan Peiode Linguistik (1-5 tahun). Pada Periode

Linguistik, fase perkembangan bahasa terbagi dalam 3 fase, yaitu:

1. Fase Satu Kata (Holofrase), yaitu fase di mana bayi menggunakan ssatu kata

untuk menyatakan pikiran yang kompleks tanpa ada perbedaan yang jelas.

2. Fase Lebih dari Satu Kata yang muncul ketika bayi berusia sekitar 18 bulan.

Bayi telah mampu membuat kalimata sederhana yang terdiri dari 2 kosa kata

yang biasanya terdiri dari pokok kalimat (subyek) an predikat, atau dengan

objek, walaupun kata bahasa yang dipakai belum benar.

3. Fase Diferensiasi yang berlangsung pada usia 2,5 – 5 tahun di mana

keterampilan anak dalam berbicara telah lancer dan berkembang pesat.

Karakteristik Anak Usia Dini

Sebelum membahas lebih dalam tentang karakter pembelajar usia dini

(young learner), kita perlu megelompokkan mereka terlebih dahulu. Scoot dan

Ytreberg (1993: 1-5) memberikan pendapat mereka tentang pengelompokkan

anak berdasarkan usia ke dalam 2 level, yaitu: (1) usia 5 – 7 tahun, dan (2) 8 – 10

tahun. Karakter dari anak di kelompok pertama adalah mereka dapat

(5)

Jurnal Penelitian PAUDIA, Volume 1 No. 1 2011

dapat membuat rencana, serta dapat menggunakan alas an-alasan logis.

Sedangkan karakter umum dari anak di kelompok kedua adalah dapat

membedakan benda-benda / hal-hal abstrak dan kongkrit, bertanya setiap saat,

membuat keputusan tentang pembelajaran sendiri (self learning), membedakan

hal-hal yang mereka sukai dan yang tidak disukai, mampu bekerjasama dengan

orang lain, dll.

Pendapat berbeda tentang pengelompokkan anak berdasarkan usia dan karakter mereka disampaikan oleh Nur’aini yang berpendapat jika anak dikelompokkan ke dalam 3 tahap, yaitu: Tahap Pertama (usia 0 – 18 atau 24

bulan), Tahap Kedua (usia 2 – 6 atau 7 tahun), dan Tahap Ketiga (usia 7 – 12

tahun). Di Tahap Pertama, anak (bayi) menggunakan sensor, indera, dan otot

reflek mereka untuk mempelajari hal-hal baru. Di Tahap Kedua ini anak-anak

sudah mampu berpikir secara simbolis dan telah mampu berbicara untuk

memahami dan dipahami oleh lingkungan di sekitar mereka.Di Tahap Ketiga,

kemampuan mereka dalam berpikir, mengingat, dan berkomunikasi maju semakin

pesat, karena sekarang mereka telah dapat berpikir secara logis. Kegiatan-kegiatan mereka di tahap ini ditandai sebagai “social play”, kemampuan memahami sekitar (2008: 15-19).

Sebagai orang tua, kita perlu bahkan wajib memahami hal-hal yang

diperlukan oleh anak-anak kita. Gibran (1989) bertutur tentang hubungan anak

dan orang tua dengan bahasa yang indah:

“ Kau dapat menghujaninya dengan cintamu tetapi bukan dengan pemikiranmu, karena mereka mempunyai pemikiran mereka sendiri. Kau dapat merumahkan tubuh mereka tetapi bukan jiwa mereka, sebab jiwa-jiwa mereka telah tinggal di rumah masa depan mereka sendiri yang tak dapat kau kunjungi meski hanya dapat sekilas mimpimu.”

Setiap orang mempunyai impian mereka sendiri, begitupun anak-anak kita.

Biarkan mereka menemukan jalan terbaik yang mereka butuhkan. Tugas orangtua

lah untuk membimbing mereka untuk menapaki jalan yang tepat bagi anak-anak

(6)

Jurnal Penelitian PAUDIA, Volume 1 No. 1 2011

Metode Pengajaran Membaca pada Anak Usia Dini

Beragam cara dilakukan oleh orang tua untuk membekali hal-hal terbaik

bagi putra-putrinya, termasuk bekal membaca. Ada banyak metode yang

dilakukan dalam mengajar membaca pada anak, bahkan sejak dalam kandungan

(pralahir), yang dicetuskan oleh seorang ahli kebidanan bernama Dr. Rene Van de

Carr bekerja sama dengan seorang psikolog bernama Marc Lehrer. Selama dalam

rahim, janin dapat melakukan banyak hal termasuk belajar.

Pada saat kandungan memasuki usia 20 minggu, janin dapat direspon

dengan suara yang umumnya tidak beraturan. Kegiatan lainnya adalah memancing

respon dari janin melalui ajakan bermain. Tekan perut Ibu dengan lembut sambil berkata”tendang di sini, sayang”, ulangi beberapa kali hingga janin merespon. Mengajak janin berbicara pun dapat menjadi kegiatan belajar awal bagi janin.

Bicaralah dengan nada teratur dan tunggu respon balik dari janin.

Dalam buku Cara Baru Mendidik Anak Sejak dalam Kandungan karya

Van de Carr, ada beberapa kata utama yang dapat digunakan oleh Ibu hamil,

antara lain:

Kata Sentuhan Kata Gerakan

- Tepuk - Tekan - Tendang - Guncang

- Berdiri - Goyang - Duduk - Ayun

(Aulia, 2011 :

48-51).

Ketika janin telah lahir, dia sudah mampu berkomunikasi dengan

lingkungan barunya melalui tangisan. Seiring betambahnya hari, semakin

bertambah pula kemampuan bayi dalam berkomunikasi dengan lingkungan.

Metode belajar pun akan semakin beragam. Metode belajar membaca dengan

cara konvensional yang memulai pelajaran membaca dengan memperkenalkan

abjad yang tidak punya arti bila berdiri sendiri-sendiri masih tetap digunakan

(7)

Jurnal Penelitian PAUDIA, Volume 1 No. 1 2011

Metode Glenn Doman

Apabila dalam cara belajar membaca konvensional dengan mengajarkan

abjad tanpa makna tetap diajarkan, anak-anak akan kesulitan dan terbebani,

karena mereka harus menghapalkan ke-26 huruf alfabet terlebih dahulu tanpa tahu

apa maknanya. Padahal dengan hanya mengalihkan sedikit saja fungsi dan bentuk

alfabet-alfabet tadi dengan menyampaikan rangkaian huruf membentuk kata

bermakna, anak akan semakin cepat belajar, karena bagi otak tidak ada bedanya anak “melihat” atau “mendengar” sesuatu.

Sebelum memulai belajar dengan metode ini, ada dua hal yang menjadi

syarat, yaitu:

1. Sikap dan pendekatan orang tua

Syarat terpenting adalah, bahwa diantara orang tua dan anak harus ada

pendekatan yang menyenangkan, karena belajar membaca merupakan

permainan yang bagus sekali.

2. Membatasi waktu untuk melakukan permainan ini. Hentikan permainan

sebelum anak menghentikannya (bosan).

Pada dasarnya kegiatan belajar merupakan permainan yang paling

menyenangkan, kegiatan bersenang-senang, menggairahkan, bukan bekerjakeras.

Dalam penerapan metode glenn Doman pun sebaiknya dilaksanakan dalam

suasana menyenangkan.

Sebelum mulai belajar, persiapkan dahulu Flash Cards sebagai media

belajar utamaMetode Glenn Doman (gambar tersaji).

(8)

Jurnal Penelitian PAUDIA, Volume 1 No. 1 2011

Namun karena harga kartu-kartu bergambar ini cukup mahal, orang tua dan guru

dapat menyiasati dengan membuat Flash Cards sendiri. Syarat Flash Cards yang

baik adalah:

1. Terbuat dari kertas putih kaku (dapat juga menggunakan kertas katon/manila

putih)

2. Kata yang dituliskan pada setiap kartu ditulis dengan spidol besar berwarna

merah supaya mudah dilihat dan menarik perhatian anak

3. Ditulis secara rapi dan jelas dengan model huruf sederhana (huruf kecil) dan

konsisten.

4. Pergunakan gambar yang cukup besar (dapat diambil dari buku mewarnai

yang kemudian kita warnai sendiri) supaya mudah dilihat oleh anak.

5. Kartu Flash ini dibuat bolak-balik di mana satu sisi berisi gambar sedangkan

sisi lainnya berisi kata.

Dalam penelitian ini direncanakan dilaksanakan dalam 4 tahap pengajaran,

yaitu: Tahap I (Latihan Perbedaan Penglihatan), Tahap II (Pengenalan Diri),

Tahap III (Rumahku), dan Tahap IV (Gabungan 2 Kata). Pada setiap kelanjutan

tahap, ukuran kertas yang digunakan akan semakin mengecil tapi tidak secara

signifikan. Perubahan ini tampak dalam tabel di bawah ini.

Tabel 1: Ukuran Kertas dan Huruf

TAHAP UKURAN KERTAS UKURAN HURUF

TAHAP I 60 x 15 Cm Tinggi: 12,5 Cm, lebar: 10Cm, jarak: 1,25 Cm

TAHAP II 60 x 12,5 Cm Tinggi: 10 Cm, lebar: 7,5 Cm, jarak: 1 Cm

TAHAP III 30 x 7,5 Cm Tinggi: 5 Cm, lebar: 3,5 cm, jarak: < 1 Cm

TAHAP IV 20 x 4 Cm Tinggi: 5 Cm, lebar: 3,5 cm, jarak: < 1 Cm

Metode ini sejatinya diterapkan secara bertahap dan pengajaran dengan

metode Glenn Doman ini dilakukan dalam waktu sangat singkat. Di setiap

pertemuan, murid-murid mempelajari 5 kosa kata baru dalam waktu @1 detik,

diulang sebanyak 3 kali dalam 1 putaran, dan akan diulang lagi 3x putaran dengan

(9)

Jurnal Penelitian PAUDIA, Volume 1 No. 1 2011

Pada Tahap I (Latihan Perbedaan Penglihatan), prinsip kerja dari metode Glenn

Doman adalah:

Hari Pertama:

1. Setiap hari, anak akan mempelajari 5 kosa kata baru yang saling terkait.

Tunjukkan satu Flash Cards bergambar sebuah kata yang dekat dengan anak,

misalnya kata IBU

2. Jangan sampai ia dapat menjangkaunya.

3. Katakan dengan jelas: 'ini bacaannya IBU”.

4. Jangan jelaskan hal lain.

5. Biarkan dia melihatnya tidak lebih dari 1 detik.

6. Tunjukkan 4 kartu lainnya dengan cara yang sama.

7. Jangan meminta anak mengulang apa yang Anda ucapkan.

8. Setelah kata ke-5, peluk, cium dengan hangat dan tunjukkan kasih sayang

dengan cara yang menyolok.

9. Ulangi 3 kali dengan jarak paling sedikit 1,5 jam.

Hari Kedua:

1. Awali dengan mengulang materi di hari pertama sebanyak 3 kali.

2. Tambahkan lima kata baru yang harus diperlihatkan 3 kali sepanjang hari

kedua. Jadi ada 6 pelajaran (3X pengulangan selama 2 hari).

3. Jangan lupa menunjukkan rasa bangga Anda kepada anak.

4. Jangan lakukan test, belum waktunya !

Hari Ketiga

1. Lakukan seperti hari ke-2

2. Tambahkan lima kata baru seperti hari kedua sehingga menjadi 9

Pelajaran (3x pengulangan selama 3 hari).

Hari Keempat, Kelima, Keenam ulangi seperti ketiga hari pertama tanpa

menambah kata-kata baru.

Hari Ketujuh

Beri kesempatan pada anak untuk memperlihatkan kemajuannya dengan cara:

1. Pilih kata kesukaannya.

(10)

Jurnal Penelitian PAUDIA, Volume 1 No. 1 2011

3. Hitung dalam hati sampai sepuluh. Jika anak memberikan jawaban dengan

tepat, tunjukkan kegembiraan Anda sebagai apresiasi. Namun jika anak tidak

memberikan jawaban atau salah, katakan dengan gembira apa bunyi kata itu

dan teruskan pelajarannya.

Hingga akhir tahap I ini anak telah mempelajari 15 kosa kata. Untuk

memasuki Tahap II (Pengenalan Diri), ambil 3 kartu kemudian tambahkan 2

kartu baru dari kelompok kata di Tahap II sebagai rangkaian awal penyampaian

materi Tahap II (Pengenalan Diri). Selanjutnya buat 10 kosa kata baru tentang

diri (contoh: tangan, kaki, mata, dll) yang akan diajarkan di hari kedua dan ketiga

tahap II . Pastikan tidak ada kartu kata yang dimulai dengan huruf yang sama secara berurutan, misalnya kata “lidah” dengan “lutut”.

Pada tahap selanjutnya, Tahap III (Rumahku), anak dikenalkan dengan

kosa kata yang terkait dengan “rumah”. Awali dengan 5 kata benda, misalnya:

jendela, pintu, dinding, meja, dan kursi. Pada hari berikutnya sampaikan 5 kosa

kata baru tentang kata milik, misalnya: baju, piring, topi, sepatu, yoyo. Pada hari

ketiga, sampaikan kata kerja, misalnya: makan, tidur, duduk, melompat,

membaca. Akan semakin menyenangkan jika kegiatan ini dipraktikkan sambil menambah kata: “ibu melompat”. Ulangi kosa kata di atas secara berurutan di hari keempat, kelima dan keenam. Di hari ketujuh, uji penguasaan materi anak

sebagaimana di Tahap I.

Pada Tahap IV sebagai tahap lanjutan, anak diperkenalkan pada

Gabungan 2 Kata dengan menambahkan preposisi (ini, itu) bersamaan dengan

kartu kata yang telah diajarkan sebelumnya.

METODOLOGI PENELITIAN

Populasi dan Sampel Penelitian

Populasi dari penelitian ini adalah sejumlah 67 orang anak murid Pos PAUD

Mutiara Semarang, terbagi dalam 2 kelompok: PAUD Kecil (24 anak) dan PAUD

Besar (43 anak). Yang menjadi sampel penelitian adalah anak di kelompok

(11)

Jurnal Penelitian PAUDIA, Volume 1 No. 1 2011

keseluruhan populasi di kelompok PAUD besar akan dijadikan sebagai sampel

dalam penelitian ini.

Variabel dan Desain Penelitian

Jenis penelitian yang dilakukan merupakan penelitian jenis kualitatif yang

difokuskan pada satu fenomena saja yang akan ditelaah secara mendalam

(Sukmadinata, 2006 : 99), yaitu analisis terhadap kosa kata baru yang dikuasai

oleh murid Pos PAUD Mutiara Semarang. Data yang dikumpulkan pun bukanlah

data angka, melainkan data dalam bentuk pernyataan-pernyataan.

Instrumen Penelitian

Arikunto (1993) menyatakan bahwa instrumen pengumpul data dapat dibagi

menjadi dua jenis, yaitu: tes dan bukan tes (dokumentasi). Dalam penelitian ini,

peneliti hanya mengunakan Instrumen Bukan Tes berupa data rekam

perkembangan penguasaan kosa kata baru oleh anak Pos PAUD Mutiara

Semarang setelah menerima metode Glenn Doman sebagai data penelitian.

Teknik Pengumpulan Data

Data dalam penelitian ini diperoleh dengan langkah-langkah sebagai berikut:

1. Peneliti hadir di lokasi penelitian sesuai jadwal pelaksanaan Kegiatan Belajar Mengajar (Senin dan Jum’at) di Pos PAUD Mutiara. Namun penelitian yang dijadwalkan dilaksanakan mulai minggu pertama Juli ini terpaksa diundur dua

minggu ke minggu ketiga Juli, karena kegiatan belajar mengajar di Pos PAUD

Mutiara diliburkan sejak tanggal 4 – 16 Juli 2011.

2. Peneliti, pada setiap minggunya, merekam jumlah kosakata baru yang

disampaikan kepada murid.

3. Di akhir setiap tahapan, peneliti merekam prosentase penguasaan kosa kata

yang dipelajari oleh setiap murid, dengan jumlah kata maksimal yang harus

dapat dikuasai sebanyak 5 kata.

Jika dimasukkan ke dalam tabel, maka proses penelitian akan berlangsung

(12)

Jurnal Penelitian PAUDIA, Volume 1 No. 1 2011

Tabel 2: Jadwal Pelaksanaan Penelitian Setiap Minggu

Minggu

penguasaannya (dalam prosentase) untuk setiap sampel dengan rumus

sederhana sebagai berikut:

2. Di akhir rangkaian tahap penelitian, dari Tahap I sampai Tahap III, peneliti

menganalisis prosentase rata-rata (x) pengusaan materi terhadap keseluruhan

sampel dengan rumus sedrhana sebagai berikut:

TEMUAN PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Metode Pengajaran yang Paling Tepat Diterapkan untuk Mengajarkan Kemampuan Membaca pada Anak Usia Dini

Dari sekian banyak metode pengajaran membaca bagi anak usia dini,

metode Glenn Doman masih tetap menjadi metode yang cenderung lebih

beralasan untuk direkomendasikan sebagai metode pengajaran yang paling tepat. x=

= jumlah kata yang dikuasai (jumlah maksimal adalah 5 kata /

tahap)

Di mana

x : mean (rata-rata)

x : total prosentase pencapaian belajar murid

(13)

Jurnal Penelitian PAUDIA, Volume 1 No. 1 2011

Hal tersebut dapat disimpulkan dari banyak fakta yang membuktikan bahwa

metode Glenn Doman adalah yang cenderung lebih cepat berhasil guna dalam

mengajarkan kemampuan membaca pada anak-anak, bahkan sejak anak tersebut

masih bayi 0 bulan (new-born).

Metode Glenn Doman ini menekankan kekonsistenan pengajar (orang tua

dan atau guru) serta kepekaan dalam mengajarkan kosakata kata baru, sebanyak

mungkin, kepada anak-anak. Hal ini karena metode ini mengedepankan hasil

berupa penguasaan kosa kata yang diajarkan kepada anak-anak, bukan hanya

sekedar mengajarkan abjad-abjad yang tidak mempunyai arti bila mereka—

abjad—berdiri sendiri. Kepekaan yang ditekankan di sini berbentuk kosa kata

yang diajarkan kepada anak yang terkait dengan hal-hal yang dekat dengan anak,

misalnya: keluarga, anggota badan, benda-benda di ruang tamu, dll yang dapat

dipahami oleh anak dengan lebih nyata karena mereka melihat hal-hal yang

diajarkan dalam kegiatan membaca dengan metode Glenn Doman ini.

Penerapan Metode Glenn Doman untuk Mengajarkan Kosa Kata Baru bagi

Anak Usia Dini di Pos PAUD Mutiara Semarang

Sebelum membahas lebih dalam tentang metode Glenn Doman yang

diterapkan dalam kegiatan penelitian ini, peneliti ingin menyampaikan terlebih

dahulu ulasan tentang lokasi penelitian yang peneliti pilih. Dari sekian banyak

lembaga pendidikan untuk anak usia dini di kota Semarang ini (hal ini sesuai

dengan tema penelitian Hibah APBI IKIP PGRI Semarang tahun 2011 yang

membahas tentang pendidikan ramah anak untuk menjadikan Semarang sebagai

kota ramah anak), peneliti memutuskan untuk memilih Pos PAUD non-formal

Mutiara yang bertempat di Jl. Singa IV. Salah satu alas an pemilihannya adalah

karena pos PAUD non-formal ini lahir dari pembinaan Lembaga Pengabdian

kepada Masyarakat IKIP PGRI Semarang pada tahun 2008 yang menghendaki

adanya pos PAUD non-formal yang bersinergi dengan Posyandu dalam rangka

menghidupkan kegiatan di Posyandu yang tidak hanya menjadi benteng kesehatan

balita dan anak, tetapi juga menjadi alternatif pendidikan non-formal di usia dini

bagi anak dari keluarga menengah ke bawah. Selanjutnya akan kami sampaikan

(14)

Jurnal Penelitian PAUDIA, Volume 1 No. 1 2011

Tabel 3: Profil Pos PAUD Non-formal Mutiara Kelurahan Kalicari, Semarang

Nama : Pos PAUD Non-formal Mutiara Semarang Alamat : Jl. Singa IV, RW VI, Kalicari, Semarang 50198 Struktur Organisasi : Ketua - Ibu Kresnawati/ Ibu Bambang

Sekretaris - Ibu Ida Mukhlis Bendahara - Ibu Endang Ediati

Tentor - Ibu Yuliati, Ibu Sri Utari, Ibu Rida SK Pembentukan : No. 400/ 9/ IV/ 2009

Sumber Dana : Dana pada tahun ajar 2010-2011 berasal dari infaq anak sebesar @ Rp 5.000/bln.

Dana pada tahun ajar 2011-2012 berasal dari infaq anak RW VI sebesar @ Rp 7.000/bln dan selain anak RW VI sebesar @ Rp 10.000/bln.

Perbedaan infaq tersebut dikarenakan anak yang berasal dari RW VI mendapat subsidi dari PKK RW VI sebesar Rp 50.000/bln. Pada awal berdirinya, PAUD MUTIARA mendapat bantuan dari anggaran APBN sebesar Rp. 10.000.000.

Jumlah Murid : PAUD besar - 43 anak PAUD kecil - 24 anak

PAUD MUTIARA telah meluluskan dua kali, yakni periode tahun ajaran 2009/2010 dan 2010/2011.

Media Pembelajaran : Dalam menyampaikan materinya, para tentor menggunakan buku paket dan mainan edukatif. Buku paket baru diadakan pada tahun 2011, dengan rincian sebagai berikut:

- PAUD besar : buku jiplak, buku gambar, buku tulis - PAUD kecil : buku gambar/polos, buku mewarna

Metode Glenn Doman menggunakan Flash Cards sebagai media belajar

utama yakni berupa gambar tersaji dalam bentuk kartu yang terbuat dari kertas.

Dalam penelitian ini dilakukan 4 tahap pengajaran, yaitu: Tahap I (Latihan

Perbedaan Penglihatan), Tahap II (Pengenalan Diri), Tahap III (Rumahku), dan

Tahap IV (Gabungan 2 Kata).

Pada Tahap I anak dilatih dalam perbedaan penglihatan. Prinsip kerja dari

metode Glenn Doman adalah memperkenalkan anak dengan sesuatu yang terdekat

dengan mereka. Kosakata yang diperkenalkan pada tahap pertama adalah ibu,

ayah, kakak, adik, dan nenek. Pada awalnya, anak-anak PAUD Mutiara merasa

canggung dan cenderung protes dengan kata ibu dan ayah. Hal ini terjadi karena

di rumah mereka mayoritas mengenal mama dan papa. Dari kelima kosakata

(15)

Jurnal Penelitian PAUDIA, Volume 1 No. 1 2011

Tahap II yakni tahap pengenalan diri. Sebagai rangkaian awal

penyampaian materi Tahap II (Pengenalan Diri), anak diajarkan lima kosakata

baru mengenai diri yang berkaitan dengan anggota tubuhnya. Kosakata

pengenalan diri tersebut adalah kepala, mata, telinga, tangan, dan kaki. Dalam

tahap II ini anak lebih cepat menghafal, karena sudah terlatih pada tahap I. Anak

terlihat lebih bersemangat dalam mengikuti metode pembelajaran tahap II.

Mereka langsung membandingkan kosakata tersebut dengan bagian tubuh yang

sedang disebutkan.

Pada tahap selanjutnya, yakni Tahap III bertema rumahku. Dalam tahap ini anak dikenalkan dengan kosa kata yang terkait dengan “rumah”. Kosakata yang berkaitan dengan rumah yakni jendela, pintu, rumah, meja, dan kursi. Sangat

terlihat sekali kemampuan daya ingat anak-anak tersebut meningkat secara

signifikan. Pada saat tentor menyebut satu persatu kosakata tersebut, anak

langsung terlatih dengan cepat untuk mengucapkannya kembali. Hal ini

menunjukkan bahwa metode Glenn Doman yang diterapkan lebih efektif untuk

mengajarkan anak membaca lebih cepat, sekalipun anak-anak tersebut belum

paham betul huruf alphabet.

Tahap IV sebagai tahap lanjutan, yakni anak diperkenalkan pada

Gabungan 2 Kata dengan menambahkan preposisi (ini, itu) bersamaan dengan

kartu kata yang telah diajarkan sebelumnya ini tidak dipergunakan dalam

penelitian ini, karena anak seusia mereka belum saatnya untuk diberikan

pembelajaran gabungan dua kata.

Dalam tabel di bawah ini, peneliti sajikan rekap hasil penguasaan kosakata

baru oleh

anak Pos PAUD Mutiara Kalicari Semarang.

(16)

Jurnal Penelitian PAUDIA, Volume 1 No. 1 2011

PENUTUP Simpulan

Sejalan dengan rumusan masalah, serta tujuan penelitian yang telah

ditetapkan dalam penelitian ini, maka dapat ditemukan kami dapat membuat

(17)

Jurnal Penelitian PAUDIA, Volume 1 No. 1 2011

1. Metode yang paling tepat diterapkan untuk mengajarkankemampuan membaca

pada anak usia dini adalah metode Glenn Doman.

2. Metode Glenn Doman menggunakan Flash Cards sebagai media belajar

utama yakni berupa gambar tersaji dalam bentuk kartu yang terbuat dari

kertas. Dalam penelitian ini dilakukan 4 tahap pengajaran, yaitu: Tahap I

(Latihan Perbedaan Penglihatan), Tahap II (Pengenalan Diri), Tahap III

(Rumahku), dan Tahap IV (Gabungan 2 Kata). Pada setiap kelanjutan tahap,

ukuran kertas Flash Cards yang digunakan akan semakin mengecil tetapi

tidak secara signifikan. Metode ini diterapkan secara bertahap dan dilakukan

dalam waktu yang sangat singkat. Di setiap pertemuan, murid-murid

mempelajari 5 kosa kata baru dalam waktu @1 detik, diulang sebanyak 3 kali

dalam 1 putaran, dan akan diulang lagi 3x putaran dengan jeda 1,5 jam. Dalam

praktiknya ditemukan perubahan signifikan terhadap pencapaian hasil belajar

membaca pada anak usia dini.

Saran

Dalam penelitian ini, penulis menyadari akan keterbatasan kemampuan

yang dimiliki. Untuk itu, penulis sangat berharap kepada peneliti lain agar

mengkaji lebih dalam, hal yang berkaitan dengan pemerolehan bahasa pada anak

usia dini. Berdasarkan hasil analisis serta simpulan, penulis menyarankan kepada

para peneliti selanjutnya sebagai berikut.

1. Menggali lebih dalam dan lebih banyak lagi macam metode pembelajaran

untuk anak usia dini. Hal ini sangat bermanfaat, karena pendidikan anak usia

dini merupakan fase penting untuk membentuk pondasi dasar pola pikir anak.

2. Metode Glenn Doman yang disajikan pada kajian pustaka terdiri dari empat

tahap/langkah pembelajaran, namun pada penelitian ini hanya tiga tahap yang

dapat diterapkan. Hal ini dilakukan, karena anak PAUD Mutiara yang

dijadikan sampel belum waktunya untuk mengenal gabungan kata. Peneliti

(18)

Jurnal Penelitian PAUDIA, Volume 1 No. 1 2011

tersebut pada anak TK, sehingga keempat tahapnya dapat diterapkan secara

maksimal.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 1993. Prosedur Penelitian. Rineka Cipta.

Aulia. 2011. Mengajarkan Balita Anda Membaca. Yogyakarta: Intan Media

Sukmadinata, Nana S. 2006. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Remaja

Rosdakarya

http://dranak.blogspot.com/2006/06/mengajar-bayi-anda-membaca-metode.html,

diunduh pada 21 Mei 2011

Nur’aini, Farida. 2008. Edu Games for Child. Surakarta: Afra Publishing

Scoot, Wendy A. and Lisbeth H. Ytreberg. 1993. Teaching English to Children. New York: Longman

Piccolo, Louanne. 2010. TEYL-Teaching Young Children English. Journal Suite 101, April 8th 2010.

(19)

Gambar

Tabel 2: Jadwal Pelaksanaan Penelitian Setiap Minggu
Tabel 3: Profil Pos PAUD Non-formal Mutiara Kelurahan Kalicari, Semarang
Tabel 4: Rekap Penguasaan Kosakata Baru

Referensi

Dokumen terkait

Berikut perkembanganpengguna alat pembayaran dengan menggunakan kartu (APMK). Dalam menghimpun dana dari masyarakat, pihak bank mempunyai kemampuan untuk menarik

Berdasarkan hal tersebut diatas, maka perlu di kaji lebih lanjut tentang potensi agen hayati tersebut dalam mengendalikan L.stigma, bagaimana integrasi aplikasi

Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa subjek penelitian dengan jenis kelamin perempuan dan jenis kelamin laki-laki memiliki motivasi belajar matematika yang termasuk

Dalam penelitian yang berjudul “meningkatkan gerak dasar lompat tinggi dengan menggunakan permainan lompat karet pada siswa kelas V SDN. Karanganyar Kecamatan Darmaraja

mengandung ekstrak tumbuhan Diletakkan cakram pembanding Diinkubasi selama 24-72 jam pada suhu ruang. Diamati dan diukur zona bening di

Setelah dilakukannya penelitian kepada subjek mengenai makna hidup pada pengguna NAPZA maka ditemukan: faktor-faktor yang menyebabkan subjek menjadi pengguna NAPZA adalah

Medan: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara. Universitas

bahwa sebagai tindak lanjut butir a dan b tersebut di atas, perlu menetapkan Keputusan Rektor universitas Negeri Malang tentang Tarif Jasa pengujian Laboratorium