Desain kemasan menjadi alat penjualan yang sangat efektif ketika produsen telah menetapkan kelas pangsa pasar tertentu yang akan dibidik. Desain kemasan mempunyai fungsi membungkus, melindungi, mengirimkan, melepaskan, mengawetkan, mengidentifikasi dan membedakan suatu produk di pasaran. Dalam banyak contoh, desain paket diartikan sebagai representasi dan gambaran nilai-nilai tertentu yang melekat pada populasi konsumen yang sangat spesifik.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menghadapi persaingan dagang yang semakin tajam adalah melalui desain kemasan terhadap produk yang dihasilkan. Produk-produk yang dihasilkan oleh UKM saat ini telah mampu mengubah persepsi UKM sebagai kelompok marginal melalui pendekatan desain kemasan yang cerdas. Produk yang dibangun melalui kesadaran desain, baik melalui jaringan UKM, pelatihan desain atau kompetisi korporasi, nyatanya memungkinkan UKM untuk menyajikan pesan produk dalam desain kemasan yang jauh lebih baik.
Memang belum ada penelitian khusus yang menunjukkan budaya khas desain kemasan makanan khususnya di Jawa Timur, sehingga penelitian ini mungkin bisa menjadi salah satu poinnya.
HALAMAN INI SENGAJA DIKOSONGKAN
KAJIAN BUDAYA DESAIN
Produk sebagai Komoditas Tanda
Proses yang sebanding terjadi dalam kaitannya dengan barang-barang desainer, di mana konsumen 'membaca' produk dan gaya desain. Sebagai ilustrasi, Walker menggambarkan orang-orang yang tidak hanya mengagumi tampilan visual mobil, namun juga yang menaikinya, mengendarainya, mencuci dan memperbaikinya. Dengan kata lain, desain mempunyai dimensi material dan immaterial, fisik dan non fisik, yang menurut John Walker, produk desain lebih dari sekedar objek fisik: mereka juga merupakan fenomena ideologis.
Misalnya, seseorang yang memiliki mobil termahal tidak hanya mengkomunikasikan kepada dunia jenis transportasi apa yang dimilikinya, tetapi juga status sosial dan kekayaannya yang tinggi. Sesuai dengan sifat sistem perekonomian, suatu komoditas yang dibentuk mempunyai karakter non-fisik lebih lanjut ketika diproduksi.
Budaya Desain
Pada pandangan pertama, fakta ini mungkin tampak tidak ada hubungannya dengan desain barang konsumsi, namun ketika manufaktur dilakukan dengan cara yang berorientasi pasar, hal ini mempengaruhi cara barang dirancang. Hal ini juga mungkin disebabkan oleh kurangnya informasi yang memadai dari produsen terhadap konsumen, sehingga kurangnya informasi mengenai produksi menimbulkan kesenjangan pendapat di kalangan konsumen. Ini diisi oleh iklan karena yang nyata disembunyikan oleh yang imajiner atau, yang imajiner tampak nyata, inilah yang disebut ideologis.
Desain dibangun berdasarkan prinsip perbedaan, ditegaskan oleh Yasraf Amir Pilliang bahwa desain harus senantiasa mencari kebaruan dan perbedaan agar tetap eksis sebagai cara bekerja. Desain harus berbeda dari desain lain dalam ruang (perbedaan spasial), tetapi pada saat yang sama harus berbeda dari sebelumnya dalam waktu (perbedaan temporal) (Pilliang. Konsep budaya desain dipahami sebagai praktik representasi dan diskusi tertentu posisi kelas, sehingga dipahami juga bahwa praktik desain berangkat dari pemecahan masalah ke suatu proses dan dari studi multidisiplin ke interdisipliner.
Dengan demikian, budaya desain tidak berhenti dan bersifat homogen, namun menunjukkan aktivitas manusia yang kompleks, persepsi yang berkembang dan artikulasi yang berkesinambungan, karena memiliki aspek visual, material, spasial, dan tekstual yang kompleks (Julier. Budaya desain hendaknya dipahami sebagai subjek yang mengkaji materi dan tidak berwujud dari kehidupan sehari-hari mulai dari makna gambar, kata, bentuk dan ruang.Skema di atas menggambarkan struktur budaya desain yang terdiri dari 3 unsur penting yaitu produksi, konsumsi dan desainer sebagai.
Ini jelas merupakan nilai komersial, namun dapat juga mencakup nilai-nilai sosial, budaya, lingkungan hidup, politik dan simbolik. Namun hal ini tidak hanya menyangkut munculnya produk dan bentuk produk baru, namun juga nilai argumentasi material dan non material. Praktek dapat dipahami sebagai suatu jenis dan rangkaian kegiatan tertentu yang oleh Bourdieu disebut sebagai praktek (bidang) yang berbeda.
DESAIN KEMASAN SEBAGAI STRATEGI PERSAINGAN
Multidimensi Desain Kemasan
Pemahaman terhadap objek desain, khususnya desain kemasan, sangatlah penting dan memerlukan analisis yang lebih terbuka dan dinamis seiring dengan sifat desain yang sangat terbuka dan dinamis, dengan dimensi yang sangat relatif. Ranah keilmuan desain cukup luas dan mencakup aspek material dan manusia, fisik dan non fisik, konkrit dan abstrak, tubuh dan pikiran, material dan non material, berwujud dan tidak berwujud, sehingga ilmu desain juga mempunyai cakupan yang sangat luas. aplikasi. data indera, kesadaran, ketidaksadaran, perasaan, emosi, ide, konsep, intuisi, bahkan yang tidak dapat diungkapkan atau dijelaskan (tacit knowledge). Desain dibangun dari berbagai perspektif logis secara bersamaan, yaitu logika ekonomi, logika sosial, logika budaya, logika teknologi, dan sebagainya.
Untuk itu, sangat penting untuk melihat desain Ilmu Budaya sebagai sebuah arena interdisipliner, dimana sudut pandang dari berbagai disiplin ilmu dikaitkan dengan seluruh praktik, institusi dan sistem klasifikasi, dimana nilai-nilai, kepercayaan, kompetensi, rutinitas hidup dan suatu bentuk kebiasaan. perilaku dalam suatu masyarakat. Mengeksplorasi hubungan antara berbagai bentuk kekuasaan serta mengembangkan cara berpikir tentang budaya dan kekuasaan yang dapat dimanfaatkan oleh berbagai agen dalam upayanya membawa perubahan (Barker, 2000: 8). Ada hubungan antara kekuasaan dengan arena yang diperebutkan atau dalam hal ini pasar yang diperebutkan oleh UKM kemasan untuk merebut perhatian pembeli.
Penentuan pemenang dalam pertarungan ini membutuhkan struktur pembangunan kekuatan yang ada di arena. Pertama, faktor internal lebih berkaitan dengan positioning UKM tidak hanya pada struktur lemah, namun juga pada struktur kekuasaan itu sendiri. Sebagai agen, UMKM selalu berada dalam ruang diskusi yang senantiasa memahami perubahan dan bergerak mengikuti perubahan, bahkan mengkonstruksi perubahan.
Kedua, sebagai pelaku utama dalam medan pertempuran, kita juga melihat faktor eksternal, dimana perubahan yang terjadi juga karena adanya tekanan dari pihak lain di luar kendali UKM. Dalam beberapa kasus, faktor eksternal justru memaksa UKM untuk melakukan perubahan, misalnya bias pasar terhadap model tertentu, kompetitor UKM lainnya, perubahan material dan teknologi, kebijakan pemerintah, serangan terhadap produk manufaktur dan lain sebagainya. Perubahan ini dengan demikian dapat dijadikan modal dalam upaya mengembangkan wacana berbeda tentang bagaimana relasi kekuasaan dan identitas UKM berhubungan dengan arena perjuangan dengan menghubungkannya dengan kompleksitas.
Komodifikasi UKM
MODAL DAN PRAKTIK KEMASAN
Praktik dan Modal
- Praktik dan Modal Ekonomi
Sebagai pelaku produksi kemasan, usaha kecil dan menengah (UKM) tidak lepas dari modal yang dimilikinya. Semakin besar modal yang dimiliki UKM, semakin besar pula kekuatan yang mereka miliki untuk mengendalikan praktiknya. Pemilik modal tidak hanya memahami proses subjektif sementara orang lain, tetapi juga memahami dunia di mana ia tinggal dan dunia itu menjadi dunianya.
Pemilik modal mewariskan peran dan sikap orang-orang yang mempengaruhinya, yang berarti dia mengadopsi dan menjadikan sikap tersebut miliknya. Praktik yang dilakukan UKM antara lain pelatihan, pembentukan kelompok UKM, pembangunan packing house yang juga merupakan modal yang diwujudkan dan dilembagakan agar memiliki pengakuan sosial. Praktik ekonomi dalam proses produksi kemasan yang dilakukan oleh UKM tidak bisa dilihat hanya sebagai bentuk perolehan pendapatan bagi UKM itu sendiri sebagai praktik ekonomi.
Di sisi lain, praktik ini merupakan bagian dari proses positioning diri yang dilakukan UKM dalam struktur ekonomi pasar. Ketika produk tetap diproduksi oleh UKM, secara tidak langsung desain kemasan yang dibuat harus mempertimbangkan banyak aspek, terutama bagaimana kemasan dapat mempengaruhi selera pasar yang berujung pada proses pembelian produk. Bagi UKM, hal ini bukanlah permasalahan yang mudah karena praktik perekonomian sangat dipengaruhi oleh modal ekonomi yang dimiliki oleh UKM.
Praktik perekonomian tersebut dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga) kelompok UKM, yaitu; Kelompok pertama menyasar konsumen kelas bawah, kedua konsumen kelas menengah, dan kelompok ketiga kini mampu menyasar kelompok konsumen kelas atas. Dimana pengemasan produknya cukup dilakukan melalui proses manual, bahkan menggunakan bahan dan peralatan, bahkan label (branding) yang sangat sederhana hanya berisi tulisan nama produk. Produk dalam kemasan juga hanya menyasar selera pasar yang mempunyai kemampuan membeli produk dalam jumlah kecil dan tidak memperdulikan kemasan produknya tetapi lebih pada cara konsumsinya.
KEMASAN SEBAGAI TANDA
Produksi Tanda dalam Kemasan
- Proses Produksi Kemasan
UKM yang melakukan proses produksi pengemasan melakukan prosesnya secara mandiri atau tidak melibatkan pihak lain dalam proses produksinya. Untuk memperoleh hasil yang diinginkan, usaha kecil dan menengah mengadopsi metode yang berbeda melalui serangkaian praktik unik dan bahkan mencoba berbagai hal mulai dari trial and error. Dalam beberapa proses, tidak jarang perusahaan kecil dan menengah melakukan uji coba (eksperimen), seperti dalam suatu proses penelitian, kemudian menemukan hal-hal baru yang dapat diterapkan dalam kemasan yang akan diproduksi secara massal.
Dalam proses ini UKM melakukan produksi kemasan tanpa modifikasi, bahkan pada kategori ini dilakukan duplikasi dengan sangat jelas dengan menjiplak langsung produk yang sudah ada. Produk kemasan yang dihasilkan sama seperti contoh, hanya saja pada beberapa kasus khususnya UKM mereka mengubahnya secara visual sesuai dengan merek yang dimilikinya.
DAFTAR PUSTAKA
Harker, Richard Cheelan Mahar, Chris Wilkes, 2009, (Habitus x Kapital) + Realm = Praktek–Pengantar Pemikiran Pierre Bourdieu Paling Komprehensif, Yogyakarta, Jalasutra. Haryatmoko, 2003, “Mengungkap Kepalsuan Penguasa: Landasan Teori Gerakan Sosial Dari Pierre Boudieu”, v Basis Magazine, št. The Codes of Advertising, New York: Routledge, Julianti, Sri, 2014, Seni Pengemasan, Mengenal Metode, Teknik,.
Masri, Andri, 2010, Permainan Strategi Visual dengan Semiotika Formalis Untuk Menghasilkan Kualitas Visual Dalam Desain, Yogyakarta, Jalasutra. Oehlke, Horst, 2009, Pencarian Semiotika Objek Desain dalam Semiotika Visual dan Semantik Produk, Susann Vihma & Seppo Vakeva, Redaksi, Yogyakarta, Jalasutra. Stokes, Jane, 2007, How To Do Media and Cultural Studies-A Guide to Doing Research in Media and Cultural Studies, Yogyakarta, Bentang.
Thwaites, Tony & Lloyd Davis, Warwick Mules, 2009, Memperkenalkan Kajian Budaya dan Media-Pendekatan Semiotik, Yogyakarta, Jalasutra. Adenan, Masvilia Faisal, 2009, Permasalahan Desain Kemasan Plastik (Studi Kasus: Kemasan Keripik Souvenir di Kota Bandung). Natadjaja, Listia, 2015, Makna Desain Kemasan Jamu Khusus Perempuan dan Wacana yang Mengkonstruksinya, Disertasi Program Kajian Budaya dan Media Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada.
Sari, Nedina, 2006, Desain Kemasan Makanan Mengatasi Masalah Limbah dan Pencemaran Lingkungan serta Ketersediaan Bahan Kemasan, Magister Desain, ITB. Basnendar H, Peran Desain Kemasan pada Industri Kreatif Berbasis Tradisi dalam Menghadapi Era Globalisasi, Prosiding Workshop Internasional Industri Kreatif Berbasis Tradisi di Era Globalisasi, ISI Surakarta, 17 Desember 2008. Desain Kemasan IKM Pangan Analisis Budaya Industri Dalam Desain Kemasan Produk, Jurnal ACINTYA ISI SOLO, 2010.
Sudjudi, Imam, Wakili Bahasa Visual Indonesia dalam Desain Kemasan Rokok Kretek, Majalah DKV Pura-pura 2, Program Studi Desain Komunikasi Visual FSRD ITB, Edisi Juli 2005.