Vol. 4. No. 2 September (2022) (year)
140
Menakar Korelatifitas Merdeka Belajar Dengan Sistem Pendidikan Nasional Undang- Undang Nomor 20 Tahun 2003 dan Pancasila
Franciscus Xaverius Wartoyo1
1Fakultas Hukum, Universitas Pelita Harapan Karawaci Jakarta Email: [email protected]
Abstrak
Merdeka belajar dalam perspektif Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, memiliki peran penting dalam pengembangan karakter peserta didik. Sebagaimana konsep kampus merdeka belajar dengan konsep pendidikan hybrid untuk tiga semester pertama di jurusan yang diminatinya sebagai bagian dari pembentukan karakter di lapangan. Seperti mengerjakan proyek desa, bakti sosial, enterpreneurship, magang di perusahaan dan lain-lain. Sistem pendidikan nasional dalam batas pendidikan karakter diharapkan menghasilkan insan yang berkualitas, dalam membangun karakter budaya bangsa, lingkungan pendidikan harus mengarah pada penciptaan lingkungan yang kondusif sesuai dengan dasar Negara Pancasila dan UUD 1945. Penelitian ini merupakan penelitian dengan pendekatan yuridis normatif. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa karakter adalah objektifitas yang baik atas kualitas manusia.
Kata Kunci : Merdeka belajar, Pendidikan karakter, UU Sisdiknas, UUD 1945
A. PENDAHULUAN
Kurikulum Merdeka Belajar dapat disebut sebagai bentuk evaluasi dari Kurikulum 2013, hal ini seperti dinyatakan dari laman Kemdikbud1, bahwa Kurikulum Merdeka merupakan kurikulum dengan pembelajaran intrakurikuler yang beragam, dimana konten akan lebih optimal agar peserta didik memiliki cukup waktu untuk mendalami konsep dan menguatkan kompetensi. Kurikulum ini merupakan opsi bagi semua satuan pendidikan yang dalam proses pendataan merupakan satuan
1 Admin, Kemendikbud. Kurikulum Merdeka Sebagai Upaya Pemulihan Pembelajaran, diakses dari laman kemendikbud pada 9 Juli 2022 dari sumber:
pendidikan yang memiliki kesiapan melaksanakan kurikulum Merdeka Belajar.
Pengembangan kurikulum yang baik didasarkkan pada sejumlah landasan, yakni landasan filosofis, sosiologis, psikologis, konseptual-teoretis, historis, dan yuridis.
Landasan filosofis yang dipilih diharapkan dapat memberikan dasar bagi pengembangan seluruh potensi peserta didik menjadi manusia Indonesia unggul sebagaimana tercantum dalam tujuan pendidikan nasional. Pancasila adalah pandangan hidup, dasar negara, dan ideologi nasional yang berfungsi sebagai
https://ditsmp.kemdikbud.go.id/kurikulum- merdeka-sebagai-upaya-pemulihan-pembelajaran/
Vol. 4. No. 2 September (2022) (year)
141
salah satu pilar negara kebangsaan Indonesia. Dalam konteks pendidikan, Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 telah diterima sebagai landasan pendidikan nasional.
Program Merdeka Belajar-Kampus Merdeka Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2020 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2020 Nomor 47). Program ini semestinya juga dikembangkan dengan mengacu pada teori pendidikan berdasarkan standar atau pendidikan berbasis capaian dan kurikulum berbasis kompetensi.
Pendidikan berdasarkan standar menetapkan standar nasional sebagai kualitas minimal yang selanjutnya diturunkan menjadi standar kompetensi lulusan, standar isi, standar proses, standar penilaian, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, dan standar pembiayaan pendidikan2.
2 Suwandi, S., Pengembangan Kurikulum Program Studi Pendidikan Bahasa (dan Sastra) Indonesia yang Responsif terhadap Kebijakan Merdeka Belajar- Kampus Merdeka dan Kebutuhan Pembelajaran Abad ke-21, Jurnal Prosiding Nasional 21 Oktober 2020, hal 3, diakses 9 Juli 2022 dari sumber:
https://ejournal.unib.ac.id/index.php/semiba/issue/
view/956/
Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka yang dirancang dan diimplementasikan dengan baik, maka hard dan soft skill mahasiswa akan terbentuk dengan kuat. Program Merdeka Belajar- Kampus Merdeka diharapkan Perguruan Tinggi (PT) mampu menghasilkan lulusan yang sesuai perkembangan zaman, kemajuan IPTEK, tuntutan dunia usaha dan dunia industri, maupun dinamika masyarakat3 dengan membentuk karakter (soft skills) yang sesuai dengan cita-cita dan landasan Pancasila dan UUD 1945.
Hal mendasar dari pendidikan karakter adalah mendidik dan memberdayakan peserta didik agar mereka memiliki kepribadian dan karakter yang baik dalam hidupnya. Lickona4 menekankan pentingnya tiga komponen karakter yang baik, yaitu pengetahuan tentang moral, perasaan tentang moral, dan perbuatan atau perilaku moral. Pendidikan karakter diperlukan agar peserta didik dapat memahami, merasakan, dan mengerjakan nilai-nilai kebajikan. Hal ini sesuai dengan UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3, yang menyebutkan bahwa pendidikan nasional
3 Agus. AA., dan Asiah, N., Implementasi Kebijakan Merdeka Belajar–Kampus Merdeka (Studi pada Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Makassar). Jurnal Kreatif Online (JKO), diakses 9 Juli
2022 dari sumber:
http://jurnal.fkip.untad.ac.id/jurnal/index.php/
4 Suwandi, S., op.cit., hal. 5
Vol. 4. No. 2 September (2022) (year)
142
berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.
Memperhatikan konsep merdeka belajar bagi seluruh satuan pendidikan yang dalam proses pendataan merupakan satuan pendidikan yang memiliki kesiapan melaksanakan kurikulum merdeka belajar menurut kebijakan tersebut bagaimana korelatifitasnya dengan system pendidikan nasional yang telah diimplementasikan selama ini.
B. METODE PENELITIAN
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan yuridis normatif. Penelitian yang bersifat normatif atau yang biasa disebut dengan penelitian hukum kepustakaan yaitu metoda atau cara yang dipergunakan didalam penelitian hukum yang dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka yang ada. Pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah pendekatan perundang-undangan.
C. HASIL DAN PEMBAHASAN Sebagaimana disebutkan oleh menteri pendidikan Bapak Nadiem Makarim bahwa konsep Merdeka
5 Muhaimin, Persiapan Implementasi Kurikulum Merdeka di Kabupaten Pekalongan, Berita Pendidikan dan Kebudayaan, 29 Maret 2022 diakses 9 Juli 2022 dari sumber:
https://ditpsd.kemdikbud.go.id/artikel/detail/kuriku
Belajar tersebut antara lain memiliki karakteristik sebagai berikut5:
1) Pembelajaran berbasis proyek yang bertujuan mengembangkan soft skill serta karakter sesuai profil pelajar Pancasila.
2) Fokus pada materi esensial, sehingga ada waktu untuk pembelajaran mendalam untuk kompetensi dasar seperti literasi dan numerasi.
3) Fleksibilitas guru untuk melakukan pembelajaran yang terdiferensiasi berdasarkan kemampuan para peserta didik.
Sedangkan bagi jenjang pendidikan tinggi implementasi tersebut dengan sebutan Kampus Merdeka merupakan salah satu kebijakan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Bapak Nadiem Makariem. Salah satu program dari kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka adalah Hak Belajar Tiga Semester di Luar Program Studi. Program tersebut merupakan amanah dari berbagai regulasi/landasan hukum pendidikan tinggi dalam rangka peningkatan mutu pembelajaran dan lulusan pendidikan tinggi. Landasan hukum pelaksanaan
lum-prototipe-utamakan-pembelajaran-berbasis-
proyek dan sumber:
https://www.aiminpublicize.com/berita/detail/persi apan-implementasi-kurikulum-merdeka-dikabupaten- pekalongan
Vol. 4. No. 2 September (2022) (year)
143
program kebijakan Hak Belajar Tiga Semester di Luar Program Studi diantaranya, sebagai berikut:
1. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional.
2. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012, tentang Pendidikan Tinggi.
3. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014, tentang Desa.
4. Peraturan Pemerintah Nomor 04 Tahun 2014, tentang Penyelenggaraan Pendidikan Tinggi dan Pengelolaan Perguruan Tinggi.
5. Peraturan Presiden nomor 8 tahun 2012, tentang KKNI.
6. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2020, tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi.
7. Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Nomor 11 Tahun 2019, tentang Prioritas Penggunaan Dana Desa Tahun 2020.
8. Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Nomor 16 Tahun 2019, tentang Musyawarah Desa.
9. Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Nomor 17 Tahun 2019, tentang Pedoman Umum Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa.
10. Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Nomor 18 Tahun 2019, tentang Pedoman Umum Pendampingan Masyarakat Desa.
Program utama yaitu: kemudahan pembukaan program studi baru, perubahan system akreditasi perguruan tinggi, kemudahan perguruan tinggi negeri menjadi PTN berbadan hukum, dan hak belajar tiga semester di luar program studi.
Mahasiswa diberikan kebebasan mengambil SKS di luar program studi, tiga semester yang di maksud berupa 1 semester kesempatan mengambil mata kuliah di luar program studi dan 2 semester melaksanakan aktivitas pembelajaran di luar perguruan tinggi.
Berbagai bentuk kegiatan belajar di luar perguruan tinggi, di antaranya melakukan magang/praktik kerja di Industri atau tempat kerja lainnya, melaksanakan proyek pengabdian kepada masyarakat di desa, mengajar di satuan pendidikan, mengikuti pertukaran mahasiswa, melakukan penelitian, melakukan kegiatan kewirausahaan,
Vol. 4. No. 2 September (2022) (year)
144
membuat studi/ proyek independen, dan mengikuti program kemanusisaan. Semua kegiatan tersebut harus dilaksanakan dengan bimbingan dari dosen. Kampus merdeka diharapkan dapat memberikan pengalaman kontekstual lapangan yang akan meningkatkan kompetensi mahasiswa secara utuh, siap kerja, atau menciptakan lapangan kerja baru.
Proses pembelajaran dalam Kampus Merdeka merupakan salah satu perwujudan pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa (student centered learning) yang sangat esensial.
Pembelajaran dalam Kampus Merdeka memberikan tantangan dan kesempatan untuk pengembangan inovasi, kreativitas, kapasitas, kepribadian, dan kebutuhan mahasiswa, serta mengembangkan kemandirian dalam mencari dan menemukan pengetahuan melalui kenyataan dan dinamika lapangan seperti persyaratan kemampuan, permasalahan riil, interaksi sosial, kolaborasi, manajemen diri, tuntutan kinerja, target dan pencapaiannya.
Cukup melegakan bahwa pada akhirnya pemerintah mengakui pendidikan di Indonesia adalah investasi yang mahal. Sebab, setiap daerah memiliki keunikan manusia yang berbeda-beda dan tidak mungkin dipaksa untuk menerapkan satu sistem dengan indikator
tetap. Pada konsep survei karakter, pemerintah akan menilai secara menyeluruh terkait kualitas pendidikan di sekolah. Bukan hanya tentang hasil belajar, tetapi juga ekosistem dan infrastruktur pendidikan yang tersedia.
Dengan kata lain, pengembangan kualitas pendidikan bukan lagi tentang penerapan indikator kualitas tetap, tetapi berdasarkan data hasil survei terbaru terhadap lembaga pendidikan dasar, menengah dan tinggi.
Salah satu pokok masalah yang cukup menarik pada konsep merdeka belajar ini adalah adanya perluasan penilaian hasil belajar yang sebelumnya hanya dari nilai ujian nasional, menjadi penugasan dan portofolio. Kedepannya akan diberikan ruang untuk dapat mengembangkan diri sesuai minat dan bakat mahasiswa. Dengan cara ini, stigma mahasiswa pintar dan bodoh diharapkan bisa segera dihilangkan. Sebab, manusia memiliki bakat alami yang berbeda-beda, dan tidak bisa ditentukan dengan tes formal. Pemerataan kualitas pendidikan hingga ke daerah 3T, yaitu daerah yang tergolong dalam daerah tertinggal, terdepan, dan terluar. Tertinggal berarti memiliki kualitas pembangunan yang rendah, dimana masyarakatnya kurang berkembang dibandingkan dengan daerah lain dalam skala nasional. Lalu dari sisi
Vol. 4. No. 2 September (2022) (year)
145
geografis berada di daerah terdepan dan terluar wilayah Indonesia.
Berdasarkan Perpres No. 63 Tahun 2020 tentang Penetapan Daerah Tertinggal 2020-2024, ada 62 kabupaten yang masuk kategori ini. Beberapa di antaranya adalah, Nias (Sumatera Utara), Kepulauan Mentawai (Sumatera Barat), Musi Rawas Utara (Sumatera Selatan), Lombok Utara (Nusa Tenggara Barat), Sumba Tengah & Alor (Nusa Tenggara Timur), Donggala (Sulawesi Tengah), Pulau Talibau (Maluku Utara), Nabire &
Asmat (Papua), serta Teluk Wondoma &
Pegunungan Arfak (Papua Barat).
Merdeka belajar juga dapat diartikan keadilan terhadap akses pendidikan yang setara bagi seluruh mahasiswa di Indonesia. Oleh karena itu, pemerintah membuat kebijakan afirmasi dan pemberian kuota khusus bagi mahasiswa yang tinggal di daerah 3T. Pada masa pandemik konsep merdeka belajar sangat membantu, tetapi ketika beralih ke endemik perlu dikaji ulang ditata agar kebijakan merdeka belajar tepat sasaran khususnya sesuai dengan tujuan seperti yang tertuang dalam UUD 1945 alenia ke 4.
Profil Pelajar Pancasila merupakan pelajar sepanjang hayat yang kompeten dan memiliki karakter sesuai nilai-nilai Pancasila.” Pernyataan ini memuat tiga
kata kunci: pelajar sepanjang hayat, kompeten, dan nilai-nilai Pancasila. Hal ini menunjukkan adanya paduan antara penguatan identitas khas bangsa Indonesia, yaitu Pancasila, sebagai rujukan karakter pelajar Indonesia;
dengan kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan pengembangan sumber daya manusia Indonesia dalam konteks perkembangan Abad 21.
Industri 4.0 adalah momen penting dalam pemerataan kualitas pendidikan di Indonesia. Sebab, pada tahun 2030 nanti akan menjadi puncak dari bonus demografi Indonesia dengan 64%
penduduk adalah angkatan kerja.
Kesiapan sumber daya manusia (SDM) Indonesia akan sangat menentukan keberhasilan kita dalam menghadapi persaingan di industri 4.0. Khususnya di daerah 3T yang masih memiliki tingkat kelahiran yang sangat tinggi.
“Mencerdaskan kehidupan bangsa”
begitulah bunyi dari slogan tujuan Sistem Pendidikan Nasional Indonesia yang tertuang dalam Undang-undang Dasar 1945 alenia ke IV. Angka pendidikan di Indonesia masih tergolong rendah.
Berdasarkan data Direktorat Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kementerian dalam Negeri, jumlah penduduk Indonesia mencapai 272,23 juta jiwa pada juni 2021.
Vol. 4. No. 2 September (2022) (year)
146
Berdasarkan jenjang pendidikannya, angka tamat Sekolah Dasar (SD) berjumlah 64,84 juta jiwa atau sekitar (23,82%). Belum tamat SD berjumlah 31 juta jiwa atau sekitar (11,39%). Sedangkan yang belum/ tidak sekolah sebanyak 63,49 juta jiwa atau sekitar (23,32% )6.
Hal ini disebabkan kebijakan pemerintah belum dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Selain di sebabkan karena faktor ekonomi, faktor utama penyebab rendahnya mutu pendidikan di Indonesia adalah model pendidikan/ pembelajaran di Indonesia itu sendiri. Pendidikan di Indonesia terkesan kaku, monoton, serta membosankan. Hal ini diperparah dengan menjadikan nilai sebagai tolak ukur kecerdasan siswa. Jika hal ini terus terjadi dan tanpa adanya perubahan, maka sistem pendidikan di Indonesia akan selalu rendah, terbelakang dan yang pasti tertinggal.
Hasil skor kemampuan baca siswa menurut berita Kompas Indonesia7 dalam Programme For International Student Assessment (PISA) 2018 yang diumumkan The Organisation for Economic Co-operation and
6 Admin Katadata, Pendidikan di Indonesia, diakses 9
Juli 2022 dari sumber:
https://databoks.katadata.co.id/search/news/Pendid ikan
Development (OECD) menyatakan bahwa Indonesia berada di nomor urut 72 dari 78 negara dengan perolehan skor 371. Hal ini tentu menjadi suatu kondisi yang memprihatinkan. Ironis memang, kita hidup dinegara yang kaya akan sumber daya alamnya, namun masih terbelakang khususnya dalam bidang pendidikan.
Dalam mengatasi problem di atas, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbudristek) Bapak Nadiem Makarim mengeluarkan sebuah kebijakan baru yang dicanangkan untuk merubah Sistem Pendidikan di Indonesia yang telah terbelenggu. Kebijakan baru yang dicanangkan oleh Bapak Nadiem ini dikenal dengan istilah Merdeka Belajar.
Bapak Nadiem Makarim mengartikan Merdeka Belajar ialah sekolah, kampus, murid, mahasiswa, maupun guru/dosen memiliki kebebasan untuk berinovasi, belajar dengan mandiri dan kreatif.
Kebijakan merdeka mengajar ini memberikan pelayanan kemerdekaan bagi setiap unit pendidikan maupun satuan pendidikan untuk berinovasi, mandiri serta lebih kreatif yang disesuaikan dengan kearifan budaya, lokal, sosio-
7 Admin Kemendikbud, diakses 9 Juli 2022 dari sumber:
https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2019/12/
hasil-pisa-indonesia-2018-akses-makin-meluas- saatnya-tingkatkan-kualitas
Vol. 4. No. 2 September (2022) (year)
147
ekonomi, maupun infrastruktur masing- masing lembaga.
Merdeka Belajar bukan berarti bebas untuk mau belajar atau tidak belajar.
Merdeka Belajar bermakna kemerdekaan dalam berpikir. Sementara itu, esensi kemerdekaan berfikir ini terutama harus ada pada guru. Ibaratnya, jika para guru belum memiliki kemerdekaan dalam berfikir, lalu bagaimana peserta didik bisa merdeka berfikir? Dan tanpa adanya merdeka berfikir maka tidak akan tercipta pula konsep Merdeka Belajar. Konsep Merdeka Belajar sendiri sangatlah berbeda dengan kurikulum yang digunakan oleh pendidikan formal di Indonesia sebelumnya. Konsep merdeka belajar cenderung memiliki kurikulum yang fleksible serta mudah dipahami.
Lalu, bagaimana peran maupun implikasi guru, dosen, orangtua, maupun pelaku pendidikan dalam mewujudkan merdeka belajar? Mereka berperan sebagai fasilitator. Caranya? Dengan metode- metode, pendekatan serta menggunakan media pembelajaran yang terbukti efektif dan menyenangkan bagi peserta didik.
Merdeka Belajar memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk belajar sebebas-bebasnya dan senyaman- nyamannya yang disesuaikan dengan minat dan bakat individual tanpa adanya beban, stres, maupun tekanan dari pihak
manapun. Seperti siswa diberi kebebasan untuk memilih mata pelajaran yang mereka sukai. Contoh lain misalnya seorang pelajar memiliki kelebihan dalam bidang Non akademik dan kurang pandai di bidang Akademik. Dalam menyikapi hal ini, Merdeka Belajar berfungsi untuk memberikan kebebasan untuk memfokuskan dirinya sesuai bakat yang dimilikinya, yaitu bakat di bidang non akademik. Disini mahasiswa tidak boleh dipaksa untuk mempelajari lebih mendalam khususnya bidang akademik, yang sudah terbukti kontra akan minat, bakat, serta hobi yang dimiliki.
Setiap pelajar memiliki keistimewaan yang berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya. Maka dari itu, seorang dosen harus mampu menjadi teman belajar yang menyenangkan bagi mahasiswa. Agar proses belajar benar-benar atas kesadarannya dan merdeka atas pilihannya sendiri. Karena jika para pelajar yang belajar mengenai hal yang digemari, maka mereka akan merasa senang. Dengan begitu, dalam kondisi yang menyenangkan ini diyakini memberikan dampak positif dalam membangun kecintaan pada belajar, mewujudkan ketahanan belajar serta akan terwujud Merdeka Belajar.
Dengan hadirnya slogan Merdeka Belajar menjadi sebuah kunci untuk
Vol. 4. No. 2 September (2022) (year)
148
memerdekakan, memajukan serta membebaskan generasi masa depan, generasi penerus bangsa dari lembah kebodohan. Merdeka Belajar bisa dijadikan solusi untuk memperbaiki serta menata ulang kembali sistem pendidikan yang ada di Indonesia, sebab dalam merdeka belajar kebijakan dirancang berdasarkan keinginan dan memprioritaskan kebutuhan mahasiswa.
Sebagai cara mengimplementasikan hal ini, Bapak Nadiem Makarim meminta para pendidik merancang metode pembelajaran berbasis proyek yang bertujuan untuk memacu kreativitas para mahasiswa. Sementara itu Program Merdeka Belajar juga menjadi kunci untuk memajukan serta membebaskan generasi masa depan, generasi penerus bangsa dari lembah kebodohan.
Pendidikan merupakan kata yang tidak pernah selesai untuk diperbincangkan. Sebab pendidikan merupakan jantung pusat kehidupan dalam menata peradaban ummat manusia sepanjang sejarah di muka bumi. Menurut Theodore Brameld bahwa education as power “Pendidikan sebagai kekuatan’’.
Lewat proses pendidikan manusia dapat mengetahui eksisitensi dirinya dan mengenal dunianya. Gebrakan Menteri pendidikan Bapak Nadiem Makariem menggetarkan dunia pendidikan nasional
dengan konsep Merdeka Belajar. Suatu sistem pendidikan yang di nilai baru di Indonesia pada abad moderen ini untuk diaplikasikan dalam proses belajar mengajar ke dalam satuan pendidikan, sehingga melahirkan kurikulum baru yang disebut dengan Kurikulum Merdeka Belajar.
Kurikulum merdeka belajar disebut juga sebagai kurikulum pelatihan sebab guru dituntut untuk banyak melakukan pelatihan baik online ataupun offline.
Munculnya kurikulum merdeka belajar sebagai jawaban atas ketertinggalan pendidikan di Indonesia. Namun mampukah merdeka belajar menjawab semua permasalahan-permasalah di dunia pendidikan? Atau mungkinkah semakin memperkeruh suasana karena menggeser kurikulum 2013 yang sudah mengakar?
Kelahiran kurikulum merdeka belajar menjadi jawaban atas peningkatan intelektualisme dan rasionalisme sebagai bagian integral dalam beragama. Etos kurikulum mejadi spirit dalam berpancasila secara humanis dan univeral, Bukan malah mendikotomikan antara pendidikan islam dengan pendidikan moderen (umum). Urgensi Kurikulum mendasarkan pada pendidikan agama yang akan melahirkan ilmuan yang berbudi pekerti luhur (karakter kebajikan). Bukan justru menghilangkan
Vol. 4. No. 2 September (2022) (year)
149
diksi dalam peta konsep pendidikan nasional. Kita tidak menginginkan seorang pelajar yang cerdas, selalu rangking di kampus tetapi amoral, kita juga tidak menginginkan seorang mahasiswa yang sabar, pendiam, hormat terhadap dosen di kampus tetapi bodoh.
UU No 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan Nasional Bab 1 pasal 1 ayat 1 di jelaskan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, ahlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.
Selanjutnnya pasal 2 pendidikan national adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan Nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntunan perubahan zaman.
Pasal 3 sistem pendidikan nasional adalah keseluruhan komponen pendidikan yang saling terkait secara terpadu untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. Selaras dengan sisdiknas tersebut di atas, Konsep
pendidikan ideal juga termaktub pada kosep Tutwuri Handayani yang di wariskan oleh Ki Hadjar Dewantara yang berbunyi ’’Ing ngarso sung tulodo, Ing madyo mangun karso, Tut wuri handayani. Ing ngarso sung tulodo artinya jika pendidik sedang berada didepan maka hendaklah memberikan contoh teladan yang baik terhadap anak didiknya.
Ing ngarso: di depan, sung adalah memberi, tulodo: keteladanan yang baik.
Ing madyo mangun karso berarti jika pendidik sedang berada di tengah-tengah anak didiknya, hendaknya ia dapat mendorong keinginan mereka untuk berinisiatif dan bertindak. Ing madyo: di tengah; mangun: membangun, menimbulkan dorongan; karso: kehendak atau kemauan.
Saat peluncuran Peta Jalan Pendidikan Nasional 2020-2035 oleh Kemendikbud yang tidak mencantumkan frasa agama di dalamnya, menuai banyak protes di kalangan para pakar pendidikan, bahwa tidak adanya frasa agama dalam Peta Jalan Pendidikan tersbut merupakan perlawanan terhadap kosntitusi, Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 adalah satu kesatuan integral yang tak terpisahkan dalam bingkai kebhinekaan Indonesia. Hal ini sesuai dengan Keputusan Menteri Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi Nomor
Vol. 4. No. 2 September (2022) (year)
150
009/H/KR/2022 tentang Dimensi Elemen, dan Subelemen, Profil Pelajar Pancasila pada Kurikulum Merdeka Belajar.
Dimana dalam salah satu pasalnya menjelaskan bahwa Profil pelajar Pancasila merupakan bentuk penerjemahan tujuan pendidikan nasional. Profil pelajar Pancasila berperan sebagai referensi utama yang mengarahkan kebijakan-kebijakan pendidikan termasuk menjadi acuan untuk para pendidik dalam membangun karakter serta kompetensi peserta didik.
Profil pelajar Pancasila harus dapat dipahami oleh seluruh pemangku kepentingan karena perannya yang penting. Profil ini perlu sederhana dan mudah diingat dan dijalankan baik oleh pendidik maupun oleh pelajar agar dapat dihidupkan dalam kegiatan sehari-hari.
Berdasarkan pertimbangan tersebut, profil pelajar Pancasila terdiri dari enam dimensi, yaitu: 1) beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia, 2) mandiri, 3) bergotong-royong, 4) berkebinekaan global, 5) bernalar kritis, dan 6) kreatif.
Mulai tahun ajaran 2022/2023, penerapan Kurikulum Merdeka ini tidak hanya akan dikhususkan pada salah satu satuan pendidikan melainkan seluruh jenjang pendidikan, seperti TK, SD, SMP,
hingga Perguruan Tinggi (PT). Tentunya, penerapan kurikulum ini memiliki perbedaan pada masing-masing jenjang antara lain:
Di Tingkat SD, sebelum membahas perbedaan kurikulum ini di tingkat SD, perlu diketahui terlebih dahulu bahwa Merdeka Belajar di tingkat PAUD/TK maknanya adalah merdeka untuk bermain. Dengan begitu, penerapan Kurikulum Merdeka di tingkat PAUD/TK adalah dengan mengajak anak bermain sambil belajar, tidak terlalu berbeda dengan kurikulum sebelumnya.
Sementara itu, di tingkat SD, ada beberapa perbedaan dalam hal mata pelajaran (mapel) pada penerapan Kurikulum Merdeka. Di antaranya adalah penggabungan mapel IPA dan IPS menjadi satu (Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial), serta menjadikan bahasa Inggris yang sebelumnya merupakan mapel muatan lokal (mulok) sebagai mapel pilihan.
Di Tingkat SMP, hampir sama dengan tingkat SD, Panduan Kurikulum Merdeka Belajar di tingkat SMP juga terdapat perubahan status beberapa mapel. Misalnya, mapel Teknologi Informasi dan Komunikasi(TIK) menjadi mapel wajib. Pada kurikulum sebelumnya, mapel ini hanya sebagai pilihan. Maka,
Vol. 4. No. 2 September (2022) (year)
151
kelak di semua jenjang SMP, wajib memiliki mapel Informatika.
Di Tingkat SMA, untuk tingkat SMA, penggunaan Kurikulum Merdeka memungkinkan para siswa tidak akan lagi dibeda-bedakan dengan berbagai peminatan, seperti IPA, IPS, maupun Bahasa. Sementara itu, di tingkat SMK, model pembelajaran akan dibuat menjadi lebih sederhana, yaitu 70 persen mapel kejuruan dan 30 persen mapel umum.
Selain itu, pada akhir masa pendidikannya kelak, para siswa dituntut untuk menyelesaikan suatu esai ilmiah sebagaimana para mahasiswa yang harus menyelesaikan tugas akhir atau skripsi saat akan lulus studi. Hal ini demi mengasah kemampuan para siswa untuk dapat berpikir kritis, ilmiah, dan analitis.
Di Tingkat Perguruan Tinggi (PT), Kurikulum Merdeka Belajar Perguruan Tinggi terwujud dalam Program Kampus Merdeka. Pelaksanaannya pun memiliki beberapa perbedaan dengan penerapan kurikulum sebelumnya. Dalam Program Kampus Merdeka, mahasiswa diberi kesempatan untuk mempelajari sesuatu di luar program studi yang ditempuhnya.
Hal ini bisa dilakukan melalui beberapa cara, seperti praktik kerja (magang), pertukaran mahasiswa, penelitian, proyek independen, wirausaha, menjadi asisten
pengajar, juga Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik untuk membangun desa.
Dalam setiap penerapan kebijakan, tentu ada kelebihan dan kekurangan yang senantiasa mengiringi. Demikian halnya dengan penerapan Kurikulum Merdeka pada berbagai tingkat satuan pendidikan.
Kelebihan yang paling mencolok dari penerapan kurikulum ini adalah adanya proyek tertentu yang harus dilakukan oleh para peserta didik sehingga dapat membuat mereka menjadi lebih aktif dalam upaya mengeksplorasi diri. Selain itu, kurikulum ini juga lebih interaktif dan relevan mengikuti perkembangan zaman.
Meski begitu, penerapan Kurikulum Merdeka tak lepas dari berbagai kekurangan. Misalnya, persiapan penggunaan kurikulum ini dinilai masih belum matang. Hal ini terlihat dari masih kurangnya kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM) untuk melaksanakan kurikulum ini.
D. Penutup
Karakter adalah objektifitas yang baik atas kualitas manusia. Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 telah dijelaskan secara implisit tentang pendidikan karakter yang berlandaskan pada sistem pendidikan nasional. Konsep dasar pendidikan karakter di Indonesia merupakan pendidikan nilai-nilai luhur yang bersumber dari nilai agama, budaya bangsa, tujuan pendidikan nasional dan
Vol. 4. No. 2 September (2022) (year)
152
Pancasila agar sesuai dengan profil pelajar Pancasila sebagaimana tertuang dalam
Kepmendikbudristek No
009/H/KR/2022 tentang Dimensi Elemen, dan Subelemen, Profil Pelajar Pancasila pada Kurikulum Merdeka Belajar. Sehingga dirumuskan bentuk- bentuk karakter utama diantaranya:
religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab. Dan yang menjadi tolok ukur Pendidikan Indonesia berdasarkan kualitas masukan peserta didik dan hasil yang optimal dengan indikator upaya yang dilaksanakan.
Daftar Pustaka
Jurnal Dan Publikasi Ilmiah
Abdulkadir Muhammad, 2004, Hukum dan Penelitian Hukum, Bandung: Citra Aditya Bakti.
Admin Katadata, Pendidikan di Indonesia, diakses 9 Juli 2022 dari sumber:
https://databoks.katadata.co.id/searc h/news/Pendidikan
Admin Kemendikbud, diakses 9 Juli 2022
dari sumber:
https://www.kemdikbud.go.id/main/
blog/2019/12/hasil-pisa-indonesia- 2018-akses-makin-meluas-saatnya- tingkatkan-kualitas
Admin, Kemendikbud. Kurikulum Merdeka Sebagai Upaya Pemulihan Pembelajaran, diakses dari laman kemendikbud pada 9 Juli 2022 dari sumber:
https://ditsmp.kemdikbud.go.id/kuri
kulum-merdeka-sebagai-upaya- pemulihan-pembelajaran/
Agung S., Leo. 2012. Sejarah Pendidikan.
Ombak Dua: Yogyakarta.
Agus. AA., dan Asiah, N., Implementasi Kebijakan Merdeka Belajar–Kampus Merdeka (Studi pada Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Makassar). Jurnal Kreatif Online (JKO), diakses 9 Juli 2022 dari sumber:
http://jurnal.fkip.untad.ac.id/jurnal/i ndex.php/
Ali, Zainuddin, 2016, Metode Penelitian Hukum, Jakarta: Sinar Grafika.
Amiruddin dan Asikin, Zainal, 2012, Pengantar Metode Penelitian Hukum, Jakarta: Rajawali Pers.
Lesmana, T., dkk. 2010. Konsistensi Nilai-Nilai Pancasila dalam UUD 1945 dan Implementasinya. Yogyakarta: PSP Press.
Muhaimin, Persiapan Implementasi Kurikulum Merdeka di Kabupaten Pekalongan, Berita Pendidikan dan Kebudayaan, 29 Maret 2022 diakses 9 Juli
2022 dari sumber:
https://ditpsd.kemdikbud.go.id/artike l/detail/kurikulum-prototipe-
utamakan-pembelajaran-berbasis-
proyek dan sumber:
https://www.aiminpublicize.com/beri ta/detail/persiapan-implementasi- kurikulum-merdeka-di-kabupaten- pekalongan
Soerjono Soekanto dan Sri Pamudji, 1985, Pengantar Penelitian Normatif, Jakarta : Rajawali Pers.
Sutaryo, dkk. 2011. Sistem Pendidikan Nasional untuk Membangun Peradaban Bangsa Indonesia yang dijiwai Nilai-Nilai Pancasila. PSP. UGM : Yogyakarta.
Suwandi, S., Pengembangan Kurikulum Program Studi Pendidikan Bahasa (dan
Vol. 4. No. 2 September (2022) (year)
153
Sastra) Indonesia yang Responsif terhadap Kebijakan Merdeka Belajar- Kampus Merdeka dan Kebutuhan Pembelajaran Abad ke-21, Jurnal Prosiding Nasional 21 Oktober 2020, hal 3, diakses 9 Juli 2022 dari sumber:
https://ejournal.unib.ac.id/index.php /semiba/issue/view/956/
Wartoyo, FX., Penilaian Pendidikan berkarakter dalam membentuk rasa nasionalisme, Jurnal Edukasi, Vol. 2, No. 1, hal. 69-82, 2016.