Telaah Kurikulum Bahasa Arab Merdeka Belajar Madrasah Aliyah (KOSP) Makalah Ini Disusun Untuk Menyelesaikan Tugas Mata Kuliah:
Pengembangan Kurikulum Dosen Pengampu:
Ibu Yuyun Zunairoh
Oleh :
Maria Amelia Ramadhaningrum (23202022)
Faza Nailatur Rohmah (23203024)
Alfana Salsabila (23203025)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA ARAB FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGRI (IAIN) KEDIRI 2025/2026
ii
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kami kemudahan sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Tanpa pertolongan Nya tentunya kami tidak akan sanggup untuk menyelesaikan makalah ini dengan baik. Shalawat serta salam semoga terlimpah curahkan kepada baginda tercinta kita yaitu Nabi Muhammad SAW yang kita nanti-nantikan syafa’atnya di akhirat nanti.
Penulis mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas limpahan nikmat sehat-Nya, baik itu berupa sehat fisik maupun akal pikiran, sehinggan penulis mampu untuk menyelesaikan pembuatan makalah sebagai tugas dari mata kuliah Pengembangan Kurikulum dengan judul “Telaah Kurikulum Bahasa Arab Merdeka Belajar Madrasah Aliyah (KOSP)”.
Penulis tentu menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna dan masih banyak terdapat kesalahan serta kekurangan di dalamnya. Untuk itu, penulis mengharapkan kritik serta saran dari pembaca untuk makalah ini.
Kediri, 21 Mei 2025
Penulis
iii DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... ii
DAFTAR ISI ... iii
BAB I ... 1
PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan masalah ... 2
C. Tujuan Penulisan ... 2
BAB II ... 3
PEMBAHASAN ... 3
A. Standar Kompetensi Lulusan Madrasah Aliyah ... 3
B. Standar Isi Kurikulum Madrasah Aliyah ... 8
C. Struktur Kurikulum Merdeka Belajar ... 12
D. Komponen CP Madrasah Aliyah ... 14
E. Implementasi Kurikulum Merdeka Belajar Di Madrasah Aliyah ... 31
F. Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila ... 33
G. Proyek Penguatan Profil Pelajar Rahmatan lil ‘alamiin ... 36
H. Analisis Kurikulum Bahasa Arab di MA, Perbandingan dengan MI-MTs, dan Tingkat Kesulitannya ... 37
I. Problematika Kurikulum Merdeka di Tingkat Madrasah Aliyah (MA) ... 40
J. Problematika Guru dalam Penerapan Kurikulum Merdeka di MA Nasyi’in Sidoarjo: ... 41
BAB III ... 43
PENUTUP ... 43
A. KESIMPULAN ... 43
DAFTAR PUSTAKA ... 44
1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sistem pendidikan di Indonesia telah mengalami berbagai perubahan dan pembaruan dari waktu ke waktu. Perubahan kurikulum terjadi pada tahun 1947, 1964, 1968, 1973, 1975, 1984, 1994, serta revisi pada tahun 1997 terhadap kurikulum 1994. Selanjutnya, pada tahun 2004 diperkenalkan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), lalu digantikan oleh Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) pada tahun 2006. Pada tahun 2013, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Nasional kembali mengganti kurikulum menjadi Kurikulum 2013 (dikenal sebagai Kurtilas), yang kemudian mengalami revisi pada tahun 2018 (Barlian & Iriantara, 2021).
Pada tahun 2019, diluncurkan Kurikulum Merdeka Belajar, yang dirancang oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Kabinet Indonesia Maju, Nadiem Makarim. Kurikulum ini dirancang agar proses belajar menjadi lebih fleksibel, menyenangkan, minim tekanan, dan memberikan ruang bagi siswa untuk mengekspresikan bakat alaminya (Qurniawati, 2023). Konsep Merdeka Belajar yang diusung oleh Kemendikbud mencakup penyederhanaan pembelajaran, antara lain:
Penggunaan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) satu lembar yang lebih ringkas dan praktis, Penerapan sistem zonasi untuk penerimaan siswa baru yang lebih fleksibel, Penggantian Ujian Nasional dengan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter; serta Pengalihan Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) menjadi asesmen formatif berkelanjutan, seperti portofolio, tugas kelompok, karya tulis, maupun praktikum.
Pendidikan Bahasa Arab di Indonesia memegang peranan yang sangat krusial, terutama dalam mengembangkan kemampuan berbahasa serta memperdalam pemahaman budaya Arab di kalangan pelajar. Pada
2
jenjang Madrasah Aliyah (MA), Bahasa Arab menjadi mata pelajaran yang berkontribusi dalam membentuk keterampilan komunikasi lintas budaya dan antaragama. Namun demikian, implementasi kurikulum Bahasa Arab di tingkat MA masih menghadapi sejumlah kendala, seperti kurangnya kesesuaian antara materi pelajaran dengan kebutuhan siswa, keterbatasan fasilitas pendukung, serta kesiapan guru dalam menerapkan metode pengajaran yang tepat dan efektif. Oleh sebab itu, melakukan Telaah terhadap kurikulum Bahasa Arab di MA menjadi hal yang sangat penting untuk menilai apakah kurikulum yang digunakan saat ini sudah relevan dengan kebutuhan peserta didik dan mampu menunjang tercapainya tujuan pembelajaran.
B. Rumusan masalah
1. Apasaja Standar Kurikulum Merdeka Belajar?
2. Bagaimana Implementasi Kurikulum Merdeka Belajar Di Madrasah Aliyah?
3. Bagaimana Penguatan Profil Pelajar Pancasila dan Pelajar Rahmatan Lil ‘Alamin di Madrasah Aliyah?
C. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui Standar Kurikulum Merdeka Belajar
2. Mengetahui Implementasi Kurikulum Merdeka Belajar Di Madrasah Aliyah
3. Mengetahui Penguatan Profil Pelajar Pancasila Dan Pelajar Rahmatan Lil ‘Alamin Di Madrasah Aliyah?
3 BAB II PEMBAHASAN
A. Standar Kompetensi Lulusan Madrasah Aliyah
Standar Kompetensi Lulusan jenjang Madrasah Aliyah terdiri dari:
1. Standar Kompetensi Lulusan jenjang Madrasah Aliyah 2. Standar Kompetensi Lulusan Madrasah Aliyah Kejuruan
Standar Kompetensi Lulusan pada Madrasah Aliyah dan Madrasah Aliyah Kejuruan difokuskan pada:
1. Persiapan Peserta Didik menjadi anggota masyarakat yang beriman dan bertakwa kepada Allah swt., Tuhan yang Maha Esa, mengamalkan ajaran Agama Islam serta berakhlak mulia;
2. Penanaman karakter yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila; dan 3. Meningkatkan Pengetahuan dan ketrampilan Peserta Didik agar
dapat hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
Standar Kompetensi Lulusan pada Madrasah Aliyah dirumuskan secara terpadu dalam bentuk deskripsi kompetensi yang terdiri atas:
1. Menunjukkan sikap religius dan spiritualitas secara moderat sesuai ajaran Agama Islam, menyayangi dirinya, menghargai sesama dan melestarikan alam semesta sebagai wujud cinta kepada Allah swt., Tuhan yang Maha Esa, dan memahami secara utuh ajaran Islam, rutin melaksanakan ibadah dengan penghayatan, menegakkan (mengedepankan) integritas dan kejujuran, pembelaan pada kebenaran, pelestarian alam, menyeimbangkan kesehatan jasmani, mental, dan rohani, serta pemenuhan kewajiban dan hak sebagai warga negara;
2. Mengekspresikan dan bangga terhadap identitas diri dan budayanya, menghargai dan menempatkan keragaman masyarakat dan budaya nasional dan global secara setara dan adil, aktif melakukan interaksi antar budaya, menolak stereotip dan diskriminasi, serta berinisiatif untuk menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia;
4
3. Menunjukkan sikap aktif mendorong perilaku peduli dan berbagi, serta kemampuan berkolaborasi lintas kalangan di lingkungan terdekat, lingkungan sekitar, dan masyarakat luas
4. Menunjukkan perilaku bertanggung jawab, melakukan refleksi, berinisiatif dan merancang strategi untuk pembelajaran dan pengembangan diri, serta terbiasa beradaptasi dan menjaga komitmen untuk meraih tujuan;
5. Menunjukkan perilaku berbudaya dengan menyampaikan gagasan orisinal, membuat tindakan dan karya kreatif yang terdokumentasikan, serta senantiasa mencari alternatif solusi masalah di lingkungannya;
6. Menunjukkan kemampuan menganalisis permasalahan dan gagasan yang kompleks, menyimpulkan hasilnya dan menyampaikan argumen yang mendukung pemikirannya berdasarkan data yang akurat;
7. Menunjukkan kemampuan dan kegemaran berliterasi berupa mengevaluasi dan merefleksikan teks untuk menghasilkan inferensi kompleks, menyampaikan tanggapan atas informasi, serta menulis ekspositori maupun narasi dengan berbagai sudut pandang;
8. Menunjukkan kemampuan numerasi dalam bernalar menggunakan konsep, prosedur, fakta dan alat matematika untuk menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan diri, lingkungan terdekat, masyarakat sekitar, dan masyarakat global.
9. Memiliki kemampuan bersikap dan berperilaku akhlakul karimah serta moderat dalam kehidupan sosial budaya sehari-hari pada lingkup keluarga, lingkungan sekitar, regional, nasional dan global, yang berdasar pada pemahaman ulama yang sahih dari al Qur’an dan Hadis yang termanifestasikan pada akidah sebagai dasar dorongan beramal, dengan fikih sebagai basis ketentuan beribadah dan bermuamalah, yang mengambil pelajaran dari sejarah peradaban Islam sebagai inspirasi yang bijaksana, serta mampu berkomunikasi
5
dengan menggunakan bahasa Arab sebagai sarana mempelajari agama dari sumber autentiknya serta untuk kebutuhan bermuamalah.
10. Memiliki kemampuan membaca al-Qur’an dengan baik dan benar, memahami makna dari ayat ayat al-Qur’an dan Hadis.
Khusus pada Madrasah Aliyah yang memiliki muatan keunggulan khusus keagamaan (MAPK), Standar Kompetensi Lulusan dirumuskan secara terpadu dalam bentuk deskripsi kompetensi yang terdiri atas:
1. Menunjukkan sikap religius dan spiritualitas sesuai ajaran agama/kepercayaan yang dianut, menyayangi dirinya, menghargai sesama dan melestarikan alam semesta sebagai wujud cinta kepada Tuhan yang Maha Esa, memahami sepenuhnya ajaran agama secara utuh, rutin melaksanakan ibadah dengan penghayatan, menegakkan (mengedepankan) integritas dan kejujuran, pembelaan pada kebenaran, pelestarian alam, menyeimbangkan kesehatan jasmani, mental, dan rohani, serta pemenuhan kewajiban dan hak sebagai warga negara;
2. Mengekspresikan dan bangga terhadap identitas diri dan budayanya, menghargai dan menempatkan keragaman masyarakat dan budaya nasional dan global secara setara dan adil, aktif melakukan interaksi antarbudaya, menolak stereotip dan diskriminasi, serta berinisiatif untuk menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia;
3. Menunjukkan sikap aktif mendorong perilaku peduli dan berbagi, serta kemampuan berkolaborasi lintas kalangan di lingkungan terdekat, lingkungan sekitar, dan masyarakat luas;
4. Menunjukkan perilaku bertanggung jawab, melakukan refleksi, berinisiatif dan merancang strategi untuk pembelajaran dan pengembangan diri, serta terbiasa beradaptasi dan menjaga komitmen untuk meraih tujuan;
5. Menunjukkan perilaku berbudaya dengan menyampaikan gagasan orisinal, membuat tindakan dan karya kreatif yang terdokumentasikan, serta senantiasa mencari alternatif solusi masalah di lingkungan.
6
6. Menunjukkan kemampuan menganalisis permasalahan dan gagasan kompleks, menyimpulkan hasilnya dan menyampaikan argumen yang mendukung pemikirannya berdasarkan data yang akurat;
7. Menunjukkan kemampuan dan kegemaran berliterasi berupa mengevaluasi dan merefleksikan teks untuk menghasilkan inferensi kompleks, menyampaikan tanggapan atas informasi, serta menulis ekspositori maupun naratif dengan berbagai sudut pandang;
8. Menunjukkan kemampuan numerasi dalam bernalar kemampuan menggunakan konsep, prosedur, fakta dan alat matematika untuk menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan diri, lingkungan terdekat, masyarakat sekitar, dan masyarakat global.
9. Memiliki kemampuan bersikap,berprilaku akhlak karimah dan moderat dalam kehidupan sehari-hari pada lingkup keluarga, lingkungan sekitar, regional, nasional dan global, yang berdasar pada pemahaman ulama yang sahih dari al-Qur’an dan Hadis yang termanifestasikan pada akidah Islam sebagai dasar dorongan beramal, dengan fikih sebagai basis ketentuan beribadah dan bermuamalah, yang mengambil pelajaran dari sejarah kebudayaan Islam sebagai inspirasi, serta mampu berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Arab sebagai sarana mempelajarai agama dari sumber autentiknya untuk pengamalan bagi diri sendiri (fardlu ‘ain) juga pendalaman untuk didakwakan kepada orang lain (fardlu kifayah). Kitab.
10. Kemampuan membaca dan mendalami Al Qur’an-Hadis melalui kajian turats (kitab kuning) sebagai kompetensi unggulan/kekhasan yang melekat pada profil lulusan.
Standar Kompetensi Lulusan pada Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK) dirumuskan secara terpadu dalam bentuk deskripsi kompetensi yang terdiri atas:
1. Menunjukkan sikap religius dan spiritualitas yang moderat sesuai ajaran Agama Islam,menyayangi dirinya, menghargai sesama dan melestarikan alam semesta sebagai wujud cinta kepada Allah swt.,
7
Tuhan yang Maha Esa, memahami sepenuhnya secara utuh ajaran Islam, rutin melaksanakan ibadah dengan penghayatan, menegakkan (mengedepankan) integritas dan kejujuran, pembelaan pada kebenaran, pelestarian alam, menyeimbangkan kesehatan jasmani, mental, dan rohani, serta pemenuhan kewajiban dan hak sebagai warga negara;
2. Mengekspresikan dan bangga terhadap identitas diri dan budayanya, menghargai dan menempatkan keragaman masyarakat dan budaya nasional dan global secara setara dan adil, aktif melakukan interaksi antarbudaya, menolak stereotip dan diskriminasi, serta berinisiatif untuk menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia;
3. Menunjukkan sikap aktif mendorong perilaku peduli dan berbagi, serta kemampuan berkolaborasi lintas kalangan di lingkungan terdekat, lingkungan sekitar, dan masyarakat luas;
4. Menunjukkan perilaku bertanggung jawab, melakukan refleksi, berinisiatif dan merancang strategi untuk pembelajaran dan pengembangan diri, serta terbiasa beradaptasi dan menjaga komitmen untuk meraih tujuan;
5. Menunjukkan perilaku berbudaya dengan menyampaikan gagasan orisinal, membuat tindakan dan karya kreatif yang terdokumentasikan, serta senantiasa mencari alternatif solusi masalah di lingkungannya;
6. Menunjukkan kemampuan menganalisis permasalahan dan gagasan yang kompleks, menyimpulkan hasilnya dan menyampaikan argumen yang mendukung pemikirannya berdasarkan data yang akurat;
7. Menunjukkan kemampuan dan kegemaran berliterasi berupa mengevaluasi dan merefleksikan teks untuk menghasilkan inferensi kompleks, menyampaikan tanggapan atas informasi, serta menulis ekspositori maupun naratif dengan berbagai sudut pandang;
8. Menunjukkan kemampuan numerasi dalam bernalar menggunakan konsep, prosedur, fakta dan alat matematika untuk menyelesaikan
8
masalah yang berkaitan dengan diri, lingkungan terdekat, masyarakat sekitar, dan masyarakat global;
9. Memiliki kemampuan bersikap dan berperilaku akhlakul karimah serta moderat dalam kehidupan sosial budaya sehari-hari pada lingkup keluarga, lingkungan sekitar, regional, nasional dan global, yang berdasar pada pemahaman ulama yang sahih dari al Qur’an dan Hadis yang termanifestasikan pada akidah sebagai dasar dorongan beramal, dengan fikih sebagai basis ketentuan beribadah dan bermuamalah, yang mengambil pelajaran dari sejarah peradaban Islam sebagai inspirasi yang bijaksana, serta mampu berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Arab sebagai sarana mempelajari agama dari sumber autentiknya serta untuk kebutuhan bermuamalah.
10. Memiliki kemampuan/ketrampilan vokasional untuk membekali peserta didik dalam menghadapi dunia kerja
B. Standar Isi Kurikulum Madrasah Aliyah
Standar Isi Bahasa Arab pada Madrasah dikembangkan mengacu Standar Kompetensi Lulusan dan Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2021 tentang Standar Nasional Pendidikan sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 2022 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2021 tentang Standar Nasional Pendidikan. Standar Isi ini dirumuskan secara rinci menjadi ruang lingkup materi berdasarkan:
1. muatan wajib sesuai dengan ketentuan peraturan perundang undangan
2. konsep keilmuan; dan
3. jalur, jenjang, dan jenis pendidikan
Secara sistematis, penyusunan Standar Isi Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab dilakukan dengan merumuskan ruang lingkup materi pembelajaran untuk mengembangkan kompetensi peserta didik berdasarkan standar kompetensi lulusan dengan melakukan penyesuaian kemajuan pembelajaran (learning progression) peserta didik pada setiap jenjang dan jenis pendidikan.
9
Perumusan ruang lingkup materi pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab pada madrasah diarahkan dapat memberikan fleksibilitas kepada pendidik untuk memfasilitasi peserta didik yang beragam dalam mengembangkan kompetensinya dengan mengadopsi prinsip diferensiasi. Ruang lingkup materi ini berdasarkan konsep keilmuan yang dilakukan sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan, kemajuan teknologi, seni, dan budaya. Perumusan ruang lingkup materi standar isi Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab disusun berdasarkan jalur, jenjang RA, MI, MTs, MA/MAK, dan jenis pendidikan .
Ruang lingkup materi standar isi Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab bagi peserta didik penyandang disabilitas menggunakan standar isi yang ditetapkan dengan mempertimbangkan prinsip fleksibilitas sesuai karakteristik berdasarkan hasil asesmen.
Pada pendidikan Raudhatul Athfal, Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, dan Madrasah Aliyah memiliki kekhasan sendiri yang terkait dengan rincian mata pelajaran yang tergabung dalam Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab, yaitu mata pelajaran al-Qur’an Hadis, Akidah Akhlak, Fikih, Sejarah Kebudayaan Islam, dan Bahasa Arab.
Standar Isi merupakan kriteria minimal yang mencakup ruang lingkup materi untuk mencapai kompetensi lulusan. Standar isi Bahasa Arab di Madrasah Aliyah mencakup ruang lingkup materi Bahasa Arab pada Madrasah Aliyah yang secara dinamis disesuaikan dengan perkembangan zaman dan tantangan-tantangan yang dihadapi masyarakat, dengan memerhatikan ragam karakteristik individu peserta didik maupun lingkungan sosialnya. Fleksibilitas dan adaptasi kebutuhan spesifik pada ruang lingkup standar isi perlu memerhatikan peserta didik dengan situasi khusus, seperti penyandang disabilitas, dan masyarakat daerah terpencil.
Ruang lingkup materi pada Standar Isi Bahasa Arab dikemas untuk memperkuat pengembangan diri, pengembangan kapasitas, dan penguatan sosial ekonomi. Ruang lingkup materi keterampilan dikembangkan dengan memerhatikan ragam potensi sumber daya alam dan sosial budaya,
10
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan/atau kesempatan bekerja dan berusaha serta penguatan nilai-niai keislaman.
Pengembangan standar isi PAI dan Bahasa Arab di MA difokuskan pada:
1. Persiapan peserta didik memiliki sikap, perilaku akhlak karimah dan moderat sebagai bentuk manifestasi agama dalam kehidupan sehari- hari;
2. Penumbuhan kompetensi dalam memahami nilai-nilai al-Qur’an dan Hadis sebagai pedoman dalam pengamalan agama yang disandarkan pada pemahaman ulama yang sahih;
3. Penanaman akidah Islam sebagai manifestasi dan dasar dorongan beramal baik secara vertikal (hablun minallah) maupun horizontal (hablun minannas wal alam);
4. Penerapan fikih sebagai basis ketentuan beribadah dan bermuamalah dalam menjalankan agama pada kehidupan sosial kemasyarakatan;
5. Penumbuhan inspirasi yang bijaksana dan pemikiran yang moderat dalam menjalankan kehidupan yang dipelajari melalui sejarah peradaban Islam;
6. Penumbuhan kompetensi komunikasi dengan menggunakan Bahasa Arab sebagai sarana mempelajarai agama dari sumber autentiknya dalam menjaga pewarisan agama serta untuk memeuhi kebutuhan bermuamalah.
Ruang lingkup materi Bahasa Arab untuk Madrasah Aliyah (MA) dan Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK) diturunkan berdasarkan mata pelajaran Bahasa Arab sebagai berikut:
1. Komunikasi dalam bahasa Arab, baik lisan maupun tulis, yang mencakup empat kecakapan berbahasa, yakni menyimak (istima’), berbicara (kalam), membaca (qira’ah), dan menulis (kitabah) untuk mempersiapkan peserta didik memiliki kemampuan menggunakan Bahasa Arab sebagai alat mendalami agama dan berkomunikasi
11
sehari-hari dalam lingkup keluarga, lingkungan sekitar, nasional dan global.
2. Unsur kebahasaan (bunyi, kata dan makna) berupa wacana lisan dan tulisan berbentuk paparan atau dialog sederhana tentang wawasan tentang kehidupan sosial, fasilitas umum, kesehatan, tempat-tempat umum, tokoh-tokoh islam, hari-hari besar Islam, kisah-kisah Islam, untuk melatih keempat aspek kemampuan berbahasa.
3. Fungsi Sosial Tindak Tutur komplek dalam konteks sosial kemasyarakatan, yang merupakan bentuk performansi bahasa yang digunakan dalam situasi dan kondisi tertentu dalam lingkungan keluarga, lingkungan sekitar, nasional dan global.
Secara khusus pada Madrasah Aliyah yang memiliki muatan khusus keunggulan keagamaan (MAPK), ruang lingkup mata pelajaran Bahasa Arab dirumuskan sebagai berikut;
1. Komunikasi dalam bahasa Arab, baik lisan maupun tulis, yang mencakup empat kecakapan berbahasa, yakni menyimak (istima’), berbicara (kalam), membaca (qira’ah), dan menulis (kitabah) untuk mempersiapkan peserta didik memiliki kemampuan menggunakan Bahasa Arab sebagai alat mendalami agama dan berkomunikasi sehari-hari dalam lingkup keluarga, lingkungan sekitar, nasional dan global.
2. Unsur kebahasaan (bunyi, kata dan makna) berupa wacana lisan dan tulisan berbentuk paparan atau dialog sederhana tentang wawasan tentang kehidupan sosial, fasilitas umum, kesehatan, tempat-tempat umum, tokoh-tokoh islam, hari-hari besar Islam, kisah-kisah Islam, untuk melatih keempat aspek kemampuan berbahasa.
3. Fungsi Sosial Tindak Tutur komplek dalam konteks sosial kemasyarakatan, yang merupakan bentuk performansi bahasa yang digunakan dalam situasi dan kondisi tertentu dalam lingkungan keluarga, lingkungan sekitar, nasional dan global.
4. Kompetensi Nahwu, Sharaf dan Balaghah melalui penguatan Aspek, bentuk, makna, fungsi dan susunan gramatikal bahasa Arab dikuasai
12
melalui pengkajian dan kontektualisasi menggunakan kutubut turats (kitab kuning), mencakup ilmu nahwu, sharaf dan balaghah yang terdiri atas: bentuk, makna dan fungsi dari susunan gramatikal ilmu nahwu dan llmu shorof dalam sebuah wacana sesuai konteks serta bentuk, makna dan fungsi dari susunan kalimat dan teks dalam ilmu balaghah (ma’ani, bayan dan badi’) dengan tujuan memiliki penguasaan dalam kajian literatur Islam yang mendalam dan moderat.
Peserta Didik berkebutuhan khusus dapat mengikuti Standar Isi, dengan dilakukan penyesuaian kebutuhan Peserta Didik berkebutuhan khusus yang sudah diasesmen oleh masing-masing satuan pendidikan.
C. Struktur Kurikulum Merdeka Belajar
Struktur kurikulum MA terdiri atas 2 (dua) Fase yaitu fase E dan Fase F. Madrasah dapat mengorganisasikan muatan pembelajaran intrakurikuler dan pembelajaran berbasis proyek secara terpadu atau simultan. Dalam kaitan ini madrasah dapat menggunakan atau memilih pendekatan mata pelajaran atau tematik secara bebas sesuai kebutuhan pembelajaran siswa yang diprogramkan. Bentuk pembelajaran dapat dilakukan secara kolaboratif beberapa mata pelajaran dalam mendukung satu tema yang di dalamnya dikelola melalui pembelajaran berbasis proyek, sehingga capaian intrakurikuler dapat diwujudkan sekaligus penguatan karakter Pelajar Pancasila.
1. Fase E untuk kelas X;
Mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Ilmu Pengetahuan Sosial di kelas X MA tidak dipisahkan menjadi mata pelajaran yang lebih spesifik. Namun demikian, satuan pendidikan dapat menentukan bagaimana muatan pelajaran diorganisasi.
Pengorganisasian pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Ilmu Pengetahuan Sosial dapat dilakukan melalui beberapa pendekatan sebagai berikut:
a) Mengajarkan muatan Ilmu Pengetahuan Alam atau Ilmu Pengetahuan Sosial secara terintegrasi;
13
b) Mengajarkan muatan Ilmu Pengetahuan Alam atau Ilmu Pengetahuan Sosial secara bergantian dalam blok waktu yang terpisah; atau
c) Mengajarkan muatan Ilmu Pengetahuan Alam atau Ilmu Pengetahuan Sosial secara paralel, dengan JP terpisah seperti mata pelajaran yang berbeda-beda, diikuti dengan unit pembelajaran inkuiri yang mengintegrasikan muatan pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam atau Ilmu Pengetahuan Sosial tersebut.
2. Fase F untuk kelas XI dan kelas XII. Fase F untuk kelas XI dan kelas XII, struktur mata pelajaran dibagi menjadi 6 (enam) kelompok utama, yaitu:
a) kelompok mata pelajaran umum Setiap Madrasah Aliyah wajib membuka atau mengajarkan seluruh mata pelajaran dalam kelompok ini dan wajib diikuti oleh semua peserta didik MA.
b) Kelompok mata pelajaran agama Setiap MA wajib menyediakan paling sedikit 4 (empat) mata pelajaran dalam kelompok ini.
c) Kelompok mata pelajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Setiap MA wajib menyediakan paling sedikit 3 (tiga) mata pelajaran dalam kelompok ini. d) d) Kelompok mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Setiap
MA wajib menyediakan paling sedikit 3 (tiga) mata pelajaran dalam kelompok ini.
e) Kelompok mata pelajaran Bahasa dan Budaya Kelompok mata pelajaran ini dibuka sesuai dengan sumber daya yang tersedia di MA.
f) Kelompok mata pelajaran Vokasi dan Prakarya Kelompok mata pelajaran Vokasi dan Prakarya dibuka sesuai dengan sumber daya yang tersedia di MA.
14 D. Komponen CP Madrasah Aliyah
1. Capaian pembelajaran Bahasa Arab MA a. Rasional mata pelajaran Bahasa Arab
Bahasa Arab merupakan bahasa yang sangat penting untuk dikembangkan, karena di samping sebagai bahasa agama, ia juga sebagai bahasa internasional. Penguasaan bahasa Arab saat ini juga telah menjadi tuntutan sebagai konsekuensi dari adanya proses globalisasi dan perkembangan teknologi informasi yang berlangsung sangat pesat. Perkembangan mutakhir menunjukkan bahwa saat ini penutur bahasa Arab di dunia mengalami peningkatan yang signifikan, lebih dari 60 negara dan 350 juta orang menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa komunikasi sehari-hari. Saat ini, bahasa Arab tidak saja dijadikan sebagai bahasa studi agama, akan tetapi juga dipakai sebagai bahasa ekonomi, pariwisata, politik dan keamanan global. Untuk merespon perkembangan tersebut, maka bahasa Arab juga tidak hanya cukup diajarkan dengan tujuan untuk memahami literatur keagamaan semata, namun juga harus diorientasikan kepada penguasaan bahasa sebagai alat komunikasi baik lisan maupun tulisan.
Pembelajaran bahasa Arab di madrasah secara bertahap dan holistik diarahkan untuk menyiapkan peserta didik memiliki kecakapan berbahasa, yaitu: a). mampu mengekspresikan perasaan, pikiran dan gagasan secara verbal-komunikatif; b).
mampu menginternalisasi keterampilan berbahasa Arab dengan baik sehingga peserta didik menjadi terampil menggunakan bahasa Arab dalam berbagai situasi; c). mampu menggunakan bahasa Arab untuk mempelajari ilmu-ilmu agama, pengetahuan umum dan kebudayaan; dan d). mampu mengintegrasikan kemampuan berbahasa Arab dengan perilaku yang tercermin dalam sikap moderat, berpikir kritis dan sistematis.
15
Pembelajaran bahasa Arab pada jenjang MI, MTS, MA/MAK diharapkan dapat membantu peserta didik berhasil mencapai puan berkomunikasi dalam bahasa Arab sebagai bagian kemampuan ber dari life skills. Pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran bahasa Arab umum adalah pendekatan berbasis teks (genre-based approach), yakni pembelajaran difokuskan pada teks, dalam berbagai moda, baik lisan, tulisan, visual, audio, maupun multimodal. Tahapan dalam pendekatan berbasis teks ada empat yaitu:
1) Building Knowledge of the Field (BKOF): Guru membangun pengetahuan atau latar belakang pengetahuan peserta didik terhadap topik yang akan ditulis atau dibicarakani. Pada tahapan ini, guru juga membangun konteks budaya dari teks yang diajarkan.
2) Modelling of the Text (MOT): Guru memberikan model/contoh teks sebagai acuan bagi peserta didik dalam menghasilkan karya, baik secara lisan maupun tulisan.
3) Joint Construction of the Text (JCOT): Guru membimbing peserta didik dan bersama-sama memproduksi teks.
4) Independent Construction of the Text (ICOT): Peserta didik memproduksi teks lisan dan tulisan secara mandiri (Emilia, 2011).
Capaian Pembelajaran bagi Peserta Didik Berkebutuhan Khusus ditetapkan secara akomodatif dengan mempertimbangkan prinsip fleksibilitas sesuai karakteristik dan kondisi peserta didik berdasarkan hasil asesmen. Pelaksanaan akomodasi kurikulum, pembelajaran dan penilaian bagi Peserta Didik Berkebutuhan Khusus dalam memenuhi Capaian Pembelajaran menjadi kewenangan guru dan/atau satuan pendidikan.
b. Tujuan mata pelajaran Bahasa Arab
16
Pembelajaran bahasa Arab di madrasah mempunyai tujuan untuk mempersiapkan peserta didik memiliki kemampuan menggunakan bahasa Arab sebagai alat komunikasi global dan alat untuk mendalami agama dari sumber otentik yang pada umumnya menggunakan bahasa Arab dan melalui proses rantai keilmuan (isnad) yang terus bersambung hingga sumber asalnya yaitu Al- Qur'an dan Hadis.
c. Karakteristik mata pelajaran Bahasa Arab
Pembelajaran bahasa Arab di madrasah diorientasikan untuk memberikan tiga kompetensi yaitu:
1) Kompetensi Berbahasa (al-kifayah al-lugawiyyah).
Sebuah kompetensi dasar dalam bahasa yang meliputi empat kemahiran berbahasa (al-mahārāt al- lugawiyyah) yaitu kemahiran mendengar (mahārah al- istimā'), kemahiran berbicara (mahārah al-kalām), kemahiran membaca-memirsa (mahārah al-qira'ah), dan kemahiran menulis-mempresentasikan (mahārah al- kitābah). Keterampilan berbahasa tersebut harus dijalankan berdasarkan unsur-unsur bahasa (al-anāşir al-lugawiyyah) yang baik dan benar meliputi: bunyi (aşu), kosakata (mufradāt), dan kaidah bahasa (qawa'id al-lugah).
2) Kompetensi Berkomunikasi (al-kifayah al-ittişaliyyah), Kompetensi untuk melakukan tindak tutur dengan bahasa target dalam berbagai konteks sosial secara lisan dan tulisan. Bahasa Arab hendaknya dilihat dari sudut pandang fungsionalitasnya, yaitu sebagai alat komunikasi. Jadi kompetensi berkomunikasi ini menjadi hal penting yang harus diajarkan.
3) Kompetensi Berbudaya (al-kifāyah al-śaqafiyyah).
Pembelajaran Bahasa Arab disamping membelajarkan bahasa, ia mengandung pesan-pesan budaya dari bahasa itu sendiri, budaya yang dikandung
17
dalam hal ini adalah budaya Arab Islam (saqafah arabiyyah islamiyyah), budaya global umum (śaqafah alamiyyah ammah), dan budaya lokal khusus (saqafah mahalliyah khāşah). (al-Faozan, dkk.; 1435.h-i). Kandungan budaya ini tercermin dalam tema-tema atau topik yang diangkat dalam pembelajaran. Semisal: perkenalan, berolahraga, bepergian dan wisata, pelestarian lingkungan, teknologi informasi dan komunikasi, peradaban Islam, haji umrah, puisi Arab, maulid Nabi, cinta Indonesia, dll.
Berdasarkan hal di atas, tiga kompetensi yang menjadi target pembelajaran bahasa Arab yaitu kompetensi berbahasa, kompetensi berkomunikasi dan kompetensi berbudaya digabungkan dalam kerangka komponen pembelajaran.
Komponen pembelajaran Bahasa Arab Kemahiran
berbahasa
Unsur bahasa
Tema/topik Ungkapan komunikatif Menyimak
berbicara membaca memirsa menulis mempresentasikan
Sistem bunyi, kosa akata, pola kalimat/gra matika
Tema/topik pembelajaran yang
mengandung aspek budya local, religi, internasional.
Ungkapan untuk melakukan tindak tutur dalam Bahasa target
Adapun elemen dalam capaian pembelajaran mengintegrasikan komponen pembelajaran Bahasa arab diatas sebagai pemandu adalah Kemahiran berbahasa berikut:
Menyimak Menyimak adalah kemampuan memahami, mengidentifikasi, dan menginterpretasi fakta, ide pokok, urutan peristiwa, makna tersurat dan
18
tersirat, nilai, fakta dan opini, solusi, manfaat, membaca tabel, membuat pertanyaan, dan menyimpulkan isi teks yang diperdengarkan.
Berbicara Berbicara adalah kemampuan menyampaikan pesan singkat, mengajukan pertanyaan, mengkomunikasikan informasi pada topik-topik tertentu, menyajikan pendapat dengan tepat, fasih, terampil, efisien dan efektif sesuai dengan budaya bahasa target.
Membaca Memirsa Membaca adalah kemampuan memahami, menginterpretari dan menentukan fakta, ide pokok, urutan peristiwa, makna tersurat dan tersirat, nilai, fakta dan opini, solusi, manfaat, membaca tabel, membuat pertanyaan, dan menyimpulkan isi teks yang dibaca.
Memirsa merupakan kemampuan memperhatikan, memahami, menggunakan, merefleksi, menganalisis, mengevaluasi, dan mengapresiasi struktur, isi, asumsi, nilai, keyakinan, fungsi sosial teks visual dan teks visual dan teks multimoda sesuai tujuan dan kepentingannya.
Menulis
Mempresentasikan
Menulis adalah kemampuan menuliskan kata dan ungkapan,
19
menyampaikan pesan,
mengkomunikasikan fakta dan ide dalam kalimat dan paragraf dengan memperhatikan kerangka waktu, struktur gramatikal, dan budaya bahasa target.
Mempresentasikan merupakan kemampuan mempresentasikan, mengkritisi dan mengevaluasi gagasan secara jelas dan efektif, baik secara individu maupun berkolaborasi dengan menggunakan strategi dan gesture yang tepat.
Pembelajaran Bahasa arab juga nantinya akan terbagi dalam beberapa fase yaitu fase A,B,C,D,E,F dengan peta jalan capaian sebagai berikut :
Elemen Fase E
Kelas X
Fase F Kelas XI-XII Menyimak Mendengarkan secara
selektif. Peserta didik mamapu mengevaluasi informasi yang didengar.
Mendengarkan secara ekstensif:
peserta didik mampu membuat tanggapan dari informasi yang didengar
Berbicara Berbicara secara interaktif: peserta didik mampu membangun interaksi dengan teks kompleks sebagai alat komunikasi global
Berbicara secara ekstensif: peserta didik mampu berbicara dengan memproduksi Bahasa secara lisan
20
sebagai alat komunikasi global Membaca dan
memirsa
Membaca -memirsa secara interaktif: peserta didik mampu memahami dan merefleksi beberapa paragraph dalam teks tertulis atau teks visual secara interaktif
Membaca -
memirsa secara ekstensif: peserta didik mampu memahami dan merefleksi
beberapa paragraph dalam teks tertulis atau teks visual berupa ceriat pendek/artikel/esai /laporan/buku Menulis dan
mempresenta sikan
Menulis
mempresentasikan secara responsive:
peserta didik mampu menghubungkan dan memaparkan kalimat kedalam paragraph pada wacana terbatas dan membuat urutan yang terhubung secara logis dari empat atau lima paragraf
Menulis
mempresentasikan ikan wacana ekstensif; peserta didik mampu memproduksi Bahasa tulisan secara bebas dan mendalam serta mampu
memaparkannya dalam konteks sesuai tema.
d. Elemen mata pelajaran Bahasa Arab
Adapun elemen dalam capaian pembelajaran mengintegrasikan komponen pembalajaran Bahasa arab diatas sebagai pemandu adalah Kemahiran berbahasa berikut:
21
Elemen Deskripsi
Menyimak Menyimak adalah
kemampuan memahami, mengidentifikasi, dan menginterpretasi fakta, ide pokok, urutan peristiwa, makna tersurat dan tersirat, nilai, fakta dan opini, solusi, manfaat, membaca tabel, membuat pertanyaan, dan menyimpulkan isi teks yang diperdengarkan.
berbicara Berbicara adalah kemampuan
menyampaikan pesan singkat, mengajukan pertanyaan, mengkomunikasikan
informasi pada topik-topik tertentu, menyajikan pendapat dengan tepat, fasih, terampil, efisien dan efektif sesuai dengan budaya bahasa target.
Membaca memirsa Membaca adalah kemampuan memahami, menginterpretasi dan menentukan fakta, ide pokok, urutan peristiwa, makna tersurat dan tersirat, nilai, fakta dan opini, solusi, manfaat, membaca tabel, membuat pertanyaan, dan menyimpulkan isi teks yang dibaca.
22
Memirsa merupakan kemampuan memperhatikan, memahami, menggunakan, merefleksi, menganalisis, mengevaluasi, dan mengapresiasi struktur, isi, asumsi, nilai, keyakinan, fungsi sosial teks visual dan teks multimoda. sesuai tujuan dan kepentingannya
Menulis mempresentasikan Menulis adalah kemampuan menuliskan kata dan ungkapan, menyampaikan pesan, mengkomunikasikan fakta dan ide dalam kalimat dan paragraf dengan memperhatikan kerangka waktu, struktur gramatikal, dan budaya bahasa target.
Mempresentasikan
merupakan kemampuan mempresentasikan,
mengkritisi dan mengevaluasi gagasan secara jelas dan efektif, baik secara individu maupun berkolaborasi dengan menggunakan strategi dan gesture yang tepat.
e. Capaian pembelajaran mata pelajaran Bahasa Arab
Fase E (kelas X madrasah Aliyah/madrasah Aliyah kejuruan) Pada akhir fase E, peserta didik memiliki kemampuan mengevaluasi informasi, membangun interaksi, serta merefleksi
23
beberapa paragraf dalam berbagai jenis teks visual atau teks multimoda secara interaktif sebagai sarana mempelaja agama dari sumber autentiknya dalam konteks sosial, serta juga mamp menghubungkan, memaparkan kalimat dan membuat urutan yang terhubung secara logis ke dalam paragraf pada wacana terbatas dari berbagai teks secara tulis dan lisan untuk penguatan karakter.
Capaian pembelajaran Bahasa Arab ini berlaku juga untuk Madrasah Aliyah Program Keagamaan. Adapun capaian pembelajaran sebagai berikut:
Elemen Capaian pembelajaran
Menyimak Peserta didik mampu mengevaluasi informasi tentang memberi salam dan berkenalan, keluarga dan rumah, sekolah dan lingkungannya, kehidupan sehari-hari, hobi, makanan dan minuman, dengan susunan gramatikal:
menggunakan
ماقرلأا ،ةملكلا ميسقت ۱
- ۱۰۰ ،لصفنملا ريمضلا ،
لعفلا ماسقأ عمجلاو ىنثملاو درفملا )لصتملا -
ركذملا
فرظو ناكملا فرظ ،ماهفتسلاا تاودأ ثنؤملاو نامزلا
untuk menilai informasi yang didengar.
Berbicara Peserta didik mampu membangun interaksi dengan teks kompleks tentang memberi salam dan berkenalan, keluarga dan rumah, sekolah dan lingkungannya, kehidupan sehari-hari, hobi, makanan dan minuman, dengan menggunakan susunan gramatikal:
24
ماقرلأا ،ةملكلا ميسقت ۱
- ۱۰۰ ،لصفنملا ريمضلا ،
لعفلا ماسقأ عمجلاو ىنثملاو درفملا )لصتملا -
ركذملا
فرظو ناكملا فرظ ،ماهفتسلاا تاودأ ثنؤملاو نامزلا
sebagai alat komunikasi global.
Membaca Memirsa
Peserta didik mampu membangun interaksi dengan teks kompleks tentang memberi salam dan berkenalan, keluarga dan rumah, sekolah dan lingkungannya, kehidupan sehari-hari, hobi, makanan dan minuman, dengan menggunakan susunan gramatikal:
ماقرلأا ،ةملكلا ميسقت ۱
- ۱۰۰ ،لصفنملا ريمضلا ،
لعفلا ماسقأ عمجلاو ىنثملاو درفملا )لصتملا -
ركذملا
فرظو ناكملا فرظ ،ماهفتسلاا تاودأ ثنؤملاو نامزلا
sebagai alat komunikasi global.
Menulis
Mempresentasikan
Peserta didik mampu menghubungkan dan memaparkan kalimat ke dalam paragraf pada wacana terbatas, dan membuat urutan yang terhubung secara logis tentang memberi salam dan berkenalan, keluarga dan rumah, sekolah dan lingkungannya, kehidupan sehari-hari, hobi, makanan dan minuman, dengan susunan gramatikal:
menggunakan
ماقرلأا ةملكلا ميسقت ۱
۱۰۰ ،لصفنملا ريمضلا ،
لعفلا ماسقأ لامجلاو ىنثملاو درفملا ،)لصتملا -
25
ناكملا فرظ ،ماهفتسلاا تاودأ ثنؤملاو ركذملا نامزلا فرظو
untuk mengungkapkan gagasan sesuai dengan struktur teks secara tulis dan lisan.
Fase F (Kelas XI dan XII Madrasah Aliyah/Madrasah Aliyah Kejuruan)
Pada akhir fase F, peserta didik memiliki kemampuan membuat tanggapan dari informasi yang didengar serta memproduksi bahasa secara lisan sebagai alat komunikasi global, merefleksi berbagai jenis teks visual atau teks multimoda, memproduksi bahasa secara bebas dan mendalam untuk mengungkapkan gagasan sesuai dengan struktur teks, serta mampu memaparkannya sesuai dengan tujuan dan konteks sosial secara tulis dan lisan untuk penguatan karakter.
Capaian pembelajaran Bahasa Arab ini berlaku juga untuk Madrasah Aliyah Program Keagamaan. Adapun capaian pembelajaran sebagai berikut:
Elemen Capaian pembelajaran
Menyimak Peserta didik mampu membuat tanggapan dari informasi tentang berbelanja, kesehatan, berwisata, haji dan umroh, teknologi informasi dan komunikasi, agama-agama di Indonesia, olahraga, pemuda, puisi Arab, peradaban Islam, kuliah di universitas, dengan menggunakan susunan gramatikal:
26
رجلا فورح ،نويلبو رايلمو نويلمو فلأ ددع ةفرعملا مسلااو ةركنلا مسلاا فطعلا فورحو فيرصتلا ،يضاملا لعفلل يوغللا فيرصتلا
ةيمسلاا ةلمجلا عراضملا لعفلل يوغللا ينبملا لعفلا ةفاضلاا تعنلا ةيلعفلا ةلمجلاو
مولعملل
ءامسلأا ،ليضفتلا مسا لوهجملل ينبملا لعفلاو عوفرملا عراضملا ةسمخلا لاعفلأاو ةسمخلا
موزجملا عراضملاو بوصنملا عراضملاو untuk merespon informasi yang didengar.
Berbicara Peserta didik mampu berbicara dengan memproduksi bahasa secara lisan tentang berbelanja, kesehatan, berwisata, haji dan umroh, teknologi informasi dan komuikasi, agama- agama di Indonesia, olahraga, pemuda, puisi Arab, peradaban Islam, kuliah di dengan menggunakan universitas, susunan gramatikal:
رجلا فورح ،نويلبو رايلمو نويلمو فلأ ددع فطعلا فورحو
يوغللا فيرصتلا ةفرعملا مسلااو ةركنلا مسلاا لعفلل يوغللا فيرصتلا ،يضاملا لعفلل تعنلا ةيلعفلا ةلمجلاو ةيمسلاا ةلمجلا عراضملا ينبملا لعفلاو مولعملل ينبملا لعفلا ةفاضلاا لاعفلأاو ةسمخلا ءامسلأا ليضفتلا مسا لوهجملل عراضملاو عوفرملا عراضملا ةسمخلا
موزجملا عراضملاو بوصنملا
sebagai alat komunikasi global
27
Membaca Memirsa Peserta didik mampu memahami dan merefleksi berbagai jenis teks visual atau teks multimoda dalam pendek/artikel/esai/laporan/buku tentang berbelanja, kesehatan, berwisata, haji dan umroh, teknologi informasi dan komunikasi, agama- agama di Indonesia, olahraga, pemuda, puisi Arab, peradaban Islam, kuliah di universitas, dengan menggunakan susunan gramatikal:
رجلا فورح نويلبو رايلمو نويلمو فلأ ددع ةفرعملا مسلااو ةركنلا مسلاا فطعلا فورحو
فيرصتلا ،يضاملا لعفلل يوغللا فيرصتلا ةلمجلاو ةيمسلاا ةلمجلا عراضملا لعفلل يوغللا مولعملل ينبملا لعفلا ةفاضلاا تعنلا ةيلعفلا ءامسلأا ،ليضفتلا مسا لوهجملل ينبملا لعفلاو عوفرمملا عراضملا ةسمخلا لاعفلأاو ةسمخلا
موزجملا عراضملاو بوصنملا عراضملاو untuk mengelola informasi dari berbagai jenis teks.
Menulis
Mempresentasikan
Peserta didik mampu memproduksi bahasa terkait berbagai jenis teks secara bebas dan mendalam serta mampu memaparkannya dalam konteks sesuai tema berbelanja, kesehatan, berwisata, haji dan umroh, teknologi informasi dan komunikasi, agama-agama di Indonesia, olahraga, pemuda, puisi Arab, peradaban Islam, kuliah di
28
universitas, dengan menggunakan susunan gramatikal:
رجلا فورح ،نويلبو رايلمو نويلمو فلأ ددع ةفرعملا مسلااو ةركنلا مسلاا فطعلا فورحو فيرصتلا ،يضاملا لعفلل يوغللا فيرصتلا ةلمجلاو ةيمسلاا ةلمجلا عراضملا لعفلل يوغللا مولعملل ينبملا لعفلا ةفاضلاا تعنلا ةيلعفلا ءامسلأا ليضفتلا مسا لوهجملل ينبملا لعفلاو عوفرملا عراضملا ةسمخلا لاعفلأاو ةسمخلا
موزجملا عراضملاو بوصنملا عراضملاو untuk mengungkapkan gagasan sesuai dengan struktur teks secara tulis dan lisan.
2. Capaian pembelajaran Bahasa Arab madrasah Aliyah program keagamaan (MAPK)
a. Rasional mata pelajaran Bahasa Arab MAPK
Bagi umat Islam Indonesia, bahasa Arab memiliki kedukan yang sangat penting, karena selain menjadi bahasa agama, dimana Al-Qur'an dan Hadis sebagai dua sumber utama ajaran Islam menggunakan bahasa Arab serta digunakan dalam kegiatan ibadah umat Islam, bahasa Arab juga menjadi bahasa yang telah lama menjadi bahasa yang paling banyak diserap oleh bahasa Indonesia.
Di samping urgensi pembelajaran bahasa didasari oleh faktor agama, penguasaan bahasa Arab saat ini juga telah menjadi tuntutan sebagai konsekuensi dari adanya proses globalisasi dan perkembangan teknologi informasi yang berlangsung sangat pesat.
b. Tujuan mata pelajaran Bahasa Arab MAPK
Mengembangkan kemampuan memahami, mengkaji dan mengkontekstualisasi kitab-kitab klasik (kutub al-turas) melalui penguasaan bentuk, makna, fungsi dan gramatikal bahasa Arab,
29
Mengembangkan kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Arab yang baligh, baik lisan maupun tulis, Menumbuhkembangkan kesadaran pentingnya bahasa Arab yang baligh, sebagai salah satu bahasa asing untuk menjadi, sumber utama belajar, khususnya dalam mengkaji sumber utama ajaran Islam dan sebagai alat komunikasi internasional.
c. Karakteristik mata pelajaran Bahasa Arab MAPK
Mata pelajaran ini merupakan materi pengayaan (al-mawād al-idāfiyyah) dari bahasa Arab umum wajib diikuti oleh peserta didik Peminatan Keagamaan dan Program Keagamaan. Pada peminatan keagamaan ini, tujuan dan materi pembelajarannya berorientasi pada pengembangan kemampuan memahami, mengkaji dan mengkontekstualisasikan kitab-kitab klasik (kutub al-turas) yang ditulis dalam bahasa Arab. Oleh karena itu, mata pelajaran bahasa Arab Peminatan Keagamaan dan Program Keagamaan ini, memiliki perbedaan dengan bahasa Arab umum dalam hal materi ajar yang harus dipelajari oleh peserta didiknya.
Mata pelajaran bahasa Arab ini lebih banyak membekali peserta didik untuk memiliki kompetensi komunikasi dalam bahasa Arab yang akurat serta mampu memahami dan mendalami kitab- kitab klasik (kutub al-turas) dengan memberikan penekanan kepada pengembangan tiga aspek yang saling terkait, yaitu gramatikal bahasa Arab (Nahwu dan Şarf), Sastra Arab, dan aspek literasi.
d. Capaian pembelajaran mata pelajaran Bahasa Arab MAPK Fase E (Kelas X Madrasah Aliyah Program Keagamaan)
Elemen Capaian pembelajaran
Sharaf Peserta didik mampu
menerapkan bentuk, makna, dan fungsi:
لعفلاو يضاملا لعفلا ةملكلا ميسقت حيحصلا لعفلا رملأا لعفو عراضملا
30
يدعتملاو مزلالا لعفلا لتعملاو يضاملا لعفلل يوغللا فيرصتلا ،رملأا لعفو عراضملا لعفلاو لعفلا
درجملا لعفلل دئاوفلا ديزملاو درجملا ،ةغلابملا مسا ةهبشملا ةفصلا ،ديزملاو عمجلاو ىنثملاو درفملا ، ليضفتلا مسا untuk meningkatkan kompetensi komunikasi dalam mendalami agama dari sumber otentiknya.
Nahwu Peserta didik mampu
menerapkan bentuk, makna, dan fungsi:
هفيرعت بارعلاا ينبملاو برغملا ءامسلأا تاعوفرم ،هتملاعو هميسقتو ،لعافلا بئانو لعافلا ربخلاو أدتبملا اهتاوخأو نإ ربخ ،اهتاوخأو ناك مسا untuk meningkatkan kompetensi komunikasi dalam mendalami agama dari sumber otentiknya.
Fase F (Kelas XI dan XII Madrasah Aliyah Program Keagamaan)
Elemen Capaian pembelajaran
Nahwu Peserta didik mampu bentuk, makna, dan fungsi: menerapkan لوعفملا هب لوعفملا ءامسلأا تابوصنم ىنثتسملا هيف لوعفملا هلجلأ لوعفملا قلطملا ءامسلأا تارورجم )لاحلا زييمتلا فورح(
مزاوجلا بصاونلا ،)ةفاضلإاو رجلا
31
untuk meningkatkan kompetensi komunikasi dalam mendalami agama dari sumber otentiknya.
Balaghah Peserta didik mampu bentuk, makna, dan fungsi: menerapkan ءاشنلإا هعاونأو ربخلا ةغلابلا ةحاصفلا
رصقلا هعاونأو هعاونأو
untuk berbicara sesuai dengan situasi dan kondisi (konteks) Peserta didik mampu bentuk, makna, dan fungsi: menerapkan ةيحيرصتلا( ةراعتسلاا هعاونأو هيبشتلا بكرملا لسرملا هعاونأو زاجملا ، ةينكملا
اهعاونأو ةيانكلا ، )يلقعلا
untuk menyampaikan pesan dengan variasi gaya bahasa Peserta didik mampu bentuk, makna, dan fungsi: menerapkan هبشي امب حدملا ديكأت ةلباقملا قابطلا ،ةيروتلا سانجلا ،حدملا هبشي امب مذلا ديكأت ،مذلا
سابتقلاا ،عجسلا ،هعاونأو
untuk mengkonstruk kata dan makna menjadi lebih indah dan menarik
E. Implementasi Kurikulum Merdeka Belajar Di Madrasah Aliyah Menurut Qutni & Nawawi menjelaskan bahwasanya kurikulum Bahasa arab tidak hanya menitikberatkan pada aspek pengetahuan, tetapi mencakup tiga aspek (kognitif, afektif, dan psikomotorik) sekaligus secara
32
berimbang sesuai dengan perkembangan psikologi pesserta didik. Lebih dari itu, penguasaan substansi mata pelajaran tidak lagi ditekankan pada pemahaman konsep yang steril dari kehidupan Masyarakat melainkan Pembangunan pengetahuan melalui pembelajaran yang otentik. Kurikulum Merdeka diterapkan secara bertahap pada madrasah percontohan/piloting dengan mekanisme sebagai berikut;
1. Madrasah secara mandiri melakukan persiapan implementasi kurikulum merdeka.
2. Madrasah Menyusun dan mengembangkan kurikulum operasional Tingkat satuan pendidikan sesuai visi, misi, tujuan, dan kekhasan madarasah
3. Madrasah yang sudah siap menerapkan kurikulum Merdeka mengajukan usulan kepada kantor kementrian agama kabupaten/
kota
4. Kantor kementrian agama kabupaten/kota mengusulkan madrasah pelaksana kurikulu Merdeka kepada kantor wilayah kementrian agama provinsi.
5. Kantor wilayah kementrian agama provinsi mengusulkan madrasah pelaksana kurikulum Merdeka kepada direktorat jenderal pendidikan islam untuk mendapat penetapan
6. Direktorat jendral pendidikan islam menetapkan madrasah pelaksana kurikulum Merdeka
7. Madrasah yang telah ditetapkan sebagai pelaksana kurikulum Merdeka dapat memilih 2 pilihan dalam mengimplementasikan kurikulum Merdeka sebagai berikut :
a. Menerapkan beberapa bagian dan prinsip Kurikulum Merdeka tanpa mengganti kurikulum satuan Pendidikan, misalnya menerapkan proyek penguatan Profil Pelajar Pancasila sebagai ko-kurikuler atau ekstrakurikuler dengan konsekuensi menambah atau merelokasi jam pelajaran, menerapkan pembelajaran sesuai tahap capaian peserta didik atau pembelajaran terdiferensiasi
33
b. Menerapkan kurikulum Merdeka dengan pengembangan berbagai perangkat ajar oleh satuan pendidikan.
8. Direktorat Jenderal Pendidikan Islam melakukan penyesuaian EMIS dan SIMPATIKA atau penyesuaian kebijakan GTK pada madrasah yang sudah ditetapkan sebagai pelaksana Kurikulum Merdeka.
9. Direktorat Jenderal berhak menunjuk madrasah untuk menjadi piloting pelaksana kurikulum Merdeka.
F. Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila
Proyek penguatan profil pelajar Pancasila pada MI, MTs, MA, MAK mengambil alokasi waktu 20-30% (dua puluh sampai dengan tiga puluh persen) dari total jam pelajaran selama 1 (satu) tahun. Alokasi waktu untuk setiap proyek penguatan Profil Pelajar Pancasila tidak harus sama. Satu proyek dapat dilakukan dengan durasi waktu yang lebih panjang daripada proyek yang lain. Secara pengelolaan -52- waktu pelaksanaan, proyek dapat dilaksanakan secara terpisah atau terpadu dengan pembelajaran berbasis proyek lainnya. Pelaksanaan masing-masing proyek tidak harus sama waktunya. Pemerintah menetapkan tema-tema utama untuk dirumuskan menjadi topik oleh satuan pendidikan sesuai dengan konteks wilayah serta karakteristik peserta didik. Tema-tema utama proyek penguatan profil pelajar Pancasila yang dapat dipilih oleh satuan pendidikan sebagai berikut:
1. Hidup Berkelanjutan
Peserta didik menyadari adanya generasi masa lalu dan masa yang akan datang, dampak aktivitas manusia baik jangka pendek maupun panjang terhadap kelangsungan kehidupan. Peserta didik membangun kesadaran untuk bersikap dan berperilaku ramah lingkungan, mempelajari potensi krisis keberlanjutan yang terjadi di sekitarnya, serta mengembangkan kesiapan untuk menghadapi dan memitigasinya. Mereka memerankan diri sebagai khalifah di bumi yang berkewajikan menjaga kelestarian bumi untuk kehidupan umat manusia dan generasi penerus.
2. Kearifan Lokal
34
Peserta didik memahami keragaman tradisi, budaya dan kearifan lokal yang beragam yang menjadi kekayaan budaya bangsa. Peserta didik membangun rasa ingin tahu melaui pendekatan inkuiri dan eksplorasi budaya dan kearifan lokal serta beperan untuk menjaga kelestariaannya. Peserta didik mempelajari bagaimana dan mengapa masyarakat lokal/daerah berkembang seperti yang ada, mempelajrai konsep dan nilai di balik kesenian dan tradisi lokal kemudian merefleksikan nilai-nilai yang dapat diterapkan dalam kehidupannya.
3. Bhinneka Tunggal Ika
Peserta didik memahami perbedaan suku, ras, agama dan budaya di Indonesia sebagai sebuah keniscayaan. Setiap peserta didik menerima keragaman sebagai kekayaan bangsa. Peserta didik dapat mempromosikan kekayaan budaya bangsa, menumbuhkan rasa saling menghargai dan menghindarkan terjadinya konflik dan kekerasan.
4. Bangunlah Jiwa dan Raganya
Bangunlah jiwanya dan bangunlah badannya merupakan amanat para pendiri bangsa sejak Indonesia merdeka. Peserta didik memahami bahwa pembangunan itu menyangkut aspek jiwa dan raga, jiwa yang sehat ada di tubuh yang sehat. Peserta didik membangun kesadaran dan keterampilan memelihara kesehatan fisik dan mental, baik untuk dirinya maupun orang sekitarnya.
Peserta didik melakukan penelitian dan mendiskusikan masalah masalah terkait kesejahteraan diri (wellbeing), perundungan (bullying), serta berupaya mencari jalan keluarnya. Mereka juga menelaah masalah-masalah yang berkaitan dengan kesehatan dan kesejahteraan fisik dan mental, termasuk isu narkoba, pornografi, dan kesehatan reproduksi. Memahami akan adanya kehidupan akhirat atau yaumul hisab yang terefleksi menjadi manusia yang taat beragama dan taat pada negara.
5. Demokrasi Pancasila
35
Peserta didik memahami demokrasi secara umum dan demokrasi Pacasila yang bersumber dari nilai-nilai luhur sila ke-4.
Mengedepankan musyawarah untuk mufakat untuk mengambil keputusan, keputusan dengan sura terbanyak sebagai pilihan berikutnya. Menerima keputusan yang diambil dari proses yang demokratis dan ikut bertanggung jawab atas keputusan yang telah dibuat. Peserta didik juga memahami makna dan peran individu terhadap kelangsungan demokrasi Pancasila. Melalui pembelajaran demokrasi, peserta didik merefleksikan dan memahami tantangannya dalam konteks yang berbeda, termasuk dalam organisasi madrasah, dalam kehidupan bermasyarakat dan dunia kerja.
6. Berekayasa dan Berteknologi untuk membangun NKRI
Peserta didik melatih untuk memiliki kecakapan bernalar kritis, kreatif dan inovatif untuk mencipta produk berbasis teknologi guna memudahkan aktivitas diri dan berempati untuk masyarakat sekitar berdasrakan karyanya. Peserta didik terus-menerus mengembangkan inovasi untuk menyelesaikan persoalan persoalan masyarakat. Peserta didik menerapkan teknologi dan mensinergikan aspek sosial untuk membangun budaya smart society dalam membangun NKRI dan rasa cinta tanah air.
7. Kewirausahaan
Peserta didik mengidentifikasikan potensi ekonomi lokal dan upaya- upanya untuk mengembangkannya yang berkaitan dengan aspek lingkungan, sosial dan kesejahteraan masyarakat. Melalui Kegiatan kewirausahaan dapat menumbuhkan kreativitas dan jiwa kewirausahaan peserta didik. Peserta didik juga membuka wawasan tentang peluang masa depan, peka akan kebutuhan masyarakat, menjadi problem solver yang terampil, serta siap untuk menjadi tenaga kerja profesional penuh integritas. Tema ini ditujukan untuk jenjang MI, MTs, MA. Karena jenjang MAK sudah memiliki mata pelajaran Proyek Kreatif dan Kewirausahaan menuju pelajar yang
36
berbagi dan bermanfaat bagi orang lain, maka tema ini tidak menjadi pilihan untuk jenjang MAK.
8. Kebekerjaan
Peserta didik menghubungkan berbagai pengetahuan yang telah dipahami dengan pengalaman nyata di keseharian dan dunia kerja.
Peserta didik membangun pemahaman terhadap ketenagakerjaan, peluang kerja, serta kesiapan kerja untuk meningkatkan kapabilitas yang sesuai dengan keahliannya, mengacu pada kebutuhan dunia kerja terkini. Dalam proyeknya, peserta didik juga akan mengasah kesadaran sikap dan perilaku sesuai dengan standar yang dibutuhkan di dunia kerja. Tema ini ditujukan sebagai tema wajib khusus jenjang MAK. Selanjutnya madrasah dapat mengembangkan tema tema utama itu menjadi tema yang sesuai konteks dan kebutuhan belajar peserta didik.
G. Proyek Penguatan Profil Pelajar Rahmatan lil ‘alamiin
Kementerian Agama menetapkan tema-tema utama untuk dirumuskan menjadi tema turunan oleh satuan pendidikan sesuai dengan konteks wilayah serta karakteristik peserta didik. Tema-tema utama proyek penguatan profil pelajar Rahmatan lil ‘Alamiin yang dapat dipilih dari nilai- nilai moderasi beragama oleh satuan pendidikan sebagai berikut:
1. Berkeadaban (ta’addub), yaitu menjunjung tinggi akhlak mulia, karakter, identitas, dan integritas sebagai khairu ummah dalam kehidupan kemanusiaan dan peradaban,
2. Keteladanan (qudwah), yaitu kepeloporan, panutan, inspirator dan tuntunan. Sehingga dapat diartikan sebagai sikap inspiratif menjadi pelopor kebaikan untuk kebaikan bersama.
3. Kewarganegaraan dan kebangsaan (muwaṭanah), yaitu sikap menerima keberadaan agama yang dibuktikan dengan sikap dan perilaku nasionalisme yang harus dimiliki warga negara yang meliputi keharusan mematuhi aturan yang berlaku, mematuhi hukum negara, melestarikan budaya Indonesia.
37
4. Mengambil jalan tengah (tawassuṭ), yaitu pemahaman dan pengamalan yang tidak berlebih-lebihan dalam beragama (ifrāṭ) dan juga tidak mengurangi atau abai terhadap ajaran agama (tafrīṭ).
5. Berimbang (tawāzun), yaitu pemahaman dan pengamalan agama secara seimbang yang meliputi semua aspek kehidupan, baik duniawi maupun ukhrawi, tegas dalam menyatakan prinsip yang dapat membedakan antara penyimpangan (inḥiraf) dan perbedaan (ikhtilāf).
6. Lurus dan tegas (I’tidāl), yaitu menempatkan sesuatu pada tempatnya dan melaksanakan hak dan memenuhi kewajiban secara proporsional.
7. Kesetaraan (musāwah), yaitu persamaan, tidak bersikap diskriminatif pada yang lain disebabkan perbedaan keyakinan, tradisi dan asal usul seseorang.
8. Musyawarah (syūra), yaitu setiap persoalan diselesaikan dengan jalan musyawarah untuk mencapai mufakat dengan prinsip menempatkan kemaslahatan di atas segalanya;
9. Toleransi (tasāmuh), yaitu mengakui dan menghormati perbedaan, baik dalam aspek keagamaan maupun berbagai aspek kehidupan lainnya.
10. Dinamis dan inovatif (tathawwur wa ibtikâr), yaitu selalu terbuka untuk melakukan perubaha perubahan sesuai dengan perkembangan zaman serta menciptakan hal baru untuk kemaslahatan dan kemajuan umat manusia.
H. Analisis Kurikulum Bahasa Arab di MA, Perbandingan dengan MI- MTs, dan Tingkat Kesulitannya
Kurikulum Bahasa Arab di Madrasah Aliyah (MA) menunjukkan perbedaan yang cukup mencolok dibandingkan dengan jenjang Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs), baik dari aspek kedalaman materi, pendekatan pembelajaran, maupun tingkat kesulitan capaian kompetensinya. Kurikulum ini, terlebih dalam konteks Kurikulum Merdeka, menuntut keterlibatan aktif peserta didik dalam proses belajar,
38
penguasaan keterampilan bahasa yang lebih kompleks, serta integrasi kemampuan berpikir kritis, analitis, dan kreatif..
Pada jenjang MI, pembelajaran Bahasa Arab masih bersifat pengenalan dasar terhadap huruf Arab, kosakata sederhana, dan struktur kalimat dasar. Pendekatannya bersifat repetitif dan audio-lingual guna memperkuat daya ingat serta memupuk minat awal terhadap bahasa.
Di MTs, fokus pembelajaran meningkat pada aspek struktur tata bahasa (nahwu dan sharf) secara lebih formal serta pengembangan empat keterampilan bahasa (maharah istima’, kalam, qira’ah, dan kitabah) secara berimbang. Materi mulai mengandung teks naratif dan deskriptif yang relevan dengan kehidupan siswa.
Sedangkan di jenjang MA, kurikulum Bahasa Arab diarahkan pada penguasaan kemampuan analitis terhadap teks, pemahaman struktur bahasa secara lebih kompleks, dan penerapan bahasa dalam konteks akademik dan sosial. Materi mencakup teks-teks otentik bertema ibadah, aktivitas harian, makanan dan minuman, serta wacana keagamaan. Penguasaan terhadap fi’il muta’addi, lazim, jumlah fi’liyah, na’ibul fa’il, dhorof makan dan zaman menjadi bagian penting dalam struktur kurikulum. Pembelajaran juga diarahkan pada pengembangan kemampuan menyusun argumen, berdiskusi, dan menyampaikan gagasan dalam bahasa Arab.
Adapun tingkat kesulitan pembelajaran Bahasa Arab di MA secara umum lebih tinggi dibandingkan jenjang sebelumnya. Hal ini ditandai oleh:
1. Kompleksitas Materi: Siswa dituntut menguasai struktur kalimat kompleks, termasuk perubahan bentuk fi’il, susunan gramatikal khusus, serta penggunaan ungkapan-ungkapan idiomatik.
39
2. Authentic Assessment: Penilaian dilakukan secara holistik dengan menilai aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik melalui proyek, unjuk kerja, diskusi, dan analisis teks.1
3. Latar Belakang Siswa: Perbedaan latar belakang siswa (santri pesantren vs non-pesantren) turut mempengaruhi capaian belajar, khususnya dalam hal kosakata, pengalaman berbahasa, dan daya tangkap terhadap materi abstrak.
4. Media dan Metode: MA dituntut untuk menerapkan pendekatan Problem-Based Learning (PBL), namun kenyataannya banyak guru masih menggunakan metode ceramah. Keterbatasan media seperti tidak adanya laboratorium bahasa juga menjadi kendala tersendiri.
Kurikulum Bahasa Arab dirancang secara spiral dan bertingkat.
Setiap jenjang memiliki peran penting dalam membangun fondasi dan mengembangkan kompetensi berbahasa.
• MI (Kelas 1–6)
Fokus pada pengenalan dasar: alfabet, kosakata umum, dan kalimat sederhana. Ini menjadi landasan awal dalam membangun kepekaan terhadap struktur dan bunyi bahasa.
• MTs (Kelas 7–9)
Menjadi tahap transisi dari pengenalan ke pemahaman. Siswa mulai dikenalkan pada struktur kalimat formal dan bacaan naratif. Tujuannya adalah memperluas kosa kata dan meningkatkan pemahaman teks.
• MA (Kelas 10–12)
1 Wardatul Muthmainnah, Faisol Nasar Bin Madi, dan Abdur Rosid, “Telaah Kurikulum Pada Pembelajaran Bahasa Arab Di Madrasah Aliyah Al-Qodiri Jember,” LINGUA: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya 21, no. 1 (2024): 88.
40
Tahap penguatan dan aplikasi. Di sini siswa dituntut tidak hanya memahami tetapi juga menggunakan Bahasa Arab dalam konteks ilmiah, sosial, dan religius, baik secara lisan maupun tulisan.
Kesinambungan ini memerlukan sinergi kurikulum antar jenjang, termasuk standarisasi materi inti, penguatan keterampilan dasar di MI dan MTs, serta peningkatan kapasitas guru agar pembelajaran tidak terputus di tiap jenjang.
I. Problematika Kurikulum Merdeka di Tingkat Madrasah Aliyah (MA) 1. Kesiapan Guru Masih Rendah
Banyak guru belum siap menerapkan Kurikulum Merdeka karena kurangnya pelatihan dan pemahaman tentang asesmen diagnostik serta penyusunan modul ajar berbasis diferensiasi. Hal ini menyebabkan guru kesulitan beradaptasi dengan pendekatan yang baru dalam
pembelajaran.
2. Keterbatasan Fasilitas dan Sumber Daya
Beberapa MA, khususnya di daerah tertinggal atau yang dikelola swasta, masih kekurangan fasilitas seperti laboratorium, perpustakaan, serta akses internet. Padahal, Kurikulum Merdeka sangat bergantung pada media dan teknologi sebagai sarana mendukung pembelajaran berbasis proyek.2
3. Kesulitan dalam Pelaksanaan Proyek P5 dan P5RA
Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila dan Rahmatan lil ‘Alamin (P5RA) menjadi tantangan tersendiri. Banyak guru belum memahami cara menyusun dan melaksanakan modul projek dengan tema tertentu, seperti “Suara Demokrasi”, yang sesuai dengan konteks madrasah.
4. Belum Optimalnya Peran Guru sebagai Fasilitator
2 Erdiansyah, Joharni, dan Era kartikasari Ariani, “Problematika Madrasah Pilot Project Kurikulum Merdeka Tahun Pelajaran 2022 – 2023 Di Madrasah Aliyah Se- Kabupaten Musi Banyuasin,”
HEUTAGOGIA: Journal of Islamic Education 2, no. 2 (31 Desember 2022): 273–78, https://doi.org/10.14421/hjie.2022.22-10.
41
Guru masih terbiasa dengan peran sebagai pengajar tradisional, sehingga belum menjalankan fungsi fasilitator yang seharusnya mendampingi siswa secara aktif dalam pembelajaran.3
5. Minimnya Partisipasi Aktif Siswa dalam Proyek
Dalam pelaksanaan projek, sebagian siswa kurang berpartisipasi aktif dan cenderung hanya mengikuti hasil kerja kelompok tanpa benar-benar terlibat. Hal ini menghambat pencapaian tujuan pembelajaran berbasis proyek.
J. Problematika Guru dalam Penerapan Kurikulum Merdeka di MA Nasyi’in Sidoarjo:
1. Masalah dalam Penyusunan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran):
Guru mengalami kesulitan karena harus menyesuaikan format baru RPP dengan istilah-istilah baru dalam kurikulum merdeka. Mereka juga terbebani dengan banyak tugas lain seperti menyusun silabus, program tahunan, KKM, dan lainnya. Perubahan istilah seperti "maharah"
menjadi "elemen", "kompetensi dasar" menjadi "capaian pembelajaran", dan "indikator" menjadi "rasionalisasi", membuat guru perlu waktu untuk beradaptasi.4
2. Masalah dalam Menentukan Metode dan Teknik Mengajar:
Guru harus memilih metode yang sesuai dengan materi dan karakter siswa. Metode dalam kurikulum merdeka seperti Project Based Learning dan Active Learning menuntut guru untuk lebih kreatif dan aktif. Namun, banyak guru belum terbiasa dan belum paham secara mendalam tentang metode-metode tersebut, apalagi untuk pelajaran Bahasa Arab yang dianggap cukup sulit dan memiliki karakteristik khusus.
3. Masalah dalam Penilaian (Asesmen):
3 Azharudin Adnan Firdaus, Adika Hary Hermawan, dan Khuriyah Khuriyah, “Implementasi Kurikulum Merdeka Pada Siswa Madrasah Aliyah Darul Ihsan Muhammadiyah Sragen,”
Innovative: Journal Of Social Science Research 4, no. 3 (4 Juni 2024): 9556–9664,
4