• Tidak ada hasil yang ditemukan

Model Kurikulum Pendidikan Bahasa Arab di IAIN Kediri

N/A
N/A
nuraini iqomi

Academic year: 2025

Membagikan "Model Kurikulum Pendidikan Bahasa Arab di IAIN Kediri"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

i

MODEL KURIKULUM

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah

“pengembangan kurikulum pendidikan bahasa arab”

Dosen Pengampu:

Dr.Yuyun Zunairoh,M.Pd

Disusun oleh:

Nuril Azriyani (23203001) Linda Septiani (23203003)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA ARAB FAKULTAS TARBIYAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) KEDIRI

TAHUN 2025/2026

(2)

ii

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT atas rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami bisa menyelesaikan penulisan makalah yang berjudul “Ketahanan Politik dan Hukum Masa Zaman Pertengahan Masa Keemasan Turki Usmani”. Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Agung Muhammad SAW.

Semoga kita, orang tua kita, dosen-dosen dan orang terdekat kita mendapat syafaat beliau di Yaumul Mahsyar kelak. Adapun tujuan utama penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah pengembangan kurikulum pendidikan bahasa arab, dan judul makalah ini adalah “model kurikulum”. Kami ucapkan terima kasih kepada Ustadzah Dr.Yuyun Zunairoh,M.Pd selaku dosen pengampu, dan kepada semua pihak yang telah terlibat dalam penulisan makalah ini. Kami menyadari bahwa penulisan makalah ini masih banyak kekurangannya.

Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun, dan semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis dan pembaca.

Kediri, 3 maret 2025

Penulis

(3)

iii DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... iii

BAB I ... 1

PENDAHULUAN ... 1

LATAR BELAKANG ... 1

RUMUSAN MASALAH ... 1

TUJUAN PEMBAHASAN ... 1

BAB II ... 2

PEMBAHASAN ... 2

Model Kurikulum Subjek Akademis ... 2

Model Kurikulum Humanistik ... 3

Model rekonstruksi sosial ... 4

Model Kurikulum Berbasis Kompetensi ... 6

BAB III ... 8

KESIMPULAN ... 8

(4)
(5)

1 BAB I PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG

Aspek dari kurikulum mencakup program, silabus, dan kerangka mata pelajaran. Dengan demikian, kurikulum pendidikan yang mengarahkan Australia untuk sekolah dasar, menengah, dan perguruan tinggi telah menjadi tolok ukur dalam pengembangan kurikulum. Kurikulum mencakup semua hasil belajar yang diharapkan dan menjelaskan tujuan, alasan, dan struktur kursus dalam disiplin tertentu. Dampak sosial, budaya, ekonomi, dan teknologi dalam konteks

pembelajaran internasional di abad ke-21 mengharuskan adanya kurikulum global yang diinvestasikan dalam masyarakat kontemporer. Oleh karena itu, model kurikulum yang mampu mengakomodasi dinamika global ini harus mendampingi kontekstualisasi ini.

Satu model kurikulum tidak dapat lagi secara efektif memenuhi setiap kebutuhan modern yang mungkin dimiliki seorang siswa. Satu arketipe kurikulum tidak dapat berguna dalam menyediakan setiap kriteria yang diperlukan untuk mendorong pencapaian keseluruhan tujuan pembelajaran. Pendekatan yang terfokus untuk pengembangan desain kurikulum dan evaluasi di mana indeks kepuasan siswa ditetapkan sebagai fungsi paling sesuai untuk masyarakat

kontemporer. Oleh karena itu, ketersediaan sumber daya dan fasilitas berkualitas untuk praktik menjadikannya sebagai target yang layak untuk investasi.

RUMUSAN MASALAH

1. Apa yang disebut sebagai model kurikulum?

2. Jenis-jenis model kurikulum apa yang terintegrasi ke dalam sistem pendidikan?

3. Apa saja kelebihan dan kekurangan dari setiap model kurikulum?

TUJUAN PEMBAHASAN

1. Menjelaskan konsep dasar model kurikulum dalam pendidikan.

2. Mengidentifikasi berbagai jenis model kurikulum.

3. Menganalisis kelebihan dan kekurangan dari masing-masing model kurikulum.

(6)

2 BAB II PEMBAHASAN A. Model Kurikulum Subjek Akademis

Di dalam khazanah bidang ilmu kurikulum, secara konseptual minimal dibedakan empat macam model kurikulum, yaitu

modelkurikulum subjek akademik, kurikulum humanistik, kurikulum rekonstruksi sosial dan kurikulum teknologis atau kurikulum berbasis kompetensi.

Kurikulum subjek akademis merupakan salah satu model

kurikulum tertua yang masih banyak diterapkan hingga kini. Kepraktisan, kemudahan penyusunan, serta kemudahan integrasi dengan tipe kurikulum lainnya menjadikan kurikulum ini tetap relevan. Berakar dari pendidikan klasik, seperti perenialisme dan esensialisme, kurikulum ini lebih fokus pada isi pendidikan yang berorientasi pada masa lalu. Dalam kerangka kurikulum ini, keberhasilan belajar diukur dari seberapa baik seseorang menguasai keseluruhan atau sebagian besar materi yang diajarkan oleh guru.

Materi pendidikan disusun sesuai dengan disiplin ilmu tertentu.

Oleh karena itu, para pengembang kurikulum tidak perlu menciptakan bahan ajar dari awal; mereka cukup mengorganisasi secara sistematis isi materi yang telah dikembangkan oleh para ahli di bidang masing-masing, sesuai dengan tujuan pendidikan dan tahap perkembangan siswa yang akan mempelajarinya. Dengan prioritas yang tinggi pada pengetahuan, pendekatan pendidikan dalam kurikulum ini cenderung bersifat intelektual.

Kurikulum ini lebih mengutamakan isi pendidikan. Belajar adalah berusaha menguasai ilmu sebanyak-banyaknya. Orang yang berhasil dalam belajar adalah orang yang menguasai seluruh atau sebagian besar isi pendidikan yang diberikan atau disiapkan oleh guru.1

Kurikulum subjek akademis memiliki akar yang kuat dalam pendidikan klasik, yang lebih berfokus pada masa lalu. Semua ilmu pengetahuan dan nilai-nilai yang ada saat ini telah digali dari pemikiran para cendekiawan terdahulu. Kurikulum ini pada dasarnya menitik beratkan pada isi pendidikan, di mana proses belajar diarahkan untuk menguasai berbagai ilmu pengetahuan sebanyak mungkin.Model

1 Lias Hasibuan. Kurikulum dan Pemikiran Pendidikan.., hlm 27.

(7)

3

kurikulum ini merupakan yang tertua dan telah ada sejak berdirinya sekolah-sekolah pertama, dengan struktur yang serupa.

Dalam konteks ini, peran guru sebagai penyampai informasi sangatlah signifikan. Oleh karena itu, seorang guru harus memiliki penguasaan yang mendalam terhadap bidang studi yang diajarkannya.

Selain itu, guru juga berfungsi sebagai teladan bagi siswa-siswanya. Apa yang disampaikan dan cara penyampaiannya harus mencerminkan kepribadian guru itu sendiri.

Namun, kurikulum subjek akademis tidak hanya terbatas pada materi pelajaran semata. Seiring waktu, kurikulum ini mengalami

perkembangan, tidak hanya dalam hal isi pelajaran, tetapi juga dalam cara proses belajar dilaksanakan. Ada tiga pendekatan dalam pengembangan Kurikulum Subjek Akademis yang perlu diperhatikan:

Melanjutkan pendekatan struktur pengetahuan. Dalam pendekatan ini, siswa tidak hanya diharapkan mengingat materi pelajaran, tetapi juga belajar bagaimana cara memperoleh informasi tersebut serta mengujinya berdasarkan fakta yang ada.

Studi yang bersifat integratif mengedepankan pendekatan di mana batasan antar mata pelajaran dihilangkan. Semua mata pelajaran

dikembangkan berdasarkan fenomena alam dan masalah yang ada di sekitar kita. Konsep ini kemudian dirumuskan menjadi model kurikulum terintegrasi.

Materi yang diajarkan tetap fokus pada keterampilan menulis, membaca, dan pemecahan masalah matematis. Sementara itu, pelajaran seperti ilmu alam dan ilmu sosial dipelajari tanpa mengaitkan dengan situasi dan masalah yang relevan dalam kehidupan sehari-hari.

B. Model Kurikulum Humanistik

Kurikulum humanistik dikembangkan oleh para ahli pendidikan yang berfokus pada pendekatan humanistik. Dalam aliran ini, siswa ditempatkan sebagai subjek utama dalam setiap kegiatan pendidikan.

Kurikulum ini menekankan pentingnya hubungan emosional yang baik antara guru dan murid, di mana guru harus mampu menyampaikan materi dengan cara yang menarik serta menciptakan suasana yang mendukung proses belajar. Pendekatan ini beranggapan bahwa setiap siswa memiliki potensi, kemampuan, dan kekuatan untuk berkembang.

Oleh karena itu, pendidikan tidak hanya diarahkan pada pengembangan intelektual, tetapi juga menekankan aspek sosial dan afektif, seperti emosi, sikap, dan nilai-nilai. Kurikulum ini terus berevolusi dan semakin menekankan pada perkembangan intelektual, di mana peran guru menjadi sangat penting dalam mengarahkan siswa menuju

pencapaian tersebut. Dalam situasi seperti ini, guru tidak hanya harus

(8)

4

mampu menciptakan suasana belajar yang ramah dan menyenangkan, tetapi mereka juga harus mampu menjadi sumber belajar untuk memperlancar proses belajar di kelas.

Kurikulum humanistik menekankan integrasi yakni integrasi dari perilaku yang mencakup aspek kognitif dan emosional serta tindakan.

Proses lebih penting daripada hasil dalam evaluasi kurikulum ini.

meyakini bahwa anak-anak tumbuh menjadi individu yang memiliki potensi, mandiri, dan terbuka Dalam konteks ini, guru diharapkan dapat menciptakan suasana belajar yang hangat dan menyenangkan.

Selain itu, guru juga berperan sebagai sumber pembelajaran yang efektif untuk memperlancar proses belajar di dalam kelas.Kurikulum humanistik, sesuai dengan konsep yang diusung, menekankan pentingnya integrasi, yang berarti menggabungkan berbagai aspek perilaku, tidak hanya yang bersifat intelektual, tetapi juga emosional dan tindakan. Dalam evaluasi kurikulum ini, perhatian lebih difokuskan pada proses daripada hasil akhir. Hal ini bertujuan agar anak-anak dapat tumbuh menjadi individu yang mampu mengembangkan potensi diri, mandiri, dan terbuka terhadap berbagai kemungkinan.

Bagi para pendukung kurikulum humanistik, tujuan pendidikan adalah suatu proses atas diri individu yang dinamis yang berkaitan dengan pemikiran, integritas, dan otonominya.Dalam kurikulum humanistik, guru diharapkan dapat membangun hubungan emosional yang baik dengan peserta didiknya, untuk perkembangan individu. Dalam pendekatan humanistik, peserta didik diajar untuk membedakan hasil berdasarkan maknanya. Guru seharusnya dapat menyediakan kegiatan yang memberikan alternatif pengalaman belajar bagi peserta didik.2

Bertolak belakang dengn asumsi tersebut, kurikulum Humanisme menekankan pentingnya pendidikan yang integratif, yaitu menggabungkan aspek afektif (emosi, sikap, dan nilai) dengan aspek kognitif (pengetahuan dan ketrampilan intelektual). Dengan kata lain, kurikulum ini

mengintegrasikan elemen emosional ke dalam kurikulum yang biasanya berfokus pada mata pelajaran.

C. Model rekonstruksi sosial

Konsep kurikulum ini menyatakan bahwa pendidikan bukanlah suatu usaha yang dilakukan secara individual, melainkan merupakan proses bersama yang melibatkan interaksi dan kerja sama. Interaksi ini dapat terjadi antara siswa dan guru, antar siswa, serta antara siswa dengan masyarakat di sekitarnya. Melalui kolaborasi semacam ini, siswa berupaya untuk memecahkan berbagai masalah yang dihadapi oleh masyarakat

2 Oemar Hamalik. Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum..., hlm. 144.

(9)

5

dengan tujuan menjadikannya lebih baik. Dalam pandangan kurikulum rekonstruksi sosial ini, pendidikan memiliki peran penting dalam mempengaruhi, mengubah, dan memberikan warna baru dalam masyarakat dan kebudayaan.3

Kurikulum rekonstruksi sosial memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan dengan model kurikulum lainnya. Kurikulum ini lebih fokus pada problema yang dihadapi dalam masyarakat. Sumber dari kurikulum ini berasal dari aliran pendidikan interaksional yang menekankan bahwa pendidikan bukanlah sekadar usaha individu, melainkan sebuah kegiatan kolektif yang melibatkan interaksi dan kerja sama. Interaksi ini tidak hanya terjadi antara siswa dan guru, tetapi juga melibatkan siswa dengan teman-teman sebayanya, serta dengan orang-orang di lingkungan mereka dan berbagai sumber belajar lainnya.

Kurikulum rekonstruksi sosial memahami bahwa proses

pembelajaran tidak hanya berlangsung secara individu, melainkan juga melalui kerja sama dan interaksi dengan lingkungan sekitar. Tujuan utama dari kurikulum ini adalah untuk menghadapkan siswa pada berbagai tantangan yang ada di masyarakat. Hambatan-hambatan dan masalah- masalah yang dihadapi oleh masyarakat adalah tantangan yang perlu kita cermati. Tantangan-tantangan ini merupakan area yang menjadi fokus dalam studi sosial dan harus dihubungkan dengan berbagai bidang lain, seperti ekonomi, sosiologi, psikologi, estetika, serta pengetahuan alam dan matematika.

Banyak prinsip kelompok ini sejalan dengan cita-cita tertinggi, contohnya seperti perlindungan hak asasi kaum minoritas, pengembangan kekayaan intelektual masyarakat, serta kemampuan untuk menentukan nasib sendiri sesuai dengan keinginan mereka. Percepatan kurikulum rekonstruksi sosial dapat tercapai ketika orang tua dan masyarakat turut terlibat dalam proses pengajaran dan berperan aktif dalam pelayanan sosial.

Sebaliknya, kurikulum ini akan menghadapi tantangan dalam pelaksanaannya di negara-negara yang memiliki konstelasi politik yang cenderung status quo. Proses pembelajaran dalam kurikulum rekonstruksi sosial perlu memenuhi tiga kriteria utama, yaitu harus nyata, memerlukan tindakan konkret, dan mampu mengajarkan nilai-nilai yang penting.4

Kurikulum ini dirancang untuk membangun kepekaan peserta didik terhadap masalah-masalah sosial yang ada dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui diskusi bersama guru dan teman sebaya, siswa diharapkan dapat memperluas pemahaman, memperoleh pengalaman, serta mengembangkan

3 Nana SyaodihSukmadinata, PengembanganKurikulumTeoridanPraktek(Bandung:

RemajaRosdakarya, 2000),hlm. 91-95.

4 Oemar Hamalik. Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum..., hlm. 146.

(10)

6

sikap dan keterampilan baru. Dalam setiap dialog, interaksi yang berlangsung akan mendorong kerja kelompok, yang bertujuan untuk memupuk kerjasama di antara siswa.

D. Model Kurikulum Berbasis Kompetensi

Model Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), yang juga dikenal sebagai Kurikulum Teknologis, dikembangkan berdasarkan konsep Teknologi Pendidikan. Kurikulum ini fokus pada penyampaian isi atau materi yang berkaitan dengan kompetensi, kemampuan, kecakapan, dan keterampilan kerja.5

Perspektif teknologi dalam kurikulum menekankan pentingnya efektivitas program, metode, dan materi untuk mencapai manfaat dan keberhasilan yang diinginkan. Teknologi memengaruhi kurikulum melalui dua aspek utama: aplikasi dan teori.

Aplikasi teknologi mencakup rencana penggunaan berbagai alat dan media, serta tahap-tahap dasar dalam pengajaran. Sementara itu, sebagai suatu teori, teknologi berperan dalam pengembangan dan evaluasi materi kurikulum dan instruksional.

Dalam hal ini, terdapat dua pandangan. Pandangan pertama menyatakan bahwa pemanfaatan teknologi lebih fokus pada cara mengajarkannya, bukan pada materi yang diajarkan. Sedangkan pandangan kedua menekankan bahwa teknologi diarahkan untuk penerapan tahap-tahap instruksional.6

Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) mencakup pemilihan kompetensi yang relevan, spesifikasi indikator evaluasi untuk mengukur keberhasilan pencapaian kompetensi, serta pengembangan sistem

pembelajaran yang sesuai. Dalam KBK, terdapat sejumlah kompetensi yang harus dikuasai oleh peserta didik, dan penilaian dilakukan

berdasarkan standar tertentu yang menunjukkan demonstrasi kompetensi tersebut oleh peserta didik. Proses pembelajaran dalam KBK lebih menekankan kegiatan individu untuk menguasai kompetensi yang

diperlukan. Peserta didik dapat dinilai kapan saja saat mereka merasa siap, sehingga mereka dapat melanjutkan pembelajaran sesuai dengan kecepatan dan kemampuan masing-masing.

Menurut Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) dalam Mulyasa (2003: 43), kurikulum berbasis kompetensi memiliki beberapa karakteristik sebagai berikut:

5 Nana Syaodih Sukmadinata dan Erliana Syaodih. Kurikulum dan Pembelajaran Kompetensi..., hlm. 15.

6 Oemar Hamalik. Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum..., hlm. 147.

(11)

7

a. Fokus pada pencapaian kompetensi siswa, baik secara individual maupun klasikal.

b. Berorientasi pada hasil belajar yang beragam.

c. Menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi dalam penyampaian pembelajaran.

d. Sumber belajar tidak hanya berasal dari guru, tetapi juga dari berbagai sumber lain yang memenuhi unsur edukasi.

e. Penilaian lebih menekankan pada proses dan hasil dalam usaha penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi.

Dalam proses pembelajaran dan pencapaian tujuan pendidikan, guru di sekolah diharapkan dapat mencari dan mengembangkan bakat yang dimiliki setiap siswa dengan menggunakan metode yang sesuai dengan karakteristik masing-masing siswa. Dengan demikian, siswa tidak hanya menguasai kompetensi pengetahuan, tetapi juga kompetensi

profesional yang disesuaikan dengan bakat mereka.

Dengan demikian, kurikulum berbasis kompetensi bertujuan untuk menciptakan lulusan yang kompeten dan cerdas, yang mampu membangun identitas budaya dan bangsa. Kurikulum ini memberikan pondasi

pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman belajar yang membangun integritas sosial, serta membudayakan dan mewujudkan karakter nasional.

(12)

8 BAB III KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan tentang model kurikulum, dapat disimpulkan bahwa kurikulum memiliki peran yang sangat penting dalam sistem pendidikan, berfungsi sebagai pedoman dalam proses pembelajaran. Model kurikulum dirancang untuk memenuhi kebutuhan peserta didik dan menyesuaikan dengan perkembangan zaman serta tuntutan masyarakat. Terdapat berbagai jenis model kurikulum yang dapat diterapkan, seperti kurikulum subjektif, objektif,

humanistik, dan rekonstruksi sosial. Masing-masing model memiliki karakteristik serta pendekatan yang berbeda dalam mengembangkan materi pembelajaran, metode pengajaran, dan evaluasi hasil belajar. Dalam implementasinya, pemilihan model kurikulum harus mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk tujuan pendidikan, kebutuhan peserta didik, kesiapan tenaga pendidik, serta kondisi sosial dan budaya yang ada. Keberhasilan sebuah kurikulum sangat bergantung pada perencanaan yang matang, keterlibatan semua pihak, serta kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan yang terjadi. Dengan demikian, pengembangan dan penerapan model kurikulum yang efektif akan berkontribusi pada terciptanya sistem pendidikan yang lebih berkualitas, relevan, serta mampu menghasilkan lulusan yang kompeten sesuai dengan tuntutan dunia kerja dan kehidupan sosial.

(13)

9

DAFTAR PUSTAKA

Hamalik, H. Oemar. "Dasar-dasar pengembangan kurikulum." (2019).

Hasibuan, Lias. "Kurikulum dan pemikiran pendidikan." (2018).

Hidayani, Masrifah. "Model pengembangan kurikulum." At-Ta'lim: Media Informasi Pendidikan Islam 16.2 (2018): 375-394.

Sukmadinata, Nana Syaodih, and Erliana Syaodih. "Kurikulum dan pembelajaran kompetensi." Bandung: PT Refika Aditama (2012).

Taufiqqurrahman, Mohammad, and Muhammad Ikrom Karyodiputro. "Model Dan Prinsip Pengembangan Kurikulum Bahasa Arab." Islamic Akademika: Jurnal Pendidikan

& Keislaman 6 (1907).

Referensi

Dokumen terkait

Pengembangan komponen kurikulum pada pembelajaran bahasa Arab merupakan serangkaian proses kegiatan menghasilkan kurikulum, proses yang mengaitkan satu komponen dengan

Berkaitan dengan pendekatan potensi dalam pengembangan kurikulum pembelajaran bahasa Arab, dalam makalah ini dibahas sebuah teori yang menyebutkan bahwa manusia telah

dalam upaya peningkatan pemahaman teks bacaan bahasa arab pada mata kuliah Bahasa Arab I Tahun Akademik 2015/2016 Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam Kelas

Pembelajaran bahasa Arab bagi mahasiswa non PBA di IAIN Metro terdiri dari mata kuliah bahasa Arab 1 yang diprogramkan pada semester ganjil dan bahasa Arab 2 yang

153 | Pengembangan Kurikulum Bahasa Arab Pendekatan interdisipliner merupakan pendekatan pembelajaran yang menghubungkan tujuan isi dan kegiatan belajar dari berbagai bidang studi

Dokumen ini berisi tentang landasan pengembangan kurikulum bahasa

Penutup Kurikulum bahasa Arab yang sedang kita implementasikan saat ini, memiliki ruang gerak pengembangan sesuai dengan visi, misi, tujuan, dan kebutuhan lembaga dimana bahasa Arab