• Tidak ada hasil yang ditemukan

Landasan Pengembangan Kurikulum Bahasa Arab

N/A
N/A
Hana Fauziah

Academic year: 2024

Membagikan "Landasan Pengembangan Kurikulum Bahasa Arab"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

LANDASAN PENGEMBANGAN KURIKULUM BAHASA ARAB

Disusun untuk memenuhi tugas Desain Pengembangan Kurikulum Al-ustadzah Halimah As Sa’diah, M.Pdi.

Disusun oleh:

Amelia Fadila Azkia Ni’matul Maula

Faustina Khairunnisa Nur Salamah Thohiroh

Pendidikan Bahasa Arab Fakultas Tarbiyah

Universitas Darussalam Gontor

1444/2023

(2)

DAFTAR ISI

BAB 1...3

PENDAHULUAN...3

Latar Belakang Masalah...3

Rumusan Masalah...3

BAB 2...4

PEMBAHASAN...4

A. Pengertian Kurikulum Dan Pengembangan Kurikulum...4

1. Pengertian Kurikulum...4

2. Pengertian Pengembangan kurikulum...7

B. Landasan Pengembangan Kurikulum...8

a. Landasan Filosofis...8

b. Landasan Psikologi...10

c. Landasan Sosial-Budaya...11

BAB 3...13

PENUTUP...13

A. Kesimpulan...13

(3)

BAB 1

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Kemajuan suatu negara salah satunya ditentukan oleh pendidikan bangsanya.

Dibalik pendidikan yang berkualitas ada kurikulum yang berperan penting di dalamnya. Kurikulum sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan merupakan komponen sekaligus penyangga sistem pendidikan. Kurikulum ikut berkembang menyesuaikan dengan kebutuhan pendidikan masa kini. Agar kurikulum berjalan sesuai harapan, kurikulum harus memiliki landasan yang kuat. Hal ini dimaksudkan agar saat mengembangkan kurikulum, acuan dasar sudah dimiliki sehingga kurikulum dapat diarahkan dengan lebih baik. Perkembangan kurikulum beberapa tahun terakhir ini menjadi sorotan utama dalam bidang pendidikan. Oleh karena itu, penulisan topik mengenai landasan pengembangan kurikulum ini dirasa perlu untuk sedikit banyaknya memaparkan tentang kurikulum dan landasan yang mendasarinya.

Rumusan Masalah

Untuk memudahkan penulis dalam mengkaji bahasan topik landasan pengembangan kurikulum, maka penulis menyajikan beberapa rumusan masalah sebagai berikut.

1. apa yang dimaksud dengan kurikulum dan pengembangan kurikulum?

2. apa yang menjadi landasan kurikulum secara umum?

3. apa yang menjadi landasan pengembangan kurikulum bahasa arab?

(4)

BAB 2 PEMBAHASAN

A. Pengertian Kurikulum Dan Pengembangan Kurikulum

1. Pengertian Kurikulum

Secara etimologis, istilah kurikulum (curriculum) berasal dari bahasa Yunani, yaitu curir yang artinya “pelari” dan curere yang berarti “tempat berpacu”. Istilah kurikulum berasal dari dunia olahraga, terutama pada bidang atletik pada zaman Romawi Kuno di Yunani. Dalam bahasa Prancis, istilah kurikulum berasal dari kata courier yang berarti berlari (to run)1. Dalam bahasa Arab, kurikulum dikenal dengan istilah al-manhaj yang berarti jalan terang yang dilalui manusia dalam bidang kehidupannya. Kurikulum diartikan sebagai suatu jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelari dari garis start sampai dengan garis finish untuk memperoleh medali atau. Dalam dunia pendidikan, jarak tersebut diubah menjadi program pelajaran yang harus ditempuh peserta didik selama kurun waktu tertentu, seperti SD/MI (enam tahun), SMP/MTs (tiga tahun), SMA/SMK/MA (tiga tahun) dan seterusnya.

Kurikulum dalam UU No 20 tahun 2003 pasal 1 ayat (9) didefinisikan sebagai seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Menurut Wiles &

Bondi istilah kurikulum muncul pertama kali di Skotlandia sekitar tahun 18292. Namun secara resmi istilah kurikulum ini baru dipakai hampir satu abad kemudian di Amerika Serikat. Sedangkan menurut Ali, berkembangnya definisi kurikulum sekarang ini dimulai semenjak dipublikasikannya buku The Curriculum yang ditulis oleh Franklin Bobbit pada tahun 1918.

1 Zainal Arifin, Konsep dan Model Pengembangan Kurikulum, (Bandung:Remaja Rosdakarya,2011), h.1

2 Mohammad Ansyar, Kurikulum: Hakikat, Fondasi, De-sain & Pengembangan, (Jakarta:Kencana Pre-nadameia Group,2015),h.24.

(5)

Adapun definisi kurikulum menurut para ahli kurikulum dapat dilihat penjelasannya berikut ini:

a. Menurut J. Galen Saylor dan William M. Alexander dalam buku Curriculum Planning for Better Teaching & Learning3, kurikulum merupakan segala usaha sekolah untuk mempengaruhi anak belajar, baik yang terjadi didalam maupun diluar sekolah. Kegiatan ekstrakulikuler juga termasuk kedalam kurikulum.

b. Harold B. Albertycs dalam bukunya Reorganizing the High-School Curriculum4 ,memandang kurikulum sebagai segala aktivitas yang disajikan bagi para siswa oleh sekolah. Kurikulum tidak terbatas pada mata pelajaran, akan tetapi meliputi kegiatan-kegiatan lain didalam dan diluar kelas yang berada dibawah tanggung jawab sekolah

c. B. Othanel Smith W.O. Stanley dan J. Harlan Shores memandang kurikulum sebagai sejumlah pengalaman yang potensial yang dapat diberikan kepada anak dan pemuda agar mereka dapat berpikir dan berbuat sesuai dengan masyarakatnya

d. William B. Ragan dalam buku Modern Elementary Curriculum5, menjelaskan arti kurikulum secara luas, meliputi seluruh program dan kehidupan didalam sekolah, yakni segala pengalaman anak dibawah tanggung jawab sekolah. Kurikulum menurutnya tidak hanya meliputi bahan pelajaran, tetapi meliputi seluruh kehidupan dalam kelas.

Sehingga hubungan sosial antara guru dan murid, metode mengajar, cara mengevaluasi termasuk kedalam kurikulum

e. J. Loyld Trump dan Delmas F. Miller dalam buku Secondary School Improvemant6, menjelaskan bahwa kurikulum juga meliputi metode mengajar dan belajar, cara mengevaluasi murid dan seluruh program,

3 J Galen Saylor dan William M. Alexander, Curriculum Planning For Better Teaching and Learning, (Tokyo : Holt-Saunders, 1956)

4

Harold B, Alberty, Elsie J, Reorganizing the high school curriculum, (USA:Macmilan,1965)

5 William B. Ragan, Modern Elementary Curriculum, (New York:Holt Rinerat dan Wiston, 1966)

6 J. Lioyd Trump dan Delmas F. Miller, Secondary School Curriculum Improvement, (USE,ed,1973)

(6)

perubahan tenaga mengajar, bimbingan dan penyuluhan, supervisi dan administrasi dan hal-hal struktural mengenai waktu, jumlah ruangan serta kemungkinan memilih mata pelajaran

Sedangkan menurut pakar Pendidikan kurikulum sebagai berikut :

a. Saylor & Alexander merumuskan kurikulum sebagai keseluruhan usaha yang dilakukan lembaga pendidikan atau sekolah untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya

b. Smith mengartikan kurikulum sebagai seperangkat usaha dan upaya pendidikan yang bertujuan agar anak didik memiliki kemampuan hidup bermasyarakat

c. Menurut Asy-Syaibani kurikulum adalah sejumlah pengalaman pendidikan, kebudayaan, sosial, olahraga dan kesenian yang disediakan oleh sekolah bagi murid-murid didalam dan diluar sekolah untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya sesuai dengan tujuan Pendidikan

d. Ahmad Tafsir menyatakan bahwa suatu kurikulum harus mengandung berbagai komponen, seperti isi, metode, proses belajar mengajar dan evaluasi. Komponen-komponen tersebut saling berkaitan dan merupakan bagian yang integral

Selain definisi mengenai kurikulum yang telah disebutkan diatas, ada beberapa definisi kurikulum, dengan menggambarkannya kedalam bentuk rumus dan symbol, sebagai berikut :

a. = jarak yang harus ditempuh oleh pelari dari garis start sampai finish b. ∑ MP + PD + I = sejumlah mata pelajaran (MP) yang harus ditempuh

oleh peserta didik (PD) untuk memperoleh ijazah

c. ∑ K + P + S/LS/TJS + TP = sejumlah kegiatan (K) dan pengalaman (P), baik yang terjadi di sekolah (S) maupun luar sekolah (LS) atas tanggung jawab sekolah untuk mencapai tujuan pendidikan (TP) d. ∑ K + P + SS + PD + S/LS/TJS + TP = sejumlah kegiatan (K),

pengalaman (P) dan segala sesuatu (SS) yang berpengaruh terhadap pembentukan pribadi peserta didik (PD), baik di sekolah maupun

(7)

diluar sekolah atas tanggung jawab sekolah (S/LS/TJS) untuk mencapai tujuan pendidikan (TP).

2. Pengertian Pengembangan kurikulum

Pengembangan kurikulum selalu dilakukan oleh dunia pendidikan sesuai dengan tuntutan dari perkembangan teknologi dan dinamika penduduk yang dilaksanakan oleh suatu lembaga pendidikan. Pengembangan kurikulum biasa dilakukan oleh Pemerintah secara umum, dan oleh suatu sekolah yang ingin untuk meningkatkan mutu pada lembaga pendidikan itu sendiri. Adapun pengertian kurikulum memiliki bermacam-macam definisi, yaitu :

a. Menurut Suparlan Pengembangan kurikulum adalah perencanaan dan penyusunan kurikulum oleh pengembang (curriculum developer) dan kegiatan yang dilakukan agar yang dihasilkan dapat menjadi bahan ajar dan acuan yang digunakan untuk tujuan pendidikan7

b. Nana Syaodih Sukmadinata menyebutkan “Pengembangan kurikulum merupakan perencana, pelaksana, penilai dan pengembang kurikulum sebenarnya. Suatu kurikulum diharapkan memberikan landasan, isi, dan menjadi pedoman bagi pengembang kemampuan siswa secara optimal sesuai dengan tuntutan dan tantangan perkembangan masyarakat8

c. menurut Oermar Hamalik yang dikutip Uruh & Uruh mengembangkan defenisi pengembangan kurikulum yakni: “ curriculum development : problems, process, and progress is aimed at contemporary circumatances and future projections9. “ sesuai dengan pengertian di atas, pengembangan kurikulum tidak hanya merupakan berbagai abstraksi yang seringkali mendominasi penulisan kurikulum, akan tetapi mempersiapkan berbagai contoh dan alternatif untuk tindakan yang merupakan inspirasi dari beberapa ide dan penyesuaian-penyesuaian lain yang dianggap penting”

Dari pernyataan-pernyataan di atas dapat diambil kesimpulan, bahwa pengembangan kurikulum itu harus sesuai dengan konsep yang akan ditempuh

7 Suparlan, Tanya Jawab Pengembangan Kurukulum dan Materi Pembelajaran, (Jakarta, PT.Bumi Aksara,2011), h.79.

8 Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek. (Jakarta, PT Rosda Karya Remaja,2011), h. 150.

9 Oemar Hamalik, Kurikulum dan pembelajaran, (Jakarta: PT Bumi Aksara,2010), h.90.

(8)

atau dipilih oleh suatu lembaga agar pengembangan kurikulumnya dapat terarah dan terukur.

(9)

B. Landasan Pengembangan Kurikulum a. Landasan Filosofis

1. Pengertian Filsafat

Kata filsafat berasal dari bahasa Yunani kuno “Philosophia” (philore = cinta, senang suka dan Sophia = Kebaikan, kebijaksanaan atau kebenaran). Menurut asal katanya, filsafat berarti cinta akan kebenaran. Orang yang suka berfilsafat adalah orang yang senang dengan kebenaran. Orang yang ahli dalam berfilsafat disebut Philosopher (Inggris), Failasuf (Arab), dan Filsuf (Indonesia).

Dengan demikian, filsuf adalah orang yang cinta akan kebenaran, berusaha untuk mendapatkanya, memusatkan perhatian padanya, dan menciptakan sikap positif terhadapnya. Filsuf juga mencari hakikat sesuatu, berusaha menghubungkan antara sebab dan akibat serta melakukan penafsiran atas pengalaman-pengalaman manusia. Berfikir filsafat berarti berfikir secara menyeluruh, sistematis, logis, dan radikal.10

Secara operasional filsafat mengandung dua pengertian, yakni sebagai proses (berfilsafat) dan sebagai hasil berfilsafat (sistem teori dan pemikiran). Dalam kaitanya dengan definisi filsafat sebagai proses, socrates mengemukakan bahwa filsafat adalah cara berfikir secara radikal, menyeluruh, dan mendalam atau cara berpikir yang mengupas sesuatu sedalam-dalamnya.

Filsafat dibutuhkan manusia untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang timbul dalam berbagai bidang kehidupan manusia. Jawaban itu merupakan hasil pemikiran yang menyeluruh, sistematis, logis, dan radikal. Jawaban itu juga digunakan untuk mengatasi masalah-masalah kehidupan manusia, termasuk bidang pendidikan.

Adapun filsafat yang khusus digunakan atau diterapkan dalam bidang pendidikan disebut filsafat pendidikan menurut Jhon Dewey, pendidikan adalah suatu proses pembentukan kemampuan dasar yang fundamental, baik yang menyangkut daya pikir (intelektual) maupun daya perasaan (emosional) menuju kearah tabiat manusia.11

10 Zainal Arifin, Konsep dan Model Pengembangan Kurikulum (Cet.4;Bandung : Remaj Rosda Karya.2014), hlm.47.

11Arifin, Konsep dan Model Prngembngan Kurikulum,hlm.48

(10)

Dengan demikian objek pendidikan yang paling utama adalah manusia. Dan objek utama dari filsafat juga adalah manusia. Hasil dari persamaan objek ini kemudian menghasilkan suatu pemikiran dan disiplin ilmu baru yaitu Filsafat Pendidikan. Filsafat pendidikan merupakan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan dalam bidang pendidikan.

Filsafat diartikan juga sebagai teori umum pendidikan dan landasan dari semua pemikiran tantang pendidikan. Jika dikaitkan dengan persoalan pendidikan secara luas, maka filsafat pendidikan merupakan arah dan pedoman bagi tercapainya pelaksanaan dan tujuan pendidikan.

Ada beberapa bentuk filsafat yang punya hubungan lebih erat dengan pendidikan yaitu:

- Metafisika : yaitu filsafat yang membahas tentang segala yang di dalam alam itu.

- Epistimologi : yaitu membahas tentang sutu kebenaran.

- Aksiolagi : yaitu filsafat yang membahas tentang nilai filsafat adalah merupakan sumber dari berbagai ilmu pengetahuan.

- Humanologi Filsafat : membahas berbagai masalah yang dihadapi oleh manusia termasuk juga tentang masalah-masalah pendidikan dan filsafat juga merupakan aplikasi dari pemikiran-pemikiran filosof untuk memecahkan masalah-masalah pendidikan.

2. Manfaat Filsafat Pendidikan

Nasution mengidentifikasi beberapa manfaat filsafat pendidikan, yaitu:

- Filsafat pendidikan dapat menentukan arah akan dibawa kemana anak- anak di masa yang akan mendatang melalui pendidikan.

- Dengan menentukan tujuan pendidikan melalui filsafat yang di pelajari, kita bisa mendapatkan gambaran yang jelas tentang hasil yang harus dicapai.

- Filsafat dan tujuan pendidikan memberi kesatuan yang bulan kepada segala usaha pendidikan.

- Tujuan pendidikan memberikan motivasi kepada pendidik bagi setiap kegiatan-kegiatan pendidikan yang di lakukan.

3. Kurikulum dan Filsafat Pendidikan

(11)

Kurikulum pada hakikatnya adalah alat untuk mencapai tujuan pendidikan.

Karena tujuan pndidikan sangat dipengaruhi oleh filsafat atau pandangan hidup suatu bangsa, maka kurikulum yang dikembangkan yang dikembangkan juga harus mencerminkan falsafah atau pandangan hidup yang dianut oleh bangsa tersebut. Oleh karena itu, terdapat hubungan yang sangat erat antara kurikulum pendidikan di suatu negara disuatu negara dengan filsafat negara yang dianutnya.

Sebagai contoh pada waktu bangsa Indonesia dijajah oleh belanda, maka kurikulum yang dianut pada masa itu sangat berorientasi pada kepentingan poliltik Belanda. Setelah Indonesia merdeka segala macam Perumusan tujuan pendidikan, penyusunan program pendidikan, pemilihan dan penggunaan pendekatan atau strategi pendidikan, peranan yang harus dilakukan pendidik/peserta didik senantiasa harus sesuai dengan falsafah hidup bangsa Indonesia, yaitu Pancasila.

b. Landasan Psikologi

Didalam dunia pendidikan seorang pendidik harus bisa memahami kondisi psikologis anak. Hal ini diperlukan agar apa yang ingin disampaikan pendidik bisa diterima dengan baik oleh anak. Dalam proses pembelajaran juga terjadi interaksi yang bersifat multiarah antara peserta didik dengan pendidik (guru).

Untuk itu, paling tidak dalam pengembangan kurikulum di perlukan dua landasan psikologi, yaitu psikologi perkembangan dan psikologi belajar. Kedua landasan ini dianggap penting terutama dalam memilih dan menyusun isi kurikulum, proses pembelajaran dan hasil belajar yang diinginkan.

Pendidikan bekenaan dengan perilaku manusia sebab melalui pendidikan diharapkan adanya perubahan pribadi menuju kedewasaan, baik fisik, mental/intelektual, moral maupun sosial. Kurikulum sebagai program pendidikan sudah pasti berkenaan pula dengan seleksi dan organisasi bahan yang secara ampuh dapat mengubah prilaku manusia.

Namun harus diingat pula bahwa perubahan prilaku pada manusia tidak seluruhnya sebagai akibat Intervensi dari program pendidikan tetapi juga sebagai akibat kematangan dirinya dan faktor lingkungan yang membentuknya diluar program pendidikan yang diberikan di sekolah.12

 Psikologi Perkembangan

12 Nana Sudjana, Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum Di Sekolah (Cet. 3;

Bandung:Sinar Baru Algensindo.1996), hlm.14

(12)

Psikologi perkembangan diperlukan terutama dalam menetapkan isi kurikulum yang diberikan kepada siswa agar tingkat keluasan dan kedalaman bahan pelajaran sesuai dengan taraf perkembangan anak. Adanya jenjang atau tingkat pendidikan dalam sistem persekolahan merupakan satu bukti bahwa psikologi perkembangan menjadi landasan dalam pendidikan, khususnya kurikulum.

Dalam hubunganya dengan proses belajar mengajar (pendidikan), Syamsu Yusuf, menegaskan bahwa penahapan perkembangan yang digunakan sebaiknya bersifat elektif, artinya tidak terpaku pada suatu pendapat saja tetapi bersifat luas untuk meramu dari berbagai pendapat yang mempunyai hubungan yang erat.

 Psikologi Belajar

Psikologi belajar merupakan studi tentang bagaimana individu belajar, yang secara sederhana dapat diartikan sebagai perubahan tingkah laku yang terjadi melalui pengalaman. Segala perubaha tingkah laku baik yang berbentuk kognitif, afektif maupun psikomotorik terjadi karena proses pengalaman yang selanjutnya dapat dikatakan sebagai perilaku belajar.

Menurut P. Hunt ada tiga teori belajar yang dibahas di dalm psikologi belajar, yaitu teori disiplin belajar mental, teori behaviorisme dan teori cognitif Gestald Field.13

c. Landasan Sosial-Budaya

S. Nasution mengemukakan: “mendidik anak dengan baik hanya mungkin jika kita memahami masyarakat tempat mereka hidup. Oleh karena itu, setiap pembina kurikulum harus senantiasa mempelajari keadaan, perkembangan, kegiatan, dan aspirasi masyarakat.14

Salah satu tujuan pendidikan adalah untuk mempersiapkan peserta didik hidup dalam kehidupan masyarakat. Asumsinya adalah peserta didik berasal dari masyarakat, dididik oleh masyarakat, dan harus kembali ke masyarakat. Ketika peserta didik kembali kemasyarakat tentu ia harus di bekali dengan sejumlah kompetensi, sehinga ia dapat berbakti dan berguna bagi masyarakat.

13Sudjana, Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum Di sekolah,hlm.16

14 Tedjo Narsoyo Reksoatmodjo, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Teknologi dan Kejuruan (Cet.1;Bandung:Refika Aditama.2010), hlm.36

(13)

Kompetensi yang dimaksud adalah sejumlah pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai-nilai yang di peroleh peserta didik melalui berbagai kegiatan dan pengalaman belajar di sekolah. Kegiatan dan pengalaman belajar tersebut diorganisasi dalam pendekatan dan format tertentu yang disebut dengan kurikulum. Berdasarkan alur pemikiran ini, maka sangat logis jika pengembangan kurikulum berlandaskan pada kebutuhan masyarakat. Di samping itu, dasar pemikiran lain adalah kurikulum merupakan bagian dari pendidikan, dan pendidikan merupakan bagian dari masyarakat. Dengan demikian, sangat wajar apabila pengembangan kurikulum harus memperhatikan kebutuhan masyarakat dan harus ditunjang oleh masyarakat.

(14)

C. Landasan Pengembangan Kurikulum Bahasa Arab

Landasan adalah sesuatu yang di atasnya berdiri sesuatu dengan kukuh.

Dalam sebuah bangunan, landasan sama artinya dengan fondasi yang di atasnya bangunan tersebut ditegakkan. Fungsi landasanp engembangan kurikulum adalah seperti fondasi sebuah bangunan. Untuk membangun sebuah gedung yang kukuh dan tahan lama,diperlukan fondasi yang kukuh pula. Semakin kukuh fondasi sebuah gedung, maka akan semakin kukuh pula gedung tersebut. Demikian pula halnya dengan pengembangan kurikulum, harus berlandaskan pada fondasi yang kuat.

1. Landasan Religius

Al-Qur’an diturunkan oleh Allah SWT dengan bahasa Arab, demikian pula hadits-hadits Rasulullah SAW disampaikan dalam bahasa Arab. Jadi, bahasa Arab merupakan alat komunikasi yang digunakan untuk menyampaikan ajaran agama Islam. Dengan demikian, untuk dapat memahami sumber ajaran agama Islam (al-Qur’an dan al-Hadits) dan berbagai macam ilmu pengetahuan keislaman dengan benar diperlukan penguasaan bahasa Arab yang memadai. Bagi umat Islam, di samping sebagai alat komunikasi dunia (internasional), bahasa Arab merupakan bahasa Agama.

Dalam hal ini, Ali Isma’il Muhammad (1997) menegaskan bahwa hubungan antara bahasa Arab dan ilmu-ilmu keislaman bagaikan satu kesatuan anggota tubuh, satu sama lain tak dapat dipisahkan Dengan demikian, bagi umat Islam, tujuan pendidikan bahasa Arab tak dapat dilepaskan dari tujuan memahami sumber ajaran Islam beserta berbagai ilmu pengetahuannya. Penguasaan bahasa Arab sangat penting dalam membantu memahami sumber ajaran Islam (al-Qur’an dan alHadits) serta berbagai literatur keislaman berbahasa Arab yang merupakan khazanah kekayaan intelektual dan peradaban Islam. Oleh karena itu, pengembangan kurikulum bahasa Arab perlu mempertimbangkan landasan religius tersebut.

2. Landasan Filosofis

(15)

Bahasa merupakan merupakan sesuatu yang inherent dalam diri manusia sebagai karunia Allah SWT untuk manusia. Bahkan Allah SWT sendiri menampakkan diri pada manusia bukan melalui zat-Nya, tetapi melalui bahasa- Nya, yaitu bahasa alam (ayat kauniyah) dan kitab suci (ayat qauliyah), dengan menggunakan bahasa Arab. Oleh karena itu, upaya mempelajari bahasa Arab merupakan suatu kewajiban dan sekaligus merupakan amal shaleh. Selanjutnya, salah satu aliran filsafat yang sangat berpengaruh dalam dunia pendidikan dewasa ini adalah filsafat konstruktivisme.

Konstruktivisme berpandangan bahwa pengetahuan adalah konstruksi manusia melalui interaksi dengan objek, fenomena, pengalaman, dan lingkungannya. Suatu pengetahuan dianggap benar bila pengetahuan itu dapat berguna untuk menghadapi dan memecahkan persoalan atau fenomena yang sesuai. Dalam pandangan konstruktivisme, pengetahuan tidak dapat ditransfer begitu saja dari seseorang (guru/dosen) kepada orang lain (siswa/mahasiswa), tetapi harus diinterpretasikan sendiri oleh masing-masing orang. Setiap orang harus mengkonstruksi pengetahuan sendiri.

Pengetahuan bukan sesuatu yang sudah jadi, melainkan suatu proses yang berkembang terus-menerus. Dalam prose situ, keaktifan seseorang yang ingin tahu amat berperan dalam perkembangan pengetahuannya. Berdasarkan pandangan konstruktivisme tersebut, kurikulum pembelajaran bahasa Arab perlu dikembangkan dalam model pembelajaran yang mampu melibatkan peserta didik secara aktif membangun pengetahuan dan keterampilan bahasa Arab yang mencakup keterampilan menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Agar peserta didik terlibat aktif dalam proses pembelajaran bahasa Arab, perlu dikembangkan model kurikulum pembelajaran bahasa Arab yang berpusat pada siswa (student centered curriculum).

3. Landasan Yuridis

Landasan yuridis untuk pengembangan dan penyusunan kurikulum bahasa Arab pada tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah serta pendidikan tinggi mengacu pada:

(16)

a) Undang Undang Nomor 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 36, 37, dan 38;

b) Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan;

c) Peraturan Menteri Agama Nomor 2 Tahun 2008 tentang Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) untuk satuan pendidikan dasar dan menengah di madrasah (MI, MTs, dan MA).

Di dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sisdiknas Pasal 36 Ayat (1) dan (2) juga dalam PP Nomor 19 Tahun 2005 Pasal 17 ayat (1) diberikan otonomi kepada satuan pendidikan dasar dan menengah untuk mengembangkan kurikulum (termasuk kurikulum bahasa Arab) sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah/karakteristik daerah, sosial budaya masyarakat setempat, dan peserta didik.

Namun demikian, pengembangan kurikulum itu harus tetap mengacu pada standar nasional pendidikan.

Selanjutnya, dalam Peraturan Menteri Agama Nomor 2 Tahun 2008 tentang Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab di Madrasah dijelaskan bahwa Standar Kompetensi Lulusan mata pelajaran bahasa Arab MI, MTs, dan MA mencakup empat keterampilan bahasa Arab: menyimak, berbicara, membaca, dan menulis.

4. Landasan Linguistik

Perbedaan dalam cara atau mengajarkan bahasa dipengaruhi pula oleh perbedaan pandangan terhadap hakekat bahasa dan perbedaan dalam cara menganalisis dan mendeskripsikan bahasa. Pada bagian ini akan dikemukakan dua aliran paling penting saat ini dalam ilmu bahasa (linguistic), yaitu aliran strukturalisme dan aliran transformasi- generatif.

a) Aliran Strukturalisme

Aliran ini dipelopori oleh linguis dari Swiss, Ferdinand de Saussure (1857- 1913) dan dikembangkan lebih lanjut oleh Leonard Bloomfield. Aliran strukturalisme ini memiliki pandangan tentang hakekat bahasa, Teori-teori

(17)

linguistic structural ini seiring dengan teori-teori psikologi behaviorisme dan menjadi landasan teoritis bagi metode audiolingual dalam pembelajaran bahasa.

b) Aliran Generatif-Transformatif

Aliran Generatif-Transformatif ini dipelopori oleh seorang pakar linguistic Amerika yang bernama Noam Chomsky. Dia membagi kemampuan kemampuan berbahasa menjadi dua, yaitu kompetensi dan performansi. Kompetensi (competence) adalah kemampuan ideal yang dimiliki oleh seorang penutur bahasa. Kompetensi menggambarkan pengetahuan tentang system bahasa yang sempurna, yaitu pengetahuan tentang system kalimat (sintaks), system kata (morfologi), system bunyi (fonologi), dan system makna (semantic).

Sedangkan performansi (performance) adalah ujaran-ujaran yang bisa didengar atau dibaca, yang merupakan tuturan seseorang apa adanya tanpa dibuat- buat. Oleh karena itu, performansi bisa saja tidak sempurna, dan oleh karena itu pula, menurut Chomsky, suatu tata bahasa hendaknya memerikan kompetensi dan bukan performansi.

5. Landasan Psikolinguistik

Para pakar psikologi pembelajaran sepakat bahwa dalam proses belajar- mengajar terdapat unsur-unsur (1) internal, yaitu bakat, minat, kemauan dan pengalaman terdahulu dalam diri pembelajar; dan (2) eksternal, yaitu lingkungan, guru, buku teks, dsb. Permasalahannya adalah unsur manakah yang merupakan factor dominan atau paling besar pengaruhnya dalam proses pembelajaran?

Jawaban atas pertanyaan ini dapat ditelusuri melalui dua mazhab besar dalam psikologi, yaitu mazhab behaviorisme (al-sulukiyah) dan mazhab cognitive (al- ma’rifiyah). Mazhab pertama memberikan perhatian lebih besar kepada factor- faktor eksternal, sedangkan mazhab kedua lebih memfokuskan perhatiannya kepada factor internal.

6. Landasan Sosiolinguistik

Basyar (1997) dan Hudson (2002) menyatakan bahwa bahasa tidak bisa dipisahkan dari konteks sosial dan budaya. Bahasa merupakan bagian dari budaya dan fungsi sosial dari bahasa adalah sebagai alat komunikasi.

(18)

Terdapat tujuh fungsi komunikatif bahasa, sebagai berikut:

a. Instrumental function, yaitu menggunakan bahasa untuk memperoleh sesuatu yang diinginkan;

b. Regulatory function, yaitu menggunakan bahasa untuk mengarahkan atau memerintah orang lain;

c. Interactional function, yaitu menggunakan bahasa untuk saling mengungkapkan pikiran dan perasaan satu sama lain;

d. Personal function, yaitu menggunakan bahasa untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan pribadi;

e. Heuristic function, yaitu menggunakan bahasa untuk meminta penjelasan atau mengungkapkan rasa ingin tahu;

f. Imaginative function, yaitu menggunakan bahasa untuk mengungkapkan daya imajinasi seseorang walaupun tidak sesuai dengan kenyataan; dan g. Representational function, yaitu menggunakan bahasa untuk

menyampaikan informasi kepada orang lain;

Oleh karena itu, pembelajaran bahasa Arab hendaknya diorientasikan pada penguasaan kompetensi komunikatif, artinya pembelajaran bahasa Arab tidak sekedar bertujuan pada penguasaan tentang kaidah tata bahasa saja (nahwu- sharaf), namun juga mampu menggunakan bahasa Arab sebagai alat komunikasi.

Dalam hal ini, ada empat macam kompetensi komunikatif yang perlu dipertimbangkan dalam pengembangan kurikulum bahasa Arab, sebagai berikut:

a. Gramatical competence, yaitu memiliki pengetahuan tentang sistem bahasa Arab (bunyi, kosa kata, dan nahwu-sharaf) dan mampu menggunakannya;

b. Sociolinguistic competence, yaitu kemampuan memahami konteks sosial di mana komunikasi berlangsung dan mampu berinteraksi dengan masyarakat penutur bahasa yang dipelajari.

c. Discourse competence, yaitu kemampuan menafsirkan hubungan- hubungan kalimat atau ujaran untuk mengkonstruk makna yang utuh;

(19)

d. Strategic competence, yaitu kemampuan menggunakan strategi komunikasi untuk memulai komunikasi, mempertahankan jalannya komunikasi, dan mengakhiri/menutup komunikasi.

7. Landasan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Perkembangan yang demikian cepat dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi telah mampu merubah tatanan kehidupan manusia. Oleh karena itu, kurikulum seyogyanya dapat mengakomodir dan mengantisipasi laju perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga peserta didik dapat mengimbangi dan sekaligus mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kemaslahatan dan kelangsungan hidup manusia.

Pengembangan kurikulum bahasa Arab juga harus mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sekaligus memanfaatkan sisi positif dari kemajuan ilmu pengetahuan tersebut untuk pengembangan program pembelajaran bahasa Arab. Misalnya, merancang program pembelajaran bahasa Arab dengan diperlengkapi media audiovisual dalam bentuk kaset rekaman atau CD, mengembangkan program pembelajaran bahasa Arab model e-learning, memanfaatkan internet untuk pembelajaran bahasa Arab, dan sebagainya.

Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan kemajuan teknologi dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran bahasa Arab. Hasil penelitian Nasruddin (2011) menunjukkan bahwa penggunaan film pembelajaran dapat meningkatkan keterampilan menyimak bahasa Arab. Selanjutnya, hasil penelitian Inayah (2011) dan Ma’arif18 (2011) juga menunjukkan bahwa pengembangan bahan ajar bahasa Arab dengan menggunakan multimedia berupa CD interaktif dapat meningkatkan keterampilan berbicara dan membaca bahasa Arab. Selain itu, motivasi siswa dalam belajar bahasa Arab juga meningkat.

(20)
(21)

Referensi:

Naf’an Thorihoran. 2008. Pengembangan Kurikulum, (Banten: Loquen Press)

(22)

Muhammad, Ali Isma’il, 1997, al-Manhaj fi al-Lughah al-‘Arabiyah, Kairo:

Maktabah Wahbah.

R. Masykur. 2019. Teori dan Telaah Pengembangan Kurikulum, (Lampung: CV.

Anugerah Utama Raharja)

Nasution, S., Asas-Asas Kurikulum, Jakarta: Bumi Aksara, 2006.

Thu’aimah, Rusydi Ahmad, 1989, Ta’lim al-‘Arabiyah li Ghayiri al-Nâthiqiîna biha: Manaâhijuhu wa Asaâliîbuhu, Rabath: ISISCO.

Muhaimin dkk., 2009, Pengembangan Model Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) pada Sekolah dan Madrasah, Jakarta: Rajawali Pers.

Muhaimin, 2009, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Madrasah, dan Perguruan Tinggi, Jakarta: Rajawali Pers.

(23)

BAB 3 PENUTUP A. Kesimpulan

Dalam mengembangkan kurikulum, terlebih dahulu harus diidentifikasi dan dikaji secara selektif, akurat, mendalam, dan menyeluruh tentang apa saja yang harus dijadikan pijakan dalam merancang, mengembangkan, dan mengimplementasikan kurikulum. Dengan landasan yang kokoh, kurikulum akan mengatur pendidikan yang dapat menghasilkan manusia terdidik sesuai dengan hakikat kemanusiaannya, baik untuk kehidupan masa kini maupun menyongsong kehidupan jauh ke masa yang akan datang.

Kurikulum harus dibuat berdasarkan landasan filosofis seperti idealisme, realisme, dan pragmatisme. Landasan psikologis juga berpengaruh penting dalam penyusunan kurikulum, karena kurikulum harus menyesuaikan dengan kondisi psikologis peserta didik. Dan dalam pengembangannya, kurikulum harus menggunakan landasan sosiologis dan IPTEK, agar bersifat fleksibel mengikuti perubahan zaman.

Berdasarkan pemaparan di atas, dapat diketahui bahwa landasan adalah hal yang penting dalam mengembangkan kurikulum. Tanpa landasan, pengembangan kurikulum tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya. Bagi civitas akademik yang mendalami bidang pendidikan, landasan pengembangan kurikulum ini perlu dipahami dengn baik agar pengembangan kurikulum khususnya di Indonesia dapat berjalan sesuai dengan landasan yang telah disebutkan, yakni landasan filosofis, landasan psikologis, serta landasan sosiologis dan IPTEK.

Referensi

Dokumen terkait

Berkaitan dengan pendekatan potensi dalam pengembangan kurikulum pembelajaran bahasa Arab, dalam makalah ini dibahas sebuah teori yang menyebutkan bahwa manusia telah

Terkait Problematika pengembangan kurikulum bahasa Arab di MTs Darul Hikmah, yaitu dari segi beberapa guru yang kurang berpartisipasi dalam pengembangan kurikulum, sebagian pengurus

153 | Pengembangan Kurikulum Bahasa Arab Pendekatan interdisipliner merupakan pendekatan pembelajaran yang menghubungkan tujuan isi dan kegiatan belajar dari berbagai bidang studi

Pembahasan Desain Pengembangan Kurikulum Pembelajaran Bahasa Arab Berbasis Diferensiasi Otak Laki-Laki dan Perempuan Bahasa Arab adalah berbagai kata yang digunakan oleh orang Arab

Kesimpulan Landasan pengembangan kurikulum yang wajib dipahami dan ditelaah lebih dalam guna memajukan kurikulum di antaranya adalah landasan filosofis, landasan psikologis, landasan

Penutup Kurikulum bahasa Arab yang sedang kita implementasikan saat ini, memiliki ruang gerak pengembangan sesuai dengan visi, misi, tujuan, dan kebutuhan lembaga dimana bahasa Arab

Analisis kurikulum Bahasa Arab Merdeka Belajar pada Madrasah Aliyah sebagai tugas mata kuliah Pengembangan

Makalah model kurikulum untuk mata kuliah pengembangan kurikulum pendidikan bahasa Arab di IAIN Kediri tahun akademik