KOMPONEN – KOMPONEN PENGEMBANGAN KURIKULUM
Makalah dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengembangan Kurikulum Pendidikan Bahasa Arab
Dosen Pengampu:
Prof. Dr. H. M. Samsul Ulum, M.A Oleh:
Jum’atul Hijjah (230104220001) Dian Tsuroya Patria Ummah (230104220011) Zaedan Mutaqin (230104220014)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA ARAB PASCASARJANA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 2024
ii
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, puji teriring syukur terlimpah curah ke hadirat Allah ﷻ karena atas limpahan nikmat dan karunia-Nya penulis dapat menyusun makalah yang berjudul
“Komponen-Komponen Pengembangan Kurikulum” dengan tepat waktu. Semoga Allah Yang Maha Kaya mengaruniakan kita kesungguhan untuk memberikan yang terbaik dalam setiap ibadah kita. Selawat beserta salam semoga selalu terlimpahkan kepada Uswah Hasanah suri teladan Rasulullah Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam.
Tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai bentuk pemenuhan tugas pada mata kuliah Pengembangan Kurikulum Pendidikan Bahasa Arab yang diampu oleh Prof. Dr. H. M. Samsul Ulum, M.A. Harapan penulis selain sebagai pemenuhan tugas, makalah ini juga dapat bermanfaat bagi para pembaca khususnya dalam memahami materi pengembangan kurikulum.
Namun demikian, penulis menyadari dalam penulisan dan penyusunan makalah ini masih terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, dengan senang hati penulis menerima segala kritik dan saran yang membangun dari pembaca demi perbaikan dan penyempurnaan makalah ini.
Malang, 25 Maret 2024
Penulis
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Kurikulum secara umum dikenal sebagai suatu rancangan dan pengaturan yang memuat seperangkat program pembelajaran baik yang menyangkut tujuan, isi, atau materi pembelajaran maupun rencana kegiatan pembelajaran beserta penilaiannya yang dijadikan sebagai acuan dalam mewujudkan tujuan pendidikan.
Sering kali istilah ‘kurikulum’ disamakan dengan ‘pembelajaran’. Padahal, kedua istilah tersebut memiliki arti yang berbeda, baik secara konseptual maupun praktiknya. Kurikulum merupakan pengalaman belajar (learning experience) yang terorganisasi dalam bentuk di bawah bimbingan dan pengawasan lembaga pendidikan, sedangkan pembelajaran adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan guru untuk membimbing dan mengarahkan peserta didik agar terjadi tindakan belajar sehingga memperoleh pengalaman belajar. Jika kurikulum adalah programnya, maka pembelajaran merupakan implementasinya. Jika kurikulum merupakan teorinya, maka pembelajaran merupakan praktiknya (Arifin, 2022 : 23-24).
Adapun dalam bahasa Arab, kurikulum diartikan sebagai manhaj (
جَه ْ نَم
) yang berarti jalan yang terang dan dilalui oleh manusia pada berbagai bidang kehidupan (Sholeh, 2020 : 1-2).Sementara kurikulum pendidikan (
ةساَرِّ دلاْجَه نَم
) dalam Qamus Tarbiyah merupakan seperangkat perencanaan dan media yang dijadikan acuan oleh lembaga pendidikan dalam mewujudkan tujuan pendidikan. Hal ini selaras dengan pengertian kurikulum oleh Abdul Qodir Yusuf dalam kitabnya At-Tabiyyah Wal Mujtami’ mendefinisikan kurikulum sebagai;ْةسردلماْداشرإٌْتتحْلافطلأاْملعتْبراتجوْتابرخْةعوممجْهنبأْةثيدلحاْة يبترلاْفيْجهنلما
“Kurikulum adalah sejumlah pengalaman dan uji coba dalam proses belajar mengajar siswa di bawah bimbingan lembaga (sekolah).”
Kurikulum memegang peranan penting karena merupakan inti dari suatu pendidikan yang berhubungan dengan penentuan arah, isi, proses, dan seluruh kegiatan pendidikan. Mengingat pentingnya kurikulum dalam pendidikan, maka dalam penyusunannya tidak dapat dilakukan
2 sesuka hati. Penyusunan kurikulum membutuhkan berbagai landasan yang didasarkan pada hasil pemikiran dengan menyelidiki situasi (lingkungan belajar) secara menyeluruh, kebutuhan pembangunan nasional, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan kesenian sesuai jenjang serta jenis pendidikan. Sebagaimana dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang desain pendidikan nasional, khususnya Bab I Pasal 1 ayat 1 dijelaskan bahwa
“pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.”
Seiring dengan berjalannya waktu kurikulum juga mengalami perkembangan. Hal ini karena kurikulum memiliki sifat dinamis, sehingga selalu berubah mencari yang tepat sesuai dengan kebutuhan mereka yang belajar. Dalam konteks pengembangan dan desain kurikulum, maka pengembang kurikulum harus memperhatikan kerangka dasar kurikulum dengan pendekatan sistem, yaitu kurikulum yang memiliki komponen-komponen pokok kurikulum.
Analisis terhadap komponen-komponen kurikulum dapat mengacu pada beberapa pendapat kurikulum. Hilda Taba (1962), misalnya, memerinci komponen kurikulum menjadi tujuan, pengalaman belajar (learning experience), organisasi bahan kurikulum dan kegiatan bahan belajar, dan evaluasi (Arifin, 2022 : 79-81).
Sementara itu, Glenys G. Unruh dan Adolph Unruh (1984) mengembangkan komponen kurikulum berdasarkan definisi kurikulum, yaitu suatu rencana tentang a) tujuan, b) isi dari apa yang dipelajari, c) proses pembelajaran dan d) evaluasi untuk hasil-hasil pembelajaran (Arifin, 2022 : 80). Masing-masing komponen tersebut saling berhubungan, saling menunjang, dan saling menyatu serta tidak terpisahkan antara komponen satu dengan lainnya. Apabila terdapat komponen yang memiliki kelemahan, maka akan berpengaruh pada komponen yang lainnya untuk menjadi lemah dan menyebabkan lemahnya sistem kurikulum secara keseluruhan.
3
Gambar 1. Komponen-komponen Pengembangan Kurikulum
Berdasarkan gambar di atas, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat empat komponen pokok kurikulum, yaitu tujuan, isi/materi, proses dan evaluasi. Komponen-komponen tersebut harus ada kesesuaian, saling berhubungan dan ketergantungan, sehingga membentuk sebuah sistem.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa saja yang termasuk ke dalam komponen-komponen pengembangan kurikulum?
2. Bagaimana keterkaitan antara komponen satu dengan yang lainnya dalam pengembangan kurikulum?
1.3 Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah yang telah dirumuskan, maka tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
1. Mengetahui apa saja yang termasuk ke dalam komponen-komponen pengembangan kurikulum.
2. Mengetahui keterkaitan antara komponen satu dengan yang lainnya dalam pengembangan kurikulum.
4 BAB II PEMBAHASAN 2.1 Komponen- Komponen Pengembangan Kurikulum
Kurikulum yang membentuk suatu sistem Pendidikan mempunyai komponen-komponen yang saling berkaitan dan mempengaruhi satu sama lain yaitu komponen tujuan, isi atau materi, proses dan evaluasi.
2.1.1 Tujuan
Komponen tujuan pada pengembangan kurikulum berisi pernyataan tentang target yang akan dicapai atau kemampuan yang akan dikembangkan dalam diri peserta didik sebagai hasil pendidikan. Tujuan pada pengembangan kurikulum memiliki tingkatan hierarkis, dari yang paling umum sampai yang paling khusus (Toenlioe, 2017 : 7-8).
Selain itu, tujuan kurikulum juga dirumuskan berdasarkan dua hal. Pertama, perkembangan tuntutan, kebutuhan dan kondisi masyarakat. Kedua, didasari oleh pemikiran dan terarah pada pencapaian nilai-nilai filosofis, terutama falsafah negara (Sholeh, 2020 : 10-11).
Komponen tujuan pendidikan juga mengacu pada tujuan nasional yang mengacu pada undang-undang untuk kemudian diuraikan dalam bentuk tujuan institusional. Dari tujuan institusional dijabarkan dalam bentuk tujuan kurikuler dan terakhir pada tujuan instruksional (Hamalik, 2016 dalam Hayyun Lathifaty Yasri, 2023 : 7-8). Berikut penjelasan mengenai jenis-jenis tujuan pendidikan tersebut:
a. Tujuan Pendidikan Nasional (TPN) dapat ditemukan dalam Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang berbunyi:
“Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 3, tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (Indonesia, 2003).”
Tujuan Pendidikan Nasional merupakan sasaran akhir sekaligus standar minimal yang harus dicapai dan dijadikan pedoman oleh setiap lembaga
5 pendidikan, tujuan ini dirumuskan dalam bentuk perilaku yang sesuai dengan pengembangan hidup dan falsafah suatu bangsa yang dirumuskan oleh pemerintah dalam bentuk undang-undang (Sukmawati, 2021 : 65-66).
b. Tujuan pendidikan nasional juga dapat ditemukan di Tap MPR No.
IV/MPR/1973 tentang Garis-Garis Besar Haluan Negara.
c. Tujuan Institusional (TI) merupakan tujuan pendidikan yang dikembangkan oleh masing-masing lembaga pendidikan. Oleh karena itu, pada tujuan institusional sangat dimungkinkan terjadi perbedaan tujuan antar masing- masing lembaga pendidikan. Tujuan yang harus dicapai oleh setiap lembaga pendidikan dapat diartikan sebagai kualifikasi yang harus dimiliki oleh setiap siswa setelah mereka menempuh atau menyelesaikan program di lembaga pendidikan tertentu (Sukmawati, 2021 : 65). Tujuan institusional sering dikenal dengan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) memiliki tujuan yang berbeda pada masing-masing jenjang dan kompetensi yang diajarkan.
d. Tujuan Kurikuler (TK) adalah tujuan yang ingin dicapai melalui pelaksanaan pembelajaran pada sebuah bidang studi tertentu atau mata pelajaran. Sehingga tujuan ini harus tampak setiap bidang studi yang dipelajari peserta didik. Tujuan ini juga dapat memfasilitasi peserta didik dalam mencapai serta mengembangkan kemampuan yang dimilikinya, karena setiap peserta didik memiliki tujuan dan kemampuan yang berbeda satu sama lain.
e. Tujuan Instruksional merupakan penjabaran lebih lanjut dari tujuan kurikuler yang masih bersifat umum. Tujuan instruksional dapat terukur secara lebih konkret, khusus dan spesifik melalui perubahan yang dialami peserta didik setelah mengikuti pembelajaran. Tujuan instruksional juga sering disebut sebagai tujuan pembelajaran (TP) tidak hanya dimaksudkan untuk melihat kemampuan siswa dalam bidang kompetensi, namun dapat memahami karakteristik siswa yang akan melakukan pembelajaran di suatu lembaga pendidikan.
6 2.1.2 Isi/Materi
Komponen materi dalam kurikulum merupakan aspek penting dalam merancang pembelajaran.hal ini mencakup identifikasi tujuan pembelajaran, pemilihan konten, dan pendefinisian standar kompetensi. Menurut Hasibuan, yang tercakup dalam komponen materi adalah ilmu pengetahuan, nilai, pengalaman, keterampilan yang dikembangkan dalam proses pembelajaran (Hasibuan, 2010). Menurut Ornstein dan Hunkis, materi kurikulum harus relevan dengan kebutuhan peserta didik dan mencerminkan tujuan pendidikan nasional. Oleh karena itu materi yang diberikan di setiap bidang studi di sekolah itu berbeda-beda antara SMA dan SD. Materi bidang studi yang diajarkan sebenarnya adalah kurikulum itu sendiri yang disebut dengan silabus Nurgianto (Nurgianto, 1988).
Materi kurikulum diformulasikan sebagai panduan pembelajaran, menentukan apa yang akan diajarkan dan bagaimana itu akan diajarkan. Kurikulum menjadi landasan bagi guru dalam merancang pengalaman belajar yang bermakna dan menarik bagi peserta didik (Jacobs, 1997).
Materi kurikulum harus selaras dengan standar kompetensi yang ditetapkan oleh otoritas pendidikan. Keterkaitan ini penting untuk memastikan bahwa peserta didik mencapai tingkat penguasaan yang diharapkan dalam suatu mata pelajaran. Materi kurikulum perlu bersifat fleksibel dan dapat beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan serta kebutuhan masyarakat (Marzano & Kendall, 2007). Adapun pentingnya kurikulum yang dapat mengakomodasi perubahan dan inovasi dalam pendidikan. Kurikulum harus mencakup materi-materi yang merangsang inovasi dan kreativitas peserta didik (Conley, 2010).
Kurikulum yang memfasilitasi perkembangan keterampilan kreatif dan pemecahan masalah akan lebih sesuai dengan tuntutan zaman. Materi kurikulum perlu mencerminkan kebutuhan global, mempersiapkan peserta didik untuk berkontribusi dalam masyarakat yang semakin terhubung dan kompleks (Zhao, 2012). Gardner menekankan perlunya kurikulum yang mempromosikan pemahaman lintas budaya dan keterampilan global (Gardner, 2008).
7 2.1.3 Proses
Proses pelaksanaan kurikulum harus menunjukkan adanya kegiatan pembelajaran, yaitu upaya guru untuk membelajarkan peserta didik, baik di sekolah melalui kegiatan tatap muka, maupun di luar sekolah melalui kegiatan terstruktur dan mandiri. Dalam komponen proses inilah guru dituntut untuk menggunakan berbagai strategi pembelajaran, metode mengajar, media pembelajaran dan sumber-sumber belajar.
Pemilihan strategi pembelajaran harus disesuaikan dengan tujuan kurikulum (SK/KD), karakteristik materi pelajaran, dan tingkat perkembangan peserta didik.
Terdapat beberapa macam strategi pembelajaran yang dapat digunakan guru dalam menyampaikan isi kurikulum, antara lain : (a) strategi ekspositori klasikal, guru lebih banyak menjelaskan materi yang sebelumnya, sementara siswa lebih banyak menerima materi yang telah jadi, (b) strategi pembelajaran heuristik (discovery and inquiry) di mana siswa diajak untuk aktif dalam mengeksplorasi dan menemukan solusi masalah, (c) strategi pembelajaran kelompok kecil/besar dan diskusi, dan (d) strategi pembelajaran individual.
Di samping strategi, ada juga metode mengajar. Komponen metode ini dibagi menjadi dua bagian yang dikenal dengan kemponen dalam artian luas dan komponen dalam artian sempit. Komponen metode dalam artian luas adalah metode tidak hanya sekedar metode mengajar, tapi berbagai metode yang lain seperti ceramah dll.
Sedangkan komponen metode dalam artian sempit adalah bagaimana hanya menggunakan satu metode saja yang meliputi cara penyampaian guru, cara memimpin sekolah, cara karyawan bekerja dan cara lainnya (Hasibuan, 2010).
Metode pembelajaran dalam kurikulum menjadi landasan bagi proses transfer pengetahuan dari guru ke peserta didik. Pemilihan metode yang tepat berperan penting dalam mencapai tujuan pembelajaran dan mengoptimalkan pengalaman belajar.
Keanekaragaman metode atau multimetode pembelajaran diperlukan agar dapat mengakomodasi gaya belajar yang beragam di antara peserta didik (Gravemeijer, 1997).
Pendekatan diferensiasi dalam metode pembelajaran dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih relevan dan bermakna bagi setiap individu (Tomlinson, 2014).
Metode kolaboratif memungkinkan peserta didik bekerja bersama untuk mencapai tujuan pembelajaran. Pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan keterlibatan peserta
8 didik dan memfasilitasi perkembangan keterampilan sosial. Pemanfaatan teknologi sebagai metode pembelajaran telah menjadi tren penting. Menurut Puentedura, model TPACK (Technological Pedagogical Content Knowledge) membantu guru mengintegrasikan teknologi dengan metode pembelajaran yang efektif (Johnson dkk., 2019).
Pembelajaran berbasis proyek melibatkan peserta didik dalam kegiatan praktis yang mencerminkan situasi dunia nyata. Metode ini memungkinkan pembelajaran kontekstual dan penerapan konsep dalam situasi konkret. (Thomas, 2000) Metode penilaian formatif berperan penting dalam mendukung pembelajaran terus-menerus.
Menurut Black dan Wiliam, penerapan feedback secara berkesinambungan melalui metode formatif dapat meningkatkan pemahaman dan kinerja peserta didik.
Selama proses pembelajaran, guru juga harus dapat menggunakan multimedia sebagai media pembelajaran, baik media visual, media audio, maupun media audio- visual. Penggunaan media ini akan membantu peserta didik agar lebih memahami materi pembelajaran yang disampaikan. Selain itu, penggunaan media pembelajaran juga akan meningkatkan kreativitas baik guru maupun peserta didik dalam memanfaatkan perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan yang kian berkembang pesat.
Terakhir, dalam komponen proses pembelajaran yang perlu diperhatikan adalah sumber belajar. Bagian ini tidak terpisahkan selama proses pembelajaran. Bentuk sumber belajar tradisional cenderung hanya terbatas pada informasi yang diberikan guru kepada peserta didik, dalam beberapa di antaranya ditambah dengan buku ajar. Namun, seiring perkembangan zaman berdasarkan pendekatan teknologi pendidikan, sumber ajar juga kian berkembang menyesuaikan dengan perkembangan zaman, ilmu pengetahuan dan teknologi yang kemudian sumber belajar juga dapat dikelompokkan menjadi lima bagian, yaitu manusia, bahan, lingkungan, alat dan perlengkapan, serta aktivitas.
2.1.4 Evaluasi
Dalam pengertian sempit, evaluasi kurikulum bertujuan untuk mengevaluasi sejauh mana tujuan-tujuan pendidikan yang diinginkan dapat tercapai melalui kurikulum yang bersangkutan. Wright menyatakan bahwa: “curriculum evaluation may be defined as
9 the estimation of growth and progress of students toward objectives or values of the curriculum”. Sedangkan dalam lingkup yang lebih luas, evaluasi kurikulum bertujuan untuk meningkatkan substansi kurikulum, proses implementasi, metode pengajaran, serta dampaknya terhadap pembelajaran dan perilaku siswa (Saridudin, 2021).
Dalam kegiatan pendidikan, evaluasi menjadi komponen yang sangat penting bagi guru guna meninjau efektifitas tercapainya tujuan. Sementara untuk pengembangan kurikulum, evaluasi dapat memberikan data yang berguna untuk meningkatkan kurikulum yang sedang diterapkan (Sukmawati, 2021). Hasil data yang diperoleh dari evaluasi akan menunjukkan kualitas sebuah kurikulum, hal tersebut dapat merujuk pada keputusan penetapan dan pengubahan kurikulum yang berlaku. Dengan begitu, para pengembang kurikulum dapat menetapkan kebijakan sistem pendidikan dan pengembangan model kurikulum yang akan digunakan. Hasil ini juga dapat secara pribadi digunakan oleh para pelaksana pendidikan seperti guru, kepala sekolah, dsb untuk memahami dan membantu siswa dalam berkembang, memilih metode, sumber ajar, alat bantu pelajaran, dan strategi pembelajaran yang tepat (Aly & Rahayu, 2023).
Evaluasi kurikulum menjadi sebuah tugas yang rumit dan kompleks, sebab melibatkan banyak aspek yang harus dinilai, partisipasi dari berbagai pihak, dan cakupan luas dari kurikulum yang perlu dipertimbangkan. Untuk memahami berbagai aspek evaluasi kurikulum, dapat dilihat melalui sudut pandang model evaluasi kurikulum. Beberapa model evaluasi kurikulum telah diidentifikasi melalui studi literatur anatara lain model measurement (Thorndike dan Ebel), model congruence (Ralph W. Tyler), model CIPP (Daniel L. Stufflebeam), dsb (Arifin, 2011).
Model measurement adalah proses pengukuran yang dilakukan untuk memantau perubahan perilaku individu khususnya siswa dan faktor-faktor yang memengaruhinya, dengan maksud untuk melakukan seleksi, memberikan bimbingan, dan merencanakan tindakan di lingkungan sekolah (Akhmad, 2023). Menurut model ini, cakupan evaluasi meliputi perilaku, khususnya perilaku siswa, yang mencakup pencapaian hasil belajar, kemampuan intelektual dan bakat, minat, sikap, serta aspek-aspek kepribadian siswa.
Dengan demikian, penilaian mencakup baik aspek kognitif maupun afektif dari perilaku siswa (Qomari, 2008).
10 Model congruence merupakan evaluasi yang prosesnya digunakan untuk menilai sejauh mana siswa telah mencapai tujuan-tujuan pendidikan dalam bentuk pencapaian hasil belajar. Dengan kata lain, evaluasi ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran tentang seberapa efektif sistem pendidikan dalam mencapai tujuannya (Winaryati dkk., 2021). Menurut evaluasi ini, penilaian bertumpu pada sejauh mana tujuan pembelajaran sudah tercapai.
Model evaluasi lain datang dan dikembangkan oleh Komite Studi Evaluasi yang diketuai oleh Stuffelbeam, yakni model context, input, process dan product atau yang biasa dikenal dengan model evaluasi CIPP. Stufflebeam dalam bukunya Education Evaluation and Decicion Making yang dikutip Kurniawati membagi sistem pendidikan menjadi 4 jenis, yakni : 1. Evaluasi context, yakni evaluasi yang pada intinya bertujuan untuk mengidentifikasi keunggulan dan kelemahan suatu organisasi serta memberikan umpan balik untuk meningkatkan kinerja organisasi tersebut. 2. Evaluasi input, yakni evaluasi yang digunakan untuk mengenal permasalahan dan peluang guna membantu menentukan perubahan perubhana yang dibutuhkan dalam program. 3. Evaluasi proses, yakni evaluasi yang berusaha untuk mengamati pelaksanaan jalannya rencana awal dengan tujuan membantu pelaksana program. Evaluasi proses memungkinkan peninjauan kembali rencana organisasi serta evaluasi sebelumnya untuk mengidentifikasi aspek penting dari organisasi yang perlu dimonitor. 4. Evaluasi produk, yakni evaluasi yang bertujuan untuk mengevaluasi sejauh mana program berhasil memenuhi kebutuhan yang menjadi sasaran program (Kurniawati, 2017).
Model evaluasi CIPP ini merupakan evaluasi yang melibatkan empat dimensi sekaligus, konteks, input, proses, dan produk, yang oleh karenanya dapat dikatakan bahwa evaluasi ini adalah salah satu model yang sangat kompleks, mendasar dan menyeluruh.
Dengan berbagai penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa evaluasi menjadi bagian yang sangat penting dalam proses pembelajaran. Keberadaannya menjadi acuan untuk mengadakan perubahan dan pengembangan dalam sekolah, salah satunya untuk mengembangkan kurikulum yang lebih efektif dan tepat untuk diimplementasikan pada kegiatan belajar siswa. Evaluasi nantinya akan menjadi penentu apakah kegiatan yang selama ini berjalan sudah baik atau masih membutuhkan peningkatan kualitas untuk diterapkan pada proses pembelajaran ke depannya.
11 BAB III PENUTUP Kesimpulan
Kurikulum memegang peranan penting karena merupakan inti dari suatu pendidikan yang berhubungan dengan penentuan arah, isi, proses, dan seluruh kegiatan pendidikan. Mengingat pentingnya kurikulum dalam pendidikan, maka dalam penyusunannya tidak dapat dilakukan sesuka hati. Penyusunan kurikulum membutuhkan berbagai landasan yang didasarkan pada hasil pemikiran dengan menyelidiki situasi (lingkungan belajar) secara menyeluruh, kebutuhan pembangunan nasional, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan kesenian sesuai jenjang serta jenis pendidikan. Dalam konteks pengembangan dan desain kurikulum, maka pengembang kurikulum harus memperhatikan kerangka dasar kurikulum dengan pendekatan sistem, yaitu kurikulum yang memiliki komponen-komponen pokok kurikulum. Kurikulum yang membentuk suatu sistem mempunyai komponen-komponen yang saling berkaitan dan mempengaruhi satu sama lain yaitu komponen tujuan, isi atau materi, proses dan evaluasi.
12 DAFTAR PUSTAKA
Akhmad, J. (2023). Evaluasi Program Measurement Model. Jurnal At-Ta’lim, 2(2), 81–90.
Aly, H. N., & Rahayu, V. P. (2023). Evaluasi Kurikulum. Journal on Education, 5(3).
http://jonedu.org/index.php/joe
Arifin, Z. (2011). Konsep dan Model Pengembangan Kurikulum (1 ed.). PT Remaja Rosdakarya Offset.
Arifin, Z. (2022). KONSEP DAN MODEL PENGEMBANGAN KURIKULUM (P. Latifah (ed.);
6th ed.). PT REMAJA ROSDAKARYA.
Hayyun Lathifaty Yasri, U. A. S. (2023). Kurikulum dan Pembelajaran; Kajian Integratif Islam dan Sains (N. Huda (ed.); 1st ed.). UIN-MALIKI PRESS.
Kurniawati, E. W. (t.t.). Evaluasi Program Pendidikan Perspektif Model Cipp (Context, Input, Process, Product). Islamic Education Journal, 2(1), 19–25.
Qomari, R. (2008). Model model Evaluasi Pendidikan. Jurnal Pemikiran Alternatif Pendidikan, 13(2), 1–12.
Saridudin, S. (2021). Komponen-Komponen Kurikulum. https://doi.org/10.31219/osf.io/ud3xt Sukmawati, H. (2021). Komponen-Komponen Kurikulum dalam Sistem Pembelajaran. 7(1), 62–
70.
Sholeh, N. (2020). PENGEMBANGAN KURIKULUM DAN DESAIN PEMBELAJARAN BAHASA ARAB (Berbasis Pendekatan Saintifik) (N. A. Rahma (ed.); 1st ed.). Literasi Nusantara.
Sukmawati, H. (2021). Komponen-Komponen Kurikulum Dalam Sistem Pembelajaran. Ash- Shahabah, 7(1), 62–70.
Winaryati, D. E., Munsarif, M., Mardiana, & Suwahono. (2021). Model-Model Evaluasi, Aplikasi, dan Kombinasinya. Penerbit KBM Indonesia.
Conley, D. (2010). College and Career Ready: Helping All Students Succeed Beyond High School. Jossey-Bass.
Gardner, H. (2008). Five Minds for the Future. Harvard Business Press.
Gravemeijer, K. (1997). Instructional Design for Reform in Mathematics Education: An Ecological Approach. ERIC.
Hasibuan, L. (2010). Kurikulum & Pemikiran Pendidikan. Gaung Persada Press.
Jacobs, H. H. (1997). Mapping the Big Picture: Integrating Curriculum and Assessment K-12.
ASCD.
Johnson, D. W., Johnson, R. T., & Smith, J. K. (t.t.). Cooperative Learning: Improving University Instruction by Basing Practice on Validated Theory. Journal on Excellence in College Teaching, 25(3 & 4), 85–118.
13 Marzano, R. J., & Kendall, J. S. (2007). The New Taxonomy of Educational Objectives. Corwin
Press.
Nurgianto, B. (1988). Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum Sekolah (Sebuah Pengantar Teori dan Pelaksanaan). BPFE.
Toenlioe, A. J. (2017). Pengembangan Kurikulum: Teori, Catatan Kritis, dan Panduan (N. F. Atif (ed.); Juli). PT Rafika Aditama.
Thomas, J. W. (2000). A Review of Research on Project-Based Learning. Buck Institute for Education.
Tomlinson, C. A. (2014). ). The Differentiated Classroom: Responding to the Needs of All Learners. ASCD.
Zhao, B. Y. (2012). Educating Creative and Entrepreneurial Students. Corwin Press.