Strategi menyimak
Top Down : memahami kata perkata, yang diaktifkan adalah pengetahuan tentang kosakata.
Mengaktifkan skemata siswa dulu, baru siswa diminta menyimak. Apabila sebelum membaca ada kegiatan pra menyimak, berarti top down. Sebelum membaca, diberikan pengetahuan tentang kosakata.
Strategi di mana latar belakang pengetahuan pemelajar (skemata,
pengetahuan tentang ciri-ciri teks tertentu, informasi tentang topik-topik tertentu, pengalaman pribadi) digunakan oleh pemelajar untuk memahami makna dari sebuah teks.
1. pengajar menyediakan percakapan singkat tanpa judul, tetapi konteks situasi percakapan tersebut jelas. Pemelajar menyimak lalu menebak topik dan mendiskusikan poin-poin
2. pengajar menyediakan gambar rangkaian peristiwa dalam cerita rakyat yang diacak.
Pemelajar melihat gambar dan mencoba mengurutkan peristiwa tersebut. Kemudian pemelajar menyimak cerita rakyat tersebut dan mencocokkan urutannya.
Bottom up :
pengolahan informasi yang ditujukan pada unsur-unsur tertentu dari teks, yaitu bunyi, kata, anak kalimat, dan ucapan tertentu yang dapat dianalisis sampai makna dari teks dipahami.
lebih fokus pada bentuk tata bahasa, arti kata, dan analisis bunyi.
1. menyimak percakapan tentang keluarga dan fokus pada kata ganti dia, nya, kami, mereka, beliau.
2. menyimak monolog proses membuat batik. Pemelajar mengidentifikasi kalimat aktif dan pasif pada monolog yang disimak.
3. menyimak monolog cara membuat nasi goreng. Pemelajar diminta mengurutkan prosesnya.
Dual Coding : berkaitan dengan rangsangan. Jadi kegiatan pembelajaran dipadukan antara verbal dan non verbal. Pengaktifan dua gaya belajar.
Coba searching : multi sensorik,
Tiga kata kunci dalam pembelajaran reseptif : top down, bottom up, dan dual coding.
Dual Coding
Penelitian ini menguji dua model kognitif, gaya belajar dan dual coding, yang
menimbulkan kontradiksiprediksi tentang bagaimana pelajar memproses dan menyimpan informasi visual dan pendengaran. Sedang belajar praktik pengajaran berbasis gaya adalah hal biasa di lingkungan pendidikan meskipun a basis penelitiannya dipertanyakan, sementara penggunaan pengkodean ganda kurang umum, sehingga dapat diukur
Pemeriksaan kedua metode tersebut berimplikasi pada penerapan praktis. Penelitian ini melibatkan 204 mahasiswa yang disurvei mengenai gaya belajar pilihan mereka dan kemudian dipresentasikan dengan informasi yang diminta untuk mereka proses melalui pencitraan atau cara linguistik.
Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat pengaruh interaksi yang signifikan antara gaya belajar dan kondisi, menyarankan prediksi paling mendasar dari hipotesis gaya belajar harus ditolak. Di sebuah analisis regresi, tidak satu pun dari empat gaya belajar (visual, auditori, baca/tulis, atau kinestetik)memperkirakan retensi siswa terhadap materi.
Namun, terdapat dampak utama yang sangat signifikankondisi dengan mereka yang berada dalam kondisi visual menyimpan informasi dua kali lebih banyak dibandingkan mereka yang berada dalam kondisi visualkondisi pendengaran terlepas dari gaya belajar, hasil yang sangat mendukung teori pengkodean ganda.Implikasi dari temuan ini
menunjukkan bahwa pengajaran gaya belajar adalah metode yang tidak efektifuntuk digunakan oleh para guru, dan sebaliknya, penerapan prinsip-prinsip pengkodean ganda akan berdampak a
manfaat yang jauh lebih besar bagi pembelajaran siswa.
Pengkodean ganda memperkirakan bahwa semua pelajar akan mendapat manfaat jika informasi visual berlapis atas informasi linguistik karena pada dasarnya akan
meningkatkan kapasitas memori jumlah yang tersedia untuk informasi yang hanya bersifat verbal. Hal ini berbeda dengan prediksi gaya belajar yang menyarankan pembelajar auditori akan tampil paling baik bila disajikan dengan instruksi verbal-
linguistik sementara pembelajar visual akan tampil terbaik bila disajikan dengan instruksi berorientasi visual.
Pertemuan berikutnya : Pembelajaran produktif :