• Tidak ada hasil yang ditemukan

mengukur kinerja anggota DPRD dira otonomi daerah.docx

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "mengukur kinerja anggota DPRD dira otonomi daerah.docx"

Copied!
166
0
0

Teks penuh

Buku di hadapan anda bermula dari tesis saya pada Program Studi Ilmu Administrasi Program Pascasarjana Universitas Jember yang berjudul “Kinerja Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Dalam Rangka Perumusan Peraturan Daerah. Kajian DPRD Kabupaten Jember Periode 1999-2004 " . Terima kasih juga saya sampaikan kepada beberapa informan di DPRD Kabupaten Jember, khususnya Ketua DPRD Jember, Bapak.

Latar Belakang

Pengukuran kinerja anggota DPRD era Otonomi 7 dilakukan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), dan tidak mengikat pemerintah pusat untuk menentukan kepala daerah/kepala daerah. Untuk mengukur kinerja anggota DPRD di era otonomi delapan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) dalam memajukan kepentingan rakyat dan menjalankan fungsinya mengawasi jalannya pemerintahan daerah agar eksistensi Rakyat Daerah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) menjadi sangat penting.

Perumusan Masalah

Demikian pula dalam organisasi legislatif, penilaian jabatan sangat berguna, sebagaimana dikemukakan oleh Hatry (dalam Keban, 1995: 1) bahwa: “Penilaian kinerja sangat berguna untuk menilai kuantitas, kualitas dan efisiensi pelayanan, motivasi birokrat pelaksana, memantau kontraktor. , menyesuaikan target, mendorong pemerintah untuk lebih memperhatikan kebutuhan masyarakat yang dilayaninya dan memimpin perbaikan dalam layanan publik (masyarakat).” 34; Mutu kerja, kejujuran pegawai, inisiatif, kehadiran, sikap, kerjasama, hambatan, ketepatan dan efisiensi pelayanan pemerintah kepada masyarakat.

Tugas Dan Fungsi Dewan Perwakilan Rakyat Berbeda dengan beberapa Undang-Undang

Mengenai kinerja Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dalam merumuskan peraturan daerah, hal ini dapat dimaknai sebagai suatu keberhasilan yang menunjukkan sejauh mana Dewan Perwakilan Rakyat Daerah mampu menjalankan fungsinya sebagai lembaga legislatif daerah, dimulai dari keberhasilan DPRD. perwakilan daerah. lembaga dalam menetapkan cita-cita masyarakat untuk merumuskannya dalam bentuk peraturan daerah melalui proses atau metode yang ditetapkan dan sejauh mana lembaga perwakilan daerah mampu mengelola seluruh sumber daya (tenaga, fasilitas, dana) yang ada untuk menjaring aspirasi masyarakat dan kemudian merumuskannya dalam bentuk peraturan daerah. Namun jika diukur kinerja anggota DPRD di era Otonomi 18, sebagai anggota dewan perseorangan tidak mempunyai banyak kekuasaan dalam berhubungan dengan lembaga eksekutif, yang notabene sebagai pimpinan daerah (bupati/gubernur) mempunyai kewenangan yang besar sebagai kepala. dari lembaga eksekutif.

Kebijakan Negara dan Perumusan Kebijakan Publik

Kebijakan Negara

Pandangan kedua adalah pandangan sekelompok ahli yang fokus pada pelaksanaan kebijakan negara (policyimplementation). Model Kelompok pada dasarnya berasumsi bahwa kebijakan pemerintah merupakan hasil interaksi kelompok-kelompok dalam masyarakat.

Perumusan Kebijakan Publik

Raymond Bouer (dalam Wahab, 1990) membingkai kebijakan publik sebagai proses transformasi atau mengubah masukan politik menjadi hasil politik. Oleh karena itu, langkah-langkah perumusan kebijakan disusun sebagai berikut: a) Perumusan masalah kebijakan negara; b) Proses memasukkan isu-isu kebijakan nasional ke dalam agenda pemerintah;

Kedudukan lembaga Legislatif dalam Proses Perumusan Peraturan Daerah

Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini bersifat deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif, suatu pendekatan yang bercirikan tujuan penelitian yang berupaya memahami gejala-gejala dengan cara yang tidak memerlukan kuantifikasi. Penggunaan pendekatan kualitatif ini sesuai dengan permasalahan penelitian yang ingin kami ungkapkan, yaitu berfungsinya Perwakilan Rakyat Provinsi dalam rangka pembentukan peraturan daerah provinsi, dimana yang menjadi subjek penelitiannya adalah fenomena-fenomena sosial, khususnya gejala-gejala penyelenggaraan negara. . , yaitu gejala sosial yang tidak selalu menunjukkan gejala yang dapat diukur secara nyata.

Fokus Penelitian

Pengukuran Kinerja Anggota DPRD Era Otonomi memiliki 35 aspek utama dalam penelitian kualitatif yaitu teknik wawancara, observasi dan dokumentasi. Pengukuran kinerja anggota DPRD Era Otonomi terdiri dari 38 komponen, terdiri dari: reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Pengukuran kinerja anggota DPRD era Otonomi 40 terutama menyangkut proses penelitian dan tingkat kebenaran data serta penafsirannya.

Mengukur kinerja anggota DPRD pada era budaya dan sosial politik Otonomi 42 yang mencerminkan kekuasaan sebagai kompetensi daerah, serta berbagai permasalahan yang dihadapi. Mengukur kinerja anggota DPRD pada era otonomi 45 Agustus 1928 yang mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 1929 sebagai landasan hukum. Pengukuran kinerja anggota DPRD di era Otonomi 49 disambut sebagai angin segar untuk ikut menapaki sejarah bangsa.

Mengukur kinerja anggota DPRD di era otonomi 53 berkaitan dengan kredibilitas kelembagaan karena sangat berkorelasi dengan kinerja yang dihasilkan. Mengukur kinerja anggota DPRD pada masa otonomi 64 pemerintah daerah dan pemerintah desa pada jabatannya. Mengukur Kinerja Anggota DPRD Pada Masa Otonomi 67 Pemerintah Kabupaten Sebagai Unit Pelaksana Teknis Pelaksanaan Rehabilitasi Pekerja Seks di Kabupaten Jember.

Mengukur kinerja anggota DPRD pada masa otonomi, ada 69 pejabat yang diangkat menjadi ketua umum dan bendahara partai.

Alat-Alat Kelengkapan DPRD

Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten 67) Peraturan Daerah No. 67 Tahun 2000 tentang Struktur Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat Daerah Kabupaten. Jember No 23 Tahun 2000 Struktur Organisasi dan Tata Kerja Dinas Informasi dan Komunikasi Kabupaten 70) Peraturan Daerah No. Jember No 29 Tahun 2000 Struktur Organisasi dan Tata Kerja Dinas Perhubungan Kabupaten 76) Peraturan Daerah No 76 Tahun 2000 tentang Struktur Organisasi dan Tata Kerja Dinas Pendidikan Kabupaten.

Jember No 41 Tahun 2000 Susunan organisasi dan tata kerja Dinas Pariwisata dan Seni Kabupaten. Organisasi dan tata kerja Dinas Pendapatan Daerah. Jember No 51 Tahun 2000 Susunan organisasi dan tata kerja Badan Kesatuan Bangsa Daerah. Organisasi dan tata kerja Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa Jember. Jember No 57 tanun 2000 Struktur organisasi dan tata kerja Kecamatan. 104) Peraturan Daerah No 104 Tahun 2000 tentang struktur organisasi dan tata kerja Kantor Penerangan dan Pembinaan Pertanian Kabupaten (KIPP) kerja Kantor Kas Daerah Kabupaten 106 ) Peraturan Daerah No. 106 Tahun 2000 tentang susunan organisasi dan tata kerja Badan Koordinasi Bupati.

Kedua, Peraturan Daerah Nomor 29 Tahun 2000 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Dinas Perhubungan Kabupaten. 16) Peraturan Daerah Nomor 23 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Nomor 50 Tahun 2000 tentang Struktur Organisasi dan Tata Kerja Daerah Kantor Pendidikan dan Pelatihan.

Produk Perda Tahun 2002

Organisasi dan Tata Kerja Dinas Koperasi dan PKM Kabupaten 24) Peraturan Daerah Nomor 26 Tahun 2003 tentang Struktur Organisasi dan Tata Kerja Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten.

Peranan Lembaga Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) dalam Perumusan Peraturan

Mengukur Kinerja Anggota DPOD Di Era Otonomi 104, Usulan Raperda Apa yang Datang dari Anggota DPOD? Dari hasil wawancara beliau menjelaskan mengenai semangat kreatif anggota DPRD Kabupaten. Dari penjelasan tersebut terlihat bahwa hampir seluruh peraturan daerah yang terbit dalam lima tahun terakhir berasal dari usulan otoritas eksekutif atau Bupati Jember.

Hal ini, menurut Abdul Wahid Salam, terjadi karena tingkat pendidikan anggota DPRD relatif standar dan memiliki latar belakang pendidikan yang hampir sama, yakni di bidang pendidik (guru), misalnya FKB sebagai fraksi terbesar yang beranggotakan 17 orang. Dewan, ternyata D3/Mahasiswa yang berjumlah 10 orang, bidang pendidikan (Guru) sebanyak 8 orang dan dari bidang IPS hanya 2 orang (wawancara dengan A. Wahid Selam tanggal 26 Juni 2007), selain itu terdapat pula peraturan penyampaian hak inisiatif dalam Proyek Peraturan Daerah yang menurut kami agak rumit, karena sesuai dengan DZHRB Tatip no. 10 Tahun 2002 Pasal 14 menyatakan bahwa untuk mengajukan hak inisiatif dalam Rancangan Peraturan Daerah harus. Mengenai bagaimana keaktifan anggota DPRD dalam sidang dikaitkan dengan tingkat kehadirannya, peneliti melakukan wawancara langsung dengan Kepala Subbagian Berita Acara Sekretariat DPRD di kabupaten tersebut. Berdasarkan pengamatan Saudara, dalam menghadiri sidang DPRD, anggota DPRD selalu datang tepat waktu.

Dia menjelaskan, tingkat kehadiran anggota DPRD sangat tinggi, di atas 90% setiap sidang, dengan jumlah anggota yang hadir antara 40 hingga 43 orang, kecuali ada hal yang mendesak seperti sakit, maka mereka akan meminta izin melalui telepon. Dijelaskan juga, sebagian besar anggota DPRD datang tepat waktu, artinya sudah siap sebelum sidang dimulai, namun ada beberapa.

Mekanisme Proses Perumusan Peraturan Daerah di Kab. Jember

Namun, jika rancangan peraturan daerah tersebut merupakan usulan inisiatif DPRD, maka terlebih dahulu perwakilan pengusul baru diberi kesempatan untuk menanggapinya oleh kepala daerah. Bersama-sama dengan kepala daerah atau pejabat yang ditunjuknya, apabila rancangan peraturan daerah berasal dari kepala daerah. Bersama-sama dengan pemohon dan kepala daerah atau pejabat yang ditunjuk, jika rancangan peraturan daerah tersebut berasal dari DPRD.

Melalui peninjauan tersebut, anggota komisi masing-masing dan kepala daerah atau pengusul daerah dapat melakukan perubahan terhadap rancangan peraturan daerah. Dalam rapat atau sidang ini, keputusan dapat diambil setelah musyawarah dalam sidang atau rapat komisi (tingkat II) selesai dan tercapai kata sepakat, serta mendengarkan pendapat akhir dari juru bicara masing-masing fraksi dalam rapat terbuka. atau rapat paripurna (tingkat III). d) Penetapan Peraturan Daerah. Terakhir, setelah suatu keputusan diambil, baik berdasarkan musyawarah mufakat maupun berdasarkan suara terbanyak, maka keputusan itu ditetapkan menjadi Peraturan Daerah oleh Walikota.

Selain itu, Peraturan Daerah yang memerlukan persetujuan pejabat yang berwenang telah disetujui, kemudian diumumkan dalam Berita Daerah. Sedangkan Peraturan Daerah yang tidak memerlukan persetujuan pejabat yang berwenang setelah ditetapkan oleh Bupati dengan persetujuan DZHRB, segera diumumkan dalam surat kabar daerah.

Upaya-Upaya Peningkatan Kinerja Serta Faktor- Faktor Yang Menghambat Pelaksanaan Fungsi

Mengukur Kinerja Anggota DPRD Era Otonomi 120 6. Kesadaran/motivasi anggota masih rendah. Pemkot ingin berprestasi dan berpartisipasi sesuai dengan bidang kegiatannya. Mengukur kinerja anggota DPRD Era Otonomi terhadap 121 pejabat eksekutif dalam hal ini anggota Banwas Kabupaten. Mengukur Kinerja Anggota DPRD di Era Otonomi 123 Contoh lain dapat diberikan dalam konteks peningkatan kinerja DPRD Kabupaten.

Mengukur Kinerja Anggota DPRD Di era bawahan dan masyarakat yang disiplin, pemimpin dapat memanfaatkan kekuasaannya secara maksimal dan menggunakan kekuasaannya dengan sebaik-baiknya. Mengukur kinerja anggota DPRD di Era Otonomi dengan memaksimalkan fungsi legislasi sehingga proses demokratisasi dapat berjalan sesuai harapan. Mengukur Kinerja Anggota DPRD Di Era Otonomi 130, seorang pegawai dapat melakukan suatu pekerjaan tanpa memerlukan pengawasan atasan untuk menghindari tindakan yang tidak diinginkan.

Mengukur kinerja anggota DPRD di era otonomi 133 dalam menjalankan fungsinya, khususnya legislatif, dapat dibedakan menjadi faktor internal dan eksternal. Pengukuran kinerja anggota DPRD pada masa otonomi 134 dilakukan oleh pejabat eksekutif, dalam hal ini Banwas Kabupaten.

SARAN

Perlu adanya staf atau tim ahli di setiap komite karena anggota DPRD biasanya bekerja di komite. Gibson, James L, Jonh M Ivancevich dan James H Donnely, 1994, “Organisasi dan manajemen, perilaku, struktur, proses”, (terjemahan Djorban Wahadi), Erlangga, Jakarta. Keban, Yeremias, T, 1995, “Enam Dimensi Strategis Administrasi Publik”, Gava Media, Institut Administrasi Negara Yogyakarta, 1992, Akuntabilitas dan.

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil penelitian ternyata Pembuatan PERDA dari hak Inisiatif , DPRD Kabupaten Bengkayang sangat kurang untuk membuat Produk Peraturan daerah yang berasal dari Hak Inisiatif

dilihat dari variable Tingkat Kemandirian Daerah yang Mendukung Kinerja Ekonomi dalam Pelaksanaan Otonomi Daerah di Kabupaten Jember Tahun 1991-2009……….. 48 4.11 Hasil

dilihat dari variable Tingkat Kemandirian Daerah yang Mendukung Kinerja Ekonomi dalam Pelaksanaan Otonomi Daerah di Kabupaten Jember Tahun 1991-2009……….. 48 4.11 Hasil

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui program legislasi daerah dan implementasinya dalam pembentukan peraturan daerah inisiatif DPRD (Dewan Perwakilan Rakyat

ANALISIS KINERJA PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH PADA ERA OTONOMI DAERAH DI KABUPATEN SUKOHARJO TAHUN 2001-2013. SAFITRI

Peraturan KPU Nomor 05 Tahun 2013 Tentang Tata Cara Penetapan Daerah Pemilihan dan Alokasi Kursi Setiap Daerah Pemilihan Anggota DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota

Otonomi Daerah adalah kewenangan daerah untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa sendiri sesuai dengan aspirasi dan peraturan

Lahirnya era Otonomi Daerah pasca berlakunya Undang-Undang (UU) Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, telah membawa implikasi yang sangat signifikan