• Tidak ada hasil yang ditemukan

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK KELAS IV PADA MATERI SURAH AT-TIN MELALUI MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING SDN 75 SELUMA KABUPATEN SELUMA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK KELAS IV PADA MATERI SURAH AT-TIN MELALUI MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING SDN 75 SELUMA KABUPATEN SELUMA"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

UINFAS GUPAS

Volume 1 No 1 (2023), Desember P-ISSN: .... - ...., E-ISSN: .... - ....

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License

1

Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Peserta Didik Kelas Iv Pada Materi Surah At-Tin Melalui Model Pembelajaran Problem Based Learning Sdn 75 Seluma Kabupaten Seluma

Eva Nopianti, S.Pd.I

1

,

Email [email protected]

ABSTRAK: Proses pembelajaran pada dasarnya merupakan proses komunikasi yang diwujudkan melalui kegiatan penyampaian informasi dari pendidik kepada peserta didik. Pendidik juga tidak hanya bertujuan untuk membekali peserta didik dengan ilmu pengetahuan saja, akan tetapi mencakup semua aspek dalam dunia pendidikan, baik aspek kognitif, aspek afektif, dan aspek psikomotorik.. Hal tersebut menuntut guru untuk dapat memilih model pembelajaran yang dapat memacu semangat setiap peserta didik untuk secara aktif ikut terlibat dalam pengalaman belajarnya. Salah satu alternatif model pembelajaran yang memungkinkan dikembangkannya keterampilan berpikir peserta didik (penalaran, komunikasi, dan koneksi) dalam memecahkan masalah adalah model pembelajaran berbasis masalah (PBM). PBM atau bisa disebut juga dengan Problem Based Learning (PBL) merupakan salah satu model pembelajaran yang dirancang menuntut peserta didik agar dapat memecahkan masalah dan memiliki model belajar individu serta kelompok yang memiliki kecakapan berpartisipasi dalam tim.Untuk meningkatkan hasil beajar peserta didik Kelas IV pada materi surat At-Tin SDN 75 Seluma Kabupaten Seluma melalui model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dapat meningkat, dari hasil siklus satu dinyatakan model pembelajaram PBL dapat meningkatkan hasil belajar pada peserta didik kelas IV pada materi surat At-Tin SDN 75 SELUMA Kabupaten Seluma.

Kata Kunci : Problem Based Learning, Hasil belajar , Surah At-Tin,peserta didik.

1. Pendahuluan

Hakikat pendidikan adalah upaya awal menumbuhkan serta mengembangkan potensi sumber daya manusia dengan cara mendorong dan memfasilitasi kegiatan belajar peserta didik. Secara detail, dalam Undang- Undang RI

(2)

2

Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab 1 Pasal 1 (1) pendidikan didefinisikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses belajar agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.

(Syah.M,th2009:p.1)

Pendidikan adalah segala pengalaman belajar yang berlangsung dalam segala lingkungan dan sepanjang hidup. Pendidikan juga merupakan suatu pengajaran yang diselenggarakan di sekolah sebagai lembaga pendidikan formal. Di dalam pendidikan terdapat suatu pengaruh yang diupayakan sekolah terhadap anak dan remaja yang diserahkan kepadanya agar mempunyai kemampuan yang sempurna dan kesadaran penuh terhadap hubungan- hubungan dan tugas-tugas sosial mereka.

(Mudyahardjo.M,th2013:p.6).

Tujuan pendidikan adalah perpaduan tujuan-tujuan pendidikan yang sifatnya pengembangan kemampuan pribadi secara optimal. Dalam hal ini peserta didik melalui pendidikan yang dilakukan secara baik di sekolah diharapkan mampu mengembangkan kemampuannya secara optimal. Selain itu, pendidikan juga memiliki tujuan dalam kehidupan sosial di lingkungan baik dengan individu maupun kelompok orang.eskripsikan latar belakang penelitian anda di sini.

Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) 1.

Pengertian Model Pembelajaran

Model pembelajaran ialah pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas maupun tutorial. Menurut Arends, model pembelajaran mengacu pada pendekatan yang akan digunakan, termasuk di dalamnya tujuan-tujuan pembelajaran, tahap- tahap dalam kegiatan pembelajaran, lingkungan pembelajaran, dan pengelolaan kelas. Model pembelajaran dapat didefinisikan sebagai kerangka konseptual yang melukiskan prosedur sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar.

(Suprijono.A,th2013:p.46)

Menurut Joyce & Weil model pembelajaran adalah suatu rencana atau pola yang dapat digunakan untuk membentuk kurikulum (rencana pembelajaran jangka panjang), merancang bahan-bahan pembelajaran, dan membimbing

(3)

3

pembelajaran di kelas atau yang lain. Model pembelajaran dapat dijadikan pola pilihan, artinya para guru boleh memilih model pembelajaran yang sesuai dan efisien untuk mencapai tujuan pendidikannya. (Suprijono.A,th2013:p.133)

2.

Pengertian Problem Based Learning (PBL)

Barrow mendefinisikan pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning/PBL) sebagai pembelajaran yang diperoleh melalui proses menuju pemahaman akan resolusi suatu masalah. Masalah tersebut dipertemukan pertama- tama dalam proses pembelajaran”. PBL merupakan salah satu bentuk peralihan dari paradigma pengajaran menuju paradigma pembelajaran. Jadi, fokusnya adalah pada pembelajaran siswa dan bukan pada pengajaran guru. (Huda M,th2014:p.271) pembelajaran berbasis masalah adalah metode pembelajaran yang memulai pembelajaran siswa dengan menciptakan kebutuhan untuk memecahkan masalah otentik. Selama proses pemecahan masalah, siswa menyaring pengetahuan informasi dan mengembangkan keterampilan pemecahan masalah serta keterampilan belajar mandiri saat mencari solusi masalah. Jadi dapat disimpulkan bahwa problem based learning adalah pembelajaran yang menuntut siswa untuk menemukan solusi dari suatu permasalahan yang dihadapi dengan memahami kebutuhan-kebutuhan mendasar sebagai bekal menyelesaikan masalah yang ada. (Wardoyo.S.M,th2013:p.72-73).

3. Pengertian Strategi Pembelajaran

Strategi pembelajaran merupakan salah satu faktor yang menjadi pemicu terhambatnya tujuan Pendidikan Agama Islam di sekolah, strategi pembelajaran yang dilakukan kurang tepat pada sasaran dan sistem evaluasi yang digunakan, sehingga perubahan yang sudah dicapai oleh guru belum sempurna. Sehingga, diperlukan suatu upaya dalam rangka meningkatkan hasil belajar peserta didik dengan memilih strategi untuk menyampaikan materi pelajaran sehingga memperoleh peningkatan hasil belajar peserta didik khususnya pelajaran Agama Islam (Astuti, 2022).

4.

Langkah-langkah Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL)

Sintak pembelajaran Problem Based Learning (PBL)38, melalui langkah dalam pembelajaran PBL digambarkan dalam beberapa fase yaitu sebagai berikut (Wardoyo.S.M,th2013:p.73-74)

Fase 1:Memberikan orientasi tentang permasalahannya kepada peserta didik.

Guru menyampaikan tujuan pembelajaran, mendeskripsikan berbagai

(4)

4

kebutuhan logistik penting dan memotivasi peserta didik untuk terlibat dalam kegiatan mengatasi masalah.

Fase 2: Mengorganisasikan peserta didik untuk meneliti. mengorganisasikan tugas-tugas belajar terkait dengan permasalahannya.

Fase 3: Membantu investigasi mandiri dan kelompok. Guru mendorong peserta didik untuk mendapatkan informasi yang tepat, melaksanakan eksperimen, dan mencari penjelasan dan solusi

Fase 4: Mengembangkan dan mempresentasikan artefak dan exhibit. Guru membantu peserta didik dalam merencanakan dan menyiapkan artefak- artefak yang tepat, seperti laporan, rekaman video, dan model-model serta membantu mereka untuk menyampaikannya kepada orang lain

Fase 5: Menganalisis dan mengevaluasi proses mengatasi masalah. Guru membantu peserta didik melakukan refleksi terhadap investigasinya dan proses- proses yang mereka gunakan PBL akan meningkat manfaatnya bila pendidik dan pembelajar dapat mengelola bagaimana antar anggota kelompok berinteraksi, menempatkan diri atas problem yang diberikan, dan sebagainya. Kelompok pembelajar yang baik adalah kelompok yang dapat memotivasi anggotanya untuk terus belajar dan meningkatkan kecakapannya.

Belajar bagaimana menganalisis masalah, mendorong berkomunikasi, dan belajar bekerjasama dengan orang lain. Kelompok yang baik juga dapat membuat anggota dapat menyadari apa posisi dan perannya dalam kelompok. (Amir.T,th2015:p.52)

Pemahaman Pembelajaran Surah At Tin Membaca Surah At Tin Membaca Al- Qur’an merupakan pekerjaan yang utama, yang mempunyai berbagai keistemewaan dan kelebihan dibandingkan dengan membaca bacaan yang lain.

Sesuai dengan arti Al-Qur‟an secara etimologi adalah bacaan karena Al-Qur’an diturunkan memang untuk dibaca. Banyak sekali keistimewaan bagi orang yang ingin menyibukkan dirinya untuk membaca Al-Qur’an

Al-Qur’an akan memberikan syafa’at bagi seseorang yang membacanya dengan benar dan baik, serta memperhatikan adab-adabnya. Diantaranya merenungkan makna-maknanya dan mengamalkannya. Orang yang membaca Al-Qur’an, bagi yang sudah melakukan bacaan hafalan surah Al- Quran yang baik, dengan hafalan maupun dengan melihat mushaf akan membawa kebaikan atau keberkahan dalam hidupnya bagaikan sebuah rumah yang dihuni oleh pemiliknya dan tersedia segala perabotan dan

(5)

5

peralatan yang diperlukan. Sebaliknya, orang yang tidak terdapat Al Qu’an dalam hatinya bagaikan rumah yang kosong tidak berpenghuni dan tanpa perabotan. Maka rumah akan menjadi kosong, kotor dan berdebu, bahkan dihuni setan yang akan menyesatkan manusia. Demikianlah orang tidak membaca Al- Qur‟an, akan terjadi kekosongan jiwa tidak ada dzikir kepada Allah SWT dan kotor berdebu hatinya, akan membuat orang sesat dari jalan yang lurus (Khon.A.M,th2011:p.55-59)

2. Metode

Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode deskriptif kualitatif.

Peneliti mendiskripsikan Upaya Meningkatkan hasil belajar peserta didik kelas IV pada materi Q.S At Tin melalui model pembelajaran PBL SDN 75 Seluma Kabupaten Seluma.

Penelitian yang digunakan penulis yaitu penelitian tindakan kelas (classroom action research). Penelitian tindakan kelas adalah sebagai suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan kemantapan rasional dari tindakan mereka dalam melaksanakan tugas, memperdalam pemahaman terhadap tindakan- tindakan yang dilakukan, serta memperbaiki kondisi dimana praktik pembelajaran tersebut dilakukan (Muslich.M,th2009:p.8-9) Sesuai dengan dengan jenis penelitian yang dilakukan yakni Penelitian Tindakan Kelas, maka rencana tindakan yang akan dilakukan pada siklus I. Dimana setiap siklus I dilaksanakan dua kali pertemuan. Prosedur kegiatan penelitian yang dilakukan pada siklus I meliputi perencanaan, tindakan, observasi atau evaluasi, dan refleksi. Dalam tahap perencanaan sampai melakukan tindakan terdapat empat langkah utama yang akan dilakukan yaitu identifikasi masalah, analisis dan perumusan masalah, perencanaan penelitian tindakan kelas, dan melakukan penelitian tindakan kelas. Prosedur penelitian tindakan kelas dapat digambarkan sebagai berikut:

(6)

6

Penelitian dipusatkan pada pelaksanaan serangkaian pembelajaran yang dipilih kedalam beberapa siklus tindakan. Pada setiap siklus tindakan diobservasi, dievaluasi dan direfleksi data-data atau temuan yang berhubungan dengan hasil belajar siswa dalam pembelajaran Surat at-Tin dengan model Problem Based Learning

3.Hasil

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan yang dilaksanakan di SD Negeri 75 Seluma, kelas IV, semester ganjil tahun ajaran 2023/2024 yang teretak di Desa Talang Beringin Kecamatan Seluma Utara, Kabupaten Seluma. Dengan subjek penelitian Kelas IV yang terdiri dari 12 peserta didik, dengan jumlah laki-laki 9 orang dan jumlah perempuan 3 orang dengan menerapkan Model Problem Based Learning pada materi

‘’Q.S At-Tin’’. Penelitian yang dilakukan peneliti terdiri dari 3 siklus, dengan 3 kali pertemuan disetiap siklusnya dari tanggal 30 Oktober hingga 10 November 2023.

Berdasarkan pengamatan atau observasi pada pelaksanaan tindakan pertama terlihat bahwa hasil belajar Pendidikan Agama Islam peserta didik masih rendah. Dari data pencapaian hasil belajar peserta didik semester I Kelas IV SDN 75 Seluma Kabupaten Seluma, masih ada peserta didik yang memiliki nilai atau hasil yang kurang memuaskan, dengan kata lain di bawah kriteria minimum nilai standar KKM kelas yaitu 70 (tujuh puluh).

(7)

7 Tindakan Siklus 1

Dalam kegiatan pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran Problem Based Learning (PBL ) dengan menggunakan teknik mencari pasangan keterampilan berbicara,membaca dan memahami hukum bacaan yang terdapat pada surat At-Tin hasil belajar peserta didik meningkat. Hal tersebut dapat terlihat dalam kegiatan pembelajaran dapat membuat siswa lebih senang dan aktif dalam belajar sehingga siswa mampu memahami konsep menanggapi cerita tentang peristiwa yang terjadi di sekitar yang disampaikan secara lisan.

Perhatikan tabel Hasil Observasi Peserta didik Pada Siklus I

No Indikator

Skor

1 2 3 4

1 Perhatian peserta didik mengikuti pembelajaran yang Disajikan melalui model PBL

2 Keaktifan Peserta didik dalam pembelajaran melalui Model PBL

3 Bertanya kepada peneliti apabila tidak Memahami pelajaran yang disajikan melalui Model PBL

4 Mengerjakan tugas yang diberikan peneliti 5 Kerjasama dalam kelompok

Jumlah 15

Rata-Rata 75%

Berdasarkan tabel yang disajikan, terlihat bahwa pada kriteria penilaian pertama Dari 5 aspek kegiatan yang diamati peneliti pada siklus I, peneliti mencapai 15 skor dengan persentase 75%, dari ke 5 aspek kegiatan Peserta didik yang diamati. Ini menandakan masih belum maksimal proses pembelajaran yang dilakukan.

Tabel Hasil Belajar Peserta didik Siklus 1

No Nama Peserta Didik Nilai Ketuntasan

1. Alvin Febrianza 80 Tuntas

(8)

8

2. Aqila Putri Ajhelita 65 Remidial

3. Arizal Ardo Winata 80 Tuntas

4 Charesa Afrilia 80 Tuntas

5. Fikri Agustian 65 Remidial

6. Perdonan Saputra 80 Tuntas

7. Nadiya Larenza 65 Remidial

8. Rendi Suhendra 80 Tuntas

9. Pikram Hapenda 80 Tuntas

10. Reza Eko Wahyudi 80 Tuntas

11. Tedi Ekuwan Putra 65 Tuntas

12. Wengki Permansa 80 Tuntas

Total 900

Rata-Rata 75

Presentasi Ketuntasan 66,4 %

Presentasi Belum Ketuntasan 33,2 %

Dari tabel di atas terlihat bahwa pengetahuan peserta didik meningkat dari pada kondisi awal ketika pembelajaran belum menggunakan model pembelajaran PBL.

Sudah ada peningkatan hasil yaitu peserta didik yang berhasil mendapat ketuntasan nilai sebanyak 66,4% dari jumlah keseluruhan peserta didik, sedangkan jumlah siswa yang belum berhasil 33,2 % dari jumlah keseluruhan. Nilai rata- rata ulangan yang diperoleh Peserta didik juga ada peningkatan.

Diadakan ulangan harian setelah melakukan model pembelajaran melalui pendekatan kontekstual (dengan strategi pengajaran menggunakan metode ceramah bervariasi dan penggunaan metode kelompok belajar) didapat hasil ulangan formatif terdapat 4 peserta didik dari 12 orang peserta didik memiliki angka di bawah standar rata-rata kelayakan lulus dalam materi Q.S At Tin pembelajaran bidang studi Pendidikan Agama Islam. Hal ini dapat dilihat dari hasil analisis ketercapaian hasil belajar pada kemampuan awal sebelum

(9)

9

diadakan tindakan sebesar 65 kemudian setelah dilakukan tindakan diperoleh nilai rata-rata hanya 75.Berdasarkan hasil dan refleksi tersebut, maka diputuskan penelitian dilanjutkan pada siklus II.

Tindakan Siklus 2

Dalam kegiatan pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran Problem Based Learning (PBL ) dengan menggunakan teknik mencari pesan pokok yang terdapat dalam kisah cerita pendek Aisyah dikaitkan pada surat At-Tin hasil belajar peserta didik meningkat. Hal tersebut dapat terlihat dalam kegiatan pembelajaran dapat membuat peserta didik lebih senang dan aktif dalam belajar sehingga peserta mampu memahami konsep menanggapi cerita tentang peristiwa yang terjadi pada kisah Aisyah.

Perhatikan tabel Hasil Observasi Peserta didik Pada Siklus 2

N o

Indikator

Skor

1 2 3 4

1 Perhatian peserta didik mengikuti pembelajaran yang Disajikan melalui model PBL

2 Keaktifan Peserta didik dalam pembelajaran melalui Model PBL

3 Bertanya kepada peneliti apabila tidak Memahami pelajaran yang disajikan melalui Model PBL

4 Mengerjakan tugas yang diberikan peneliti 5 Kerjasama dalam kelompok

Jumlah 19

Rata- Rata

95%

(Rumus persenan : Jumlah Aspek x Jumlah skor)

Berdasarkan tabel yang disajikan, terlihat bahwa pada kriteria penilaian pertama Dari 5 aspek kegiatan yang diamati peneliti pada siklus 2, peneliti mencapai 19 skor dengan persentase 95%, dari ke 5 aspek kegiatan Peserta didik yang diamati. Ini menandakan masih belum maksimal proses pembelajaran yang dilakukan.

(10)

10 Tabel Hasil Belajar Peserta didik Siklus 2

No Nama Peserta Didik Nilai Ketuntasan

1. Alvin Febrianza 90 Tuntas

2. Aqila Putri Ajhelita 90 Tuntas

3. Arizal Ardo Winata 90 Tuntas

4 Charesa Afrilia 85 Tuntas

5. Fikri Agustian 85 Tuntas

6. Perdonan Saputra 80 Tuntas

7. Nadiya Larenza 75 Tuntas

8. Rendi Suhendra 85 Tuntas

9. Pikram Hapenda 85 Tuntas

10. Reza Eko Wahyudi 80 Tuntas

11. Tedi Ekuwan Putra 65

Remidial

12. Wengki Permansa 85 Tuntas

Total 995

Rata-Rata 83

Presentasi Ketuntasan 91 %

Presentasi Belum Ketuntasan 9 %

(Rumus Persen: Jumlah tuntas x persen (100/12=8,3)

Dari tabel di atas terlihat bahwa pengetahuan peserta didik meningkat dari pada kondisi awal ketika pembelajaran belum menggunakan model pembelajaran PBL.

Sudah ada peningkatan hasil yaitu peserta didik yang berhasil mendapat ketuntasan nilai sebanyak 91% dari jumlah keseluruhan peserta didik, sedangkan jumlah siswa yang belum berhasil 9 % dari jumlah keseluruhan. Nilai rata- rata ulangan yang diperoleh Peserta didik juga ada peningkatan.

Diadakan ulangan harian setelah melakukan model pembelajaran melalui pendekatan kontekstual (dengan strategi pengajaran menggunakan metode

(11)

11

ceramah bervariasi dan penggunaan metode kelompok belajar) didapat hasil ulangan formatif terdapat 1 peserta didik dari 12 orang peserta didik memiliki angka di bawah standar rata-rata kelayakan lulus dalam materi Q.S At Tin pembelajaran bidang studi Pendidikan Agama Islam. Hal ini dapat dilihat dari hasil analisis ketercapaian hasil belajar pada kemampuan awal sebelum diadakan tindakan sebesar 65 kemudian setelah dilakukan tindakan diperoleh nilai rata-rata 83.Berdasarkan hasil dan refleksi tersebut, maka berhasil penelitian setelah dilakukan pada siklus II.

Upaya guru yang dilakukan pada siklus ke-dua adalah guru memvariasikan Model Problem Based Learning (PBL ) dalam pembelajaran, membimbing dan mengarahkan peserta didik untuk lebih bisa menyelesikn masalah dalam mencari informasi dari luar yang berkaitan dengan materi yang diajarkan, dan media yang dipergunakan yang tidak terdapat di sekolah, membentuk kelompok belajar untuk berdiskusi dengan teman-temannya. Dari metode kontesktual yang diterapkan guru membuat peningkatan terhadap hasil belajar peserta didik terhadap Q.S At-tin mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Hal tersebut dapat dilihat dari berkurangnya jumlah peserta didik yang bermasalah dalam pencapaian nilai kriteria minimal di Kelas IV SDN 75 Seluma Kabupaten Seluma yang awalnya berjumlah 4 siswa kini telah berkurang menjadi 1 orang siswa saja, dalam penelitian ini pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dalam pembelajaran Q. S At tiin secara umum sudah berada di atas nilai standar kelas.

Tindakan Siklus 3

Dalam kegiatan pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran Problem Based Learning (PBL ) dengan menggunakan teknik mencari pesan pokok yang terdapat dalam pembuatan tudung saji dari sampah gelas air mineral dikaitkan pada surat At-Tin hasil belajar peserta didik meningkat. Hal tersebut dapat terlihat dalam kegiatan pembelajaran dapat membuat peserta didik lebih senang dan aktif dalam belajar sehingga peserta didik mampu memahami konsep menanggapi cara memanfaatkan sampah gelas air mineral menjadi tudung saji yang cantik.

Perhatikan tabel Hasil Observasi Peserta didik Pada Siklus 3

No Indikator

Skor

1 2 3 4

1 Perhatian peserta didik mengikuti

pembelajaran yang Disajikan melalui

(12)

12

model PBL

2 Keaktifan Peserta didik dalam pembelajaran melalui Model PBL

3 Bertanya kepada peneliti apabila tidak Memahami pelajaran yang disajikan melalui Model PBL

4 Mengerjakan tugas yang diberikan peneliti 5 Kerjasama dalam kelompok

Jumlah 20

Rata- Rata

100

%

(Rumus persenan : Jumlah Aspek x Jumlah skor)

Berdasarkan tabel yang disajikan, terlihat bahwa pada kriteria penilaian pertama Dari 5 aspek kegiatan yang diamati peneliti pada siklus 3, peneliti mencapai 20 skor dengan persentase 100%, dari ke 5 aspek kegiatan Peserta didik yang diamati. Ini menandakan masih belum maksimal proses pembelajaran yang dilakukan.

Tabel Hasil Belajar Peserta didik Siklus 3

No Nama Peserta Didik Nilai Ketuntasan

1. Alvin Febrianza 90 Tuntas

2. Aqila Putri Ajhelita 90 Tuntas

3. Arizal Ardo Winata 90 Tuntas

4 Charesa Afrilia 85 Tuntas

5. Fikri Agustian 85 Tuntas

6. Perdonan Saputra 80 Tuntas

7. Nadiya Larenza 85 Tuntas

8. Rendi Suhendra 85 Tuntas

9. Pikram Hapenda 85 Tuntas

(13)

13

10. Reza Eko Wahyudi 80 Tuntas

11. Tedi Ekuwan Putra 85 Tuntas

12. Wengki Permansa 90 Tuntas

Total 1.020

Rata-Rata 85

Presentasi Ketuntasan 100 %

Presentasi Belum Ketuntasan 0 %

Dari tabel di atas terlihat bahwa pengetahuan peserta didik meningkat dari pada kondisi awal ketika pembelajaran belum menggunakan model pembelajaran PBL.

Setelah melakukan siklus ke 3 Sudah mengalami peningkatan hasil sampai 100%.

4. Pembahasan

(1). Ketuntasan Hasil Peserta Didik

Melalui hasil penelitian ini menunujukkan bahwa pembelajaran model Pembelajaran Problem Based Learning(PBL) memiliki dampak posistif dalam meningkatkan prestasi belajar peserta didik. Hal ini dapat dilihat dari semakin mantapnya pemahaman peserta didik terhadap materi yang disampaikan guru (ketuntasan belajar meningkat dari siklus I, II, dan III) yaitu masing-masing 66,4%, 91% dan 100%.

Tabel Hasil Belajar Peserta didik Siklus 1

No Nama Peserta Didik Nilai Ketuntasan

1. Alvin Febrianza 80 Tuntas

2. Aqila Putri Ajhelita 65 Remidial

3. Arizal Ardo Winata 80 Tuntas

4 Charesa Afrilia 80 Tuntas

5. Fikri Agustian 65 Remidial

6. Perdonan Saputra 80 Tuntas

7. Nadiya Larenza 65 Remidial

8. Rendi Suhendra 80 Tuntas

(14)

14

9. Pikram Hapenda 80 Tuntas

10. Reza Eko Wahyudi 80 Tuntas

11. Tedi Ekuwan Putra 65 Tuntas

12. Wengki Permansa 80 Tuntas

Total 900

Rata-Rata 75

Presentasi Ketuntasan 66,4 %

Presentasi Belum Ketuntasan 33,2 %

Tabel Hasil Belajar Peserta didik Siklus 2

No Nama Peserta Didik Nilai Ketuntasan

1. Alvin Febrianza 90 Tuntas

2. Aqila Putri Ajhelita 90 Tuntas

3. Arizal Ardo Winata 90 Tuntas

4 Charesa Afrilia 85 Tuntas

5. Fikri Agustian 85 Tuntas

6. Perdonan Saputra 80 Tuntas

7. Nadiya Larenza 75 Tuntas

8. Rendi Suhendra 85 Tuntas

9. Pikram Hapenda 85 Tuntas

10. Reza Eko Wahyudi 80 Tuntas

11. Tedi Ekuwan Putra 65

Remidial

12. Wengki Permansa 85 Tuntas

Total 995

Rata-Rata 83

(15)

15

Presentasi Ketuntasan 91 %

Presentasi Belum Ketuntasan 9 %

Tabel Hasil Belajar Peserta didik Siklus 3

No Nama Peserta Didik Nilai Ketuntasan

1. Alvin Febrianza 90 Tuntas

2. Aqila Putri Ajhelita 90 Tuntas

3. Arizal Ardo Winata 90 Tuntas

4 Charesa Afrilia 85 Tuntas

5. Fikri Agustian 85 Tuntas

6. Perdonan Saputra 80 Tuntas

7. Nadiya Larenza 85 Tuntas

8. Rendi Suhendra 85 Tuntas

9. Pikram Hapenda 85 Tuntas

10. Reza Eko Wahyudi 80 Tuntas

11. Tedi Ekuwan Putra 85 Tuntas

12. Wengki Permansa 90 Tuntas

Total 1.020

Rata-Rata 85

Presentasi Ketuntasan 100 %

Presentasi Belum Ketuntasan 0 %

(1). Kemampuan Guru dalam Mengelola Pembelajaran

Berdasarkan analis data, diperoleh aktivitas peserta didik dalam proses belajar mengajar dengan menerapkan Pembelajaran Problem Based Learning( PBL) dalam setiap siklus mengalami peningkatan.

Hal ini berdampak positif terhadap prestasi belajar peserta didik

(16)

16

yaitu dapat ditunjukkan dengan meningkatannya niai rata-rata peserta didik pada setiap siklus yang trus mengalami peningkatan.

(2). Aktivitas Peserta Didik Dalam Pembelajaran

Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas peserta didik dalam proses Pembelajaran PAI pada pokok bahasan QS. At-Tin dengnan model Problem Based Learning( PBL) yang paling dominan adalah, mendengarkan/ memperhatikan penjelasan guru , dan diskusi antar peserta didik/ antara peserta didik dengan guru. Jadi dapat dikatakan bahwa aktivitas peserta didik dapat dikategorikan aktif.

(3).Sedangkan untuk aktivita-aktivitas guru selama pembelajaran telah melaksanakan langkah-langkah kegiatan belajar mengajar dengan menerapkan pembelajaran kontekstual model pembelajaran berbasis masalah dengan baik. Hal ini terlihat dari aktivitas guru yang muncul diantaranya aktivitas membimbing dan mengamati peserta didik dalam menemukan konse, menjelaskan materi yang sulit, memberi umpan balik/evaluasi/tanya jawab dimana prosentasi untuk aktivitas di atas cukup besar.

5.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa Model PBL dapat Meningkatkan hasil belajar peserta didik kelas IV Pada materi surah At Tin melalui model pembelajaran problem based learning SDN 75 Seluma sesuai dengan pembelajaran yang telah disusun dan di buat maka dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik. Yang dibuktikan penelitian hasil Siklus I memiliki nilai rata-rata hasil belajar sebesar 75 Mengalami peningkatan pada siklus 2 menjadi 83. Dari hasil analisis data di atas menunjukkan adanya peningkatan banyaknya peserta didik dari siklus I ke siklus 2 capaian ketuntasan belajar , walaupun masih terdapat 1 peserta didik yang belum mencapai nilai KKTP di akhir siklus 2 yaitu 11 dari 12 peserta didik. Namun sudah berhasil dengan baik meningkat hasil belajar setelah diadakan siklus ke-2, sehingga dapat mencapai nilai di atas kriteria minimum 91% peserta didik mampu melampaui KKTP. Dan untuk berhasil mencapai 100% maka peneliti akan mencoba pada siklus 3.

Daftar Pustaka

Amir Taufiq, Inovasi Pendidkan melalui Problem Based Learning, Jakarta:

Prenadamedia Group, 2015.

Anwar Chairul, 2017. Teori-Teori Pendidikan Klasik Hingga Kontemporer Yogyakarta:

(17)

17

Anwar Chairul, Multikulturalisme, Globalisasi dan Tantangan Pendidikan Abad ke-21, Yogyakarta: Diva Press, 2019.

Chairul, Hakikat Manusia Dalam Pendidikan Sebuah Tinjauan Filosofis, Yogyakarta: Suka Press. 2014.

Huda Miftahul, Model-model Pengajaran dan Pembelajaran, Yogyakarta:

Pustaka Pelajar, 2014.

Khon Abdul Majid, Praktikum Qira’at Keanehan Bacaan Alqur’anQira’at Ashim dari Hafash, Jakarta: Amzah, 2011.

Mudyahardjo Redja, Pengantar Pendidikan, Jakarta: Rajawali Pers Anwar, (2013).

Muslich Mansur, Melaksanakan PTK (Penelitian Tindakan Kelas) itu Mudah,Jakarta:PT.Bumi Aksara, 2009.

Rusman, Model-model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2013.

Rusmono, Strategi Pembelajaran dengan Problem Based Learning Itu Perlu Bogor: Ghalia Indonesia, 2014.

Suprijono Agus, Cooperative Learning: Teori dan Aplikasi PAIKEM, Yogyakarta:Pustaka Pelajar, 2013.

Syah Muhibbin, Psikologi Belajar, Jakarta: Raja Grafindo Persada, (2009).

Wadoyo Sigit Mangun, Pembelajaran Konstruktivisme, Bandung:Alfabeta Widi Asih W, Sulistyowati Eka, Op.Cit, 2013.

Referensi

Dokumen terkait

11 Dapat disimpulkan bawa model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) merupakan salah satu model pembelajaran yang memiliki kekurangan seperti bagi peserta

Salah satu pendekatan pembelajaran tersebut adalah apa yang disebut “Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM)” atau “Problem Based Learning (PBL)”. Pendekatan pembelajaran ini

12 Sry Astuti, dkk., Pengembangan LKPD Berbasis PBL (Problem Based Learning) Untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis Peserta Didik pada Materi Kesetimbangan Kimia,

Berdasarkan uraian di atas , penulis menyimpulkan bahwa metode pembelajaran problem based learning (PBL) dapat meningkatkan kemampuan berpikir kreatif peserta

Berbagai uraian dan masalah yang telah peneliti paparkan di atas, maka perlu mengembangkan Lembar Kerja Peserta Didik LKPD berbasis Problem Based Learning PBL pada materi nilai-nilai

Pembelajaran yang dilakukan dengan menggunakan model Project Based Learning PjBL, Problem Based Learning PBL, dan kooperatif dalam kemampuan numerasi peserta didik sangat berpengaruh

Problem Based Learning PBL atau pembelajaran berbasis masalah adalah model pengajaran yang bercirikan adanya permasalahan nyata sebagai konteks untuk para peserta didik belajar berfikir

SIMPULAN Hasil dari penelitian ini adalah media pembelajaran matematika berupa Lembar Kerja Peserta Didik LKPD berbasis Problem-Based Learning PBL pada topik atau materi sudut kelas