• Tidak ada hasil yang ditemukan

MENJAGA MARWAH HAKIM MELALUI PERAN KOMISI YUDISIAL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "MENJAGA MARWAH HAKIM MELALUI PERAN KOMISI YUDISIAL"

Copied!
79
0
0

Teks penuh

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana kedudukan yuridis Komisi Yudisial dalam rangka menjaga marwah (martabat dan harkat dan martabat) hakim serta efektivitasnya dalam menjaga marwah (martabat dan harkat dan martabat) hakim. Sedangkan kedudukan yuridis Komisi Yudisial diatur dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 124b yang mempunyai kewenangan untuk mengusulkan pengangkatan hakim ketua dan mempunyai kewenangan lain untuk menjaga kehormatan, keluhuran dan akhlak hakim serta menjaga kehormatan dan keluhuran budi pekerti hakim. . .

Rumusan Masalah

Untuk menjaga dan menjunjung tinggi kehormatan, harkat dan martabat hakim, Komisi Yudisial dapat menganalisis putusan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap sebagai dasar mutasi hakim. Beberapa kalangan, khususnya di internal peradilan, menilai KY tidak kompeten menganalisis putusan dalam rangka pengawasan.

Tujuan dan signifikansi

Telaah Pustaka Penelitian Terkait

Kedua, Iman Khilman berjudul Analisis UU No. 24 tentang Komisi Yudisial dalam arti Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor: 005/PUU-IV/2006 tentang Pencabutan Kewenangan Komisi Yudisial dari Hakim Pengawas. 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial dinyatakan inkonstitusional dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat, khususnya yang berkaitan dengan fungsi pengawasan hakim.

Kerangka Teori

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, hakim diartikan sebagai orang yang bijaksana, orang yang pandai, orang yang arif dan ahli. Selain itu, hakim juga diartikan sebagai orang yang mengadili suatu perkara. Sedangkan harkat dan martabat berarti harkat dan martabat hakim sebagai intelektual di bidangnya, dan hakim merupakan salah satu panutan hukum di bidang peradilan dan dihormati masyarakat, serta salah satu pengambil keputusan yang menentukan salah atau tidaknya suatu perkara. wajar jika seorang hakim harus mampu menjaga harkat dan martabatnya agar dapat dijadikan teladan.16 Parameter yang digunakan dalam mengukur harkat dan martabat diambil dari Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim, yang diputuskan bersama dengan Ketua. Hakim Mahkamah Agung.

Metode Penelitian

Penelitian ini juga didukung dengan pendekatan normatif dengan mengkaji bahan pustaka melalui pengkajian dan penyelidikan terhadap teori, konsep dan peraturan yang berkaitan dengan permasalahan.20. Sedangkan analisis berarti mengelompokkan, menghubungkan dan memahami21, dan dalam penelitian ini analitis berarti mengelompokkan, menghubungkan dan memahami data-data yang berkaitan dengan fungsi dan peranan Komisi Yudisial.

Sistematika laporan

Sejarah dan Pentingnya Lembaga Komisi Yudisial

Indonesia adalah negara demokrasi berdasarkan supremasi hukum4, sehingga negara harus menjamin adanya lembaga peradilan yang independen untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan. Untuk menjamin independensi peradilan, diperlukan adanya lembaga pengawas, baik oleh Mahkamah Agung maupun oleh beberapa lembaga lain yang menjaga kehormatan dan martabat serta menjaga perilaku hakim. Lembaga peradilan sendiri, khususnya Mahkamah Agung, memiliki keterbatasan dan masih menjadi bagian dari permasalahan yang berpotensi dan justru mendistorsi kehormatan, martabat, dan perilaku hakim itu sendiri.

Dari apa yang telah disampaikan di atas, maka keberadaan Komisi Yudisial dalam bidang kekuasaan kehakiman merupakan sebuah keniscayaan. Meski bukan sebagai pelaku kekuasaan kehakiman, namun secara keseluruhan fungsinya bisa menjadi sangat strategis apabila kewenangan yang melekat padanya dijalankan secara optimal dan andal. Gagasan mengenai perlunya suatu lembaga khusus yang mempunyai fungsi-fungsi tertentu dalam lingkup kekuasaan kehakiman sebenarnya bukanlah suatu gagasan yang sepenuhnya baru.Dalam pembahasan rancangan undang-undang tentang ketentuan-ketentuan pokok kekuasaan kehakiman pada tahun 1968, lahirlah gagasan .

Kedudukan Yuridis Komisi Yudisial Dalam UUD RI 1945

Dan pada tanggal 2 Agustus 2005, ketujuh anggota Komisi Yudisial tersebut diambil sumpahnya di hadapan Presiden, mengawali masa jabatannya. Komisi Yudisial bersifat independen dan berwenang mengusulkan pengangkatan hakim kepada Mahkamah Agung serta mempunyai kewenangan lain untuk melindungi dan menjunjung tinggi kehormatan, harkat dan martabat hakim. Lahirnya Komisi Yudisial dipicu oleh lemahnya pengawasan internal terhadap Mahkamah Agung, ketua hakim, dan seluruh hakim, serta tidak adanya lagi badan pengawas internal yang dapat diandalkan.

Dalil pokok terwujudnya (raisond'atre) Komisi Yudisial dalam suatu negara hukum adalah: 7 Komisi Yudisial dibentuk untuk melakukan pengawasan intensif terhadap lembaga peradilan dengan melibatkan unsur masyarakat. Perlunya pengawasan eksternal tertuang dalam Pasal 24B ayat 1 UUD 1945 (Amandemen Ketiga), menurut sejarah. Ketentuan dalam Pasal 24B ayat 1 UUD 1945 (Amandemen Ketiga), yang menegaskan bahwa: Komisi Yudisial bersifat independen, berwenang mengusulkan pengangkatan hakim Mahkamah Agung, dan mempunyai kewenangan lain yang berkaitan dengan pemeliharaan dan perlindungan kehormatan, keluhuran dan tingkah laku para hakim.

Kewenangan Komisi Yudisial dalam Peraturan Perundang- Undangan

Permintaan pembatalan beberapa pasal UU No. 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial, Mahkamah Konstitusi akhirnya menyetujui sebagian. Susunan MKH terdiri atas empat orang anggota komisi yudisial dan tiga orang anggota hakim agung. Tambahan tugas yang disebutkan di atas membuat Komisi Yudisial tidak mempunyai pilihan lain untuk melakukan perbaikan internal.

Perlu diketahui, sebelum adanya judicial review pada tahun 2006, Komisi Yudisial mempunyai kewenangan melakukan pengawasan terhadap hakim konstitusi. Namun kewenangan tersebut hilang setelah Mahkamah Konstitusi mencabutnya sehingga Komisi Yudisial tidak mempunyai hak untuk mengawasi hakim konstitusi. Jika revisi undang-undang tersebut melibatkan perwakilan daerah, maka akan memperkuat eksistensi Komisi Yudisial.

Komisi Yudisial

Jumlah hakim se-Indonesia + 7000 orang hakim, jika dibandingkan dengan 7 orang komisioner KY beserta tenaga pendukungnya, tentu kewenangan pengawasan terhadap hakim akan sangat tidak efektif, oleh karena itu diperlukan peran serta masyarakat untuk membantu kewenangan tersebut menjadi lebih efektif. Dengan demikian kewenangan pengawasan yang diberikan kepada Komisi Yudisial untuk mengawasi tingkah laku hakim dilaksanakan melalui: Komisi Yudisial dan Peran Serta Masyarakat. Memanggil dan meminta keterangan kepada hakim yang diduga melakukan pelanggaran kode etik dan kode etik peradilan; Dan.

Membuat laporan hasil pemeriksaan berupa rekomendasi yang disampaikan kepada Mahkamah Agung dan tindak lanjutnya disampaikan kepada Presiden dan DPR. Aplikasi Pengaduan Online ini artinya aplikasi perangkat lunak ini terhubung dengan jaringan Internet dengan harapan masyarakat dapat dengan mudah menyampaikan pengaduan dari mana saja dan kapan saja tanpa terhalang kendala waktu dan geografis. Aplikasi Pengaduan Online ini dibangun dan dikembangkan dengan tujuan untuk memfasilitasi masyarakat pelapor dari berbagai kalangan untuk mengadukan perlakuan tidak adil yang dialami aparat yang melakukan pengaduan.

KOMISI YUDISIAL

Partisipasi Masyarakat

  • Jejaring Komisi Yudisial
  • Pos Koordinasi Pemantauan Peradilan

Apakah ini berarti kompetensi Komisi Yudisial untuk menjaga harkat dan martabat serta menghormati kehormatan, keluhuran dan budi pekerti hakim yang diberikan oleh konstitusi menjadi tidak sah? Keempat undang-undang tersebut secara langsung memberikan kewenangan kepada Komisi Yudisial untuk mengawasi hakim, meskipun hal ini terbatas. 1 Hasri lHertanto, dalam karyanya Peran Jaringan Komisi Yudisial di Daerah dalam Peran Serta Menjaga Martabat dan Martabat Hakim,.

Komisi Yudisial dalam penyusunan Pedoman Perilaku Hakim dan Majelis Kehormatan Hakim merupakan bagian terpenting dalam pengawasan hakim. Kewenangan besar yang dimiliki Komisi Yudisial tentunya tidak dapat dijalankan sendirian, khususnya dalam melakukan pengawasan demi menjaga harkat dan martabat hakim. Komisi Yudisial terdiri atas lembaga pendidikan (perguruan tinggi), lembaga swadaya masyarakat (LSM), dan lembaga pemerintah.

Usaha Komisi Yudisial dalam Menjembatani antara Lembaga Pengawas Aparat Peradilan, Komisi Yudisial dan Masyarakat

Kendala yang Menghalangi Terealisasinya Perencanaan dan Program

Misalnya, dalam bidang seleksi dan pengawasan hakim yang merupakan dua tugas pokok Komisi Yudisial, diperlukan aturan teknis operasional yang rinci. Pasal 13F menyatakan bahwa untuk menjaga dan melindungi kehormatan, harkat dan martabat hakim, Komisi Yudisial dapat menganalisis putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap sebagai dasar rekomendasi mutasi hakim. Selain tugas di atas, Komisi Yudisial bersama Mahkamah Agung juga bertugas menyeleksi calon hakim.

047/KMA/SKB/IV2009 dan Ketua Komisi Yudisial Republik Indonesia No.02/SKB.P.KY/IV/2009 yang berisi tentang asas-asas dasar kode etik, pedoman perilaku hakim disepakati bersama atas dasar tingkah laku yang harus selalu ada dalam diri seorang hakim, harus sama dalam penafsiran dan penerapannya. 4 Lihat Keputusan Bersama Ketua Mahkamah Agung RI Nomor 047/KMA/SKB/IV2009 dan Ketua Komisi Yudisial RI Nomor 02/SKB.P.KY/IV/ 2009 untuk lamaran “Untuk Anda seorang profesional” no.10.4. Namun penilaian, penerimaan dan penolakan harus obyektif dan berdasarkan asas hukum, ketentuan hukum dan hati nurani keadilan agar dapat memahami dengan jelas dan jelas tentang kedudukan hakim terhadap putusan suatu fakta dan bukti-bukti putusan tersebut. Keputusan Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia No. 047/KMA/SKB/IV2009 dan Keputusan Presiden Komisi Yudisial Republik Indonesia No. 02/SKB.P.KY/IV/2009 yang memuat asas-asas petunjuk kode etik bagi hakim No.

Sistem pengawasan dan pengendalian yang bersifat mendidik

Untuk menjaga dan menjunjung tinggi kehormatan, harkat dan martabat hakim, Komisi Yudisial dapat menganalisis putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap sebagai dasar mutasi hakim. Merupakan kewenangan Komisi Yudisial untuk merekomendasikan mutasi (baik promosi maupun demosi) hakim, agar sistem pengawasan dan pengendalian pendidikan dapat tetap tepat sasaran. Permasalahannya adalah bagaimana mekanisme mulai mengambil hasil putusan yang bersifat tetap. , untuk menganalisa. mempunyai kekuatan hukum sampai dengan transfer tersebut dilakukan secara sinergis antara Komisi Yudisial dan Mahkamah Agung. Begitu pula dalam penjatuhan sanksi ringan, sedang, dan berat, ada kabar terkini bahwa pasal 22 DRUU Komisi Yudisial (perbaikan) menyebutkan Mahkamah Agung menjatuhkan sanksi kepada hakim yang melanggar kode etik dan/atau perilaku hakim. . diajukan oleh KY dalam jangka waktu paling lama 60 hari terhitung sejak tanggal diterimanya usulan.

Bahkan untuk rekomendasi yang disepakati antara MA dan Komisi Yudisial dalam waktu 60 hari, berlaku otomatis. 7 Keterangan Ahmad Yani Anggota Komisi III DPR dari F-PPP, di Media Indonesia, Otoritas Ketat KKY, tanggal. Sistem pengawasan dan pengendalian tersebut bersifat mendidik, sehingga dapat dikatakan Komisi Yudisial belum efektif dalam melaksanakan tugas, fungsi dan wewenangnya.

Kesimpulan

Saran

Pada tahun 2004 yang belum pernah diuji sejak putusan Mahkamah Konstitusi yang mencabut sebagian kewenangan pengawasan Komisi Yudisial, lembaga ini belum efektif dalam menjaga harkat dan martabat hakim. Demikian pula dalam rangka harmonisasi peraturan perundang-undangan, ketentuan terkait promosi dan demosi hakim (sebagaimana diatur dalam Pasal 42 UU No. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman) hendaknya dimasukkan dalam perubahan UU Komisi Yudisial. Paproeka, Arbab, Perubahan Bidang Politik dan Dampaknya Terhadap Reformasi Peradilan (Dalam Antologi KY dan Reformasi Peradilan, Komisi Yudisial Republik Indonesia, Jakarta, 2007.

Rifai, Amzulian, dkk, Wajah Hakim dalam Putusan, Atas Putusan Hakim yang Berdimensi Hak Asasi Manusia, (Yogyakarta: PUSHAMUII, 2010) Siagian, Sondang P., Tips Meningkatkan Produktivitas Kerja, Jakarta, Rineka. 5 Tahun 1986 tentang Pameran TUN telah disahkan dan diumumkan pada tanggal 29 Oktober 2009 dalam Berita Negara Republik Indonesia No.

Referensi

Dokumen terkait

Komisi Yudisial mempunyai tugas mengusulkan pengangkatan Hakim Agung dan wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat, serta perilaku hakim,

(2) Tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dilakukan oleh Komisi Yudisial dengan cara melakukan pengawasan atas kehormatan, keluhuran martabat serta perilaku hakim..

Sementara beberapa ketentuan yang berkaitan dengan kewenangan menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat, serta perilaku hakim, dalam putusan Mahkamah

• Komisi Yudisial dapat menganalisis putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan keluhuran martabat serta

Kewenangan lain dalam UUD 1945 Pasal 24B ayat (1) menyatakan bahwa “Komisi Yudisial mempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan,

Dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat, serta perilaku hakim, sebagaimana konsep yang diatur dalam Pasal 20 ayat (1) Undang-Undang Nomor 18

Dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat, serta perilaku hakim diperlukan pengawasan terhadap perilaku hakim konstitusi agar sesuai kode

Dewan Etik adalah perangkat yang dibentuk oleh Mahkamah Konstitusi yang bersifat tetap untuk menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat dan Kode Etik Hakim